Rabu, 10 Desember 2014

Yami no Ai [Chapter 169]

Chap 169

"EH!? KYAAAA!!" setelah respon pipi Hana yang memerah. Tubuhnya merespon dengan mundur menjahui rasa dingin itu, dan mulutnya berteriak.
Hana menatap kesal pada orang yang melakukan hal konyol seperti itu padanya. Namun Hana malah terkaget sendiri melihat orang yang sudah melakukan kejahilan tidak penting itu adalah Kuroto Yoshiki. Lihat saja, pria itu tengah membawa sekaleng minuman isotonik di tangannya, sementara wajahnya yang tak berekspresi itu menatap datar Hana.
'Rasanya... Nostalgia....' guman Hana sambil mengingat dulu bagaimana Yoshiki masih baru bergabung di kelasnya. Ya, saat itu sedang ada event.
Hana kembali menggembungkan pipinya jengkel. "Apa maumu!?"
"Hn, untukmu" Yoshiki menyodorkan lagi minuman isotonik di tangannya.
Hana tidak membawa uang saku, itu sama artinya dengan tidak bisa membeli jus. Itu sama dengan haus.
'glek' Hana menelan ludahnya melihat bulir-bulir air yang menempel pada dinding minuman isotonik yang terlihat dingin itu turun ke bawah.
Tapi hana segera memalingkan wajahnya.
"Tidak per--"
"KI-KUUUUUUNN" Terdengar suara lengkingan khas anak remaja perempuan hendak datang menerjang.
BRUUK
Seketika menempel seorang perempuan berkulit sawo matang menghambur ke arah tubuh Yoshiki dan bergelayut manja.
"Ki-kuuun~ bukannya aku sudah bilang padamu supaya kau mengantarku pulang, hmm?" Saan Liam menatap Yoshiki dengan manja.
"YOSHIKI-KUN BAKA!!" Hana tiba-tiba berteriak. Air mata entah sejak kapan telah membasahi pipinya.
"BAKA! YOSHIKI-KUN BAKA! AHOOOO!!" Hana berteriak histeris. "hiks... Hiks..." tas basketnya jatuh ke lantai. Tangan-tangannya sudah semakin sibuk untuk mengusap dan menghentikan laju air matanya.
"Baka... Yoshiki-kun... Hiks..." ucapan Hana semakin tenggelam dalam tangisannya.
"Hn. Jadi begitu. S-Elf, lepaskan tanganku" Yoshiki berujar dingin.
Saan Liam yang mendengar ucapan Yoshiki terdiam seketika.
"Saa.. Jadi kau sudah tau?" Saan Liam perlahan melepaskan gelayutannya.
"Hn"
"Wah sepertinya tidak ada pilihan lain" wanita itu mundur beberapa langkah kebelakang.
"S-Elf, Saan Liam Exorcist mode!" teriak perempuan Canada itu. Seketika tubuhnya diliputi oleh lingkar sihir biru. Merubah pakaiannya, dan membuat kedua tangannya terpasang sebuah cakar seperti layaknya film 'X-Men'.
Hana terdiam di tempatnya menatap pemandangan di depannya.
"Apa-apaan ini? Siswa baru itu? Exorcist!?" Hana berguman bingung.
"Wah wah, aku tak menyangka My Lady sampai menangis begitu" ejek Saan Liam.
"Hn, akhirnya kau menunjukkan wujud menjijikanmu Exorcist sialan" Yoshiki menatap datar Saan Liam dengan tatapan menusuknya.
"Beberapa hari ini menyenangkan berkirim email denganmu Ki-kun. Sayang sekali kau adalah buruanku. Padahal aku mengharapkan kecupan-kecupan darimu"
"Hn, berkirim email? Yang benar saja" Yoshiki melesat. Kedua tangannya masih tergantung masuk di dalam saku celana kain hitam Mirai no Gakoo. Sementara kedua kakinya dengan gesit mengelak dan terus berusaha menyerang Exorcist di depannya.
"Haha, ayolah My Lord"
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 168]

Chap 168

Bola memantul pada tiang ring, namun syukurlah arah pantulannya masuk ke dalam ring. Hingga menambah 3 point bagi kelompok Hana.
" ... ." Hana terdiam di tempatnya. Kepalanya ia tolehkan ke sana-kemari menyusuri bangku penonton.
Saat matanya tadi fokus ke arah ring basket, ia melihat... Melihat seorang siswa yang seolah nampak mencolok dari seluruh penonton.
Kuroto Yoshiki. Ia mencari siswa berambut kelam jaged itu.
"Hoy Rayumi ada apa!? Ayo cepat!" teriak sang kapten.
Hana mengangguk, ia kembali berlari mengejar bola. Tapi pandangannya tidak bisa fokus ke arah bola. Saphirenya masih diam-diam mengamati bangku penonton tadi. Mencari sosok yang kini sudah menghilang entah kenapa.
DUK.
Hana melakukan steal dari pemain lawan. Namun dia kembali dihadang oleh dua pemain lawan lagi.
Di saat ia harus segera memikirkan cara agar meloloskan diri dari hadangan dua pemain yang lebih tinggi darinya, sudut kepalanya masih memusingkan masalah penglihatannya tadi.
Benarkah tadi Yoshiki kemari? Menontonnya? Atau hanya imajinasinya yang berharap Yoshiki tengah memerhatikannya?
"Tidak tidak... dia pasti sedang bermesraan dengan Saan Liam itu" batin Hana miris.
DUK.
Bola Hana dicuri tiba-tiba.
"SHIMATAAA!!" Hana berbalik sambil berteriak keras.
Di kejarnya si pencuri dengan kecepatan penuh. Dicurinya kembali bolanya.
"uwoooo!!" Hana meloncat setinggi mungkin.
"KUROTO YOSHIKI SIALAN!" Teriaknya sambil melemparkan bola basket ke arah keranjang dengan segala emosi yang ada dalam dirinya.
Bola yang penuh dengan tekanan itu melambung tinggi, dan meluncur jatuh tepat di tengah-tengah keranjang basket.
"PRIIIT. 3 POINT!"

"Hoy, kau menyebut nama Kuroto Yoshiki lalu ditambahi kata 'sialan' diakhirnya saat menembakan 3 point. Kau kenapa?" Jouheki Sayu menatap Hana yang tengah memakai jaket birunya dengan sweatdrop.
Kini lapangan in-door basket sudah sepenuhnya sepi. Setelah latih tanding dimenangkan oleh tim Sayu dengan skor 89-63 .
Hana mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan kaptennya itu.
"Jangan ingatkan aku lagi dengan itu Sayu-senpai"
"Hhh... Ada apa dengan hubungan kalian?" Sayu mulai mengangkat tas basketnya.
Sudah bukan berita asing lagi jika Kuroto Yoshiki si "cold prince" berpacaran dengan Rayumi Hana si "Hyperactive".
"Tidak ada yang terjadi" Hana mulai merapikan tas basketnya. Mulutnya masih mengerucut sebal.
"Hahaha, sudah ya aku tinggal dulu. Aku harus segera ke restoran. Jaa" gadis berambut kebiruan itu berjalan meninggalkan Hana sambil melambai.
"Jaa" jawab Hana.
Jouhei Sayu adalah kapten basket dari tim utama basket Mirai no Gakoo. Sebenarnya semua tim Sayu juga. Ia juga memiliki kerja paruh waktu di sebuah restoran Soba di dekat stasiun. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Ia harus bertahan untuk menghidupi dirinya sendiri dan untuk segala cita-citanya.
Hana menghela nafas berat dan mulai mengangkat tas basketnya.
Kalau diingat-ingat, sebelum ia bertemu Yoshiki juga ia bekerja paruh waktu.
'CESSS--' Sebuah benda dingin menempel pada pipi Hana.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 167]

Chap 167

"Hn," Yoshiki kembali mengantongi ponselnya. Seolah menganggap email yang baru saja dibacanya hanya promote dari media sosial. Tidak penting.

Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Seluruh siswa nampak mulai mengerumuni kantin untuk mendapat makan siang.
Sementara "Hana dan kawan-kawan" tengah berkumpul di bawah pohon rindang di dekat gedung GYM. Agak jauh meang dari gedung kelas utama.
Hari ini sesuai jadwal mereka, mereka akan makan bentou bersama tanpa membeli di kantin.
"Hei... Kau kenapa Hana-kun!?" Shiro ribut melihat Hana yang sedari tadi pundung di dekat pohon.
"Iya kenapa sih!?" Maki ikut penasaran.
Sementara Yui masih dengan wajah tak berdosanya menyantap sosis dari bentounya.
"Aku tidak membawa seragam basket... Dan juga bentou... Uang saku-ku juga habis..." ah seandainya Hana bisa melanjutkan ucapannya, ia akan mengucapkan kata "Yoshiki-kun...." dengan sesenggukan. Tapi harga dirinya tak mengizinkan itu. Ia tak mau teman-temannya tau jika hubungannya dengan Yoshiki sedang kacau.
"Nee... Bagaimana ini??" Hana mulai menggila dan mencakari dahan pohon.
"Uwwaaa!! Tenangkan dirimu Hana-chan! Yui-chan bagaimana ini!?" Shiro menatap Yui kebingungan.
Namun Yui hanya menatap Shiro bosan.
"Setidaknya bantu kami dong!" Maki memprotes Yui sambil sweatdrop.
"Hhh..." Yui menghela nafas malas, tapi tangannya bergerak di dalam tas kecil yang ada di sampingnya--mencari-cari sesuatu.
"Ini" Yui menyodorkan tas kecil yang sama persis dengan yang diberikan Kuroto Yoshiki tadi pagi.
Semua refleks menoleh ke arah Yui.
"Ini berisi seragam basketmu dan bentoumu hari ini"
"Eh? Kok bisa?" Hana menerima kotak yang disodorkan Yui dengan bingung.
"Orang yang kau tuduh selingkuh tadi pagi datang sambil memberikan itu padaku"
" ... ? Selingkuh?" Shiro dan Maki menatap Hana kebingungan seketika.
"Ehh!?! Yoshiki-kun ke rumahmu!?" Hana maju mendekati wajah Yui dengan memasang wajah kagetnya.
"Ya" jawab Yui singkat. Gadis lavender iu kembali melanjutkan makannya yang tertunda.
" ... ." Hana terdiam di tempatnya.
Di benaknya, tergambar pria berambut raven itu datang pagi-pagi sekali dan menitipkan barang-barangnya kepada Yui. Ternyata pria itu memang selalu memperhatikannya selalu...
Tak sadar sudut bibir Hana sedikit tertarik keatas, membentuk senyum tipis.
"Nee... Sebenarnya apa yang terjadi antara Hana-chan dan Kuroto-kun?" Shiro menarik-narik lengan Yui.
Yui tak menggubris pertanyaan Shiro dan tetap fokus pada makanannya.

"Rayumi!" Hana menangkap operan bola dari teman setimnya yang bernomor punggung 3 dengan nama Torika Nidotsushi.
Dikocaknya tim musuh yang berusaha mengambil bola basket di tangannya.
"hup" setelah dirasa pas dengan jarak antara dirinya dan ring basket. Dilompatkannya tubuhny setinggi mungkin.
Buku-buku tangannya mendorong dan mengarahkan bola basket yang sekarang sudah melayang itu ke arah ring.
Mata saphire Hana fokus pada titik lubang ring basket.
DUK.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 166]

Chap 166

Bibirnya yang mengerucut lucu hampir tenggelam di balik selimut.
"Hhh... Aku tak habis pikir" Yui membalik badannya dari terlentang sampai menatap Hana. Dan seketika itu Yui sweatdrop menatap Hana yang sudah memejamkan mata dan bernafas dengan tenang.
"Cepat sekali tidurnya.... Hhh... Oyasumi" Yui ikut memejamkan matanya. Siap menuju alam mimpinya.

"Shampoo-nya ada di dekat shower ya Hana" teriak Yui dari luar kamar mandi.
Kedua orang tua Yui yang seorang investor tengah melakukan perjalanan bisnis ke Kyoto. Jadi untuk beberapa hari kedepan sepertinya Yui akan sendirian.
"Terima kasih Yui-chan!" sahut Hana dari dalam.
TOK... TOK... TOK!
Terdengar ketukan dari pintu utama rumah keluarga Umei.
"duuuh siapa lagi sih? Ini masih pagi kan!?" dengan menggerutu, gadis berambut lavender itu berjalan menuju pintu utama.
TOK! TOK! TOK! Suara itu masih terdengar. Sampai akhirnya Yui membuka pintu itu. Menampakkan sosok siswa yang sudah mengenakan seragam sekolah lengkap. Menyodorkan sebuah tas kecil ke arah Yui.
"Eh? Kuroto-kun?"
"Hari ini dia ada kegiatan basket. Di dalam tas itu ada seragam basketnya, dan bentou-nya"
Yui langsung menerima tas kecil yang disodorkan Yoshiki.
"Hhh... Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan kalian" Yui menghela nafas.
"Saan Liam itu bukan selingkuhanmu kan?"
"Hn, bukan"
"Sudah kuduga... Hhh... Hana masih polos sih... Dan lagi sepertinya ia cukup sensitiv"
"Hn, kalau begitu kutitipkan itu padamu" Yoshiki segera berbalik badan lalu menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan rumah keluarga Umei.

"Baru kali ini aku berangkat sekolah sambil jalan kaki! Rasanya menyenangkan!" Hana bersorak sambil berjalan di koridor kelas.
"Kau terbiasa naik mobil Yoshiki sih"
"Ya begitulah... Jaa aku masuk kelas dulu ya Yui-chan" Hana segera memasuki kelasnya yang berada paling awal mereka lalui. Tentu saja, Hana kelas 2-1. Sementara Yui kelas 2-5.
"Jaa" Yui melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Yosh! Ohayoo" Hana segera meneriakkan kata selamat pagi dengan bersemangat begitu memasuki ruang kelasnya yang cukup suram itu.
" ... ." tak ada jawaban. Ini lah kelas dari para genius. Para genius yang seolah menganggap sapaan itu tidak penting.
"Ohayoo Rayumi-chan" Suzaku dari belakang Hana menjawab.
Hana segera berbalik untuk melihat wajah tampan pria berkulit tan itu.
Suzaku menatap wajah Hana dengan senyumannya.
Dan mereka pun berjalan bersama menuju bangku mereka melewati bangku Yoshiki yang tengah sibuk membaca sebuah buku.
Sesekali mata onix-nya itu melirik wanitanya yang sekarang tengah meletakan tasnya di atas mejanya. Ditatapnya wajah Hana yang tengah tersenyum membicarakan sesuatu dengan Suzaku.
"Hn..." ia berguman.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Dilihatnya segera notifikasi yang ada di ponselnya. Ternyata sebuah email baru saja masuk.
Sesuai dugaan, email itu adalah email dari Saan Liam yang berisi,
"Ohayoo Yoshiki-kun. Kau benar-benar tampan hari ini. Aku semakin menyukaaaaaaimu [kiss]"
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 165]

Chap 165

Sementara otak Yoshiki masih memproses apa yang baru saja terjadi.
Hana menangis?
Kenapa?
"ck!" sambil berdecak ia langsung mengambil tindakan untuk mengejar Hana.

Langkah kaki ekstra lebar Yoshiki telah di langkahkannya dimana-mana. Seingatnya ia telah empat kali mengitari kompleks ini.
Peluh mulai membanjiri wajahnya, di bawah matahari tenggelam pria itu masih tak mau menyerah mencari istrinya yang sudah setengah jam lalu melarikan diri dikarenakan salah paham. Ya, ini pasti salah paham.
"Ck! Kusso! Kemana dia!?" Yoshiki terus menerus menggerutu kepada dirinya sendiri kepada kebodohannya, dan kepada kelemahan dirinya.
"sial! Andai aku bisa melacak keberadaannya!" ia terus memaki dirinya sendiri di tengah kebingungannya.
Ponsel ditangan kanannya sepertinya sudah cukup bosan memencet tombol yang sama, yaitu... Untuk menghubungi ponsel Hana.
Mustahil Hana si maniak IT dan ponsel itu tak membawa ponselnya serta.
Hana tak pernah mematikan ponselnya, kecuali jika ia memang sedang merombak bagian dalam ponselnya. Jadi dipastikan, ia sedang membuat ponselnya dalam mode "silent".
"SIAL!" Yoshiki kembali merutuk.
Di sandarkannya tubuh atletisnya pada dinding-dinding rumah yang memanjang.
Matahari sudah hampir menghilang. Udara semakin dingin saja.
Akhirnya diputuskannya untuk mengirimkan email kepada Hana. Ini satu-satunya jalan yang mungkin bisa bekerja. Atau paling tidak, pesannya kepada Hana bisa tersampaikan.

To: Mine
Content:
Udara semakin dingin. Kau harus menginap di rumah Yui atau Shiro. Karena jika kau kembali ke rumahmu itu cukup jauh.
Jaga dirimu baik-baik.
Yours.

SEND>>>

"Ya-ya, sebentar" Umei Yui membuka kenop pintu depan rumahnya.
Menurut firasat Yui, sepertinya apa yang ada di balik pintunya akan membawa sebuah masalah mengingat irama dan ritme ketukan pintu yang memaksa.
Tapi siapa peduli. Ia hanya ingin malamnya kembali tenang.
CKLEK.
Mata lavender Yui membelalak kaget melihat sahabatnya berdiri di ambang pintu rumahnya dengan penampilan yang berantakan. Wajahnya yang kotor karena debu dan air mata, dan seragamnya yang terlihat berantakan berkesan seperti Hana baru saja terterjang angin topan.
"Ada apa denganmu?" tanya Yui kaget. "Ayo masuk"
Hana menunjukkan ponselnya yang menampilkan isi email dari Yoshiki lalu berjalan memasuki rumah Yui.
Yui langsung mengambil ponsel Hana guna melihat isi email Yoshiki lebih jelas.

"Ini masalah Saan Liam. Aku benar?" tebak Yui sambil merapikan futon-nya.
Hana mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Tangan-tangannya juga tak kalah sibuk dengan Yui yang merapikan futon.
"Lalu?"
"Sepertinya memang Saan Liam adalah selingkuhan Yoshiki" Hana berujar miris.
"Darimana kau tahu?" Yui mulai menduduki futonnya yang sudah rapi.
Hana mulai menceritakan semua 'pengalaman pahitnya' sambil berbaring di atas futon. Ngomong-ngomong, sudah cukup lama ia tak tidur di atas futon.
"Hmmm... Begitu, lalu atas saran Kuroto-kun kau kemari?"
Hana mengangguk.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 164]

Chap 164

"Uhhmm, entahlah. Tapi aku menyukai Ki-kun" rambut coklat gadis gipsi itu agak terbawa angin.
"Katakan saja padanya" Hana berbalik badan. Suaranya memberat. Ia melanjutkan melangkahkan kaki menuju ruang kelas dengan kepala tertunduk.

"Yoshiki-kun..." Akhirnya Hana memberanikan diri berbicara dengan suaranya yang terdengar berat. Kepalanya masih tetap tertunduk.
"Hn?" Pria di sampingnya--Kuroto Yoshiki--masih fokus kepada kemudinya.
"Kau terlihat murung dari tadi. Ada apa?" tanya pria itu.
"Kau mendapat salam dari kouhai," Hana tak memperdulikan pertanyaan Yoshiki, "'Jangan terlalu workaholic'"
"Hn. Jadi alasanmu murung dari tadi karena kau mendapat ucapan itu dari seorang kouhai?"
Hana mengangguk perlahan. Kepalanya masih tertunduk.
"Hn... Jangan pedulikan ucapan mereka. Karena aku sendiri tidak peduli" ujar Yoshiki dingin.
Hana terdiam. Ia kembali murung. Mulutnya tertutup rapat. Seolah ia sedang larut dalam pikirannya sendiri. Alias stress.
Yoshiki yang merasa asing dengan suasana yang mulai mencekiknya mulai melirik keadaan Hana. Biasanya, istrinya itu akan menceritakan semua kegiatannya sehari penuh di sekolah. Dari mulai yang membosankan sampai yang membuatnya penasaran selama perjalanan.
Tapi kali ini atmosfer di dalam mobil seperti mencekik Yoshiki dengan kesunyian Hana.
Ada yang salah.
"Hn. Aku tadi melihatmu ke tempat latihan Akaido. Ada perlu apa?" Mau tak mau Yoshikilah yang membuka percakapan.
"Mensurvey untuk pembuatan cerita misteri" jawab Hana singkat.
Oke, ini semakin aneh.
"Hn, lalu--"
"Dan di sana aku mendapat pesan itu" Hana memotong ucapan Yoshiki.
Yakin lah Yoshiki bahwa penyebab kemurungan Hana adalah karena 'pesan' tadi.
"Hn, bukannya sudah kukatakan agar jangan memikirknannya?"
"Pesan itu dari siswi baru berambut coklat..."
Mata Onix Yoshiki membulat lebar.
"Bernama Saan Liam"
CKIIIIT
Yoshiki dengan mendadak menginjak pedal rem hingga membuat Ferarri FF Silver favoritnya itu berhenti di tengah jalan. Untung saja jalanan sedang sepi kali ini.
Hana yang sedikit terjengkal langsung menggerutu.
"Uhh..."
"Kau bertemu dengannya!??" Belum sadar benar keadaan Hana sudah diberondong pertanyaan oleh Yoshiki dengan wajah serius pria itu.
"I-iya... Kenapa?" Hana kembali murung.
'Seperti inikah ekspresi Yoshiki-kun?
Jadi memang benar Saan Liam adalah selingkuhan Yoshiki?
Lalu bagaimana ini? Yoshiki-kun pasti akan segera marah, dan... Dan...'
"Apa saja yang dikatakannya padamu!?" lagi, Yoshiki bertanya.
'Hentikan...'
"Apa saja yang ia lakukan padamu!?"
'Sepeduli itukah kau Yoshiki-kun pada Saan Liam?'
Melihat Hana yang hanya diam Yoshiki langsung berdecak. "ck! Sudah kubilang jangan mendekati dia!"
Air mata yang dari tadi Hana bendung akhirnya menetes juga.
"Kalau begitu urus saja dia!" Hana berteriak keras. Air mata di kedua pelupuk matanya sudah membasahi pipinya sekarang.
"uh!" Hana langsung melepas sabuk pengaman yang mengait tubuhnya, membuka pintu mobil dan segera berlari keluar.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 163]

Chap 163

Besok dengan alasan survey tempat, ia bisa bertemu dan memastikan sosok sebenarnya Saan Liam.
Tapi untuk sekarang ia harus tidur dan mengistirahatkan tubuhnya....

"Kau mau mensurvey tempai Akaido kami untuk keperluan klub Misteri?" Harase Goku. Siswa kelas 3-3 menatap Hana degan perawakannya yang kuat sebagaimana seorang Akaido.
"Eh i-iya senpai. Aku sudah izin kepada Natsu-senpai kok. Tapi sepertinya..."
"Natsu cedera punggung ringan. Dia tidak masuk hari ini"
"Heee!? Benarkah? Lalu bagaimana..."
"Ya baiklah aku yang akan memandumu. Tapi di dalam mungkin akan berisik. Kita sedang latihan"
"Ah tak masalah!" Hana menjawab dengan bersemangat.
Mereka pun memasuki ruangan klub Akaido.
Langsung mereka disambut oleh teriakan-teriakan para anggota yang sedang menyaksikan sebuah pertandingan.
"1 point untuk Saan"
Hana menengadah kaget. Secepat inikah ia akan menemukan targetnya?
Segeralah dicarinya ruang kosong diantara penonton yang bersorak. Untuk melihat sosok Saan Liam dari depan.
Mata Hana membulat. Melihat betapa sempurnanya sosok perempuan berkulit coklat yang tengah mengenakan seragam Akaido putih tengah menguatkan kuda-kudanya.
Itu Saan Liam si murid baru.
"Hoi Rayumi-san? Bukannya kita akan survey tempat!?" Harase Goku yang menyentuh pundaknya membuat Hana kembali tersadar dari lamunannya yang terpesona kepada Saan Liam.
"Eh!? Ya, mari kita lanjutkan" Hana menjawab kikuk.
Tunggu dulu, seingatnya, secantik apapun wanita yang ditemuinya, ia tak pernah sampai terpesona seperti itu. Hana seorang straight asli. Bukan seorang Yuri.
'Ada sesuatu yang aneh dari Saan Liam...' guman Hana.

"Ini sekalian pamflet untukmu" siswa berambut hitam cepak dari kelas 3-3 itu menyodorkan pamflet klub Akaido.
"Terima kasih. Apa disini ada denah ruang?" Hana menerima pamflet yang diberikan oleh Harase.
"Ada. Cek saja"
"Oke. Terima kasih ya!"
"Rayumi-senpaiiiii!!" belum sempat Hana melangkahkan kakinya meninggalkan klub Akaido. Sampai namanya di panggil oleh suara khas perempuan cempreng.
"Matte yo Hana-senpai!!" suara itu semakin mendekat. Mendorong niat Hana untuk melihat kebelakang.
Matanya membulat lebar. Saat melihat Saan Liam tengah melangkah lebar menyongsongnya dengan senyumannya.
"Eh?" Hana refleks membeku di tempatnya.
"Rayumi-senpai! Apa Rayumi-senpai pacar Yoshiki-kun?" Saan Liam dengan wajah polosnya bertanya di depan Hana.
'Apa? Apa maksud pertanyaan gadis ini?' batin Hana.
'Kenapa dia bertanya seperti itu?'
'Apa tujuannya berkata sok polos begitu di depanku?'
Hana terdiam di tempatnya.
"Neee?? Rayumi-senpai aku bicara padamu. Kau pacar Ki-kun?"
emosi Hana memuncak saat mendengar adik kelasnya itu memanggil nama suaminya dengan akrab.
"Ya aku pacarnya. Kenapa!!!?" Hana sedikit membentak.
"Etto... Bisa sampaikan kepadanya jangan terlalu workaholic? Aku agak khawatir pada kesehatannya"
'Apa-apaan gadis ini? Apa maksud dan tujuannya? Bukannya ia sudah tahu kalau aku pacarnya?'
"Kau... Apa hubunganmu dengan Yoshiki-kun?" ucap Hana tajam.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 162]

Chap 162

Raut wajah Hana tiba-tiba berubah serius. Ia sedang memikirkan sesuatu.

"Apa kau sudah dapat informasi mengenai siswa baru itu Maki?"
Kini empat sahabat karib itu tengah berkumpul di kantin sehabis menikmati Soba ekstra pedas yang mereka dapat dengan susah payah.
"Saan Liam" Maki memulai informasinya.
"15 tahun. Siswa pindahan dari daerah Inggris. Khususnya Gipsi. Dia berkulit coklat dengan rambutnya yang juga coklat. Warna matanya juga coklat"
"serba coklat!" potong Shiro.
"Ya. Golongan Darah B. Pindah dengan alasan pekerjaan orang tua"
"Alasan yang klasik" komentar Yui.
"Ya. Memiliki banyak penghargaan dan banyak kejuaraan dimenangkannya. Tipe perempuan ideal"
"Ideal.... Bagi Yoshiki-kun" Hana berguman. Wajahnya tertutup oleh rambut hitam pekatnya.
"Dan memang ada kabar jika Saan dekat dengan Kuroto-kun" ucapan Maki lantas membuat Hana mendongkak dengan cepat.
"Ceritanya, adik kelasku dari klub Menjahit bersorak saat melihat Kuroto-kun lewat di depannya. Ya kau tau, Kuroto-kun disukai oleh hampir seluruh siswi di Mirai no Gakoo. Jangan tersinggung" Maki menatap Hana, "Tak sengaja Saan mendengarnya. Lalu ia memberikan alamat email Kuroto-kun. Aku pun juga diberinya" Maki memperlihatkan layar ponselnya.
"Coba kulihat!" Hana langsung merebut ponsel Maki tersebut.
Benar. Memang benar. Ini alamat email pribadi Yoshiki. Yang hanya diberikan untuk dirinya dan Tomuro, dan beberapa rekan bisnisnya. Tidak mungkin orang asing memiliki alamat email pribadi Yoshiki.
Ya, dia hanya orang asing bagi Hana. Tapi bagaimana dengan Yoshiki?
Hana tertegun. Ia kembali terduduk di bangkunya.
Kesimpulannya hanya satu, Yoshiki memang memiliki hubungan dengan Saan Liam.
"Dia cukup populer di kalangan siswa. Ya... Harus kuakui dia cantik" Maki menambahi.
"Tapi Hana kan tampan!" teriak Shiro memecah suasana.
Semua terdiam mendengar ucapan Shiro. Tapi Hana tak bergeming.

"Nah itu dia! Dia yang sedang membawa kotak hitam di tangannya!" Maki dari lantai dua gedung pertama dari kelas 3-7 menunjuk seorang siswi yang tengah berjalan.
"Dia!?" Hana ikut menunjuk.
"Yang mana!? Yang mana!?" Shiro menggila.
"Jadi dia..." guman Yui.
Hana seperti merasakan sesuatu yang aneh saat melihat rambut coklat siswi itu yang dikepang pinggir. Sesuatu berupa energi dan kekuatan. Sangat ganjil....
"Hn. Jadi disini kalian" sebuah lantunan dingin terdengar dari arah belakang kerumunan Hana.
Semuanya lantas menoleh.
"waaa!! Kuroto-kun! Tadi aku melihat seling--UHP!" Maki refleks membekap mulut Shiro.
Yoshiki menaikkan satu alisnya.
"Ahaha tidak-tidak. Ayo pulang Yoshiki-kun. Jaa minna" Hana langsung membawa tasnya dan berjalan ke arah Yoshiki sambil melambaikan pada ketiga temannya.

Malam harinya Hana merencanakan sebuah rencana. Sebuah rencana yang ia pastikan akan menjelaskan segala kerumitan yang sedang ia hadapi.
Saan Liam. Gadis Gipsi yang membuatnya penasaran.
Maki baru saja memberitahu bahwa siswi itu mengikuti klub Akaido.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 161]

Chap 161

Dimana mereka baru saja kembali dari acara mengisi perut di kantin.
"hmm" Hana menggeleng perlahan. Mengisyaratkan ia gagal atau ia tak mengerti.
"Kenapa?"
"Kau tahu Yui, sepertinya ponsel Yoshiki menyengat" Hana mencoba bergurau.
"Yah... Terserah padamu saja. Aku sudah memberikan saran terbaikku"
"Terima kasih" Hana menghela nafas.
Mata Saphire Hana dan Violet Yui membesar melihat seorang siswa dengan tangannya yang memainkan sebuah ponsel berjalan ke arah mereka dari kejahuan.
"Kau melihatnya kan? Yui-chan? Yoshiki-kun bukan pria yang kecanduan gadget sepertiku. Rasanya... Rasanya...."
'sesak....'
Air mata mulai mengalir tipis di pipi Hana.
Yui tak tak tahan. Ia geram melihat sahabatnya dijahati seperti ini. Segera dilangkahkannya kaki untuk bersiap menghardik pria dari sahabatnya ini.
"Kuroto Yo--"
"Hana?" Yoshiki yang sudah mendekati mereka langsung memanggil nama Hana.
Mata pria itu nampak sedikit terbelalak melihat bekas air mata di pipi Hana.
"Ada apa!? Kenapa kau menangis!?" pria itu dengan raut khawatirnya menyengkram pundak Hana.
Tapi Hana masih tak bergeming. Ia sibuk menghapus air matanya.
"Umei Yui! Apa yang sudah terjadi!?" Yoshiki masih dengan wajah khawatirnya menatap Yui. Seolah ia ingin segera mengetahui apapun mengenai Hana.
Yui terdiam sejenak melihat ekspresi Yoshiki. Ekspresi itu tidak mungkin ditunjukkan oleh pria yang sedang berselingkuh. Yui tahu itu.
"Hhh... Ia baru saja kehabisan Soba ekstra pedas yang baru saja menjadi menu terbaru di kantin" oke. Alasan yang bagus Yui. Good job.
Yoshiki menautkan kedua alisnya.
Hana telah selesai membersihkan air matanya yang membasahi pipinya.
"soba-nya... Soba-nya habis" Hana sesenggukan. Entah kenapa Hana lebih memilih melanjutkan drama yang dibuat oleh Yui. Sepertinya memang ini yang terbaik untuk saat ini. Pikir Hana.
"Hn. Dasar kau ini. Jangan menangis. Akan kupastikan kau mendapatkannya besok" Yoshiki membantu mengusap beberapa sisa air mata yang tertinggal dipelupuk mata Hana.
Hana mengangguk.
"Hn. Apa kau sudah pernah bertemu dengan siswi baru berambut kecoklatan di kelas tahun pertama?" Yoshiki menatap Hana lekat.
"....." Hana terdiam menatap mata onix Yoshiki.
"a-aku belum melihatnya" Hana menjawab dengan murung.
"Hn. Begitu. Apapun yang terjadi jangan dekati siswi itu" Yoshiki menatap Hana lekat.
" ... ." Hana terdiam.
"Hn..." Yoshiki langsung berlalu. Tangannya kembali mengutak-atik ponselnya sambil berjalan menjahui Hana.
"Kau lihat Yui-chan? Yoshiki-kun..." Hana tak melanjutkan kalimatnya.
"Jujur, aku tak mengerti" ujar Yui.
"Tidak mengerti?" Hana memiringkan kepalanya.
"Terhadap Kuroto-kun. Ekspresi dan tingkah lakunya saat melihatmu memangis, jelas membuktikan kalau ia bersih dari tuduhan selingkuh. Tapi ucapannya..."
"seolah menyembunyikan fakta bahwa siswa baru berambut coklat dari tingkat pertama adalah seseorang yang selalu berhubungan email dengan Yoshiki-kun" lanjut Hana.
Yui tak menjawab tanda meng-iya-kan.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 160]

Chap 160

Untuk apa?
Games? Bagaimana jika nanti di ponsel Yoshiki tidak terdapat game?
Musik? Oh ayolah, Hana bahkan tak pernah melihat Yoshiki mendengarkan musik.
Satu-satunya alasan meminjam ponsel pria itu memang hanya karena email.
Bukannya itu semakin mencurigakan?
"Dada Shiro kecil!" Hana langsung sweatdrop mendengar teriakan Maki.

Untuk kesekian kalinya. Hana melihat Yoshiki menatap layar ponselnya sambil tersenyum.
Seharusnya Yoshiki mengajarinya sekarang! Bukannya malah menimbulkan efek lebih penasaran kepadanya!
Hana mengigit ujung pensil mekaniknya. Sambil saphire terus-terusan melirik Yoshiki.
Yoshiki meletakan kembali ponsel tipisnya di meja dan langsung menatap Hana. Namun Hana tak segera memalingkan wajahnya. Istilahnya, telat. Sehingga membuatnya tertangkap basa sudah mengamati Yoshiki.
"Hn. Ada apa?" tanya Yoshiki datar.
"Ti-tidak. Anoo aku tidak bisa menjawab soal yang ini"
"Hn. Ini caranya seperti ini"
percuma Kuroto Yoshiki. Walaupun mulutmu berbusa menjelaskan materi perhitungan penduduk sampai berbusa kau tak akan bisa membuat istrimu itu paham. Lihat saja wajahnya yang hanya menatapmu sambil merenggut lucu.

Keduanya terdiam. Yoshiki sibuk dengan kemudinya. Dan Hana sibuk menenangkan pikirannya. Ya, mereka berdua dalam perjalanan menuju Mirai no Gakoo sekarang.
Yoshiki terus fokus menyentir tanpa menyadari kegundahan istrinya itu.
Tadi malam waktu tidur sudah ada kesempatan bagi Hana untuk mengotak-atik ponsel Yoshiki yang sepertinya tertinggal atau memang dibiarkan diatas bufet kamarnya. Tapi niat itu hangus.
Hana memang pengecut. Ia terlalu pengecut untuk mengetahui apabila Yoshiki sungguh-sungguh selingkuh. Oke dia tidak siap.
Dan ia lebih tidak siap melihat wajah marah Yoshiki karena ponselnya yang sembarangan disentuh orang lain. Ingat kata Tomuro? Yoshiki paling benci jika ada orang lain menyentuh ponselnya. Seolah seluruh kepribadian dan rahasia Yoshiki berada di benda kecil itu.
Jadi bagaimana? Menanyakan langsung? Atau memang harus meminjam ponselnya?
"Hn. Ada apa denganmu?" Akhirnya Yoshiki buka suara. Jujur, Hana merasa lega. Dengan ini alur pembicaraan semakin mudah.
"Eh aku hanya mengingat masalah Kai-chan"
"Hn. Gadis berambut coklat itu? Ada apa dengannya?"
dalam hati Hana bersorak. Pancingannya berhasil. Ia sungguh bersyukur setelah kata "Hn"-nya, Yoshiki masih melanjutkan dengan kalimat lain.
"Pacarnya yang katanya sangat ia cintai selingkuh diam-diam. Katanya Kai, ia memergoki pacarnya selingkuh setelah membuka percakapan email pacarnya itu" Hana sedikit melirik Yoshiki.
"Hn. Begitu"
APA!? HANYA ITU RESPON YOSHIKI!?
Hana menatap jendela di sampingnya dengan tatapan lesu. Apa-apaan respon Yoshiki barusan?
Dirinya tidak mengerti!

"Saa, bagaimana Hana? Kau berhasil?" Umei Yui meminum susu kotaknya sambil berjalan bersama Hana. Kebetulan Maki dan Shiro sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Keduanya sekarang sedang berjalan di lorong ruang kelas 2.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 159]

Chap 159

Yoshiki kembali mengantongi ponselnya setelah puas membaca email konyol yang baru saja di terimanya yang berbunyi, "Konnichiwa Ki-kun. Hari ini aku akan berenang sepuasku setelah sampai di pantai. Huuft aku tak sabar bermain air laut.
Oh ya ngomong-ngomong bikiniku agak kesempitan. Aku jadi merasa sesak di bagian dada. Sepertinya aku harus membeli bikini baru.
[kiss]"

"Ada apa denganmu Hana? Murung sekali" ujar Maki. Manik birunya hijaunya menatap Hana dengan kedua alis terangkat keatas.
"Hmmm" Hana hanya berguman.
"Hohoho! Mungkin sedang PMS!" Shiro angkat bicara.
"hmm" Hana tak terlalu merespon candaan Shiro. Ia hanya menunduk menatap ice cream float di depannya.
"Hei... Jangan bilang ini karena ujian Taksonomi" Maki masih menatap Hana.
"Hmm" Hana masih berguman.
"Ahh! Mou! Shiro tidak mengerti!!" Shiro menjambaki rambutnya sendiri. Dasar hyperactive.
"Kuroto-kun kan?"
Hana langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar Yui menyembut kata kunci kegalauannya itu.
"Oke. Aku anggap tebakanku benar" Yui menatap Hana dengan jari telunjuknya mengacung yakin di depan mata Hana.
"Hhh... Kau benar" Hana menghela nafas berat. Tubuhnya kembali lemas.
"Ada apa lagi sih dengan si Es Kering itu! Jika dia terus membuatmu seperti ini akan kusuruh Tomoaki-senpai menyuntikkan sianida padanya! Huh!" Shiro berkoar aneh.
"....." Hana berfikir sejenak. Menimbang-nimbang banyak hal dalam pikirannya. " ... . Yoshiki-kun... Akhir-akhir ini sering tersenyum aneh menatap ponselnya" ujar Hana akhirnya.
"Haaah!? Lalu kenapa!?" Maki yang masih polos hanya bisa merespon seperti itu.
"aku mengerti. Kau takut pacarmu itu selingkuh kan?" Yui menatap Hana yakin.
Hana mengangguk perlahan.
"Haaah!? Kan bisa saja Kuroto-kun cuman main game!" Maki masih bersikeras.
"Maki-chan diam! Ada lalat di sampingmu!" Shiro menggebrak meja ringan.
"Kau kenapa sih Shiro!?" Maki tak mau kalah.
"Maki tidak punya pacar!" teriak Shiro tidak nyambung. Dan jadilah pertengkaran anjing dan kucing.
"Bagaimana ini Yui-chan?" Hana menatap Yui ragu.
"Cek saja ponselnya jika kau ragu"
"Ta-tapi... A-aku tidak pernah mengotak-atik apalagi men-stalker ponsel Yoshiki-kun"
"Hhh... Kau itu. Aku saja sering membawa ponsel Ida-kun"
"Jadi aku harus meminjam ponsel Yoshiki-kun untuk kuselidiki?"
"Begitulah. Jika dia memang mencintaimu maka pasti dipinjamkan"
"Tapi bagaimana jika semua buktinya dihapus!?"
"coba saja dulu!"
"Ih... Iya sih. Tapi rasanya agak janggal aku meminjam ponsel Yoshiki-kun.... Aneh..." Hana membayangkan dia meminjam ponsel Yoshiki. Ia segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan itu setalah menyadari seberapa konyol dirinya.
Yui hanya tidak tau situasi dan seperti apa hubungannya dengan Yoshiki yang tidak hanya sebatas pacar. Tapi mereka berdua suami-istri.
Bayangkan saja, di sebuah manor yang indah. Hana berbicara dengan polos. "Yoshiki-kun, boleh kupinjam ponselmu?"
Lalu sang suami yang notabene dingin akan menjawab, "Hn. Untuk?"
dan disitulah moment awkward terjadi.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 158]

Chap 158

"Hn. Entahlah. Tapi ini.... Pasti menarik" Yoshiki menyeringai.
"Kau..." Tomuro sweatdrop menatap Yoshiki.
"Hn. Percepat Tomuro. Jangan lupakan itu"
"He'i he'i..." ujar Tomuro malas.

"Hn. Tidurlah kau harus banyak istirahat. Sepertinya hari ini kau kelelahan karena praktek lingkungan" Yoshiki mengelus perlahan rambut Hana.
Kuroto Hana saat ini tengah bergelayut manja kepada selimutnya yang hangat. Matanya setengah terpejam. Kepala Hana perlahan mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
"Oyasuminasai My Lady" dikecupnya puncak kepala istrinya itu.
Sebenarnya Hana sama sekali tak merasa ngantuk. Oke dia memang lelah, setelah kejar-mengejar dengan sapi perahan sekolah tadi. Tapi matanya sama sekali tak terasa berat.
Hanya kenyamanan selimut dan spring bed yang ditidurinya yang menyebabkan rasa ingin tidur dalam dirinya muncul. Tapi sekali lagi, Hana belum mengantuk. Jadi, begitulah Hana tetap terjaga.
Kuroto Yoshiki tengah duduk bersandar di samping Hana, dengan kemeja biru tuanya yang masih terpakai rapi. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan menyala ringan. Membuatnya terpaksa mengecek ponsel canggihnya itu.
Hana yang matanya masih setengah terpejam diam-diam melirik Yoshiki.
Jemari Yoshiki lihai memainkan ponsel touch-screennya untuk mengecek notifikasi terbaru di ponselnya. Terlihat sepertinya sebuah email baru masuk.

From: elfsaan@mailstream.jp
Subyek: Konbanwa
Content:
Konbanwa Kuroto-san!
Genki desu ka?
Etto... Boleh aku memanggilmu Ki-kun supaya lebih akrab?
Hmm... Hari ini aku sedang bosan tidak ada yang bisa kulakukan. Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?
Balas ya! [kiss]

---end---

Yoshiki sedikit tersenyum membaca email konyol yang baru saja di terimanya.
'Hn. Dasar manusia bodoh' pikirnya.
Di tengah gelapnya kamar, cahaya dari ponsel Yoshiki sudah cukup untuk membantu Hana melihat ekspresi Yoshiki yang tersenyum. Samar-samar Hana melihat bagian dfarts yang sepertinya mirip kotak email di ponsel layar lebar Yoshiki.
'email? Dari siapa? Kenapa Yoshiki-kun tersenyum?' timbul sebuah pertanyaan di benak Hana.

"Nee... Yoshiki-kun! Aku tadi baru saja makan hamburger kacang merah! Rasanya enaaaak sekali dan tak berminyak!" Hana mengangkat kedua tangannya untuk mengekspresikan betapa nikmat makanan yang baru saja ia rasakan.
"Hn" respon Yoshiki.
Muncul sebuah siku merah di dahi Hana. Jika saja pria itu meresponnya dengan dingin namun tetap menatapnya sih tak masalah. Tapi kali ini pria itu menjawabnya dengan dingin, dan tanpa menatapnya. Matanya fokus pada benda kecil hitam di tangannya.
Jempol Yoshiki terlihat sedang menggser layar lebar ponsel itu.
Tak sadar kembali senyum tipis terukir samar di wajah dingin Yoshiki.
" ... ." Hana hanya terdiam menatap senyum tipis Yoshiki.
Sebenarnya ada apa? Suaminya itu semakin sering bermain dengan ponselnya sekarang. Apalagi sepertinya Yoshiki sering tersenyum sendiri menatap ponsel. Ada apa? Sebenarnya ada apa?
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 157]

Chap 157

"Jika kau mengandung anakku nanti tak akan kubiarkan kau hyperactive seperti ini" guman Yoshiki.
DEG.
Refleks Hana berhenti berjalan. Wajahnya memerah seketika.
Yoshiki ikut berhenti dibelakang Hana. "Hn. Ada masalah?"
'U-uh...' wajah Hana menjadi berasap.
Dalam pikiran Hana, terdapat gambaran kecil dimana dirinya... Mengandung... Dengan perut yang besar... Dan Yoshiki... Di sampingnya dengan wajah bahagia....
"waaawawa!!!" Hana langsung berteriak heboh untuk menghapus hayalannya barusan.
Tiba-tiba saja Yoshiki sudah berada di depan Hana. Tangannya ia gunakan untuk mengangkat dagu Hana supaya wajah Hana bertatapan langsung dengannya.
"Hn. Kau bersedia?"
"E-etto... Ah! A-anno!!" Hana nampak kesusahan menjawab. Wajahnya pun masih memerah.
"Hn...." Yoshiki terdiam menatap Hana. Mencoba memahami pikiran Hana.
"Kau.... Tak mau?"
"Eh! Bukan! Bukan!! A-aku ha-hanya masih berumur--"
"Hanya ketika kau merasa telah siap" potong Yoshiki.
Hana mendongkak menatap wajah Yoshiki. "Hanya setelah kau bersedia dan siap mengandung anakku" tatap Yoshiki tajam.
"Kau bersedia kan? My Lady?"
"te-tentu a-aku bersedia. Aku tak mau wanita lain yang harus mengandung anakmu" jawab Hana sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Bibir Yoshiki sedikit tertarik keatas. Di tariknya dagu Hana, lalu dikecupnya bibir mungil Hana.
"Arigato... My Lady..."

Dan hari itu mereka habiskan berdua di taman bermain. Jerit Hana di rumah hantu, dan tawa Hana setelah menonton atraksi konyol masih terngiang jelas di memory Yoshiki.
Kini wanitanya itu sudah tertidur lelap dengan kepalanya yang tersandar di bahunya.
Bersama dengan tenggelamnya matahari di kala senja. Keempat roda benda yang menbawanya pulang ke manor housenya terus melaju tanpa hambatan.

"Tomuro?" Kuroto Yoshiki, dengan ponsel canggihnya mendatangi sang sahabat yang baru saja keluar dari laboratorium organik.
Mata onixnya masih tak lepas dari ponselnya.
"Ada apa?" Tomuro yang merasa terganggu penelitiannya di hentikan di tengah jalan menjawab bosan panggilan Yoshiki.
"hn. Kita percepat prosesnya" ujar Yoshiki mantap.
"Apa!? Aku baru saja memulai!" protes Tomuro.
"Hn. Kalau begitu lebih percepat lagi"
"Kenapa kau sangat terburu-buru sekali sih!?"
"Hn" Yoshiki menunjukkan sebuah email di ponselnya.

From: elfsaan@mailstream.jp
Subyek: Introduction
Content:
Yoroshiku Kuroto-sama.

Perkenalkan. Namaku... Err-- rahasia yah... Baiklah panggil aku S-Elf hoho
Pasti kau sudah tau siapa aku kan? Demon-san?
Aku urutan ke-11 dari Exorcist.
Ah akhirnya aku menemukanmu. Aku sangat ingin bertemu denganmu Kuroto-sama. Mencumbu tubuhmu... And then... Suck your dick... Ups! It isn't correct.
Aduh kenapa aku ngelantur sih. Pokoknya inti dari email ini adalah... Aku akan segera membunuhmu. Atas nama Exorcist. Camkan itu Kuroto-sama

salam cinta, S-elf
oh ya! Aku akan terus mengirimimu email setiap hari!

--end--

Tomuro terdiam membaca email itu.
"bagaimana dia mendapatkan alamat emailmu!?"
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 156]

Chap 156

"Eh!?? WAAAA!!" Refleks Hana memundurkan tubuhnya sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
"Hn" kembali Yoshiki tersenyum tipis. Entah kenapa sebagian kecil dari dirinya menyukai moment-moment dirinya bersama Hana yang saat ini bertingkah konyol.
"kyaaaa" terdengar sayup-sayup suara teriakan masal yang kemudian disusul suatu suara benda yang melintas di atas sebuah rel besi.
Hana refleks menolehkan kepalanya mencari asal suara.
"waaa!! Roller-coaster! Yoshiki-kun! Bisakah kita naik itu!??" Hana langsung melompat kegirangan di depan Yoshiki seperti anak kecil.
Pria yang mengenakan kemeja biru motif kotak-kotak dengan seluruh kancingnya yang dilepas sehingga memperlihatkan kaos putih di dalamnya itu menatap datar kerangka rel roller-coaster yang membumbung tinggi.
"Hn" Yoshiki menyeringai tipis tanpa disadari Hana. "Kau yakin?"
"Yakin!" Hana mengangguk mantap.
"Hn. As you wish My Lady" Yoshiki berjalan menyetujui permintaan Hana.

Sebuah sabuk pengaman berwarna merah baru saja terpasang rapat di tubuh Hana. Di sampingnya, Kuroto Yoshiki tengah menatap bosan ke depan.
"waah aku sudah tidak sabar" ujar Hana sambil sedikit menjerit.
Tak lama kemudian benda hitam yang dinaiki Hana dan beberapa orang itu perlahan bergerak ke depan.
"huuuft" Hana menenangkan jantungnya.
Roller-coaster perlahan berjalan dengan terus melambat karena sepertinya mulai naik.
Jantung Hana berdetak perlahan--seolah bersiap untuk memompa dengan kuat setelah ini.
Roller-coaster perlahan mulai turun... Turun... Turun... Dan kecepatan mulai naik.
"WAAAAAAAAAA!!!" teriak Hana saat tubuhnya ikut terseret turun roller-coaster itu.
Sementara Yoshiki? Jangan tanya. Dia masih tetap menatap bosan lurus ke depan.

"hhhh....hhhh... Aku mau mati...." ujar Hana setelah mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya.
"Hn...." Yoshiki hanya mengguman.
"Yosh. Selanjutnya itu!" Hana menunjuk sebuah wahana.
Wahana itu berbentuk pencakar langit walau tidak tinggi sekali. Dan di sekitarnya ada kursi-kursi yang di kait tali.
Tali itu akan membawamu ke atas. Lalu di putar-putarkannya kau di atas sana. Sampai putaran sembilan puluh derajat tegak lurus. Dimana kepalamu akan menghadap kebawah dan tubuhmu diputar-putar.
"istirahatlah sebentar" nasehat Yoshiki.
"tidak mau!" Hana membantah.
"hnn..." Yoshiki kembali mengguman lalu menuju wahana yang di maksud.

"p-pusing...." Mata Hana berkunang-kunang. Kepalanya ia sandarkan pada bangku.
"Hn. Sudah kubilang istirahatlah" omel Yoshiki.
"Ha-habis" PUK. Yoshiki menyenderkan kepala Hana ke pundaknya.
"Eh!" Hana langsung kembali menegakkan kepalanya. "A-aku takut m-muntah..."
"Hn. Muntah saja"
"Maksudku aku takut memuntahimu!"
"Hn.... Tarik nafasmu dan buang secara teratur"
Hana langsung melaksanakan nasehat Yoshiki. Tak beberapa lama kepala Hana terasa normal lagi.
"yatta! Sudah tidak pusing!" Hana kembali bergairah.
"Yosh! Selanjutnya itu!" lagi-lagi Hana menunjuk sebuah wahana yang terlihat ekstream.
"hn..." Yoshiki kembali mengguman.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 155]

Chap 155

Lalu menggendongnya menuju kamarnya.

"nghh...." dengan perlahan kelopak mata Hana terbuka. Merasakan banyaknya cahaya yang langsung menyapanya, saphire Hana kembali ditenggelamkan oleh sang kelopak untuk membiasakan dengan intensitas cahaya sekitar.
Sebuah tangan besar nampak tengah mempermainkan rambut hitam pendek Hana.
Si pemilik tangan hanya tersenyum tipis mengetahui rambut orang yang sedari tadi dimainkannya sudah mulai membuka mata.
"ohayou... My lady" ucapnya.
Seketika mata saphire Hana terbuka lebar.
Di depannya. Kuroto Yoshiki tengah tersenyum tipis ke arahnya. Dengan rambutnya yang agak berantakan dan kimono tidur menutupi tubuh pria itu, hingga memperlihatkan dada bidangnya.
BLUSH
Tiba-tiba wajah Hana berubah sangat merah.
"e...eh?" sementara semua darah mengalir ke wajahnya. Otak lemot Hana sepertinya sedikit berfungsi.
'Yoshiki-kun mengenakan kimono tidur?.... A-apa artinya....!?'
sontak wajah Hana menjadi lebih memerah lebih dari kepiting rebus setelah berfikir pria di sebelahnya telah tidur di sampingnya selama semalam.
Memang walaupun keduanya suami-istri, Yoshiki jaranglah tidur bersama Hana. Mengingat kesibukannya, dan yah... Iblis tidak perlu tidur kau tahu.
"Yoshiki-kun... Kau semalam--"
"Tidur di sampingmu" lanjut Yoshiki.
Hana hanya bisa menganga lebar dengan wajanya yang masih memerah.
"Hn?" Yoshiki menaikan satu alisnya. Oh astaga! Rasanya ketampanannya menjadi berkali-kali lipat.
"Kenapa wajahmu memerah seperti itu?"
"Eh... Etto... A-anno.... Uuuh...." Hana langsung menyembunyikan dirinya di balik selimut putih tebal.
"Hn" Yoshiki tersenyum tipis. "cepat bangun. Hari minggu ini sepertinya ada sebuah taman bermain yang baru buka"
Hana melepaskan selimut di wajahnya. "Hontou? Apakah kita akan ke sana Yoshiki-kun?" Hana langsung berubah menjadi bersemangat.
"hn. Sebagai permintaan maaf telah meninggalkanmu"

"Yoshikiiiii-kuuuuun" teriak Hana memanggil nama pria raven yang tengah menatapnya datar.
Wanita berambut hitam pendek itu kini kedua tangannya nampak sibuk oleh permen kapas yang baru saja di belinya.
"Hn" pria yang namanya di panggil dengan nyaring hanya menatap datar.
"Ini untukmu" Hanya menyodorkan permen kapas di tangannya.
"Hn. Makanan manusia yang manis" Yoshiki menatap datar permen kapas di tangannya tanpa sedikitpun mempunyai niat memakannya.
Sementara Hana sepertinya sudah menikmati setiap kemanisan yang meleleh di mulutnya.
"uhm? Nande? Kau tidak suka Yoshiki-kun?"
"Hn. Aku tidak terlalu menyukai makanan manis"
"Wah kalau begitu kita berlawanan arah. Aku suka manis. Suka sekali!" ucap Hana bersemangat.
"Hn. Tapi aku masih menyukai suatu hal yang manis"
"Apa itu?" Hana mendadak kepo dengan ucapan Yoshiki.
"bibirmu"
ucapan Yoshiki yang singkat padat dan tidak jelas itu refleks membuat Hana menoleh lalu menatap pria yang sudah menatapnya datar itu.
Ada sedikit bekas rona merah di wajah Hana.
"a-a-aapp-pa!?" tanya Hana tergagap-gagap.
"Hn. Aku bahkan seperti ingin melumatnya sekarang"
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 154]

Chap 154

" ... ." Yoshiki tak memperdulikan dan terus berjalan.
"Menurutmu apakah My Lady bisa menjadi sebaik Hazel?" Tomuro yang sepertinya kesal dengan sikap dingin Yoshiki dan tak menyadari bahwa istrinya itu sedang berusaha menjadi yang terbaik untuknya langsung memberikan kata kunci.
" ... ." lagi-lagi Yoshiki tak menjawab. Entah apa yang berada di pikiran pria itu.
"Hhh... Sudah ya. Hana sudah menungguku"
Gema langkah kaki Tomuro perlahan menghilang dari pendengaran Yoshiki.

Kini pria itu yang ganti terdiam di tempatnya. Di sandarkannya punggungnya pada dinding.
" ... . My Lady..." gumannya.
Isi kepala pria raven itu berkecamuk.
Kenapa? Kenapa Hana berubah? Ia menyukai Tomuro? Dan ternyata Tomuro menyukai Hana.
"Menurutmu apakah My Lady bisa menjadi sebaik Hazel?"ucapan Tomuro kembali terngiang di kepalanya.
Hazel? Ada apa dengan Hazel?
Hazel....
Yoshiki memejamkan matanya. Hingga cukup lama. Dan saat itu ia sadar apa maksud dari ucapan Tomuro dan segala alasan tindakan Hana.
Mata onixnya terbelalak menyadari kesalahan fatalnya.
"..... Ck!" decaknya.
Yoshiki segera melesat menuju tempat latihan Hana dan Tomuro yang memang hari ini khusus berada di aula.
BRAK
Dibukanya dengan kasar pintu berdaun besar dan berat itu oleh Yoshiki.
"My Lady..." sambil meneriakkan sebuah nama.
"Selamat malam. Tuan"
mata onix Yoshiki terbelalak menatap Hana yang menggunakan seragam maid tengan menunduk hormat ke arahnya. Menyambutnya.
"Wah kau telat dari perkiraanku. Sepertinya kau semakin bodoh Yoshiki." Tomuro muncul dengan melirik jam tangannya.
"Ah sudah ya, lihat hasil pelatihan khususku" Tomuro berjalan meninggalkan Hana dan Yoshiki.
Dengan masih sedikit gemetar, tangan Hana memegang sebuah teko besar entah berisi apa namun sepertinya nampak penuh.
"silahkan tuan..." Hana berusaha nampak anggun.
TEP
Tangan Yoshiki entah kenapa memegang tangannya yang tengah sibuk menuangkan cairan dalam tekonya.
DEG. Jantung Hana seakang memompa darah di tubuhnya lebih kuat.
TRANG
Dan teko itu pun jatuh ke lantai. Menumpakahkan cairan hitam pekat di dalamnya. Mengotori lantai.
"ahh... Kupikir aku sudah bisa" tak kuasa sedikit air mata terlihat jelas menuruni pipi tan Hana.
Sebuah hentakan pada tangan Hana yang langsung menariknya pada sebuah tubuh kekars sukses mengagetkannya.
"eh?"
"maaf" suara berat Yoshiki terdengar.
" ... . Kau sudah lulus dari semua kriteria wanitaku..." ujar Yoshiki lagi.
"Ta-tapi--UHM!!" Hana kembali terbebelalak saat bibir Yoshiki mencium bibirnya. Ruam merah di wajahnya tercetak jelas sekarang.
"kau tak perlu menjadi siapapun. Hazel, atau siapapun. Karena aku mencintaimu Kuroto Hana" ujar Yoshiki.
Senyum mengembang dari bibir Hana.
"mm!!" Hana mengangguk bahagia.
Yoshiki mau tak mau bibirnya ikut tertarik ke atas. Memperlihatkan senyuman tipis.
Dibelainya perlahan rambut hitam Hana.
"ngghh.... Huuuu" tak di duga terdengar suara dengkuran yang halus dari bibir Hana.
Yoshiki menaikkan satu alisnya menatap Hana yang tertidur.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 153]

Chap 153

Yoshiki langsung menarik tangan Hana dan mengunci tubuh Hana di antara dinding.
Langsung diciumnya bibir ranum Hana.
Hana terbelalak kaget atas tindakan Yoshiki yang tiba-tiba menciumnya.
"Hn..." Yoshiki melepas ciumannya. Masih dengan menunduk hingga mata kelamnya tertutup oleh rambut ravennya.
"Hanya karena aku meninggalkanmu sebentar kau sudah menyukai orang lain?" Yoshiki menatap tajam mata Saphire Hana.
"Yoshiki-kun... Kau bicara ap--uhm!!" belum sempat Hana menyudahi ucapannya, bibir Yoshiki kembali melumat bibirnya.
Hana refleks menggelengkan kepalanya untuk melepaskan lumatan bibir Yoshiki. "Ti... Tidak!"
Namun Yoshiki masih keras pada keinginannya. Tanpa peduli dengan Hana yang tidak mau dicium, kembali ditemukannya bibirnya dan bibir Hana.
'Uh... Yoshiki-kun... Kau kenapa?'
Yoshiki melepaskan ciumannya. Ekspresinya langsung berubah ketika melihat wajah Hana yang seperti terpaksa menerima ciumannya. Kedua alis Yoshiki berkerut keatas.
'Kau marah? Yoshiki-kun....?'
"....." Yoshiki masih mengamati ekspresi Hana yang nampak ketakutan.
"Jadi begitu..." gumannya.
Yoshiki langsung bangkit berdiri.
"Yoshiki-kun?"
"Hn. Sudahlah. Aku tak akan menyentuhmu lagi"
Hana terdiam mendengar ucapan pria itu barusan.
Apa? Apa maksud ucapan Yoshiki barusan?

"Ah? Kau telat Hana-kyun" Tomuro tersenyum menyadari kedatangan Hana dan langsung menoleh.
"Hiks... Hiks..." tanpa diduga Hana muncul dengan wajahnya yang memerah karena menahan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya.
"EH!? My Lady ada apa denganmu!?"
"A...Aku... Mungkin aku dibenci oleh Yoshiki-kun... Tapi kenapa? Huweeee" tangis Hana menjadi pecah.
"uhhh..." Hana terus menyeka air matanya yang mengalir tak berhenti.
'sesak....'
'sedih...'
'Aku tidak mau Yoshiki-kun....'
"huwe.... Huu..."
" ... ." Tomuro hanya mampu menatap Hana yang terus menangis.

Kuroto Yoshiki. Tengah berjalan diantara koridor-koridor ruangan di manornya dengan membaca sebuah kertas print-out. Tapi bagaimanapun ia tetap tidak bisa konsentrasi memahami tulisan pada kertas print-out itu. Pikirannya kalut.
Hana Kuroto. Wajah istrinya yang seakan menolakknya itu terus terngiang dalam pikirannya.
Ada apa dengan wanitanya itu?
Pria raven itu terus berfikir sampai tak sadar meremat kertas print-out di tangannya.
"Hoooi... Yoshiki" suara Tomuro seakan membangunkannya dari lamunannya.
Sahabatnya yang berambut merah itu tengah bersandar pada dinding dengan kedua tangannya yang disilangkan di dada.
"..." Yoshiki terus berjalan tak menghiraukan panggilan Tomuro.
TEP
Tomuro menahan pundak Yoshiki. "tunggu"
Yoshiki terpaksa berhenti.
"Aku akan menyatakan perasaanku kepada Hana" Tomuro menatap wajah Yoshiki dengan sengaja.
"Hn... Terserah" jawab Yoshiki dengan nadanya yang tetap dingin. Namun lihat kedua tangannya yang terus menggenggam erat menahan emosinya.
"Heh? Apa itu? Bukannya kau mencintainya?" ejek Tomuro.
"Hn" Yoshiki menepis tangan Tomuro lalu berbalik.
"Huh. Seperti anak kecil yang sedang merajuk saja" ejek Tomuro.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 152]

Chap 152

" ... ." Tomuro tak menjawab.
"Eh... Yoshiki-kun. Anno... Aku aku hanya minta Tomuro-kun mengajariku bagaimana menjadi maid yang baik" Hana mencoba memberikan penjelasan.
Onix Yoshiki melirik ke arah Hana. "Hn. Untuk apa? Kau istriku" ujar pria itu masih dengan keangkuhannya.
"A-a...." Hana kebingungan akan jawabannya. "Uh karena aku ingin" Oke, Hana tak berhasil mencari alasan yang cocok.
"Hn" guman Yoshiki.
"Kemari Tomuro" Yoshiki melangkah menjauh.
" ... ." Tomuro menatap lekat punggung Yoshiki sebentar. Lalu memutuskan untuk mengikutinya.
"Hn. Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi"
" ... ." Tomuro terdiam sejenak. Muncul bayangan-bayangan saat Hana menuju toilet dikarenakan melihat Yoshiki dan Hazel. Dan bagaimana wajah muram Hana saat mengatakan "aku tak bisa melayani Yoshiki-kun seperti Hazel..." teringat jelas di kepala Tomuro.
"Egois seperti biasa" ledek Tomuro.
"Hn. Apa maksudmu?" ujar Yoshiki masih dengan kesabarannya.
"Menurutmu? Kau tahu My Lord. Sepertinya aku juga menginginkan milikmu" ujar Tomuro dengan nada angkuhnya pula.
Oke. Amarah Yoshiki sudah di ambang batas.
BRUAK!
GRSAK... GRASAK...
Suara hantaman yang sangat keras lalu diiringi suara gemerisik rerumputan menggema di seluruh taman belakang manor.
"ghh..." Tomuro berusaha bangkit dengan memegangi bekas lebam di pipi kanannya.
"TOMURO-KUN!!" Hana refleks langsung mendatang Tomuro yang berusaha bangkit.
" ... ." Yoshiki menatap datar Hana yang tengah menolong Tomuro.
"Ck!" decaknya lalu pergi.
"D-daijobu ka Tomuro-kun?" ujar Hana khawatir.
"Hah? Ini? Ah sudah biasa" jawab Tomuro dengan agak cekikikan.
"Ta-tapi sakit sekali ya?" Hana masih tidak sanggup membayangkat sakitnya dihantam begitu oleh bogem Yoshiki.
"Sudah kubilang tak apa. Kita besok latihan lagi ya disini. Sekita pukul 6 malam. Oke?"
"Apa sih! Kau sedang terluka Tomuro-kun! Itu salahku! Dan kenapa kau malah--"
"Ini sih kusembuhkan sendiri juga bisa" potong Tomuro. "Pokoknya besok jangan telat!"

keadaan di dalam mobil, kelas, atau di manapun tak jauh beda. Hana dan Yoshiki sama-sama saling mendiamkan. Yoshiki nampak biasa saja. Dan ia malah terlihat sangat sibuk dengan ponsel canggihnya.
Sampai akhirnya keduanya terpisah. Hana harus pasrah setelah ditarik oleh Shiro untuk mengantarkan buku pelajaran Bahasa yang ditinggalkan oleh sang sensei kiler menuju ruang guru.
Kelas Shiro ada di 2-4 dan Hana di 2-1. Jadi Shiro duluan yang memasuki kelas.
Hana berjalan sendirian melewati 3 kelas yang juga hampir sepi.
Awalnya Hana hanya menatap kebawah. Entah apa yang dicarinya.
Ketika mata saphirnya menatap sebuah sepatu coklat berjalan ke arahanya. Hana segera mendongkak.
"Hentikan latihanmu itu" Yoshiki Kuroto. Berbicara dengan nada peruh perintah seperti biasa.
"Eh? Yoshiki-kun? T-tapi aku benar-benar ingin menjadi maid yang baik"
" ... ." Yoshiki menatap Hana sebentar. "Kalau begitu aku yang akan melatihmu"
"TI-TIDAK!! Biar Tomuro-kun saja yang mengajariku. Aku tidak mau Yoshiki-kun yang mengajariku"
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 151]

Chap 151

"Kita istirahat di taman belakang saja ya Yoshiki-kun" ajak Hazel.
"Hn"
Hazel tersenyum menanggapi. Betapa bahagianya dirinya kali ini. Bisa sangat dekat dengan pria yang disukainya.

Yoshiki langsung menduduki salah satu dudukan marmer di salah satu kubah di taman belakang.
Hazel tetap setia mengikuti Yoshiki dengan senyumannya.
Langit cerah membuat pemandangan rerumputan semakin indah.
"Hn, Hazel bawakan aku jus apel" perintah Yoshiki datar.
"Yes My Lord" Hazel menanggapinya dengan senyuman lalu segera melaksanakan permintaan Yoshiki.

"Masih kaku" Tomuro menatap Hana sweadrop.
"Aghhh!! Moo! Aku tidak tahan!" Hana frsustasi.
"Coba lagi!"
Awalnya Hana menatap Tomuro dengan menggembungkan pipinya. Tapi setelah itu ia mendadak tersenyum dan berujar, "Konnichiwa kousujin-sama" dengan sangat-sangat manis.
" ... . Uh...." wajah Tomuro mendadak sedikit memerah menatap kelakuan Hana barusan.
'Di... Dia... S-sungguh... M-manis...' guman Tomuro sambil menjaga imagenya.
"begitu?" Hana menatap Tomuro bosan. Dan hampir menggembungkan pipinya lagi.
"B-bagus..." Tomuro agak tergagap. "Sekarang tuangkan chinesse-tea-nya"
"Dozo... My Lord..." ujar Hazel sambil tersenyum sementara tangannya menyodorkan segelas jus apel.
"Hn..." Yoshiki menanggapi datar. Diarahkannya sedotan putih di jus ke arah mulutnya.
Sambil perlahan-lahan menghisap dan menikmati rasa asam dari jus jeruk, mata onix Yoshiki menatap sebuah bayangan dari kejahuan.
Alis pria tampan itu agak menggerut. Untuk mempertajam penglihatannya mungkin.
Dilihatnya, seseorang mengenakan seragam maid. Dan seorang pria yang sepertinya Tomuro--terlihat dari rambut merah mencolok yang hanya dimiliki Tomuro seorang--tengan dilayani oleh sang maid.
Onix Yoshiki kembali mengamati si maid karena ia belum mendapat wajah si maid karena selalu terhalang tiang-tiang kubah.
Sampai akhirnya si maid menjahui tiang kubah dan memperlihatkan wajah aslinya.
Berambut hitam pendek. Tengah tersenyum menatap Tomuro...
BRAK!
Yoshiki langsung bangkit dari tempatnya.
Giginya bergemelatuk emosi. Sementara kakinya berjalan dengan mantap ke arah kubah si maid.
"eh?" Hazel kebingungan menatap tingkah Yoshiki.
"Dozo... Kousujin-sama" Hana menyodorkan sepiring manisan ke arah Tomuro.
"A-a... Lebih kawaii lagi" ujar Tomuro tegas.
"uuuh!" Hana menggerutu.
"D-dozo... Kousujin-sama" Hana--dengan tersenyum tulus hingga membuatnya terlihat manis--kembali menyodorkan manisan di atas piring ke arah Tomuro.
"Hn. Apa yang kalian lakukan?" sebuah suara dingin melantun terdengar.
Hana refleks berbalik dan melihat Yoshiki dengan tatapannya yang dingin menatap ke arahnya dan Tomuro.
"Hn..." Yoshiki berjalan mendekat dengan segala kewibawaan dan keangkuhannya.
"Aku tidak ingat pernah memberimu izin untuk mendekati milikku. Bahkan sampai kalian bermain master-maid seperti ini" Yoshiki menatap Tomuro datar. Tapi siapapun pasti tau yang sebenarnya setalah mengamati dengan seksama kilatan emosi yang terpancar di onix Yoshiki.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapeter 150]

Chap 150

"ajari?" Tomuro menaikkan satu alisnya kepada Hana.
Hana mengangguk.
"Hhh.... Iya-ya" Tomuro menghela nafas berat.
"Yey!" Hana bersorak pelan.
Tomuro menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "sebenarnya untuk apa sih?"
"ung..." Hana sempat menggigit bibir bawahnya.
"?" Tomuro menaikkan satu alisnya menatap Hana.
"Sudahlah ajari saja!!" ujar Hana tsundere.
"Hhh.... Baiklah" Tomuro menyerah.

"Tidak tidak. Gunakan tangan kirimu dengan baik. Usahakan jauhkan tatakan ini dari kepala tamu" Tomuro mendekati Hana setelah melihat praktek Hana yang konyol dalam melayanani tamu.
Tomuro segera membenarkan lengan kiri Hana.
"B-begini?" Hana mati-matian menaan posisinya kali ini. Kakinya sudah hampir mati rasa sepertinya.
"Yap. Eh.... Kau kaku sekali" Tomuro sweatdrop menatap Hana.
Hana menuangkan chinesse-tea di tekonya secara perlahan.
Teh hampir memenuhi gelas.
Hampir penuh. Hana semakin gemetaran. Tak kuat menahan posisinya.
Mendekati penuh....
SRAT...
Sepatu Hana menggesek lantai. Dan...
BRAK...
"Ittai...." ringis Tomuro.
Hana yang sejak sepatunya menjadi selip sudah menutup mata sekarang membuka matanya perlahan.
"Eh? TOMURO-KUN!?" Hana sontak kaget melihat tubuh di bawahnya adalah Tomuro.
"Kau tidak apa?" Hana menatap Tomuro lekat.
Entah kenapa terlihat bekas ruam merah di sekitar pipi Tomuro.
'Di... Dia manis...' batin Tomuro.
"Eh tidak apa. Kau tidak apa?" Tomuro bangkit dan membantu Hana bangkit.
"Uhh... Aku tidak berbakat..." wajah Hana menjadi muram.
"Tak apa. Ini kan baru permulaan..." Tomuro berusaha menenangkan Hana.
"Ta-tapi jika aku tak segera bisa..."
"Hmm?"
"Aku tidak bisa melayani Yoshiki-kun sebaik Hazel...."
" ... ." Tomuro terdiam menatap pernyataan Hana.
PUK.
Tangan Tomuro mengelus kepala hitam Hana.
"jadi begitu...." guman Tomuro.
"Baiklah ayo kita berlatih lagi"
Hana tersenyum mendengar ucapan Tomuro lalu mengangguk dengan semangat.

Hari terakhir liburan.
Hana kembali mendatangi tempat latihannya dengan Tomuro semalam. Di sana Tomuro sudah menunggu dengan koran paginya.
Pakaian maid yang sudah disiapkan Tomuro telah terpakai rapi di tubuh Hana.
"hm... Kau tidak pantas mengenakan ini Hana-kyun" ucap Tomuro dengan nada menggurui.
"Eh? Benarkah!??"
"Ya. Kau lebih cocok mengenakan seragam butler"
DUK
Hana langsung menendang kaki Tomuro karena jengkel.
"Ittai...." Tomuro hanya meringis.
"Hahaha gomen. Ayo kita lanjutkan"
"Huh"

"Yoshiki-kun bagaimana saham di Afrika? Apakah sudah stabil?" Hazel. Terlihat tengah meletakan piring B&B berisi manisan di dekat dokumen-dokumen Yoshiki yang berserakan di atas mejanya.
"Hn. Sepertinya berlian masih menjadi sumber utama perekonomian" guman Yoshiki sambil memijit keningnya untuk menghilangkan penatnya.
"Hmmm" Hazel tersenyum menatap Yoshiki.
"Kenapa tidak istirahat sebentar Yoshiki-kun?" tawar Hazel.
"hn?" Tomuro mendongkak sebentar menatap wajah cantik Hazel.
GRATAK...
Pria itupun bangkit dari kursi panasnya.
"Ide yang bagus" gumannya sambil berjalan mendahului Hazel keluar ruangan.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 149]

Chap 149

"Hei waffle-mu belum habis loh!" Tomuro mengejar Hana dari belakang.
Wanita berambut pendek itu seolah menulikan telinganya. Ia berjalan menunduk menuju toilet wanita sementara Tomuro terus mengejarnya.
"Mau ikut masuk toilet wanita?" ujar Hana setelah berhenti tepat di depan pintu toilet wanita.
"Err--ya... Mengintip boleh kan..." jawab Tomuro iseng.
"Tomuro-kun...."
"Hm?"
"Akhir-akhir ini Yoshiki-kun sangat dekat dengan Hazel..." guman Hana.
"Memang Hazel adalah wakil Yoshiki untuk proyek ini..."
"Dan Yoshiki-kun sangat jarang dekat denganku..." Hana masih mengguman.
"Dia memang workaholic. Gila kerja"
"Sou ka..."

Pagi ini Hana berniat mengunjungi ruang kerja Yoshiki. Untuk sekedar menyapa dan berbicara sejenak mungkin. Ia benar-benar ingin bertemu suaminya.
"nnn... Ngh... Hm..." Hana bersenandung ria dan munglai mengetuk pintu besar ruangan Yoshiki.
KLEK
Salah satu daun pintu besar itu terbuka. Memperlihatkan seorang wanita cantik berambut ekstra panjang berwarna coklat tengah memakai baju maid.
"Hazel-san?" oke, Hana cukup kaget untuk kali ini.
Tak memperdulikan sikap Hana, Hazel segera berbalik badan ke arah Yoshiki yg duduk di mejanya.
Tangan kananya membawa sebuah teko porselen dan tangan kirinya membawa tatakan. Dan dituangkannya cairan dalam teko tersebut dengan anggun di cangkir porselen di meja kerja Yoshiki yg lumayan berantakan.
"Hn" Yoshiki mengangkat kepalanya menatap Hana.
"My Lady?" ia menaikkan satu alis.
"O-Ohayou Yoshiki-kun. Bagaimana harimu?" ujar Hana tergagap-gagap.
"Hn. Seperti yang kau lihat" Yoshiki kembali melanjutkan kegiatannya.
"U-uhm..." Hana agak kebingungan setelah itu. Ia telah kehabisan menu pembicaraan.
Tangan kiri Yoshiki terlihat meraih gagang cingkir di sebelahnya dan mulai meminum cairan di dalamnya dengan perlahan.
"Bagaimana My Lord? Anda suka?" tanya Hazel dengan senyuman terbaiknya.
"Hn. Suka" jawab Yoshiki datar.
"....." Hana hanya terdiam melihat adegan di depannya. Akhirnya ia melangkahkan kaki mundur dan berniat keluar ruangan Yoshiki.
"Hn. Nanti jika tidak sibuk akan kutemani kau" ucapan Yoshiki membuat Hana terdiam di ambang pintu.
"Jika..." guman Hana sambil pergi meninggalkan ruangan.
Hana terus melangkah tak peduli kemana. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana perlakuan istimewa Hazel kepada Yoshiki. Dan bagaimana Yoshiki menyukai minuman buatan Hazel di cangkirnya.
Bagaimana Yoshiki terlihat nyaman dengan makan bersama Hazel di restoran kemarin.
Sungguh serasi.
"ugh..." Hana berguman tipis.
"Kau bisa jatuh jika berjalan dengan melamun" sebuah suara familiar membuat Hana mencari sang sal suara.
"Tomuro-kun?"
"YO!!"
"Dari mana kau?" Hana mengamati kaos putih Tomuro yang agak keringatan.
"Melatih"
"Oh melatih. Tomuro-kun mau menemaniku lagi malam ini?" Hana menatap Tomuro dengan penuh harap.
"Ya boleh"
"Tomuro-kun kau berpengalaman dalam bidang pelayanan?"
"He? Kenapa bertanya itu?"
"Sudah jawab saja"
"Hhhh... Kau ini. Ya lumayan sih berpengalaman"
"Bisa ajari aku?"
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 148]

Chap 148

Dan kembali terlihat wajah pucat pria berambut merah bernama Arashi Tomuro.
"Mau makan malam?" tanya Tomuro langsung.
"He? Ehm... Boleh. Sebentar aku berganti pakaian dulu" Hana pun menyanggupinya.

"Coba jelaskan padaku Tomuro-kun, alasanmu mengajakku ke restoran membosankan seperti ini" ujar Hana sambil menatap Tomuro datar.
"Menu disini enak-enak loh. Aku suka waffle-nya" Tomuro langsung duduk begitu menemukan meja yang pas untuknya. Hana juga mengikutinya.
"Hanya waffle?"
"Kau pasti suka" jawab Tomuro yakin.
"Hhh.... Asal kau yang traktir tak masalah sih"
"Dasar kau ini" Tomuro sweatdrop. "Ohya, kenapa kau malah mengenakan topi dan jaket?"
"Ini?" Hana menunjuk topi biru yang menutupi kepala hitamnya. "entahlah... Ingin saja..."
"SUGOII!! TIAP GIGITANNYA MELELEH DI MULUT! UHMMMM" Hana setelah berteriak-teriak tidak jelas mulai terbuai dengan saus strawberi yang meleleh di mulutnya.
"Sudah kubilang kan kau pasti suka" Tomuro tersenyum menatap Hana.
Letak meja mereka berada di dekat cermin yang menghadap ke jalan raya. Hana duduk membelakangi kaca. Dan Tomuro duduk menghadap kaca.
"UHM! LAIN KALI AJAK AKU KEMARI LAGI YA TOMURO-KUN!!" Hana masih sibuk merasakan tiap lelehan saus strawberi di mulutnya.
"Iya iy--" Tomuro terdiam menyadari ada hawa aenh di restoran itu. Setelah ditolehnya ke sana kemari di dapatinya si pembawa hawa aneh. Yoshiki Kuroto tengah berjalan bersama Hazel memasuki restoran yang sama dengannya.
Untung saja Hana masih sibuk dengan waffle-nya. Kalau tidak mungkin Hana sudah berteriak-teriak tadi.
"Hana-kyun..." ujar Tomuro pelan.
"Itu Yoshiki-kun kan?" Hana tidak memperdulikan panggilan Tomuro dan malah memperhatikan ke meja yang ada di seberangnya.
"Kenapa dia disini? Bersama Hazel?" tanya Hana tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mungkin istirahat sebentar. Kau tahu Yoshiki sangat sibuk sepertinya"
" ... ." Hana tak menyahuti. Saphirenya sibuk mengamati bagaimana Hazel tertawa dan bercakap-cakap dengan Yoshiki. Walau wajah Yoshiki nampak menunjukan wajah tidak tertarik dan bosan.
Seorang pelayan membawakan sepiring desert di meja Yoshiki.
Hazel segera memindahkan beberapa desert yg diingininya pada piring kecil B&B-nya dan B&B Yoshiki.
" ... ." Hana hanya menatap datar semua perlakuan Hazel.
Saat Hazel meletakan piring berisi desert di depan Yoshiki, pria tampan itu tersenyum tipis. Oh demu Dewa Athena!! Yoshiki Kuroto nampak gagah dengan setelan jasnya, ditambah sekarang ia baru saja tersenyum tipis. Oh! Sangat tampan.
DEG
Ada yang aneh dari dada Hana tiba-tiba.
"Tomuro-kun..." Hana berujar pelan.
"Ya?"
"Kenapa Yoshiki-kun tak mengenaliku...?"
"Mungkin karena topi dan jaketmu"
"Kenapa Yoshiki-kun tak menegalimu?"
"Entahlah. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya mungkin"
"Sebenarnya Yoshiki-kun sedang apa?!?"
"Proyek besar persiapan untuk memiliki dunia ini"
"Hmm.... Begitu ya Tomuro-kun..." guman Hana.
SRAAAAK
Hana segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 147]

Chap 147

Pandangan Saphire itu datar ke arah rerumputan yang ditata sedemikian apik di taman belakang mansion.
"Aku... Merindukannya..." guman Hana lagi.
"Hn. Kemari" sebuah suara dingin mengalun mengoyahkan segala pertahanan Hana. Dalam sekejap wanita bersaphire itu segera mencari asal suara.
Dan di dapatinya si sumber suara tengah berjalan bersama Hazel dan dibelakangnya ada beberapa rombongan pria paruh bayah berjas.
Hana hanya mampu menatap bingung setelah rombongan itu melintas di depannya.
'Sesibuk itukah Yoshiki?' Hana hanya menatap punggung-punggung rombongan itu. 'Sampai dia tak menyadariku?' batin Hana.
"YO!!" Sebuah suara familiar kembali membuat Hana menoleh mencari si asal suara.
"Tomuro-kun?" ujar Hana saat mendapati sosok merah di depannya tengah melambaikan tangan padanya.
"Ada apa? Tidak biasanya kau murung" ujar Tomuro.
"Ah tidak ada..." jawab Hana seadanya. "Tomuro-kun tidak membantu Yoshiki?"
"Aku disuruhnya melatih beberapa pasukan"
"Sou..." guman Hana.
"Kau merasa kesepian tanpa Yoshiki? Mau kutemani?" Tomuro langsung duduk di samping Hana.
"Uhhh! Tidak mau! Tomuro-kun bau keringat!" Hana mendorong pelan tubuh Tomuro menjahuinya. Tentu saja itu bercanda.
"Hmm... Bau? Ini baru yang namanya bau!" Tomuro melepas jaket putihnya--entah kenapa Tomuro memilih berjaket putih--dan melemparnya perlahan ke arah Hana.
"Aaa!! Bau!!" Hana menangkap jaket Tomuro dan melemparnya ke tanah.
"Tomuro-kun jorok!" Hana hendak memukul tubu Tomuro namun sepertinya saphirenya bertemu dengan tubuh seksi Tomuro yang berotot.
BLUSH.
Wajah Hana memerah seketika melihat lipatan-lipatan otot yang sempurna terpatri di tubuh pelayan nomor satu suaminya itu.
"he?" Tomuro menyadari keanehan dari Hana.
"Kau terpesona padaku?" ejek Tomuro.
"A-ah...." --tepat sasaran Tomuro-- "TIDAAAK!!" Hana kembali memasang wajah Tsunderenya.
"Hahaha.... Kau itu..." Tomuro beranjak untuk memungut jaketnya dan mengenakannya kembali.
"Huh!" gerutu Hana.

"Wah kau bermain Elsword ya?" ujar Tomuro setelah membuka laptop Hana.
"Ehhh! Jangan dilihat!!" Hana merebut kembali laptopnya.
"Cih pelit" Tomuro seolah mengitu alur pembicaraan dan candaan Hana.
"Memang kenapa kalau aku bermain Elsword? Aneh?"
"Tidak. Aku juga memainkannya kok. Mau coba tanding?" tawar Tomuro.
"Hooo.... Boleh..." jawab Hana dengan wajah yakin.

"Ini sudah 8-0 loh Hana-kyun" ejek Tomuro.
"Akkk!! Diam!! Sudah cukup aku lelah!! Elsword membosankan!!" Hana merembahkan punggungnya pada sandaran di belakangnya.
"Tentu saja membosankan. Kau kalah 8 kali berturut-turut begitu" ejek Tomuro lagi.
"Kau sudah master Tomuro-kun! Setidaknya mengalahlah padaku!!"
"Untuk apa mengalah pada level 72?" Tomuro masih memasang wajah mengejeknya.
"Tapi kalu level 90!!"
"Hanya berbeda 19 level"
"Itu banyak!"
Dan begitulah pertengkaran mereka terus berlanjut.
Tapi untung saja Hana masih mengingat waktu mandi, makan, dan istirahat.
TOK TOK TOK
setelah tiga iringan bunyi ketukan pintu di kamarnya, Hana segera membukanya.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 146]

Chap 146

Jika bukan karena permintaan sahabatnya sudah dipastikan ia akan lebih memilih berdiam diri di kamarnya yang hangat dan memainkan VN terbarunya.
Sambil mengingat-ingat jalan yang dilaluinya dulu untuk menuju ruang kerja Yoshiki, kakinya terus melangkah.
"umm... Ini kalau tidak salah berbelok--" DUK
Bersamaan berbeloknya tubuh Hana, dari arah yang berlawanan Hazel muncul dan menabrak tubuh Hana.
"Eh? Hazel-san?"
Mata coklat Hazel hanya menatap sinis Hana sebentar lalu berbalik menatap serius kertas di tangannya lagi dan terus berjalan.
"Apa sih? Jalan yang benar dong!" rutuk Hana menatap punggung Hazel.
"Huh!" dan di tengah gerutuannya itu ia terus melangkah mencari ruang kerja Yoshiki.

"e-etto..." akhirnya sampailah Hana di depan sebuah pintu berdaun dua yang tidak terlalu besar. Untung saja, berkat seorang maid yang lewat, Hana bisa diantar di depan ruangan Yoshiki setelah tersasar.
TOK. TOK. TOK. Diketuklah pintu besar di depannya itu.
"Hn. Masuk" terdengar suara dingin dari balik pintu besar itu. Ah, siapapun pasti bisa langsung mengenali suara siapa gerangan.
KLEK. Tentu saja setelah diizinkan masuk oleh sang penghuni ruangan, Hana pun masuk.
Mata saphire Hana langsung menatap pria yang sedang duduk di meja kerjanya sibuk menatap kertas-kertas yang diberi klip.
Sepertinya kalu salah waktu Hana Kuroto. Suamimu sepertinya sangat-sangat-sangat sibuk.
"e-eh...." guman Hana dengan suara kecil. Kikuk dengan tingkahnya sendiri setelah melihat betapa sibuknya orang yang dicarinya.
"Hn" mata onix pria itu beralih ke arah Hana yang kikuk di ambang pintu yg tertutup.
"My Lady? Ada apa? Kemarilah" Yoshiki segera meletakan kertas di tangannya.
Dengan sedikit ragu, Hana mendekat ke arah depan meja suaminya.
"Sekolah libur 4 hari--"
"Aku tahu" potong Yoshiki dengan dingin.
Untung saja Hana sudah sepenuhnya terbiasa dengan sikap dingin Yoshiki.
"Shiro mengajak kita ke villa. Kau mau ikut?"
"....." Yoshiki menatap Hana sebentar. "Hn, sepertinya tidak bisa"
"Sou ka... Baiklah" Hana segera berbalik arah dan keluar dari ruangan Yoshiki.
Sementara Yoshiki sendiri sudah kembali menekuni kegiatannya tadi.

"Gomen Shiro-chan. Aku sepertinya tidak bisa datang"
"Eh.... Kenapa?" terdengar nada kecewa dari speaker mini ponsel Hana.
"Sepertinya Yoshiki-kun sibuk"
"Kalau begitu datang saja tanpanya! Disini banyak dokter muda yang belum memiliki pasangan loh!" ujar Shiro dengan konyolnya.
"Tentu saja Yoshiki-kun takkan mengizinkanku!!" Hana sweatdrop.
"Yah... Membosankan" guman Shiro.
"Maaf ya Shiro-chan"
"Tidak masalah. Oke jaa"
"jaa" dan telepon di tutup.

Keesokan harinya, Hana hanya bisa menatap bosan layar laptopnya. Di regangkan tubuhnya yang sudah kaku karena terduduk lama di sebuah meja marmer di areataman belakang mansion.
"Huh... Bosan...." setelah menutup laptop birunya, Hana menyandarkan dagunya pada lipatan tangannya.
"Yoshiki-kun sedang apa ya kira-kira sekarang... Sepertinya ia cukup sibuk... Kemarin pun... Dia tak kembali ke kamar" guman Hana.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 145]

Chap 145

"Uhhh... Mhhh"
Hana terus mengerang saat milik Yoshiki menusuk-nusuk dinding rahimnya.
Tubuh Yoshiki terus menggenjot tubuh Hana yang ada di bawahnya. Di tatapnya wajah blushing wanita di bawahnya itu.
"Mhhh.... Lebih cep--pat..." Hana terus mendesah di tengah kenikmatannya.
Yoshiki menambah tempo kecepatannya.
"kyaaa... Agh... Ahhh!! Ahh!!" Hana terus mendesah.
Tubuh keduanya sudah sepenuhnya di penuhi peluh. Seakan tidak peduli terhadap hawa panas yang sedari tadi menguasai kamar, mereka tetap melanjutkan kegiatan mereka.
"Nnhh.... A-aku.... M-ma-ma...." ucap Hana terbata-bata di tengah desahannya.
"Panggil namaku My Lady..." guman Yoshiki. Sementara tubuhnya masih terus bergerak naik turun.
"Uh... Ahh ahhh.... Y-Yo-Yoshiki-k-kun...."
"Sekali lagi" perintah Yoshiki datar.
"Anghhhh!! Y-Yoshiki-kun!! I-I want to cum!! Uhh!!" teriak Hana.
Yoshiki tersenyum tipis. Di tekannya miliknya dalam-dalam di dalam rahim Hana dan memuntahkan sperm-nya di sana.
"Unghhh.... Nghhh" begitu pula Hana yang mencapai orgasm-nya.
Hana terdiam menatap onix kelam di hadapannya. Jemari pria itu masih sibuk memainkan rambut pendek hitamnya.
Bibir pria itu masih tertekuk ke bawah. Membentuk senyuman tipis.
"Yoshiki-kun...." Hana berguman. "Aku mencintaimu..."
Tekukan pada bibir pria itu semakin tecetak jelas. Menggambarkan betapa gembiranya pria itu sekarang.
Di dekatkannya wajahnya pada wajah Hana. Dan dikecupnya bibir mungil Hana.
"Hn...." gumannya.

"My Lord? Ada apa memanggil saya? Apakah anda merindukan saya?" sebuah suara yang manis memenuhi ruang meeting terkecil di mansion Yoshiki.
"Hn" di ujung meja yang di susun berletter-U duduk seorang berwajah dingin dengan kedua tangannya yang dilipat dan digunakan sebagai bantalan dagunya tengah berguman dengan datar kepada wanita berambut coklat tua di hadapannya yang baru saja memasuki ruangan.
"Kali ini kau ku ampuni. Tapi tidak untuk lain waktu" ucapan dingin to the point dari Yoshiki sontak membuat mata coklat wanita itu terbelalak.
"Apa maksud anda My Lord?"
"Hn. Kau tahu apa maksudku. Kembalilah aku memaafkanmu kali ini"
"....." Hazel melangkahkan kakinya keluar pintu meeting. "ck!"

"Sekolah libur 4 hari loh karena masalah klub misteri" suara Shiro terdengar nyaring dari speaker hp Hana.
"Eh benarkah? Aku baru tahu"
"Astaga. Dari mana saja sih kau?" sahut asal suara dengan bosan.
"Hehehe.... Maaf deh Shiro"
"Libur 4 hari kedepan Hana mau kemana?"
"Uhm.... Entahlah"
"Mau ikut ke villa?"
"BOLEH!" Seketika Hana kembali bersemangat.
"Kau mau? Baguslah!"sahut Shiro tak kalah semangat.
"Eh? Memang kenapa?"
"Yui tidak bisa ikut karena harus menemani neneknya di Kyoto untuk perawatan"
"Oh begitu... Jadi hanya aku dan kamu?"
"Tomoaki-senpai ikut!!!"
"Eh.... Oh ya" Hana sweatdrop.
"Kau mengajak Kuroto-kun kan?"
"Yoshiki? Ehm entahlah... Aku tidak janji..."
"Ajak saja! Pasti seru!"
"Menurutmu begitu Shiro-chan?"
"Tentu saja!!"
Seperti biasa, Hana selalu kebingungan tiap menjelajahi lorong di mansion Yoshiki.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 144]

Chap 144

Setelah melemparkan celana training dan cd Hana ke lantai. Yoshiki kembali menyeringai menatap tubuh Hana.
Nafas dari wanitanya itu sudah semakin memberat. Tatapannya yang sayu semakin memberikan gairah khusus padanya. Leher dan oppai yang penuh dengan bekas memerah kiss-marknya. Dan vagina Hana yang nampak becek. Milik Yoshiki dibawah seakan merespon hormon sang pemilik.
Yoshiki menunduk di antara paha Hana. Di lebarkannya paha Hana. Membuat milik Hana sedikit ikut terbuka.
Oh betapa ia haus dan merindukan permainannya terhdapa milik istrinya ini.
"lckkk... Clk... Umhlck..." disapunya milik Hana yang berkedut itu seakan menginginkan untuk di sentuh.
"Kyaaaa.... Yoshiki-kun.. Anghhh..." Hana mengeram keenakan saat miliknya di mainkan seperti itu.
Dengan lidah yang sudah ahli disentil-sentilnya bagian clitoris Hana. Kemudian di hisapnya juga.
Hana sampai memejamkan mata menikmati setiap pergerakan lidah Yoshiki.
"nghhh.... Yo-Yos-shi-kki-kun... Ahhg... M-mau..." Hana merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dengan hebat dari dirinya.
Yoshiki yang mendengar itu segera menjauhkan lidahnya. Menyudahi permainan lidahnya.
"Eh!?" Hana langsug menatap tajam Yoshiki. Ia tak terima. Ia ingin segera orgasme dengan lidah Yoshiki.
CLUP
Di masukkannya kedua jarinya di dalam lubang milik Hana.
"anghhh" Hana kembali menggelinjang kenikmatan.
"Ah... I-I'm... C-cum.... Ahhhhhh!!!" Hana berteriak hebat lalu di susul cairan bening yang menyemprot keluar dari miliknya hingga membasahi jari Yoshiki.
Yoshiki menyeringai menatap jarinya yang dibasahi oleh cairan Hana.
Yoshiki dengn kedua jarinya mendekati wajah Hana.
"ummm..." dijilatinya jarinya yang dibasahi oleh cairan Hana tepat di wajah Hana.
Hana yang melihat itu kembali terangsang. Tangannya bergerak ke bawah mencari resleting celana Yoshiki. Namun tak di dapatinya. Ia malah mendapati sesuatu yang besar sedang tegang di bawah sana.
Saphirenya melirik, sadarlah ia bahwa Yoshiki sudah telanjang bulat entah sejak kapan.
"Hn.... Kau menginginkannya?" tanya Yoshiki dengan seringainya.
"Uhmmm... Masukan Yoshiki-kun... A-aku m-mohon" Hana kembali menatap Yoshiki dengan tatapan sayu dan memohon. Kakinya suda ia lebarkan sedari tadi.
"Hn...." Yoshiki mengarahkan miliknya tepat di depan milik Hana. Di gesek-gesekannya miliknya di depan mulut kemaluan Hana. Membuat Hana semakin menggila karenanya.
"Ngaaahh.... Kumohon Yoshiki-kun... J-jangan m-membuatku tersiksa... M-masukkan...." Hana kembali memohon kepada Yoshiki.
"As you wish... My Lady" Yoshiki menyeringai dan pinggulnya ia gerakan untuk memasukan miliknya ke dalam milik Hana.
"enghhh" Hana menggerang saat merasakan miliknya mulai di tusuk oleh benda tumpul yang tegang dengan ukuran yang cukup besar.
JLEB. Satu hentakan tepat menanamkan milik Yoshiki semakin dalam memasuki milik Hana.
"akkkkk" Hana melengking panjang saat milik Yoshiki terasa menusuk bagian rahimnya.
Mulailah Yoshiki menggoyangkan pinggulnya maju mundur.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 143]

Chap 143

Untung saja 2 dokter segera masuk dan membantu Yoshiki melepaskan alat-alat yang menempel pada tubuhnya.
Hana yang menggembungkan kedua pipinya di pojok ruangan karena sebal akan Yoshiki yang tak mau menuruti ucapanya hanya mendapa senyuman tipis dari Yoshiki.
"Hup" tiba-tiba tubuhnya seperti diangkat oleh seseorang dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Yoshiki.
"Eh-eh!? Turunkan aku Yoshiki-kun!" lantas wajah Hana menjadi semerah tomat karena digendong secara bridal oleh pria yang tak mengenakan pakaian apapun untuk menutupi dada bidangnya yang berotot.
"Hn" Yoshiki hanya menyeringai tipis menatap wajah Hana yang memerah.

BRUK.
Yoshiki merebahkan tubuh Hana perlahan di atas ranjangnya yang sudah kembali rapih. Setelah itu Yoshiki berbaring di samping tubuh Hana.
"Gomen Yoshiki-kun... Aku memang bodoh..." ujar Hana menunduk.
Segera tangan Yoshiki meraih dagu Hana dan diangkatnya kepala Hana hingga membuat Saphire Hana bertabrakan dengan Onix kelamnya.
"Hn, Aku yang harusnya berkata begitu karena sudah menyakitimu"
BLUSH. Wajah Hana kembali memerah. Sungguh mahkluk di depannya sangatlah tampat. Apalagi dengan tatapan menusuk serba serius makhluk tersebut.
"Hn" Yoshiki malah menyeringai setelah menyadari guratan merah di pipi tan Hana.
'Chu' di kecupnya bibir Hana. Sontak Hana semakin memerah dibuatnya.
Namun entah mengapa, Hana berniat membalas ciuman Yoshiki.
Yoshiki mulai memasukan lidahnya. Ciuman itu menjadi memanas seketika.
Hana mempersilahkan bibir Yoshiki secara refleks.
Dilumatnya bibir Hana yang penuh saliva.
"uhmpp..." erang Hana.
Tubuh Yoshiki bergerak menindih tubuh Hana. Sementara kepalanya masih sibuk menekan ciumannya.
"hhh.... Hhh... Hh..." wajah Hana menjadi sayu dan memerah menatap Yoshiki.
Setelah merasa oksigen yang dihirup Hana sudah cuku, Yoshiki kembali melumat bibir Hana dengan ganas. Sementara tangannya mulai melepas satu per satu kancing kemeja Hana.
Diangkatnya tubuh Hana hingga sedikit terduduk. Lalu di tariknya kemeja Hana. Sekalian tangannya melepas kaitan bra Hana.
"Uh... Yoshiki-kun Ecchi!" Hana menatap Yoshiki dengan tatapan sayu.
Ditariknya bra Hana dengan sekali hentak, lepaslah bra itu. Hingga menampakan payudara Hana--yang menurut Yoshiki entah kenapa sedikit lebih besar dari kemarin-kemarin.
"Hn" Yoshiki menyeringai menatap tubuh bagian atas Hana yang telah telanjang.
"Umch..." segera dilumatnya gundukan di puncak payudara Hana.
"Kyaaaa" Hana berteriak kecil merasakan sensasi geli saat niplenya dimainkan oleh mulut dan tangan Yoshiki.
"Nghhhh..." Hana terus mengerang sementara mulut Yoshiki berputar-putar menyapu setiap inchi bangian dari niple Hana.
Dibuatnya kiss-mark dimana-mana dibagian oppai Hana.
Ciuman Yoshiki terus belanjut. Kecupannya perlahan turun ke arah perut.
Tangannya perlahan-lahan menurunkan celana training biru Hana berserta cdnya secara langsung.
Hana masih terpejam menahan sensasi geli yang menjalar di setiap bagian tubuhnya.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 142]

Chap 142

Sebuah selang terlihat mengait di hidung pria itu. Mungkin sebagai pembantu pernafasannya.
"Ini dia My Lord" seorang dokter membuka ruangan tempat pria itu dirawat.
Dari belakang dokter itu mengekor Tomuro dan Hana.
"Bagaimana keadaan My Lord?" tanya Tomuro.
"Kami masih belum memastikan lebih lanjut" jawab dokter itu.
Hana segera memasuki ruangan Yoshiki. Mata Saphirenya terlihat agak meredup akibat matanya yang berubah agak kemerahan karena sedari tadi menangis.
"Hiks... Yoshiki-kun... Gomen..." tangisnya kembali pecah melihat tubuh tak berdaya suaminya.
Setelah berbincang-bincang dengan sang dokter, akhirnya Tomuro mengikuti Hana memasuki ruangan Yoshiki.
"Lakukan yang kukatakan tadi. Jika kau memang mencintainya"
Hana mengangguk. Diusapnya air matanya untuk menguatkan hatinya.
Badan Hana perlahan menunduk. Membuat jarak diantara dirinya dan Yoshiki yang tertidur semakin menipis.
Hana menatap sebentar wajah datar Yoshiki. Bahkan di saat mata tajam itu tertutup, wajah tampan suaminya itu tak pernah lenyap.
'Chu' diciumnya bibir pucat Yoshiki. Saphire Hana terkatup.
Setelah 5 detik ciuman aneh itu, akhirnya Hana menyudahinya karena tidak ada responan kecil pada tubuh Yoshiki
"Kenapa? Bukannya dengan menciumnya akan memberikan kekuatan padanya!?" tanya Hana panik kepada Tomuro.
"E-entahlah. Menurutku juga begitu" Tomuro juga nampak kebingungan.
'Ada apa ini? Ada apa dengan dia?' pikir Tomuro kalut.
"Hei! Yoshiki-kun..." Hana menepuk-nepuk pipi pucat Yoshiki. Air mata kembali muncul dari pelupuk matanya.
"Bangun Yoshiki-kun! Bangunlah! Maafka aku sudah salah paham atas semua ini! Gomennasai! Hiks... Aku mohon bangunlah! Hiks!!" diciumnya kembali bibir Yoshiki. Perempuan berambut hitam lurus itu tak tau lagi harus berbuat apa. Ia sudah sangat bersalah. Sekarang giliran ia menyadari perasaan yang sesungguhnya dari suaminya, suaminya itu malah tak sadarkan diri. Betapa bodohnya dirinya!
PUK
Sebuah tangan kekar terlihat menepuk kepala hitam Hana.
"Ehm?" Hana yang terkaget karena kepalanya seperti di sentuh agak tersentak.
Ia segera menarik bibirnya dari bibir Yoshiki.
"Tetaplah begini" bibir Yoshiki terbuka dan mengalunkan nada dingin penuh perintah seperti biasa.
Betapa hati Hana melompat gembira. Mengetahui akhirnya sang suami siuman juga.
Begiu juga Tomuro yang merasa lega.
Tangan kekar tadi ternyata adalah tangan Yoshiki yang kembali menekan kepala Hana ke dada bidangnya.
"Gomen.. Yoshiki-kun..."
"Hn."
"Wah sepertinya aku mengganggu. Kalau begitu selamat menikmati harimu, My Lord" ujar Tomuro sambil terkekeh pelan.
"Hn. Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan Tomuro?"
"Hhhh...." Tomuro menghela nafas bosan. "Saatnya menjadi detektif gadungan" ujarnya sambil meninggalkan ruangan.
Yoshiki segera bangun dari tidurnya.
"Eh? Jangan bangun dulu. Tubuhmu kan..."
Yoshiki malah terlihat mencabuti alat-alat kedokteran yang terpasang di tubuhnya.
"Hei... Hei!" Hana mendelik melihat tingkah Yoshiki.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 141]

Chap 141

"DIA ADA BERSAMAKU MELAWAN PARA EXORCIST! TIDAK MUNGKIN BERADA DI TEMPAT YANG SAMA. MEMANG ITU MUNGKIN, TAPI PADAMU SEMUA ITU TIDAK ADA ARTINYA. LANGSUNG LENYAP."
"La-lalu s-siapa y-yang... Ini SPERMA kan!?" Hana memperlihatkan bercak cairan putih kental di rangangnya--dan Yoshiki--yang masih tersisa.
Tomuro segera menyentuh cairan putih itu.
"Benar. Ini sperma. Tapi... Kau bisa melakukan tes untuk membuktikan apakah itu sperma Yoshiki atau bukan"
"Dia pasti bisa memanipulasinya!"
"kalau begitu kita ambil sperma Yoshiki sekarang. Dia sedang tak sadarkan diri, kita bisa mengambil spermanya secara diam-diam. Dan dia tak melakukan apapun. Kita lakukan secara jujur."
Hana setelah menatap wajah serius Tomuro semakin kehilangan kata-kata. Hana hanya bisa menunduk setelahnya. Kepalanya kembali dirundung pertanyaan-pertanyaan yang berjubel.
"Kau tahu... Hana..." Hana kembali mendongkakkan kepalanya untuk menatap Tomuro yang menggumankan namanya.
"Setelah membunuh Taichi si ketua, Yoshiki segera melarikan diri dan... Ini dia..." KLIK. Tomuro menyalakan mini recorder yang selalu dibawahnya.
"'Hn, kau selesaikan sisanya Tomuro' ... . 'Sudah mau kembali?' ... 'Hn, dia sudah menungguku' ... . 'Wah... Jadi hubungan kalian sudah membaik?' ... 'Hn'" dan Tomuro menekan tombol berlogo kotak merah untuk mem-pause rekamannya lalu kembali mengantongi mini recordernya.
"Dia ingin segera menemuimu. Walaupun di medan perang pun dia selalu memikirkanmu. Aku bisa membayangkan..." Tomuro mendongkakkan kepalanya, "Dia bergegas pulang ke mari. Hanya untuk melihatmu. Dan ternyata setelah sampai dia malah ditikam hingga tak sadarkan diri oleh orang yang selalu dipikirkannya..."
Badan Hana seolah lemas mendengar penuturan Tomuro.
"Jadi... Selama ini Yoshiki menahan kekuatanku dengan sihir di bibirnya... Kenapa!? Bukannya Yoshiki hanya menganggapku sebagai budaknya!? Dia mencium dan melakukan hubungan badan denganku hanya untuk mendapatkan kekuatan kan!? Lalu kenapa... Kenapa... Dia malah menahannya!?" teriak Hana kacau.
"Karena dia mencintaimu. Dia menahan kekuatanmu seolah dia tidak membutuhkannya. Dan yang dibutuhkannya hanya kau saja. Bukan kekuatan dalam tubuhmu" jawab Tomuro.
"Eh?" air mata kembali membasahi pipi tan Hana.
Sekelebat bayangan dimana Yoshiki mati-matian menolongnya di tebing kemarin kembali muncul. Bagaimana Yoshiki memeluknya. Bagaimana Yoshiki mencium keningnya dengan penuh rasa sayang.
"Hiks... hueeeeee!!!" tangis Hana semakin pecah. Air mata membanjiri wajahnya seketika.
"Bagaimana ini Tomuro-kun? Aku sudah bersalah padanya! Bersalah sekali hiks!! Lebih baik aku mati saja!!"
Tangan Tomuro menepuk pundak Hana.
"Ayo kita temui dia"

Di sebuah ruangan putih dan berbau khas obat-obatan dan alkohol terbaring diatas sebuah ranjang yang berwarna putih seseorang dengan rambut biru dongkernya. Tubuhnya diselimuti oleh kain biru muda hingga lehernya. Menyembunyikan peralatan medis yang tertempel di sekitar dadanya.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 140]

Chap 140

"Hana..." ujar Tomuro dengan menekan nada bicaranya hingga berat.
"Permisi, hasil pemeriksaan My Lord sudah keluar" seseorang berpenampilan serba putih menginterupsi ucapan Tomuro.
"Tunjukan padaku" perintah Tomuro.
Segeralah diberikannya beberapa lembar kertas hasil pemeriksaan tubuh Yoshiki.
"Pada waktu kami memeriksanya, energi dan kekuatan My Lord bagaikan berada di titik 0. Habis total. Namun setelah diperiksa lebih lanjut, masih ada 0, 002 % sihir yang masih aktiv di sekita bibir My Lord. Sepertinya sihir itu dipasang sangat kuat. Dan persentasenya terus menurun. Kemungkinan besar sudah habis sekarang. Kami tidak bisa melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang sihir itu. Tapi selebihnya... Ini adalah kejadian langkah. Terutama bagi saya, karena saya mulai bekerja untuk sebagai dokter My Lord sejak tahun ke-42 SM. Setahu saya My Lord tidak pernah mengalami 'kehabisan energi' seperti ini. Kami sudah sekuat tenaga menyalurkan energi sihir kami kepada My Lord. Namun tetap saja ada reaksi penolakan dari diri My Lord. Jadi kami memberikan penanganan pengisian energi seperti manusia. Kami memberinya infus. Terbukti bekerja memang. Namun diperkirakan energi My Lord akan bertambar 0, 001 % setelah 2 jam. Um... Anda bisa menjenguk My Lord sekarang" ujar dokter itu panjang lebar.
Hana hanya terdiam mendengarkan ucapan sang dokter. Jujur, Hana sangat terkagum atas kerja sang dokter yang mampu bekerja secepat dan seteliti itu dalam waktu kurang dari setengah jam. Ia sangat salut.
"Kau kembalilah lanjutkan pekerjaanmu." ujar Tomuro. Matanya tak henti-hentinya menatap Hana kecewa.
"Saya permisi" dokter itu undur diri.
"Sekarang kau tahu. Yoshiki tak pernah mengalami hal seperti ini. Ini pertama kalinya."
Hana tak bisa berkata apapun. Ia hanya terdiam menatap Tomuro yang seakan menyidanginya.
"Kuberikan sebuah inti dari penjelasanku ini." Tomuro terdiam sejenak. Lalu ia menatap Hana tajam, "Yoshiki memberikan lapisan sihir penolak pada bibirnya untuk menolak kekuatan dari tubuhmu yang hendak masuk ke tubuh Yoshiki"
"Eh?" Hana membelalak mendengar perkataan Tomuro. Otaknya segera memproses kata demi kata yang diucapkan Tomuro.
"A-Apa maksudmu?" tanya Hana.
"Semua perkiraanmu salah! Termasuk semua perhitunganku! Kufikir dia menyeimbangkan perasaanya terhadapmu! Tapi ternyata... Dia bahkan sampai rela menempelkan sihir pada bibirnya untuk menolak kekuatanmu! Dia benar-benar...." Tomuro berhenti bicara sejenak.
"J-jadi..." mulut Hana sedikit gemetar.
"Dia benar-benar mencintaimu! Tak kusangka dia sampai berkorban begitu! Seperti bukan Yoshiki Kuroto yang kukenal..."
"B-bohong..." Hana menatap nanar tangannya yang masih bernoda darah Yoshiki yang terciprat.
"Kapan terakhir kali dia menciummu?" Tanya Tomuro dengan nada penuh penekanan di setiap katanya.
"Dia telah memperkosaku Tomuro-kun! Berarti dia baru saja menciumku..."
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 139]

Chap 139

Sebuah kantung mata tertera jelas di wajah pucat Yoshiki.
'Kenapa tubuhku tak mau... Ah benar juga...' pikir Yoshiki.
'Jadi beginikah akhirku?' senyum miris terulas jelas di wajahnya.
"Kenapa... Kau memperkosaku lagi!!? Oh aku mengerti... Kau membutuhkan kekuatan untuk pertarunganmu lagi kan!?" Hana berteriak sinis di depan wajah pucat Yoshiki. Air mata terus menganak sungai di pipi tan Hana.
Ah, begitu ingin pria itu menghapus tiap tetes air mata yang keluar.
"HIKS!" Hana mencabut kembali pisau yang sudah dipenuhi warna merah.
Dan sekali lagi ditusukkannya pada daging kekar di bawahnya yang sudah tak bertenaga.
Mungkin ini hukuman yang pantas untuk iblis pengrusak hubungan manusia dengan Tuhan seperti dirinya. Mati--atau apalah itu--di tangan wanita yang sangat ia cintai. Mati secara manusia.
Namun entah kenapa ia tak bisa putus asa.
Hana diperkosa?
Itu bisa menjelaskan mengapa Hana sedang alam keadaan telanjang sekarang. Tapi siapa!? Siapa yang telah berani menyentuh istrinya!?
Rasanya semangatnya untuk kembali hidup telah muncul berdasarkan amarah yang ia kobarkan.
"Si-siap...a y-y--" dengan susah payah ia berusara berusaha menyampaikan pertanyaannya. Namun selalu tersedat oleh darah yang berusaha mengalir keluar dari mulutnya.
"JANGAN BICARA APAPUN!!" Air mata Hana semakin meluncur turun dengan cepat. Hatinya kacau. Ia telah dipermainkan seperti ini. Ah salah, tidak hanya di permainkan tapi juga dimanfaatkan.
Yang ada dipikiranya sekarang adalah mengakhiri riwayat hidup pria yang di depannya.
CRAT. JLEB.
Lagi, Hana menusuk tubuh di bawahnya.
Seketika tubuh dibawahnya sudah tak lagi bergerak. Hanya bersisa seongok tubuh dengan tatapan kosong.

"Yoshiki, kami sud--" Tomuro yang berjalan dengan santai dan berniat melaporkan mengenai pertarungan mereka melawan Exorcist terbelalak menatap penampakan di depannya.
Hana--dengan tubuh telanjang--menduduki tubuh tuannya yang terlentang di lantai bersimbah darah. Sebuah pisau dapur tertancap di perut kiri tuannya.
"MY LORD!!" teriak Tomuro panik.
Tanpa peduli di dorongnya tubuh Hana. Dan segera di angkatnya kepala Yoshiki.
Hana segera meraih kain terdekat untuk menutupi tubuh telanjangnya. Mungkin firasatnya mengatakan sebentar lagi akan menjadi ramai.
"YOSHIKI!!" Tomuro mengguncang-ngguncang tubuh Yoshiki. Namun nihil.
"MAID!" Setelah teriakan menggema dari Tomuro, muncul beberapa maid yang segera bertindak menangani tubuh tuan mereka.
Tomuro menatap nanar tubuh Yoshiki yang bersimbah darah.
Kenapa? Kenapa keadaan Yoshiki na'as sekali? Yoshiki mati? Tidak, itu MUSTAHIL! SEKALI LAGI, ITU MUSTAHIL!
Baiklah... Tomuro mulai melakukan flashback-flashback untuk mendapatkan jawaban. Menggali segala pengetahuan yang dimilikinya.
Sementara tubuh Yoshiki sudah diangkat oleh paramedis mansion Yoshiki untuk diperiksa.
Mata Tomuro yang awalnya terpejam, beberapa menit kemudian terbelalak luar biasa.
Ia telah menemukan jawaban yang sesungguhnya. Jawaban mengenai daya regenerasi Yoshiki yang tak bekerja.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 138]

Chap 138

Kini tinggal dirinya saja yang berhasil bertahan. Apapun yang terjadi Kuroto Yoshiki harus mati untuk pembalasan teman-temannya.
"Hn, aku memang tidak mengerti" Yoshiki bergerak membungkuk, ke kanan, dan ke kiri untuk menghindari serangan konyol Taichi.
Air mata menggenang di pelupuk mata pria itu.
"KUROTO YOSHIKIIII!!" Taichi menghunuskan pedangnya ke arah Yoshiki.
JLEB
Namun tangan Yoshiki telah terlebih dahulu menusuk rongga dada Taichi lalu menarik jantung pria malang itu bersama beberapa bekas retakan rulang rusuk Taichi.
"Hn, sayonara" ujar Yoshiki santai. Tangannya menggenggam erat jantung Taichi yang seukuran telapak tangannya. Di remasnya gumpalan jantung itu sampai pecah.
"Arg....." jeritan Taichi tertahan saat jantungnya di remas kuat oleh Yoshiki hingga pecah.
Sisa-sisa pasukan Exorcist semakin bertarung dengan tidak karuan. Hati dan pikiran mereka berkecamuk. Suasana mendadak kacau.
"Hn, kau selesaikan sisanya Tomuro"
"Sudah mau kembali?" Pemuda dengan rambut merah itu sedikit menjilat darah yang entah sejak kapan ada di jempolnya.
"Hn, dia sudah menungguku"
"Wah..." Tomuro nyengir aneh. "Jadi hubungan kalian sudah membaik?"
"Hn..." Yoshiki tak menjawab. Ia segera melesat secepat mungkin meninggalkan area pertarungan menuju mansionnya.

Takpeduli sejauh apa Gunma ke Tokyo hanya dengan berlari. Kepala pria shagy itu telah terisi penuh oleh bayang-bayang senyuman wanitanya saat melihatnya kembali. Bagaima wanitanya itu akan menyambutnya dengan senyuman, dan pelukan hangat.
Boleh saja kan ia berfikir dan membayangkan begitu?
Mengingat sepertinya Hana telah kembali percaya padanya.
Senyum tipis mengembang di antara wajah pucatnya. "Aku segera pulang, My Lady..." gumannya.

TAP.
Akhirnya sepatu hitam milik pria bermata onix itu menapak di depan pintu besar kamarnya. Ia sudah tidak sabar melihat wajah konyol Hana. Senyum wanita itu... Tingkah wanita itu...
Atau bahkan apabila Hana masih tertidur pulas. Ia juga sangat ingin membelai tiap helai rambut hitam wanitanya itu.
Dibukanya perlahan salah satu daun pintu kamarnya. Wajah datar yang sangat dingin telah menguasai ketampanannya.
"UWAAAAA!!" Teriakan Hana memekikan telinga.
Kilatan dari pantulan pisau yang dipegang Hana seketika tidak berbekas setelah berhasil menembus suatu daging hingga daging itu memancarkan darah kental merah.
" ... ." onix Yoshiki membelalak saat menyadari perutnya di tikam oleh wanita di depannya.
Wanita yang sangat ia cintai.
Tubuh kekar Yoshiki terhuyung ke belakang. Pikirannya kacau balau.
Kenapa? Kenapa Hana menusuknya?
Bayangan Hana tersenyum dan memanggil namnya seakan terbakar begitu saja menjadi abu.
Kenapa?
Darah kental terus merembes membasahi kemeja putih Yoshiki yang sudah sejak tadi bernoda di mana-mana.
Hana menarik pisaunya. Lalu kembali ditusuknya perut Yoshiki.
"argh..." mulut Yoshiki memercikan beberapa tetes darah.
Kenapa?
Tubuh Yoshiki terkapar di lantai bersimbah darah. Tapi mulutnya masih bisa bergerak-gerak sedikit.
"My... Lad-dy..."
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.