Jumat, 27 Maret 2020

Yami no Ai: AFTER WOLRD [chapter 42]

CHAPTER 42: WE’RE NOT DIFORCE

Tangan Yoshiki dengan sigap meraih pundaknya. Tatapan datar dan kosong Yoshiki berisrobok paksa dengan tatapan penuh kekagetan Hana.
“A-Ahh!” Cepat-cepat Hana menegakkan posisinya.
“Astaga, kalian ini ya, masih pagi sudah mesra saja.”
“Bikin iri teruus.”
“Sampe blokir jalan juga hahaha.”
Sekelompok mahasiswa yang seangkatan dengan keduanya lewat sambal bergurau riuh.
“B-Bukan begitu!” Hana berucap tegas dengan wajahnya yang menahan malu, “lagipula kita—”
“Kau tidak apa-apa?” Kalimat Hana dipotong paksa oleh Yoshiki.
“Ah, umm… aku tidak apa-apa. T-terima kasih,” Hana sangat ingin merutuki kebodohannya sendiri sekarang.
“Hn, lain kali berhati-hatilah,” ucap Yoshiki datar sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
Saat itu sapphire Hana tanpa sengaja melihat tangan Yoshiki sebelum tangan itu disembunyikannya di balik saku celana. Jari Yoshiki, masih mengenakan cincinnya.
“Hn, ada apa?” Sadar jika Hana tak berjalan di sampingnya, Yoshiki menghentikan langkahnya dan berbalik.
Butuh beberapa detik sampai Hana menggelengkan kepalanya dan mengucapkan, “tidak apa-apa kok,” dan melanjutkan langkahnya.

.

“Sekarang kalian kerjakan 14 A, 14 B, 15 B, 15 C, 17 A, 18 A berkelompok 2 orang!” Setelah memberikan pemahaman materi sekitar 1 jam lebih, dosen kalkulus berkacamata tebal itu dengan seenaknya menyuruh mahasiswanya mengerjakan soal-soal yang menurutnya telah ia berikan dasar materinya.
Sura riuh kursi digeser dan langkah kaki perpindahan tempat duduk menggema dalam kelas berukuran persegi itu.
Kepala hitam Hana dengan polosnya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari teman sekelompok tentu saja. Namun hasilnya nihil. Semuanya Nampak sudah menemukan pasangan masing-masing.
Tidak ada yang tersisa, selain Yoshiki yang duduk di sampingnya.
“Kenapa? Tidak ingin berkelompok denganku?” Setelah pria itu Nampak sibuk dengan kertasnya ia menatap Hana dengan tatapan datar. Lagi-lagi tanpa ada emosi di baliknya.
“Eh, t-tidak,” Hana menggeleng ragu.
Yoshiki menyerahkan kertas yang sedari tadi menjadi perhatiannya kepada Hana, “tinggal 14 A dan 14 B saja yang belum dikerjakan.”
Hana hanya bias menatap bodoh pada lembaran kertas itu. Di sana sudah tertulis rapi dan lengkap untuk jawaban nomor-nomor berikutnya. Seperti belum terbiasa dengan keluarbiasaan Yoshiki, Hana menatap Yoshiki tidak percaya. 4 nomor sudah dikerjakan, bahkan dirinya saja belum melihat soalnya sama sekali.
“Oh, b-baiklah,” dengan canggung Hana melihat soal yang belum Yoshiki kerjakan.
Satu menit pertama Hana membaca soal.
Menit berikutnya Hana mulai membuka catatan dan melihat ke arah papan tulis yang masih berisi penjabaran materi terkait.
Menit selanjutnya pulpen yang dipegang Hana mengetuk-ketuk kertas. Berkali-kali ia mencoba mengerjakan soal tersebut dan berkali-kali ia tidak tau harus melanjutkan apa.
‘Demi apapun! Aku benci Kalkulus!’ Rutuknya dalam Hati.
“Soal itu harus diturunkan terlebih dahulu,” ucap Yoshiki tiba-tiba. Lantas saja Hana menoleh ke sumber suara, namun wajah pria itu sangat dekat padanya, membuatnya terkejut sesaat.
“Eh—Oh…” Canggung, Hana kembali menatap kertasnya dan mengerjakan sesuai bantuan Yoshiki.
“Ternyata mudah, haha,” tawa canggungnya terdengar begitu ia dengan bodohnya menyadari ternyata soal yang dikerjakannya tidaklah sesusah itu.
“Sudah?”
“Ah sebentar,” Hana mengeluarkan ponselnya untuk memotret jawaban yang sudah dikerjakan Yoshiki. Bagaimanapun jika sekali lihat soal-soal yang dikerjakan Yoshiki susah semua, dan ia butuh mempelajarinya sendiri untuk ujian mendatang.
“Hn… untuk apa kau foto? Aku bisa mengajarimu kapanpun kau mau,” Yoshiki menerima lembaran jawaban yang sudah diserahkan Hana untuk dikumpulkan.
“Umm…” Hana hanya bisa berguman tipis dan menatap punggung pria itu dari tempatnya.
Yoshiki, pria itu masih tetap baik kepadanya setelah apa yang ia perbuat semalam. Padahal dengan kekasarannya, dirinya benar-benar tidak pantas menerima semua kebaikan Yoshiki.
Bersamaan dengan helaan nafas Hana, kelas berakhir. Semua penghuni kelas berbondong-bondong meninggalkan kelas entah untuk kelas berikutnya atau menjalankan kesibukan ala mahasiswa pada umumnya.
Tidak hanya Kalkulus yang semakin susah, sekarang pikiran Hana berisi banyak hal untuk dipikirkan. Rasa segar dingin pada kedua tangannya dari guyuran air keran toilet sedikit membuatnya tenang.
“Hana-chan!”
Refleks Hana keluar dari keheningannya dan menoleh ke sumber suara. Ternyata beberapa teman sekelasnya waktu kelas Kalkulus tadi.
“Eh, iya, ada apa?” Bibir Hana membentuk senyuman canggung.
“Lihat, lihat. Sudah kuduga benar kan,” salah satu mereka menyambar kedua tangan Hana, “dia sudah tidak memakai cincinnya!”
“Kalau begitu… siapa pasangan Kuroto-kun sekarang?”
“Hana-chan! Hana-chan! Ada apa ini? Kenapa kamu tidak memakai cincin sementara Kuroto-kun masih memakainya? Itu cincin pertunangan kalian kan?”
Tidak. Hana sedang tidak ingin memikirkan ini sekarang.
Dihempaskannya tangan-tangan yang mengganggunya. Tanpa peduli mematikan keran air yang dinyalakannya, Hana meninggalkan toilet dengan perasaan kesal. Keluar Gedung kelas Bersama dengan emosi berkecamuk.
“Kelas berikutnya masih dua jam lagi,” tiba-tiba pria itu muncul dari balik pintu gedung, “kau mau kemana dulu?”
Walaupun berusaha senormal mungkin seperti pria itu yang menjalani hari ini senormal mungkin, Hana tidak bias pungkiri ia tetap merasa tidak enak setelah kejadian kemari malam dan pagi tadi sebelum ia berangkat kuliah. Seingatnya badai luar biasa menghempas Tokyo, tapi beberapa saat kemudian semua kembali normal. Lagipula pandagan pria itu tidak sekosong tadi pagi, mata pria itu lebih bercahaya sejak mereka berjalan bersama tadi. Hana hanya tidak ingin menjadi lebih jahat pada pria itu.
“Aku ingin ke kantin perpustakaan. Setelah makan siang niatku ingin meminjam buku.”
Pria itu menyusul dan berjalan di sampingnya, “Buku apa?”
“Entahlah, aku ingin meminjam buku saja.”
Percakapan yang normal mereka bicarakan tanpa menyinggung masalah yang membuat keduanya terbatasi.
“Yoshiki-kun tidak makan siang?” Tanya Hana ingin menghilangkan keheningan antara dirinya dan pria yang duduk di hadapannya dengan menopang dagu dan memainkan ponselnya.
“Tidak. Iblis tidak perlu makan, My Lady.”
Oh, panggilan itu. Ia kira Yoshiki akan berhenti memanggilnya seperti itu lagi setelah ‘perceraian’ sepihaknya.
Tunggu dulu, mereka berdua belum mengajukan perceraian secara resmi pada pengadilan negara. Padahal pernikahan mereka diakui secara resmi oleh negara.
‘Aaah… memangnya bagaimana cara mengurus perceraian?’ Hal-hal memusingkan kembali memenuhi pikiran Hana. Ia terlalu malas memikirkan hal-hal seperti ini. Sudah cukup Kalkulus saja yang menjadi beban pikirannya. Semua hal keperdataan pernikahan kemarin diselesaikan oleh orang-orang Yoshiki, yang ia tahu tiba-tiba akta pernikahan mereka sudah jadi.
“Ada apa? Sesuatu mengganggumu?”
“Oh,” Hana terbangun dari lamunannya, ia segera mengeluarkan kotak bento dari tasnya dan membukanya tanpa ada niat.
‘Bagaimana jika aku menyerahkan pada orang Yoshiki-kun saja? Tapi rasanya agak meragukan. Yoshiki-kun saja tidak mau melepas cincin pernikahan, apalagi mengurus surat perceraian,’ Tanpa sadar Hana menghela nafas berat.
“Kau… tidak suka bekalmu? Ingin membeli sesuatu?” Melihat Yoshiki menatapnya penuh selidik Hana semakin tidak enak hati. Pria ini begitu baik padanya. Tak bisa dipungkiri ia masih mencintai pria ini.
“Tidak, aku hanya terpikirkan beberapa hal,” Kemudian disuapkannya sepotong hamburger pada mulutnya, “OH ENAK ASTAGA! Keigo-kun membuatnya dengan sangat baik! Mungkin aku harus belajar darinya bagaimana cara membuat ini….” Guman Hana asik pada kunyahan makanannya.
“…..” Yoshiki terdiam begitu mendengar Hana mengucapkan nama pria itu.
“Memangnya apa yang kau pikirkan?” Ucap Yoshiki datar, walaupun menyanyakan hal tersebut pikirn Yoshiki tidak terarah ke sana sama sekali, ia sibuk dipermainkan oleh permainan pikirannya sendiri mengenai ingatannya melihat perempuan milikknya itu tersenyum ketika Keigo Yasumoto mengacak rambutnya.
Membutuhkan keheningan beberapa saat sampai Hana berani mengungkapkan isi pikirannya, “a-anu soal surat perceraian—”
“!!!!!”
PRAAAAAAKKKK!!
Semua terjadi begitu cepat di depan mata Hana. Seiring dengan bola mata Yoshiki yang berubah merah dalam sekejap, lalu waktu di sekitar mereka membeku, hingga Yoshiki menghempaskan bentonya hingga menghantam lantai.
“Tidak ada yang bercerai di sini My Lady! Kau tetap milikku! Sampai selamanya! Sampai masa penghakiman tiba! Tidak ada hal di dunia ini yang bisa memisahkan kita!”
Hana tak mampu mengucapkan satu kalimatpun hingga pria itu pergi dan waktu yang terhenti kembali berjalan. Menyisahkan Hana sendiri mendapat pandangan aneh dari orang sekitar karena bekalnya yang terlempar ke lantai. Namun Hana mengabaikan hal itu ketika menyadari benda persegi hitam milik sang pria tertinggal begitu saja di atas meja.

.

Kuroto Yoshiki bukanlah pria ceroboh seperti dirinya. Tapi tak bisa dipungkiri jika wajah pria itu cukup kacau tadi. Hana tau Yoshiki sangat kecewa dengannya.
“Haaaah….” Hana menghela nafasnya berat.
Kelas berikutnya dimulai. Kelas Bahasa Inggris yang bisa Hana tinggal tidur sebenarnya. Tahun pertama memang penuh dengan tahap persiapan yang membosankan dan menyebalkan.
Getaran-getaran pada saku celananya yang sedari tadi seperti menggoyang pinggulnya seperi semakin memberikan tekanan pada emosinya. Dengan emosi dikeluarkan benda bergetar yang tidak lain adalah ponsel sang mantan suami itu dari sakunya.
Tangan ragu-ragu Hana menggenggam benda hitam yang sedari tadi terus begertar itu. Kemungkinan ada panggilan masuk dan email dari Yoshiki dengan ponsel lain untuk mencari keberadaan ponselnya. Jempolnya telah berada tepat pada tombol kunci. Masalahnya, apakah ia boleh membuka ponsel manta suaminya ini? Ia sudah bukan lagi istri Yoshiki, setidaknya begitulah anggapannya.
Getaran itu kembali terasa dan terkesan memaksa. Hana tau getaran kali ini buka getaran panggilan telepon, getaran ini seperti notifikasi untuk email masuk. Mungkin Yoshiki memang mencari ponselnya. Mengabaikan perihal privasi, Hana pun memutuskan membuka ponsel itu untuk mengetahui email-email yang masuk barusan dari Yoshiki atau tidak. Lagipula ia tidak yakin bisa memiliki akses pada ponsel ini. Yoshiki pasti menguncinya.
Ditekannya tombol fungsi lock. Seketika layer menunjukkan modeterkunci namun detik berikutnya ponsel tersebut memberikan akses untuknya setelah melewati mode face lock yang ada.
Hana tertegun beberapa saat.
Benar juga. Waktu itu…

.

“Yoshiki-kun…. Sedang apa?” Waktu itu dirinya benar-benar suntuk luar biasa karena game yang biasa ia mainkan jam itu sedang maintenance.
Sang suami masih sibuk di hadapan laptopya mengamati grafik-grafik dan beberapa dokumen yang mampu membuat kepalanya berputar dalam sekali pandangan.
“Game mu sedang maintenance?” Hana Yakin Yoshiki bahkan belum memandangnya sama sekali, tapi bagaimana pria itu tau!?
“K-Kok tau?”
“Kau hanya kemari jika apa yang seharusnya kau lakukan tidak bisa kau lakukan. Biasanya sekarang kau akan sibuk farming, kalua kau tidak melakukannya, maka game mu sedang maintenance.”
“Ugh,” Hana cukup kesal karena tebakan benar Yoshiki. “Aku bosaaaan. Memangnya Yoshiki-kun tidak bosan melihat tulisan-tulisan itu dan duduk di sini seharian?”
“Pekerjaan ini harus dilakukan My Lady. Sebagai seorang pemimpin dari semua pemimpin di dunia,” ucap Yoshiki dengan nada sombong yang jahil.
“Eugh… apa itu? Sombong sekali…” Hana memincingkan matanya berekspresi jijik melanjutkan candaan yang sedang berlangsung.
Yoshiki menghentikan pekerjaan tangannya sejenak, “Suamimu seorang pemimpin besar My Lady, seharusnya kau juga bisa sombong.”
Yaah… Hana tidak pernah bermimpi akan berjodoh dengan seorang penguasa besar, apalagi seorang iblis. Mau dikata bangga pun, Hana sangat terlewat bangga. Memiliki suami yang setiap hari bekerja memakai suit saja sudah membahagiakan batin Hana, apalagi dengan pekerjaan luar biasanya.
“Tapi kan bosaaaaan. Oh, ponsel ini kan model terbaru dari phoneI? Bukannya harganya sangat—” Hana menatap Yoshiki dengan wajah kesal, “dasar orang kaya.”
“Kau ingin model seperti itu juga?”
“Hmm… tidak. Aku sudah nyaman dengan ponselku yang sekarang, lagipula akan menyusahkan jika harus transfer data dari satu ponsel ke ponsel lain,” Hana sibuk mengamati Nampak luar benda kecil itu. Selanjutnya ketika hendak mengamati tampak dalam ponselnya Hana terhadang oleh fungsi lock screen ponsel itu, “Yoshiki-kun, boleh ya?” Disodorkannya benda itu pada sang pemilik.
Yoshiki tersenyum tipis, “hn, tentu saja boleh,” ditariknya tangan Hana tiba-tiba hingga sang tubuh sang empunya ikut tertarik duduk di atas pangkuan Yoshiki.
“Eh?” Lantas saja Hana kaget karena telah terduduk di atas pangkuan Yoshiki. Sangat intens.
Diarahkannya benda kecil itu dhadapan Hana untuk mengambil potret wajah Hana.
“Loh? Eh?” Hana sekarang Nampak seperti orang dungu.
“Sekarang kau sudah bebas menggunakannya,” Yoshiki dengan entengnya menyerahkan ponsel itu kepada Hana.
“Face lock untukku?”
“Hn.”
“Boleh?” Hana menoleh ke belakang seketika untuk melihat wajah sang suami, “ini kan ponsel Yoshiki-kun.”
“Dan kau istriku.”

.

Yoshiki belum menghapus rekaman wajahnya dari fungsi lock screen ponselnya ternyata. Sejujurnya Hana sedikit terkejut atas sikap Yoshiki. Jika Hana dalam posisi Yoshiki, Hana pasti sudah menghapus segala hal tentang Yoshiki.
Pada layar ponsel terlihat tumpukkan notifikasi email masuk. Semuanya berisi nama-nama perusahan yang tidak Hana ketahui. Yoshiki memang berada di dunia yang tidak Hana ketahui. Seketika rasa bersalah merasuk ke dalam dirinya, ia sama sekali tidak mengetahui bagaimana kehidupan sang suami selama ini, bisa dibilang ia adalah istri yang jahat.
Tidak ada pesan yang menunjukkan kekhawatiran mengenai pencarian ponselnya. Sambil menghela nafas Hana menaikkan tab notifikasi.
“…!” Namun hal itu malah membuat kedua bola matanya membulat lebar. Lantaran gambar latas belakang yang Yoshiki gunakan adalah foto mereka berdua. Sebuah foto selfie yang dilakukan olehnya ketika berkunjung di taman bermain. Dirinya yang tersenyum lebar, tangannya membentuk mode peace, dan Yoshiki yang berdiri di samping kanannya memeluk dari samping, mulutnya membentuk senyuman tipis.
Hana memijat pelipisnya penat.
‘Yoshiki-kun tampan sekali di foto ini astaga.’
Namun detik berikutnya ia menyadari jika apa yang ia pikirkan sangatlah konyol. Rasanya ia ingin menampar pipinya sendiri.
Read More ->>

Jumat, 06 Maret 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 41]

CHAPTER 41: It Goes On and On

Sepertinya sedikit banyak ucapanku berpengaruh kepadanya. Ia menatapku dengan kedua alis tertekuk, lalu kedua matanya basah oleh air mata.
“T-Tapi aku sudah tidak mampu lagi. T-tidak ada gunanya lagi aku menjalani kehidupanku. Aku anak sial! Membunuh kedua orang tuaku! Membawa sial kepada sekitar! Aku tidak layak hidup!” Begitu tidak bisa menahan luapan tangisannya ia memilih menyembunyikan wajahnya dibalik lengan-lengan kecilnya.
Dia begitu rapuh… seolah dengan satu sentuhan saja bisa hancur berkeping-keping.
“Huwaaaaaa!!” Tangisannya semakin menjadi-jadi.
Manusia memang makhluk lema dan pantas dihina. Tapi untuk kali pertama, aku sangat-sangat ingin menyelamatkan manusia hina ini.
Aku ingin mengusap air matanya.
Aku ingin memeluknya.
Aku ingin mendekapnya dan menenangkannya.
Ada sesuatu dalam diriku yang berubah.
“Kau bisa. Kau harus hidup. Sampai suatu saat nanti… kau akan tau alasan kenapa kau harus bertahan hidup. Karena banyak orang di luar sana yang mengharakan kau tetap hidup.”
Ia berhenti sesenggukkan, “bagaimana paman tau?”
Tanpa sadar aku tersenyum lemah kepadanya, “anggap saja aku di atara beberapa orang itu.”
Suasana hening di sore yang kelam habis ketika ia tiba-tiba berlari pergi.
Hari itu aku berhasil meredam keinginannya untuk mati. Tapi hal ini masih terus berlanjut.

.

Bulan 1, tanggal 30. Tahun 20xx
Tendensi untuk bunuh dirinya kembali mencuat.
Di dalam kamar mandi dengan tatapan kosong ia menggenggam sebuah cutter. Air mata terus menerus mengalir dari pelupuk matanya.
Tidak ada waktu lagi bagiku untuk berpikir. Aku mendatangi rumahnya dengan samara seorang petugas leding. Berkali-kali kuketuk pintu rumahnya, tidak ada sahutan. Situasi semakin menekanku, untunglah pintu sialan yang menghalangiku ini tidak terkunci. Entah dia yang ceroboh atau karena ia sudah tidak peduli lagi terhadap dunia ini.
Tanpa sadar tubuhku bergerak tergesa-gesa menuju kamar mandi. Dan tanpa pikir Panjang aku mendobrak masuk.
Dia ada di sana. Menatapku ketakutan dan kebingungan.
Syukurlah. Syukurlah dia masih di sini.
“A-anda siapa?” Tubuh kecilnya meringkuk di dekat bak mandi, tangannya mengigil menggenggam sebuah cutter yang sudah dikeluarkan bagian tajamnya.
“Petugas Leding di sini nona. Pintu depan tidak dikunci jadi saya tanpa sadar sudah masuk ke mari.”
“Ah… uh…,” ia gelagapan, “t-tapi saya tidak memanggil tukang leding.”
“Memang tidak. Tapi tetangga yang memanggil. Pipa saluran air mampet dan sepertinya terhubung dengan pipa rumah ini. Jadi saya ingin memeriksa saluran rumah ini untuk mencari sumber masalah,” tentu saja tidak begitu.
Ia Nampak kebingungan beberapa saat.Setelah mengusap kasar air mata dan ingusnya ia beranjak dari lantai.
Kulakukan pekerjaan bagai seorang tukang leding professional, sementara dia hanya berdiri di samping pintu mengamati pekerjaanku dengan tangannya yang masih menggenggam erat cutter.
Sesekali mataku yang mencuri-curi pandangan padanya tertangkap basah dan hal itu semakin membuatnya merasa tak nyaman.
“Kalau boleh tau, kau kenapa?” Ujarku di tengah pekerjaanku. Yang sebenarnya hanya membongkar pasang pipa.
Ia gelagapan, selalu begitu, kegelisahan dalam dirinya bertambah berat. Dia tidak menjawab.
“Cutter itu… mau kau gunakan untuk apa?” Aku masih bertanya tapi tanpa sekalipun menoleh ke arahnya.
Cukup lama keheningan terjadi tanpa kutau apa yang ia lakukan atau ekspresikan hingga ia menjawab, “aku mau bunuh diri.”
Aku terhenyak bukan main mendengarnya. Tanpa sadar aku menoleh ke arahnya. Wajahnya benar-benar kacau. Bocah itu bersusah payah menahan tangisnya yang hendak pecah.
“Paman pasti ingin menertawakanku kan sekarang, paman pasti berpikir, ada-ada saja bocah ini, masih kecil sudah ingin mati, lucu. Begitu kan?”
“Tidak,” jawabku berusaha tak acuh.
“Kalau begitu paman pasti berpikir, bocah ini sudah gila, kenapa tidak ke psikiater saja?”
Aku baru menyadari jika kedua hasil pemikirannya itu adalah ucapan saudara-saudara yang tidak sengaja menemukannya saat berusaha mencari cara bunuh diri yang tidak sakit beberapa hari lalu.
“Tidak,” jawabku lagi.
“Iya juga. Mana mungkin paman peduli.”
Tanpa memandang wajahnya pun, dari nada bicaranya aku bisa tau jika ia ingin diperhatikan. Keinginannya untuk mati memang ada, tetapi keinginannya untuk diperhatikan lebih besar.
“Jangan menyerah. Walaupun menurutmu jalan hidupmu berakhir di sini, tapi kau tidak pernah tau apa yang akan ada di ujung sana. Tetaplah bertahan sampai saat itu,” barang sekalipun tak kutatap wajahnya, yang kulakukan hanya melakukan pekerjaanku bagai seorang professional.
Terdengar suara gesekan dan gemerisik kain dari belakang, sepertinya ia baru saja mendudukkan dirinya.
“Paman pernah, ingin bunuh diri? Mengakhiri hidup?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang tidak mungkin dipertanyakan anak seumurannya.
“Entahlah. Tapi jika dendam mungkin aku masih membawanya sampai sekarang.”
“Dendam?”
“Hn. Ayahku membuangku, namun aku terus hidup sampai aku bisa membuktikan diriku kepadaNya. Lalu aku akan menghancurkanNya jika memungkinkan.”
“Paman… dibuang oleh ayah paman?”
“Hn.”
Tanpa sadar aku menceritakan tentang diriku padanya.
“Kau juga harus begitu. Kau harus tetap hidup sampai kau mampu membuktikan kehebatanmu pada orang-orang yang menghancurkanmu. Siapapun mereka.”
“Pfft—” Namun ia malah menahan tawa.
“Kenapa tertawa?”
“Ucapan paman sama seperti seorang pembersih kebersihan di sekolahku…” Ia tergelitik.
“Hn…”
Tentu saja sama bukan.
Aku menyelesaikan pekerjaan bongkar pasangku. Sebelum meninggalkan tempat aku berpesan kepadanya, “kau sudah berusaha yang terbaik. Jangan cepat mati, bocah,” dan kembali tanpa sadar tanganku bergerak mengusap rambut pendek hitamnya.

.

“Jadi memang Yoshiki-kun!”
Hana kembali termenung. Hal yang sangat ingin ia dapatkan saat itu adalah pengakuan jika dirinya telah berjuang. Dan Yoshiki memberikannya.
Ia ingat betul setelah tukang leding itu pergi, ia menangis sejadi-jadinya.
Catatan itu sekarang hanya terongok diam di dekat kaki yang ia tekut untuk menjadi sandaran kepalanya.
Ia sudah tidak tau lagi. Yoshiki secara luar biasa menyusup ke dalam hidupnya. Dan bisa dikatakan jika saat ini masih hidup pun karena Yoshiki.
Memang benar jika semua yang dilakukan Yoshiki hanya demi keegoisannya semata, demi kekuatan dalam dirinya. Tapi kembali lagi, Yoshiki bisa semena-mena menangkapnya, memenjarakannya, tapi pria itu tidak melakukannya. Pria itu memilih untuk membiarkannya hidup seperti biasa dan menjaganya dari jauh.
Oh sungguh cerita yang sangat romantic dan diinginkan oleh setiap gadis di penjuru dunia, dimana seorang pangeran tampan menjagamu secara diam-diam dan selalu ada di setiap kau membutuhkan bantuan.
Apa dirinya sudah bertindak jahat kepada Yoshiki? Sepertinya ia sangat keterlaluan dengan membuang cincin itu ke danau. Bahkan Yoshiki harus menyelam ke dalam danau untuk mengambilnya.
“Ah…. Aku tidak suka begini…” Hana menjatuhkan dirinya ke sofa terlungkup.
Matanya yang sudah suntuk menghadapi tulisan perlahan mengatup dan membawanya terjun ke dalam tidur.

.

Cahaya mentari yang menerobos masuk melewati jendela yang sudah tidak tertutup tirai membuat kedua kelopak mata Hana perlahan mengerjap, membangunkan sang empunya.
Kebingungan bukan main, Hana menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mengenali sekitar. Barulah ia sadar, ia sudah tidak akan berada di kamarnya Bersama Yoshiki, sekarang ia berada di rumah seorang sahabat lama, Keigo Yasumoto.
“Sudah bagun?”
Hana reflex menoleh ke asal suara.
Di dapur, pria itu mengenakan clemek dibalik kemeja putihnya yang sudah ia singsingkan lengannya sampai siku.
“Selamat pagi. Aku membuatkan makanan kesukaanmu.”
Ah sungguh pagi yang tenang. Jika ini mimpi Hana tidak ingin bangun sama sekali. Keigo Yasumoto sempat singgah di dalam ingatannya saat bocah sebagai calon suami idaman, dan kini pria itu sempurna sebagai suami idaman.
“Selamat pagi,” Hana meloncat kea rah Keigo, “woaaah cheese burger! Sepertinya berat sekali kalua dimakan di pagi hari ya,” Hana terkekeh.
Tangan Keigo sibuk membalik daging pada penggorengan yang merupakan penyebab bau semerbak penggunggah lapar, “mau bagaimana lagi, aku sangat ingin memasakkan makanan kesukaanmu ini.”
“Aaah… jadi kangen masakan bibi. Dulu sering makan bareng kan.”
Keigo tersenyum, “Iya, mungkin burger ini rasanya akan kalah dari masakan ibu. Tapi aku berusaha yang terbaik.”
“Jangan merendah begitu, baunya luar biasa enak. Pasti rasanya bakal enak juga. Omong-omong, ada yang bisa kubantu?” Hana berdiri di samping Keigo dengan semangat.
“Daripada membantu, lebih baik kamu cuci muka sana. Ada bercak air liur tuh.”
“Eh?” Begitu diusapnya tepian bibirnya dan mendapati sesuatu yang lengket wajah Hana memerah padam, “M-MAAF!” dan berlari menuju kamar mandi.
Keigo hanya terkekeh kecil melihatnya.
“!!!!” Pemuda itu terhenyak begitu merasakan sebuah aura menekan. Dibukanya jendela yang menghadap ruang tamunya dengan kasar.
Rahang Keigo mengeras begitu menyadari siapa yang menyebabkan dirinya merasa ditekan dengan luar biasa. Siapa lagi jika buka Kuroto Yoshiki. Iblis itu berdiri di beranda apartemen sebrangnya Bersama 2 iblis lain.
“Woops… Ketahuan…” Tomuro yang berdiri di samping Yoshiki mencoba melucu.
“Bagaimana tidak ketahuan jika My Lord melepaskan aura kecemburuan seperti itu…” Hazel mendesah berat.
“….” Yoshiki tidak berkomentar. Ia hanya menatap Keigo. Menatap Keigo dengan tatapan kebencian dan kutukan.
“Keigo-kun? Ada apa? Suara bukaan jendelanya keras sekali,” dari arah belakang Keigo, Hana muncul dengan wajah masih belepota sabun.
Pupil Yoshiki mengecil begitu Hana menampakkan wajah bodohnya, “ck!” Ia berdecak kesal tanpa sadar.
Hanya satu malam terlewati setelah kejadian kemarin malam, tapi ia sudah begitu merindukan perempuan berambut pendek itu. Jangankan hari ini, kemarin malam pun ia tak bisa tenang. Yang ia lakukan hanya berbaring terlentang di tengah-tengah ranjang besarnya. Tidak Hana di sampingnya. Tidak ada sosok yang meninduhnya tiba-tiba, memeluknya erat, atau mengisenginya tanpa sebab. Tapi perempuan itu ada di sana, Bersama pria lain.
“K-Kenapa mereka di sana?” Hana tak kalah kaget dengan Keigo, saking kagetnya ia sampai tanpa sadar berdiri di belakang Keigo untuk berlindung.
“Oh, tentu saja untuk menguntitmu My Lady! Anda tau, tuan kami tidak bisa berhenti memikirkan anda sama sekali,” jawab Tomuro seolah semakin memanas-manasi suasana.
Yoshiki mengibatkan tangannya tiba-tiba sebelum benar-benar membalik punggungnya dan menghilang memasuki ruangan.
Disambung hal itu mendadak gemuruh mengisi langit. Angin berhembus kencang dari arah barat menghempaskan apapun yang dilewatinya. Awan hitam bergulung-gulung berdatangan disusul suara petir yang memecah pagi cerah.
“Woa woa… gawat… dia sampai mau menghancurkan bumi ya?” Gurau Tomuro, namun ada sedikit ketakutan dalam kalimatnya. Apapun bisa terjadi jika sang raja iblis sampai benar-benar murka.
“Padahal ramalan cuaca di televisi barusan mengatakan hari ini akan cerah…” Keigo sibuk melindungi matanya dari debu yang bertebaran akibat angin badai.
“Kerja bagus, bitch,” Hazel menatap dingin tepat ke arah Hana kemudian meludah serampangan.
Keigo yang mendengar Hana dipanggil dengan Hina seperti itu lantas hendak melontarkan protes, “Apa katam—”
PRAAAANGG
JLEB
Belum habis kalimat Kegio, sebuah pisau Nampak melesat dari dalam kamar dan menusuk masuk ke dalam jantung Hazel lewat punggungnya. Perempuan itu memuntahkan darah sebelum membalik badannya untuk melihat sang pelaku yang ternyata sudah berdiri di samping pintu dengan wajah datar dan kosongnya, “kau katakana hal itu lagi, berikutnya kepalamu yang akan hancur Hazel.”
Wajah Hazel memerah luar biasa mendengar ucapan tuannya sebelum akhirnya beringsut jatuh menghilang dari balik pagar beranda.
“Astaga, kau berkata begitu saja sepertinya dia sudah sangat basah. Lihatlah wajah menjijikkannya itu,” Tomuro hanya mendesah Lelah.
Melihat tindakan serampangan Yoshiki, tanpa sadar tangan Keigo melebar untuk melindungi Hana yang berdiri di belakangnya. Kedua rahangnya saling bergemelatuk geram.
“…. Dasar iblis gila!” Desis Keigo bengis.
“Woah lihat, dia menatapmu seperti anak anjing menyedihkan yang berusaha menjadi pahlawan,” Tomuro menatap Yoshiki dengan sesekali melirik Keigo rendah.
Tetapi Yoshiki tidak merespon apapun. Pandangannya tetap kosong dengan ekspresi wajahnya yang datar  ia kembali membalik badan setelah beberapa saat menatap Hana.
“Oi oi oi, astaga. Tidak ada yang sehat di sini,” Tomuro mengacak rambut merahnya kesal sebelum akhirnya berteriak mengambil atensi setiap orang, “Kuroto Hana!”
“Aku Rayumi Hana! Bukan Kuroto Hana!” Teriak Hana dari balik punggung Keigo.
“Tunggu saja waktunya sampai kau kembali ke pelukan tuan kami.”
Cengkraman Hana pada pungung Keigo mengerat begitu mendengar kalimat Tomuro.
“Hei, ayo kembali. My Lord sudah mendahului tuh,” Tomuro menggendong paksa Hazel yang setengah sadar di bawah sana.

.

“Kelas terakhirmu pukul 4 sore? Aku jemput di sini lagi ya,” ucap Keigo sambal menerima helm yang tadi dikenakan Hana.
“Keigo-kun,” namun hana menghentikan panggilannya karena seharusnya ia memanggil teman masa kecilnya ini lebih sopan jika berada di area kampus mengingat status mereka, “ups Yasumoto-sensei, tidak ke departemen?”
Keigo tersenyum tipis melihat keluguan Hana, “aku masih ada keperluan di Riset Center, jadwalku mengajar hari ini juga hanya di Kelas Bersama,” kelas Bersama adalah kelas untuk mahasiswa tahun pertama, materi perkuliahannya pun sekitar dasar-dasar saja.
“Oh… baiklah bila begitu. Selamat bekerja Keigo-kun,” Hana tersenyum renyah.
Tak tahan menahan gemas mungkin, Keigo mengacak rambut hitam Hana hingga cukup berantakan, “Hana juga, selamat belajar ya! Dagh!”
“….” Beberapa meter dari situ, seorang pria yang tidak lain adalah Kuroto Yoshiki berdiri menyaksikan dengan rahang mengeras.
Mood Hana saat itu bisa dibilang sudah membaik karena ia berjalan di Lorong kelas dengan senyum mengembang seperti biasa. Hingga sesosok tubuh berkemeja dan berjaket hitam berjalan di sampingnya. Hana cukup kaget namun kemudian menutupinya, karena Kuroto Yoshiki yang berjalann di sampingnya memajang wajah stoic seolah-olah tidak terjadi apapun di antara keduanya.
Sudah beberapa laboratorium dan kelas mereka lewati Bersama. Dan sialnya kelas mereka ada di ujung Lorong sana. Hanya beberapa meter lagi tapi rasanya Hana ingin menangis di tempat karena suasana canggung yang mencekam yang tercipta. Tidak ada kalimat atau sapaan sama sekali dari pria di sampingnya. Dia hanya berjalan di sampingnya.
Mungkin karena terlalu tegang, Hana sampai tidak menyadari adanya sebuah kertas di lantai, membuat kakinya tergelincir.
“Eh?”
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.