Jumat, 27 Maret 2020

Yami no Ai: AFTER WOLRD [chapter 42]

CHAPTER 42: WE’RE NOT DIFORCE

Tangan Yoshiki dengan sigap meraih pundaknya. Tatapan datar dan kosong Yoshiki berisrobok paksa dengan tatapan penuh kekagetan Hana.
“A-Ahh!” Cepat-cepat Hana menegakkan posisinya.
“Astaga, kalian ini ya, masih pagi sudah mesra saja.”
“Bikin iri teruus.”
“Sampe blokir jalan juga hahaha.”
Sekelompok mahasiswa yang seangkatan dengan keduanya lewat sambal bergurau riuh.
“B-Bukan begitu!” Hana berucap tegas dengan wajahnya yang menahan malu, “lagipula kita—”
“Kau tidak apa-apa?” Kalimat Hana dipotong paksa oleh Yoshiki.
“Ah, umm… aku tidak apa-apa. T-terima kasih,” Hana sangat ingin merutuki kebodohannya sendiri sekarang.
“Hn, lain kali berhati-hatilah,” ucap Yoshiki datar sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
Saat itu sapphire Hana tanpa sengaja melihat tangan Yoshiki sebelum tangan itu disembunyikannya di balik saku celana. Jari Yoshiki, masih mengenakan cincinnya.
“Hn, ada apa?” Sadar jika Hana tak berjalan di sampingnya, Yoshiki menghentikan langkahnya dan berbalik.
Butuh beberapa detik sampai Hana menggelengkan kepalanya dan mengucapkan, “tidak apa-apa kok,” dan melanjutkan langkahnya.

.

“Sekarang kalian kerjakan 14 A, 14 B, 15 B, 15 C, 17 A, 18 A berkelompok 2 orang!” Setelah memberikan pemahaman materi sekitar 1 jam lebih, dosen kalkulus berkacamata tebal itu dengan seenaknya menyuruh mahasiswanya mengerjakan soal-soal yang menurutnya telah ia berikan dasar materinya.
Sura riuh kursi digeser dan langkah kaki perpindahan tempat duduk menggema dalam kelas berukuran persegi itu.
Kepala hitam Hana dengan polosnya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari teman sekelompok tentu saja. Namun hasilnya nihil. Semuanya Nampak sudah menemukan pasangan masing-masing.
Tidak ada yang tersisa, selain Yoshiki yang duduk di sampingnya.
“Kenapa? Tidak ingin berkelompok denganku?” Setelah pria itu Nampak sibuk dengan kertasnya ia menatap Hana dengan tatapan datar. Lagi-lagi tanpa ada emosi di baliknya.
“Eh, t-tidak,” Hana menggeleng ragu.
Yoshiki menyerahkan kertas yang sedari tadi menjadi perhatiannya kepada Hana, “tinggal 14 A dan 14 B saja yang belum dikerjakan.”
Hana hanya bias menatap bodoh pada lembaran kertas itu. Di sana sudah tertulis rapi dan lengkap untuk jawaban nomor-nomor berikutnya. Seperti belum terbiasa dengan keluarbiasaan Yoshiki, Hana menatap Yoshiki tidak percaya. 4 nomor sudah dikerjakan, bahkan dirinya saja belum melihat soalnya sama sekali.
“Oh, b-baiklah,” dengan canggung Hana melihat soal yang belum Yoshiki kerjakan.
Satu menit pertama Hana membaca soal.
Menit berikutnya Hana mulai membuka catatan dan melihat ke arah papan tulis yang masih berisi penjabaran materi terkait.
Menit selanjutnya pulpen yang dipegang Hana mengetuk-ketuk kertas. Berkali-kali ia mencoba mengerjakan soal tersebut dan berkali-kali ia tidak tau harus melanjutkan apa.
‘Demi apapun! Aku benci Kalkulus!’ Rutuknya dalam Hati.
“Soal itu harus diturunkan terlebih dahulu,” ucap Yoshiki tiba-tiba. Lantas saja Hana menoleh ke sumber suara, namun wajah pria itu sangat dekat padanya, membuatnya terkejut sesaat.
“Eh—Oh…” Canggung, Hana kembali menatap kertasnya dan mengerjakan sesuai bantuan Yoshiki.
“Ternyata mudah, haha,” tawa canggungnya terdengar begitu ia dengan bodohnya menyadari ternyata soal yang dikerjakannya tidaklah sesusah itu.
“Sudah?”
“Ah sebentar,” Hana mengeluarkan ponselnya untuk memotret jawaban yang sudah dikerjakan Yoshiki. Bagaimanapun jika sekali lihat soal-soal yang dikerjakan Yoshiki susah semua, dan ia butuh mempelajarinya sendiri untuk ujian mendatang.
“Hn… untuk apa kau foto? Aku bisa mengajarimu kapanpun kau mau,” Yoshiki menerima lembaran jawaban yang sudah diserahkan Hana untuk dikumpulkan.
“Umm…” Hana hanya bisa berguman tipis dan menatap punggung pria itu dari tempatnya.
Yoshiki, pria itu masih tetap baik kepadanya setelah apa yang ia perbuat semalam. Padahal dengan kekasarannya, dirinya benar-benar tidak pantas menerima semua kebaikan Yoshiki.
Bersamaan dengan helaan nafas Hana, kelas berakhir. Semua penghuni kelas berbondong-bondong meninggalkan kelas entah untuk kelas berikutnya atau menjalankan kesibukan ala mahasiswa pada umumnya.
Tidak hanya Kalkulus yang semakin susah, sekarang pikiran Hana berisi banyak hal untuk dipikirkan. Rasa segar dingin pada kedua tangannya dari guyuran air keran toilet sedikit membuatnya tenang.
“Hana-chan!”
Refleks Hana keluar dari keheningannya dan menoleh ke sumber suara. Ternyata beberapa teman sekelasnya waktu kelas Kalkulus tadi.
“Eh, iya, ada apa?” Bibir Hana membentuk senyuman canggung.
“Lihat, lihat. Sudah kuduga benar kan,” salah satu mereka menyambar kedua tangan Hana, “dia sudah tidak memakai cincinnya!”
“Kalau begitu… siapa pasangan Kuroto-kun sekarang?”
“Hana-chan! Hana-chan! Ada apa ini? Kenapa kamu tidak memakai cincin sementara Kuroto-kun masih memakainya? Itu cincin pertunangan kalian kan?”
Tidak. Hana sedang tidak ingin memikirkan ini sekarang.
Dihempaskannya tangan-tangan yang mengganggunya. Tanpa peduli mematikan keran air yang dinyalakannya, Hana meninggalkan toilet dengan perasaan kesal. Keluar Gedung kelas Bersama dengan emosi berkecamuk.
“Kelas berikutnya masih dua jam lagi,” tiba-tiba pria itu muncul dari balik pintu gedung, “kau mau kemana dulu?”
Walaupun berusaha senormal mungkin seperti pria itu yang menjalani hari ini senormal mungkin, Hana tidak bias pungkiri ia tetap merasa tidak enak setelah kejadian kemari malam dan pagi tadi sebelum ia berangkat kuliah. Seingatnya badai luar biasa menghempas Tokyo, tapi beberapa saat kemudian semua kembali normal. Lagipula pandagan pria itu tidak sekosong tadi pagi, mata pria itu lebih bercahaya sejak mereka berjalan bersama tadi. Hana hanya tidak ingin menjadi lebih jahat pada pria itu.
“Aku ingin ke kantin perpustakaan. Setelah makan siang niatku ingin meminjam buku.”
Pria itu menyusul dan berjalan di sampingnya, “Buku apa?”
“Entahlah, aku ingin meminjam buku saja.”
Percakapan yang normal mereka bicarakan tanpa menyinggung masalah yang membuat keduanya terbatasi.
“Yoshiki-kun tidak makan siang?” Tanya Hana ingin menghilangkan keheningan antara dirinya dan pria yang duduk di hadapannya dengan menopang dagu dan memainkan ponselnya.
“Tidak. Iblis tidak perlu makan, My Lady.”
Oh, panggilan itu. Ia kira Yoshiki akan berhenti memanggilnya seperti itu lagi setelah ‘perceraian’ sepihaknya.
Tunggu dulu, mereka berdua belum mengajukan perceraian secara resmi pada pengadilan negara. Padahal pernikahan mereka diakui secara resmi oleh negara.
‘Aaah… memangnya bagaimana cara mengurus perceraian?’ Hal-hal memusingkan kembali memenuhi pikiran Hana. Ia terlalu malas memikirkan hal-hal seperti ini. Sudah cukup Kalkulus saja yang menjadi beban pikirannya. Semua hal keperdataan pernikahan kemarin diselesaikan oleh orang-orang Yoshiki, yang ia tahu tiba-tiba akta pernikahan mereka sudah jadi.
“Ada apa? Sesuatu mengganggumu?”
“Oh,” Hana terbangun dari lamunannya, ia segera mengeluarkan kotak bento dari tasnya dan membukanya tanpa ada niat.
‘Bagaimana jika aku menyerahkan pada orang Yoshiki-kun saja? Tapi rasanya agak meragukan. Yoshiki-kun saja tidak mau melepas cincin pernikahan, apalagi mengurus surat perceraian,’ Tanpa sadar Hana menghela nafas berat.
“Kau… tidak suka bekalmu? Ingin membeli sesuatu?” Melihat Yoshiki menatapnya penuh selidik Hana semakin tidak enak hati. Pria ini begitu baik padanya. Tak bisa dipungkiri ia masih mencintai pria ini.
“Tidak, aku hanya terpikirkan beberapa hal,” Kemudian disuapkannya sepotong hamburger pada mulutnya, “OH ENAK ASTAGA! Keigo-kun membuatnya dengan sangat baik! Mungkin aku harus belajar darinya bagaimana cara membuat ini….” Guman Hana asik pada kunyahan makanannya.
“…..” Yoshiki terdiam begitu mendengar Hana mengucapkan nama pria itu.
“Memangnya apa yang kau pikirkan?” Ucap Yoshiki datar, walaupun menyanyakan hal tersebut pikirn Yoshiki tidak terarah ke sana sama sekali, ia sibuk dipermainkan oleh permainan pikirannya sendiri mengenai ingatannya melihat perempuan milikknya itu tersenyum ketika Keigo Yasumoto mengacak rambutnya.
Membutuhkan keheningan beberapa saat sampai Hana berani mengungkapkan isi pikirannya, “a-anu soal surat perceraian—”
“!!!!!”
PRAAAAAAKKKK!!
Semua terjadi begitu cepat di depan mata Hana. Seiring dengan bola mata Yoshiki yang berubah merah dalam sekejap, lalu waktu di sekitar mereka membeku, hingga Yoshiki menghempaskan bentonya hingga menghantam lantai.
“Tidak ada yang bercerai di sini My Lady! Kau tetap milikku! Sampai selamanya! Sampai masa penghakiman tiba! Tidak ada hal di dunia ini yang bisa memisahkan kita!”
Hana tak mampu mengucapkan satu kalimatpun hingga pria itu pergi dan waktu yang terhenti kembali berjalan. Menyisahkan Hana sendiri mendapat pandangan aneh dari orang sekitar karena bekalnya yang terlempar ke lantai. Namun Hana mengabaikan hal itu ketika menyadari benda persegi hitam milik sang pria tertinggal begitu saja di atas meja.

.

Kuroto Yoshiki bukanlah pria ceroboh seperti dirinya. Tapi tak bisa dipungkiri jika wajah pria itu cukup kacau tadi. Hana tau Yoshiki sangat kecewa dengannya.
“Haaaah….” Hana menghela nafasnya berat.
Kelas berikutnya dimulai. Kelas Bahasa Inggris yang bisa Hana tinggal tidur sebenarnya. Tahun pertama memang penuh dengan tahap persiapan yang membosankan dan menyebalkan.
Getaran-getaran pada saku celananya yang sedari tadi seperti menggoyang pinggulnya seperi semakin memberikan tekanan pada emosinya. Dengan emosi dikeluarkan benda bergetar yang tidak lain adalah ponsel sang mantan suami itu dari sakunya.
Tangan ragu-ragu Hana menggenggam benda hitam yang sedari tadi terus begertar itu. Kemungkinan ada panggilan masuk dan email dari Yoshiki dengan ponsel lain untuk mencari keberadaan ponselnya. Jempolnya telah berada tepat pada tombol kunci. Masalahnya, apakah ia boleh membuka ponsel manta suaminya ini? Ia sudah bukan lagi istri Yoshiki, setidaknya begitulah anggapannya.
Getaran itu kembali terasa dan terkesan memaksa. Hana tau getaran kali ini buka getaran panggilan telepon, getaran ini seperti notifikasi untuk email masuk. Mungkin Yoshiki memang mencari ponselnya. Mengabaikan perihal privasi, Hana pun memutuskan membuka ponsel itu untuk mengetahui email-email yang masuk barusan dari Yoshiki atau tidak. Lagipula ia tidak yakin bisa memiliki akses pada ponsel ini. Yoshiki pasti menguncinya.
Ditekannya tombol fungsi lock. Seketika layer menunjukkan modeterkunci namun detik berikutnya ponsel tersebut memberikan akses untuknya setelah melewati mode face lock yang ada.
Hana tertegun beberapa saat.
Benar juga. Waktu itu…

.

“Yoshiki-kun…. Sedang apa?” Waktu itu dirinya benar-benar suntuk luar biasa karena game yang biasa ia mainkan jam itu sedang maintenance.
Sang suami masih sibuk di hadapan laptopya mengamati grafik-grafik dan beberapa dokumen yang mampu membuat kepalanya berputar dalam sekali pandangan.
“Game mu sedang maintenance?” Hana Yakin Yoshiki bahkan belum memandangnya sama sekali, tapi bagaimana pria itu tau!?
“K-Kok tau?”
“Kau hanya kemari jika apa yang seharusnya kau lakukan tidak bisa kau lakukan. Biasanya sekarang kau akan sibuk farming, kalua kau tidak melakukannya, maka game mu sedang maintenance.”
“Ugh,” Hana cukup kesal karena tebakan benar Yoshiki. “Aku bosaaaan. Memangnya Yoshiki-kun tidak bosan melihat tulisan-tulisan itu dan duduk di sini seharian?”
“Pekerjaan ini harus dilakukan My Lady. Sebagai seorang pemimpin dari semua pemimpin di dunia,” ucap Yoshiki dengan nada sombong yang jahil.
“Eugh… apa itu? Sombong sekali…” Hana memincingkan matanya berekspresi jijik melanjutkan candaan yang sedang berlangsung.
Yoshiki menghentikan pekerjaan tangannya sejenak, “Suamimu seorang pemimpin besar My Lady, seharusnya kau juga bisa sombong.”
Yaah… Hana tidak pernah bermimpi akan berjodoh dengan seorang penguasa besar, apalagi seorang iblis. Mau dikata bangga pun, Hana sangat terlewat bangga. Memiliki suami yang setiap hari bekerja memakai suit saja sudah membahagiakan batin Hana, apalagi dengan pekerjaan luar biasanya.
“Tapi kan bosaaaaan. Oh, ponsel ini kan model terbaru dari phoneI? Bukannya harganya sangat—” Hana menatap Yoshiki dengan wajah kesal, “dasar orang kaya.”
“Kau ingin model seperti itu juga?”
“Hmm… tidak. Aku sudah nyaman dengan ponselku yang sekarang, lagipula akan menyusahkan jika harus transfer data dari satu ponsel ke ponsel lain,” Hana sibuk mengamati Nampak luar benda kecil itu. Selanjutnya ketika hendak mengamati tampak dalam ponselnya Hana terhadang oleh fungsi lock screen ponsel itu, “Yoshiki-kun, boleh ya?” Disodorkannya benda itu pada sang pemilik.
Yoshiki tersenyum tipis, “hn, tentu saja boleh,” ditariknya tangan Hana tiba-tiba hingga sang tubuh sang empunya ikut tertarik duduk di atas pangkuan Yoshiki.
“Eh?” Lantas saja Hana kaget karena telah terduduk di atas pangkuan Yoshiki. Sangat intens.
Diarahkannya benda kecil itu dhadapan Hana untuk mengambil potret wajah Hana.
“Loh? Eh?” Hana sekarang Nampak seperti orang dungu.
“Sekarang kau sudah bebas menggunakannya,” Yoshiki dengan entengnya menyerahkan ponsel itu kepada Hana.
“Face lock untukku?”
“Hn.”
“Boleh?” Hana menoleh ke belakang seketika untuk melihat wajah sang suami, “ini kan ponsel Yoshiki-kun.”
“Dan kau istriku.”

.

Yoshiki belum menghapus rekaman wajahnya dari fungsi lock screen ponselnya ternyata. Sejujurnya Hana sedikit terkejut atas sikap Yoshiki. Jika Hana dalam posisi Yoshiki, Hana pasti sudah menghapus segala hal tentang Yoshiki.
Pada layar ponsel terlihat tumpukkan notifikasi email masuk. Semuanya berisi nama-nama perusahan yang tidak Hana ketahui. Yoshiki memang berada di dunia yang tidak Hana ketahui. Seketika rasa bersalah merasuk ke dalam dirinya, ia sama sekali tidak mengetahui bagaimana kehidupan sang suami selama ini, bisa dibilang ia adalah istri yang jahat.
Tidak ada pesan yang menunjukkan kekhawatiran mengenai pencarian ponselnya. Sambil menghela nafas Hana menaikkan tab notifikasi.
“…!” Namun hal itu malah membuat kedua bola matanya membulat lebar. Lantaran gambar latas belakang yang Yoshiki gunakan adalah foto mereka berdua. Sebuah foto selfie yang dilakukan olehnya ketika berkunjung di taman bermain. Dirinya yang tersenyum lebar, tangannya membentuk mode peace, dan Yoshiki yang berdiri di samping kanannya memeluk dari samping, mulutnya membentuk senyuman tipis.
Hana memijat pelipisnya penat.
‘Yoshiki-kun tampan sekali di foto ini astaga.’
Namun detik berikutnya ia menyadari jika apa yang ia pikirkan sangatlah konyol. Rasanya ia ingin menampar pipinya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.