Jumat, 24 April 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 43]

CHAPTER 43: DIVORCE EH?

Yoshiki menatap kosong cangkir berisi kopi yang masih penuh di hadapannya. Salah satu tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya. Walaupun terlihat seperti berpikir dari luar, nyatanya tidak ada apapun yang terlintas di dalam kepala pria itu setelah mendengar istrinya meminta perceraian secara implisit.
Pria itu seperti seseorang yang kehilangan arah seketika. Yang ia tahu tiba-tiba ia memesan kopi di sebuah café dan sekarang sudah duduk tanpa ia sadari.
Sepertinya ia sudah gila sekarang.
“Kuroto-sama benar?”
Suara yang seperti memanggil untuk mengkonfirmasi itu menginterupsi lamunan Yoshiki. Di dekatnya berdiri dua pria berpakaian rapi dengan wajah harap dan tanya di saat yang sama.
“Kami dari Perusahaan K bidang konstruksi yang sekarang bekerja sama dengan Proyek Pembangunan  Gunma,” salah satu dari mereka memperkenalkan diri.
Yoshiki hanya mengingat cepat beberapa hari lalu ia memang menghadiri rapat dengan walikota Gunma untuk membahas pembangunan di daerah sana. Ia memegang banyak tender dan memiliki posisi penting namun terselubung dalam lingkaran pemerintah negara matahari terbit itu. Jika kedua pria ini mengetahuinya dari rapat itu, maka bisa disimpulkan kedua pria ini memiliki jabatan tak kalah hebatnya dengan walikota.
“Begitu, silahkan duduk,” entah mungkin untuk mengalihkan pikirannya dari Hana, Yoshiki memilih mengisi kekosongannya dengan membicarakan hal-hal yang bisa membuatnya sibuk bersama pria-pria ini.
Tentu saja, seperti yang Yoshiki harapkan. Sudah satu jam lebih mereka bercengkarama dan pembicaraan berjalan ke arah bisnis dengan mulus. Membuat Yoshiki lupa sejenak mengenai masalahnya dengan Hana.
Tiba-tiba diantara obrolan yang mulai menjurus ke saham itu terhenti ketika terdengar notifikasi ponsel dari salah satu keduanya.
“Oh maaf,” ucap pria yang duduk di kiri Yoshiki, “hanya notifikasi penggunaan kartu kreditku yang melampaui batas normal saja. Sepertinya istriku sedang berbelanja sampai lupa diri.”
“Wanita memang selalu begitu kan? Mereka suka seenaknya sendiri bukan? Baru saja kemarin istriku yang berlibur di Roma menguras atmku hingga lebih dari 1 juta Yen,” sahut pria yang lain.
“Benar kan Kuroto-sama?”
Namun sayang sekali. Suara mereka tidak akan mencapai Yoshiki. Pria itu telah tenggelam dalam pikirannya sendiri sejak menyadari jika ponselnya tidak ada padaya.
Jika diingat-ingat Hana cukup jarang meminta sesuatu yang diluar nalar kepadanya. Padahal seharusnya Hana tau jika tidak ada hal yang mustahil ia dapatkan ketika menjadi istri seorang Lucifer. Tapi hal yang Hana minta selalu hal-hal normal yang biasa manusia normal dapatkan. Bahkan ketika ia dibelikan gaun berharga 12000 yen Hana sempat menolak. Kenapa?
“Kuroto-sama?”
“Hn?” Akhirnya Yoshiki merespon entah panggilan keberapa pria itu.
“Anda tidak apa-apa Kuroto-sama? Sepertinya anda sedang banyak pikiran,” ucap salah satu pria sopan.
“Hn. Tidak. Apa yang ingin kau tanyakan tadi?”
“Kartu Kredit. Istri kita selalu seenaknya menggunakan uang kita kan?” ada jeda sedikit ketika pria itu melirik ke arah cincin pernikahan yang tersemat pada jari Yoshiki, “Kuroto-sama sudah memiliki istri bukan?”
“Hn,” sebuah seringai tanpa sadar muncul pada bibir Yoshiki, “tentu saja. Dia juga selalu seenaknya sendiri. Tetapi setelah itu dia akan kuhukum.”
Ya. Hana masih tetaplah istrinya apapun yang terjadi. Hana hanya ingin lepas darinya beberapa waktu. Ia cukup memantau dari jauh saja. Kali ini, ia akan mengajarkan pada miliknya itu jika dunia ini tidak akan bisa dilewati jika tanpa dirinya sang Lucifer. Mudah bukan?

.

“Halo? My Lady?” Begitu meihat nama sang tuan, Tomuro tanpa pikir Panjang segera menerima panggilan itu. Yoshiki telah berpesan sebelumnya jika ponselnya tertinggal pada Hana, cepat atau lambat perempuan itu pasti akan menghubungi nomornya yang merupakan sosok paling dekat dengan Yoshiki.
“Eh?” Terdengar sedikit nada bingung dan terkejut dari sambungan, “apakah Tomuro-kun sudah tau jika aku ingin mengembalikan ponsel Yoshiki-kun?”
“Bukan aku. Tapi dia.”
Hana tahu siapa yang Tomuro maksud, “kalau begitu, bagaimana?”
“Kembalikan saja besok ketika bertemu My Lord di kampus.”
“Tapi di sini ada banyak email dan notifikasi yang terlihat penting untuk segera dibalas.”
“Balas saja My Lady, bukankah kamu istrinya?”
“Kita berpisah Tomuro-kun.”
“Oh benarkah?”
Hana terdiam mendengar hal yang seperti picuan oleh Tomuro. Dirinya terpicu?
“Ya. Kita berpisah. Sekarang tidak ada yang perlu dibahas mengenai hubunganku dengan Yoshiki-kun. Bagaimana ponsel ini?”
“Hahahahaha….” Terdengar tawa yang cukup Panjang dan penuh keponggahan, “jangan menipu dirimu sendiri My Lady.”
“Aku. Tidak. Menipu. Diriku. Tomuro-kun. Sudah cukup kesoktauan ini. Aku masih baik mau mengembalikan ponsel ini. Tolong jangan buat aku lebih jengkel lagi.”
Tunggu. Memangnya kenapa ia harus jengkel? Jengkel karena Tomuro sok tau? Atau jengkel karena—
Hana menepis jauh-jauh pemikiran jika ia memang masih memiliki perasaan kepada Yoshiki.
“Hahaha…” Tomuro masih butuh waktu untuk menyelesaikan tawanya, “baiklah-baiklah. Datang saja ke kantor utama My Lord.”
“Hei siapa yang membutuhkan ponsel ini?” Hana tidak terima karena dibuat susah. Bukankah seharusnya yang merasa kehilangan akan lebih repot? Kenapa dia yang harus repot-repot mengantarkan ponsel ini ke kantor Yoshiki?
“Sejujurnya, My Lord tidak membutuhkan ponsel itu. Semua data, email, atau apapun itu telah disinkronkan pada device My Lord yang lain.”
Hana terdiam.
Benar juga. Pantas saja Yoshiki terasa tidak khawatir sama sekali mengenai ponselnya yang tertinggal.
“Tapi jika kamu sangat ingin mengembalikan ponsel itu, supir akan segera menjemput dan mengantarmu My Lady.”
“Aku pulang.” Suara dari balik pintu depan menginterupsi Hana seketika.
“Kita bicarakan ini nanti Tomuro-kun. Sampai jumpa,” dengan sepihak Hana mematikan sambungan telepon itu.
“….” Tomuro melemparkan ponselnya begitu saja pada meja dan dilanjutkannya menghela nafas panjang sambal melirik sang tuan dengan wajah menyerah.
“Dia akan kemari,” Yoshiki membalas lirikan itu dengan nada tenang.
“Bagaimana kamu tau?”
“Karena dia milikku. Dia hanya bersenang-senang sebentar sekarang. Setelah waktunya habis, akan kukurung dia selamanya.”

.

“Selamat datang Keigo-kun!” Bagai seorang istri yang menyambut suaminya setelah lelah bekerja seharian penuh, Hana membukakan pintu untuk Keigo.
“Aku mampir sebentar ke supermarket tadi, ini,” Keigo menyerahkan bungkusan belanjaan kepada Hana selagi ia melepaskan sepatunya.
Dengan sedikit canggung Hana menerima bungkusan itu, “Keigo-kun, maaf sepertinya sebentar lagi aku akan pergi keluar.”
Keigo menghentikan aktivitasnya sejenak, “Eh? Kemana? Tidak mau makan malam dulu?”
“A-ada barang teman di kampus yang terbawa. Aku harus mengembalikannya segera,” Hana tidak berbohong bukan?
“Memangnya benda apa itu? Apa sepenting itu sampai kamu harus meninggalkan makan malam?”
“Ponsel!” Hana menunjukkan ponsel Yoshiki sekilas untuk meyakinkan Keigo.
Keigo terdiam sejenak. Sama halnya dengan Hana, tubuhnya seolah-olah bergerak sendiri untuk mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.
“Kalau ponsel memang sangat penting sih…. Memangnya kamu mau ke tempat temanmu dengan apa? Apa tempatnya jauh? Butuh diantar?”
“T-Tempatnya dekat kok! Cuma 3-4 blok dari sini!” Sekarang Hana telah menipu. Menipu Keigo dan menipu dirinya sendiri.
“Itu cukup jauh loh. Apalagi di luar sudah gelap. Yakin tidak ingin makan malam dulu lalu aku akan mengantarmu ke sana?”
“Uhm, tenang saja Keigo-kun!” Hana kembali meyakinkan Keigo sebelum akhirnya pria berambut cepak itu mengizinkan Hana melangkahkan kaki keluar dari kediamannya.

.

Belum habis 5 menit dari terakhir Hana menghubungi Tomuro untuk kedua kalinya untuk menyetujui penjemputan, sebuah mobil sedan gelap sudah ada saja di belakangnya menyinarinya dengan lampu jalan yang cukup menyilaukan.
“My Lady,” sang sopir membukakan pintu untuknya sopan.
“Cepat sekali,” ucap Hana heran setelah memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam kendaraan itu.
“Pelayan My Lord memang dituntut cepat My Lady,” ucap sang sopir entah serius atau bercanda.
Hana terdiam sejenak dengan pandangannya yang waspada, berusaha mencerna kebenaran yang barusan ia sadari, “atau…. Kamu sudah ada lama di sini?”
Sang sopir memberi jeda beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan jujur, “My Lord sedang sibuk sekali di kantor. Sehingga terpaksa saya yang harus menggantikan My Lord memantau anda, maaf atas kelancangan ini My Lady.”
‘Oh benar,’ batin Hana.
“Sudah berapa lama memantau-ku?” ucap Hana sedikit memberikan nada sarkasme pada kata memantau.
“Begitu My Lord meninggalkan kampus, seketika saya yang ditugaskan.”
‘Kalau begitu, bukan hanya karena Yoshiki sibuk, tapi Yoshiki tidak ingin berurusan denganku,’ tapi Hana tak ingin membiarkan hal yang ia pikirkan hanya sebagai spekulasi saja. Ia ingin mengkonfirmasi kebenarannya, “memangnya Yoshiki sesibuk itu?”
“Benar My Lady. My Lord memiliki banyak koferensi dan rapat hari ini.”
“Oh… Kukira Yoshiki-kun sudah tidak ingin berurusan denganku lagi sehingga kamu yang disuruh menjadi stalker.”
Lagi-lagi sang sopir memberi jeda cukup lama dalam obrolan mereka sampai lampu merah terlewati barulah ia berbicara, “setahu kami My Lord sangat tidak suka pekerjaan ini dilakukan orang lain, karena anda hanya milik My Lord. Hanya My Lord yang boleh mengamati anda dari jauh. Anda tau bukan jika My Lord—”
“Pencemburu.”
“Oh, anda tahu,” sang sopir setengah terkejut karena Hana berhasil menebak isi kalimatnya.
Di belakang, Hana tanpa sadar merapatkan kedua kakinya dengan kedua tangannya terkepal dan wajahnya ia buang ke samping, “t-tentu saja. A-aku juga… memiliki perasaan kepadanya….”

.

“My Lord ada di dalam My Lady,” sang supir tidak hanya mengantarkannya sampai ke dalam gedung, tetapi juga mengantarkan ke dalam ruangan sang tuan.
Ini pertama kalinya bagi Hana memijakkan kaki pada ubin bermarmer dingin itu. Berapa bayak kantor Yoshiki tersebar di seluruh Jepang? Pikir Hana frustasi.
Dengan penampilan bagai mahasiswa gembel, Hana hanya bisa berdiri mengekor pada sang supir yang kini seperti memencet sebuah intercom di depan sebuah pintu besar.
“My Lord, My Lady datang.”
“…..”
Cukup lama tidak terdengar balasan dari balik interkom itu. Membuat Hana semakin menerka-nerka liar.
“Masuk.”
Dengan izin absolut itu, sang supir membukakan pintu untuk ratu. Sedikit enggan dan ragu Hana memasuki pintu bergagang dingin itu.
“Maaf menggangg—” kalimat sopan Hana terhenti begitu mendapati jika di dalam ruangan itu ternyata tidak sendirian. Ada wanita lain di sana. Wanita yang luar biasa berparas cantik dan menawan. Lebih parahnya lagi, wanita itu terlihat begitu aggressive, badannya yang terlewat bagus itu meliuk di samping kursi Yoshiki seolah baru saja selesai bercumbu.
Deg.
Sesuatu dalam dadanya seperti diremas sakit.
‘Pantas tadi dia lama menjawab di intercom!’ Rutuk Hana.
“Bisa tinggalkan kami berdua?” Ucap Yoshiki dengan nada beratnya pada sang wanita.
“Tentu Mr. Kuroto,” bahkan nada bicara yang digunakan wanita itu terdengar begitu sensual, tidak sepantasnya nada seperti itu digunakan dalam urusan pekerjaan bukan? SIAPA KUCING GARONG INI!?
Tapi sungguh seketika Hana merasa benar-benar minder terhadap penampilan perempuan yang bisa dibilang sangat serasi dengan Yoshiki. Jika dibandingkan dengannya yang seperti gembel.
“Mengembalikan ponselku?” Yoshiki menatap Hana datar.
“Ah, oh, iya. I-ini,” Hana mengeluarkan benda hitam persegi Panjang dari sakunya. Diletakkannya ponsel Yoshiki pada meja kerjanya. Kini keduanya telah berhadapan dengan meja sebagai penghalang.
“Terima kasih,” ucap Yoshiki berat.
Hana mengangguk perlahan, “uhm. Sama-sama.”
Hening.
Kedua sapphire dan onyx itu tidak berani saling menatap. Keduanya sibuk tertunduk dengan pikiran masing-masing. Kepala Yoshiki yang terisi penuh oleh adegan di mana Keigo mengacak rambut Hana penuh perhatian, dan kepala Hana yang penuh dengan adegan bagaimana perempuan tadi terlihat begitu sensual kepada Yoshiki.
Yoshiki menuangkan sebuah whiskey ke dalam gelas goblinnya. Belum sampai seperempat gelas itu telah terisi, namun pria itu dengan tergesa-gesa meneguknya hingga habis.
“Bagaimana rasanya hidup bersama si sialan itu? Sepertinya kau senang sekali sampai tadi menanyakan mengenai surat perceraian. Dibuatkan burger, diantarkan dengan motor, dan kepalamu diusap seperti itu….. kau senang?” Yoshiki hanya tidak sadar, walaupun di awal dia menggunakan nada penuh kecongkaan namun semua itu selalu berakhir dengan nada kehambaran. Rahangnya mengeras menahan gejolak emosi kecemburuan yang meluap-luap dalam dirinya. Beserta tangannya yang mengepal tanpa sadar, semuanya tidak bisa ia sembunyikan.
Hana menarik nafasnya berat. Beban di dalam dadanya seolah semakin memberat dan membuatnya kesusahan menampung oksigen sedari tadi. Sesak. Semua yang dikatakan Yoshiki seperti pedang yang menusuk setiap bagian tubuhnya, “ya. Aku senang Yoshiki-kun. Dia pria baik. Hari ini dia pulang tepat waktu dan membawa belanjaan. Sebuah kehidupan yang sederhana dan normal. Ketika aku meminta izin padanya untuk pergi mengantarkan ponselmu, dia khawatir, tentu saja aku berbohong padanya supaya diizinkan pergi, seharusnya aku tak melakukan itu.”
“Hn, jadi kau menyesal mengantarkan ponselku sekarang?”
Perempuan-yang-entah-siapanya-Yoshiki tadi kembali muncul dalam kepala Hana, “Yaaa… mungkin.”
“Nah, karena aku sudah memberikan ponsel Yoshiki-kun, dan aku tidak ingin membuat Keigo-kun khawatir karena lama menungguku,” Hana kembali mengangkat kepalanya dengan cepat, wajah ceria penuh senyum telah kembali seutuhnya pada wajahnya, “aku permisi. Maaf meng—”
GREEEP
Hana lengah. Yoshiki telah mengunci tubuhnya sekarang. Walaupun sedetik lalu pria itu masih di tempat duduknya, duduk dengan rapi dan elegan, sekarang pria itu telah benar-benar menguncinya. Memeluknya dengan erat dari arah belakang.
“Yoshiki-kun!” Pekik Hana terkaget.
“Pelacur.” Bisik Yoshiki dingin tepat pada telinga Hana.
“A-a-aaa—” Hana tak mampu memberikan balasan kata-kata apapun. Yoshiki telah menguasai tubuhnya. Nafas Yoshiki berhembus panas pada daerah lehernya, ditambah pegangan erat pada kedua tangannya seolah semakin mengisolasinya.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.