Kamis, 14 Mei 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 44]

CHAPTER 44: THE DEMON’S OFFER

“Berhenti!” Susah payah Hana meneriakan kalimat itu. Hana tidak akan bertindak sia-sia seperti berteriak minta tolong. Karena di dalam kantor Yoshiki, siapa yang akan peduli dan berani mendobrak masuk ke dalam kantor sang tuan?
Tapi Yoshiki tidak menggubris protes Hana sama sekali. Semakin Hana berusaha melepaskan diri darinya, semakin keras pula ia menahan Hana dalam rengkuhannya.
Dihirupnya dalam-dalam aroma aloe vera yang menguar dari setiap helaian rambut pendek wanitanya itu.
“Kau mengganti shampoomu, My Lady?”
Hana sedikit terkejut karena pria yang tengah memperlakukannya dengan kasar itu tengah bertanya padanya menggunakan nada yang sangat lembut, seolah mereka berdua dalam keadaan mabuk romansa.
“A-Aku menggunakan shampoo Keigo-kun.”
Dekapan yang setiap detik terasa semakin menekannya itu entah mengapa mendadak berhenti.
“Keigo-kun. Keigo-kun. Keigo-kun. Bisa kau berhenti menyebut nama si sialan itu? Lihat siapa yang ada di belakangmu My Lady. Suamimu. Kuroto Yoshiki. Jangan membuat kedudukanku menjadi lebih rendah darinya hanya karena dia adalah cinta pertamamu,” tidak ada nada sama sekali di setiap kalimat Yoshiki, semuanya terasa datar namun hal itu malah memberikan efek merinding tersendiri bagi Hana.
“AKKKH!” Hana terpekik kaget lantaran rambut pendeknya ditarik kasar.
“My Lady…” Yoshiki membisikkan panggilannya tepat di telinganya, begitu datar, namun sungguh terasa begitu mencekam, “boleh kupotong semua rambutmu? Aku muak mencium bau ini darimu.”
Hana tercekat bukan main mendengar kalimat Yoshiki barusan. Ia tau, suaminya akan selalu bertindak berlebihan dan di luar nalar, namun yang barusan benar-benar terdengar gila walau mungkin itu hanya sekedar kelakar.
“H-hentikan, Yoshiki-kun. I-ini gila…” Hana meringis setiap tarikan rambutnya dipererat Yoshiki.
“Hn…. Gila…” Yoshiki memberi jeda sejenak pada kalimatnya, “bukankah kau yang menyebabkanku seperti ini?”
“Aku!? Bagimana bisa!? Yoshiki-kun yang selalu menyembunyikan segalanya dariku! Dan semuanya itu terlalu mengerikan untuk didengar! Aku tau, Yoshiki-kun adalah Lucifer dan segalanya akan di luar nalar! T-tapi—”
“Memangnya kenapa kalau aku membunuh kedua orang tuamu? Lagipula ibumu memang gemar menyiksamu, ayahmu hanya peduli pada penelitian dan pekerjaannya. Memangnya kenapa jika aku menghancurkan keluarga Keigo Yasumoto dan mengirimnya pergi jauh darimu?”
“Tapi aku masih menyayangi kedua orang tuaku Yoshiki-kun! Dan perpisahan dengan Keigo-kun… membuatku semakin hilang arah saat itu!”
Seketika keduanya terbawa arus pertengkaran mulut.
“Ck…” Yoshiki melepaskan pegangan eratnya dan perlahan berjalan mundur memberikan jarak bagi Hana, “kau hanya milikku My Lady. Dia ancaman bagiku saat itu, tidak mungkin aku membiarkan kalian berdua saling berbagi perasaan bukan?”
Saat melihat kedua alis Yoshiki terangkat penuh penyesalan, emosi Hana perlahan menyurut. Apakah itu berarti pria di hadapannya ini cemburu saat itu?
“Dan… jika kau ingin… aku bisa membawamu bertemu kedua orang tuamu sekarang.”
“EH?” Hana tertegun seketika.
Apa yang barusan ia dengar? Bertemu kedua orang tuanya?
“A-apa maksudnya?”
“Mereka sedang menanggung dosa mereka sampai masa penghakiman tiba.”
“A-apa…” Hana shock, kedua matanya bergetar, “ berarti ayah dan ibu ada di—”
“Neraka.” Potong Yoshiki datar.
Tubuhnya lemas bagai tak bertulang, ia hanya bisa beringsut dan merasakan dinginnya lantai marmer kantor Yoshiki.
“B-bagaimana kabar mereka?”
“Entahlah, kau bisa tau jika kau melihat sendiri.”
“T-Tapi bagaimana bisa? Kedua orang tuaku saat taat beribadah!”
“Kau fikir hanya dengan taat beribadah mereka sudah memiliki kunci surga? Bagaimana dengan penyiksaan terhadapmu, anak mereka?”
Mulut Hana terngagah beberapa saat, berusaha menyuarakan hal yang sedari tadi ia tahan, “aku ingin bertemu mereka Yoshiki-kun!”
Yoshiki memberikan senyuman merendahkan kepada Hana, “kenapa tidak kau minta saja kepada si sialan cinta pertamamu itu?”
“Sebenarnya apa mau Yoshiki-kun? Yoshiki-kun sendiri yang menawarkan kalau Yoshiki-kun bisa mengantarkanku bertemu ayah dan ibu!”
‘Kembalilah ke sisiku!’ Ingin Yoshiki meneriakkan kalimat itu.
“Mauku… hmmm?” Yoshiki melipat kedua tangannya di depan dada. Sungguh pria itu dengan posenya dan stylenya beserta wajah tampannya itu benar-benar membuat setiap kaum hawa menahan nafas, tak terkecuali Hana.
Namn sebuah ketukan pintu menginterupsi keduanya.
“Ya?” Sahut Yoshiki dari dalam.
Dari balik pintu itu kembali muncul perempuan kucing garong yang hamper membuat Hana menahan kecemburuannya, “Tuan, anda mendapat undangan dari Sir Edward von Clayton.”
Edward von Clayton! Hana kembali menahan nafas mendengar nama itu. Siapa yang tidak kenal nama presiden pemasok persenjataan block Barat dalam perang di sisi bumi lain?
Hana menggelengkan kepalanya tidak percaya, Yoshiki Kuroto memang diluar nalarnya.
“Hn, kalau begitu kau ikut denganku dalam undangan Clayton,” ucap Yoshiki santai, santai yang absolut.

.

Hana hanya bisa mengigit kuku jari jempolnya. Berjalan dalam keheningan malam. Jam pada ponselnya menunjukkan pukul Sembilan malam. Ia tak menyangkan akan menghabiskan begitu banyak waktu menemui pria yang seharusnya tak ingin ia temui.
Tak bisa ia pungkiri betapa ia merindukan kedua orang tuanya. Sebagaimana anak pada umumnya, kesempatan langka dan gila ini benar-benar bisa menjadi peluang yang luar biasa.
Bertemu kedua orang tua yang telah meninggal, eh?
“Hana!”
Sebuah panggilan yang cukup menggema di tengah-tengah perumahan yang sepi itu cukup membangunkan Hana dari lamunannya.
“Keigo-kun…” cuit Hana lemah. Keigo Yasumoto, pria itu berdiri di ujung jalan dengan salah satu tangannya melambai.
“Kenapa lama sekali?” Rasa gundah dalam diri Hana seketika menguap dalam kedipan mata. Keigo Yasumoto benar-benar terlihat begitu hangat dengan senyumannya.
Hana tak bisa menahan diri untuk tidak berlari kea rah pria itu, “maaf! Aku keasikan ngobrol dengan temanku,” ia tak berkilah bukan? Ia benar-benar mengobrol dengan… mantan suami yang sekarang ia anggap sebagai temannya saja.
Pria yang jika di kampus menyandang sebagai dosen muda itu menghela nafas, “aku jadi khawatir, kalau-kalau kamu diserang oleh iblis.”
“Tidak kok, lihat, aku baik-baik saja sekarang!” Hana tersenyum lebar berusaha menenangkan sang pria yang kini menatapnya dengan kedua alis berkerut.
GREEBB!
Tak bisa menahan dirinya lagi, Keigo Yasumoto memeluk Hana. Memeluk begitu erat seolah takut kehilangan.
“Maaf, aku sangat takut untuk kehilanganmu lagi. Aku… Aku begitu lemah jika dibandingkan dengan Lucifer…”
“O-oh…” Hana tak bisa berkata-kata apapun lagi.
Krucuuukkk….
Rengekan dari perut Keigo lantas memaksanya melepaskan pelukannya.
Keduanya saling bertatapan dengan wajah memerah padam. Keigo yang malu dengan bunyi perutnya, dan Hana yang malu karena pelukan tiba-tiba Keigo.
“Keigo-kun belum makan?” Tanya Hana.
“Aku sudah membuat Kari malam ini, ayo kita makan sekarang!” Pemuda itu tersenyum renyah sembari menarik tangan Hana berjalan menuju apartemennya.
“Keigo-kun menungguku?” Hana hanya bisa mengekor di belakang punggung lebar Keigo.
“Tentu saja, tidak mungkin aku meninggalkanmu kan?” jawab Keigo polos. Namun jawaban itu cukup membuat sesuatu di dalam diri Hana menghangat. Memberikan wanita itu kebahagiaan tersendiri di tengah kegundahannya.
“….. Ck,” namun tidak bagi Kuroto Yoshiki yang diam-diam kembali mengikuti istrinya. Seluruh tubuhnya mendidih oleh amarah dari kecemburuan yang membuncah.

.

“Maaf Hana,” ucapan tiba-tiba Keigo di tengah makan siang bersama mereka membuat kepala hitam Hana terangkat untuk menatap wajah Keigo. Pria itu hanya mengudarakan sesuap nasi tanpa ada niat untuk memakannya.
“Eh? Ada apa Keigo-kun?”
“Aku sudah melaporkan keadaanmu pada rapat besar, namun keadaan markas pusat sedang kacau balau karena kekurangan personil setelah perang kemarin. Die groβen 5 memutuskan tidak bisa melakukan apapun terhadapmu lebih jauh, namun aku akan sangat bertanggung jawab atas keselamatanmu, aku janji!” Dilepaskannya sumpit dari tangannya untuk menggenggam kedua tangan Hana. Padangannya menatap Hana yakin bagai seorang kesatria yang siap melindungi sang putri.
Timbul tanda kemerahan tipis pada wajah Hana, “tidak apa-apa kok Keigo-kun, aku juga sebenarnya tidak ingin exorcist maupun pihak Yoshiki-kun untuk berperang kembali.”
“Eh kenapa? Dia iblis dan merupakan tugas exorcist untuk memusnahkan mereka!”
“Umm…” Hana hanya tidak bisa merespon apapun lagi.
“Hana… kamu… ragu? Jangan katakan kamu benar jatuh cinta pada iblis itu!?” Pegangan pada kedua tangan Hana mengerat tanpa sadar.
Demi apapun Hana memang sudah jatuh cinta pada Sang Raja Iblis alias Lucifer! Siapa juga yang tidak akan jatuh cinta pada pria tampan dengan segala kelebihannya itu?
Hana mengigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang jawaban apa yang akan ia berikan.
“Aku hanya tidak ingin ada korban jiwa dari pertempuran kalian…”
“Jika pengorbanan nyawa dibutuhkan untuk memusnahkan mereka para iblis, akupun pasti akan memberikannya Hana!”
“Tidak!” Sergah Hana seketika, ia menggenggam balik kedua tangan Keigo, “a-aku… aku tidak akan rela jika Keigo-kun harus pergi!”
Keigo terhenyak mendengar ucapan Hana, “aku akan jadi kuat, aku akan naik peringkat, dan akan kupastikan akan menyegel Lucifer!”
Hana hanya terdiam tak mampu mengungkapkan apapun lagi. Keigo sepertinya sangat membenci Yoshiki, lalu bagaimana ia bisa mendiskusikan soal Yoshiki memberi kesempatan baginya untuk bertemu kedua orang tuanya?
“Ayo lanjutkan makannya, kelasmu akan dimulai dua puluh menit lagi kan?”

.

“Lihat, setelah meninggalkan Kuroto-kun begitu saja, barusan dia makan bersama Yasumoto-sensei loh,” belum beberapa detik sejak Hana meletakan tasnya pada bangku paling belakang, tetapi para mahasiswi penggunjing sudah menembakkan gunjingan baru untuknya.
“Eh? Dia mencampakkan Kuroto-kun?” Perempuan yang lain menimpali seolah memanasi suasana.
“Benar. Buktinya Kuroto-kun masih mengenakkan cincin pernikahan mereka, sementara dia sudah tidak memakainya,” tanggap salah satu perempuan dengan memberikan nada jijik, “kasihan bukan Kuroto-kun yang sepertinya masih tidak bisa meninggalkan pernikahan seenaknya.”
“Memangnya apa sih yang dilihat Kuroto-kun dari perempuan jelek sepertinya? Sudah rambutnya pendek banget kayak cowok, sifatnya jelek pula!”
Sudah tidak tahan lagi, Hana dengan serampangan mendekati gerompolan perempuan itu, “hei, kalau kalian memiliki masalah denganku, kalian bisa ucapkan itu di depan wajahku. Jangan seperti pengecut yang hanya bisa berkata omong kosong bersama gerombolan sampah seperti ini!”
“Sa-sampah katamu?” Salah satu dari mereka meradang.
PLAAAKK!!
Sebuah tamparan melayang pada pipi tan Hana membuat pipi kanannya memerah.
“….” Kedua sapphire Hana bergetar. Seluruh organ di dalam tubuhnya seperti memanas oleh picuan barusan.
Bayang-bayang mengenai pembullyan yang dulu dialaminya seolah kembali datang menghantuinya. Mengisi kepala dan perasaannya oleh perasaan sakit yang tak kunjung berhenti. Bisikan demi bisikan gila mulai ia dengar.
‘Bunuh!’
‘Bunuh!’
Bagai kesetanan Hana meraih rambut perempuan yang telah berani menamparnya, menariknya sekuat tenaga sampai sang perempuan merintih kesakitan.
Kawanan itu tak tinggal diam saat salah satu rekan mereka dihajar sedemikian rupa. 4 orang yang lain berdatangan entah berusaha melepaskan Hana atau ikut menghajar Hana. Tapi Hana tak tinggal diam, ia dengan seluruh kekuatan yang ia punya bagai orang gila mengigit, menendang, memukul, dan melemparkan apapun.
Situasi benar-benar kacau sampai Hana tanpa sadar menendang salah satu dari mereka hingga kepalanya membentur dinding hingga pingsan. Sampai saat itu semuanya membatu di tempat. Bahkan para anggota kelas lain yang sedari tadi hanya bisa berdiri menjahui karena terlalu ganasnya perkelahian itu pun tak berani melakukan apapun.
“Dia pingsan…”
“Gawat kepalanya terbentur dinding sekeras itu, jangan-jangan mati?”
“Parah…”
Suara-suara bagai bisikan yang mengahncurkan telinga Hana itu tersud berdenging keras. Sementara para gerombolan itu menjadi panik karena salah satu teman mereka terkapar di lantai, Hana semakin ditekan oleh rasa takut kepada dirinya sendiri yang telah tanpa sadar melukai orangn sebegitu parahnya.
Pandangannya bergulir ke seluruh penjuru ruangan, mencari pertolngan mungkin, namun yang ia dapat malah tatapan kengerian dari segala tatapan mata. Tatapan mata yang seolah menganggapnya adalah monster paling mengerikan di Mukai bumi.
Hingga tatapannya bertemu dengan tatapan Yoshiki. Pria itu baru saja masuk ke dalam ruang kelas dengan tatapan datar.
Matanya terasa memanas, air mata mulai meluap pada pelupuk matanya.
Sakit.
Hal yang paling ia takutkan telah mendatanginya lagi. Selama ini ia telah berhasil bertahan, namun sekarang ia malah berontak dan membuat pembullynya celaka.
Hana takut. Ia terlalu takut jika perempuan itu meninggal. Ia harus bagaimana?
‘Yoshiki-kun!’
Betapa ingin Hana memeluk pria itu. Meletakan kepalanya pada dada bidang sang pria dan menangis semaunya melepas semua rasa sakit dan rasa takutnya.
Namun tentu saja Hana tak bisa melakukan hal itu, tubuhnya bergerak bangkit meninggalkan ruangan kelas dengan berlari bermaksud menyembunyikan tangisan yang ia sudah tak bisa tahan lagi.
“Bangsat! Jalang itu kabur!” Teriak salah satu pembully.
“Kejar! Kejar!” Teriak yang lain.
Para pria di kelas itu mengejar Hana dengan rasa keadilan dan ingin menghakimi yang menggebu. Tentu saja tidak perlu lebih dari 10 detik Hana sudah berhasil dibekuk dan diarahkan ke satuan keamanan kampus.
Hana meraung entah berusaha kabur dari bekukan manusia, atau… meraung berusaha kabur dari takdir yang seolah berkata ‘kau tidak akan bisa hidup jika bukan tanpa sang Lucifer, Kuroto Yoshiki.’
“….” Kepalan pada tangan Yoshiki semakin menguat begitu melihat wanitanya itu digelandang paksa.
Ia tidak suka. Ia tidak suka bagaimana tangan-tangan kotor manusia hina itu menyentuh dan menggeret paksa Hana.
Ia tidak bisa. Ia tidak bisa melihat Hana terlalu menderita seperti itu.
Namun ia akan bertahan. Lagipula sejak awal hatinya memang telah dingin, dengan kehadiran Hana saja ia menjadi hangat, namun jika wanitanya itu memutuskan untuk meninggalkannya lagi, bukan salahnya bukan jika hatinya kembali dingin?

.

“Hana!!” Teriakan panik Keigo Yasumoto menggema di dalam ruangan persegi serba putih milik Keamanan Kampus. Bagian belakang pakaian dinas yang dikenakan pria itu Nampak basah, membuktikan jika sang pria berlarian sepanjang jalan.
Namun yang namanya terpanggil hanya tertunduk lesu di sebuah kursi lipat. Poni dari rambut hitamnya menutupi sebagaian besar wajahnya.
“Yasumoto-sensei?” Seorang petugas keamanan kampus yang tengah menangani kasus itu sedikit kebingungan mendapati seorang dosen yang cukup nyentrik tiba-tiba muncul tanpa permisi.
“Ah maaf, aku hanya tidak sengaja mendengar pembicaraan mahasiswa yang kebetulan lewat membicarakannya. Membicarakan jika dia menghajar mahasiswi hingga tidak sadarkan diri dan sedang ditahan di sini,” tanpa peduli diizinkan masuk atau tidak dosen muda itu terus melangkah mendekati Hana.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.