CHAPTER 45: HOW IS OUR BLOOD BOND’S WORK
“Anda mengenal mahasiswi ini, Yasumoto-sensei?” Sang petugas Nampak kebingungan namun tak berniat mencegah tindakan gegabah Keigo sama sekali.
“Tentu saja! Dia anak didikku!” Jawab Yasumoto tegas.
“Benar, dia dari departemen yang sama dengan anda,” sang petugas mengamati kartu mahasiswa Hana.
“Yang jelas pak, ini pasti hanya sebuah kecelakaan! Atau jika tidak pasti salah satu mahasiswa itu yang membuat masalah dengan Hana!” Keigo hampir-hampir menggebrak meja.
“Tenang Yasumoto-sensei!” petugas berusia sekitar setengah abad itu Nampak kerepotan dengan sikap Keigo.
“Mana mahasiswi lain yang katanya bertengkar dengan Hana?”
“Mereka sedang menemani teman mereka yang tak sadarkan diri ke rumah sakit sensei.”
Selama Keigo dan sang petugas terus berdebat, Hana hanya bisa menundukkan kepalanya. Menyesali perbuatan yang telah ia perbuat. Menyesali betapa ia tak bisa menahan emosinya yang kacau balau.
Telinganya berdengung tak menentu. Detak jantungnya tak menurun sama sekali intensitas debarannya.
Sekarang seolah Hana mampu melihat bayangan dari dirinya tersenyum menyeringai lebar dalam kegelapan. Sosok lain yang seperti bersembunyi di dalam dasar diri Hana. Sosok yang dilahirkan dari kehidupannya yang tidak sekalipun mengecap kasih sayang.
‘Bagaimana rasanya membunuh musuhmu?’ Tanya sosok itu tanpa mengurangi seringainya.
Hana seolah ingin menertawakan dirinya sekarang. Lihat bukan? Kepalanya benar-benar telah mengacaukannya sampai-sampai ia melihat bayangan lain dari dirinya. Sepertinya ia sedang mengidap sejenis schizophrenia sekarang.
‘Kenapa setakut itu? Bukankah kamu dulu juga pernah? Membunuh pria yang hampir memperkosamu? Namun kamu bisa melupakan semuanya secepat itu. Kenapa? Apa karena alasannya Yoshiki-kun? Dengan adanya Yoshiki-kun kau bebas melakukan kejahatan semamumu, bebas meluapkan emosimu, namun sekarang, kau bersama si lemah Keigo. Keigo Yasumoto tidak akan pernah bisa memuaskan emosimu. Kau menyesal?’
Hana hanya bisa diam memperhatikan sekujur tubuhnya bergetar.
‘Ooooh kamu takut pada dirimu sekarang? Takut jika dirimu telah tertelan kegelapan dan menjadi iblis?’ Bayangannya itu seolah semakin menampilkan seringai terlebarnya.
‘Kasihan sekali dirimu Hana. Seorang yang terlihat ramah dan selalu tersenyum di luar namun benar-benar busuk di dalam. Lihatlah luka lamamu yang semakin lama semakin busuk itu. Kamu tidak akan bisa kabur dari masa lalumu. Karena memang seperti itulah kamu dibentuk. Pribadi yang keras kepada dirinya sendiri hanya karena demi menghindari permasalah yang akan timbul. Menyedihkan.’
‘Padahal kamu sudah punya Yoshiki-kun yang mampu mengimbangimu? Tapi kamu malah melepas kesempatan itu dan berusaha menjalin hubungan dengan manusia normal sekelas Keigo. Memangnya manusia busuk sepertimu pantas disejajarkan dengan Keigo yang begitu bersih?’
Suara bukaan pintu yang terdengar kasar sempat menyadarkan Hana dari lamunannya. Itu beberapa gerombolan mahasiswi yang menghancurkan harinya hari ini.
“Teman saya sampai pingsan pak! Dia ini kriminal! Penjarakan saja bila perlu!” Teriak mereka semakin merunyamkan masalah. Beberapa petugas keamanan lain bermunculan berusaha menenangkan.
“Tenang saudara-saudara. Tolong dijelaskan semuanya perlahan,” sang petugas berusaha menengahi.
“Jalang ini menendang temanku sampai kepalanya membentur dinding!”
“Jaga cara bicaramu! Kamu mahasiswi bukan?” Keigo jelas tidak akan terima jika Hana diteriaki sekasar itu.
“Hah? Anda ini siapa?”
“Aku dosen departemen kimia. Sebaiknya kamu gunakan Bahasa yang lebih baik. Malulah kepada dirimu!”
Suasana semakin menegang, “huh, bahkan sekarang sampai dosen membela jalang ini! Sebenarnya apa yang istimewa darinya?”
“Memangnya apa yang istimewa darimu? Hanya cecenguk yang bisa mengumpat diam-diam? Kau pikir dirimu cantik? Tapi Yoshiki-kun bahkan tidak melirik sedikitpun ke arahmu,” suara Hana tiba-tiba muncul di tengah-tengah perpecahan.
“APA!?” Sergah mereka tidak terima.
“Kalian berani menamparku bukankah itu berarti kalian sudah menyiapkan segala kemungkinan terburuk akibat hal itu. Temanmu hanya pingsan, belum mati.”
“Jalang ini!”
“Kalian berani berkata buruk di belakangku, tapi tidak di depanku. Pengecut tetaplah pengecut.”
“Sudah cukup Hana!” Kali ini suara emosi Keigo yang memuncak. “Aku ingin kamu minta maaf pada mereka supaya masalah ini selesai sekarang!”
“Tidak segampang itu sensei! Teman kami tidak sadarkan diri di rumah sakit sekarang!”
“Ah maaf, barusan rumah sakit mengabari jika teman anda sudah siuman. Penyebabnya hanya shock ringan saja. Tidak ada masalah apapun pada kepalanya.”
“Aku minta maaf mengenai temanmu. Tapi tetap saja kalian yang terlebih dahulu yang membuat masalah,” sembari membungkukkan badannya Sembilan puluh derajat Hana meninggalkan ruangan kemanan kampus tanpa memperdulikan Keigo yang menatapnya kecewa.
Baru beberapa saat Hana melangkah meninggalkan ruangan kemanan kampus, sudah saja ia bertemu dengan sosok yang membuat seluruh harinya hancur hari ini. Kuroto Yoshiki. Pria itu berdiri bersandar pada tembok dengan santainya meminum cola kaleng dari mesin penjual minuman di dektatnya.
Hana memincingkan matanya kesal. Pria itu hanya menatapnya dengan tatapan datarnya seperti tidak terjadi apapun.
“Kenapa membuat banyak kesalah pahaman? Kita sudah berakhir Yoshiki-kun! Kalau Yoshiki-kun masih mengenakan cincin itu semua orang akan terus menerorku! Apalagi semua perempuan yang mengagumi Yoshiki-kun!”
Cukup lama Hana menanti jawaban dari Yoshiki. Pria itu masih meneguk colanya. Seolah ia sedang ingin menggoda perempuan malang itu.
“Siapa yang mengatakan kita berakhir My Lady?”
“Aku yakin Yoshiki-kun tidak tuli. Bukankah aku yang telah mengatakannya? Kita sudah berakhir.”
Yoshiki terkekeh ringan. Kekehan yang cukup terdengar pelan itu seketika mengeras tanpa Hana ketahui mengapa. Seolah seluruh tempat menggema oleh tawa Yoshiki.
“Perjanjian darah kita adalah abadi My Lady. Sebuah ikatan yang lebih kuat daripada ikatan pernikahan manusia. Dan lagi, memangnya kau bisa hidup tenang tanpaku, My Lady?” Sebuah seringaian mengisi wajah tampan nan tak bercela Yoshiki.
DEG
Jantung Hana seperti sekuat tenaga memompa seluruh pasokan oksigen yang dimilikinya ke seluruh tubuh demi menjaga keseimbangan tubuhnya.
Bagian tergelap dalam dirinya seolah bersorak kemenangan saat ini.
Tangan-tangan perempuan berambut pendek itu bergetar dan mengepal bergantian.
Seluruh tubuhnya seolah menahan implus untuk tidak berlari menerjang dan memeluk pria itu. Meluapkan segala kesedihannya dan membiarkan dirinya terlelap dalam dekapan sang pria.
Tapi tidak bisa. Ia sudah memutuskan untuk mengambil jalan untuk memutus hubungannya dengan sang pria.
“Kenapa berusaha sekeras itu?” Sebuah kalimat sindiran terdengar, “My Lady… aku mengingatkanmu kembali. Kau bukanlah manusia biasa saat ini. Di dalam dirimu mengalir darahku.”
Hana ingin menutup kedua telinganya saat ini. Namun ia hanya bisa menundukkan kepalanya yang bergetar.
TEP
Sebuah tangan besar datang seolah menjawab permintaannya. Kedua tangan lembut itu menutupi kedua telinganya.
“Jangan dengarkan apa yang dikatakan iblis itu, Hana.”
“…. Ck.” Yoshiki reflex mendecak kesal begitu Keigo Yasumoto menampakkan batang hidungnya.
“Kami akan menemukan cara supaya Hana tidak lagi menjadi seperti kalian,” Pria berusia dua puluhan tahun itu berusaha melawan kalimat Yoshiki.
“Cara?” Namun Yoshiki tak akan mau kalah, ia tertawa merendahkan, “apa yang bisa dilakukan Exorcist yang sedang dalam tahap kehancuran?”
“Hancur…?” Namun sayangnya Keigo tak memahami apa maksud ucapan Yoshiki.
“Hn. Tentu saja kau tidak tau. Exorcist berlevel rendah tidak akan mendapat informasi seperti ini. Kuberitahu saja, kalian sudah berada di ambang kehancuran dan berusaha keras untuk memulihkan diri sekarang. Perang terakhir sudah menguras hamper setengah pasukan terbaik kalian. Beberapa titik penting baik markas maupun pusat penelitian telah kami libas habis. Kalian sekarang hanya bisa berharap jika Vatikan mampu mensupport materil maupun non materil.”
“A-apa…?”
“My Lady,” kali ini pandangan Yoshiki berpindah pada Hana, sebuah pandangan yang diberikan dari seorang pemimpin absolut segalanya, “tidak ada gunanya berada di samping pria lemah yang tidak mampu melindungimu, sebaiknya kau selesaikan bermain-mainmu ini, karena jika kau ingin membuatku cemburu, kau sudah melakukannya dengan baik.”
Hana tercengang oleh kalimat datar Yoshiki. Pria itu selalu mengucapkan kalimat-kalimat yang di luar nalarnya. Hana benar-benar tidak akan menyangka akan mendengarkan pengakuan kecemburuan Yoshiki bisa segamblang ini. Dan itu cukup membuat perasaannya goyah.
“Aku akan melindunginya! Dan aku bisa melindunginya!” Keigo tentu saja tidak akan pernah mau kalah.
Yoshiki hanya memberikan sebuah senyum mengejek sebelum akhirnya menghilang dari keduanya.
.
TEP
Sebuah coklat panas di dalam mug yang cukup penuh tersaji di depan Hana. Keigo Yasumoto sang pembuat coklat panas melepaskan celemeknya sebelum akhirnya duduk di depan Hana.
“Hujan badai lagi ya? Padahal seharusnya ramalan cuacanya cerah,” entah bermaksud meringankan suasana atau sekedar berbasa-basi Keigo membuka pembicaraan.
“Jangan-jangan ini perbuatan Yoshiki-kun lagi,” Hana menimpali setengah bercanda.
Keigo nampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya menjawab, “kalaupun memang ulahnya, iblis satu itu labil sekali. Tidak kusangka Lucifer akan seperti itu.”
Hana terkekeh pelan. Dirangkulkan permukaan tangannya pada mug yang masih mengalirkan panas itu. Memutar-mutar mugnya supaya tangannya bisa merasakan hangat yang merata.
“Memangnya Keigo-kun tidak takut?”
Sejenak Keigo terdiam. Entah memikirkan jawaban dari pertanyaan Hana atau sekedar tertelan oleh dirinya sendiri.
“…. Sejujurnya, setelah aku melaporkan pada markas cabang mengenai keberadaanmu sudah bersamaku…” kembali Keigo mengambil jeda, “mereka nampak murung, dan hanya berkata akan menyampaikan hal ini pada markas pusat. Aku tidak mengerti. Harusnya mereka lebih bersemangat karena kunci telah berada di jangkauan, tapi mereka sampai sekarang tidak melakukan apapaun. Ternyata perang kemarin benar-benar mampu melumpuhkan seluruh aspek exorcist.”
“Kunci? Ternyata Keigo-kun juga menganggapku sebagai alat ya? Astaga… sebenarnya apa gunanya aku hidup kalua hanya diperlakukan sebagai alat seperti ini,” guman Hana dengan diselangi tawa kecutnya.
“Tidak, bukan begitu,” merasa bersalah dengan pemilihan kalimatnya yang salah Keigo menginterupsi kalimat Hana.
“Hahaha… tidak apa-apa kok Keigo-kun. Aku setengah sarkas saja kok tadi,” Respon Hana terkekeh.
Keheningan cukup lama tercipta. Suara gaduh angin yang menerpa dinding-dinding kokoh dan kaca apartemenlah yang mengisi keheningan itu. Keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
“Hei, Keigo-kun….” Walaupun kembali membuka pembicaraan namun kepala Hana tidak mendongkan sama sekali. Kedua pandangannya sibuk mengamati pantulan dirinya yang tercetak pada coklat gelap yang masih mengeluarkan uap panas.
“Keigo-kun…. Tidak takut denganku?”
“Eh?” Keigo membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencerna pertanyaan Hana, bahkan otak cerdasnya tidak mampu ia gunakan untuk menjawab pertanyaan sesederhana itu.
“Keigo-kun tau kan? Aku sudah melakukan perjanjian darah dengan Yoshiki-kun. Aku bukan manusia lagi, dan mungkin tidak akan bisa hidup seperti manusia,” Hana bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Keigo yang masih mematung di kursinya, “Aku bisa saja menjadi salah satu penghancur kehidupan Keigo-kun , lagipula,” Tanpa ada persiapan Hana menduduki meja dan medekatkan wajahnya pada wajah Keigo begitu intens, “kenapa Keigo-kun mau menyelamatkanku?”
Kedua bola mata Keigo bergetar.
Hana hanya bisa melirik sayu kedua bola mata itu. Ia sepenuhnya mengerti. Keigo teman masa kecilnya ini hanya manusia biasa pada umunya. Ia hanya tak ingin menyakiti siapapun dan terlibat dengan siapapun saat ini. Kalaupun ia hancur, biarlah dirinya sendiri yang hancur. Tidak dengan orang lain. Tidak dengan Keigo.
Ia tidak sebodoh itu menyetujui proposal Keigo yang berkata ‘aku akan menyelamatkanmu dengan ini itu!’ Kenyataannya Keigo hanyalah Exorcist underated. Jangankan melawan Yoshiki yang bisa dibilang last boss, melawan iblis keroco pun Hana akan ragu.
“Karena aku menyayangimu Hana. Sejak dulu, setiap saat aku melihatmu aku selalu ingin melindungimu…” Walaupun berujar seperti itu, Keigo sedikit menundukkan kepalanya tidak berani menatap kedua mata Hana.
“Aku ini kotor Keigo-kun. Aku membenci diriku lebih dari siapapun yang membenciku. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku yang begitu egois dan seenaknya sendiri!”
GREB
Rasa hangat menyelimuti seluruh tubuh Hana. Pemuda dari masa kecilnya seolah menyalurkan kenyamanan dari pelukannya.
“Aku tidak peduli walaupun kau berpikir begitu. Aku akan selalu melindungimu bagaimanapun caranya.”
Air mata yang tak tertahan lagi perlahan mencair dan mengotori pipi Hana.
Usapan pada rambut pendek Hana dari tangan Keigo seolah semakin menenggelamkan dirinya dalam lautan kenyamanan.
“Percaya padaku, oke?” Hana bersumpah saat itu Keigo benar terlihat seperti seorang pangeran berkuda putih yang berusaha menyelamatkannya dari kegelapan.
Chu
Sebuah kecupan ringan tak terprekdiksikan mendarat indah pada kening Hana.
Bagai virus yang bekerja dengan kecepatan tinggi, wajah Hana memerah dalam sepersekian detik.
Berbagai pertanyaan seperti ‘memangnya aku ingin diselamatkan?’ hancur seketika. Hana tidak perlu menanyakan pertanyaan ini lagi sepertinya.
.
BRAAAK!!
Kursi yang Yoshiki gunakan bergerak mundur dengan kasar begitu terdorong oleh dirinya yang tiba-tiba bangkit begitu saja. Seluruh peserta rapat seketika menatapnya aneh.
“M-My Lord?” Tanya salah seorang peserta rapat yang kala itu merasa khawatir.
Seluruh tubuh Yoshiki meradang oleh gejolak emosi yang luar biasa. Tangannya yang menggenggam ponselnya bergetar, bahkan benda persegi itu sempat melorot dari pegangannya dan menghantam meja. Rahangnya mengeras bukan main. Isi kepalanya kacau balau.
Semua itu tidak lebih dikarenakan sebuah foto yang baru saja dikirimkan kepadanya dari pengawal yang selalu ia siapkan untuk memata-matai sang istri.
Namun ia dengan cepat kembali memiliki kendali atas dirinya. Ia tidak akan lepas kontrol lagi seperti yang lalu-lalu. Ia kembali menduduki kursinya yang hamper tertendang jauh olehnya.
“Lanjutkan kembali,” dengan datar dan tenang Yoshiki meminta rapat yang sempat tertunda oleh kekagetannya itu kembali berlanjut.
Suasana kembali kondusif. Namun tidak bagi Yoshiki. Kaki kanannya menghentak-hentak tak tentu. Bersyukur atas lantai karpet yang dipijaki Yoshiki sehingga suara hentakan sepatu pantofel hitamnya tidak kembali menginterupsi rapat.
“Kau milikku My Lady…” gumannya pelan entah pada siapa.
.
“Oh dosenmu adalah T-sensei untuk mata kuliah Fisika Dasar? Kudengar T-sensei banyak melakukan penelitian mengenai gempa loh.”
“Dan T-sensei itu kalau mengajar luar biasa random!” Protes Hana terhadap tuturan Keigo. Keduanya baru saja keluar dari area parkir dan menuju ruang kuliah.
SRET
Hana yakin waktu itu suduh matanya menangkap bayangan Yoshiki. Namun waktu berjalan seolah begitu cepat. Tiba-tiba Yoshiki sudah menguncinya di antara bangunan.
“Anda mengenal mahasiswi ini, Yasumoto-sensei?” Sang petugas Nampak kebingungan namun tak berniat mencegah tindakan gegabah Keigo sama sekali.
“Tentu saja! Dia anak didikku!” Jawab Yasumoto tegas.
“Benar, dia dari departemen yang sama dengan anda,” sang petugas mengamati kartu mahasiswa Hana.
“Yang jelas pak, ini pasti hanya sebuah kecelakaan! Atau jika tidak pasti salah satu mahasiswa itu yang membuat masalah dengan Hana!” Keigo hampir-hampir menggebrak meja.
“Tenang Yasumoto-sensei!” petugas berusia sekitar setengah abad itu Nampak kerepotan dengan sikap Keigo.
“Mana mahasiswi lain yang katanya bertengkar dengan Hana?”
“Mereka sedang menemani teman mereka yang tak sadarkan diri ke rumah sakit sensei.”
Selama Keigo dan sang petugas terus berdebat, Hana hanya bisa menundukkan kepalanya. Menyesali perbuatan yang telah ia perbuat. Menyesali betapa ia tak bisa menahan emosinya yang kacau balau.
Telinganya berdengung tak menentu. Detak jantungnya tak menurun sama sekali intensitas debarannya.
Sekarang seolah Hana mampu melihat bayangan dari dirinya tersenyum menyeringai lebar dalam kegelapan. Sosok lain yang seperti bersembunyi di dalam dasar diri Hana. Sosok yang dilahirkan dari kehidupannya yang tidak sekalipun mengecap kasih sayang.
‘Bagaimana rasanya membunuh musuhmu?’ Tanya sosok itu tanpa mengurangi seringainya.
Hana seolah ingin menertawakan dirinya sekarang. Lihat bukan? Kepalanya benar-benar telah mengacaukannya sampai-sampai ia melihat bayangan lain dari dirinya. Sepertinya ia sedang mengidap sejenis schizophrenia sekarang.
‘Kenapa setakut itu? Bukankah kamu dulu juga pernah? Membunuh pria yang hampir memperkosamu? Namun kamu bisa melupakan semuanya secepat itu. Kenapa? Apa karena alasannya Yoshiki-kun? Dengan adanya Yoshiki-kun kau bebas melakukan kejahatan semamumu, bebas meluapkan emosimu, namun sekarang, kau bersama si lemah Keigo. Keigo Yasumoto tidak akan pernah bisa memuaskan emosimu. Kau menyesal?’
Hana hanya bisa diam memperhatikan sekujur tubuhnya bergetar.
‘Ooooh kamu takut pada dirimu sekarang? Takut jika dirimu telah tertelan kegelapan dan menjadi iblis?’ Bayangannya itu seolah semakin menampilkan seringai terlebarnya.
‘Kasihan sekali dirimu Hana. Seorang yang terlihat ramah dan selalu tersenyum di luar namun benar-benar busuk di dalam. Lihatlah luka lamamu yang semakin lama semakin busuk itu. Kamu tidak akan bisa kabur dari masa lalumu. Karena memang seperti itulah kamu dibentuk. Pribadi yang keras kepada dirinya sendiri hanya karena demi menghindari permasalah yang akan timbul. Menyedihkan.’
‘Padahal kamu sudah punya Yoshiki-kun yang mampu mengimbangimu? Tapi kamu malah melepas kesempatan itu dan berusaha menjalin hubungan dengan manusia normal sekelas Keigo. Memangnya manusia busuk sepertimu pantas disejajarkan dengan Keigo yang begitu bersih?’
Suara bukaan pintu yang terdengar kasar sempat menyadarkan Hana dari lamunannya. Itu beberapa gerombolan mahasiswi yang menghancurkan harinya hari ini.
“Teman saya sampai pingsan pak! Dia ini kriminal! Penjarakan saja bila perlu!” Teriak mereka semakin merunyamkan masalah. Beberapa petugas keamanan lain bermunculan berusaha menenangkan.
“Tenang saudara-saudara. Tolong dijelaskan semuanya perlahan,” sang petugas berusaha menengahi.
“Jalang ini menendang temanku sampai kepalanya membentur dinding!”
“Jaga cara bicaramu! Kamu mahasiswi bukan?” Keigo jelas tidak akan terima jika Hana diteriaki sekasar itu.
“Hah? Anda ini siapa?”
“Aku dosen departemen kimia. Sebaiknya kamu gunakan Bahasa yang lebih baik. Malulah kepada dirimu!”
Suasana semakin menegang, “huh, bahkan sekarang sampai dosen membela jalang ini! Sebenarnya apa yang istimewa darinya?”
“Memangnya apa yang istimewa darimu? Hanya cecenguk yang bisa mengumpat diam-diam? Kau pikir dirimu cantik? Tapi Yoshiki-kun bahkan tidak melirik sedikitpun ke arahmu,” suara Hana tiba-tiba muncul di tengah-tengah perpecahan.
“APA!?” Sergah mereka tidak terima.
“Kalian berani menamparku bukankah itu berarti kalian sudah menyiapkan segala kemungkinan terburuk akibat hal itu. Temanmu hanya pingsan, belum mati.”
“Jalang ini!”
“Kalian berani berkata buruk di belakangku, tapi tidak di depanku. Pengecut tetaplah pengecut.”
“Sudah cukup Hana!” Kali ini suara emosi Keigo yang memuncak. “Aku ingin kamu minta maaf pada mereka supaya masalah ini selesai sekarang!”
“Tidak segampang itu sensei! Teman kami tidak sadarkan diri di rumah sakit sekarang!”
“Ah maaf, barusan rumah sakit mengabari jika teman anda sudah siuman. Penyebabnya hanya shock ringan saja. Tidak ada masalah apapun pada kepalanya.”
“Aku minta maaf mengenai temanmu. Tapi tetap saja kalian yang terlebih dahulu yang membuat masalah,” sembari membungkukkan badannya Sembilan puluh derajat Hana meninggalkan ruangan kemanan kampus tanpa memperdulikan Keigo yang menatapnya kecewa.
Baru beberapa saat Hana melangkah meninggalkan ruangan kemanan kampus, sudah saja ia bertemu dengan sosok yang membuat seluruh harinya hancur hari ini. Kuroto Yoshiki. Pria itu berdiri bersandar pada tembok dengan santainya meminum cola kaleng dari mesin penjual minuman di dektatnya.
Hana memincingkan matanya kesal. Pria itu hanya menatapnya dengan tatapan datarnya seperti tidak terjadi apapun.
“Kenapa membuat banyak kesalah pahaman? Kita sudah berakhir Yoshiki-kun! Kalau Yoshiki-kun masih mengenakan cincin itu semua orang akan terus menerorku! Apalagi semua perempuan yang mengagumi Yoshiki-kun!”
Cukup lama Hana menanti jawaban dari Yoshiki. Pria itu masih meneguk colanya. Seolah ia sedang ingin menggoda perempuan malang itu.
“Siapa yang mengatakan kita berakhir My Lady?”
“Aku yakin Yoshiki-kun tidak tuli. Bukankah aku yang telah mengatakannya? Kita sudah berakhir.”
Yoshiki terkekeh ringan. Kekehan yang cukup terdengar pelan itu seketika mengeras tanpa Hana ketahui mengapa. Seolah seluruh tempat menggema oleh tawa Yoshiki.
“Perjanjian darah kita adalah abadi My Lady. Sebuah ikatan yang lebih kuat daripada ikatan pernikahan manusia. Dan lagi, memangnya kau bisa hidup tenang tanpaku, My Lady?” Sebuah seringaian mengisi wajah tampan nan tak bercela Yoshiki.
DEG
Jantung Hana seperti sekuat tenaga memompa seluruh pasokan oksigen yang dimilikinya ke seluruh tubuh demi menjaga keseimbangan tubuhnya.
Bagian tergelap dalam dirinya seolah bersorak kemenangan saat ini.
Tangan-tangan perempuan berambut pendek itu bergetar dan mengepal bergantian.
Seluruh tubuhnya seolah menahan implus untuk tidak berlari menerjang dan memeluk pria itu. Meluapkan segala kesedihannya dan membiarkan dirinya terlelap dalam dekapan sang pria.
Tapi tidak bisa. Ia sudah memutuskan untuk mengambil jalan untuk memutus hubungannya dengan sang pria.
“Kenapa berusaha sekeras itu?” Sebuah kalimat sindiran terdengar, “My Lady… aku mengingatkanmu kembali. Kau bukanlah manusia biasa saat ini. Di dalam dirimu mengalir darahku.”
Hana ingin menutup kedua telinganya saat ini. Namun ia hanya bisa menundukkan kepalanya yang bergetar.
TEP
Sebuah tangan besar datang seolah menjawab permintaannya. Kedua tangan lembut itu menutupi kedua telinganya.
“Jangan dengarkan apa yang dikatakan iblis itu, Hana.”
“…. Ck.” Yoshiki reflex mendecak kesal begitu Keigo Yasumoto menampakkan batang hidungnya.
“Kami akan menemukan cara supaya Hana tidak lagi menjadi seperti kalian,” Pria berusia dua puluhan tahun itu berusaha melawan kalimat Yoshiki.
“Cara?” Namun Yoshiki tak akan mau kalah, ia tertawa merendahkan, “apa yang bisa dilakukan Exorcist yang sedang dalam tahap kehancuran?”
“Hancur…?” Namun sayangnya Keigo tak memahami apa maksud ucapan Yoshiki.
“Hn. Tentu saja kau tidak tau. Exorcist berlevel rendah tidak akan mendapat informasi seperti ini. Kuberitahu saja, kalian sudah berada di ambang kehancuran dan berusaha keras untuk memulihkan diri sekarang. Perang terakhir sudah menguras hamper setengah pasukan terbaik kalian. Beberapa titik penting baik markas maupun pusat penelitian telah kami libas habis. Kalian sekarang hanya bisa berharap jika Vatikan mampu mensupport materil maupun non materil.”
“A-apa…?”
“My Lady,” kali ini pandangan Yoshiki berpindah pada Hana, sebuah pandangan yang diberikan dari seorang pemimpin absolut segalanya, “tidak ada gunanya berada di samping pria lemah yang tidak mampu melindungimu, sebaiknya kau selesaikan bermain-mainmu ini, karena jika kau ingin membuatku cemburu, kau sudah melakukannya dengan baik.”
Hana tercengang oleh kalimat datar Yoshiki. Pria itu selalu mengucapkan kalimat-kalimat yang di luar nalarnya. Hana benar-benar tidak akan menyangka akan mendengarkan pengakuan kecemburuan Yoshiki bisa segamblang ini. Dan itu cukup membuat perasaannya goyah.
“Aku akan melindunginya! Dan aku bisa melindunginya!” Keigo tentu saja tidak akan pernah mau kalah.
Yoshiki hanya memberikan sebuah senyum mengejek sebelum akhirnya menghilang dari keduanya.
.
TEP
Sebuah coklat panas di dalam mug yang cukup penuh tersaji di depan Hana. Keigo Yasumoto sang pembuat coklat panas melepaskan celemeknya sebelum akhirnya duduk di depan Hana.
“Hujan badai lagi ya? Padahal seharusnya ramalan cuacanya cerah,” entah bermaksud meringankan suasana atau sekedar berbasa-basi Keigo membuka pembicaraan.
“Jangan-jangan ini perbuatan Yoshiki-kun lagi,” Hana menimpali setengah bercanda.
Keigo nampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya menjawab, “kalaupun memang ulahnya, iblis satu itu labil sekali. Tidak kusangka Lucifer akan seperti itu.”
Hana terkekeh pelan. Dirangkulkan permukaan tangannya pada mug yang masih mengalirkan panas itu. Memutar-mutar mugnya supaya tangannya bisa merasakan hangat yang merata.
“Memangnya Keigo-kun tidak takut?”
Sejenak Keigo terdiam. Entah memikirkan jawaban dari pertanyaan Hana atau sekedar tertelan oleh dirinya sendiri.
“…. Sejujurnya, setelah aku melaporkan pada markas cabang mengenai keberadaanmu sudah bersamaku…” kembali Keigo mengambil jeda, “mereka nampak murung, dan hanya berkata akan menyampaikan hal ini pada markas pusat. Aku tidak mengerti. Harusnya mereka lebih bersemangat karena kunci telah berada di jangkauan, tapi mereka sampai sekarang tidak melakukan apapaun. Ternyata perang kemarin benar-benar mampu melumpuhkan seluruh aspek exorcist.”
“Kunci? Ternyata Keigo-kun juga menganggapku sebagai alat ya? Astaga… sebenarnya apa gunanya aku hidup kalua hanya diperlakukan sebagai alat seperti ini,” guman Hana dengan diselangi tawa kecutnya.
“Tidak, bukan begitu,” merasa bersalah dengan pemilihan kalimatnya yang salah Keigo menginterupsi kalimat Hana.
“Hahaha… tidak apa-apa kok Keigo-kun. Aku setengah sarkas saja kok tadi,” Respon Hana terkekeh.
Keheningan cukup lama tercipta. Suara gaduh angin yang menerpa dinding-dinding kokoh dan kaca apartemenlah yang mengisi keheningan itu. Keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
“Hei, Keigo-kun….” Walaupun kembali membuka pembicaraan namun kepala Hana tidak mendongkan sama sekali. Kedua pandangannya sibuk mengamati pantulan dirinya yang tercetak pada coklat gelap yang masih mengeluarkan uap panas.
“Keigo-kun…. Tidak takut denganku?”
“Eh?” Keigo membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencerna pertanyaan Hana, bahkan otak cerdasnya tidak mampu ia gunakan untuk menjawab pertanyaan sesederhana itu.
“Keigo-kun tau kan? Aku sudah melakukan perjanjian darah dengan Yoshiki-kun. Aku bukan manusia lagi, dan mungkin tidak akan bisa hidup seperti manusia,” Hana bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Keigo yang masih mematung di kursinya, “Aku bisa saja menjadi salah satu penghancur kehidupan Keigo-kun , lagipula,” Tanpa ada persiapan Hana menduduki meja dan medekatkan wajahnya pada wajah Keigo begitu intens, “kenapa Keigo-kun mau menyelamatkanku?”
Kedua bola mata Keigo bergetar.
Hana hanya bisa melirik sayu kedua bola mata itu. Ia sepenuhnya mengerti. Keigo teman masa kecilnya ini hanya manusia biasa pada umunya. Ia hanya tak ingin menyakiti siapapun dan terlibat dengan siapapun saat ini. Kalaupun ia hancur, biarlah dirinya sendiri yang hancur. Tidak dengan orang lain. Tidak dengan Keigo.
Ia tidak sebodoh itu menyetujui proposal Keigo yang berkata ‘aku akan menyelamatkanmu dengan ini itu!’ Kenyataannya Keigo hanyalah Exorcist underated. Jangankan melawan Yoshiki yang bisa dibilang last boss, melawan iblis keroco pun Hana akan ragu.
“Karena aku menyayangimu Hana. Sejak dulu, setiap saat aku melihatmu aku selalu ingin melindungimu…” Walaupun berujar seperti itu, Keigo sedikit menundukkan kepalanya tidak berani menatap kedua mata Hana.
“Aku ini kotor Keigo-kun. Aku membenci diriku lebih dari siapapun yang membenciku. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku yang begitu egois dan seenaknya sendiri!”
GREB
Rasa hangat menyelimuti seluruh tubuh Hana. Pemuda dari masa kecilnya seolah menyalurkan kenyamanan dari pelukannya.
“Aku tidak peduli walaupun kau berpikir begitu. Aku akan selalu melindungimu bagaimanapun caranya.”
Air mata yang tak tertahan lagi perlahan mencair dan mengotori pipi Hana.
Usapan pada rambut pendek Hana dari tangan Keigo seolah semakin menenggelamkan dirinya dalam lautan kenyamanan.
“Percaya padaku, oke?” Hana bersumpah saat itu Keigo benar terlihat seperti seorang pangeran berkuda putih yang berusaha menyelamatkannya dari kegelapan.
Chu
Sebuah kecupan ringan tak terprekdiksikan mendarat indah pada kening Hana.
Bagai virus yang bekerja dengan kecepatan tinggi, wajah Hana memerah dalam sepersekian detik.
Berbagai pertanyaan seperti ‘memangnya aku ingin diselamatkan?’ hancur seketika. Hana tidak perlu menanyakan pertanyaan ini lagi sepertinya.
.
BRAAAK!!
Kursi yang Yoshiki gunakan bergerak mundur dengan kasar begitu terdorong oleh dirinya yang tiba-tiba bangkit begitu saja. Seluruh peserta rapat seketika menatapnya aneh.
“M-My Lord?” Tanya salah seorang peserta rapat yang kala itu merasa khawatir.
Seluruh tubuh Yoshiki meradang oleh gejolak emosi yang luar biasa. Tangannya yang menggenggam ponselnya bergetar, bahkan benda persegi itu sempat melorot dari pegangannya dan menghantam meja. Rahangnya mengeras bukan main. Isi kepalanya kacau balau.
Semua itu tidak lebih dikarenakan sebuah foto yang baru saja dikirimkan kepadanya dari pengawal yang selalu ia siapkan untuk memata-matai sang istri.
Namun ia dengan cepat kembali memiliki kendali atas dirinya. Ia tidak akan lepas kontrol lagi seperti yang lalu-lalu. Ia kembali menduduki kursinya yang hamper tertendang jauh olehnya.
“Lanjutkan kembali,” dengan datar dan tenang Yoshiki meminta rapat yang sempat tertunda oleh kekagetannya itu kembali berlanjut.
Suasana kembali kondusif. Namun tidak bagi Yoshiki. Kaki kanannya menghentak-hentak tak tentu. Bersyukur atas lantai karpet yang dipijaki Yoshiki sehingga suara hentakan sepatu pantofel hitamnya tidak kembali menginterupsi rapat.
“Kau milikku My Lady…” gumannya pelan entah pada siapa.
.
“Oh dosenmu adalah T-sensei untuk mata kuliah Fisika Dasar? Kudengar T-sensei banyak melakukan penelitian mengenai gempa loh.”
“Dan T-sensei itu kalau mengajar luar biasa random!” Protes Hana terhadap tuturan Keigo. Keduanya baru saja keluar dari area parkir dan menuju ruang kuliah.
SRET
Hana yakin waktu itu suduh matanya menangkap bayangan Yoshiki. Namun waktu berjalan seolah begitu cepat. Tiba-tiba Yoshiki sudah menguncinya di antara bangunan.
0 komentar:
Posting Komentar