CHAPTER 46: LEFT THE UNBEATEN CREATURE
“Lihat, siapa yang kemarin telah melewati batas?” Ucapan Yoshiki begitu dingin. Pria itu menatapnya dengan pandangan tanpa cahaya sama sekali. Onyx gelapnya yang sejak awal jarang bercahaya akhir-akhir ini itu terlihat semakin pekat saat itu.
“Lucifer!” Teriak Keigo setengah menahan amarahnya.
“Kau diam di tempatmu atau seluruh tubuhmu kuhancurkan dari dalam sekarang!” Perintah Yoshiki cepat. Tanpa sadar kedua bola matanya yang memincing emosi pada Keigo berubah menjadi Azure.
Hana juga tidaklah bodoh. Yoshiki benar-benar dalam keadaan termarahnya sekarang. Aura gila yang Yoshiki pancarkan tanpa sadar sepertinya mampu membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Hana tahu jika yang ada di hadapannya sudah lebih dari sekedar monster.
Entah ajaib atau memang karena charisma atau sesuatu dari diri Yoshiki, begitu pandangannya bertatapan dengan azure sang Lucifer tubuhnya benar-benar tidak bisa ia control untuk bergerak. Seolah semua implus yang dikirimkan dari otaknya tidak pernah sampai pada semua organ penggeraknya. Kaki tangannya bagai beku tak beraliran darah.
“A-apa maksud semua ini Yoshiki-kun?” Hana berusaha mati-matian menahan rasa takut yang seperti hampir mencekik lehernya.
“Haha…” Pria di hadapannya itu melayangkan tawa dingin yang benar-benar bisa mencubit seluruh permukaan kulitnya, “DI SINI AKU YANG BERTANYA MY LADY! KAU… KAU TELAH MELEWATI BATAS DENGAN SI SIALAN ITU!”
Hana tak mampu memberikan respon apapun selain memejamkan kedua matanya ketika Yoshiki meluapkan segala kemarahannya.
Kepalan pada tangan-tangan Yoshiki seolah semakin mengerat seraya buku-buku jarinya memutih, “kau milikku My Lady! Tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu selain aku! Kau milikku! Hanya milikku!”
Lagi-lagi tidak ada respon sama sekali dari mulut Hana yang ternganga tak tau akan berkata apa.
Tidak bisa menahan dirinya lebih lagi, diciumnya bibir tanpa perlindungan Hana. Sebuah ciuman yang menuntut dan memaksa ia lancarkan tanpa memperdulikan penolakan dari Hana. Ia tak peduli ketika tangan Hana berusaha mendorongnya menjauh.
Bersyukur oleh kebodohan Hana yang masih tidak bisa hidup tanpa asupan oksigen. Begitu merasa Hana hamper mati karena kehabisa nafas barulah Yoshiki melepaskan ciumannya.
“Yoshiki-kun kenapa sebenarnya!?” Kali ini Hana tak mau kalah marah.
“That fucking shit had kiss your goddamn forehead! Told you, you are mine!”
Tidak. Tunggu. Bukan saatnya kagum dengan aksen British yang digunakan Yoshiki ketika meluapkan kemarahannya dengan Bahasa inggris.
“Memangnya kenapa kalau Keigo-kun mencium keningku!?” Oh mungkin ini akan menjadi kali pertama Hana memprotes Yoshiki sedemikian intensnya?
“Ck!” Decakkan keras itu jelas terdengar pada telinga Hana.
“Lagipula Yoshiki-kun ini kenapa selalu mengetahui segalanya! Mengerikan! Menjijikkan! Berhenti menjadi stalker ku!”
“Haha….” Yoshiki menggunakan tangannya untuk mentupi wajahnya yang tengah sibuk tertawa, “My Lady, apa salahnya seorang suami ingin mengetahui segalanya tentang istrinya?” Tangannya sekarang berpindah mengusap pipi tan Hana, “lagipula…” suaranya terdengar menjadi lebih dingin dan datar.
“BERHENTI LUCIFER!!” Sebuah teriakan interupsi dari Keigo Yasumoto yang berusaha keras mengendalikan tubuhnya kembali.
“Hn… kau berisik sekali Keigo Yasumoto. Apakah sebaiknya kubuat mulutmu tak bisa digunakan selamanya?” Fokus Yoshiki beralih kepada sosok dosen muda yang masih kesusahan mengontol tubuhnya, “benar juga, bukankah dengan mulut itu kau seenaknya menyentuh milikku, eh?”
Tangan Yoshiki terjulur. Di ujung telapak tangan itu terkumpul sebuah aura pekat yang entah memiliki efek ap ajika mengenai suatu materi.
BRUGH
Pergerakkan Yoshiki terhenti begitu sesuatu memeluknya dari belakang. Itu Hana. Perempuan itu memeluknya dengan gemetaran.
“Jangan Yoshiki-kun. Kumohon. Jangan.” Bahkan nada bicara perempuan itu gemetaran.
Hana takut kepadanya?
“Aku akan lakukan apapun untuk Yoshiki-kun! Tapi jangan sakiti Keigo-kun!”
Oh sekarang terlihat dirinya adalah monster jahat yang berusaha merebut sang putri dari pangeran.
Namun detik berikutnya Hana menyesal dengan hal ceroboh yang ia ucapkan.
“Kalau begitu kembalilah padaku.”
Hana bisa melihat jelas ekspresi pria itu. Yoshiki hanya meliriknya dari arah samping namun entah mengapa ia bisa melihat jelas kesedihan dan keputusasaan dari sang pria.
“… Tidak… kalau itu…” Bagai menjilat kembali ludahnya Hana menundukkan kepalanya malu.
Yoshiki memejamkan kedua matanya sejenak. Entah menenangkan emosinya atau sekedar memikirkan solusi dari permasalahannya.
“Aku akan menjemputmu sore ini pukul 6 tepat. Hanya itu tawaran dariku. Kau menolak maka akan kupastikan mulut si sialan ini tidak bisa ia gunakan untuk mengunyah makanan esok pagi,” dengan begitu Yoshiki menghilang begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari Hana.
“Ugh… dasar iblis gila.”
“Keigo-kun tidak apa-apa?” Tanya Hana.
“Tidak. Hanya saja tadi tubuhku benar-benar seperti mati rasa. Padahal seharusnya kekuatannya tidak akan semudah itu digunakan mengingat kamu ada di dekatnya. Dia lemah kepadamu kamu tau,” Keigo memegangi salah satu lututnya yang entah mengapa tadi benar-benar kaku dan susah sekali digerakkan.
“Itu namanya karisma dasar manusia bodoh,” sebuah suara yang sangat familiar bagi Hana menginterupsi keduanya.
“Tomuro Arashi-kun!” Oh hampir saja Hana menerjang pria berambut merah itu serampangan, untung saja implus penahan dirinya kali ini bekerja dengan baik.
“Karisma? Dan lagi… siapa kamu?”
“Tidak heran kamu hanya exorcist underated,” Tomuro menghelakan nafasnya.
Tentu saja Keigo akan kesal. Tujuan Tomuro memanglah seperti itu. Sayangnya kekesalan Keigo tidak akan membuatnya serta merta melemparkan tas kerjanya begitu saja.
“Aku Tomuro Arashi. Wakil langsung My Lord,” ingin sekali Tomuro memberikan efek-efek api pada auranya ketika ia memperkenalkan diri. Sayangnya ia harus menahan diri mengingat ini adalah lingkungan publik.
Hana bisa melihat jelas ekspresi kesal dan kecewa Tomuro yang mirip anak kecil karena harus menahan diri.
“Iblis lain!?” Keigo reflex melompat ke samping Hana untuk melindungi perempuan itu dengan posisi kuda-kuda yang lucu.
“Kamu mau melindungi My Lady dengan kekonyolanmu itu? Asal kau tahu aku bisa menghancurkanmu kapan saja bila begitu. Jangan sombong hanya karena kamu berhasil selamat dari My Lord beberapa kali. Itu semua tidak lebih karena adanya My Lady yang tidak ingin kamu celaka.”
Tidak ada respon dari Keigo. Ia hanya berusaha menahan dirinya agar tak tersulut oleh sang iblis. Lagipula ia sedikit banyak menyadari jika dirinya pun menyetujui kalimat Tomuro.
“My Lady…. Berhentilah bertindak bodoh. Kali ini tidakan anda benar-benar lucu. Meninggalkan My Lord hanya untuk Bersama teman lucu anda ini? Yang benar saja,” Tomuro menatap Keigo tidak percaya.
“Terserah aku mau bersama siapapun. Lagipula aku sama sekali tidak ingin kembali pada pria yang menyimpan banyak rahasia dariku! Dia selalu seperti itu! Melakukan segalanya sesukanya! Tapi hanya sebagian kecil saja hal yang kutahu! Hubungan suami istri macam apa itu?”
Tomuro menghelakan nafasnya berat, “padahal jauh di lubuk hatimu kamu berteriak bahagia karena bisa lepas dari kedua orang tuamu yang bahkan tindakannya jauh melebihi iblis. Dasar munafik.”
Hana tersentak mendengar ucapan Tomuro. Ia tak bisa menyangkal kebenaran yang diucapkan Tomuro sama sekali.
“Omong-omong saya di sini hanya ingin mengatakan kepada anda sebaiknya anda datang pada acara nanti malam. Saat bulan purnama super moon yang hanya terjadi beberapa puluh tahun sekali.”
“Sebenarnya acara apa itu? Tidak mungkin aku menyerahkan Hana begitu saja kepada kalian para iblis!” Keigo yang sedari tadi seolah menjadi pemeran sampingan berusaha masuk ke dalam alur pembicaraan.
Tomuro hanya melirik dingin pada Keigo, seolah benar-benar merendahkan keberadaan Keigo, “acara apapun itu, My Lord tidak akan membiarkan My Lady terluka atau sejenisnya.”
“Bagimana aku bisa percaya itu?” Keigo mendesis tidak terima.
“My Lady apakah pernah My Lord membuatmu celaka?” Tomuro tanpa banyak basa-basi langsung menembak Hana, “kejadian di tebing ketika anda camp, kejadian di kolam renang, terlebih ketika serangan exorcist, pernahkah My Lord membiarkan anda celaka?”
“….” Hana terdiam tak merespon. Semua kejadian demi kejadian yang disebutkan oleh Tomuro berkelabatan cepat di dalam kepalanya.
Semuanya.
Bagaimana suaminya itu benar-benar sangat menjaga dan melindunginya. Ekspresi kekhawatiran dan ketakutan pria itu selalu Nampak ketika berusaha melindunginya. Bahkan Hana sangat tau jika pria itu benar-benar tulus ingin menyelamatkannya dari segala kejadian sial yang menimpanya.
“Anda sudah tau apa jawabannya My Lady, dan aku yakin jika yang menjadi suamimu adalah exorcist lucu ini kamu pasti sudah lama meninggalkan dunia ini,” ucap Tomuro setengah meledek.
“Tapi hidupnya juga tidak akan dalam bahaya jika tidak berhubungan dengan Lucifer itu!” Keigo yang mungkin tidak terima oleh ledekan terus menerus Tomuro akhirnya angkat bicara kembali.
“Dasar bodoh, Dia sudah menyegel setengah kekuatan My Lord dalam tubuhnya. Asal kau tau ada banyak iblis keroco yang bahkan berusaha menyerangnya untuk mengambil alih kekuatan My Lord. Tanpa berhubungan dengan My Lord pun sebenarnya hidupnya selalu berada di perbatasan hidup dan mati.”
“Ugh…” Keigo hanya bisa berguman kesal tak mampu menjawab lagi.
Mulut Hana tak mengeluarkan jawaban apapun. Hingga iblis berambut merah itu melompat pergipun Hana sama sekali tidak mengeluarkan klarifikasi terkait.
.
Setengah hari Hana habiskan hanya untuk memikirkan pukul 6 sore ini Yoshiki akan menjemputnya.
Acara apakah gerangan itu?
Walaupun wangi hamburger menguar di seluruh dapur dan tempat makan, nyatanya perut Hana sama sekali tak terangsang untuk merasa lapar sama sekali. Rasanya ia seperti ingin menertawakan dirinya saat ini.
“Cepat selesaikan makannya.”
Hana hanya bisa menatap Keigo tidak mengerti. Jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Bukankah ini terlalu sore untuk disebut makan malam?
“Sekarang baru pukul 4 sore loh Keigo-kun,” ucap Hana ragu.
“Iya, sebaiknya cepat. Pesawat kita pukul 5.30 sore. Selamat makan,” Keigo mempertemukan kedua tangannya sebelum melahap habis hidangan yang telah ia buat sejak setengah jam yang lalu.
“Pesawat!?” Sekarang Hana yang tidak akan bisa menikmati hidangan sebelum pertanyaan terbesarnya terjawab.
“Maaf saja Hana. Aku tidak akan membiarkan iblis itu kembali mengambilmu. Oleh sebab itu, kita akan kabur ke Meksiko.”
“T-Tunggu Keigo-kun! Y-Yoshiki-kun hanya mengajakku mengikuti suatu acara mala mini. Setelah itu aku akan kembali. Dan lagi kenapa Meksiko!?”
“Tidak ada jaminan iblis itu akan memulangkanmu! Dia licik Hana! Bisa-bisa semua ini adalah jebakan! Kenapa Meksiko… aku pernah cerita pernah dipindahkan ke tempat yang jauh kan? Itu sampai ke Meksiko. Aku punya rumah di Meksiko. Sementara kita akan mengasingkan diri.”
“Tapi….” Hana menatap hamburger yang seharusnya terlihat nikmat itu dengan tatapan enggan, bahkan ia hanya memainkan sendok garpunya di udara sekarang.
“Aku tahu. Kepindahan kita ke Meksiko tidak akan menghalangi iblis itu untuk terus mengejarmu. Tapi setidaknya akan mengulur waktu untuknya. Sisanya aku akan berusaha melobby exorcist untuk segera mengatur rencana.”
Hana bisa melihat tatapan kesungguhan dari kedua bola mata gelap pria itu. Ia ingin mengelak namun tatapan itu seolah memberi harapan untuknya.
Tunggu. Harapan?
Apakah ini berarti ia juga berharap untuk bisa lepas dari Yoshiki?
Dari Kuroto Yoshiki yang selama ini segala perbuatannya berhasil mencuri tidak hanya cintanya namun juga seluruh hidupnya?
.
Oleh sebab itu Hana telah berdiri di depan pintu masuk gerbang penerbangan menanti Keigo yang sedang mengurus administrasinya. Tudung jaket, topi, kacamata hitam, dan masker benar-benar membuatnya seperti sosok mencurigakan. Walau bersikeras untuk tampil senormal saja namun sayangnya Keigo benar-benar keras kepala kali ini.
“Maaf menunggu lama, ayo pesawat kita di gate sana. Keberangkatan kita sepertinya sedikit tertunda akibat badai di Meksiko. Tapi semoga tidak sampai lama.”
Hana hanya bisa mengangguk-angguk. Lagipula ini kali pertama ia pergi ke negara yang nun jauh di sana. Terakhir ia pergi ke luar negeri hanya ke Korea mengunjungi kerabat jauh ayahnya. Itupun sudah hampi 5 tahun lalu. “Omong-omong memangnya bagaimana pekerjaan Keigo-kun?” Kalimat itu tercetus begitu saja dari mulutnya.
“Aku sudah menghubungi bagian Tata Usaha untuk mengundurkan diri.”
Jawaban itu lantas membuat Hana terkejut setengah mati, “mengundurkan diri? Tunggu!”
“Aku bisa mencari pekerjaan lain di Meksiko kok. Jadi Hana tenang saja ya!” Keigo mengusap rambut Hana berusaha menenangkan perempuan itu.
“B-Bukan begitu… bagaimana dengan mahasiswa bimbingan Keigo-kun? Bukankah Keigo-kun juga merupakan dosen bimbingan paling terfavorit…?”
“Aku sudah menghubungi mereka untuk kuarahkan pada dosen pengganti, dan dosen yang menggantikanku juga tidak keberatan. Jadi tidak ada masalah kan? OK?”
“T-Tapi tetap saja!”
Hana tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Semua ini membuatnya semakin merasa bersalah saja. Ia tidak hanya mengacaukan kehidupan damai Keigo. Tetapi juga manusia-manusia di sekitar Keigo.
.
Yoshiki menarik lengan jasnya untuk melihat jelas waktu yang ditunjukkan oleh jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih dua puluh dan tidak ada pertanda keberadaan Hana akan muncul dari balik apartemen sederhana Keigo.
“….!”
Pikiran buruk mulai menghantuinya seiring berjalannya detikan waktu.
Ia sengaja menghentikan orang-orang yang biasa ia suruh untuk mengamati Hana untuk kejutan dirinya sendiri begitu menjemput Hana. Niatnya supaya rasa rindu di dalam dirinya bisa terbayar.
Tanpa menunggu lebih lama lagi ia berlari memasuki apartemen. Kakinya melangkah cepat menuju kamar apartemen milik Keigo. Dan tentu saja setelah gedoran beberapa kali pada pintu tidak akan ada siapapun yang membukakan pintu. Bahkan setelah ia berhasil membobol masuk ke dalam apartemen itu, yang ia dapatkan hanya tempat kosong tak berpenghuni.
Niatnya menambung rindu untuk bisa melepaskannya tak bisa terbayar. Siapa sangkah keputusannya itu membuatnya tertipu mentah-mentah seperti ini?
Tak habis pikir ia menghubungi segala sumber informasinya untuk melacak keberadaan perempuan berambut pendek itu. Dan untungnya belum habis lima menit pertama ia sudah mendapat informasi positif mengenai keberadaan istrinya. Jangan pernah sekalipun meremehkan jaringan informasi para iblis di dunia modern seperti ini.
“My Lord, My Lady dan Keigo Yasumoto memesan tiket pesawat menuju Meksiko dengan penerbangan malam ini dengan delay sampai pukul 7 malam.”
Yoshiki mematikan panggilan telepon dan menggenggam ponsel pintar itu seolah mampu meremukkannya.
“Mencoba kabur dariku, eh My Lady?”
“Lihat, siapa yang kemarin telah melewati batas?” Ucapan Yoshiki begitu dingin. Pria itu menatapnya dengan pandangan tanpa cahaya sama sekali. Onyx gelapnya yang sejak awal jarang bercahaya akhir-akhir ini itu terlihat semakin pekat saat itu.
“Lucifer!” Teriak Keigo setengah menahan amarahnya.
“Kau diam di tempatmu atau seluruh tubuhmu kuhancurkan dari dalam sekarang!” Perintah Yoshiki cepat. Tanpa sadar kedua bola matanya yang memincing emosi pada Keigo berubah menjadi Azure.
Hana juga tidaklah bodoh. Yoshiki benar-benar dalam keadaan termarahnya sekarang. Aura gila yang Yoshiki pancarkan tanpa sadar sepertinya mampu membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Hana tahu jika yang ada di hadapannya sudah lebih dari sekedar monster.
Entah ajaib atau memang karena charisma atau sesuatu dari diri Yoshiki, begitu pandangannya bertatapan dengan azure sang Lucifer tubuhnya benar-benar tidak bisa ia control untuk bergerak. Seolah semua implus yang dikirimkan dari otaknya tidak pernah sampai pada semua organ penggeraknya. Kaki tangannya bagai beku tak beraliran darah.
“A-apa maksud semua ini Yoshiki-kun?” Hana berusaha mati-matian menahan rasa takut yang seperti hampir mencekik lehernya.
“Haha…” Pria di hadapannya itu melayangkan tawa dingin yang benar-benar bisa mencubit seluruh permukaan kulitnya, “DI SINI AKU YANG BERTANYA MY LADY! KAU… KAU TELAH MELEWATI BATAS DENGAN SI SIALAN ITU!”
Hana tak mampu memberikan respon apapun selain memejamkan kedua matanya ketika Yoshiki meluapkan segala kemarahannya.
Kepalan pada tangan-tangan Yoshiki seolah semakin mengerat seraya buku-buku jarinya memutih, “kau milikku My Lady! Tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu selain aku! Kau milikku! Hanya milikku!”
Lagi-lagi tidak ada respon sama sekali dari mulut Hana yang ternganga tak tau akan berkata apa.
Tidak bisa menahan dirinya lebih lagi, diciumnya bibir tanpa perlindungan Hana. Sebuah ciuman yang menuntut dan memaksa ia lancarkan tanpa memperdulikan penolakan dari Hana. Ia tak peduli ketika tangan Hana berusaha mendorongnya menjauh.
Bersyukur oleh kebodohan Hana yang masih tidak bisa hidup tanpa asupan oksigen. Begitu merasa Hana hamper mati karena kehabisa nafas barulah Yoshiki melepaskan ciumannya.
“Yoshiki-kun kenapa sebenarnya!?” Kali ini Hana tak mau kalah marah.
“That fucking shit had kiss your goddamn forehead! Told you, you are mine!”
Tidak. Tunggu. Bukan saatnya kagum dengan aksen British yang digunakan Yoshiki ketika meluapkan kemarahannya dengan Bahasa inggris.
“Memangnya kenapa kalau Keigo-kun mencium keningku!?” Oh mungkin ini akan menjadi kali pertama Hana memprotes Yoshiki sedemikian intensnya?
“Ck!” Decakkan keras itu jelas terdengar pada telinga Hana.
“Lagipula Yoshiki-kun ini kenapa selalu mengetahui segalanya! Mengerikan! Menjijikkan! Berhenti menjadi stalker ku!”
“Haha….” Yoshiki menggunakan tangannya untuk mentupi wajahnya yang tengah sibuk tertawa, “My Lady, apa salahnya seorang suami ingin mengetahui segalanya tentang istrinya?” Tangannya sekarang berpindah mengusap pipi tan Hana, “lagipula…” suaranya terdengar menjadi lebih dingin dan datar.
“BERHENTI LUCIFER!!” Sebuah teriakan interupsi dari Keigo Yasumoto yang berusaha keras mengendalikan tubuhnya kembali.
“Hn… kau berisik sekali Keigo Yasumoto. Apakah sebaiknya kubuat mulutmu tak bisa digunakan selamanya?” Fokus Yoshiki beralih kepada sosok dosen muda yang masih kesusahan mengontol tubuhnya, “benar juga, bukankah dengan mulut itu kau seenaknya menyentuh milikku, eh?”
Tangan Yoshiki terjulur. Di ujung telapak tangan itu terkumpul sebuah aura pekat yang entah memiliki efek ap ajika mengenai suatu materi.
BRUGH
Pergerakkan Yoshiki terhenti begitu sesuatu memeluknya dari belakang. Itu Hana. Perempuan itu memeluknya dengan gemetaran.
“Jangan Yoshiki-kun. Kumohon. Jangan.” Bahkan nada bicara perempuan itu gemetaran.
Hana takut kepadanya?
“Aku akan lakukan apapun untuk Yoshiki-kun! Tapi jangan sakiti Keigo-kun!”
Oh sekarang terlihat dirinya adalah monster jahat yang berusaha merebut sang putri dari pangeran.
Namun detik berikutnya Hana menyesal dengan hal ceroboh yang ia ucapkan.
“Kalau begitu kembalilah padaku.”
Hana bisa melihat jelas ekspresi pria itu. Yoshiki hanya meliriknya dari arah samping namun entah mengapa ia bisa melihat jelas kesedihan dan keputusasaan dari sang pria.
“… Tidak… kalau itu…” Bagai menjilat kembali ludahnya Hana menundukkan kepalanya malu.
Yoshiki memejamkan kedua matanya sejenak. Entah menenangkan emosinya atau sekedar memikirkan solusi dari permasalahannya.
“Aku akan menjemputmu sore ini pukul 6 tepat. Hanya itu tawaran dariku. Kau menolak maka akan kupastikan mulut si sialan ini tidak bisa ia gunakan untuk mengunyah makanan esok pagi,” dengan begitu Yoshiki menghilang begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari Hana.
“Ugh… dasar iblis gila.”
“Keigo-kun tidak apa-apa?” Tanya Hana.
“Tidak. Hanya saja tadi tubuhku benar-benar seperti mati rasa. Padahal seharusnya kekuatannya tidak akan semudah itu digunakan mengingat kamu ada di dekatnya. Dia lemah kepadamu kamu tau,” Keigo memegangi salah satu lututnya yang entah mengapa tadi benar-benar kaku dan susah sekali digerakkan.
“Itu namanya karisma dasar manusia bodoh,” sebuah suara yang sangat familiar bagi Hana menginterupsi keduanya.
“Tomuro Arashi-kun!” Oh hampir saja Hana menerjang pria berambut merah itu serampangan, untung saja implus penahan dirinya kali ini bekerja dengan baik.
“Karisma? Dan lagi… siapa kamu?”
“Tidak heran kamu hanya exorcist underated,” Tomuro menghelakan nafasnya.
Tentu saja Keigo akan kesal. Tujuan Tomuro memanglah seperti itu. Sayangnya kekesalan Keigo tidak akan membuatnya serta merta melemparkan tas kerjanya begitu saja.
“Aku Tomuro Arashi. Wakil langsung My Lord,” ingin sekali Tomuro memberikan efek-efek api pada auranya ketika ia memperkenalkan diri. Sayangnya ia harus menahan diri mengingat ini adalah lingkungan publik.
Hana bisa melihat jelas ekspresi kesal dan kecewa Tomuro yang mirip anak kecil karena harus menahan diri.
“Iblis lain!?” Keigo reflex melompat ke samping Hana untuk melindungi perempuan itu dengan posisi kuda-kuda yang lucu.
“Kamu mau melindungi My Lady dengan kekonyolanmu itu? Asal kau tahu aku bisa menghancurkanmu kapan saja bila begitu. Jangan sombong hanya karena kamu berhasil selamat dari My Lord beberapa kali. Itu semua tidak lebih karena adanya My Lady yang tidak ingin kamu celaka.”
Tidak ada respon dari Keigo. Ia hanya berusaha menahan dirinya agar tak tersulut oleh sang iblis. Lagipula ia sedikit banyak menyadari jika dirinya pun menyetujui kalimat Tomuro.
“My Lady…. Berhentilah bertindak bodoh. Kali ini tidakan anda benar-benar lucu. Meninggalkan My Lord hanya untuk Bersama teman lucu anda ini? Yang benar saja,” Tomuro menatap Keigo tidak percaya.
“Terserah aku mau bersama siapapun. Lagipula aku sama sekali tidak ingin kembali pada pria yang menyimpan banyak rahasia dariku! Dia selalu seperti itu! Melakukan segalanya sesukanya! Tapi hanya sebagian kecil saja hal yang kutahu! Hubungan suami istri macam apa itu?”
Tomuro menghelakan nafasnya berat, “padahal jauh di lubuk hatimu kamu berteriak bahagia karena bisa lepas dari kedua orang tuamu yang bahkan tindakannya jauh melebihi iblis. Dasar munafik.”
Hana tersentak mendengar ucapan Tomuro. Ia tak bisa menyangkal kebenaran yang diucapkan Tomuro sama sekali.
“Omong-omong saya di sini hanya ingin mengatakan kepada anda sebaiknya anda datang pada acara nanti malam. Saat bulan purnama super moon yang hanya terjadi beberapa puluh tahun sekali.”
“Sebenarnya acara apa itu? Tidak mungkin aku menyerahkan Hana begitu saja kepada kalian para iblis!” Keigo yang sedari tadi seolah menjadi pemeran sampingan berusaha masuk ke dalam alur pembicaraan.
Tomuro hanya melirik dingin pada Keigo, seolah benar-benar merendahkan keberadaan Keigo, “acara apapun itu, My Lord tidak akan membiarkan My Lady terluka atau sejenisnya.”
“Bagimana aku bisa percaya itu?” Keigo mendesis tidak terima.
“My Lady apakah pernah My Lord membuatmu celaka?” Tomuro tanpa banyak basa-basi langsung menembak Hana, “kejadian di tebing ketika anda camp, kejadian di kolam renang, terlebih ketika serangan exorcist, pernahkah My Lord membiarkan anda celaka?”
“….” Hana terdiam tak merespon. Semua kejadian demi kejadian yang disebutkan oleh Tomuro berkelabatan cepat di dalam kepalanya.
Semuanya.
Bagaimana suaminya itu benar-benar sangat menjaga dan melindunginya. Ekspresi kekhawatiran dan ketakutan pria itu selalu Nampak ketika berusaha melindunginya. Bahkan Hana sangat tau jika pria itu benar-benar tulus ingin menyelamatkannya dari segala kejadian sial yang menimpanya.
“Anda sudah tau apa jawabannya My Lady, dan aku yakin jika yang menjadi suamimu adalah exorcist lucu ini kamu pasti sudah lama meninggalkan dunia ini,” ucap Tomuro setengah meledek.
“Tapi hidupnya juga tidak akan dalam bahaya jika tidak berhubungan dengan Lucifer itu!” Keigo yang mungkin tidak terima oleh ledekan terus menerus Tomuro akhirnya angkat bicara kembali.
“Dasar bodoh, Dia sudah menyegel setengah kekuatan My Lord dalam tubuhnya. Asal kau tau ada banyak iblis keroco yang bahkan berusaha menyerangnya untuk mengambil alih kekuatan My Lord. Tanpa berhubungan dengan My Lord pun sebenarnya hidupnya selalu berada di perbatasan hidup dan mati.”
“Ugh…” Keigo hanya bisa berguman kesal tak mampu menjawab lagi.
Mulut Hana tak mengeluarkan jawaban apapun. Hingga iblis berambut merah itu melompat pergipun Hana sama sekali tidak mengeluarkan klarifikasi terkait.
.
Setengah hari Hana habiskan hanya untuk memikirkan pukul 6 sore ini Yoshiki akan menjemputnya.
Acara apakah gerangan itu?
Walaupun wangi hamburger menguar di seluruh dapur dan tempat makan, nyatanya perut Hana sama sekali tak terangsang untuk merasa lapar sama sekali. Rasanya ia seperti ingin menertawakan dirinya saat ini.
“Cepat selesaikan makannya.”
Hana hanya bisa menatap Keigo tidak mengerti. Jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Bukankah ini terlalu sore untuk disebut makan malam?
“Sekarang baru pukul 4 sore loh Keigo-kun,” ucap Hana ragu.
“Iya, sebaiknya cepat. Pesawat kita pukul 5.30 sore. Selamat makan,” Keigo mempertemukan kedua tangannya sebelum melahap habis hidangan yang telah ia buat sejak setengah jam yang lalu.
“Pesawat!?” Sekarang Hana yang tidak akan bisa menikmati hidangan sebelum pertanyaan terbesarnya terjawab.
“Maaf saja Hana. Aku tidak akan membiarkan iblis itu kembali mengambilmu. Oleh sebab itu, kita akan kabur ke Meksiko.”
“T-Tunggu Keigo-kun! Y-Yoshiki-kun hanya mengajakku mengikuti suatu acara mala mini. Setelah itu aku akan kembali. Dan lagi kenapa Meksiko!?”
“Tidak ada jaminan iblis itu akan memulangkanmu! Dia licik Hana! Bisa-bisa semua ini adalah jebakan! Kenapa Meksiko… aku pernah cerita pernah dipindahkan ke tempat yang jauh kan? Itu sampai ke Meksiko. Aku punya rumah di Meksiko. Sementara kita akan mengasingkan diri.”
“Tapi….” Hana menatap hamburger yang seharusnya terlihat nikmat itu dengan tatapan enggan, bahkan ia hanya memainkan sendok garpunya di udara sekarang.
“Aku tahu. Kepindahan kita ke Meksiko tidak akan menghalangi iblis itu untuk terus mengejarmu. Tapi setidaknya akan mengulur waktu untuknya. Sisanya aku akan berusaha melobby exorcist untuk segera mengatur rencana.”
Hana bisa melihat tatapan kesungguhan dari kedua bola mata gelap pria itu. Ia ingin mengelak namun tatapan itu seolah memberi harapan untuknya.
Tunggu. Harapan?
Apakah ini berarti ia juga berharap untuk bisa lepas dari Yoshiki?
Dari Kuroto Yoshiki yang selama ini segala perbuatannya berhasil mencuri tidak hanya cintanya namun juga seluruh hidupnya?
.
Oleh sebab itu Hana telah berdiri di depan pintu masuk gerbang penerbangan menanti Keigo yang sedang mengurus administrasinya. Tudung jaket, topi, kacamata hitam, dan masker benar-benar membuatnya seperti sosok mencurigakan. Walau bersikeras untuk tampil senormal saja namun sayangnya Keigo benar-benar keras kepala kali ini.
“Maaf menunggu lama, ayo pesawat kita di gate sana. Keberangkatan kita sepertinya sedikit tertunda akibat badai di Meksiko. Tapi semoga tidak sampai lama.”
Hana hanya bisa mengangguk-angguk. Lagipula ini kali pertama ia pergi ke negara yang nun jauh di sana. Terakhir ia pergi ke luar negeri hanya ke Korea mengunjungi kerabat jauh ayahnya. Itupun sudah hampi 5 tahun lalu. “Omong-omong memangnya bagaimana pekerjaan Keigo-kun?” Kalimat itu tercetus begitu saja dari mulutnya.
“Aku sudah menghubungi bagian Tata Usaha untuk mengundurkan diri.”
Jawaban itu lantas membuat Hana terkejut setengah mati, “mengundurkan diri? Tunggu!”
“Aku bisa mencari pekerjaan lain di Meksiko kok. Jadi Hana tenang saja ya!” Keigo mengusap rambut Hana berusaha menenangkan perempuan itu.
“B-Bukan begitu… bagaimana dengan mahasiswa bimbingan Keigo-kun? Bukankah Keigo-kun juga merupakan dosen bimbingan paling terfavorit…?”
“Aku sudah menghubungi mereka untuk kuarahkan pada dosen pengganti, dan dosen yang menggantikanku juga tidak keberatan. Jadi tidak ada masalah kan? OK?”
“T-Tapi tetap saja!”
Hana tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Semua ini membuatnya semakin merasa bersalah saja. Ia tidak hanya mengacaukan kehidupan damai Keigo. Tetapi juga manusia-manusia di sekitar Keigo.
.
Yoshiki menarik lengan jasnya untuk melihat jelas waktu yang ditunjukkan oleh jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih dua puluh dan tidak ada pertanda keberadaan Hana akan muncul dari balik apartemen sederhana Keigo.
“….!”
Pikiran buruk mulai menghantuinya seiring berjalannya detikan waktu.
Ia sengaja menghentikan orang-orang yang biasa ia suruh untuk mengamati Hana untuk kejutan dirinya sendiri begitu menjemput Hana. Niatnya supaya rasa rindu di dalam dirinya bisa terbayar.
Tanpa menunggu lebih lama lagi ia berlari memasuki apartemen. Kakinya melangkah cepat menuju kamar apartemen milik Keigo. Dan tentu saja setelah gedoran beberapa kali pada pintu tidak akan ada siapapun yang membukakan pintu. Bahkan setelah ia berhasil membobol masuk ke dalam apartemen itu, yang ia dapatkan hanya tempat kosong tak berpenghuni.
Niatnya menambung rindu untuk bisa melepaskannya tak bisa terbayar. Siapa sangkah keputusannya itu membuatnya tertipu mentah-mentah seperti ini?
Tak habis pikir ia menghubungi segala sumber informasinya untuk melacak keberadaan perempuan berambut pendek itu. Dan untungnya belum habis lima menit pertama ia sudah mendapat informasi positif mengenai keberadaan istrinya. Jangan pernah sekalipun meremehkan jaringan informasi para iblis di dunia modern seperti ini.
“My Lord, My Lady dan Keigo Yasumoto memesan tiket pesawat menuju Meksiko dengan penerbangan malam ini dengan delay sampai pukul 7 malam.”
Yoshiki mematikan panggilan telepon dan menggenggam ponsel pintar itu seolah mampu meremukkannya.
“Mencoba kabur dariku, eh My Lady?”

0 komentar:
Posting Komentar