Sabtu, 01 September 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 20]

CHAPTER 20: REVENGE

“Ternyata meninggalkanmu sendirian memang hal yang buruk,” bahkan dalam sebuah rekaman pun aura intimidasi dari Yoshiki masih terasa.
Tubuh Yoshiki yang awalnya duduk bersandar pada sofa dan kakinya ia silangkan, mulai melepaskan semua sikapnya dan mencondongkan wajahnya, “my lady, kejahatan terbesarmu adalah melupakanku, berpaling dariku, dan meninggalkanku.”
Kembali Yoshiki menyandarkan dirinya pada sofa, “my lady… kau itu… milikku.”
Hana tercekat karena mendadak ia merasakan tatapan menusuk dari kedua bola mata kelam Yoshiki.
Sejenak Yoshiki terdiam sebelum ia kembali melanjutkan kalimatnya, “walaupun untuk saat ini ragaku tak bisa menjangkaumu, dengan kuasaku aku bias menghancurkan siapapun yang merebutmu dariku, bahkan aku tidak keberatan jika harus mengurungmu dalam kegelapan jika situasinya memaksa.”
Bulu roma Hana menegang detik itu juga. Ia sempat merasakan aura membunuh tanpa keragu-raguan di sana.
Lalu sebuah seringai terukir pada bibir tipis Yoshiki, “kau ketakutan My Lady?”
Yoshiki bisa menebak dengan tepat.
Seringai itu berganti menjadi sebuah senyuman tipis yang mampu membuat siapapun tersipu karenanya, “oleh sebab itu My Lady, tetaplah menjadi istri yang baik hingga aku kembali.”
Hana melepaskan nafas berat begitu video tersebut berada pada detik terakhirnya.


“Apa? Sosok Lucifer terlihat di dalam mansionnya?” Seorang penjaga yang kala itu ikut memantau proses penyiksaan Kuroto Yoshiki sedikit menatap tidak percaya pada sang pembawa pesan.
“Informasi ini memang belum diresmikan, tapi kalian selaku penanggung jawab Lucifer setidaknya harus tahu soal ini terlebih dahulu. Bisa tolong beritahukan hal ini pada S-8?” Sang pembawa pesan membisikan kalimatnya. Berjaga agar sosok di dalam jeruji sinar UV itu tidak mendengar kalimatnya.
Arashi Tomuro dengan penyamaran sebagai Kuroto Yoshiki a.k.a masih terantai di tengah-tengah pancaran sinar UV. Tubuhnya hancur. Bahkan bisa dibilang keadaannya benar-benar tidak seperti ‘manusia’. Tulang-tulang tangan dan kakinya yang patah menekuk kea rah yang berlawanan. Tulang rusuknya remuk membuat dadanya tak berbentuk. Lubang di perutnya pun terus-terusan memancurkan cairan-cairan berwarna merah.
Bukan hal yang aneh karena memang dirinya bukanlah manusia. Tetapi iblis. Ia tidak akan mati semudah itu hanya karena kekerasan fisik. Lagipula dirinya saat ini adalah Lucifer. Akan sangat memalukan jika Lucifer tumbang hanya karena hal kecil seperti ini.
“Ada apa?”
Tomuro dengan kesadarannya perlahan bisa mendengar sedikit bisikan dari S-8. Jika kekerasan fisik saja bukanlah masalah. Tetapi kabar buruk selalu muncul, alat-alat penyiksa yang ia rasakan selalu memiliki sihir untuk merusak sel-sel iblisnya yang jauh lebih kuat dari manusia.
‘Sialan. Sebenarnya siapa yang sudah membuat alat-alat gila ini?’ Tomuro tidak yakin sudah berapa kali ia mengumpatkan hal semacam ini walau dalam hati saja.
“Lucifer terlihat di kediamannya? Kau yakin dengan berita itu?”
‘Oh?’
Tomuro menyeringai lebar. Sepertinya ini adalah kode tidak langsung baginya untuk mengakhiri misi menyamarnya ini.
“Baiklah, baiklah.”
Tomuro mendongkakkan kepalanya yang terasa berat. Berusaha mengamati ekspresi kelicikan yang saat ini menguasai wajah rupawan khas Asia S-8.
“Siapa sangka H-5 akan membuat kesalahan fatal?”
Tomuro masih memperhatikan gerak-gerik aneh S-8.
“Alat-alat aneh buatannya sama sekali tidak berfungsi mendeteksi Lucifer sekalipun!” Dilemparnya sebuah alat yang sedari tadi digunakannya untuk menyiksa ‘sosok’ Lucifer di hadapannya.
‘Jadi pembuatnya H-5. Seleranya jelek sekali,’ Tomuro kembali menggerutu.
“Nah, sebaiknya apa yang akan kita lakukan pada Lucifer palsu ini?” S-8 kembali menyeringai.
“Wah, ketahuan?” Tomuro dengan berani kembali menggunakan suaranya.
“Matikan sinar UV ini. Kita akan lihat siapa sebenarnya di balik wajah tampan Lucifer!”
Begitu sinar keunguan yang menyinari sekeliling Tomuro memudar, S-8 melangkahkan kakinya maendekati tubuh hancur Tomuro.
“Ohh, kalian menggunakan penyamaran Tradisional. Pantas saja alat bodoh H-5 tidak bisa mendeteksi,” S-8 nampak sedikit menundukkan dirinya saat menyadari ada sedikit kelupasan kulit pada leher Tomuro.
BREEEEET
Penyamaranpun terbongkar.
“Arashi Tomuro, benar?” S-8 yang berhasil mengungkap jati diri Lucifer palsu pun tersenyum lebar.
“Te-ternyata benar. Harus segera mengkabarkan ini pada Y-1!” Sang pembawa pesan segera berlari keluar.


Sementara itu, Kuroto Hana tetap terdiam di bangkunya walaupun bel pertanda istirahat pertama telah bergema. Hanya menatap ponselnya dalam kesunyian di balik bisingnya ruang kelas.
“Hana, mau ikut makan?” Yui dengan tepukannya pada bahu Hana, berhasil membawa Hana keluar dari lamunannya.
“Oh, Yui, tentu aku akan ikut. Tapi aku harus ke kantin dulu.”
“Kalau begitu cepatlah. Roti Soba favoritmu akan segera habis.”


“Semua kepala prajurit segera menghadap ke aula utama,” sebuah suara bernada berat dan gelap tiba-tiba bergema dari balik serambi pintu-pintu di sebuah bangunan tradisional Jepang.
Seluruh kepala prajurit yang kala itu tengah duduk di dalam ruangan seketika mengenali siapa pemilik suara itu. Dengan serentak mereka menjawab, “Yes, My Lord!”


Yosef Strauss dengan segala kegundahan di dalam hatinya melangkah memasuki ruang ‘penyiksaan’.
“Jadi kabar itu be—“ Kalimat pemuda itu terpotong begitu saja saat kedua bola matanya bertemu sosok Tomuro yang terantai. Bukan Kuroto Yoshiki. Bukan Lucifer.
Tomuro tidak bisa menahan lagi seringainya yang melebar. Walaupun seluruh pipinya terasa sakit luar biasa akibat siksaan-siksaan yang menerpanya.
“Yo! Tuan peringkan 1! Apa kabar?” Nada congkak keluar dari bibir Tomuro.
“Apa bukan dia sedang menyamar menjadi bawahannya?” Yosef Strauss masih tak mempercayai berita yang ia dengar. Ia mendekat ke arah Tomuro dan memeriksa setiap inchi tubuh babak belur Tomuro.
“Itu tidak mungkin. Dia menyamar secara tradisional sebagai Lucifer,” Seong Shi-Woo menyahuti dari arah belakang.
“Kau sangat yakin S-8?” Yosef menoleh dengan kegundahan.
“Dia bukan Lucifer,” Shi-Woo menjawab mentap.
“Tch!” Yosef segera bergegas meninggalkan ruangan.
Dari balik bola mata hitamnya, Shi-Woo tetap mengamati punggung Yosef hingga menghilang.
“Jadi, apa Lucifer akan datang menjemputmu hey bawahan?” Shi-Woo menatap Tomuro.
“Hmm… tidak mungkin My Lord akan datang menjemputku. Abaikan saja aku, sebaiknya kalian lebih bersiap diri,” bahkan di tengah rasa sakitnya Tomuro tidak bisa berhenti cekikikan.
Shi-Woo hanya menunjukkan wajah bingung.
“My Lord luar biasa marah loh,” celetuk Tomuro.


“Hana kau itu kenapa sih? Di kelas diam, makan pun diam! Kamu hamil?” Tetapi di sebuah atap sekolah, seorang gadis berambut putihlah yang berceletuk.
“BUUUUHH—“ Dua mulut dari empat menyemburkan makanan yang sedang mereka kunyah seketika.
“S-Shiro?” Maki sweatdrop.
“Makan memang sebaiknya diam Shiro, atau kau akan tersedak!” Yui mengomeli kalimat kasar Shiro. Tetapi walaupun begitu, apa yang dikatakan Shiro memang benar. Hana yang biasa kecerewetannya dan keceriannya berada tepat di bawah Shiro sekarang malah diam seribu bahasa.
“Hey, ada yang ingin kudiskusikan dengan kalian?” Tiba-tiba saja Hana bicara dengan nada yang berbeda dari biasanya. Apalagi Hana mengunyah roti melon biasa saja. Padahal biasanya Hana akan terus mengeluh karena gagal mendapat roti Soba. Sepertinya kondisi saat ini sangat mengerikan.
Yui sedikit meneguk ludahnya, “apa itu?”
“Apa yang harus kulakukan atas kesalahanku?”
Sekarang Yui yakin jika masalah Hana nampaknya tergolong berat.
Yui menghela nafas berat, “ceritakan saja pelan-pelan, setelah istirahan kan jam pelajaran Jepang Modern, aku yakin guru itu akan pergi entah ke mana lagi.”
Maki menatap Hana dengan anggukan.
Hana tersenyum tipis sebelum memulai ceritanya, “aku memiliki seorang—“


Tidak ada yang perlu memgetahui alasan atau cara bagaimana bisa pemimpin tertinggi mereka—raja mereka—bisa ada di hadapan mereka setelah terklaim jika sang raja tertangkap musuh. Tapi setiap=setiap pribadi yang saat itu telah membawa peralatan perangnya, telah terlampau yakin, jika sosok pria yang berdiri di atas podium itu adalah raja mereka. Kuroto Yoshiki, sang Lucifer.
“M-My Lord kembali! Astaga! Bahkan ketampanannya nampak berkali-kali lipat sekarang!” Beberapa prajurit hawa yang memandangi dari bawah pun tak bisa henti-hentinya terpesona menatap sang raja yang tengah berdisukusi dengan penasehat perangnya.
“Baju kerajaan memang sangat cocok dengan My Lord astaga!” Teriakan yang lain menyambut.
Kuroto Yoshiki yang terbalut sutra kerajaannya menatap ke arah seluruh prajuritnya dan berujar, “hari ini kita hancurkan Exorcist!”
“YES! MY LORD!” Serentak ribuan pasukan itu merespon perintah raja mereka.
‘Ayo hancurkan. Hancurkan mereka yang telah membuat keadaan sialan ini. Hancurkan mereka yang berusaha merebut milikku!’
“DS-23, AD-48, dan XO-01 sebagai tim penyergap dan beberapa naga yang baru datang segera menuju pangkalan!”
Pengarahan demi pengarahan dari penasehat perang terus diumumkan. Tidak ada satu iblispun yang berdiam diri.


 “LUCIFEEEEEERRR!!” Yosef Strauss tidak bisa menahan emosinya.
Di kala ia benar-benar kebingungan dan mencari segala kemungkinan kenapa Lucifer bisa bertukar dengan Tomuro Arashi, segerombolan iblis datang menyerang markas utama tanpa peringatan.
“Y-1 KITA HARUS SEGERA MENGEVAKUASI PENDUDUK SIPIL SESEGERA MUNGKIN!”
“Y-1 NAMPAKNYA PARA IBLIS MENDATANGI SELURUH MARKAS PUSAT!”
“KITA KEHILANGAN KONTAK DENGAN MARKAS PUSAT DI TOKYO!”
Yosef Strauss mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku memutih.
“M-Maaf Y-1, aku seharusnya…” Hilda yang merasa semua ini adalah kesalahannya berujar lemah.
“Bukan. Ini kebodohkanku!” Bahkan urat-urat nadi di sekitar lehernya menegang.
“Y-1 semua pekerja telah di ungsikan. Selanjutnya bagaimana?” Michaelis dengan raut wajah kebingungan mendatangi Yosef.
“Kita berikan Arashi Tomuro,” sahut Yosef lemah.
“Apa!?” Setiap orang yang ada di ruangan itu menganga atas jawaban Yosef.
“Kita tidak boleh merusuh di negara ini. Setelah urusan kita selesai di sini, kita harus segera kembali ke negara kita masing-masing dan mengambil alih markas pusat. Aku tidak menyangka… jika Lucifer akan semarah ini,” Yosef hanya bisa berujar lemah sementara ponselnya terus menampilkan statistik kehancuran yang dilakukan oleh pasukan Lucifer.


“Dan terakhir dia mengirimkan sebuah video padaku, yang mengingatkanku agar tidak berpaling darinya. A-aku tidak bisa memperlihatkan video itu pada kalian, tapi begitulah intinya,” kedua mata Hana telah memerah dan beberapa tetes air mata siap meluncur turun.
“Apa yang harus kulakukan? Dia sedang berjuang—bekerja di luar sana, dan di sini aku malah seperti menghianatinya,” cerita Hana diakhiri dengan ia mengajukan sebuah pertanyaan dan mengusap air matanya.
“Eh? Serius? Kamu sudah punya pacar?” Maki malah sweatdrop setelah rentetan cerita kebingungan Hana.
“Aku serius teman-teman! Berikan aku solusi!” Hana menahan ruam wajah memerahnya yang meledak.
Tentu saja Yoshiki telah menghapus ingatan seluruh temannya mengenai sosoknya. Sekarang Hana malah terlihat seperti orang bodoh, menceritakan sebuah cerita yang terdengar seperti hayalan gila Hana. ‘Aku memiliki seorang pacar, dia pergi untuk bekerja di luar sana. Dan sekarang aku di sini malah bersenang-senang bersama pria lain. Dia yang merasa aku semakin melupakannya, mengirimkan aku sebuah video,’ sungguh terdengar seperti fantasi seorang jomblo yang putus asa.
“Well, ya… jika ceritamu itu sungguhan…” Yui menggaruk pipinya yang tidak gatal, “sepertinya ini memang kebanyakan salahku.”
“HEEEEE?? SALAH YUI-CHAN??” Mulut Shiro melebar.
“Ini soal Ishikawa Guren benar?” Yui menebak.
Hana menangguk dalam diam.
“Begitu… kukira kamu sedang kosong, makanya aku dekatkan kamu dan Ishikawa Guren. Lagipula dia kan kaya dan CEO perusahaan besar, hidupmu pasti terjamin jika kamu bersamanya. Ah, aku tidak bermaksud hanya memandang hartanya saja. Tapi pria itu nampak tertarik padamu Hana, jadi yah…. Aku hanya berusaha mendekatkanmu,” jawab Yui.
“Eh?” Hana mengangkat kepalanya seketika.
“EEEEEEHHHHHHHHH????? A-APAAA? GUREN-KUN TERTARIK PADAKU??” Sembur Hana.
Maki dan Yui sweatdrop seketika.
‘Dasar tidak peka!’
Hana memiringkan kepalanya layaknya orang idiot.
“Jadi, perasaanmu pada pacarmu bagaimana sekarang?” Tanya Maki.
“A-aku mencintainya! Sampai kapanpun!” Luapan ruam merah memenuhi wajah Hana.
“Kalau begitu tinggal balas pesan videonya. Katakan jika kamu tetap mencintainya, dan tidak berminat berpaling pada pria lain. Simple kan?” Maki menyahuti enteng.
“T-Tapi setelah mengirimkan video itu ponselnya tidak bisa dihubungi lagi,” Hana pundung.
“Hah? Kok bisa begitu?” Yui melipat kedua tangannya, meluapkan nada emosi.
‘Ya kan, Yoshiki-kun sedang ditangkap Exorcist. Aku sendiri bahkan tidak tahu bagaimana Yoshiki-kun membuat video itu,’ inner Hana sweatdrop.
“Mungkin pacarnya sedang berlayar? Tidak ada sinyal kan di laut lepas?” Seloroh Maki.
“Benar?” Yui meminta persentujuan dari Hana.
“Ah, ya,” Hana asal mengangguk saja. Lagipula bagi Hana yang tidak punya ide apapun mengenai apa pekerjaan Yoshiki di sini, sebaiknya menyetujui ide Maki saja yang terlihat masuk akal.
“Kalau begitu susah juga. Lagipula kenapa tidak lepaskan saja pria yang bekerja pelayaran seperti itu? Kamu pasti akan jarang dapat kabar darinya, dan… penghasilan seorang pelayar, masih kalah dengan seorang CEO kok,” Yui berdehem beberapa kali setelah kalimatnya.
“Eh?” Hana sweatdrop akibat kalimat Yui.
Jika membandingkan Ishikawa Guren dan Kuroto Yoshiki dalam hal penghasilan, ah Hana tidak bisa membandingkannya. Lebih tepatnya Hana tidak bisa membayangkan seberapa luas jangkauan seorang raja Iblis dalam hal ekonomi.
“YUI-CHAN TIDAK BOLEH! HANA SUDAH MENCINTAI PACARNYA!” Shiro kembali menyahuti.
“Kalau begitu, setelah kamu bisa menghubungi pacarmu, minta maaf padanya, dia pasti mengerti kalau memang juga mencintaimu,” ujar Maki lembut.
Seketika ketiga orang yang mendengar kalimat Maki barusan terperangah.
“Wah, bijak sekali,” seloroh Yui.
“A-APA SIH!?” Sekarang Maki yang harus menahan rasa malu.
.
“Uwaaa kau tidak boleh terlalu megacau Exorcist lebih dari ini Yoshiki,” sebuah suara serak terdengar dari arah belakang Yoshiki yang kala itu tengah mematau pergerakan prajurit-prajuritnya.
“Hn,” Yoshiki yang menyadari suara itu adalah milik Arashi Tomuro hanya berguman menyahuti.
“Gantikan aku Tomuro, ada yang harus kulakukan,” tanpa mendapat persetujuan dari yang diminta, Yoshiki menghilang begitu saja dari hadapan Tomuro.


Serangan dadakan pihak Iblis mengakibatkan lebih dari 1000 Exorcist di seluruh dunia kehilangan nyawa

Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.