Senin, 21 September 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 51]

  CHAPTER 51: SPECIAL PLACE, PARIS

Minggu ujian diawali dengan tekanan berat bagi Hana dan berakhir dengan helaan nafas berat pula.

“Gawat… aku tidak yakin dengan nilai kalkulusku…”guman Hana sembari mengigit sedotan sodanya.

“Aku bisa membuatmu mendapatkan nilai A untuk kalkulus, atau mungkin mata kuliah lain,” Yoshiki dari arah samping menimpali dengan santai.

Oh tentu saja. Hal yang mudah bagi seorang raja iblis bukan?

“Terima kasih,” jawab Hana sarkastis.

“Hei Kuroto couple, mau ikut ke Osaka?” Dari arah belakang keduanya terdengar suara riuh.

“Osaka?” Tanya Hana.

“Yap, kita berencana berlibur bersama setidaknya satu minggu sebelum kembali ke kampung halaman. Mau ikut?”

“Terima kasih, namun kita sudah merancangkan liburan sendiri,” Yoshiki menjawab tanpa diminta.

“Heeee… mau kemana kalian?”

“Entahlah, berkeliling dunia?” Ucap Yoshiki menggantung.

Siulan demi siulan menyahuti, “dunia orang yang sudah menikah memang berbeda.”

“Selamat berlibur teman-teman, kami permisi,” Yoshiki dengan seenaknya meraih pundak Hana dan membawa perempuan itu pergi.


.


“Aku bahkan tidak menyetujui apapun tentang rencana berpergian ini,” Hana hanya menatap Yoshiki yang mulai mengepak beberapa pakaiannya ke dalam sebuah koper.

Yoshiki hanya tertawa kecil mendengar ucapan Hana, “ayolah My Lady, ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan.”

“Tidak dengan semua beban ini.”

Yoshiki menghela nafasnya berat sebelum akhirnya membawa Hana duduk di sofa dan berlutut di hadapannya, “oleh sebab itu aku merencanakan hal yang bisa membuat bebanmu sedikit berkurang.”

“Yoshiki-kun selalu seperti itu.”

Ucapan tiba-tiba Hana membuat Yoshiki menghentikan gerakannya mengepak pakaian, “Hn?”

“Yoshiki-kun selalu memutuskan segalanya seenaknya. Memaksaku. Mengekangku.”

Mulut Yoshiki hanya sedikit terbuka sebelum bisa menjawab ucapan Hana. Ia bahkan tidak bisa melihat wajah Hana. Rambut hitam pendek yang sekarang telah sepanjang dagunya sudah sempurna menutupi ekspresi Hana.

DAKK!

Keheningan dipecahkan oleh bantingan tutup koper Yoshiki.

“Sialan. Ini menyebalkan sekali,” Yoshiki hanya memijit pelipisnya dengan ekspresinya penuh dengan kepenatan.

“Jika aku mengatakan jika semua tindakanku ini hanya untuk kebahagiaanmu kau juga tidak akan percaya. Lagipula sejak awal siapa yang akan mempercayai iblis bukan?”

Entah mengapa kalimat Yoshiki barusan terdengar seperti sarkasme pada telinga Hana.

“Atau, My Lady jangan-jangan kau menyesal menjadi iblis?”

Ah, Yoshiki mengatakannya. Kegundahan dalam dirinya berhasil ia katakan.

Sementara Hana hanya bisa menatapnya dengan pandangan tak menentu, Yoshiki kembali mengucapkan kalimatnya, “kau menyesal menjadi istriku?”

Dijatuhkannya tubuhnya pada tepian ranjang dengan memunggungi sang istri, “padahal hanya kau kebangganku. Menyebalkan sekali jika aku sampai kalah dibandingkan dengan manusia exorcist lemah seperti si sialan itu.”

Seolah tidak memberikan kesempatan bagi Hana untuk berbicara, Yoshiki dengan helaan nafas beratnya meninggalkan ruangan dengan berucap, “tidak ada bantahan. Kita pergi besok. Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.”

.

Dan di sinilah Hana berada. Sebuah pesawat jet pribadi. Yang demi apapun tidak pernah Hana impikan bisa menaikinya suatu saat ini. Sekarang pantatnya sudah berada di suatu kursi penumpang yang nyaman dengan beberapa potongan buah tersaji di hadapannya di tengah penerbangannya di antara langit biru melintasi samudera Hindia.

“Istirahatlah, masih sekitar 2 jam lagi sebelum mendarat di CDG,” dari arah samping, Yoshiki yang masih sibuk dengan beberapa berkas dan laptop di pangkuannya berguman.

“CDG?” Singkatan itu teredengar asing bagi Hana. Dan sejak awal ia memang tidak diberitau arah tujuan kepergian ini. Yoshiki hanya menyeretnya serta tanpa memperdulikan penolakan darinya.

“Paris Charles de Gaulle Airport.”

“….”

Apa?

Hana hanya bisa terdiam. Lantaran telinganya sama sekali tidak bisa menangkap satu kalimatpun dari apa yang diucapkan Yoshiki.

“…. Bahasa Latin?” Cengo Hana.

Yoshiki memberikan pandangannya pada Hana akhirnya, “Bandara Internasional Paris,” ujarnya dengan Bahasa Jepang.

Hana hanya bisa ber-oohh ria.

“Tadi itu Bahasa dan aksen—”

“Prancis.”

Tidak bisa dipungkiri. Suaminya memang luar biasa. Bahasa dan aksen Prancis pun terdengar begitu lembut pada bibirnya.

‘Ya! Ya! Yoshiki-kun memang luar biasa!’ Hana melipat kedua tangannya di depan dada dan mengangguk-angguk tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sementara sang suami hanya bisa sweatdrop melihat kelakukan istrinya.


.


Hamparan bandara internasional Prancis begitu bersih. Hanya berisi pesawat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penerbangan. Tidak ada hujan. Tidak ada salju. Hanya matahari pagi di pukul delapan pagi waktu Paris.

Benar, matahari pagi yang hang—

“Dingin banget!” Hana memeluk dirinya sendiri dengan panik begitu menuruni pesawat.

“Suhunya memang masih 10 derajat celcius. Gunakan jaketmu,” Dari arah belakang Yoshiki memakaikan mantelnya pada Hana.

Seketika bau maskulin yang hanya dimiliki oleh Yoshiki mengisi indra penciuman Hana. Hana mabuk? Oh sekarang siapa perempuan yang akan berpaling dari karisma sang raja?

Hana hanya bisa melangkahkan kakinya mengekor di belakang sang pria yang nampaknya berusaha menjaga langkah kakinya memendek agar tetap bisa diikuti. Sementara seluruh pandangannya tertuju pada sekitarnya yang dipenuhi oleh manusia berkulit putih dengan wajah eksotis mereka.

“Kenapa kau berjalan di belakangnku? Kau akan hilang dalam kerumunan,” tiba-tiba saja tangan Hana yang sedari tadi melayang di udara digenggam oleh sebuah tangan besar.

“E-eeh—” Oke Hana tidak bisa menyembunyikan rona di wajahnya.

Demi debu di negara Prancis! Ini hanya sebuah gandingan tangan dan Hana salah tingkah!?

“Kita akan mengisi perut terlebih dahulu, ada sesuatu yang ingin kau makan?”

“Ramen?”

Dasar bodoh! Hana mengumpat pada dirinya sendiri berkali-kali. Sekacau itu pikirannya sampai jawabannya luar biasa ngawur seperti itu? Orang gila macam apa yang mencari ramen di Prancis?

“Cukup aneh kau meminta ramen di Prancis.”

MEMANG ANEH! KENAPA YOSHIKI-KUN MENGANGGAP ITU SERIUS SIH!?

“A—aa tidak! Lupakan lupakan!”

“Bagaimana jika spaghetti saja? Pasta berbentuk mie?”

“Haa… sebaiknya lupakan saja Yoshiki-kun. Aku akan makan apapun yang Yoshiki-kun pesan.”


.


“Foie Gras, Coq au Vin, Soupe a l’oignon, Confit de Canard, dan Crème Brulee.”

Hana hanya mengedipkan kedua matanya tidak mengerti apa-apa saja yang Yoshiki ucapkan pada pelayan yang telah membawa pergi pesanan mereka.

“…. Yoshiki-kun memesan racun?”

“Tunggu saja, semuanya makanan wajib yang harus dicoba jika kau berada di Prancis.” Jawab Yoshiki santai.

“… Hoo… semuanya terdengar seperti bahasa latin dan seperti racun jika berada di laboratorium.”

“Hn… memang seperti itu Bahasa Prancis.”

“Yoshiki-kun bisa berapa bahasa? Hebat sekali bahkan sampai logatnya pun sama persis.”

“Entahlah. Sepertinya aku hampir bisa seluruh bahasa di muka bumi ini.”

“Waaaw…” Hana bertepuk tangan ringan.

“Kau kira sudah berapa lama aku berada di muka bumi ini? Menunggumu.”

Hana terdiam sejenak. Topik pembicaraan yang awalnya terasa ringan menjadi cukup berat.

“Hee…” hanya gumanan konyol yang bisa Hana keluarkan.

Hana akan bersujud berterima kasih pada tiga orang pelayan yang datang di saat yang tempat membawakan makanan yang dipesan. 


.


“Pemandangannya keren sekali!! Astaga Paris memang keren!!” Dari sebuah beranda hotel Hana merentangkan kedua tangannya. Matahari sore yang berwarna kemerahan mengguyurnya tanpa ampun.

“Bahkan Menara Eifel terlihat, yah walaupun tidak terlalu jelas…”

“Pelayanku salah melakukan reservasi tempat, seharusnya kita menginap di hotel yang lebih dekat dengan Menara Eifel,” dari arah belakang Yoshiki menyahuti, pria itu tengah melepas kemejanya dengan tenang.

Wajah kemerahan Hana disamarkan oleh terangnya senja kala itu.

Sudah berapa tahun keduanya menikah? Dan Hana masih belum terbiasa dengan badan atletik sang suami.

“Kau bisa segera membersihkan badanmu, pukul 7 nanti kita akan mendatangi Menara Eifel.” 

“Oh sungguh? Oke aku mandi!” Bagai anak kecil, Hana berlari menuju kamar mandi.

Begitu ia melewati Yoshiki, pergerakannya tertahan, pasalnya pria itu tiba-tiba menggenggam tangannya.

“Mau kubantu?”

“E-eh?”

“Membersihkan tubuhmu? Bagaimana jika mandi bersama?”

“HEEEEEE!!????”

Oke. Gendang telinga Yoshiki sepertinya hampir pecah.

“Fufu… Sudah mandi sana,” dilepaskannya tangan Hana sembari ia terkekeh kecil.


.


Matahari telah sempurna tertelan malam. Suhu udara juga perlahan semakin menurun hingga hampir menyentuh 8 derajat celcius lagi. 

Keduanya melangkah beriringan menuju taman Eifel. Hana sibuk menyembunyikan tangannya yang masih belum terbiasa dengan dinginnya udara di balik saku mantelnya. Namun pandangannya bisa berkeliling ria menjelajah setiap sudut bangunan paris.

“Cantik sekali…” gumannya tanpa sadar mengangumi sisi arsitektur setiap bangunan.

“Masih lebih cantik itu kan?” Sahut Yoshiki dengan tangannya menunjuk ke sebuah Menara yang sangat terkenal di seluruh penjuru bumi. Menara Eifel. Lampu-lampu yang dinyalakan pada sekeliling Menara membuat kesan romantis tersendiri.

Begitu pandangan Hana terambil alih oleh sosok indah Menara Eifel, sapphire miliknya melebar takjub.

Benar. Indah.

Ujung bibir Yoshiki sedikit tertarik melihat wajah Hana yang begitu puas, “kau suka?”

“A-ah… u-um…” Kepalanya terangguk lemah.

Tidak pernah terlintas dipikirannya akan bisa menjajakkan kaki di luar negri setelah kepergian orang tuanya. Untuk bisa hidup saja ia sangat tertatih-tatih. Ia hanya sebatang kara. Hingga suatu hari ia memimpikkan aka nada seorang pangeran berkuda putih yang akan jadi penyemalat hidupnya. Seorang luar biasa yang memiliki kuasa dan memberikannya dunia. Namun kenyatan dunia yang menyakitkan membuatnya berharap pangeran berkuda putih itu berubah menjadi pangeran berkuda hitam. Ia juga ingin menghancurkan dunia yang telah menghancurkannya.

Sayangnya itu hanyalah khayalan bocah kelas 6 SD. Semuanya berangsur-angsur ia lupakan. Hingga malam bersalju itu datang.

Khayalan yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam. Khayalan mengenai pangeran kegelapan yang mendatanginya sudah hampir ia lupakan saat itu.

Tapi seolah dipermainkan oleh takdir, ia benar-benar bertemu pria dalam imajinasinya. Sosok angkuh nan penuh kuasa itu benar-benar mendatanginya.

“Kenapa? Kau melamun?”

Ucapan dari Yoshiki barusan membuatnya kembali ke alam sadarnya.

Sudah berapa banyak hal yang terjadi ia lalui bersama pria ini?

“Tidak… hanya terpikirkan sedikit hal…” Jawabnya menghindar.

“Hn… aku ingin menciummu.”

“!!???” Ucapan super blak-blakkan itu membuat Hana mendelik kebingungan.

“Boleh?”

“A-apa!?”

“Aku yakin kau mendengar jelas ucapanku My Lady. Aku ingin menciummu.”

Semuanya terasa begitu intens mendadak. Yoshiki yang mencengkram kedua bahunya dan tatapannya mengunci kedua bola matanya.

Dalam beberapa detik berpikir, ia mengira akan kalah oleh pesona sang iblis. Ia mengakui jika suasananya benar-benar mendukung, namun ternyata tidak secepat itu. 

Ditepisnya tangan Yoshiki dengan lembut sambal berucap, “tidak dengan segala ganjalan ini Yoshiki-kun.”

Pria dengan rambut jaged itu menghelakan nafasnya berat, “kau mengerikan sekali. Membiarkan suamimu tidak bisa menciummu dalam waktu yang lama.”

‘Berikan darahmu secepatnya!’ Kalimat Tomuro barusan terlintas di benak Hana. Tidak hanya itu, beberapa kalimat seperti berciuman… berhubungan sex… semuanya juga terpikirkan.

Dari arah samping, ia bisa melihat sang pria hanya berdiri memandang ke arah Menara dengan pandangan datarnya. Sebuah pandangan yang memandang seluruh dunia membosankan.

“Bukankah aku sudah mengatakan jika Yoshiki-kun ingin mencium perempuan, Yoshiki-kun bebas melakukannya dengan siapapun.”

Kepala pria itu kembali menoleh, kali ini pandangannya menjadi sedikit mendung.

“Kau benar-benar serius membiarkanku berciuman dengan perempuan lain?”

Kepala Hana terangguk perlahan—ia ragu, “u-um…”

Tawa mengejek keluar dari bibir pria itu, “jika aku bisa melakukannya aku sudah melakukannya sejak lama.”

“Eh?”

“Tidak ada.”

“Tidak ada?” Hana memiringkan kepalanya atas jawaban ambigu Yoshiki.

“Tidak ada perempuan di muka bumi ini yang bisa membahagiakanku yang seorang Lucifer, My Lady.”

“O-oh?” Sekarang Hana terlihat seperti menggali kuburannya sendiri.

“Kau pikir sudah berapa banyak wanita yang sudah kusentuh sepanjang masa hidupku?”

Hana hanya bisa memberikan tatapan tanpa ada jawaban untuk Yoshiki.

“Aku sangat bosan dengan kehidupanku. Sementara aku dikutuk untuk terus berada di muka bumi ini sampai hari penghakiman tiba. Hanya kau, satu-satunya, yang memberikanku perasaan aneh seperti ini. Semuanya, segalanya yang berkaitan dengan dirimu, seolah-olah hanya hal itu yang bisa membuatku bahagia.”

“Kalau begitu, jika hubungan ini akan berjalan cukup lama, apakah Yoshiki-kun juga akan merasa bosan denganku?”

Cukup lama bagi sang raja iblis untuk menjawab pertanyaan dari istrinya.

“Akan selalu ada hal baru darimu setiap hari. Hal-hal yang tidak bisa terprediksikan oleh kekuasaanku. Tidak aka nada kebosanan di sana.”

Hana mengerti. Yoshiki tidak hanya bosan dengan dunia yang ia tinggali. Yoshiki juga bosan dengan segala hal yang mampu ia baca dengan kekuasaannya yang otoritas.

Seharusnya malam itu keduanya bisa menghabiskan malam dengan lebih romantic. Ayolah, tidak semua pasangan di muka bumi ini bisa menikmati percintaan di tanah suci romantisme seperti Paris kan?

Tapi Hana lebih memilih hengkang begitu saja. Ia hanya terlalu pusing dengan segala pemikiran yang ada. Lagipula udara dingin juga semakin mencekik.

“Yoshiki-kun boleh tinggal lebih lama jika ingin, tidak perlu memaksakan diri menemaniku pulang,” Hana yang merasa tidak enak pada pria itu berujar.

“Hn? Tidak. Lagipula kau juga harus segera tidur lebih awal. Besok kita akan menuju istana Versailles.”

“Ah-hoo… apakah jauh?”

“Sekitar 25 km dari Paris.”

“Aku pernah mendengar nama itu di kelas sejarah,” Hana hanya melanjutkan pembicaraan untuk mengenyahkan suasana canggung.

“Tentu. Istana itu sangat bersejarah.”


.


“Astaga indah sekali!” Teriakan ketakjuban Hana menggema di dalam kastil yang penuh dengan ukiran indah di dalamnya.

“Sayangnya, dibalik keindahannya ada cerita kelam yang menyelimuti kastil ini,” ucap Yoshiki dari arah belakang Hana dengan tenang.

“Aku tau, ratu Marie Antoinette dulu dipenggal hidup-hidup kan di tempat ini?”

“Hn… kau tau…”

“Aku sempat membaca ulang sejarah di loby kemarin sebelum tidur,” Hana tersenyum percaya diri.

Pandangan Yoshiki memincing sejenak, “bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk tidak berkeliaran sembarangan kemarin?”

“Aku hanya berada di loby Yoshiki-kun. Lagipula aku sangat bosan di dalam kamar sendirian!” Hana memutar bola matanya jengah karena sikap overprotective Yoshiki kembali muncul. Lagipula bukankah salah pria itu juga jika ia mati kebosanan karena ditinggal begitu saja di tengah liburan?

Read More ->>

Jumat, 04 September 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 50]

 CHAPTER 50: SAILING MY HEART

Pintu berdaun dua itu kembali terbuka. Aktivitas Hana yang tengah asyik membolak-balik sebuah novel misteri di tangannya kembali terhenti.

Kali ini bukanlah para maid yang senantiasa menunjang kehidupannya seperti mengantarkan makanan, minuman, camilan, pakaian baru, dan sejenisnya. Bukan juga Tomuro yang seenak jidat datang mengganggunya. Melainkan sang Lucifer. Kuroto Yoshiki muncul dengan wajahnya yang kusut. Tak kalah, setelan yang biasa tertempel rapi pada tubuhnya nampak kacau balau.

“Petualangan detektif SMA perempuan eh?” Guman pria itu seraya melemparkan jasnya pada sofa terdekat.

“Ah, oh, i-iya,” tanpa sadar Hana merespon gumanan pria itu karena buku yang ia baca. Namun detik kemudian ia sedikit menyesali ucapannya. Padahal ia telah memutuskan untuk tidak akan bicara pada pria itu.

Sepertinya ia terbawa suasana karena kalimat Tomuro?

Yoshiki, pria itu menoleh Ke arah perempuan yang menjadi istrinya dengan ekspresi setengah terkejut. Ia merebahkan dirinya pada sofat, masih berusaha menjaga jarak untuk tidak kembali memicu kebencian Hana terhadap dirinya.

“Sampai mana?”

Hana menoleh ke arahnya dengan ekspresi tidak mengerti.

“Itu…” Yoshiki menunjuk ke arah buku yang tengah dibuka Hana di pertengahan halaman.

“Ah… sampai ditemukannya potongan kaki di tepi laut,” akhirnya Hana memutuskan untuk kembali merespon ucapan pria itu walau dengan penuh pertimbangan.

“Hn…. Buku itu cukup bagus dengan beberapa plot twist, kau akan menyukai bagian akhirnya.”

Hana hanya terdiam tanpa memberikan komentar apapun. Sejujurnya ia ingin menanyakan apakah buku ini pernah dibaca pria itu, dan apakah pria itu menyukai misteri sepertinya?

Sebuah dering dari ponsel Yoshiki memecah keheningan keduanya. Pria itu dengan malas menjawab panggilan telepon yang baru saja masuk.

“Hn? Ada apa Hazel?”

Hana hanya sesekali melirik ke arah pria itu tanpa sadar begitu nama yang taka sing di telinganya.

“Tidak, aku tidak di kantor sekarang. Semua dokumen sudah kuselesaikan kemarin. Bertemu? Saat ini? Ada apa?”

Hana masih sibuk mengamati Yoshiki yang sibuk dengan percakapan teleponnya. Tunggu. Kenapa dia peduli? Kenapa dia lebih memilih mendengarkan percakapan telepon Yoshiki daripada menyelesaikan novel di tangannya?

“Bukankah kau sudah berlatih tanding denganku kemarin? Kau ingin melakukannya lagi? Istirahatkan tubuhmu.”

Walau sekarang sudah tidak memandang sang pria, namun kepala Hana mengolah apa yang ia dengar dengan cerdik. Dan ia sekarang sepenuhnya curiga jika ular betina itu berusaha menggoda Yoshiki kembali.

Sekali lagi, tunggu. Memangnya kenapa dia peduli? Bukan urusannya kan jika Yoshiki bersama Hazel? Tidak ada urusannya lagi dengan dirinya kan? Bukankah ia sendiri yang memutuskan untuk menceriakan Yoshiki?

“Aku sudah bolos kuliah lebih dari tiga hari.” Tanpa sadar kalimat itu meluncur dari bibir Hana begitu Yoshiki menyudahi obrolan teleponnya.

“Hn? Kau ingin kembali kuliah?”

“Tentu saja!” Sungut Hana.

“Supaya kau bisa bertemu si sialan itu lagi?” Ucap Yoshiki tak acuh sambil meletakan ponselnya.

“Untuk berkuliah tentu saja. Aku sudah ketinggalan banyak materi tiga hari ini. Apalagi ponselku tidak ada, aku pasti tertinggal banyak tugas juga.”

“Lucky you, My Lady. Tidak ada tugas sama sekali tiga hari ini. Materi aku bisa mengajarkanmu lebih dari yang diajarkan oleh para dosen, dan sampai kau benar-benar paham. Sekarang sudah tidak ada masalah kan?” Tanya Yoshiki santai.

‘Masalahnya aku tidak mungkin memintamu mengajariku di keadaan seperti ini! Apa lagi sebentar lagi ujian akhir kan!’ Gerutu Hana dalam hati.

Namun kedua onyx Yoshiki terpaku pada sebuah benda yang Hana letakkan di dekat tumpukkan bukunya di nakas. Sebuah benda yang akan berkilauan begitu terkena terusan cahaya.

“Kau tak mengenakkannya?”

Pertanyaan tiba-tiba Yoshiki membuat Hana terpaksa menolehkan kepala hitamnya ke arah sumber suara. Terlebih ia terkaget karena sosok yang ia cari tiba-tiba sudah ada di sampingnya.

“Danau itu dalam sekali kau tau, mungkin sekitar 10 meter lebih, apalagi saat itu malam, dan dasar danau itu begitu berlumpur, dan karena ini cincinmu, milikmu, aku terhalang untuk menggunakan kekuatanku untuk mengambilnya,” sambil sibuk mengucapkan keluhannya, Yoshiki memasangkan cincin itu pada jari manis Hana, “jangan dilepaskan semudah itu.”

“Tapi aku—”

“Setelah ujian akhir kita akan berbulan madu,” Seolah tau Hana akan menjawab apa, Yoshiki dengan cepat  memotong dan mengganti alur pembicaraan.

“Apa?” Hana menunjukkan wajah penuh protes.

Perlahan Yoshiki mendudukkan dirinya di tepian ranjang, “maafkan aku, bahkan setelah lebih dari dari tiga tahun pernikahan kita, kita belum sekali pun melakukan bulan madu karena berbagai kesibukanku. Jadi aku memutskan untuk kita harus melakukan bulan madu setelah ujian akhir.

“Tapi—”

“Aku sudah menjadwalkan kita akan berangkat tepat setelah ujian akhir berakhir. Sampai liburan berakhir sekitar 3 minggu setelahnya. Kau ingin kemana saja?” Yoshiki menyerahkan ponselnya yang tengah menunjukkan pamphlet digital beberapa destinasi wisata di beberapa negara.

Kapan terakhir kali ia bermimpi berkeliling dunia? Entahlah, sepertinya dia tidak memiliki mimpi seperti itu setelah menyadari betapa tidak berdayanya dirinya.

Lagipula bagaimana bisa Yoshiki bertindak seegois itu? Dengan keadaan seperti ini seenaknya saja mengajak bulan madu.

Hana menyerahkan ponsel Yoshiki dengan enggan, “sebelum itu sebaiknya aku besok berangkat kelas sebelum terlalu banyak tertinggal materi. SIapa tau besok ada tugas yang harus dikerjakan juga.”

Yoshiki menatap Hana beberapa detik sebelum akhirnya kemuraman mengisi wajahnya—Hana bisa merasakan itu. Ia bangkit berdiri, “hn… sebegitu inginnya kau bertemu si sialan itu?”

“Aku hanya tidak ingin meninggalkan kelas lagi. Lagipula Keigo-kun bilang sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya.”

Tak menjawab ucapan Hana, Yoshiki memilih meninggalkan Hana.


.


“Oh kamu masih hidup toh, kukira kamu sudah ditelan bumi. Habisnya kamu tidak ikut kelas hampir seminggu, ponselmu juga tidak aktif.”

“Enak saja! Aku baru tidak masuk 3 hari saja!” Protes Hana.

“…” Dari arah belakang Yoshiki hanya berjalan mengamati istrinya yang degan akrab kembali bersosialisasi dengan teman-temannya.

“Hebat sekali kamu minggu menuju ujian malah tidak masuk,” Hana kembali dicerca.

“Ya makanya aku hari ini masuk sebelum tertinggal terlalu banyak kan.”

“Omong-omong nanti ada kuliah tamu dari Profesor dari Rusia, mau ikut?”

“Waaah! Ikut ikut!”


.


“Tidak kusangka dosen waliku akan secemas itu setelah bolos 3 hari,” lesu Hana setelah keluar dari ruangan seorang dosen.

“Dia hanya terlalu khawatir saja,” respon Yoshiki santai dari arah belakang.

“Memangnya semua ini salah siapa aku sampai bolos 3 hari?” Hana mencibir dan melirik Yoshiki dengan kesal, “aku sampai tertinggal banyak materi.”

“Bukankah sudah kubilang kita bisa belajar bersama jika kau ingin. Aku akan mengajarimu lebih banyak sampai kau mengerti?”

Hana hanya menggembungkan pipinya kesal.

“Ayo segera pulang, aku akan mengajarimu.”

“Eh tidak bisa, aku berencana akan ikut kuliah tamu professor yang dari Rusia,” jawab Hana polos.

“Jam berapa?”

“Sekitar 2 siang nanti.”

“Kau tidak ingin makan siang dulu?”

“Hmmm…” Hana menjawab polos, “aku ingin soba di kantin.”

“Tentu, mari kita makan.”

“Tunggu dulu, aku masih marah dengan Yoshiki-kun loh. Jangan berharap Soba saja bisa menenangkanku.”

Yoshiki terkekeh kecil, “rencanaku gagal.”

“A-apa? Yoshiki-kun serius mau menyuapku dengan soba?”

.

Yoshiki mengotak atik ponselnya dengan malas di tengah-tengah sebuah kelas kuliah tamu yang dihadiri oleh seorang professor dari Rusia. Kuliah tamu adalah sebuah kelas di mana dosen pengajarnya berasal dari luar.

“Yoshiki-kun hormati professor-nya sedikit saja, jangan bermain ponsel,” guman Hana kesal.

“….” Yoshiki meletakkan ponselnya sejenak sebelum mengehela nafas, “memangnya kau paham apa yang dijelaskan dari penelitian professor itu?”

Seketika itu Hana menoleh ke arah Yoshiki dengan wajah polosnya dan menggeleng konyol, “tidak tau. Tapi keren sekali professor dari Rusia.”

“Hn…” Yoshiki menghelaka nafasnya kembali seolah tebakannya benar.

“Memangnya Yoshiki-kun sendiri tau?” Hana menggembungkan pipinya kesal.

“Kau yakin bertanya padaku?”

Hana semakin kesal mendengar jawaban Yoshiki.

“Baik, apakah ada pertanyaan untuk Dimitri-sensei?” ucap MC mengakhiri sesi perkuliahan dan membuka sesi tanya jawab.

“Saya!”

Hana terkejut bukan main begitu seseorang yang entah siapa duduk di sampingnya mengangkat tangannya untuk mengajukkan pertanyaan. Rasanya melihat pandangan sang professor yang seperti melihat ke arahnya mampu membuat jantung Hana berdetak kencang karena gugup.


.


“Astaga keren sekali memang professor dari Rusia itu,” Hana belum bisa menghilangkan ketakjubannya bahkan setelah kuliah telah berakhir.

“Bagaimana bisa kau menyebut itu keren tanpa mengerti perkuliahannya?” Keduanya berjalan meninggalkan gedung perkuliahan.

“Kuroto-san! Kuroto-san benar?”

Panggilan itu lantas membuat keduanya menoleh ke belakang. Seketika mengetahui siapa sang pemanggil membuat Hana mengucek matanya untuk memastikan pandangannya benar. Namun tetap saja tidak aka nada yang berubah dari pandangannya.

‘Dimitri-sensei memanggil Yoshiki-kun!?’

“Hn?” Yoshiki merespon malas.

‘RESPON MACAM APA ITU!?’ Teriak Hana dalam hati.

“Wah benar Kuroto-san! Sudah lebih dari lima tahun sejak kita terakhir bertemu!” Pria dengan rambut yang mulai beruban itu dengan sumringah bicara dengan Bahasa Rusia pada Yoshiki.

“Masih 8 tahun,” lagi-lagi Yoshiki merespon dengan malas.

‘UWAAAGHH MEREKA BICARA BAHASA ALIEN!’ Hana merasa terasingkan dengan Bahasa keduanya.

“Let’s using English instead, looks like somebody didn’t understand what we are saying of,” Yoshiki melirik Hana.

“Oh, alirght. Then, who are you miss?” Intens Dimitri terarah pada Hana. Dan hal itu sukses membuat Hana gelagapan bukan main.

“N-Nice t-to meet you!” Bahkan Hana tidak bisa mengucapkan salam perkenalan dengan tepat saking gugupnya, “I’m Hana Rayu—”

“She is Hana Kuroto. My Wife.” Seketika Yoshiki memotong kalimat Hana yang hendak memperkenalkan dirinya dengan nama belakang lamanya.

“Your wife? Really? But she is not using a ring like you Kuroto-san,” dengan polos Dimitri menunjuk jari-jari Hana yang tak mengenakan apapun.

“…..” Yoshiki hanya terdiam setelah mengetahui jika Hana tidak mengenakan cincinnya kembali. “Maybe she just forgot to wear it today.”

“Hoo… nice to meet you too then Kuroto-san!” Dimitri menunduk sopan di depan Hana.

‘WAAAAAAA PROFESSORNYA HORMAT KEPADAKU!’ Hana malah sibuk tercengan.

“Moreover Kuroto-san, what are you doing here?”

“Take bachelor degree again.”

“EEEEEHH—” Pria setengah abad itu Nampak terkejut, “w-why?”

“Just want to. You change your subject research Dimitri? Last time I see you, you are working on Cancer Cell right?”

“Yah, I found Biochemistry kinda interesting,”

Hana hanya terperanggah melihat Yoshiki yang sedang asyik mengobrol ria dengan professor yang membuatnya takjub. Suami-nya itu memang luar biasa luar dan dalam.

‘Kan dia memang Lucifer! Dari situ saja sudah luar biasa sekali!’ Ucapnya kesal dalam hati.

“Then, it’s pleased to meet you again Kuroto-san,” Dimitri mengundurkan dirinya sopan, professor itu bahkan juga menundukkan kepalanya sopan pada Hana, membuat perempuan itu kembali salah tingkah.

“Yoshiki-kun kenal Dimitri-sensei!?” Hana tak bisa menahan pertanyaan itu untuk diucapkan begitu sang professor menghilang di balik belokan.

“Dia rekan satu laboratoriumku dulu saat mengambil gelar Ph. D di Afrika. Kita sama-sama memiliki research tentang suatu penyakit kekuarangan protein di Afrika,” jelas Yoshiki santai.

“Hana! Hana kan!” Sebuah suara yang familiar bagi keduanya memaksa keduanya menoleh ke sumber suara. Seketika pandangan Yoshiki tidak bisa tenang.

“Keigo-kun! Keigo-kun bagaimana keadaanmu?”

“….” Yoshiki hanya menatap datar ketika keduanya berlarian saling menyambut. 

“Hn, sayang sekali kau masih hidup, padahal aku sangat menantikan untuk bertemu denganmu di neraka,” ucapan sarkastik dari Yoshiki lantas mengusik keduanya.

“Lucifer! Sudah cukup! Lepaskan dia!” Keigo melangkah maju seolah melindungi Hana.

“Hahaha….” Tawa konyol keluar dari bibir Yoshiki, “kau pikir berapa lama aku menantikannya? Lebih dari berabad-abad. Sejak dalam kandungan, setiap hari aku selalu mengamatinya, menjaganya, dan sekarang aku harus menyerahkannya kepada pria lain? Yang benar saja!”

“Kau hanya mengincar segel kekuatanmu padanya! Jangan berle—ugh!” merasakan sakit yang menusuk pada lukanya, Keigo terpaksa menghentikan kalimatnya.

“K-keigo-kun!” Khawatir dengan keadaan Keigo, lantas Hana segera membantu pria itu untuk duduk.

“Haha…” lagi-lagi sebuah tawa konyol keluar dari bibir Yoshiki, “lihatlah tubuhmu yang bahkan tidak bisa digunakan untuk berteriak itu. Sekali lagi kau muncul di hadapanku aku tidak bisa menjamin kepalamu masih akan menempel pada badanmu atau tidak, ayo My Lady!” ditariknya paksa tangan Hana untuk meninggalkan Keigo.

“T-Tunggu! Tidak! Keigo-kun,” susah payah Hana melepaskan dirinya dari cengkraman tangan Yoshiki yang menyakitkan, “lepaskan Yoshiki-kun! Keigo-kun membutuhkan bantuan untuk memeriksa dirinya! Biarkan aku mengantarkannya ke rumah sakit setidaknya! Urggh!”

“….” Yoshiki terdiam seketika.

‘Aku juga membutuhkan bantuanmu, kita bahkan belum menyelesaikan ritual pertukaran darah,’ Yoshiki tersenyum kecut.

“Sensei! Sensei!” Terdengar suara gaduh dari arah lorong di mana Keigo ditinggalkan.

“Dia sudah ditolong, sekarang kita pulang. Ujian sudah di depan mata My Lady. Kau harus belajar.”

Dengan enggan, Hana mengikuti tarikan paksa Yoshiki sebelum tangannya remuk oleh cengkraman tangan pria itu.


.


“Salah. Dipecah dulu dan dibuat turunannya terlebih dahulu,” Yoshiki menyerahkan kembali hasil pekerjaan Hana.

“…” Hana hanya meraih bukunya kembali dengan enggan.

Kedua onyx gelap Yoshiki hanya memandang Hana yang dengan enggan kembali mengerjakan, “… ada apa? Kau terlihat tidak fokus sama sekali.”

“Ah? Umm…” Hana hanya menjawab pertanyaan Yoshiki dengan sebuah gumanan sementara tangannya terus bergerak mengerjakan soal.

“…” pandangan Yoshiki mengosong beberapa saat begitu menyadari alasan kenapa Hana tidak fokus sama sekali, “menyebalkan sekali, padahal yang ada di hadapanmu adalah aku namun kau hanya memikirkan si sialan itu.”

Kedua sapphire Hana setengah terbelalak mendengar ucapan Yoshiki yang seolah bisa membaca pikirannya, “sudah, aku tidak tau bagaimana hasilnya karena angkanya aneh,” Hana menyodorkan kembali jawabannya untuk diperiksa Yoshiki.

“Seharusnya saat itu aku membunuhnya saja,” diambilnya jawaban Hana. Namun di sana tidak ada perubahan apapun yang signifikan.

Tidak ada jawaban keluar dari mulut Hana.

Yoshiki menutup buku Hana dibarengi dengan helaan panjang, “kita sudahi saja. Kau tidak akan bisa mengerjakan apapun jika tidak fokus. Dan aku—” namun Yoshiki tidak melanjutkan kalimatnya, pria itu hanya bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan.

‘—juga tidak bisa melihatmu yang hanya memikirkan si sialan itu.’

Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.