CHAPTER 50: SAILING MY HEART
Pintu berdaun dua itu kembali terbuka. Aktivitas Hana yang tengah asyik membolak-balik sebuah novel misteri di tangannya kembali terhenti.
Kali ini bukanlah para maid yang senantiasa menunjang kehidupannya seperti mengantarkan makanan, minuman, camilan, pakaian baru, dan sejenisnya. Bukan juga Tomuro yang seenak jidat datang mengganggunya. Melainkan sang Lucifer. Kuroto Yoshiki muncul dengan wajahnya yang kusut. Tak kalah, setelan yang biasa tertempel rapi pada tubuhnya nampak kacau balau.
“Petualangan detektif SMA perempuan eh?” Guman pria itu seraya melemparkan jasnya pada sofa terdekat.
“Ah, oh, i-iya,” tanpa sadar Hana merespon gumanan pria itu karena buku yang ia baca. Namun detik kemudian ia sedikit menyesali ucapannya. Padahal ia telah memutuskan untuk tidak akan bicara pada pria itu.
Sepertinya ia terbawa suasana karena kalimat Tomuro?
Yoshiki, pria itu menoleh Ke arah perempuan yang menjadi istrinya dengan ekspresi setengah terkejut. Ia merebahkan dirinya pada sofat, masih berusaha menjaga jarak untuk tidak kembali memicu kebencian Hana terhadap dirinya.
“Sampai mana?”
Hana menoleh ke arahnya dengan ekspresi tidak mengerti.
“Itu…” Yoshiki menunjuk ke arah buku yang tengah dibuka Hana di pertengahan halaman.
“Ah… sampai ditemukannya potongan kaki di tepi laut,” akhirnya Hana memutuskan untuk kembali merespon ucapan pria itu walau dengan penuh pertimbangan.
“Hn…. Buku itu cukup bagus dengan beberapa plot twist, kau akan menyukai bagian akhirnya.”
Hana hanya terdiam tanpa memberikan komentar apapun. Sejujurnya ia ingin menanyakan apakah buku ini pernah dibaca pria itu, dan apakah pria itu menyukai misteri sepertinya?
Sebuah dering dari ponsel Yoshiki memecah keheningan keduanya. Pria itu dengan malas menjawab panggilan telepon yang baru saja masuk.
“Hn? Ada apa Hazel?”
Hana hanya sesekali melirik ke arah pria itu tanpa sadar begitu nama yang taka sing di telinganya.
“Tidak, aku tidak di kantor sekarang. Semua dokumen sudah kuselesaikan kemarin. Bertemu? Saat ini? Ada apa?”
Hana masih sibuk mengamati Yoshiki yang sibuk dengan percakapan teleponnya. Tunggu. Kenapa dia peduli? Kenapa dia lebih memilih mendengarkan percakapan telepon Yoshiki daripada menyelesaikan novel di tangannya?
“Bukankah kau sudah berlatih tanding denganku kemarin? Kau ingin melakukannya lagi? Istirahatkan tubuhmu.”
Walau sekarang sudah tidak memandang sang pria, namun kepala Hana mengolah apa yang ia dengar dengan cerdik. Dan ia sekarang sepenuhnya curiga jika ular betina itu berusaha menggoda Yoshiki kembali.
Sekali lagi, tunggu. Memangnya kenapa dia peduli? Bukan urusannya kan jika Yoshiki bersama Hazel? Tidak ada urusannya lagi dengan dirinya kan? Bukankah ia sendiri yang memutuskan untuk menceriakan Yoshiki?
“Aku sudah bolos kuliah lebih dari tiga hari.” Tanpa sadar kalimat itu meluncur dari bibir Hana begitu Yoshiki menyudahi obrolan teleponnya.
“Hn? Kau ingin kembali kuliah?”
“Tentu saja!” Sungut Hana.
“Supaya kau bisa bertemu si sialan itu lagi?” Ucap Yoshiki tak acuh sambil meletakan ponselnya.
“Untuk berkuliah tentu saja. Aku sudah ketinggalan banyak materi tiga hari ini. Apalagi ponselku tidak ada, aku pasti tertinggal banyak tugas juga.”
“Lucky you, My Lady. Tidak ada tugas sama sekali tiga hari ini. Materi aku bisa mengajarkanmu lebih dari yang diajarkan oleh para dosen, dan sampai kau benar-benar paham. Sekarang sudah tidak ada masalah kan?” Tanya Yoshiki santai.
‘Masalahnya aku tidak mungkin memintamu mengajariku di keadaan seperti ini! Apa lagi sebentar lagi ujian akhir kan!’ Gerutu Hana dalam hati.
Namun kedua onyx Yoshiki terpaku pada sebuah benda yang Hana letakkan di dekat tumpukkan bukunya di nakas. Sebuah benda yang akan berkilauan begitu terkena terusan cahaya.
“Kau tak mengenakkannya?”
Pertanyaan tiba-tiba Yoshiki membuat Hana terpaksa menolehkan kepala hitamnya ke arah sumber suara. Terlebih ia terkaget karena sosok yang ia cari tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
“Danau itu dalam sekali kau tau, mungkin sekitar 10 meter lebih, apalagi saat itu malam, dan dasar danau itu begitu berlumpur, dan karena ini cincinmu, milikmu, aku terhalang untuk menggunakan kekuatanku untuk mengambilnya,” sambil sibuk mengucapkan keluhannya, Yoshiki memasangkan cincin itu pada jari manis Hana, “jangan dilepaskan semudah itu.”
“Tapi aku—”
“Setelah ujian akhir kita akan berbulan madu,” Seolah tau Hana akan menjawab apa, Yoshiki dengan cepat memotong dan mengganti alur pembicaraan.
“Apa?” Hana menunjukkan wajah penuh protes.
Perlahan Yoshiki mendudukkan dirinya di tepian ranjang, “maafkan aku, bahkan setelah lebih dari dari tiga tahun pernikahan kita, kita belum sekali pun melakukan bulan madu karena berbagai kesibukanku. Jadi aku memutskan untuk kita harus melakukan bulan madu setelah ujian akhir.
“Tapi—”
“Aku sudah menjadwalkan kita akan berangkat tepat setelah ujian akhir berakhir. Sampai liburan berakhir sekitar 3 minggu setelahnya. Kau ingin kemana saja?” Yoshiki menyerahkan ponselnya yang tengah menunjukkan pamphlet digital beberapa destinasi wisata di beberapa negara.
Kapan terakhir kali ia bermimpi berkeliling dunia? Entahlah, sepertinya dia tidak memiliki mimpi seperti itu setelah menyadari betapa tidak berdayanya dirinya.
Lagipula bagaimana bisa Yoshiki bertindak seegois itu? Dengan keadaan seperti ini seenaknya saja mengajak bulan madu.
Hana menyerahkan ponsel Yoshiki dengan enggan, “sebelum itu sebaiknya aku besok berangkat kelas sebelum terlalu banyak tertinggal materi. SIapa tau besok ada tugas yang harus dikerjakan juga.”
Yoshiki menatap Hana beberapa detik sebelum akhirnya kemuraman mengisi wajahnya—Hana bisa merasakan itu. Ia bangkit berdiri, “hn… sebegitu inginnya kau bertemu si sialan itu?”
“Aku hanya tidak ingin meninggalkan kelas lagi. Lagipula Keigo-kun bilang sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya.”
Tak menjawab ucapan Hana, Yoshiki memilih meninggalkan Hana.
.
“Oh kamu masih hidup toh, kukira kamu sudah ditelan bumi. Habisnya kamu tidak ikut kelas hampir seminggu, ponselmu juga tidak aktif.”
“Enak saja! Aku baru tidak masuk 3 hari saja!” Protes Hana.
“…” Dari arah belakang Yoshiki hanya berjalan mengamati istrinya yang degan akrab kembali bersosialisasi dengan teman-temannya.
“Hebat sekali kamu minggu menuju ujian malah tidak masuk,” Hana kembali dicerca.
“Ya makanya aku hari ini masuk sebelum tertinggal terlalu banyak kan.”
“Omong-omong nanti ada kuliah tamu dari Profesor dari Rusia, mau ikut?”
“Waaah! Ikut ikut!”
.
“Tidak kusangka dosen waliku akan secemas itu setelah bolos 3 hari,” lesu Hana setelah keluar dari ruangan seorang dosen.
“Dia hanya terlalu khawatir saja,” respon Yoshiki santai dari arah belakang.
“Memangnya semua ini salah siapa aku sampai bolos 3 hari?” Hana mencibir dan melirik Yoshiki dengan kesal, “aku sampai tertinggal banyak materi.”
“Bukankah sudah kubilang kita bisa belajar bersama jika kau ingin. Aku akan mengajarimu lebih banyak sampai kau mengerti?”
Hana hanya menggembungkan pipinya kesal.
“Ayo segera pulang, aku akan mengajarimu.”
“Eh tidak bisa, aku berencana akan ikut kuliah tamu professor yang dari Rusia,” jawab Hana polos.
“Jam berapa?”
“Sekitar 2 siang nanti.”
“Kau tidak ingin makan siang dulu?”
“Hmmm…” Hana menjawab polos, “aku ingin soba di kantin.”
“Tentu, mari kita makan.”
“Tunggu dulu, aku masih marah dengan Yoshiki-kun loh. Jangan berharap Soba saja bisa menenangkanku.”
Yoshiki terkekeh kecil, “rencanaku gagal.”
“A-apa? Yoshiki-kun serius mau menyuapku dengan soba?”
.
Yoshiki mengotak atik ponselnya dengan malas di tengah-tengah sebuah kelas kuliah tamu yang dihadiri oleh seorang professor dari Rusia. Kuliah tamu adalah sebuah kelas di mana dosen pengajarnya berasal dari luar.
“Yoshiki-kun hormati professor-nya sedikit saja, jangan bermain ponsel,” guman Hana kesal.
“….” Yoshiki meletakkan ponselnya sejenak sebelum mengehela nafas, “memangnya kau paham apa yang dijelaskan dari penelitian professor itu?”
Seketika itu Hana menoleh ke arah Yoshiki dengan wajah polosnya dan menggeleng konyol, “tidak tau. Tapi keren sekali professor dari Rusia.”
“Hn…” Yoshiki menghelaka nafasnya kembali seolah tebakannya benar.
“Memangnya Yoshiki-kun sendiri tau?” Hana menggembungkan pipinya kesal.
“Kau yakin bertanya padaku?”
Hana semakin kesal mendengar jawaban Yoshiki.
“Baik, apakah ada pertanyaan untuk Dimitri-sensei?” ucap MC mengakhiri sesi perkuliahan dan membuka sesi tanya jawab.
“Saya!”
Hana terkejut bukan main begitu seseorang yang entah siapa duduk di sampingnya mengangkat tangannya untuk mengajukkan pertanyaan. Rasanya melihat pandangan sang professor yang seperti melihat ke arahnya mampu membuat jantung Hana berdetak kencang karena gugup.
.
“Astaga keren sekali memang professor dari Rusia itu,” Hana belum bisa menghilangkan ketakjubannya bahkan setelah kuliah telah berakhir.
“Bagaimana bisa kau menyebut itu keren tanpa mengerti perkuliahannya?” Keduanya berjalan meninggalkan gedung perkuliahan.
“Kuroto-san! Kuroto-san benar?”
Panggilan itu lantas membuat keduanya menoleh ke belakang. Seketika mengetahui siapa sang pemanggil membuat Hana mengucek matanya untuk memastikan pandangannya benar. Namun tetap saja tidak aka nada yang berubah dari pandangannya.
‘Dimitri-sensei memanggil Yoshiki-kun!?’
“Hn?” Yoshiki merespon malas.
‘RESPON MACAM APA ITU!?’ Teriak Hana dalam hati.
“Wah benar Kuroto-san! Sudah lebih dari lima tahun sejak kita terakhir bertemu!” Pria dengan rambut yang mulai beruban itu dengan sumringah bicara dengan Bahasa Rusia pada Yoshiki.
“Masih 8 tahun,” lagi-lagi Yoshiki merespon dengan malas.
‘UWAAAGHH MEREKA BICARA BAHASA ALIEN!’ Hana merasa terasingkan dengan Bahasa keduanya.
“Let’s using English instead, looks like somebody didn’t understand what we are saying of,” Yoshiki melirik Hana.
“Oh, alirght. Then, who are you miss?” Intens Dimitri terarah pada Hana. Dan hal itu sukses membuat Hana gelagapan bukan main.
“N-Nice t-to meet you!” Bahkan Hana tidak bisa mengucapkan salam perkenalan dengan tepat saking gugupnya, “I’m Hana Rayu—”
“She is Hana Kuroto. My Wife.” Seketika Yoshiki memotong kalimat Hana yang hendak memperkenalkan dirinya dengan nama belakang lamanya.
“Your wife? Really? But she is not using a ring like you Kuroto-san,” dengan polos Dimitri menunjuk jari-jari Hana yang tak mengenakan apapun.
“…..” Yoshiki hanya terdiam setelah mengetahui jika Hana tidak mengenakan cincinnya kembali. “Maybe she just forgot to wear it today.”
“Hoo… nice to meet you too then Kuroto-san!” Dimitri menunduk sopan di depan Hana.
‘WAAAAAAA PROFESSORNYA HORMAT KEPADAKU!’ Hana malah sibuk tercengan.
“Moreover Kuroto-san, what are you doing here?”
“Take bachelor degree again.”
“EEEEEHH—” Pria setengah abad itu Nampak terkejut, “w-why?”
“Just want to. You change your subject research Dimitri? Last time I see you, you are working on Cancer Cell right?”
“Yah, I found Biochemistry kinda interesting,”
Hana hanya terperanggah melihat Yoshiki yang sedang asyik mengobrol ria dengan professor yang membuatnya takjub. Suami-nya itu memang luar biasa luar dan dalam.
‘Kan dia memang Lucifer! Dari situ saja sudah luar biasa sekali!’ Ucapnya kesal dalam hati.
“Then, it’s pleased to meet you again Kuroto-san,” Dimitri mengundurkan dirinya sopan, professor itu bahkan juga menundukkan kepalanya sopan pada Hana, membuat perempuan itu kembali salah tingkah.
“Yoshiki-kun kenal Dimitri-sensei!?” Hana tak bisa menahan pertanyaan itu untuk diucapkan begitu sang professor menghilang di balik belokan.
“Dia rekan satu laboratoriumku dulu saat mengambil gelar Ph. D di Afrika. Kita sama-sama memiliki research tentang suatu penyakit kekuarangan protein di Afrika,” jelas Yoshiki santai.
“Hana! Hana kan!” Sebuah suara yang familiar bagi keduanya memaksa keduanya menoleh ke sumber suara. Seketika pandangan Yoshiki tidak bisa tenang.
“Keigo-kun! Keigo-kun bagaimana keadaanmu?”
“….” Yoshiki hanya menatap datar ketika keduanya berlarian saling menyambut.
“Hn, sayang sekali kau masih hidup, padahal aku sangat menantikan untuk bertemu denganmu di neraka,” ucapan sarkastik dari Yoshiki lantas mengusik keduanya.
“Lucifer! Sudah cukup! Lepaskan dia!” Keigo melangkah maju seolah melindungi Hana.
“Hahaha….” Tawa konyol keluar dari bibir Yoshiki, “kau pikir berapa lama aku menantikannya? Lebih dari berabad-abad. Sejak dalam kandungan, setiap hari aku selalu mengamatinya, menjaganya, dan sekarang aku harus menyerahkannya kepada pria lain? Yang benar saja!”
“Kau hanya mengincar segel kekuatanmu padanya! Jangan berle—ugh!” merasakan sakit yang menusuk pada lukanya, Keigo terpaksa menghentikan kalimatnya.
“K-keigo-kun!” Khawatir dengan keadaan Keigo, lantas Hana segera membantu pria itu untuk duduk.
“Haha…” lagi-lagi sebuah tawa konyol keluar dari bibir Yoshiki, “lihatlah tubuhmu yang bahkan tidak bisa digunakan untuk berteriak itu. Sekali lagi kau muncul di hadapanku aku tidak bisa menjamin kepalamu masih akan menempel pada badanmu atau tidak, ayo My Lady!” ditariknya paksa tangan Hana untuk meninggalkan Keigo.
“T-Tunggu! Tidak! Keigo-kun,” susah payah Hana melepaskan dirinya dari cengkraman tangan Yoshiki yang menyakitkan, “lepaskan Yoshiki-kun! Keigo-kun membutuhkan bantuan untuk memeriksa dirinya! Biarkan aku mengantarkannya ke rumah sakit setidaknya! Urggh!”
“….” Yoshiki terdiam seketika.
‘Aku juga membutuhkan bantuanmu, kita bahkan belum menyelesaikan ritual pertukaran darah,’ Yoshiki tersenyum kecut.
“Sensei! Sensei!” Terdengar suara gaduh dari arah lorong di mana Keigo ditinggalkan.
“Dia sudah ditolong, sekarang kita pulang. Ujian sudah di depan mata My Lady. Kau harus belajar.”
Dengan enggan, Hana mengikuti tarikan paksa Yoshiki sebelum tangannya remuk oleh cengkraman tangan pria itu.
.
“Salah. Dipecah dulu dan dibuat turunannya terlebih dahulu,” Yoshiki menyerahkan kembali hasil pekerjaan Hana.
“…” Hana hanya meraih bukunya kembali dengan enggan.
Kedua onyx gelap Yoshiki hanya memandang Hana yang dengan enggan kembali mengerjakan, “… ada apa? Kau terlihat tidak fokus sama sekali.”
“Ah? Umm…” Hana hanya menjawab pertanyaan Yoshiki dengan sebuah gumanan sementara tangannya terus bergerak mengerjakan soal.
“…” pandangan Yoshiki mengosong beberapa saat begitu menyadari alasan kenapa Hana tidak fokus sama sekali, “menyebalkan sekali, padahal yang ada di hadapanmu adalah aku namun kau hanya memikirkan si sialan itu.”
Kedua sapphire Hana setengah terbelalak mendengar ucapan Yoshiki yang seolah bisa membaca pikirannya, “sudah, aku tidak tau bagaimana hasilnya karena angkanya aneh,” Hana menyodorkan kembali jawabannya untuk diperiksa Yoshiki.
“Seharusnya saat itu aku membunuhnya saja,” diambilnya jawaban Hana. Namun di sana tidak ada perubahan apapun yang signifikan.
Tidak ada jawaban keluar dari mulut Hana.
Yoshiki menutup buku Hana dibarengi dengan helaan panjang, “kita sudahi saja. Kau tidak akan bisa mengerjakan apapun jika tidak fokus. Dan aku—” namun Yoshiki tidak melanjutkan kalimatnya, pria itu hanya bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan.
‘—juga tidak bisa melihatmu yang hanya memikirkan si sialan itu.’
0 komentar:
Posting Komentar