CHAPTER 49: BLOOD MATTER
Yoshiki gelisah.
Hana bisa melihat semuanya. Seolah ia benar-benar mengenal pria itu luar dan dalam.
Nafas pria itu sedikit memburu, pandangan matanya tidak fokus, dan kakinya menghentak-hentak saat menyetir. Bahkan Hana bisa menangkap bola mata pria itu berkali-kali melirik ke arahnya seolah sedang memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.
Hingga pria itu menurunkannya dari gendongan di atas ranjang, pria itu hanya sibuk dengan kegelisahannya. Ia melepaskan jas, dasi, dan semua aksesoris merepotkan yang melekat pada dirinya. Pria itu duduk di ujung ranjang yang lain memunggunginya. Cukup lama Yoshiki dalam posisinya, hanya diam tanpa mengatakan apapun. Namun sekali lagi, Hana sangat tahu jika kegelisahan itu telah berubah menjadi keresahan.
.
Ia hanya bisa terdiam merutuki keadaannya yang begitu Hina saat ini. Dirinya yang harus mati-matian menahan rasa haus darah yang menyengat. Dirinya yang harus mati-matian menahan hewan buas yang meraung di dalam dirinya untuk melahap istrinya.
Mungkin ini benar-benar moment terhina dalam hidupnya setelah berabad-abad ia hidup. Dirinya, seorang Lucifer, harus menahan hasrat seksualnya yang menggebu-nggebu setelah ia sendiri terangsang oleh sekitar. Dan sungguh demi apapun ia memang sudah cukup lama tidak menyentuh istrinya. Bukankah hal yang wajar jika seorang suami rindu untuk menyentuh istrinya?
Adik kecilnya yang dibawah sudah bangun dengan sempurna.
Sialan. Ia benar-benar ingin menyetubuhi Hana dengan keras saat ini.
“Sialan.” Makian itu tanpa sadar bocor dari bibirnya.
Ia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa begitu mengistimewakan Hana!? Sampai-sampai di saat seperti ini ia sama sekali tidak bernafsu untuk melepaskan hasrat seksualnya pada wanita lain. Ia bisa saja dengan mudah menduakan Hana, menyetubuhi tubuh jalang-jalang di luar sana yang begitu menginginkan dirinya. Tapi demi apapun! Sepertinya Hana benar-benar telah menjadi candu baginya.
Ia ingin Hana ada di bawahnya. Ia ingin Hana dengan tubuh telanjangnya berada dalam rengkuhannya dan mendesahkan Namanya berkali-kali. Ia ingin melihat Hana terpuaskan oleh dirinya. Ia ingin melihat wajah Hana yang telah mencapai kenikmatan bersamanya.
“CK!!” Decakkan itu kembali bocor dari mulutnya.
.
Hana semakin merasa positif dengan pemikirannya. Yoshiki memang tengah menggumulkan sesuatu dalam diam dan decakkannya.
Sampai pria itu berdiri di hadapannya dengan wajah muram dan kakunya, “My Lady….” Namun tak hanya berhenti sampai di situ, sang pria mulai mendekatkan wajahnya padanya, memberikan tatapan memohon yang demi apapun akan jarang Hana lihat, “can we… fuck?”
Hana terkejut bukan main mendengar permohonan Yoshiki barusan. Ia tidak salah dengar kan? Seorang Kuroto Yoshiki? Meminta persetujuan darinya untuk having sex? Kemana perginya Kuroto Yoshiki yang pemaksa dan seenaknya sendiri? Bukankah selama ini keinginan pria itu harus selalu dituruti dan diiyakan bahkan dalam segala kondisi?
Bingung memberikan jawaban apa, Hana hanya bisa mengalihkan pandangannya.
“….” Yoshiki terdiam beberapa saat mendapati respon Hana yang seolah menghindarinya.
Ia memutuskan untuk menyimpulkan jika Hana menolak. Tentu saja.
Kepalanya tertunduk, ia tidak tau lagi, “kalau begitu… maukah kau…. Membantuku dengan mulut atau tanganmu saja?”
Untuk kesekian kalinya Hana kembali terkejut. Benar saja, Yoshiki tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Di bawah sana, milik Yoshiki yang telah mengeras menyembul dari balik celananya. Namun sayangnya ia tak bisa melihat ekspresi sang empunya karena sedang menunduk.
“…. K-kenapa tidak meminta bantuan p-perempuan lain? Aku yakin di luar sana akan banyak wanita yang akan dengan senang hati membantu Yoshiki-kun.”
Seketika itu juga Yoshiki mendongkakkan wajahnya, menatap Hana dengan tatapan tidak percaya.
‘Aku suamimu! Kau membiarkanku menyentuh jalang lain di luar sana!?’ Tatap Yoshiki getir.
Hana bisa melihat, kedua tangan Yoshiki yang ia gunakan untuk menyanggah tubuhnya pada ranjang terlihat mengepal kuat dan gemetar. Sejenak, pria ini marah.
Pria itu menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya beranjak, “baiklah bila begitu,” tanpa menunjukkan ekspresi wajahnya pria itu menuju kamar mandi.
“…..” Hana sendiri hanya bisa menatap punggung sang pria yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
CKLAK
Pintu kamar mandi tertutup sempurna. Hanya terisisa dirinya di dalam kamar berukuran kecil iku. Diletakkan pantatnya pada kloset.
Sejenak ia hanya duduk dan merutuki keadaannya.
Untuk pertama kalinya. Dari sejarahnya yang panjang sejak ia dibuang ke dunia manusia, seorang raja iblis sepertinya harus bermasturbasi sendiri untuk menenangkan adik kecilnya.
Harga dirinya akan hancur. Tentu saja. Tapi hal itu bukanlah masalah jika Hana saja yang mengetahuinya.
Dengan enggan ia menurunkan celananya. Di sana, kejantanannya masih berdiri tegak.
“Hhhh…..” Ia hanya bisa mendesahkan nafas berat depresi.
‘Sialan.’
Sebuah bayangan tanpa diminta lewat di dalam kepalanya. Sebuah bayangan ketika istrinya sibuk menggenggam dan mengocok miliknya hingga menimbulkan kenikmatan tersendiri baginya.
Ketika isi kepalanya mempermainkannya, ia tanpa sadar sudah mempermainkan adiknya sendiri di bawah sana. Kedua pandangannya terpejam, ia sibuk membayangkan dan menginga-ingat bagaimana istrinya memanjakkan miliknya. Pijatan demi pijatan, jilatan demi jilatan, kocokan demi kocokan, kuluman demi kuluman, hisapan demi hisapan. Ia mengingat semuanya. Bagaimana ekspresi wanitanya yang begitu nakal memberinya kenikmatan tersendiri.
“M-My Lady….”
Membutuhkan asupan lebih lagi, bayangannya berubah menjadi bagaimana Hana tengah duduk di hadapannya dengan bertelanjang badan, dengan keduanya telah disatukan di bawah sana. Bagaimana wanitanya itu bergerak ke atas ke bawah memompa miliknya, bagaimana kedua dada kecil wanitanya itu bergerak sesuai irama, bagaimana wanitanya itu bernafas terenggah-enggah merasakan kenikmatan yang sama dengannya, bagaimana wanitanya itu mendesah dan meneriakkan namanya di tengah kenikmatan.
“Argh—My.. Lad—”
Ia keluar.
Ketika ia membuka mata yang terlihat hanya betapa memalukan dan hinanya dirinya yang berusaha memberikan kenikmatan pada dirinya sendiri.
Selamat Kuroto Yoshiki, kau menghancurkan harga dirimu sendiri karena seorang wanita.
Hukuman Tuhan? Oh mungkin saja.
‘Sialan.’
Pintu kamar mandi kembali terbuka, sang raja iblis yang baru saja melakukan ritual penenangan adik kecilnya keluar dengan wajahnya yang tak bisa dibaca. Sebaliknya, Hana malah menatap kaget sang raja iblis dengan wajahnya yang luar biasa memerah. Tak memperdulikan hal itu, Kuroto Yoshiki pergi meninggalkan kamar.
“….” Hana masih terdiam melihat punggung lebar iblis itu meninggalkan kamar tanpa satu suarapun.
‘AAAAAAAAAAA—’ Namun batinnya meronta-ronta. Wajahnya yang padam seolah menjelaskan semuanya.
‘D-Dia meneriakkanku—’ Pikiran Hana kacau. Ia tak bisa berhenti memikirkan bagaimana pria yang berusaha ia tinggalkan itu berada di dalam kamar mandi, memanjakan dirinya sendiri dengan membayangkan sesuatu yang berkaitan dengannya.
‘Astaga astaga astaga! Yoshiki-kun!’ Semakin ia membayangkannya semakin malu dirinya.
.
Beberapa hari berlalu sejak kejadian malam itu. Hana sudah dilepaskan dari pengaruh obatnya, namun tidak ada kebebasan sama sekali baginya. Ponselnya diambil alih, ia hanya bisa bergerak di dalam kamar tidur sementara di luar penjagaan benar-benar ketat.
Sementara Kuroto Yoshiki sejak hari itu benar-benar berwajah suntuk. Seperti pria itu benar-benar sudah lelah menjalani hidupnya.
“Hoi! Kamu kenapa sih?”
Di tengah asyiknya ia menikmati kesendiriannya dengan menenggelamkan diri dalam wine berkualitas tinggi, seorang pria berambut jabrik merah tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.
“Tomuro…” ia hanya bisa mendesah malas.
“Kamu seperti mayat hidup,” mulut Tomuro memang selalu seenaknya.
“Aku belum meminum darahnya.”
“Astaga kau kecanduan setelah meminum darahnya bulan penuh itu?” Pria berambut jabrik itu menuangkan vodka pada gelasnya.
“Aku bahkan belum meminum darahnya sejak malam itu.”
“Ha? Apa?”
“….”
“…”
“….”
“Sama sekali? Belum meminum darah My Lady?”
“Hn.”
“Sex juga?”
“Bagaimana aku bisa menyentuh tubuhnya jika darahnya saja tidak berhasil kudapatkan?”
“BUODOOOO! KAMU INI MIKIR APA SIH SAMPAI TIDAK MEMINUM DARAHNYA?? LAGI PULA BAGAIMANA BISA KAMU BERTAHAN TIDAK MENYENTUHNYA MALAM ITU?”
“….” Tidak ada jawaban dari Yoshiki.
“Hei hei! Ayolah My Lord! Lihat kondisimu! Seperti zombie! Sadarlah hei! Ayo minum darahnya!”
“Dia akan semakin membenciku Tomuro,” Yoshiki meneguk winenya dengan pandangannya yang hambar itu tertuju kedepan, entah memandang apa.
“ARGGGHH!! Demi anjing peliharanmu yang suka memakan kakiku! Kamu sudah sinting ya? Kenapa kau jadi sensitive sekali mengenai perasaan? Jangan jadi semakin menjijikkan!”
“…” Sekali lagi Yoshiki tidak memberikan sepatah kata pun jawaban.
“Hadeeeh, kalau begitu di mana My Lady sekarang? Kamu melepaskan dia lagi supaya dia bisa minggat lagi sama mantannya itu?”
“Dia ada di kamar.”
“Oh baguslah, masih agak terhormat ah ya. Kukira kamu akan meletakkannya pada penjara bawah tanah,” Tomuro mulai beranjak dari kursinya setelah menegak habis winenya.
“Itu akan menjadi pilihan terakhir jika dibutuhkan.”
“Well…”
Dari balik jubah merah hitamnya, Tomuro Arashi meninggalkan sang raja untuk menemui sang ratu.
.
“Salam!” Bersamaan dengan teriakan itu, pintu dua kusen yang menjadi penghalang Hana merasakan kebebasan terbuka lebar.
Pria berambut jabrik merah mencolok itu membentangkan kedua tangannya penuh semangat, ditambah senyum sumringah di mulutnya itu sungguh terlihat aneh dengan tabiatnya yang seorang kaki tangan Lucifer.
“Tomuro-kun…” Hana mengucapkan nama pria itu.
“Yo! Lagi ngapain?” Pria itu mendekati sang perempuan yang tenga duduk di tepi ranjang.
“Membaca light novel.”
“Oooh… kamu mau baca sebanyak ini?” Tomuro meraih tumpukan buku yang berada di nakas.
“Mau bagaimana lagi kan? Aku dipenjara di sini. Tanpa ponsel, tanpa laptop, tanpa internet. Aku bisa mati kebosanan.”
“Ya itu kan salahmu sendiri,” jawab Tomuro asal.
“Salahku? Bagaimana bisa?”
“Dih! Anak ini masih belum sadar juga? Dasar bodoh!” Disentilnya dahi lebar Hana.
“Ouch! Sakit astaga! Kenapa sih?” Hana mengusap dahinya yang memerah dengan kesal.
“Coba bayangkan jika Yoshiki memberimu akses internet, orang pertama yang akan kau hubungi pastilah… si Yasumoto itu kan?”
DEG
Hana teridam menyadari jika tebakan Tomuro memang sangat tepat sasaran.
“Tuhkan… benar.”
Hana hanya bisa menundukkan kepalanya, “aku hanya ingin tau kondisinya, lagi pula ini semua salahku karena telah menyeretnya ke dalam masalah ini.”
“Yoshiki akan cemburu kamu tau.”
Hana menatap Tomuro tidak percaya, “Aku hanya ingin tau keadaannya Tomuro-kun! Kenapa Yoshiki-kun harus cemburu karena hal itu?”
Tomuro mengangkat kedua bahunya sekilas, “entahlah. Aku juga terkadang tidak bisa memahami pola pikirnya. Dia tidak akan jadi Lucifer jika pola pikirnya mudah ditebak,” pria dengan rambut merah itu terkekeh, “tapi yang jelas kamu adalah kebanggannya, kebanggaan yang telah lama ia cari selama ia hidup di muka bumi ini lebih dari beribu tahun lamanya.”
Tidak ada jawaban dari Hana.
“Oke, saatnya membicarakan apa yang menjadi tujuanku ke sini.”
Hana mendongkakkan kepalanya tertarik.
“Kamu sudah meminum darah Yoshiki kan?”
DEG
Hana terdiam. Bukan karena ada suatu perasaan dari dalam dirinya. Tapi karena tatapan Tomuro. Tatapan pria itu benar-benar seperti sedang mengintimidasinya.
Glup.
Susah payah ia menelan liurnya.
“I-Iya.”
“My Lady, malam itu semua makhluk dunia bawah akan kehilangan banyak energi, oleh sebab itu pengisian energi harus kembali dilakukan tergantu individunya. Ada yang memakan jiwa, memakan daging, meminum darah, terserah. Lalu kenapa kamu meminum darah? Kamu tau?”
Hana menggeleng lemah. Memang hal ini menjadi pertanyaan terbesar bagi Hana.
“Karena kau diikat dengan perjanjian darah bersama tuan kami. Lucifer.”
Hana mengangguk-angguk mengerti. Sekarang pertanyaannya telah terjawab.
“Bagaimana rasanya begitu haus akan darah Yoshiki?”
“Menyiksa. Itu benar-benar pertama kali bagiku merasa begitu haus dan tersiksa. Seolah-olah diriku sedang disetir oleh sesuatu yang buas yang bukan diriku.”
“Lalu?”
“Setelah aku meminum darah Yoshiki-kun…” Tanpa sadar tangan Hana bergerak memegang lehernya, “rasanya begitu lega dan menenangkan,” ucapan Hana semakin lirih.
“Perjanjian darah akan sempurna dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak jika keduanya saling memberikan darah. Yoshiki…” Tiba-tiba saja wajah Tomuro semakin mendekat ke arah Hana bersamaan dengan tatapan tajamnya, “tidak meminum darahmu kan?”
“Eh? T-tidak…” Hana menjawab gagu akibat tatapan Tomuro.
“Yoshiki memang sang raja iblis, ia tidak terlalu merasakan efek seperti kehausan seperti itu secara langsung, tapi tetap saja, DIA MEMBUTUHKAN DARAHMU!”
Hana luar biasa shock. Pertama kali baginya melihat iblis merah ini begitu marah dan berteriak padanya.
“T-Tapi Yoshiki-kun tidak mengatakan apapun padak—” Hana terdiam. Ia mengingat bagaimana pria itu berusaha mengatakan sesuatu padanya kemarin namun tak jadi diungkapkan, dan wajah pria itu begitu terlihat menyedihkan memang saat itu.
Tomuro terdiam sejenak membaca ekspresi Hana, “dia mengatakannya padamu kan?” Tebak Tomuro.
Tak ada jawaban dari Hana.
“Dia, raja iblis bodoh itu takut jika kau akan semakin membencinya jika menyakitimu. Aku tidak menyangka dia akan menjadi semenijijikkan ini karenamu,”
Sekali lagi Hana tak memberikan jawaban.
Helaan nafas keluar dari mulut sang iblis merah, “dia tidak mendapat darah darimu…. Dan kutebak kalian tidak akan berhubungan sex juga kan?”
Kepala Hana terdongkak dengan wajah memerah, “a-apa?”
“Selain saling berbagi darah biasanya hasrat untuk sex juga akan timbul.”
“A-aaa—” Wajah Hana semakin padam.
“Namun sepertiya mustahil bagi kalian berdua yang sedang…” Kalimat Tomuro terhenti begitu melihat wajah Hana yang telah memerah padam, “kalian berhubungan sex?”
Dalam kepala Hana teringat bagaimana Yoshiki mendesahkan namanya. Hana akui suara pria itu benar-benar sexy sehingga mampu membuat seluruh bagian tubuhnya memanas.
“T-tidak mungkin kan,” Hana memalingkan wajahnya yang memerah.
“Lalu kenapa wajahmu memerah?”
“H-Habis Tomuro-kun menanyakan sesuatu seperti itu dengan gambalangnya!” Tak tahan akan malu Hana melempar bantalnya ke arah wajah sang iblis merah.
“Padahal pembicaraan ini cukup umum,” sang iblis merah menangkap bantal yang dilemparkan sebelum mengenai wajahnya.
“Umum apanya. Sudah pergi sana!”
“Baiklah baiklah My Lady,” Tomuro hendak melangkah keluar kamar, “berikan darahmu secepatnya. Ingat itu,” sebelum akhirnya pintu kamarnya tertutup.
0 komentar:
Posting Komentar