Sabtu, 01 Agustus 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 48]

Chapter 48: For Your Sake

“Ah. Maaf karena tidak mengenali anda My Lady,” ketiga pria dengan jabatan yang luar biasa itu menundukkan kepalanya kepada Hana.
Namun sayangnya Hana tidak bisa memberikan respon kepada pria-pria itu. Untuk menangguk mungkin bisa ia lakukan namun harus banyak tenaga ia berikan.
Yoshiki yang menyadari jika ketiganya menyadari keanehan Hana yang tidak bergerak mengucapkan, “dia sedikit sakit hari ini.”
“Akan kuantar kau ke tempat yang bisa membuatmu santai,” ucap Yoshiki pada Hana sebelum ia mendorong pergi kursi roda Hana dari kerumunan.
Kursi roda itu berhenti berputar ketika telah mencapai ujung ruangan yang cukup sepi.
Didekatkan wajahnya pada wajah Hana dan berujar lembut seolah menanangkan sang istri, “Tunggu aku sebentar di sini, ok?” 
Tentu saja tidak akan ada respon dari Hana.
Yoshiki tersenyum tipis, diusapnya rambut Hana yang telah tertata rapi, “jadilah istri yang baik,” setelah itu Yoshiki meninggalkan Hana menuju kerumunan para orang penting.
Alunan jazz di dalam ruangan menggema dari seorang wanita berkulit hitam. Perempuan itu mengalunkan nada-nada indah di atas panggung dan dihujani oleh kilatan kamera. Benar juga, perempuan itu peraih penghargaan internasional yang Hana lihat di iklan beberapa hari lalu. Ta khayal, pesta ini benar-benar hanya berisi orang-orang luar biasa. Tentu saja luar biasa bahkan sampai dua iblis besar termasuk di dalamnya. 
Akibat kejadian kaburnya dirinya, Hana menduga pesta ini telah sampai di penghujung acara. Hanya tersisa waktu ramah tamah.
Di sana pria yang menyebut suaminya tengah berdiri di tengah perkumpulan beberapa pria berjabatan penting lainnya. Walau tak bisa mendengar apa yang tengah diperbincangkan oleh perkumpulan itu, Hana hanya merasa yakin jika ucapan mereka akan sangat berpengaruh pada laju pertumbuhan dunia ini.
Tak jauh dari sana terlihat meja penuh dengan hidangan pembuka yang benar-benar bisa mengocok isi perut Hana setelah insiden kejar-kejaran tadi. Sepiring salad sepertinya tidak cukup. Ia harus mencoba beberapa muffin dan krim kocok. Ditambah es krim mungkin? Oh ada pancake juga astaga!
Sayangnya Hana harus menelan semua keinginannya itu dalam satu tegukan ludahnya. Tubuhnya sangat susah digerakkan. Yang benar saja! Rasanya ia ingin membunuh Yoshiki saat ini.
“Anda menginginkan float, lady?”
Suara asing yang tiba-tiba membuat Hana melirik seketika kea rah sumber suara. Susah payah ia menggerakkan lehernya. Namun sepertinya ia tak menyesali segala susah payahnya. Pasalnya pemuda yang mengajaknya bicara ini benar-benar tampan dan manis. 
“Saya lihat dari tadi sepertinya lady terus menatap kea rah floatnya, apa mau saya bantu ambilkan?”
Oh demi dewa apapun! Pemuda ini tidak hanya tampan tapi juga sangat baik hati!
Satu anggukan yang susah payah Hana berikan. Pemuda itu dengan tersenyum mengambilkan float coklat yang entah bagaimana bisa sang pemuda tau apa keinginan Hana.
“Silahkan.”
Dan ya, Hana luar biasa malu. Bagaimana mungkin ia bisa membiarkan sisi lemahnya dilihat oleh pemuda baik dan tampan ini! Bahkan pemuda itu mau repot-repot menggenggamkan gelas kecil float pada tangan Hana.
“Maaf tiba-tiba mengganggu anda. Habisnya saya tidak tau harus berbicara dengan siapa di sini. Saya hanya datang mewakili ayah saya yang sakit. Ayah saya hanya pegusaha otomotif newbie dan beliau sangat senang menerima undangan semegah ini. Saya kira acaranya akan seperti apa. Ternyata isinya benar-benar orang luar biasa. Saya jadi takut berbicara dengan siapapun di sini, haha,” pemuda yang sudah mengambil tempat duduk di samping Hana itu mulai bercerita tanpa diminta.
Begitu rupanya. Hana mulai sedikit banyak tau mengenai perasaan pemuda ini. Lagipula siapa yang tidak akan canggung dengan pesta semegah ini?
Dibalik alisnya yang hanya bisa terangkat itu tentu saja Hana sangat ingin mengatakan banyak hal pada pemuda itu. Tapi berbicara satu kata akan cukup menguras energinya!
Pemuda itu menyadari tatapan sedih Hana untuknya, “Hahaha, lady tidak perlu menatapku sesedih itu.”
“….” Yoshiki diantara para kerumunan orang luar biasa itu hanya menatap kosong ke arah Hana yang tengah menatap seorang pemuda yang bicara padanya. Gelas anggur di tangannya ia goyang-goyangkan tanpa alasan. Sesuatu di dalam dadanya lagi-lagi terasa sakit. Hana yang membencinya sekarang bisa akrab dengan seorang pemuda asing begitu saja?
“My Lord, apakah istri anda sedang sakit? Karena saya lihat tadi My Lady berada di kursi roda,” ucap seorang pria padanya.
“Hn, stroke ringan,” jawab Yoshiki seenaknya.
“Ah cincin pada jari anda sangat indah Lady! Sungguh cincin pernikahan yang indah! Walaupun bukan seorang ahli berlian, saya sangat yakin jika berlian itu benar-benar luar biasa!” Lagi-lagi sang pemuda memberinya pujian, “suami anda pasti sosok yang luar biasa!”
Sayangnya bagi Hana hal itu bukanlah pujian.

.

“Hn, kau melupakan sesuatu My Lady,” ujar Yoshiki tiba-tiba ketika mobil telah berhenti sempurna.
Walau sapphire Hana hanya memberikan tatapan tidak suka, Yoshiki tetap meraih jemari kanan Hana dan menyelipkan sesuatu di sana. 
Hana kaget bukan main. Benda yang ia yakin sudah ia lempar ke dalam waduk itu telah kembali terpasang pada jari manisnya. Bahkan tidak ada bercak lumpur atau kotor sama sekali di sana. Seolah berlian yang bersinar indah itu tengah mengejekknya.
“Dengan begini, semuanya akan tau jika kau milikku,” diarahkannya jemari Hana pada wajahnya dan dikecupnya lembut punggung tangan Hana sambal berguman, “milik Kuroto Yoshiki seorang.”

.

Meningat hal itu mampu membuat Hana menggertakkan giginya kesal. Ingin sekali ia menyibakkan tangannya dan menampar Yoshiki habis-habisan saat itu.
“Saya penasaran suami anda yang mana—ah es krimnya hampir mencair!” Pemuda itu dengan cekatan meraih es krim yang tadinya ia genggamkan pada tangan Hana sebelum tetesan air pada permukaannya mengenai dress Hana.
“Lady, saya turut bersedih atas kondisi anda. Umm, jika anda berkenan, mungkin saya akan membantu anda menyuapkan es krim yang sedikit mencair ini. Anda menginginkannya bukan?” Bersusah payah Hana mengangguk demi menjawab permintaan manis sang pemuda. Sepertinya Tuhan baru saja mengirimkan malaikat kepadanya.
“Baiklah…” diambilnya sesendok kecil es krim untuk diarahkan pada mulut Hana.
“Dia tidak bisa memakan es krim.”
Ucapan berat Yoshiki tiba-tiba menginterupsi keduanya.
“Oh? Begitukah? Maafkan saya bila begitu. Apakah Tuan istri dari Lady ini?” Pemuda itu berujar sopan sembari meminta maaf.
“Hn. Terima kasih telah menemani istriku,” Yoshiki menjawab dengan nada datarnya, “apa kalian berdua sudah selesai? Jika ya, kami permisi.”
“Uh. I-Iya,” sang pemuda hanya menjawab kikuk saat melihat Yoshiki sudah mendorong kursi roda Hana menjauh menuju berada.
Hana tidak bisa melakukan apapun dengan kondisi tubuhnya yang hampir lumpuh sementara Yoshiki terus mendorong kursi rodanya menuju beranda. Beranda itu benar-benar luas bertaburkan cahaya bintang-bintang pada langit malam yang cerah.
 “Aku memintamu menjadi istri yang baik bukan My Lady?” Yoshiki berguman tiba-tiba saat keduanya tiba pada tepian beranda, “istri yang baik tidak akan membuat suaminya cemburu bukan?”
Hana terbelalak bukan main mendengar kalimat Yoshiki.
Melihat Hana yang seolah hendak melayangkan protes, Yoshiki menghelakan nafasnya berat. DIkeluarkannya sebuah jarum suntik yang terisi penuh oleh sebuah cairan bening.
Ketakutan kembali menjalar pada seluruh tubuh Hana. Trauma yang sudah diberikan Yoshiki mengenai kondisi tubuhnya kembali menghantuinya.
“Tenang saja. Obat ini justru adalah penawar pelumpuh yang sebelumnya. Kau ingin berbicara kan?” Diraihnya tangan Hana untuk disuntikkannya penawar itu dengan volume tidak melebihi dari 0,2 mL saja.
Penawar itu bekerja dengan cepat. Tubuh Hana yang awalnya terasa berat sedikit demi sedikit mulai terasa ringan dan ia merasa bisa menggerakkan mulutnya untuk berbicara.
“Aku benar-benar tidak mengerti Yoshiki-kun.” Itu kalimat pertama yang diucapkan Hana.
“Hn?” Salah satu alis Yoshiki terangkat, “apa yang tidak kau mengerti?”
“Semuanya. Yoshiki-kun sebenarnya kenapa? Aku hanya berbicara kepada seseorang dan Yoshiki menganggapnya aku berselingkuh dengan orang itu sampai-sampai Yoshiki-kun cemburu?”
Yoshiki menerima segelas wine dari baki pelayan, “tidak. Aku… memang cemburu pada pemuda itu. Dalam artian… sejak tadi kau hanya menatapku penuh kebencian, ketidaksukaan, dan permusuhan. Tetapi tatapanmu pada pemuda itu cukup lembut,” digoyang-goyangkannya wine dalam gelasnya, “aku…. Cemburu akan hal itu. Katakanlah aku iri pada posisi pemuda itu yang bisa menerima tatapan seperti itu darimu.”
“Kalau begitu siapa yang tidak akan marah jika disuntik dengan pelumpuh tiba-tiba?”
Yoshiki menyesap winenya, “aku hanya berusaha meminimalisir kesempatanmu untuk meninggalkanku lagi. Lagipula ini juga demi kebaikanmu.”
“Kebaikanku? Bagaimana bisa ini disebut dengan demi kebaikanku!?”
“Selain sebenarnya aku sangat ingin mengenalkanmu pada beberapa rekan bisnisku, ada hal lain yang cukup khusus hari ini.”
Hana hanya menunggu Yoshiki kembali melanjutkan jeda pada kalimatnya.
“Malam ini bulan akan menjadi sangat dekat dengan bumi. Siklus ini hanya terjadi sekitar satu windu sekali. Yang mana energi yang menjadi sumber kehidupan makhluk bukan manusia akan lebih banyak terhisap. Dan waktu puncaknya adalah—”
“AAAARGGGHHHHH!!!”
“KYAAAAAA!!”
Bersamaan dengan itu teriakan kekacauan membahana di dalam hall. Suara pecahan, bantingan, sesuatu berjatuhan seperti menjadi sebuah orkesta kekacauan di dalam sana.
“A-Ada apa?” Tatap Hana bingung.
“Sudah dimulai.”
“Apanya yang sudah dimulai Yoshiki-k—t-tunggu…” Rasa haus dan lapar seolah menghajar isi perut Hana tiba-tiba.
“Sebenarnya pesta ini memiliki panggung tersendiri. Para penghuni dunia bawah mengumpulkan manusia untuk dijadikan santapan saat ini.”
Hana entah meraung entah menggertakkan giginya, bersusah payah mempertanyakan hal yang sama, “i-ini… ada apa?”
“Intinya, malam ini energimu benar-benar habis. Dan kau harus segera mengisinya ulang. Seperti mereka,” dengan tenang Yoshiki menunjuk ke arah hall yang menunjukkan kekacauan di aman para iblis bertopeng manusia mulai memangsa entah darah, daging, ataupun jiwa mereka.
Hana membelalakkan kedua matanya kaget.
“Oleh sebab itu malam ini kau harus ada di dekatku tidak peduli apapun,” Yoshiki dengan santai melepas dasinya, melepas dua kancing teratas tuxedonya untuk memperlihatkan lehernya yang jenjang dan kekar kepada Hana, “karena kau akan sangat membutuhkanku sebagai pengikat perjanjian darah.”
DEEGGG.
DEG.
Tubuh Hana seolah tergoncang luar biasa melihat leher Yoshiki yang tanpa pertahanan.
“Kau tidak akan bisa menahannya. Seperti manusia yang membutuhkan makan. Kau membutuhkan asupan darah saat ini juga,” Yoshiki menatap Hana datar.
Bau anyir merekah dari seluruh penjuru hall terbawa angina melintasi indra penciuman Hana. Sesuatu seperti binatang meraung-raung di dalam diri Hana tak terkendali. Bau darah benar-benar membuatnya tertelan oleh kegilaan.
GRATAAAKK
Tanpa ia sadari ia sudah bangun dari kursi rodanya dan telah meraih kedua bahu Yoshiki. Dirinya yang tadi lumpuh dan hanya bisa berbicara sekarang benar-benar bisa bergerak dengan bebas. Gila memang hasrat terpendam di dalam dirinya yang begitu menginginkan darah.
Mati-matian ia menahan kesadarannya yang seolah semakin tertelan oleh dirinya yang lain.
“I am all yours, My Lady.”
Kalimat itu seolah menjadi lampu hijau bagi kegilaan Hana. Tubuhnya bergerak cepat untuk menancapkan kedua gigi taringnya ke dalam leher Yoshiki. Begitu cairan merah itu menyentuh lidahnya, tidak ada siapapun yang bisa menghentikan dirinya untuk melepaskan dahaga.
Ia hanya bisa menyesal walaupun tenggorokkannya tak pernah berhenti menelan gumpalan merah darah sang raja iblis.
“….” Yoshiki menatap ke arah lain saat Hana telah mencapai ketenangannya dalam menikmati darahnya.
“Minum saja sebanyak yang kau mau.”
Entah karena keduanya sedang terhubung atau karena Hana sedang meminum darah Yoshiki, entah mengapa saat Yoshiki mengatakan kalimatnya yang barusan Hana bisa merasakan jika Yoshiki tengah berbahagia. Seolah darah Yoshiki yang ia minum memberitahu jika sang empunya sedang berbahagia. Hana hanya tau, Yoshiki berbahagia saat itu.
Perlahan Hana melepaskan gigitannya begitu ia sudah merasa penuh. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Namun Yoshiki mengangkat dagu Hana, membuat wajah campur aduk Hana terlihat jelas tanpa gangguan. Sedih, ingin meningis, marah, kecewa, semuanya ada di sana.
“…. Tidak perlu meyalahkan dirimu sendiri, hal ini wajar bagi semua makhluk dunia bawah,” Yoshiki mengusap sisa-sisa darah yang berceceran pada bibir Hana dalam sekali usap.
Kebahagian yang ia rasakan ketika ia memberikan darahnya untuk istrinya perlahan-lahan sirna ketika ia sampai pada pemikiran apakah istrinya ini menyesal setelah menjadi iblis?
“…..” Yoshiki masih sibuk mengamati ekspresi Hana, sebelum perempuan itu menarik wajahnya dan kembali menunduk.
“My Lady—” kalimat itu tidak bisa ia lanjutkan.
Ia juga menginginkan darah Hana. Istrinya. Pertukaran darah akan sempurna jika sang pengikat perjanjian saling memberikan darah. Namun dengan kondisi yang seperti ini, Yoshiki tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya tidak ingin membuat Hana semakin membencinya.
“…” Hana hanya memberikan lirikan begitu mendengar dirinya terpanggil.
“—Tidak,” Yoshiki meraih tubuh Hana untuk ia gendong, “ayo kita pulang.”
Hana kembali dibuat kaget bukan main. Lantaran tubuhnya kembali terasa lumpuh. Rupanya hasrat gila tadi hanyalah sementara. Setelah ia puas mendapatkan darah Yoshiki, tubuhnya kembali lumpuh.
Hall benar-benar kacau. Seluruh lantai dan dinding dipenuhi bercak darah. Katakanlah bagai tempat pembantaian massal. Tidak hanya pembunuhan, bahkan pemerkosaan massal terjadi di tempat ini. Tubuh-tubuh telanjang dan terpotong-potong berserakan di seluruh penjuru lantai.
“Mereka succubus,” Yoshiki menjelaskan begitu pandangan Hana tertuju pada perkumpulan perempuan yang tengah memperkosa beberapa pria, “mereka mengambil daya hidup manusia dengan bersetubuh.”
“Anda pulang, My Lord?” Tegur seorang pria tua yang sibuk menggoyangkan pingganya untuk perempuan di hadapannya. Parahnya perempuan itu benar-benar terlihat teler.
“Hn, jangan terlalu keras pada istrimu Benny,” Ujar Yoshiki sambal berlalu.
Dari sudut matanya Hana bisa melihat, pria gendut yang disebut sebagai Benny itu mengigit leher sang wanita, ia menghisap darah wanita itu di tengah persetubuhan mereka.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.