CHAPTER 40: A WEAK MORTAL
Sepuluh menit mungkin telah berlalu. Setiap anak mulai putus asa untuk menemukan Hana. Padahal bocah nakal yang mereka cari tepat berada di sini. Di pangkuanku. Ia terkikik geli melihat temannya yang kerepotan.
“Kau suka membuat temanmu kesusahan, eh?”
“Mereka payah sih, padahal aku sedekat ini dengan mereka. Untung aku sembunyi di sini. Hihihi.”
Tanpa sadar itu adalah percakapanku dengannya. Sesuatu seperti menggelitik dada dan perutku.
Akhirnya si penjaga mulai merasa curiga denganku, ia mendekatiku, “paman, boleh angkat korannya?” Dengan wajah serius khas bocah yang sudah sangat kesal.
Aku hanya menaikkan alisku dan tersenyum jahil ke arahnya.
Ia kesal tentu saja, “RAYUMI! KAMU DI SANA KAN!? AYO KELUAR!”
Menanggapi hal itu si bocah melesat keluar melewati lenganku dan berusaha mendahului si pencari menuju post yang harus mereka sentuh. Mereka berlomba berlarian menuju salah satu pohon. Tentu saja Hana akan kalah. Lawannya adalah laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya.
Namun walaupun tidak berhasil memenangkan ronde itu, ia tersenyum lebar ke arahku seolah berkata ‘terima kasih, walaupun aku kalah aku sangat senang sekali.’
.
Hana kembali menutup buku catatabn kecil itu. Ia dibuat terkejut untuk kesekian kalinya. Kejadian ia secara sembarangan bersembuyi pada seseorang sangat membuatnya malu setengah mati setiap ia mengingat-ingatnya. Dirinya sangat-sangat tidak mengira jika pria yang dulunya tubuhnya ia gunakan untuk sembunyi adalah Yoshiki Kuroto.
Ia masih ingat dengan jelas setelah itu ia bercakap-cakap dengan teman perempuannya dalam perjalanan pulang.
“Ah sial aku tadi kalah cepat berlari!” Hana kecil merutuk.
“Harusnya tadi kamu langsung keluar waktu dia mencarimu di tempat yang jauh,” salah satu temannya yang berkuncing kanan menyahut.
“Benar-benar bodoh aku!”
“Tapi kamu emang jago menggoda deh. Paman yang kau gunakan untuk bersembunyi tadi itu sangat ganteng loh. Kata teman-teman mereka iri sama kamu!”
“Oh ya?” Hana kecil hanya merespon singkat.
Hana mengcak rambutnya kasar. Wajahnya memerah panas. Sekaligus mengumpat dalam hati, ia sudah bukan bocah puber lagi tapi rasa aneh bahagia bermekaran dalam dirinya.
Tunggu dulu. Mendengar dirinya ditolong atau berhubungan dengan seorang yang disebut “pria tampan” tidaklah sekali.
Dengan kasar dibukanya setiap halaman buku catatan itu untuk membuktikan deduksinya.
Catatan harian saat ia dibully habis-habisan.
Bulan 12, tanggal 10, tahun 20xx
Demamnya masih belum turun sejak 3 hari lalu. Sepertinya selain flu dia juga menderita radang tenggorokan.
Namun ia tetap nekat pergi bersekolah. Padahal udara sangat dingin hari itu. Hanya dengan sebuah mantel dan syal yang tidak terlalu tebal ia menerjangan udara yang hampir membeku.
Ingus terus-terusan mengalir keluar dari hidungnya. Berkali-kali pula ia membersihkannya hingga tissue yang ia milikki telah habis.
Ia kembali bersin. Membuat ingusnya keluar.
Gerombolan perempuan perusuh di kelasnya tentu saja langsung menyadari hal itu, menjadikan hal itu sebagai obyek penindasan.
Mereka berdelapan meneriakinya dengan berbagai olokan.
“Miskin! Beli Tissu nggak sanggup?”
“Jangan tebar penyakit!”
Mereka menyeretnya dengan paksa ke kamar mandi. Dia meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tapi tubuhnya terlihat lemah dan tidak mempu melakukan apapun.
Para cecenguk sialan itu!
Keadaan semakin tidak terkontrol. Mereka hendak mengguyur milikku dengan air kloset. Tubuhku bergerak sendiri, hanya berbekal sebuah jas lab yang masih kukenakan setelah bermain di lab aku mendatanginya begitu saja.
Namun keadaan sudah berubah drastis begitu aku menampakkan diri di toilet perempuan. Kedelapan cecenguk itu terkapar di lantai dengan wajah membiru dan yang tersisa hanya milikku, berdiri di tengah-tengah dengan nafas tersenggal.
Ia tersentak menatapku, ketakutan. Begitu ia melewatiku tanganku berhasil menggenggam tangannya.
“Lepaskan aku sensei!” Ia meracau, mengiraku sebagai salah seorang guru. Memang belum ada beberapa bulan ia menjadi siswa SMP di sini, wajar ia tak begitu mengenal semua pengajarnya.
“Dia memukul kami sensei!” Salah satu dari cecenguk itu bangun dan berteriak kasar.
“Benar sensei! Dia melempar kami dengan bak kemudian memukul kami! Lihat pipiku yang membiru karena ulahnya!”
Para cecenguk kecil ini…
“Benar apa yang dikatakan mereka?” Ucapku padanya, entah apa mauku menanyakan hal itu.
Ia hanya menatapku ketakutan dan ragu. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri kebingungan.
Kemudian ia terbatuk-batuk dan bersin. Tapi aku mengakui jika aku sangat bersyukur ia tak terkena siraman air yang mana bisa mmperburuk flunya.
“Mereka… mengeroyokku… dan aku terpaksa melawan. Sensei, maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud membuat masalah, aku mohon maafkan aku…”
Kedua bola mataku nampaknya sedikit melebar sekarang. Ia hampir terisak. Aku tidak menyangkan beban psikisnya seberat ini. Ia benar-benar takut membuat masalah, sayangnya masalah sendiri yang mendekatinya.
“APA KATAMUU!?”
“Bohong sensei! Kami hanya berusaha membantu anak miskin itu untuk mengusap ingusnya yang menjijikkan sebelum menular ke semua orang! Sensei juga jangan sentuh dia nanti ketularan!”
“Bisa kalian menutup bibir jalang kalian? Aku tidakbertanya pada kalian,” tanpa sadar aku mengeluarkan aura gelapku saat itu.
Kedelapan jalang itu langsung membeku di tempatnya. Aku yakin dia pun juga akan sekaget kedelapan jalang itu. Lihat saja alisnya yang semakin terangkat menahan ngeri itu.
“Sensei! Jangan karena ketampanan sensei itu jadi berani membentak kami! Apa sensei tidak tau siapa pendiri yayasan sekolah ini!?”
Para jalang kecil ini sungguh menguji kesabaranku.
“Apa yang kau lakukan pada mereka Rayumi?” Dengan tenang aku menanyainya.
Ia masih tertunduk dan membiarkanku menggenggam pergelangan tangannya, “mereka hendak mengguyurku dengan air kloset, aku hanya melindungi diri…”
“Dengan cara menghajar mereka? Sampai mereka terkapar?” Aku memutuskan untuk sedikit mengujinya.
Ia mengangkat kepalanya dengan tatapan ketakutan, “t-tidak sensei! Aku tidak sengaja! Aku mohon maafkan aku!”
“Benar sensei! Dia meninjuku sampai bibirku sobek!”
“Panggil saja orang tuanya sensei! Dia melemparkan ember sampai kepalaku sakit!”
Aku ingin merobek mulut para jalang itu.
“Baiklah,” ucapku menggantung.
“Tidak sensei! Aku mohon! Jangan panggil waliku! Aku sudah tidak punya orang tua! Hanya paman yang sedang sakit parah. Aku tidak ingin merepotkan beliau. Aku mohon sensei!” Ia hampir terisak saat itu.
Ah, milikku yang malang. Dunia ini terlalu kejam untuk kelinci kecil sepertimu.
“Lihat, sepertinya dia akan menangis dan ingusnya akan keluar semakin banyak. Ewwww…. Jijik…”
“Hahaha benar sekali. Sensei harus segera melepaskan tangannya loh. Itu jijik banget asli.”
Berikutnya dengan satu kalimatku aku berhasil membuat mereka tak berkutik, “tidak ada yang mengatakan akan memanggil orang tua Rayumi.”
“Eh?”
“Yang dipanggil adalah orang tua kalian berdelapan.”
“HAAAAAA??? KENAPA BEGITU SENSEI???”
“Tindakan kalian hanyalah tindakan binatang. Mana mungkin manusia akan melakukan tindakan menjijikan seperti menyeret sesamanya yang sakit ke toilet kemudian mengguyur dengan air toilet?”
“A-Apa?”
“Aku melihat semuanya.”
“Sensei melihat semuanya? Tapi diam saja melihat Rayumi bodoh itu menghajar kami seperti ini?”
“Lalu kenapa? Kalian ingin ditolong? Bukankah kalian pantas mendapatkan itu?” Dengan tenang kulepaskan peganganku padanya, walaupun sebenarnya aku telah kehilangan kesabaranku pada para jalang kecil ini.
Kuberikan tatapan menusuk dan sedikit mengeluarkan aura kegelapanpu untuk sekedar menakuti mereka. Dan tentu saja mereka akan sangat-sangat ketakutan.
“Sensei akan aku adukan pada papa!” Mereka berteriak dan lari tunggang langgang.
“Sial mentang-mentang tampan!”
“Lihat saja nanti!”
Teriakan-teriakan mereka yang memekakkan telinga mengisi lorong sunyi karena jam pelajaran berikutnya memang sudah dimulai.
GREP
Sebuah cengkraman terasa pada pergelangan tanganku. Aku berbalik dan mendapatinya berwajah khawatir.
“Sensei… sensei bisa benar-benar dipecat loh,” dia benar-benar khawatir padaku. Membuatku tak enak sekaligus membuatku ingin tertawa, “terakhir ada petugas kebersihan yang tidak sengaja menyenggolnya, keesokan harinya petugas itu sudah tidak dipekerjakan lagi.”
Tanpa sadar tanganku bergerak menuju kepalanya, mengusap lembut rambut hitam kelamnya yang lumayan teracak.
“Kau tidak terluka?”
Ia menggeleng lemah, sedikit tertunduk.
“Kalau begitu kau bisa kembali ke kelas, jam pelajaran berikutnya sudah dimulai.”
“Terima kasih banyak, sensei,” setelah itu ia berbalik sambil terbatuk-batuk kecil menuju kelasnya.
.
Bulan 12, Tanggal 11. Tahun 20xx
Hazel mendatangiku dengan tubuhnya yang masih telanjang dan bagian bawahnya yang sangat lengket oleh spermaku dan beberapa memar di sana. Sepertinya aku terlalu berlebihan hari ini padanya.
.
‘APAAAAAAAA!??’ Hati Hana berteriak meraung-raung.
‘Apa-apaan scene porno semacam ini?’ Wajahnya yang memerah menatap catatan kecil itu penuh emosi, ‘kenapa harus dituliskan sih?’
Dengan ini telah membuktikan jika suaminya sangat suka meniduri perempuan. Tidak heran jika Hazel begitu terobsesi padanya selama ini, pikirnya.
Hana hanya tersenyum kecut. Dikiranya ia akan selalu siap menerima kenyataan ini, ayolah Yoshiki pria dengan segala pesonanya, tidak heran jika akan meniduri ratusan perempuan, apalagi ditambah dengan masa hidupnya yang melebihi satu abad. Ternyata ia tidak siap sama sekali. Ada sedikit bagian di dalam dirinya yang seperti tercubit ketika mengetahui fakta ini.
Sedikit berdehem untuk menenangkan dirinya, mengatakan kepada otaknya jika Yoshiki bukan lagi siapa-siapanya hingga ia kembali siap melanjutkan membaca.
.
“Anda tidak seperti biasanya My Lord, ada sesuatu yang mengganggu anda?”
Sedikit ragu, aku menceritakan kegundahanku, “ini tentang milikku.”
Ia membuka mulutnya tapi tidak segera berbicara hingga setidaknya sampai satu kedipan, “Oh, anak manusia yang ditakdirkan itu?”
“Hn.”
“Kenapa dengannya?”
“Dia manusia yang sangat rentan, jika selama ini aku tidak mengawasinya, dia bisa hancur kapan saja.”
“My Lord anda bisa segera menculiknya. Memasukkannya dalam penjara bawah tanah sampai usianya siap untuk pengambilan kekuatan!”
Entah kenapa aku tak bisa menjawabnya. Menyesap anggur saja jawabanku padanya.
“My Lord… sejujurnya ini bukan seperti anda biasanya,” ia mengatakannya dengan berat.
Aku sedikit dibuatnya berpikir, “apa maksudmu?”
“Anda…. Menjadi lembek…”
“Lembek?”
“Saya melihat anda terlalu terobsesi kepada perempuan takdir ini. Saya cukup mengerti hal itu karena dia membawa kekuatan anda. Tapi… menguntitnya… melindunginya…. Anda seperti seorang remaja yang mencintai seorang gadis secara diam-diam.”
Aku meletakkan gelas anggurku dengan kasar tanpa sadar.
“Aku terlihat seperti itu?”
Ia menangguk tegas, “mengutamakan keselamatan dan kebahagiannya, sepertinya ada yang salah dengan cara berpikir anda. Dia hanya wadah kekuatan anda. Tidak lebih My Lord.”
Setelah puas menatap gelas wine yang pekat, aku harus mengakui jika diriku sudah seperti bukan diriku.
.
Sambil melirik jam yang sudah melampaui larut malam, Hana memutuskan membuka halaman secara acak untuk mendapatkan informasi terpenting saja.
Untuk sementara, Hana memutuskan akan melompat ke bagian di mana ia sudah berada di jenjang kelas 3 SMP.
.
Bulan 1, Tanggal 22. Tahun 20xx
Kesehatan kejiwaannya semakin memburuk. Hal ini sudah kuduga mengingat bagaimana gen ibunya.
Dengan kematian paman baiknya, keluarga Rayumi yang haus akan harta mulai menyerangnya secara mental setelah pertemuan keluarga terakhir.
.
Mata Hana membulat membaca catatan Yoshiki.
Ini… mimpi buruknya.
Sebuah tegukan ringan untuk sekedar membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Tangannya yang bergetar kecil mencengram tepian buku membuat beberapa lembar kertas lecek.
.
Ia menjadi pribadi yang pendiam dan benar-benar berbeda.
Hingga aku menyadari jika dia memiliki kecendurungan untuk membunuh dirinya.
Hari itu masih cukup dingin. Awan gelap masih menurunkan salju sedikit demi sedikit. Tidak ada manusia yang rela menyerahkan tubuhnya kepada dinginnya alam, apalagi di sebuah gedung sekolah berlantai empat. Kecuali dirinya, dirinya yang sudah tidak mampu lagi menahan kegelapan pikirannya.
Pandangannya kosong. Ia berdiri di tepi pembatas gedung dengan menatap ke bawah tanpa ada setitik cahaya pun di dalam bola matanya. Terkadang ia mengigil menahan udara dingin yang menerobos masuk ke dalam jaketnya.
Saat itu, untuk pertama kalinya bagiku, seorang Lucifer kebingungan setengah mati harus bertindak seperti apa. Membujuk orang untuk mengakhiri hidupnya tidaklah sesusah menahan seseorang untuk tetap hidup.
“Keigo-kun…. Keigo-kun….” Ia terisak memanggil-manggil nama si sialan itu.
Sesuatu dalam diriku seperti meraung-raung mendengarnya. Decakan keluar dari mulutku.
Tapi dengan segera sebuah seringai menghapus kegundahanku. Ayolah, walaupun berkali-kali kau panggil tengik itu tidak akan muncul setelah kuhempaskan jauh ke Timur Tengah.
Memuakkan. Dia begitu lemah sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, bahkan ketika hendak mengakhiri hidupnya ia tidak bisa karena teringat seorang cecenguk.
“Anak SMP sudah mau melompat bunuh diri?”
Tanpa kusadari tubuhku telah bergerak, menyamar sebagai salah seorang petugas kebersihan dan muncul di belakangnya.
Lantas ia berbalik badan dengan wajah ketakutan.
Tubuhku terhenyak. Kondisinya benar-benar parah jika dilihat dari dekat. Air mata benar-benar mengotori wajahnya, ditambah sebuah kantung mata besar itu pasti sebuah hasil dari pergulatan batinnya.
“S-Siapa anda? Aku tidak tau jika ada petugas kebersihan berwajah seperti anda!”
Tentu saja dia akan menyadarinya.
“Aku baru di sini,” ucapku tenang.
“K-Kata siapa aku akan bunuh diri!?” Dia masih menyandarkan tubuhnya dn berpegangan pada pagar pembatas.
“Terlihat jelas dari wajahmu. Sangat putus asa dan menginginkan kematian.”
Ia terdiam.
“Paman tahu apa…” ia berguman pelan.
‘Aku tahu segalanya tentangmu, manusia,’ ingin sekali kukatakan hal itu padanya.
Aku mendekat kepadanya, ia memasang posisi sigap, “p-percuma! Aku sudah tidak ingin hidup! Paman tidak perlu menghabiskan waktu paman di sini dan menceramahiku!”
“Jangan.”
Ia terdiam oleh ucapanku.
“Tutup telingamu. Jangan dengarkan ucapan sekitarmu. Lalu hiduplah, hiduplah menanggung kesengsaraan itu sebagai dendam untuk memicu semangatmu menghancurkan mereka yang berusaha menghancurkanmu!”
Read More ->>
Sepuluh menit mungkin telah berlalu. Setiap anak mulai putus asa untuk menemukan Hana. Padahal bocah nakal yang mereka cari tepat berada di sini. Di pangkuanku. Ia terkikik geli melihat temannya yang kerepotan.
“Kau suka membuat temanmu kesusahan, eh?”
“Mereka payah sih, padahal aku sedekat ini dengan mereka. Untung aku sembunyi di sini. Hihihi.”
Tanpa sadar itu adalah percakapanku dengannya. Sesuatu seperti menggelitik dada dan perutku.
Akhirnya si penjaga mulai merasa curiga denganku, ia mendekatiku, “paman, boleh angkat korannya?” Dengan wajah serius khas bocah yang sudah sangat kesal.
Aku hanya menaikkan alisku dan tersenyum jahil ke arahnya.
Ia kesal tentu saja, “RAYUMI! KAMU DI SANA KAN!? AYO KELUAR!”
Menanggapi hal itu si bocah melesat keluar melewati lenganku dan berusaha mendahului si pencari menuju post yang harus mereka sentuh. Mereka berlomba berlarian menuju salah satu pohon. Tentu saja Hana akan kalah. Lawannya adalah laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya.
Namun walaupun tidak berhasil memenangkan ronde itu, ia tersenyum lebar ke arahku seolah berkata ‘terima kasih, walaupun aku kalah aku sangat senang sekali.’
.
Hana kembali menutup buku catatabn kecil itu. Ia dibuat terkejut untuk kesekian kalinya. Kejadian ia secara sembarangan bersembuyi pada seseorang sangat membuatnya malu setengah mati setiap ia mengingat-ingatnya. Dirinya sangat-sangat tidak mengira jika pria yang dulunya tubuhnya ia gunakan untuk sembunyi adalah Yoshiki Kuroto.
Ia masih ingat dengan jelas setelah itu ia bercakap-cakap dengan teman perempuannya dalam perjalanan pulang.
“Ah sial aku tadi kalah cepat berlari!” Hana kecil merutuk.
“Harusnya tadi kamu langsung keluar waktu dia mencarimu di tempat yang jauh,” salah satu temannya yang berkuncing kanan menyahut.
“Benar-benar bodoh aku!”
“Tapi kamu emang jago menggoda deh. Paman yang kau gunakan untuk bersembunyi tadi itu sangat ganteng loh. Kata teman-teman mereka iri sama kamu!”
“Oh ya?” Hana kecil hanya merespon singkat.
Hana mengcak rambutnya kasar. Wajahnya memerah panas. Sekaligus mengumpat dalam hati, ia sudah bukan bocah puber lagi tapi rasa aneh bahagia bermekaran dalam dirinya.
Tunggu dulu. Mendengar dirinya ditolong atau berhubungan dengan seorang yang disebut “pria tampan” tidaklah sekali.
Dengan kasar dibukanya setiap halaman buku catatan itu untuk membuktikan deduksinya.
Catatan harian saat ia dibully habis-habisan.
Bulan 12, tanggal 10, tahun 20xx
Demamnya masih belum turun sejak 3 hari lalu. Sepertinya selain flu dia juga menderita radang tenggorokan.
Namun ia tetap nekat pergi bersekolah. Padahal udara sangat dingin hari itu. Hanya dengan sebuah mantel dan syal yang tidak terlalu tebal ia menerjangan udara yang hampir membeku.
Ingus terus-terusan mengalir keluar dari hidungnya. Berkali-kali pula ia membersihkannya hingga tissue yang ia milikki telah habis.
Ia kembali bersin. Membuat ingusnya keluar.
Gerombolan perempuan perusuh di kelasnya tentu saja langsung menyadari hal itu, menjadikan hal itu sebagai obyek penindasan.
Mereka berdelapan meneriakinya dengan berbagai olokan.
“Miskin! Beli Tissu nggak sanggup?”
“Jangan tebar penyakit!”
Mereka menyeretnya dengan paksa ke kamar mandi. Dia meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tapi tubuhnya terlihat lemah dan tidak mempu melakukan apapun.
Para cecenguk sialan itu!
Keadaan semakin tidak terkontrol. Mereka hendak mengguyur milikku dengan air kloset. Tubuhku bergerak sendiri, hanya berbekal sebuah jas lab yang masih kukenakan setelah bermain di lab aku mendatanginya begitu saja.
Namun keadaan sudah berubah drastis begitu aku menampakkan diri di toilet perempuan. Kedelapan cecenguk itu terkapar di lantai dengan wajah membiru dan yang tersisa hanya milikku, berdiri di tengah-tengah dengan nafas tersenggal.
Ia tersentak menatapku, ketakutan. Begitu ia melewatiku tanganku berhasil menggenggam tangannya.
“Lepaskan aku sensei!” Ia meracau, mengiraku sebagai salah seorang guru. Memang belum ada beberapa bulan ia menjadi siswa SMP di sini, wajar ia tak begitu mengenal semua pengajarnya.
“Dia memukul kami sensei!” Salah satu dari cecenguk itu bangun dan berteriak kasar.
“Benar sensei! Dia melempar kami dengan bak kemudian memukul kami! Lihat pipiku yang membiru karena ulahnya!”
Para cecenguk kecil ini…
“Benar apa yang dikatakan mereka?” Ucapku padanya, entah apa mauku menanyakan hal itu.
Ia hanya menatapku ketakutan dan ragu. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri kebingungan.
Kemudian ia terbatuk-batuk dan bersin. Tapi aku mengakui jika aku sangat bersyukur ia tak terkena siraman air yang mana bisa mmperburuk flunya.
“Mereka… mengeroyokku… dan aku terpaksa melawan. Sensei, maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud membuat masalah, aku mohon maafkan aku…”
Kedua bola mataku nampaknya sedikit melebar sekarang. Ia hampir terisak. Aku tidak menyangkan beban psikisnya seberat ini. Ia benar-benar takut membuat masalah, sayangnya masalah sendiri yang mendekatinya.
“APA KATAMUU!?”
“Bohong sensei! Kami hanya berusaha membantu anak miskin itu untuk mengusap ingusnya yang menjijikkan sebelum menular ke semua orang! Sensei juga jangan sentuh dia nanti ketularan!”
“Bisa kalian menutup bibir jalang kalian? Aku tidakbertanya pada kalian,” tanpa sadar aku mengeluarkan aura gelapku saat itu.
Kedelapan jalang itu langsung membeku di tempatnya. Aku yakin dia pun juga akan sekaget kedelapan jalang itu. Lihat saja alisnya yang semakin terangkat menahan ngeri itu.
“Sensei! Jangan karena ketampanan sensei itu jadi berani membentak kami! Apa sensei tidak tau siapa pendiri yayasan sekolah ini!?”
Para jalang kecil ini sungguh menguji kesabaranku.
“Apa yang kau lakukan pada mereka Rayumi?” Dengan tenang aku menanyainya.
Ia masih tertunduk dan membiarkanku menggenggam pergelangan tangannya, “mereka hendak mengguyurku dengan air kloset, aku hanya melindungi diri…”
“Dengan cara menghajar mereka? Sampai mereka terkapar?” Aku memutuskan untuk sedikit mengujinya.
Ia mengangkat kepalanya dengan tatapan ketakutan, “t-tidak sensei! Aku tidak sengaja! Aku mohon maafkan aku!”
“Benar sensei! Dia meninjuku sampai bibirku sobek!”
“Panggil saja orang tuanya sensei! Dia melemparkan ember sampai kepalaku sakit!”
Aku ingin merobek mulut para jalang itu.
“Baiklah,” ucapku menggantung.
“Tidak sensei! Aku mohon! Jangan panggil waliku! Aku sudah tidak punya orang tua! Hanya paman yang sedang sakit parah. Aku tidak ingin merepotkan beliau. Aku mohon sensei!” Ia hampir terisak saat itu.
Ah, milikku yang malang. Dunia ini terlalu kejam untuk kelinci kecil sepertimu.
“Lihat, sepertinya dia akan menangis dan ingusnya akan keluar semakin banyak. Ewwww…. Jijik…”
“Hahaha benar sekali. Sensei harus segera melepaskan tangannya loh. Itu jijik banget asli.”
Berikutnya dengan satu kalimatku aku berhasil membuat mereka tak berkutik, “tidak ada yang mengatakan akan memanggil orang tua Rayumi.”
“Eh?”
“Yang dipanggil adalah orang tua kalian berdelapan.”
“HAAAAAA??? KENAPA BEGITU SENSEI???”
“Tindakan kalian hanyalah tindakan binatang. Mana mungkin manusia akan melakukan tindakan menjijikan seperti menyeret sesamanya yang sakit ke toilet kemudian mengguyur dengan air toilet?”
“A-Apa?”
“Aku melihat semuanya.”
“Sensei melihat semuanya? Tapi diam saja melihat Rayumi bodoh itu menghajar kami seperti ini?”
“Lalu kenapa? Kalian ingin ditolong? Bukankah kalian pantas mendapatkan itu?” Dengan tenang kulepaskan peganganku padanya, walaupun sebenarnya aku telah kehilangan kesabaranku pada para jalang kecil ini.
Kuberikan tatapan menusuk dan sedikit mengeluarkan aura kegelapanpu untuk sekedar menakuti mereka. Dan tentu saja mereka akan sangat-sangat ketakutan.
“Sensei akan aku adukan pada papa!” Mereka berteriak dan lari tunggang langgang.
“Sial mentang-mentang tampan!”
“Lihat saja nanti!”
Teriakan-teriakan mereka yang memekakkan telinga mengisi lorong sunyi karena jam pelajaran berikutnya memang sudah dimulai.
GREP
Sebuah cengkraman terasa pada pergelangan tanganku. Aku berbalik dan mendapatinya berwajah khawatir.
“Sensei… sensei bisa benar-benar dipecat loh,” dia benar-benar khawatir padaku. Membuatku tak enak sekaligus membuatku ingin tertawa, “terakhir ada petugas kebersihan yang tidak sengaja menyenggolnya, keesokan harinya petugas itu sudah tidak dipekerjakan lagi.”
Tanpa sadar tanganku bergerak menuju kepalanya, mengusap lembut rambut hitam kelamnya yang lumayan teracak.
“Kau tidak terluka?”
Ia menggeleng lemah, sedikit tertunduk.
“Kalau begitu kau bisa kembali ke kelas, jam pelajaran berikutnya sudah dimulai.”
“Terima kasih banyak, sensei,” setelah itu ia berbalik sambil terbatuk-batuk kecil menuju kelasnya.
.
Bulan 12, Tanggal 11. Tahun 20xx
Hazel mendatangiku dengan tubuhnya yang masih telanjang dan bagian bawahnya yang sangat lengket oleh spermaku dan beberapa memar di sana. Sepertinya aku terlalu berlebihan hari ini padanya.
.
‘APAAAAAAAA!??’ Hati Hana berteriak meraung-raung.
‘Apa-apaan scene porno semacam ini?’ Wajahnya yang memerah menatap catatan kecil itu penuh emosi, ‘kenapa harus dituliskan sih?’
Dengan ini telah membuktikan jika suaminya sangat suka meniduri perempuan. Tidak heran jika Hazel begitu terobsesi padanya selama ini, pikirnya.
Hana hanya tersenyum kecut. Dikiranya ia akan selalu siap menerima kenyataan ini, ayolah Yoshiki pria dengan segala pesonanya, tidak heran jika akan meniduri ratusan perempuan, apalagi ditambah dengan masa hidupnya yang melebihi satu abad. Ternyata ia tidak siap sama sekali. Ada sedikit bagian di dalam dirinya yang seperti tercubit ketika mengetahui fakta ini.
Sedikit berdehem untuk menenangkan dirinya, mengatakan kepada otaknya jika Yoshiki bukan lagi siapa-siapanya hingga ia kembali siap melanjutkan membaca.
.
“Anda tidak seperti biasanya My Lord, ada sesuatu yang mengganggu anda?”
Sedikit ragu, aku menceritakan kegundahanku, “ini tentang milikku.”
Ia membuka mulutnya tapi tidak segera berbicara hingga setidaknya sampai satu kedipan, “Oh, anak manusia yang ditakdirkan itu?”
“Hn.”
“Kenapa dengannya?”
“Dia manusia yang sangat rentan, jika selama ini aku tidak mengawasinya, dia bisa hancur kapan saja.”
“My Lord anda bisa segera menculiknya. Memasukkannya dalam penjara bawah tanah sampai usianya siap untuk pengambilan kekuatan!”
Entah kenapa aku tak bisa menjawabnya. Menyesap anggur saja jawabanku padanya.
“My Lord… sejujurnya ini bukan seperti anda biasanya,” ia mengatakannya dengan berat.
Aku sedikit dibuatnya berpikir, “apa maksudmu?”
“Anda…. Menjadi lembek…”
“Lembek?”
“Saya melihat anda terlalu terobsesi kepada perempuan takdir ini. Saya cukup mengerti hal itu karena dia membawa kekuatan anda. Tapi… menguntitnya… melindunginya…. Anda seperti seorang remaja yang mencintai seorang gadis secara diam-diam.”
Aku meletakkan gelas anggurku dengan kasar tanpa sadar.
“Aku terlihat seperti itu?”
Ia menangguk tegas, “mengutamakan keselamatan dan kebahagiannya, sepertinya ada yang salah dengan cara berpikir anda. Dia hanya wadah kekuatan anda. Tidak lebih My Lord.”
Setelah puas menatap gelas wine yang pekat, aku harus mengakui jika diriku sudah seperti bukan diriku.
.
Sambil melirik jam yang sudah melampaui larut malam, Hana memutuskan membuka halaman secara acak untuk mendapatkan informasi terpenting saja.
Untuk sementara, Hana memutuskan akan melompat ke bagian di mana ia sudah berada di jenjang kelas 3 SMP.
.
Bulan 1, Tanggal 22. Tahun 20xx
Kesehatan kejiwaannya semakin memburuk. Hal ini sudah kuduga mengingat bagaimana gen ibunya.
Dengan kematian paman baiknya, keluarga Rayumi yang haus akan harta mulai menyerangnya secara mental setelah pertemuan keluarga terakhir.
.
Mata Hana membulat membaca catatan Yoshiki.
Ini… mimpi buruknya.
Sebuah tegukan ringan untuk sekedar membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Tangannya yang bergetar kecil mencengram tepian buku membuat beberapa lembar kertas lecek.
.
Ia menjadi pribadi yang pendiam dan benar-benar berbeda.
Hingga aku menyadari jika dia memiliki kecendurungan untuk membunuh dirinya.
Hari itu masih cukup dingin. Awan gelap masih menurunkan salju sedikit demi sedikit. Tidak ada manusia yang rela menyerahkan tubuhnya kepada dinginnya alam, apalagi di sebuah gedung sekolah berlantai empat. Kecuali dirinya, dirinya yang sudah tidak mampu lagi menahan kegelapan pikirannya.
Pandangannya kosong. Ia berdiri di tepi pembatas gedung dengan menatap ke bawah tanpa ada setitik cahaya pun di dalam bola matanya. Terkadang ia mengigil menahan udara dingin yang menerobos masuk ke dalam jaketnya.
Saat itu, untuk pertama kalinya bagiku, seorang Lucifer kebingungan setengah mati harus bertindak seperti apa. Membujuk orang untuk mengakhiri hidupnya tidaklah sesusah menahan seseorang untuk tetap hidup.
“Keigo-kun…. Keigo-kun….” Ia terisak memanggil-manggil nama si sialan itu.
Sesuatu dalam diriku seperti meraung-raung mendengarnya. Decakan keluar dari mulutku.
Tapi dengan segera sebuah seringai menghapus kegundahanku. Ayolah, walaupun berkali-kali kau panggil tengik itu tidak akan muncul setelah kuhempaskan jauh ke Timur Tengah.
Memuakkan. Dia begitu lemah sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, bahkan ketika hendak mengakhiri hidupnya ia tidak bisa karena teringat seorang cecenguk.
“Anak SMP sudah mau melompat bunuh diri?”
Tanpa kusadari tubuhku telah bergerak, menyamar sebagai salah seorang petugas kebersihan dan muncul di belakangnya.
Lantas ia berbalik badan dengan wajah ketakutan.
Tubuhku terhenyak. Kondisinya benar-benar parah jika dilihat dari dekat. Air mata benar-benar mengotori wajahnya, ditambah sebuah kantung mata besar itu pasti sebuah hasil dari pergulatan batinnya.
“S-Siapa anda? Aku tidak tau jika ada petugas kebersihan berwajah seperti anda!”
Tentu saja dia akan menyadarinya.
“Aku baru di sini,” ucapku tenang.
“K-Kata siapa aku akan bunuh diri!?” Dia masih menyandarkan tubuhnya dn berpegangan pada pagar pembatas.
“Terlihat jelas dari wajahmu. Sangat putus asa dan menginginkan kematian.”
Ia terdiam.
“Paman tahu apa…” ia berguman pelan.
‘Aku tahu segalanya tentangmu, manusia,’ ingin sekali kukatakan hal itu padanya.
Aku mendekat kepadanya, ia memasang posisi sigap, “p-percuma! Aku sudah tidak ingin hidup! Paman tidak perlu menghabiskan waktu paman di sini dan menceramahiku!”
“Jangan.”
Ia terdiam oleh ucapanku.
“Tutup telingamu. Jangan dengarkan ucapan sekitarmu. Lalu hiduplah, hiduplah menanggung kesengsaraan itu sebagai dendam untuk memicu semangatmu menghancurkan mereka yang berusaha menghancurkanmu!”