Jumat, 24 Januari 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 40]

CHAPTER 40: A WEAK MORTAL

Sepuluh menit mungkin telah berlalu. Setiap anak mulai putus asa untuk menemukan Hana. Padahal bocah nakal yang mereka cari tepat berada di sini. Di pangkuanku. Ia terkikik geli melihat temannya yang kerepotan.
“Kau suka membuat temanmu kesusahan, eh?”
“Mereka payah sih, padahal aku sedekat ini dengan mereka. Untung aku sembunyi di sini. Hihihi.”
Tanpa sadar itu adalah percakapanku dengannya. Sesuatu seperti menggelitik dada dan perutku.
Akhirnya si penjaga mulai merasa curiga denganku, ia mendekatiku, “paman, boleh angkat korannya?” Dengan wajah serius khas bocah yang sudah sangat kesal.
Aku hanya menaikkan alisku dan tersenyum jahil ke arahnya.
Ia kesal tentu saja, “RAYUMI! KAMU DI SANA KAN!? AYO KELUAR!”
Menanggapi hal itu si bocah melesat keluar melewati lenganku dan berusaha mendahului si pencari menuju post yang harus mereka sentuh. Mereka berlomba berlarian menuju salah satu pohon. Tentu saja Hana akan kalah. Lawannya adalah laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya.
Namun walaupun tidak berhasil memenangkan ronde itu, ia tersenyum lebar ke arahku seolah berkata ‘terima kasih, walaupun aku kalah aku sangat senang sekali.’

.

Hana kembali menutup buku catatabn kecil itu. Ia dibuat terkejut untuk kesekian kalinya. Kejadian ia secara sembarangan bersembuyi pada seseorang sangat membuatnya malu setengah mati setiap ia mengingat-ingatnya. Dirinya sangat-sangat tidak mengira jika pria yang dulunya tubuhnya ia gunakan untuk sembunyi adalah Yoshiki Kuroto.
Ia masih ingat dengan jelas setelah itu ia bercakap-cakap dengan teman perempuannya dalam perjalanan pulang.
“Ah sial aku tadi kalah cepat berlari!” Hana kecil merutuk.
“Harusnya tadi kamu langsung keluar waktu dia mencarimu di tempat yang jauh,” salah satu temannya yang berkuncing kanan menyahut.
“Benar-benar bodoh aku!”
“Tapi kamu emang jago menggoda deh. Paman yang kau gunakan untuk bersembunyi tadi itu sangat ganteng loh. Kata teman-teman mereka iri sama kamu!”
“Oh ya?” Hana kecil hanya merespon singkat.
Hana mengcak rambutnya kasar. Wajahnya memerah panas. Sekaligus mengumpat dalam hati, ia sudah bukan bocah puber lagi tapi rasa aneh bahagia bermekaran dalam dirinya.
Tunggu dulu. Mendengar dirinya ditolong atau berhubungan dengan seorang yang disebut “pria tampan” tidaklah sekali.
Dengan kasar dibukanya setiap halaman buku catatan itu untuk membuktikan deduksinya.
Catatan harian saat ia dibully habis-habisan.
Bulan 12, tanggal 10, tahun 20xx
Demamnya masih belum turun sejak 3 hari lalu. Sepertinya selain flu dia juga menderita radang tenggorokan.
Namun ia tetap nekat pergi bersekolah. Padahal udara sangat dingin hari itu. Hanya dengan sebuah mantel dan syal yang tidak terlalu tebal ia menerjangan udara yang hampir membeku.
Ingus terus-terusan mengalir keluar dari hidungnya. Berkali-kali pula ia membersihkannya hingga tissue yang ia milikki telah habis.
Ia kembali bersin. Membuat ingusnya keluar.
Gerombolan perempuan perusuh di kelasnya tentu saja langsung menyadari hal itu, menjadikan hal itu sebagai obyek penindasan.
Mereka berdelapan meneriakinya dengan berbagai olokan.
“Miskin! Beli Tissu nggak sanggup?”
“Jangan tebar penyakit!”
Mereka menyeretnya dengan paksa ke kamar mandi. Dia meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tapi tubuhnya terlihat lemah dan tidak mempu melakukan apapun.
Para cecenguk sialan itu!
Keadaan semakin tidak terkontrol. Mereka hendak mengguyur milikku dengan air kloset. Tubuhku bergerak sendiri, hanya berbekal sebuah jas lab yang masih kukenakan setelah bermain di lab aku mendatanginya begitu saja.
Namun keadaan sudah berubah drastis begitu aku menampakkan diri di toilet perempuan. Kedelapan cecenguk itu terkapar di lantai dengan wajah membiru dan yang tersisa hanya milikku, berdiri di tengah-tengah dengan nafas tersenggal.
Ia tersentak menatapku, ketakutan. Begitu ia melewatiku tanganku berhasil menggenggam tangannya.
“Lepaskan aku sensei!” Ia meracau, mengiraku sebagai salah seorang guru. Memang belum ada beberapa bulan ia menjadi siswa SMP di sini, wajar ia tak begitu mengenal semua pengajarnya.
“Dia memukul kami sensei!” Salah satu dari cecenguk itu bangun dan berteriak kasar.
“Benar sensei! Dia melempar kami dengan bak kemudian memukul kami! Lihat pipiku yang membiru karena ulahnya!”
Para cecenguk kecil ini…
“Benar apa yang dikatakan mereka?” Ucapku padanya, entah apa mauku menanyakan hal itu.
Ia hanya menatapku ketakutan dan ragu. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri kebingungan.
Kemudian ia terbatuk-batuk dan bersin. Tapi aku mengakui jika aku sangat bersyukur ia tak terkena siraman air yang mana bisa mmperburuk flunya.
“Mereka… mengeroyokku… dan aku terpaksa melawan. Sensei, maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud membuat masalah, aku mohon maafkan aku…”
Kedua bola mataku nampaknya sedikit melebar sekarang. Ia hampir terisak. Aku tidak menyangkan beban psikisnya seberat ini. Ia benar-benar takut membuat masalah, sayangnya masalah sendiri yang mendekatinya.
“APA KATAMUU!?”
“Bohong sensei! Kami hanya berusaha membantu anak miskin itu untuk mengusap ingusnya yang menjijikkan sebelum menular ke semua orang! Sensei juga jangan sentuh dia nanti ketularan!”
“Bisa kalian menutup bibir jalang kalian? Aku tidakbertanya pada kalian,” tanpa sadar aku mengeluarkan aura gelapku saat itu.
Kedelapan jalang itu langsung membeku di tempatnya. Aku yakin dia pun juga akan sekaget kedelapan jalang itu. Lihat saja alisnya yang semakin terangkat menahan ngeri itu.
“Sensei! Jangan karena ketampanan sensei itu jadi berani membentak kami! Apa sensei tidak tau siapa pendiri yayasan sekolah ini!?”
Para jalang kecil ini sungguh menguji kesabaranku.
“Apa yang kau lakukan pada mereka Rayumi?” Dengan tenang aku menanyainya.
Ia masih tertunduk dan membiarkanku menggenggam pergelangan tangannya, “mereka hendak mengguyurku dengan air kloset, aku hanya melindungi diri…”
“Dengan cara menghajar mereka? Sampai mereka terkapar?” Aku memutuskan untuk sedikit mengujinya.
Ia mengangkat kepalanya dengan tatapan ketakutan, “t-tidak sensei! Aku tidak sengaja! Aku mohon maafkan aku!”
“Benar sensei! Dia meninjuku sampai bibirku sobek!”
“Panggil saja orang tuanya sensei! Dia melemparkan ember sampai kepalaku sakit!”
Aku ingin merobek mulut para jalang itu.
“Baiklah,” ucapku menggantung.
“Tidak sensei! Aku mohon! Jangan panggil waliku! Aku sudah tidak punya orang tua! Hanya paman yang sedang sakit parah. Aku tidak ingin merepotkan beliau. Aku mohon sensei!” Ia hampir terisak saat itu.
Ah, milikku yang malang. Dunia ini terlalu kejam untuk kelinci kecil sepertimu.
“Lihat, sepertinya dia akan menangis dan ingusnya akan keluar semakin banyak. Ewwww…. Jijik…”
“Hahaha benar sekali. Sensei harus segera melepaskan tangannya loh. Itu jijik banget asli.”
Berikutnya dengan satu kalimatku aku berhasil membuat mereka tak berkutik, “tidak ada yang mengatakan akan memanggil orang tua Rayumi.”
“Eh?”
“Yang dipanggil adalah orang tua kalian berdelapan.”
“HAAAAAA??? KENAPA BEGITU SENSEI???”
“Tindakan kalian hanyalah tindakan binatang. Mana mungkin manusia akan melakukan tindakan menjijikan seperti menyeret sesamanya yang sakit ke toilet kemudian mengguyur dengan air toilet?”
“A-Apa?”
“Aku melihat semuanya.”
“Sensei melihat semuanya? Tapi diam saja melihat Rayumi bodoh itu menghajar kami seperti ini?”
“Lalu kenapa? Kalian ingin ditolong? Bukankah kalian pantas mendapatkan itu?” Dengan tenang kulepaskan peganganku padanya, walaupun sebenarnya aku telah kehilangan kesabaranku pada para jalang kecil ini.
Kuberikan tatapan menusuk dan sedikit mengeluarkan aura kegelapanpu untuk sekedar menakuti mereka. Dan tentu saja mereka akan sangat-sangat ketakutan.
“Sensei akan aku adukan pada papa!” Mereka berteriak dan lari tunggang langgang.
“Sial mentang-mentang tampan!”
“Lihat saja nanti!”
Teriakan-teriakan mereka yang memekakkan telinga mengisi lorong sunyi karena jam pelajaran berikutnya memang sudah dimulai.
GREP
Sebuah cengkraman terasa pada pergelangan tanganku. Aku berbalik dan mendapatinya berwajah khawatir.
“Sensei… sensei bisa benar-benar dipecat loh,” dia benar-benar khawatir padaku. Membuatku tak enak sekaligus membuatku ingin tertawa, “terakhir ada petugas kebersihan yang tidak sengaja menyenggolnya, keesokan harinya petugas itu sudah tidak dipekerjakan lagi.”
Tanpa sadar tanganku bergerak menuju kepalanya, mengusap lembut rambut hitam kelamnya yang lumayan teracak.
“Kau tidak terluka?”
Ia menggeleng lemah, sedikit tertunduk.
“Kalau begitu kau bisa kembali ke kelas, jam pelajaran berikutnya sudah dimulai.”
“Terima kasih banyak, sensei,” setelah itu ia berbalik sambil terbatuk-batuk kecil menuju kelasnya.

.

Bulan 12, Tanggal 11. Tahun 20xx
Hazel mendatangiku dengan tubuhnya yang masih telanjang dan bagian bawahnya yang sangat lengket oleh spermaku dan beberapa memar di sana. Sepertinya aku terlalu berlebihan hari ini padanya.

.

‘APAAAAAAAA!??’ Hati Hana berteriak meraung-raung.
‘Apa-apaan scene porno semacam ini?’ Wajahnya yang memerah menatap catatan kecil itu penuh emosi, ‘kenapa harus dituliskan sih?’
Dengan ini telah membuktikan jika suaminya sangat suka meniduri perempuan. Tidak heran jika Hazel begitu terobsesi padanya selama ini, pikirnya.
Hana hanya tersenyum kecut. Dikiranya ia akan selalu siap menerima kenyataan ini, ayolah Yoshiki pria dengan segala pesonanya, tidak heran jika akan meniduri ratusan perempuan, apalagi ditambah dengan masa hidupnya yang melebihi satu abad. Ternyata ia tidak siap sama sekali. Ada sedikit bagian di dalam dirinya yang seperti tercubit ketika mengetahui fakta ini.
Sedikit berdehem untuk menenangkan dirinya, mengatakan kepada otaknya jika Yoshiki bukan lagi siapa-siapanya hingga ia kembali siap melanjutkan membaca.

.

“Anda tidak seperti biasanya My Lord, ada sesuatu yang mengganggu anda?”
Sedikit ragu, aku menceritakan kegundahanku, “ini tentang milikku.”
Ia membuka mulutnya tapi tidak segera berbicara hingga setidaknya sampai satu kedipan, “Oh, anak manusia yang ditakdirkan itu?”
“Hn.”
“Kenapa dengannya?”
“Dia manusia yang sangat rentan, jika selama ini aku tidak mengawasinya, dia bisa hancur kapan saja.”
“My Lord anda bisa segera menculiknya. Memasukkannya dalam penjara bawah tanah sampai usianya siap untuk pengambilan kekuatan!”
Entah kenapa aku tak bisa menjawabnya. Menyesap anggur saja jawabanku padanya.
“My Lord… sejujurnya ini bukan seperti anda biasanya,” ia mengatakannya dengan berat.
Aku sedikit dibuatnya berpikir, “apa maksudmu?”
“Anda…. Menjadi lembek…”
“Lembek?”
“Saya melihat anda terlalu terobsesi kepada perempuan takdir ini. Saya cukup mengerti hal itu karena dia membawa kekuatan anda. Tapi… menguntitnya… melindunginya…. Anda seperti seorang remaja yang mencintai seorang gadis secara diam-diam.”
Aku meletakkan gelas anggurku dengan kasar tanpa sadar.
“Aku terlihat seperti itu?”
Ia menangguk tegas, “mengutamakan keselamatan dan kebahagiannya, sepertinya ada yang salah dengan cara berpikir anda. Dia hanya wadah kekuatan anda. Tidak lebih My Lord.”
Setelah puas menatap gelas wine yang pekat, aku harus mengakui jika diriku sudah seperti bukan diriku.

.

Sambil melirik jam yang sudah melampaui larut malam, Hana memutuskan membuka halaman secara acak untuk mendapatkan informasi terpenting saja.
Untuk sementara, Hana memutuskan akan melompat ke bagian di mana ia sudah berada di jenjang kelas 3 SMP.

.

Bulan 1, Tanggal 22. Tahun 20xx
Kesehatan kejiwaannya semakin memburuk. Hal ini sudah kuduga mengingat bagaimana gen ibunya.
Dengan kematian paman baiknya, keluarga Rayumi yang haus akan harta mulai menyerangnya secara mental setelah pertemuan keluarga terakhir.

.

Mata Hana membulat membaca catatan Yoshiki.
Ini… mimpi buruknya.
Sebuah tegukan ringan untuk sekedar membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Tangannya yang bergetar kecil mencengram tepian buku membuat beberapa lembar kertas lecek.

.

Ia menjadi pribadi yang pendiam dan benar-benar berbeda.
Hingga aku menyadari jika dia memiliki kecendurungan untuk membunuh dirinya.
Hari itu masih cukup dingin. Awan gelap masih menurunkan salju sedikit demi sedikit. Tidak ada manusia yang rela menyerahkan tubuhnya kepada dinginnya alam, apalagi di sebuah gedung sekolah berlantai empat. Kecuali dirinya, dirinya yang sudah tidak mampu lagi menahan kegelapan pikirannya.
Pandangannya kosong. Ia berdiri di tepi pembatas gedung dengan menatap ke bawah tanpa ada setitik cahaya pun di dalam bola matanya. Terkadang ia mengigil menahan udara dingin yang menerobos masuk ke dalam jaketnya.
Saat itu, untuk pertama kalinya bagiku, seorang Lucifer kebingungan setengah mati harus bertindak seperti apa. Membujuk orang untuk mengakhiri hidupnya tidaklah sesusah menahan seseorang untuk tetap hidup.
“Keigo-kun…. Keigo-kun….” Ia terisak memanggil-manggil nama si sialan itu.
Sesuatu dalam diriku seperti meraung-raung mendengarnya. Decakan keluar dari mulutku.
Tapi dengan segera sebuah seringai menghapus kegundahanku. Ayolah, walaupun berkali-kali kau panggil tengik itu tidak akan muncul setelah kuhempaskan jauh ke Timur Tengah.
Memuakkan. Dia begitu lemah sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, bahkan ketika hendak mengakhiri hidupnya ia tidak bisa karena teringat seorang cecenguk.
“Anak SMP sudah mau melompat bunuh diri?”
Tanpa kusadari tubuhku telah bergerak, menyamar sebagai salah seorang petugas kebersihan dan muncul di belakangnya.
Lantas ia berbalik badan dengan wajah ketakutan.
Tubuhku terhenyak. Kondisinya benar-benar parah jika dilihat dari dekat. Air mata benar-benar mengotori wajahnya, ditambah sebuah kantung mata besar itu pasti sebuah hasil dari pergulatan batinnya.
“S-Siapa anda? Aku tidak tau jika ada petugas kebersihan berwajah seperti anda!”
Tentu saja dia akan menyadarinya.
“Aku baru di sini,” ucapku tenang.
“K-Kata siapa aku akan bunuh diri!?” Dia masih menyandarkan tubuhnya dn berpegangan pada pagar pembatas.
“Terlihat jelas dari wajahmu. Sangat putus asa dan menginginkan kematian.”
Ia terdiam.
“Paman tahu apa…” ia berguman pelan.
‘Aku tahu segalanya tentangmu, manusia,’ ingin sekali kukatakan hal itu padanya.
Aku mendekat kepadanya, ia memasang posisi sigap, “p-percuma! Aku sudah tidak ingin hidup! Paman tidak perlu menghabiskan waktu paman di sini dan menceramahiku!”
“Jangan.”
Ia terdiam oleh ucapanku.
“Tutup telingamu. Jangan dengarkan ucapan sekitarmu. Lalu hiduplah, hiduplah  menanggung kesengsaraan itu sebagai dendam untuk memicu semangatmu menghancurkan mereka yang berusaha menghancurkanmu!”
Read More ->>

Jumat, 03 Januari 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 39]

CHAPTER 39: DEAR DIARY

Sudah hampir satu jam lebih dari kepergian Keigo untuk melapor. Dosen muda yang merangkap exorcist itu rupanya hanya berperingkat rendah. Hanya 926 seingat Hana. Sistem pemeringkatan mulai ada dari 1-1000 saja, selebihnya exorcist tersebut tidak akan memiliki nama samaran. Nama samara berfungsi untuk menyembunyikan identitas, agar saat menjalani kehidupan normal tidak ada iblis yang menyerang mereka.
Hana hanya duduk termenanung. Padangannya kosong entah menerawang kemana. Sementara tangannya menggenggam buku catatan kecil pemberian Yoshiki.
Ia tidak semunafik itu bisa melepas pria seluarbiasa Yoshiki. Pria yang hanya ada di negri dongeng bacaan dewasa. Tampan, kaya raya, digandrungi banyak perempuan, cerdas, kuat, dan apapun itu tetek bengeknya seorang pria ideal, ditambah lagi Yoshiki adalah Lucifer. Tidak hanya mampu menguasai dunia, namun juga berkuasa di alam lain.
Yang terpenting dari semua kelebihan Yoshiki adalah, pria itu memang menaruh perhatian khusus padanya. Tidak perlu lagi Hana mendengar klarifikasi dari pihak manapun, Hana sendiri telah menyadarinya akhir-akhir ini jika sang mantan suami memang memprioritaskan dirinya di atas segalanya.
Genggamannya pada catatan kecil pemberian Yoshiki mengerat. Benda kecil ini adalah buktinya. Catatan itu walaupun kecil, tidak melebihi telapak tangan Hana, namun sangat tebal, tidak seperti buku catatan pada umumnya.
Pembulatan tekad Hana telah mantap. Hana tidak peduli lagi jika catatan ini akan membuatnya gagal move on atau apapun yang persetan itu jika Hana membaca catatan ini. Karena pada dasarnya dari hati yang terdalam sendiri pun Hana mengakui, jika ia juga mencintai pria itu, mencintai Kuroto Yoshiki, mantan suaminya yang ia putuskan secara sepihak.
Dirundung oleh rasa gugup, Hana membuka lembaran catatan sang stalker.

Bulan 12, tanggal 26. Tahun 19xx
Kalimat pertama itu yang Hana baca.
“Catatan ini… dibuat lebih dari dua puluh tahun yang lalu…” guman Hana.

Akhirnya. Setelah sekian lama. Setelah berabad-abad tahun aku dipermainkan oleh-Nya. Permainan-Nya berlanjut. Setengah kekuatanku yang Ia ambil, diramalkan akan dititipkan pada seorang anak manusia. Mari kita lihat seperti apa kelanjutan dari permainannya, dan semua itu akan tertulis di sini.

Hana terdiam mengetahui jika kata “Nya” di sini merujuk kepada sang kuasa.

Bulan 7, tanggal 15. Tahun 19xx

Positif sudah. Aku telah menemukannya sedang bertumbuh di dalam rahim seorang perempuan bernama Shiho Rayumi.
‘Nama ibu… Jaraknya catatan sebelumnya dan catatan ini berselang 5 tahun. Sepertinya benar catatan ini dibuat khusus untukku…’ pikir Hana.

Bulan 9, tanggal 1. Tahun 19xx

Setelah berkali-kali aku berusaha menyembunyikan dan menjauhkan Exorcist dari keluarga Rayumi, akhirnya mereka berhasil merekrut suami istri Rayumi sebagai RnD. Sialan semuanya akan menjadi merepotkan sekarang, tapi tidak masalah.

Kedua bola mata Hana seolah tidak rela mengatup sedetikpun. Keduanya bergerak tak kenal henti membaca setiap kalimat yang ada. Tentang bagaimana Yoshiki yang rupanya tak hanya memata-matai dirinya, bahkan sebelum kelahirannya pun Yoshiki memata-matai kedua orang tuanya.

Bulan 11, tanggal 5. Tahun 19xx

2 Bulan kehamilan dari pasangan Rayumi. Kau masih di sana, masih segumpal daging mentah.

Bulan 1, tanggal 24. Tahun 19xx

Memasuki 4 bulan kehamilan Rayumi Shiho. Perempuan itu begitu labil, rasa cemas dan stress cepat mendatanginya. Sementara Rayumi Tamaki hanyalah pekerja keras yang kerap meninggalkan istrinya demi penelitiannya. Ketika tidak bersama suaminya, Rayumi Shiho cenderung melakukan hal-hal ceroboh yang bisa saja membahayakan dirinya sendiri ataupun bayi dalam kandungannya.

Bulan 3, tanggal 10. Tahun 19xx

6 bulan usia kandungan Rayumi Shiho. Wanita itu semakin kacau. Ia memang hanyalah manusia konyol yang memakan makanan sampah dalam kehamilannya. Terkadang aku mengirimkan beberapa makanan, buah, atau sayur bernutrisi dengan nama-nama orang di sekitarnya sebagai pengirim. 

Bulan 5, tanggal 8. Tahun 19xx

Perut Shiho Rayumi semakin buncit. Usia kandungannya juga semakin tua. 8 bulan sudah ia membawa anak itu. Exorcist pun sudah memberitahu bagaimana keadaan anak itu kepada ibunya. Tak khayal Shiho menjadi lebih stress. Exorcist ingin setelah bayi itu terlahir segera diserahkan ke markas pusat Exorcist. Tentu saja Shiho akan menolak hal itu. Ibu mana yang rela dipisahkan dari anaknya.

Bulan 6, tanggal 2. Tahun 19xx

Pukul 11 malam Shiho dilarikan ke rumah sakit lantaran merasa kelahiran anaknya semakin dekat. 

Bulan 6, tanggal 3. Tahun 19xx

Pukul 6 pagi dokter mulai melakukan proses persalinan. Dengan menyamar menjadi salah satu dokter bedah kuikuti proses persalinan itu. Shiho terus berteriak ketika sang jabang bayi berusaha keluar dari rahimnya.
Hari itu aku menjadi saksi kelahiran seorang anak manusia. Begitu kecil, dan rapuh. Menangis sejadi-jadinya di tangan sang ibu yang sudah sangat kelelahan.
Dia milikku.
Anak manusia itu milikku.
Jadi sebaiknya kapan kuambil jiwanya?
Sekarang?
Sebaiknya jangan. Mari biarkan dia tubuh dan berkembang hingga matang. Makanan penutup akan terasa sangat lezat jika dimasak dengan sempurna.

Detik itu juga Hana menutup mulutnya dengan tangannya. Ia harus mengakui jika dirinya cukup shock mengetahui jika sejak ia lahir Yoshiki telah ingin menyantapnya.

Bulan 6, tanggal 19. Tahun 19xx

Keluarga Rayumi masih diselimuti kebahagiaan atas kelahiran putri pertama mereka. Tentu saja aku juga tidak ingin melewatkan momen berbahagia tersebut. Tanpa penyamaran sedikit pun aku mendatangi kediaman Rayumi sambil membawa kado untuk sang bayi. 
Hanya ada Shiho Rayumi saat itu. Dengan mengaku sebagai salah satu rekan kerja Tamaki Rayumi, Shiho akan dengan mudahnya percaya dan mengizinkanku masuk.
Shiho dengan bangganya menunjukkan padaku seorang bayi di ranjangnya yang minimalis. Itu dia. Begitu kecil dan rapuh seolah aku bisa menghancurkannya hanya dalam sekali sentuh.
Dia menguap. Kepalanya bergerak-gerak kebingungan. Mata birunya yang sangat cerah menatapku tanpa berkedip. Dan dia… seperti tersenyum padaku.
Oh, kau pasti sudah mengenaliku kan?
“Dia manis,” ucapku.
Shiho tak bisa berhenti tersenyum.
…. Dan dia milikku.

Bulan 9, tanggal 18. Tahun 19xx

Dia yang diberikan nama Rayumi Hana, tidak bisa berhenti menangis. Kejadian ini mulai terjadi sudah sejak ia berusia 2 bulan. Keluarga Rayumi akan sangat kebingungan jika Hana sudah mulai menangis tanpa henti. Karena mereka tidak tau penyebabnya. Penyebabnya tidak lain adalah kemunculan para iblis rendahan bodoh yang mungkin berusaha mengambil kekuatanku darinya, tapi aku bisa tenang karena mendekat dalam radius tertentu para iblis rendahan itu akan segera hancur hanya karena auraku saja. 

Bulan 9, tanggal 23. Tahun 19xx

Exorcist mengetahui kelainan yang dialami Hana. Mereka bergegas mengatur penjagaan di dekat Hana setiap waktu. Namun Shiho menentang keras hal itu. Walaupun alasannya keamanan, ia tak ingin bayinya terganggu oleh pertarungan exorcist yang menurutnya brutal. 
Benar Shiho. Kau memang tidak membutuhkan Exorcist untuk menjaganya. Kekuatanku yang ada di dalamnya sudah cukup.
Bulan 12, tanggal 14. Tahun 19xx Dia telah berusia setengah tahun.
Mulai mengenal sekitarnya yang begitu suci.
Tapi kondisi Shiho semakin tidak stabil. Ditekan oleh stress oleh pekerjaan, ia merasa tak tercukupi oleh Tamaki. Ia merutuki apapun yang menyebabkan hidup yang menurutnya hancur.
Manusia memang sebodoh itu terkadang.

….

Hana bangkit berdiri dari posisinya. Diregangkan tubuhnya sejenak. Di luar jendela malam terlihat berkabut menyembunyikan cahaya sang bulan.
“…. Sepertinya malam ini akan jadi malam yang panjang.”
Jam dinding yang berdetak memecah kesunyian di dalam rumah Keigo memicu Hana untuk menatap ke arahnya. Sudah pukul sebelas. Sepertinya Hana terlalu larut pada buku harian sang mantan suami.
Direbahkannya kembali badannya pada sofat setelah puas menegakkan tulang-tulangnya. Dipejamkannya matanya berusaha meresapi apa-apa saja yang terjadi ketika ia masih sangat kecil.
Setelah sekitar sepuluh menit Hana hanya memejamkan matanya tanpa melakukan apapun, tangannya pun bergerak meraih buku itu kembali. Secara random dibukanya buku itu, menampilkan sebuah halaman berisikan catatan silisih 5 tahun dari catatan terakhir yang ia baca.

Bulan 11, tanggal 5. Tahun 19xx

Hari itu sepanjang hari sangat dingin. Hujan salju juga tak henti-hentinya turun.
Emosi Shiho semakin tidak stabil. Setelah mendapati Tamaki berselingkuh, kondisinya semakin buruk.
Hari ini ia menghajar Milikku sehabis-habisnya. Bocah kecil itu hanya meringkuk di tepi tembok berharap lemparan barang-barang oleh Shiho tidak mengenainya. Ia hanya tidak mau tidur siang karena kartun favoritnya masih tayang.
“Dasar anak setan!”
“Kau ingin membuat ibumu semakin stress karena kenakalanmu kan!?”
Sebuah sepatu melayang menghantam kepalanya hingga membentur dinding dengan keras. Bocah itu hanya bisa menangis sejadi-jadinya begitu melihat darah mulai keluar dari kepalanya.
“Berhenti menangis! Berisik!”
Diseretnya bocah malang itu keluar rumah lalu menguncinya rapat-rapat diantara badai salju yang mengamuk.
“Maaf Ibu! Ibu! Aku akan tidur! Aku bersumpah akan tidur!” Ia terus meraung-raung tidak peduli jika ingus sudah belopotan di seluruh wajahnya.
Angin badai sangat kencang hari itu. Jarang rumah dengan tetangga juga cukup jauh, tidak akan ada yang mendengarkan jeritan pilu sang bocah.
Setengah jam berlalu. Ia sudah lelah menangis dan semakin kedinginan.
“Ibu… dingin. Ibu… dingin…” Ia hanya bisa berguman sesegukkan. Tubuhnya yang ia peluk erat-erat telah menggigil. 
Manusia memang pada dasarnya lemah. Namun bocah ini tidak boleh mati. Tidak sampai aku berhasil mendapatkan kekuatanku kembali. 
Memberikan sedikit pertolongan tidak ada salahnya kan?
Dengan wujud manusiaku tanpa ada perubahan sedikitpun aku mendatanginya. Bocah itu sudah setengah sadar saat kusentuh pelipisnya. Panas. Bocah ini jika dibiarkan lebih lama lagi pasti akan terkena radang dingin.
Aku tidak bisa menghangatkan tubuhnya dengan sihir karena ada tolakan dari dalam tubuhnya. Memutar otak, kudekap erat tubuh sang bocah yang telah jatuh dalam tidur lelapnya. Setidaknya dengan kontak tubuh dan berbalut mantel dan jaketku yang tebal ia tidak akan kedinginan lagi.
Malam telah jatuh. Lampu kediaman Rayumi sudah dinyalakan. Saatnya pergi. Perlahan kuturunkan bocah ringkih itu dari pelukanku. Tentu saja ia akan terbangun. Dengan kerjapan kecil sebelum ia berhasil membuka matanya sepenuhnya, aku telah menghilang dari hadapannya. Lucu sekali melihat wajah kebingungannya.
Pintu terbuka. Kepala Shiho telah dingin dan memaafkan juga mengizinkannya masuk.

Hana ternganga tidak percaya. Ia cukup ingat dulu sering dipukuli oleh ibunya karena tidak bisa tidur siang. Hukuman terburuknya memang dikeluarkan dari rumah ketika badai salju. Ia ingat betul saat itu ia benar-benar kedinginan sampai rasanya ia tidak bisa merasakan jari-jarinya, namun sebuah kehangatan datang membuat dirinya berserah kepada kehangatan itu. Tapi siapa sangka jika sang pemberi kehangatan adalah Kuroto Yoshiki sang mantan suami?
Mulai dari sini Hana semakin tidak bisa berhenti untuk membaca buku harian sang stalker.

Bulan 6, tanggal 3, 19xx

Hari ini umurnya genap 6 tahun. Seperti biasa aku akan memberikan sebuah hadiah untuknya. Kali ini apa yang diinginakannya?
Sebuah hotwils bukan? 
Dia adalah tipe anak yang dewasa sebelum waktunya. Belum lama ini ia merengek kepada Tamaki untuk dibelikan salah satu model miniature model mobil namun karena kondisi keungan keluarga Rayumi sedang tidak baik, ditambah omelan Shiho, dia sangat jarang mendapat kado di hari ulang tahunnya. Oleh sebab itu ia tak pernah terlalu memaksakan kehendaknya. Karena pada akhirnya, dia tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
Namun keinginannya pasti akan kupenuhi.

Semakin membaca Hana semakin menemukan banyak jawaban pertanyaan dari masa kecilnya. Hadiah-hadiah itu selalu ada di pagi ia berulang tahun. Awalnya semua hadiah itu selalu sudah berada di dalam kamarnya. Selama ini ia pikir itu adalah perbuatan orang tuanya yang memberinya kejutan. Pantas saja kedua orang tuanya pun selalu memberikan respon kebingungan setiap ia berterima kasih. Begitu Hana mengijak usia 12 tahun, kado-kado itu berpindah tempat di kotak pos. Dan selama itu ia selalu berpikir jika teman atau saudaranya yang memberikan sebagai kejutan. Ternyata…. Semua itu perbuatan Kuroto Yoshiki.

Bulan 4 Tanggal 18. Tahun 19xx

Hari itu panasnya sangat terik. Namun liburan musim panas masih berlangsung. 
Aku hanya duduk di bangku taman ditemani koran sambil berkali-kali mencuri pandang ke arahnya yang tengah asyik berlarian di sana. Kebanyakan teman-temannya adalah laki-laki. Memang pada umumnya seorang anak yang kurang kasih sayang orang tua akan berpikiran keras, bahkan pergaulan pun bocah mungil itu memilih pergaulan bersama anak laki-laki yang jauh lebih menantang.
Senyumnya mengembang dan tertawa sebanyak yang ia mau di bawah terik matahari. Ia berguling-guling di atas rumput berdebu. 
Kawanan anak itu bermain sembunyi dan cari. Setelah berhasil menemukan kurang lebih sepuluh anak laki-laki kini gilirannya bersembunyi. Ia berlarian kebingungan mencari tempat bersembunyi. Tak disangka bocah yang hanya mengenakan kaus tipis berwarna cerah itu berlari ke arahku. Tanpa rasa takut atau enggan ia meringkuk di sampingku, menyembunyikan dirinya di balik tubuh dan koranku.
“Paman, tolong bantu aku. Sembunyikan aku dari anak itu,” ia mencengkram erat lengan bajuku. Namun ia tak menatapku, pandangannya sibuk terarah pada sang penjaga.
Dia begitu dekat denganku. Tidak ada jarak sama sekali diantara kita. Ia hanyalah seorang bocah yang hendak berusia 7 tahun namun aroma yang ia pancarkan sangat-sangat berbeda. Tentu saja, karena ada kekuatanku di dalam dirinya.
Tanpa sadar aku menggerakkan koranku untuk menyembunyikannya.
Kawannya yang bertugas jaga sepertinya mulai berhasil menangkap satu persatu anak yang bersembunyi. Hingga tersisa Hana seorang yang belum berhasil didapatkan.
Begitu menyadari jika si pencari hendak mendekat ke arahnya, Hana tanpa ada rasa canggung menaikkan tanganku supaya ia bisa bersembunyi diatas pangkuanku tersembunyi oleh koran yang kubuka lebar-lebar. 
Dasar anak ini. Tidak punya rasa takut sama sekali.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.