CHAPTER 39: DEAR DIARY
Sudah hampir satu jam lebih dari kepergian Keigo untuk melapor. Dosen muda yang merangkap exorcist itu rupanya hanya berperingkat rendah. Hanya 926 seingat Hana. Sistem pemeringkatan mulai ada dari 1-1000 saja, selebihnya exorcist tersebut tidak akan memiliki nama samaran. Nama samara berfungsi untuk menyembunyikan identitas, agar saat menjalani kehidupan normal tidak ada iblis yang menyerang mereka.
Hana hanya duduk termenanung. Padangannya kosong entah menerawang kemana. Sementara tangannya menggenggam buku catatan kecil pemberian Yoshiki.
Ia tidak semunafik itu bisa melepas pria seluarbiasa Yoshiki. Pria yang hanya ada di negri dongeng bacaan dewasa. Tampan, kaya raya, digandrungi banyak perempuan, cerdas, kuat, dan apapun itu tetek bengeknya seorang pria ideal, ditambah lagi Yoshiki adalah Lucifer. Tidak hanya mampu menguasai dunia, namun juga berkuasa di alam lain.
Yang terpenting dari semua kelebihan Yoshiki adalah, pria itu memang menaruh perhatian khusus padanya. Tidak perlu lagi Hana mendengar klarifikasi dari pihak manapun, Hana sendiri telah menyadarinya akhir-akhir ini jika sang mantan suami memang memprioritaskan dirinya di atas segalanya.
Genggamannya pada catatan kecil pemberian Yoshiki mengerat. Benda kecil ini adalah buktinya. Catatan itu walaupun kecil, tidak melebihi telapak tangan Hana, namun sangat tebal, tidak seperti buku catatan pada umumnya.
Pembulatan tekad Hana telah mantap. Hana tidak peduli lagi jika catatan ini akan membuatnya gagal move on atau apapun yang persetan itu jika Hana membaca catatan ini. Karena pada dasarnya dari hati yang terdalam sendiri pun Hana mengakui, jika ia juga mencintai pria itu, mencintai Kuroto Yoshiki, mantan suaminya yang ia putuskan secara sepihak.
Dirundung oleh rasa gugup, Hana membuka lembaran catatan sang stalker.
Bulan 12, tanggal 26. Tahun 19xx
Kalimat pertama itu yang Hana baca.
“Catatan ini… dibuat lebih dari dua puluh tahun yang lalu…” guman Hana.
Akhirnya. Setelah sekian lama. Setelah berabad-abad tahun aku dipermainkan oleh-Nya. Permainan-Nya berlanjut. Setengah kekuatanku yang Ia ambil, diramalkan akan dititipkan pada seorang anak manusia. Mari kita lihat seperti apa kelanjutan dari permainannya, dan semua itu akan tertulis di sini.
Hana terdiam mengetahui jika kata “Nya” di sini merujuk kepada sang kuasa.
Bulan 7, tanggal 15. Tahun 19xx
Positif sudah. Aku telah menemukannya sedang bertumbuh di dalam rahim seorang perempuan bernama Shiho Rayumi.
‘Nama ibu… Jaraknya catatan sebelumnya dan catatan ini berselang 5 tahun. Sepertinya benar catatan ini dibuat khusus untukku…’ pikir Hana.
Bulan 9, tanggal 1. Tahun 19xx
Setelah berkali-kali aku berusaha menyembunyikan dan menjauhkan Exorcist dari keluarga Rayumi, akhirnya mereka berhasil merekrut suami istri Rayumi sebagai RnD. Sialan semuanya akan menjadi merepotkan sekarang, tapi tidak masalah.
Kedua bola mata Hana seolah tidak rela mengatup sedetikpun. Keduanya bergerak tak kenal henti membaca setiap kalimat yang ada. Tentang bagaimana Yoshiki yang rupanya tak hanya memata-matai dirinya, bahkan sebelum kelahirannya pun Yoshiki memata-matai kedua orang tuanya.
Bulan 11, tanggal 5. Tahun 19xx
2 Bulan kehamilan dari pasangan Rayumi. Kau masih di sana, masih segumpal daging mentah.
Bulan 1, tanggal 24. Tahun 19xx
Memasuki 4 bulan kehamilan Rayumi Shiho. Perempuan itu begitu labil, rasa cemas dan stress cepat mendatanginya. Sementara Rayumi Tamaki hanyalah pekerja keras yang kerap meninggalkan istrinya demi penelitiannya. Ketika tidak bersama suaminya, Rayumi Shiho cenderung melakukan hal-hal ceroboh yang bisa saja membahayakan dirinya sendiri ataupun bayi dalam kandungannya.
Bulan 3, tanggal 10. Tahun 19xx
6 bulan usia kandungan Rayumi Shiho. Wanita itu semakin kacau. Ia memang hanyalah manusia konyol yang memakan makanan sampah dalam kehamilannya. Terkadang aku mengirimkan beberapa makanan, buah, atau sayur bernutrisi dengan nama-nama orang di sekitarnya sebagai pengirim.
Bulan 5, tanggal 8. Tahun 19xx
Perut Shiho Rayumi semakin buncit. Usia kandungannya juga semakin tua. 8 bulan sudah ia membawa anak itu. Exorcist pun sudah memberitahu bagaimana keadaan anak itu kepada ibunya. Tak khayal Shiho menjadi lebih stress. Exorcist ingin setelah bayi itu terlahir segera diserahkan ke markas pusat Exorcist. Tentu saja Shiho akan menolak hal itu. Ibu mana yang rela dipisahkan dari anaknya.
Bulan 6, tanggal 2. Tahun 19xx
Pukul 11 malam Shiho dilarikan ke rumah sakit lantaran merasa kelahiran anaknya semakin dekat.
Bulan 6, tanggal 3. Tahun 19xx
Pukul 6 pagi dokter mulai melakukan proses persalinan. Dengan menyamar menjadi salah satu dokter bedah kuikuti proses persalinan itu. Shiho terus berteriak ketika sang jabang bayi berusaha keluar dari rahimnya.
Hari itu aku menjadi saksi kelahiran seorang anak manusia. Begitu kecil, dan rapuh. Menangis sejadi-jadinya di tangan sang ibu yang sudah sangat kelelahan.
Dia milikku.
Anak manusia itu milikku.
Jadi sebaiknya kapan kuambil jiwanya?
Sekarang?
Sebaiknya jangan. Mari biarkan dia tubuh dan berkembang hingga matang. Makanan penutup akan terasa sangat lezat jika dimasak dengan sempurna.
Detik itu juga Hana menutup mulutnya dengan tangannya. Ia harus mengakui jika dirinya cukup shock mengetahui jika sejak ia lahir Yoshiki telah ingin menyantapnya.
Bulan 6, tanggal 19. Tahun 19xx
Keluarga Rayumi masih diselimuti kebahagiaan atas kelahiran putri pertama mereka. Tentu saja aku juga tidak ingin melewatkan momen berbahagia tersebut. Tanpa penyamaran sedikit pun aku mendatangi kediaman Rayumi sambil membawa kado untuk sang bayi.
Hanya ada Shiho Rayumi saat itu. Dengan mengaku sebagai salah satu rekan kerja Tamaki Rayumi, Shiho akan dengan mudahnya percaya dan mengizinkanku masuk.
Shiho dengan bangganya menunjukkan padaku seorang bayi di ranjangnya yang minimalis. Itu dia. Begitu kecil dan rapuh seolah aku bisa menghancurkannya hanya dalam sekali sentuh.
Dia menguap. Kepalanya bergerak-gerak kebingungan. Mata birunya yang sangat cerah menatapku tanpa berkedip. Dan dia… seperti tersenyum padaku.
Oh, kau pasti sudah mengenaliku kan?
“Dia manis,” ucapku.
Shiho tak bisa berhenti tersenyum.
…. Dan dia milikku.
Bulan 9, tanggal 18. Tahun 19xx
Dia yang diberikan nama Rayumi Hana, tidak bisa berhenti menangis. Kejadian ini mulai terjadi sudah sejak ia berusia 2 bulan. Keluarga Rayumi akan sangat kebingungan jika Hana sudah mulai menangis tanpa henti. Karena mereka tidak tau penyebabnya. Penyebabnya tidak lain adalah kemunculan para iblis rendahan bodoh yang mungkin berusaha mengambil kekuatanku darinya, tapi aku bisa tenang karena mendekat dalam radius tertentu para iblis rendahan itu akan segera hancur hanya karena auraku saja.
Bulan 9, tanggal 23. Tahun 19xx
Exorcist mengetahui kelainan yang dialami Hana. Mereka bergegas mengatur penjagaan di dekat Hana setiap waktu. Namun Shiho menentang keras hal itu. Walaupun alasannya keamanan, ia tak ingin bayinya terganggu oleh pertarungan exorcist yang menurutnya brutal.
Benar Shiho. Kau memang tidak membutuhkan Exorcist untuk menjaganya. Kekuatanku yang ada di dalamnya sudah cukup.
Bulan 12, tanggal 14. Tahun 19xx Dia telah berusia setengah tahun.
Mulai mengenal sekitarnya yang begitu suci.
Tapi kondisi Shiho semakin tidak stabil. Ditekan oleh stress oleh pekerjaan, ia merasa tak tercukupi oleh Tamaki. Ia merutuki apapun yang menyebabkan hidup yang menurutnya hancur.
Manusia memang sebodoh itu terkadang.
….
Hana bangkit berdiri dari posisinya. Diregangkan tubuhnya sejenak. Di luar jendela malam terlihat berkabut menyembunyikan cahaya sang bulan.
“…. Sepertinya malam ini akan jadi malam yang panjang.”
Jam dinding yang berdetak memecah kesunyian di dalam rumah Keigo memicu Hana untuk menatap ke arahnya. Sudah pukul sebelas. Sepertinya Hana terlalu larut pada buku harian sang mantan suami.
Direbahkannya kembali badannya pada sofat setelah puas menegakkan tulang-tulangnya. Dipejamkannya matanya berusaha meresapi apa-apa saja yang terjadi ketika ia masih sangat kecil.
Setelah sekitar sepuluh menit Hana hanya memejamkan matanya tanpa melakukan apapun, tangannya pun bergerak meraih buku itu kembali. Secara random dibukanya buku itu, menampilkan sebuah halaman berisikan catatan silisih 5 tahun dari catatan terakhir yang ia baca.
Bulan 11, tanggal 5. Tahun 19xx
Hari itu sepanjang hari sangat dingin. Hujan salju juga tak henti-hentinya turun.
Emosi Shiho semakin tidak stabil. Setelah mendapati Tamaki berselingkuh, kondisinya semakin buruk.
Hari ini ia menghajar Milikku sehabis-habisnya. Bocah kecil itu hanya meringkuk di tepi tembok berharap lemparan barang-barang oleh Shiho tidak mengenainya. Ia hanya tidak mau tidur siang karena kartun favoritnya masih tayang.
“Dasar anak setan!”
“Kau ingin membuat ibumu semakin stress karena kenakalanmu kan!?”
Sebuah sepatu melayang menghantam kepalanya hingga membentur dinding dengan keras. Bocah itu hanya bisa menangis sejadi-jadinya begitu melihat darah mulai keluar dari kepalanya.
“Berhenti menangis! Berisik!”
Diseretnya bocah malang itu keluar rumah lalu menguncinya rapat-rapat diantara badai salju yang mengamuk.
“Maaf Ibu! Ibu! Aku akan tidur! Aku bersumpah akan tidur!” Ia terus meraung-raung tidak peduli jika ingus sudah belopotan di seluruh wajahnya.
Angin badai sangat kencang hari itu. Jarang rumah dengan tetangga juga cukup jauh, tidak akan ada yang mendengarkan jeritan pilu sang bocah.
Setengah jam berlalu. Ia sudah lelah menangis dan semakin kedinginan.
“Ibu… dingin. Ibu… dingin…” Ia hanya bisa berguman sesegukkan. Tubuhnya yang ia peluk erat-erat telah menggigil.
Manusia memang pada dasarnya lemah. Namun bocah ini tidak boleh mati. Tidak sampai aku berhasil mendapatkan kekuatanku kembali.
Memberikan sedikit pertolongan tidak ada salahnya kan?
Dengan wujud manusiaku tanpa ada perubahan sedikitpun aku mendatanginya. Bocah itu sudah setengah sadar saat kusentuh pelipisnya. Panas. Bocah ini jika dibiarkan lebih lama lagi pasti akan terkena radang dingin.
Aku tidak bisa menghangatkan tubuhnya dengan sihir karena ada tolakan dari dalam tubuhnya. Memutar otak, kudekap erat tubuh sang bocah yang telah jatuh dalam tidur lelapnya. Setidaknya dengan kontak tubuh dan berbalut mantel dan jaketku yang tebal ia tidak akan kedinginan lagi.
Malam telah jatuh. Lampu kediaman Rayumi sudah dinyalakan. Saatnya pergi. Perlahan kuturunkan bocah ringkih itu dari pelukanku. Tentu saja ia akan terbangun. Dengan kerjapan kecil sebelum ia berhasil membuka matanya sepenuhnya, aku telah menghilang dari hadapannya. Lucu sekali melihat wajah kebingungannya.
Pintu terbuka. Kepala Shiho telah dingin dan memaafkan juga mengizinkannya masuk.
Hana ternganga tidak percaya. Ia cukup ingat dulu sering dipukuli oleh ibunya karena tidak bisa tidur siang. Hukuman terburuknya memang dikeluarkan dari rumah ketika badai salju. Ia ingat betul saat itu ia benar-benar kedinginan sampai rasanya ia tidak bisa merasakan jari-jarinya, namun sebuah kehangatan datang membuat dirinya berserah kepada kehangatan itu. Tapi siapa sangka jika sang pemberi kehangatan adalah Kuroto Yoshiki sang mantan suami?
Mulai dari sini Hana semakin tidak bisa berhenti untuk membaca buku harian sang stalker.
Bulan 6, tanggal 3, 19xx
Hari ini umurnya genap 6 tahun. Seperti biasa aku akan memberikan sebuah hadiah untuknya. Kali ini apa yang diinginakannya?
Sebuah hotwils bukan?
Dia adalah tipe anak yang dewasa sebelum waktunya. Belum lama ini ia merengek kepada Tamaki untuk dibelikan salah satu model miniature model mobil namun karena kondisi keungan keluarga Rayumi sedang tidak baik, ditambah omelan Shiho, dia sangat jarang mendapat kado di hari ulang tahunnya. Oleh sebab itu ia tak pernah terlalu memaksakan kehendaknya. Karena pada akhirnya, dia tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
Namun keinginannya pasti akan kupenuhi.
Semakin membaca Hana semakin menemukan banyak jawaban pertanyaan dari masa kecilnya. Hadiah-hadiah itu selalu ada di pagi ia berulang tahun. Awalnya semua hadiah itu selalu sudah berada di dalam kamarnya. Selama ini ia pikir itu adalah perbuatan orang tuanya yang memberinya kejutan. Pantas saja kedua orang tuanya pun selalu memberikan respon kebingungan setiap ia berterima kasih. Begitu Hana mengijak usia 12 tahun, kado-kado itu berpindah tempat di kotak pos. Dan selama itu ia selalu berpikir jika teman atau saudaranya yang memberikan sebagai kejutan. Ternyata…. Semua itu perbuatan Kuroto Yoshiki.
Bulan 4 Tanggal 18. Tahun 19xx
Hari itu panasnya sangat terik. Namun liburan musim panas masih berlangsung.
Aku hanya duduk di bangku taman ditemani koran sambil berkali-kali mencuri pandang ke arahnya yang tengah asyik berlarian di sana. Kebanyakan teman-temannya adalah laki-laki. Memang pada umumnya seorang anak yang kurang kasih sayang orang tua akan berpikiran keras, bahkan pergaulan pun bocah mungil itu memilih pergaulan bersama anak laki-laki yang jauh lebih menantang.
Senyumnya mengembang dan tertawa sebanyak yang ia mau di bawah terik matahari. Ia berguling-guling di atas rumput berdebu.
Kawanan anak itu bermain sembunyi dan cari. Setelah berhasil menemukan kurang lebih sepuluh anak laki-laki kini gilirannya bersembunyi. Ia berlarian kebingungan mencari tempat bersembunyi. Tak disangka bocah yang hanya mengenakan kaus tipis berwarna cerah itu berlari ke arahku. Tanpa rasa takut atau enggan ia meringkuk di sampingku, menyembunyikan dirinya di balik tubuh dan koranku.
“Paman, tolong bantu aku. Sembunyikan aku dari anak itu,” ia mencengkram erat lengan bajuku. Namun ia tak menatapku, pandangannya sibuk terarah pada sang penjaga.
Dia begitu dekat denganku. Tidak ada jarak sama sekali diantara kita. Ia hanyalah seorang bocah yang hendak berusia 7 tahun namun aroma yang ia pancarkan sangat-sangat berbeda. Tentu saja, karena ada kekuatanku di dalam dirinya.
Tanpa sadar aku menggerakkan koranku untuk menyembunyikannya.
Kawannya yang bertugas jaga sepertinya mulai berhasil menangkap satu persatu anak yang bersembunyi. Hingga tersisa Hana seorang yang belum berhasil didapatkan.
Begitu menyadari jika si pencari hendak mendekat ke arahnya, Hana tanpa ada rasa canggung menaikkan tanganku supaya ia bisa bersembunyi diatas pangkuanku tersembunyi oleh koran yang kubuka lebar-lebar.
Dasar anak ini. Tidak punya rasa takut sama sekali.
Jumat, 03 Januari 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar