Senin, 16 Desember 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 38]

CHAPTER 38: WE ARE DONE

“Apa… katamu?” Shiho yang sedari tadi meraung-raung kini hanya bisa berguman lemah dengan tatapannya yang menatap nanar.
Yoshiki dengan tenang mengeluarkan beberapa lembar foto dari sakunya. Lembar-lembar foto yang menggambarkan penyiksaan oleh Shiho pada Hana dan beberapa gambar luka-luka Hana.
Kedua orang tua Rayumi itu semakin terkejut.
“Rayumi Shiho, begitu kau lelah dengan penelitianmu yang kadang tak kunjung membuahkan hasil, kau melampiaskan kekesalanmu pada Hana. Menyiksanya secara tidak berperikemanusiaan. Rayumi Tamaki, walaupun kau mengetahui semua itu, kau tidak bisa berbuat banyak. Sekarang…. Siapa di sini yang sebenarnya menyiksa Hana?” Tatap Yoshiki tajam.
“Jangan khawatir Lucifer. Setelah ini, kami pastikan Hana tidak akan merasakan penderitaan apapun.”
Menyadari ada suara lain yang ikut andil dalam pembicaraan itu, dengan cepat ketiganya memalingkan wajah menuju sumber suara di dekat pintu masuk.
“Siapa yang mengizinkan kalian masuk?” Nada bicara Yoshiki memberat seiring didapatinya beberapa orang exorcist telah memasuki ruang vVIP lengkap dengan Abschleppen Geist mereka.
“Maaf saja Lucifer, tapi perjalananmu sampai di sini,” exorcist dengan bando lengan berkode R-35 itu dengan ponggahnya memutuskan segalanya.
Yoshiki hanya tersenyum remeh, “kalian semua ingin mati membawa beberapa warga sipil di sini?”
Seolah tak mau mendengar ucapan Yoshiki lagi, para exorcist itu menerjangnya dari segala arah dalam ruangan sempit itu. Kedua orang tua Rayumi ditarik mundur oleh beberapa exorcist lain.



Selanjutnya kami terlibat pertarungan, badan pesawat tidak mungkin bisa menahan dampak pertarungan dan begitu burung besi itu menukik turun setelah kehilangan gaya angkatnya, sebelum menghantam laut, pesawatnya meledak. Aku yakin tidak ada yang selamat dari kecelakaan itu. Tubuhku sendiri hancur, dan aku baru mendapatkan kesadaran sehari setelahnya,” Yoshiki membuka kedua matanya perlahan begitu ia mengakhiri ceritanya.
“Hana… kamu sudah tidak perlu mendengarkan kalimatnya lagi. Semua itu sudah tidak penting. Kedua orang tuamu tetap meninggal karena iblis itu, penderitaan-penderitaanmu setelah kematian kedua orang tuamu tetaplah salah iblis itu” Keigo berujar.
“Namun aku tidak meninggalkanmu barang sedetik pun setelah kejadian itu.” Yoshiki kembali mengambil atensi Hana.
“Keluarga jauhmu yang mulai berebut mengasuhmu demi warisan kedua orang tuamu, anak-anak yang mulai merundungimu, bahkan…” Yoshiki menatap tajam pada sosok Keigo yang berada di belakang Hana, “seorang bocah yang merasakan cinta monyet padamu, aku tau semua itu.”
“A-apa…?” Hana membekap mulutnya, tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
“Tepat setelah kedua orang tuamu jenazahnya berhasil teridentifikasi dan dikeramasi… aku mendatangimu yang waktu itu masih berusia Sembilan tahun. Duduk di belakang gedung kremator sendirian, menangis….

….

Seorang pria dengan potongan rambutnya tersisir kesamping rapi klimis, lengkap dengan setelan jasnya mendatangi Hana. Bocah itu berhenti menangis begitu di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya tak dikenal.
“Paman… siapa?” Sambil menahan ingusnya supaya tidak keluar dan membuatnya semakin malu, Hana bertanya ragu.
“Perkenalkan namaku Okazaki Nishio. Pengacara yang akan membantu kesulitanmu, Rayumi Hana,” tidak ada nada khusus dari kalimat sang pria, semuanya terdengar datar bagi Hana.
“Pengacara?” Hana memiringkan kepalanya bingung.
“Benar. Sebelumnya boleh duduk di sampingmu?”
“Oh, maaf. Tentu, silahkan,” dengan sopan Hana menggeser pantatnya,member ruang bagi sang pria.
Kuroto Yoshiki yang waktu itu menyamar sebagai Okazaki Nishio hanya menatap rendah pada tubuh ringkih Hana. Sosok yang membawa kekuatannya tidak lebih dari seorang bocah kecil ringkih dan rapuh. Rasanya akan mudah jika merampas segalanya seketika dari tubuh kecil itu. Tapi Yoshiki tidak mau.
“Apakah Nishio-san adalah kenalan kedua orang tuaku?”
“Ya. Orang tuamu menitipkan banyak hal padaku.”
“Kalau begitu…” Hana nampak tertunduk dengan kedua tangannya mencengram erat roknya, “kenapa ayah dan ibu harus pergi?”
Yoshiki nampak tertegun sebelum menghelakan nafas berat, “karena memang sudah takdirnya,” jujur saja sebeneranya Yoshiki mati rasa terhadap rasa iba, namun ia harus berusaha terlihat baik di mata bocah ini.



“Berikutnya aku selalu datang sebagai Nishio Okazaki setiap keluargamu mulai mengacau, memperebutkanmu demi hak waris saja. Hingga akhirnya kau berhasil lepas dari jerat keluarga tamakmu dan hidup sendiri,” Yoshiki mengakhiri ceritanya yang lain.
“APA!? JADI KAU ADALAH NISHIO OKAZAKI ITU!?” Bukannya Hana yang bereaksi terlebih dahulu, melainkan Keigo.
Yoshiki tidak ada niatan menjawab pertanyaan orang yang ia anggap sebagai pengacau pondasi hidupnya. Oleh karena itu ia hanya memberikan tatapan dinginnnya saja.
“Pantas saja… Pengacara itu nampak selalu menghalang-halangi exorcist ketika hendak ikut campur pada perkembangan Hana. Ternyata itu semua perbuatanmu….” Keigo melanjutkan kalimatnya.
Hana terdiam tak mampu mengecap kalimat apapun. Yoshiki telah muncul sejak lama dalam kehidupannya. Begitu bibirnya terbuka beberapa kalimat meluncur, “sejak kapan Yoshiki-kun sudah ikut campur dalam hidupku?”
Yoshiki memberi jeda sebelum ia menjawab dengan datar, “sejak kau dalam kandungan. Aku selalu melihatmu.”
Pandangan Hana tidak terlepas sama sekali dari pria yang berdiri kurang dari lima meter darinya. Pria yang tadimya mengamuk dan memperlihatkan sosok yang selama ini tak pernah ia liat, sekarang hanya berdiri tanpa ekspresi berarti. Pandangannya datar namun rapuh dan sarat kesedihan.
Rayumi Hana, sejak kecil hanya melihat perkelahian kedua orang tuanya walaupun keduanya selalu terlihat akur. Ibunya membencinya hanya karena banyak kelemahan dalam dirinya. Namun ia tumbuh menjadi sosok tegar yang berusaha memahami segala hal yang terjadi padanya. Membawanya pada sebuah pemikiran, kasih sayang adalah omong kosong.
Sekarang, yang ada di hadapannya adalah stalker abadinya.
Kuroto Yoshiki selalu menatapnya ari jauh. Mengawasi setiap pergerakannya dalam diam. Datang dalam berbagai wujud manusia untuk membantunya ketika kesusahan. Oh, bolehkah Hana menganggap itu sebagai kasih saying yang ekstrim? Tapi semua itu selalu dibarengi dengan fakta yang menyakitkan. Pria itu juga merampas berbagai kebahagiaannya tanpa ia sadari. Membuat Hana termakan omong kosong jika di dunia ini hanya dia yang menyayanginya. Pria itu telah mengambil Keigo sahabatnya, juga kedua orang tuanya, entah apa lagi yang diambil pria itu tanpa Hana sadari.
“Jadi… Yoshiki-kun adalah stalkerku?”
Yoshiki menegang mendengar pernyataan Hana. Senyuman miring yang menyeramkan muncul tanpa ia sadari, “anggap saja seperti itu.”
“Kau sudah dengar kan Hana? Dia mengakuinya. Sebaiknya kita segera pergi dari hadapan stalker menyeramkan itu. Aku tak bisa membayangkan dia selalu menatapmu dari jauh sepanjang waktu dari kamu dalam kandungan,” Keigo terus memberikan bisikan supaya Hana menyingkir.
“Selama itu… Yoshiki-kun menyamar menjadi orang lain untuk ikut campur dalam hidupku?” Tanya Hana memastikan.
“Hei Hana!” Namun Keigo seolah ingin segera menghentikan Hana. Ia takut, jika Hana akan kembali tertipu oleh Lucifer.
“Hn.”
“Pantas saja… aku selalu merasa hidupku begitu beruntung. Orang-orang asing datang dan pergi membantuku di saat terdesak. Itu semua Yoshiki-kun?” Tanpa Hana sadari sebutir air mata melaju turun dari kelopak matanya.
Tak menjawab kalimat Hana, Yoshiki menggerakan tangannnya diantara udara. Bagaikan sulap, sebuah buku catatan kecil tiba-tiba muncul di tangannya.
“Kau bisa membacanya,” disodorkannya catatan kecil itu pada Hana.
Perlahan dan ragu, Hana meraih buku kecil itu dengan gemetaran. Tidak ada perubahan ekspresi berarti dari Yoshiki. Pria itu tetap stoic dengan kesedihan yang menyelimutinya.
Setelah membalik-balik halaman catatan tersebut Hana tercekat. Ini adalah buku harian sang penguntit. Buku harian yang menceritakan tentang dirinya.
“My Lady, kembalilah,” tidak ada nama sama sekali dalam kalimat yang merupakan permohonan itu, hanya saja Yoshiki mengucapkan itu dengan kepala tertunduk seolah tidak ingin memperlihatkan kegundahan di wajahnya.
Namun Hana sudah bulat. Pria itu memang mencintainya dengan tulus. Sayangnya beberapa caranya salah dan menyakiti Hana secara psikis.
Hana menggelengkan kepalanya lemah, ia tersenyum di tengah kesedihannya, “selamat tinggal, Yoshiki-kun. Terima kasih,” selanjutnya ia benar-benar memalingkan badan dan tidak pernah menoleh ke belakang sampai mobil yang dikendarai oleh Keigo berderu meninggalkan jembatan pada waduk tersebut.
Yoshiki masih bergeming beberapa saat. Ia hanya termenung menatap kepergian Hana bersama Keigo Yasumoto.
Hingga kepalan tangannya berhenti mengerat, tiba-tiba saja ia berlari dan melompat ke dalam waduk. Tempat itu sangat sunyi, tidak ada siapapun yang melewati tempat itu, sehingga suara ceburan Yoshiki ke dalam waduk terdengar menggema sampai kepada Hana. Dikeluarkannya kepalannya untuk melihat langsung ke belakang, apa gerangan suara itu. Dan benar saja, mantan suaminya telah lenyap di balik gelapnya malam dan percikan air.
Yoshiki mencarinya. Mencari cincin kawin yang telah ia lemparkan karena keegoisannya.
Yoshiki telah mencapai dasar waduk berkedalaman lebih dari 20 meter tersebut. Di tengah kegelapan dan arus dalam waduk membuat wujud manusianya terombang-ambing kebingungan. Ia tak bisa menggunakan kekuatannya yang memang secara harafiah tidak akan mempan kepada hal-hal yang berbau Hana. Entah keberuntungan memang memihaknya atau bagaimana, ia melihat sebuah kilauan di tengah kabut lumpur.

**

Keigo Yasumoto sesekali melirik dan mencuri pandang ke arah Hana yang duduk di sampingnya. Perempuan berambut pendek itu hanya murung dan menatap sedih buku catatan kecil yang diberikan sang iblis.
“Kamu baik-baik saja, Hana?”
Mendengar nada khawatir dari Keigo, Hana dengan segera menjawab, “ah aku tidak apa-apa kok.”
“Sungguh?” Seolah tak yakin dengan Hana, keigo kembali bertanya.
Hana malah tertawa ringan setelah itu, “tentu saja ini berat. Aku pun, mencintainya Keigo-kun. Dia sudah cukup lama singgah di dalam hatiku.”
“Tapi dia adalah iblis Hana. Kau harus tau itu. Cepat atau lambat dia akan selalu menyakitimu.”
“Menurut Keigo-kun begitu?”
“Tentu saja!”
Hana hanya terdiam, menatap gelapnya malam seolah menelan laju mobil.

.
.

“Silahkan, anggap saja seperti tumah sendiri,” Keigo membuka pintu rumahnya untuk Hana.
Sementara Hana memandang memutari setiap sudut rumah Keigo, “ini rumah Keigo-kun?”
“Yah, ini dari hasil kerjaku jadi… maaf jika rumahku cukup kecil…” terdengar jelas nada kurang percaya diri di sana.
“Hasil kerja keras Keigo-kun? Rumah ini jadi kelihatan semakin luar biasa!” Dimasukkannya alas kakinya dan Hana tata rapi di dalam rak.
“Benarkah? Tapi bukankah tempat ini biasa saja dibandingkan dengan tempat Lucifer?” “Kenapa harus dibandingkan dengan Yoshiki-kun?”
Keigo yang sudah memakai celemeknya membuka lemari es, “karena aku ingin membahagiakanmu.”
Hana terhenyak beberapa saat. Ia tidaklah terlalu bodoh untuk menyadari pernyataan cinta secara tidak langsung dari Keigo. Namun rasanya ia sudah terlalu lelah untuk kembali memikirkan hal-hal rumit yang nantinya akan menyakitinya. Jadi Hana akan menganggapnya bagai angin lalu saja.
“Apa yang kamu buat Keigo-kun? Izinkan aku membantu!” Disusulnya Keigo menuju dapur.
“Hei, kamu istirahat saja. Apa yang ingin kamu makan?” Dikeluarkannya beberapa rempah-rempah dari dalam lemari es.
Sambil meletakkan jarinya di depan mulut Hana berpikir, “ummmm…” cukup lama sampai ia memutuskan, “aku mau Soba! Dengan Udang!”
“Baiklah!”
“Aku mau membantu Keigo-kun!” Hana bersikeras.
Untuk beberapa saat Keigo menatap Hana sebelum akhirnya ia menghela nafas dan meminta Hana membersihkan udang.



Keduanya duduk saling bersebrangan di atas sofa di ruang keluarga. Keheningan menyeruak sejak makan malam telah usai.
Hingga Hana mngeluarkan buku catatan kecil yang diberikan Yoshiki sebelum ia pergi, Keigo mau tak mau mengeluarkan apa yang mengganjal dalam pikirannya, “aku belum melaporkan jika kamu bersamaku dan berhasil mengambilmu dari Lucifer.”
“Melaporkan?” Tanya Hana tidak mengerti.
“Kepada Exorcist.”
Oh, tentu saja. Harusnya Hana sudah menduga hal ini. Yoshiki sangat gusar saat itu. Dirinya telah dirampas Exorcist, musuh besar Yoshiki. Hana semakin gundah dan mempertanyakan kembali perasaan Yoshiki kepadanya.
Sebuah senyuman getir tercetak pada wajah muramnya. Sepertinya ia memang sedang dipermainkan oleh takdir. Tidak ada siapapun yang bisa dipercaya sekarang semenjak ia tau jika ada sebuah kekuatan luar biasa sang raja iblis bersemayan dalam dirinya. Seolah dirinya adalah sumber daya yang diperebutkan siapapun demi keuntungan pribadi. Dirinya sangat lelah dengan pemikiran jika Keigo yang sekarang pun adalah Keigo yang hanya menginginkan kekuatan dalam dirinya saja.
“Ada apa Hana?” Tanya Keigo yang khawatir dengan perubahan ekspresi Hana.
“Ngmm… tidak, tidak apa…” Hana member jeda sejenak, “lalu, selanjutnya akan bagaimana?” Walaupun bertanya seolah peduli, Hana sangat tidak peduli sama sekali dengan bagaimana kedepannya.
“Aku akan segera melaporkan keberadaanmu. Karena jika tidak segera, bisa-bisa Lucifer sudah menyerang markas tanpa diketahui markas jika kamu ada padaku. Setelah itu mungkin kami akan kembali menata formasi lajunya perang. Setelah perang terakhir kemarin terlalu banyak exorcist berguguran, dari pihak iblis pun juga banyak yang tersegel—“
“… Keigo-kun…”
Keigo menghentika penjelasannya begitu mendengar Hana memanggil namanya.
Ekspresi Hana saat itu membuat Keigo terhenyak, perempuan itu berujar dengan senyum getir penuh kesedihan, “sebenarnya aku ini apa? Kenapa harus ada peperangan hanya karena keberadaanku?”
Dalam sekejam Keigo telah merengkuh tubuh Hana yang bergetar. Pelukan itu begitu erat dan sungguh menenangkan. Keigo sangat mengerti betapa menyakitkannya pemikiran Hana.
“Kamu Rayumi Hana. Temanku. Sahabatku. Perempuan tomboy yang selalu riang. Jangan terlalu memikirkan hal berat. Kamu tau semua ini terjadi karena para iblis…” ucap Keigo menenangkan Hana.
Hana tenggelam dalam pelukan Keigo. Pelukan hangat dan serba nyaman dan berbau lemon maskulin.
“Yang jelas, berikutnya aku akan melindungimu dari para iblis! Akan kupastikan selanjutnya kamu akan bahagia dan jauh dari segala urusan iblis!” Ditatapnya Hana dengan mata menyala-nyala penuh keyakinan.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.