CHAPTER 27: TO OCCUPIED WINNER
“Baiklah kita mulai! Nama pertama aku yang akan mengambil!” Maki memasukkan tangannya ke dalam kolam stereofoam di dalam kaca bulat.
“Yukari Hamatora-chan!”
“I-Iya!” seorang perempuan berdada besar dan berkacamata bangkit.
“Nah Yukari-san, ambil kertas lain untuk pasanganmu,” Maki member izin.
“B-Baik!”
Setelah sedikit mengaduk-aduk, Yukari Hamatora akhirnya mengeluarkan selembar kertas.
“Nah ayo bacakan yang keras! Pertandingan pertama kita!” Teriak Maki bersemangat.
“A-aaaaa-aaa…” Tapi tidak dengan Yukari Hamatora rasakan. Perempuan itu tergagap dengan wajah yang memerah.
“Oh? Ada apakah ini?” Maki menyeringai lebar, “siapakah pasanganmu?”
“K-K-K….” mati-matian Yukari Hamatora mengucapkan nama yang tertulis di kertas yang didapatkannya.
Setiap pasang mata menatap penasaran kepada gadis yang tengah gugup itu.
“….” Namun pengeculian untuk fokus Yoshiki yang selalu terarah pada Hana. Mengamati bagaimana wanitanya Nampak begitu berminat pada hadiah yang ditawarkan.
“Kuroto Yoshiki!”
‘Apa?’ Yoshiki menatap tidak percaya.
“Waaaah tidak dipercaya! Kuroto-kun! Ayooo majulah!” Maki Nampak semakin bersemangat berkali-kali lipat setelah tahu bahwa nama Yoshiki lah yang tersebut.
‘Sial! Aku terlalu fokus kepada Hana sampai tidak menyadari jika namaku ada di kertas itu!’ Yoshiki merutuki kebodohannya.
“Ayooooo cepaat. Atau… jangan-jangan Kuroto-kun sang penakluk wanita takut?” Maki terus mengkompori Yoshiki dengan wajah usil.
“Apa? Julukan dari mana itu?” Yui yang duduk di depan menyangga.
“Anak tahun pertama yang bilang, aku dengar waktu kelas olah raga beberapa hari lalu. Mungkin Kuroto-kun sudah banyak mencuri hati para perempuan tahun pertama dan menolak mereka mentah-mentah?” Maki mengangkat kedua bahunya.
“HEEEEE!!?? Yoshiki-kun dijuluki seperti itu?”
Yoshiki melirik Hana tidak percaya. Bagaimana mungkin wanitanya ini harus memusingkan julukan aneh daripada kondisinya di mana ia akan melakukan pocky game!?
Mau tidak mau Yoshiki akhirnya berada di samping Maki. Mengikuti permainan konyolnya. Itulah kenapa ia tidak menyukai setiap hal bersama manusia-manusia bodoh di sekitarnya.
“Nah, Silahkan pocky-nya Yukari-san,” Maki menyodorkan sebatang pocky dan segera diterima oleh Yukari.
“PERTANDINGAN PERTAMA! DIMULAI!” Teriakan Maki yang begitu bersemangat membuka pertandingan pertama. Yukari Hamatora versus Kuroto Yoshiki.
Keduanya terduduk di sebuah kursi panjang. Wajah keduanya saling berpandangan dalam jarak kurang dari 10 centimeter. Mengigit ujung demi ujung sebuah pocky. Wajah memerah padam Yuzuki Hamatora, dan wajah datar Kuroto Yoshiki.
“Uwaaaaa Hamatora itu manis sekali jika tersipu seperti itu, aku jadi iri dengan Kuroto.”
“Benar juga… dia kikuk dan manis…”
“Mungkin seharusnya tadi namaku yang disebutkan ya? Haha.”
Bisik demi bisik mengisi ruangan yang kala itu benar-benar ribut.
“Yang menyerah memakan pocky hingga tengah adalah yang kalah!” Maki kembali memberi arahan.
‘Uwawawa…. Dekat! Sangat dekat!’ Sementara itu batin Yukari terus berteriak, ‘matanya astaga! Kuroto-kun memang sangat tampan! Mati! Aku mati!’
Gigitan pertama.
‘!!’ Yukari tersentak saat Yoshiki dengan pertama mulai mengigit pocky.
‘Uwaaaa sudah dimulai saja! Wajahnya santai sekali!!’
Bibir padatnya yang gemetaran berusaha mengimbangi alur gigitan lawannya. Walau dengan mata terpejam, Yukari Hamataro akhirnya menyelesaikan gigitan pertamanya.
‘Oh, dia berani juga,’ pikir Yoshiki santai.
‘Tapi daripada itu…’ Onyx gelap Yoshiki melirik cepat ke arah Hana. Mengamati bagaimana reaksi wanitanya saat ini.
‘Dia…’ dari padangannya Yoshiki mendapati visual Hana dengan bercanda dengan seseorang di sampingnya dan kemudian kembali fokus pada konsol gamenya.
‘….’
Tidak ada respon dari Hana. Perempuan berambut pendek itu kembali menekuni gamenya tanpa memperdulikan Yoshiki.
‘Tch!’
Yoshiki tidak tertarik sedikit pun pada Yukari Hamatora, namun mengingat respon Hana yang sangat tidak peduli, Yoshiki tanpa sadar digerakkan oleh emosinya mengigit pocky dengan sangat cepat. Menyerang Yukari secara tiba-tiba.
“HIIIII!!” Yukari yang entah ketakutan atau apa tiba-tiba melepaskan gigitannya.
“Aaaaaa Yukari-san menyerah! Pemenangnya Kuroto-kun!!” Sorak Maki.
“Mustahil mustahil!” Yukari terus meracau.
“…” dari balik konsol game yang menutupi wajahnya, Hana mencuri pandang ke arah Yoshiki dengan bibirnya yang terkerucut.
Permainan terus berlanjut hinga beberapa ronde dan masih merupakan ‘babak penyisihan’. Yoshiki duduk diantara Rui dan golongannya. Cukup jauh dari tempat duduk Hana dan Yui. Keduanya entah bagaimana, saling berjauhan.
“Rayumi Hana,” anggota terakhir ronde sebelumnya menyebutkan nama Hana.
“Eh?? Aku?” Hana merespon setengah kaget.
“!!” Tanpa sadar Yoshiki sedikit menaikkan kepalanya.
“Respon apa itu?” Yui menyindir Hana.
“Ahahaha, Yui titip ya,” Hana menyerahkan konsol gamenya pada Yui.
“Kubuang loh.”
“Ehhhh?? Yui jahat!”
“Hana cepat kemari!” Maki akhirnya berteriak emosi karena Hana tak kunjung maju.
“Iya iya… aku ambil nama pasangan kan?”
“….” Mata gelap Yoshiki terus mengamati pergerakkan Hana.
“Cepatlah!”
“Sabar dong Maki-chan, yup! Ini dia!” Menunjukkan secarik kertas yang masih terlipat pada Maki, Hana tersenyum nyengir.
“Cepat dibuka!” Maki mulai dongkol.
“Aaa… baiklah… heee….” Hana tersenyum jahil begitu membuka kertasnya.
“….?” Yoshiki mengerutkan kedua alisnya tanpa sadar.
Siapa? Siapa yang akan berpasangan dengan Hana?
“Amagawa Nashiro!” Hana tersenyum riang.
“!!!!” Yoshiki sontak menoleh ke arah Nashiro yang sudah berdiri.
“Padahal aku berharap berpasangan dengan perempuan,” Nashiro menghela nafas seraya maju.
“Apa katamu!?” Muncul perempatan di jidat Hana.
“Sudah kalian berdua?” Maki memastikan.
Nashiro duduk di samping Hana yang telah mengigit salah satu ujung pocky.
“Ya…” Jawab Nashiro setelah mengigit ujung yang lain.
Keduanya bertatapan. Nashiro yang menatap Hana malas dan Hana yang menatap Nashiro seolah berkata ‘aku-pasti-menang!’
“…. Ck!” Yoshiki mendecakkan lidahnya.
‘Sial!’ Berkali-kali mengumpat dalam hati. Betapa kesalnya dia saat ini. Dengan kondisi terjebak undian lagi seperti ini, sikap Hana yang tidak peduli seperti itu benar-benar membuatnya kesal. Bagaimana bisa wanitanya itu menganggap enteng hal seperti ini sementara dirinya harus meradang seorang diri!?
“MULAI!” Maki member aba-aba.
“Agwagaoashrrrrhghhh!!” Entah apa yang ingin diucapkan Hana begitu gigi-giginya bergerak menghabisi tiap inchi pocky.
‘Waaaaaa… dia bersemangat sekali…’ Amagawa tersenyum dengan setengah alisnya terangkat.
“Ung?” Hana berhenti mengecap sejenak.
“Apha?” Karena mengigit sebatang pocky, kalimat Hana berantakan.
Amagawa menggeleng singkat, tersenyum tipis, kemudian melepaskan gigitannya, “aku menyerah.”
“Ha?” Setiap orang di tempat tidak mengerti jalan pikiran Amagawa.
“Kamu semangat sekali mendapatkan kameranya, jadi aku menyerah,” ucap Amagawa enteng.
“Aaaaa pengecut pengecut!” Hana menodong Nashiro heboh. Walau begitu Nashiro Amagawa sama sekali tidak terpicu dengan ejekan Hana dan memilih kembali ke tempatnya.
“Maaf ya, Kuroto. Semua kalimatku hanya bercanda. Dia manis kok walaupun liar begitu,” dengan polos Nashior mengungkapkan kalimatnya sesaat ia duduk di samping Yoshiki.
“…..” Yoshiki hanya diam tak merespon. Kedua onyxnya bergetar tak tentu arah dan menatap ke arah lain kosong.
“Yap! Itulah akhir dari babak pertama! Mari kita maju ke babak selanjutnya! Sang pemenang akan kembali di adu! Baiklaaaah…. Nama pertama… Miharu Yamaguchi-chan!”
“Woa woa… Miharu-chan Nampak sangat bersemangat!”
“Tentu saja, aku ingin kameranya,” Miharu menarik sebuah kerta dari wadah kaca.
“Bacakan Miharu-chan!”
“Geeeh! Kuroto Yoshiki,” Miharu setengah kecewa menunjukkan nama Yoshiki.
“Woawoawoa Kuroto-kun lagi-lagi menjadi urutan pertama!”
“Kau beruntung Miharu,” gerombolan Miharu sepertinya mulai memberikan olokan.
Yoshiki mendekat tanpa suara. Pandangannya lurus kedepan.
“Cih a-aku tidak akan kalah darimu!” Miharu menunjuk Yoshiki seolah memberikan tantangan.
“…” Yoshiki hanya menatap datar.
Keduanya telah saling mengigit ujung pocky saat ini.
“Mulai!” Teriak Maki.
Yoshiki tanpa ba bi bu segera mengigit dan mengigit pockynya.
‘Ugh! Dia menyerang lebih dahulu! Kuroto-kun memang hebat! Tapi aku tidak akan kalah!’ batin Miharu bersemangat.
Mengabaikan isi pikiran Miharu yang dapat Yoshiki dengar dengan mudah, pria berambut jagged it uterus mengigit tanpa jeda.
Detik awal Miharu mempu mengimbangi permainan Yoshiki. Hingga jarak mereka semakin berkurang disitulah keraguan Miharu muncul.
‘Dia… bahkan tidak bergeming sama sekali. Gawat… dia memang tampan…’ jantung Miharu seolah berdetak semakin dalam dan kencang. Menumbulkan desiran aneh setiap ia mengigit pocky.
Yoshiki yang mengetahui isi pikiran Miharu semakin intens gigitannya. Ditambah tatapannya sengaja ia fokuskan pada kedua bola mata biru milik Miharu.
‘Dia gila!’
Klak!
Suara batang pocky yang dipatahkan paksa seolah menggema di seluruh ruangan yang menegang karena ini adalah pertama kalinya pocky tergigit hingga sejauh itu. mungkin tingal satu senti lagi bibir mereka akan bersentuhan.
“Hhhh… hhh… hehh…” entah sejak kapan Miharu berkeringat sebanyak itu, memaksanya menyeka keringatnya sembari bernafas berat, menetralkan degub jantungnya.
“Itu hampir saja kan…”
“Dekat sekali…”
“Si Kuroto itu enak sekali….”
“Dia gila…”
“Mantap…”
Ruangan menjadi riuh seketika. Permainan pocky barusan benar-benar seperti puncak semua permainan pocky.
Yoshiki hanya menatap datar kembali ke tempat duduknya.
“Uwa… Kuroto-kun in action,” menoleh ke arah Hana, Yui berbisik dengan nada memancing.
“Hngg…” Hana menurunkan konsol game yang sejak tadi menutupi wajahnya. Memunculkan pandangan kesal.
“Hihi…” Yui tertawa menggoda.
“Aku akan menghajar Maki setelah ini. Permainan macam apa ini?” Gerutu Hana.
“Ayolah… akui saja. Kamu cemburu kan? Melihat Yoshiki-kun dan Miharu,” Yui terus memancing Hana.
“Ugh…” Hana kembali menenggelamkan dirinya dalam game.
“Yoshiki-kun bodoh,” gerutu Hana pelan.
Permainan terus berlanjut. Keriuhan tetap terkondisikan.
Hingga nama Hana kembali terpanggil.
“Siap siap!” Hana dengan semangat ke depan, meninggalkan gamenya.
“Tumben sekali semangat?” Tanya Maki.
“Hehe…” Hana memasukan tangannya ke dalam undian, menarik sebuah nama, “aku ingin kameranya tentu saja.”
“Heee…” Maki merespon malas.
“Aoi Shinji-kun!” Hana membaca keras-keras kertasnya.
“Ah, Shinji sakit perut. Tadi dia lari ke kamar mandi. Sepertinya dia kebanyakan makan snack pedas di kamar,” seorang teman sekamar Shinji meyahut.
“Kalau menunggu Shinji pasti akan lama… hmm…” Maki memejamkan kedua matanya berfikir.
“Shinji bilang boleh kok didiskualifikasi,” teman sekamar Shinji yang lain menyahut.
“Baiklah, diskualifikasi. Pemenangnya Hana,” Putus Maki seenaknya.
“Hah? Apa itu!?” Protes Hana.
“Sudah cepat sana kembali. Kamu yang menang,” dengan malas Maki mendorong Hana kembali ke tempatnya.
Dan berselang beberapa menit kemudian babak perempat final pocky game telah dimulai. Peserta yang tersisa: Kuroto Yoshiki, Sugao Sakumi, Urakawa Rina, Rayumi Hana.
“Hana Rayumi,” Maki memanggil Hana malas.
“Siaaaaap!” Hana maju dengan semangat.
“Menjijikan sekali melihatmu bersemangat untuk mencium orang,” ucap Maki datar.
“Aku mau kameranya! Bukan mencium orang!” Dengan wajah memerah Hana membenarkan ucapan Maki selagi ia menarik undian nama.
“Nah, uhuk,” Hana membuka kertas undian.
“Geeeh….” Hana membuat wajah tidak enak setelah mengetahui nama yang tertulis dalam undiannya.
Setiap orang hanya bisa menerka-nerka. Hanya tersisa 1 pria dan 3 perempuan. Kemungkinan besar Hana akan berpasangan dengan sesama wanita.
“Sugao Sakumi,” ucap Hana akhirnya.
“HAAAAA!? Sama perempuan!?” Celetuk Sakumi, “Tidak mau! Diskualifikasi saja aku! Haaah… padahal aku ingin bersama Kuroto-kun.”
“Memangnya aku juga mau berpasangan dengan perempuan apa? Cih!”
Akhirnya dengan berat hati Hana kembali ke tempatnya. Lagipula sejak memasuki babak perempat final ia sudah kehilangan harapan. Tidak ada laki-laki lain selain Yoshiki yang lolos. Rencana untuk membalas dendam—membuat Yoshiki cemburu—gagal total.
“Yaaah… berarti tinggal Kuroto Yoshiki-kun, dan Urakawa Rina. Silahkan ke depan!”
Beberapa detik kemudian ruangan dipenuhi oleh tepuk tangan. Bagiamana tidak, keduanya adalah primadona kelas. Ketampanan Kuroto Yoshiki bahkan telah diakui oleh seisi sekolah. Kecantikan Urakawa Rina cukup mampu membuat seluruh pria kelas 3-4 sujud di hadapannya.
Kini keduanya berada di depan, saling berhadapan. Yoshiki yang lagi-lagi hanya menatap datar tidak peduli. Dan Rina yang terus tersenyum nakal.
‘Parah! Parah! Parah!’ Hana gregetan sendiri di tempatnya.
“Heee… ada yang cemburu rupanya…” Yui menyindir halus.
Hana mendelik pada Yui. Bibirnya bergerak-gerak namun tak mengelurakan satu suarapun. Bagaikan ikan sekarat. Tetapi Yui semakin tersenyum jahil begitu bisa membaca gerakan bibir Hana, ‘itu Rina Urakawa loh! Rina Urakawa!’
Tunggu dulu.
Hana terdiam berpikir.
Jika Yoshiki kalah, maka yang maju melawannya nanti adalah Rina. Perempuan paling rupawan di kelas dijajarkan dengan perempuan paling absurd di kelas. Membayangkannya saja sudah membuat Hana ingin bunuh diri.
“PERMAINAN DIMULAI!!”
Dalam sekejap ruangan menjadi heboh dan sangat berisik oleh suara-suara sorakan para siswa 3-4.
Keduanya kini telah dengan berani terus menyerang—terus mengigit pocky—dengan kecepatan stagnan. Tidak ada dari mereka yang menampakkan tanda-tanda blushing sedikitpun. Sungguh seperti permainan para pro.
“Mereka hebat…”
“Benar, bahkan tidak ada yang merasa malu atau canggung.”
“Mau bertaruh siapa yang akan menang?”
“Urakawa akan menang menurutku. Kuroto tidak akan sampai-sampai lebih dekat lagi.”
“Kenapa begitu? Bukankah malah Kuroto yang lebih tenar sebagai penakluk perempuan seantero sekolah? Menurutku mencium perempuan saja dia akan merasa biasa…”
“Kamu tahu sendiri…”
Dua orang siswa itu menoleh ke belakang bersamaan. Di sana Hana duduk menutupi wajahnya dengan konsol gamenya—sibuk dengan gamenya.
Tapi kedua siswa itu cukup tahu jika Hana mencengkram konsol gamenya begitu keras.
“Dia marah…”
“Bukankah ini gawat?”
Keduanya sweatdrop di tempat.
Semakin tergigitnya pocky, semakin berkurang pula jarak di antara Yoshiki dan Rina. Di situ Rina tersenyum lebar walaupun giginya terus bergerak mengunyah pocky.
‘Seperti yang diharapkan dari primadona sekolah… tidak ragu sama sekali!’ Rina Urakawa terus mempertahankan kecepatan mengigitnya.
‘Bodoh. Pikiranmu mudah dibaca,’ pikir Yoshiki kebosanan.
Sorakan-sorakan seolah-olah semakin memekikkan telinga begitu jarak diantaranya hanya tinggal beberapa senti saja.
‘Yah…. Dia memang tampan dilihat dari sisi manapun. Jadi ingin menciumnya. Tunggu, jika aku menang maka aku yang akan melawan Hana di babak final?’
‘!!’
Seketika gigitan Yoshiki melambat .
Read More ->>
“Baiklah kita mulai! Nama pertama aku yang akan mengambil!” Maki memasukkan tangannya ke dalam kolam stereofoam di dalam kaca bulat.
“Yukari Hamatora-chan!”
“I-Iya!” seorang perempuan berdada besar dan berkacamata bangkit.
“Nah Yukari-san, ambil kertas lain untuk pasanganmu,” Maki member izin.
“B-Baik!”
Setelah sedikit mengaduk-aduk, Yukari Hamatora akhirnya mengeluarkan selembar kertas.
“Nah ayo bacakan yang keras! Pertandingan pertama kita!” Teriak Maki bersemangat.
“A-aaaaa-aaa…” Tapi tidak dengan Yukari Hamatora rasakan. Perempuan itu tergagap dengan wajah yang memerah.
“Oh? Ada apakah ini?” Maki menyeringai lebar, “siapakah pasanganmu?”
“K-K-K….” mati-matian Yukari Hamatora mengucapkan nama yang tertulis di kertas yang didapatkannya.
Setiap pasang mata menatap penasaran kepada gadis yang tengah gugup itu.
“….” Namun pengeculian untuk fokus Yoshiki yang selalu terarah pada Hana. Mengamati bagaimana wanitanya Nampak begitu berminat pada hadiah yang ditawarkan.
“Kuroto Yoshiki!”
‘Apa?’ Yoshiki menatap tidak percaya.
“Waaaah tidak dipercaya! Kuroto-kun! Ayooo majulah!” Maki Nampak semakin bersemangat berkali-kali lipat setelah tahu bahwa nama Yoshiki lah yang tersebut.
‘Sial! Aku terlalu fokus kepada Hana sampai tidak menyadari jika namaku ada di kertas itu!’ Yoshiki merutuki kebodohannya.
“Ayooooo cepaat. Atau… jangan-jangan Kuroto-kun sang penakluk wanita takut?” Maki terus mengkompori Yoshiki dengan wajah usil.
“Apa? Julukan dari mana itu?” Yui yang duduk di depan menyangga.
“Anak tahun pertama yang bilang, aku dengar waktu kelas olah raga beberapa hari lalu. Mungkin Kuroto-kun sudah banyak mencuri hati para perempuan tahun pertama dan menolak mereka mentah-mentah?” Maki mengangkat kedua bahunya.
“HEEEEE!!?? Yoshiki-kun dijuluki seperti itu?”
Yoshiki melirik Hana tidak percaya. Bagaimana mungkin wanitanya ini harus memusingkan julukan aneh daripada kondisinya di mana ia akan melakukan pocky game!?
Mau tidak mau Yoshiki akhirnya berada di samping Maki. Mengikuti permainan konyolnya. Itulah kenapa ia tidak menyukai setiap hal bersama manusia-manusia bodoh di sekitarnya.
“Nah, Silahkan pocky-nya Yukari-san,” Maki menyodorkan sebatang pocky dan segera diterima oleh Yukari.
“PERTANDINGAN PERTAMA! DIMULAI!” Teriakan Maki yang begitu bersemangat membuka pertandingan pertama. Yukari Hamatora versus Kuroto Yoshiki.
Keduanya terduduk di sebuah kursi panjang. Wajah keduanya saling berpandangan dalam jarak kurang dari 10 centimeter. Mengigit ujung demi ujung sebuah pocky. Wajah memerah padam Yuzuki Hamatora, dan wajah datar Kuroto Yoshiki.
“Uwaaaaa Hamatora itu manis sekali jika tersipu seperti itu, aku jadi iri dengan Kuroto.”
“Benar juga… dia kikuk dan manis…”
“Mungkin seharusnya tadi namaku yang disebutkan ya? Haha.”
Bisik demi bisik mengisi ruangan yang kala itu benar-benar ribut.
“Yang menyerah memakan pocky hingga tengah adalah yang kalah!” Maki kembali memberi arahan.
‘Uwawawa…. Dekat! Sangat dekat!’ Sementara itu batin Yukari terus berteriak, ‘matanya astaga! Kuroto-kun memang sangat tampan! Mati! Aku mati!’
Gigitan pertama.
‘!!’ Yukari tersentak saat Yoshiki dengan pertama mulai mengigit pocky.
‘Uwaaaa sudah dimulai saja! Wajahnya santai sekali!!’
Bibir padatnya yang gemetaran berusaha mengimbangi alur gigitan lawannya. Walau dengan mata terpejam, Yukari Hamataro akhirnya menyelesaikan gigitan pertamanya.
‘Oh, dia berani juga,’ pikir Yoshiki santai.
‘Tapi daripada itu…’ Onyx gelap Yoshiki melirik cepat ke arah Hana. Mengamati bagaimana reaksi wanitanya saat ini.
‘Dia…’ dari padangannya Yoshiki mendapati visual Hana dengan bercanda dengan seseorang di sampingnya dan kemudian kembali fokus pada konsol gamenya.
‘….’
Tidak ada respon dari Hana. Perempuan berambut pendek itu kembali menekuni gamenya tanpa memperdulikan Yoshiki.
‘Tch!’
Yoshiki tidak tertarik sedikit pun pada Yukari Hamatora, namun mengingat respon Hana yang sangat tidak peduli, Yoshiki tanpa sadar digerakkan oleh emosinya mengigit pocky dengan sangat cepat. Menyerang Yukari secara tiba-tiba.
“HIIIII!!” Yukari yang entah ketakutan atau apa tiba-tiba melepaskan gigitannya.
“Aaaaaa Yukari-san menyerah! Pemenangnya Kuroto-kun!!” Sorak Maki.
“Mustahil mustahil!” Yukari terus meracau.
“…” dari balik konsol game yang menutupi wajahnya, Hana mencuri pandang ke arah Yoshiki dengan bibirnya yang terkerucut.
Permainan terus berlanjut hinga beberapa ronde dan masih merupakan ‘babak penyisihan’. Yoshiki duduk diantara Rui dan golongannya. Cukup jauh dari tempat duduk Hana dan Yui. Keduanya entah bagaimana, saling berjauhan.
“Rayumi Hana,” anggota terakhir ronde sebelumnya menyebutkan nama Hana.
“Eh?? Aku?” Hana merespon setengah kaget.
“!!” Tanpa sadar Yoshiki sedikit menaikkan kepalanya.
“Respon apa itu?” Yui menyindir Hana.
“Ahahaha, Yui titip ya,” Hana menyerahkan konsol gamenya pada Yui.
“Kubuang loh.”
“Ehhhh?? Yui jahat!”
“Hana cepat kemari!” Maki akhirnya berteriak emosi karena Hana tak kunjung maju.
“Iya iya… aku ambil nama pasangan kan?”
“….” Mata gelap Yoshiki terus mengamati pergerakkan Hana.
“Cepatlah!”
“Sabar dong Maki-chan, yup! Ini dia!” Menunjukkan secarik kertas yang masih terlipat pada Maki, Hana tersenyum nyengir.
“Cepat dibuka!” Maki mulai dongkol.
“Aaa… baiklah… heee….” Hana tersenyum jahil begitu membuka kertasnya.
“….?” Yoshiki mengerutkan kedua alisnya tanpa sadar.
Siapa? Siapa yang akan berpasangan dengan Hana?
“Amagawa Nashiro!” Hana tersenyum riang.
“!!!!” Yoshiki sontak menoleh ke arah Nashiro yang sudah berdiri.
“Padahal aku berharap berpasangan dengan perempuan,” Nashiro menghela nafas seraya maju.
“Apa katamu!?” Muncul perempatan di jidat Hana.
“Sudah kalian berdua?” Maki memastikan.
Nashiro duduk di samping Hana yang telah mengigit salah satu ujung pocky.
“Ya…” Jawab Nashiro setelah mengigit ujung yang lain.
Keduanya bertatapan. Nashiro yang menatap Hana malas dan Hana yang menatap Nashiro seolah berkata ‘aku-pasti-menang!’
“…. Ck!” Yoshiki mendecakkan lidahnya.
‘Sial!’ Berkali-kali mengumpat dalam hati. Betapa kesalnya dia saat ini. Dengan kondisi terjebak undian lagi seperti ini, sikap Hana yang tidak peduli seperti itu benar-benar membuatnya kesal. Bagaimana bisa wanitanya itu menganggap enteng hal seperti ini sementara dirinya harus meradang seorang diri!?
“MULAI!” Maki member aba-aba.
“Agwagaoashrrrrhghhh!!” Entah apa yang ingin diucapkan Hana begitu gigi-giginya bergerak menghabisi tiap inchi pocky.
‘Waaaaaa… dia bersemangat sekali…’ Amagawa tersenyum dengan setengah alisnya terangkat.
“Ung?” Hana berhenti mengecap sejenak.
“Apha?” Karena mengigit sebatang pocky, kalimat Hana berantakan.
Amagawa menggeleng singkat, tersenyum tipis, kemudian melepaskan gigitannya, “aku menyerah.”
“Ha?” Setiap orang di tempat tidak mengerti jalan pikiran Amagawa.
“Kamu semangat sekali mendapatkan kameranya, jadi aku menyerah,” ucap Amagawa enteng.
“Aaaaa pengecut pengecut!” Hana menodong Nashiro heboh. Walau begitu Nashiro Amagawa sama sekali tidak terpicu dengan ejekan Hana dan memilih kembali ke tempatnya.
“Maaf ya, Kuroto. Semua kalimatku hanya bercanda. Dia manis kok walaupun liar begitu,” dengan polos Nashior mengungkapkan kalimatnya sesaat ia duduk di samping Yoshiki.
“…..” Yoshiki hanya diam tak merespon. Kedua onyxnya bergetar tak tentu arah dan menatap ke arah lain kosong.
“Yap! Itulah akhir dari babak pertama! Mari kita maju ke babak selanjutnya! Sang pemenang akan kembali di adu! Baiklaaaah…. Nama pertama… Miharu Yamaguchi-chan!”
“Woa woa… Miharu-chan Nampak sangat bersemangat!”
“Tentu saja, aku ingin kameranya,” Miharu menarik sebuah kerta dari wadah kaca.
“Bacakan Miharu-chan!”
“Geeeh! Kuroto Yoshiki,” Miharu setengah kecewa menunjukkan nama Yoshiki.
“Woawoawoa Kuroto-kun lagi-lagi menjadi urutan pertama!”
“Kau beruntung Miharu,” gerombolan Miharu sepertinya mulai memberikan olokan.
Yoshiki mendekat tanpa suara. Pandangannya lurus kedepan.
“Cih a-aku tidak akan kalah darimu!” Miharu menunjuk Yoshiki seolah memberikan tantangan.
“…” Yoshiki hanya menatap datar.
Keduanya telah saling mengigit ujung pocky saat ini.
“Mulai!” Teriak Maki.
Yoshiki tanpa ba bi bu segera mengigit dan mengigit pockynya.
‘Ugh! Dia menyerang lebih dahulu! Kuroto-kun memang hebat! Tapi aku tidak akan kalah!’ batin Miharu bersemangat.
Mengabaikan isi pikiran Miharu yang dapat Yoshiki dengar dengan mudah, pria berambut jagged it uterus mengigit tanpa jeda.
Detik awal Miharu mempu mengimbangi permainan Yoshiki. Hingga jarak mereka semakin berkurang disitulah keraguan Miharu muncul.
‘Dia… bahkan tidak bergeming sama sekali. Gawat… dia memang tampan…’ jantung Miharu seolah berdetak semakin dalam dan kencang. Menumbulkan desiran aneh setiap ia mengigit pocky.
Yoshiki yang mengetahui isi pikiran Miharu semakin intens gigitannya. Ditambah tatapannya sengaja ia fokuskan pada kedua bola mata biru milik Miharu.
‘Dia gila!’
Klak!
Suara batang pocky yang dipatahkan paksa seolah menggema di seluruh ruangan yang menegang karena ini adalah pertama kalinya pocky tergigit hingga sejauh itu. mungkin tingal satu senti lagi bibir mereka akan bersentuhan.
“Hhhh… hhh… hehh…” entah sejak kapan Miharu berkeringat sebanyak itu, memaksanya menyeka keringatnya sembari bernafas berat, menetralkan degub jantungnya.
“Itu hampir saja kan…”
“Dekat sekali…”
“Si Kuroto itu enak sekali….”
“Dia gila…”
“Mantap…”
Ruangan menjadi riuh seketika. Permainan pocky barusan benar-benar seperti puncak semua permainan pocky.
Yoshiki hanya menatap datar kembali ke tempat duduknya.
“Uwa… Kuroto-kun in action,” menoleh ke arah Hana, Yui berbisik dengan nada memancing.
“Hngg…” Hana menurunkan konsol game yang sejak tadi menutupi wajahnya. Memunculkan pandangan kesal.
“Hihi…” Yui tertawa menggoda.
“Aku akan menghajar Maki setelah ini. Permainan macam apa ini?” Gerutu Hana.
“Ayolah… akui saja. Kamu cemburu kan? Melihat Yoshiki-kun dan Miharu,” Yui terus memancing Hana.
“Ugh…” Hana kembali menenggelamkan dirinya dalam game.
“Yoshiki-kun bodoh,” gerutu Hana pelan.
Permainan terus berlanjut. Keriuhan tetap terkondisikan.
Hingga nama Hana kembali terpanggil.
“Siap siap!” Hana dengan semangat ke depan, meninggalkan gamenya.
“Tumben sekali semangat?” Tanya Maki.
“Hehe…” Hana memasukan tangannya ke dalam undian, menarik sebuah nama, “aku ingin kameranya tentu saja.”
“Heee…” Maki merespon malas.
“Aoi Shinji-kun!” Hana membaca keras-keras kertasnya.
“Ah, Shinji sakit perut. Tadi dia lari ke kamar mandi. Sepertinya dia kebanyakan makan snack pedas di kamar,” seorang teman sekamar Shinji meyahut.
“Kalau menunggu Shinji pasti akan lama… hmm…” Maki memejamkan kedua matanya berfikir.
“Shinji bilang boleh kok didiskualifikasi,” teman sekamar Shinji yang lain menyahut.
“Baiklah, diskualifikasi. Pemenangnya Hana,” Putus Maki seenaknya.
“Hah? Apa itu!?” Protes Hana.
“Sudah cepat sana kembali. Kamu yang menang,” dengan malas Maki mendorong Hana kembali ke tempatnya.
Dan berselang beberapa menit kemudian babak perempat final pocky game telah dimulai. Peserta yang tersisa: Kuroto Yoshiki, Sugao Sakumi, Urakawa Rina, Rayumi Hana.
“Hana Rayumi,” Maki memanggil Hana malas.
“Siaaaaap!” Hana maju dengan semangat.
“Menjijikan sekali melihatmu bersemangat untuk mencium orang,” ucap Maki datar.
“Aku mau kameranya! Bukan mencium orang!” Dengan wajah memerah Hana membenarkan ucapan Maki selagi ia menarik undian nama.
“Nah, uhuk,” Hana membuka kertas undian.
“Geeeh….” Hana membuat wajah tidak enak setelah mengetahui nama yang tertulis dalam undiannya.
Setiap orang hanya bisa menerka-nerka. Hanya tersisa 1 pria dan 3 perempuan. Kemungkinan besar Hana akan berpasangan dengan sesama wanita.
“Sugao Sakumi,” ucap Hana akhirnya.
“HAAAAA!? Sama perempuan!?” Celetuk Sakumi, “Tidak mau! Diskualifikasi saja aku! Haaah… padahal aku ingin bersama Kuroto-kun.”
“Memangnya aku juga mau berpasangan dengan perempuan apa? Cih!”
Akhirnya dengan berat hati Hana kembali ke tempatnya. Lagipula sejak memasuki babak perempat final ia sudah kehilangan harapan. Tidak ada laki-laki lain selain Yoshiki yang lolos. Rencana untuk membalas dendam—membuat Yoshiki cemburu—gagal total.
“Yaaah… berarti tinggal Kuroto Yoshiki-kun, dan Urakawa Rina. Silahkan ke depan!”
Beberapa detik kemudian ruangan dipenuhi oleh tepuk tangan. Bagiamana tidak, keduanya adalah primadona kelas. Ketampanan Kuroto Yoshiki bahkan telah diakui oleh seisi sekolah. Kecantikan Urakawa Rina cukup mampu membuat seluruh pria kelas 3-4 sujud di hadapannya.
Kini keduanya berada di depan, saling berhadapan. Yoshiki yang lagi-lagi hanya menatap datar tidak peduli. Dan Rina yang terus tersenyum nakal.
‘Parah! Parah! Parah!’ Hana gregetan sendiri di tempatnya.
“Heee… ada yang cemburu rupanya…” Yui menyindir halus.
Hana mendelik pada Yui. Bibirnya bergerak-gerak namun tak mengelurakan satu suarapun. Bagaikan ikan sekarat. Tetapi Yui semakin tersenyum jahil begitu bisa membaca gerakan bibir Hana, ‘itu Rina Urakawa loh! Rina Urakawa!’
Tunggu dulu.
Hana terdiam berpikir.
Jika Yoshiki kalah, maka yang maju melawannya nanti adalah Rina. Perempuan paling rupawan di kelas dijajarkan dengan perempuan paling absurd di kelas. Membayangkannya saja sudah membuat Hana ingin bunuh diri.
“PERMAINAN DIMULAI!!”
Dalam sekejap ruangan menjadi heboh dan sangat berisik oleh suara-suara sorakan para siswa 3-4.
Keduanya kini telah dengan berani terus menyerang—terus mengigit pocky—dengan kecepatan stagnan. Tidak ada dari mereka yang menampakkan tanda-tanda blushing sedikitpun. Sungguh seperti permainan para pro.
“Mereka hebat…”
“Benar, bahkan tidak ada yang merasa malu atau canggung.”
“Mau bertaruh siapa yang akan menang?”
“Urakawa akan menang menurutku. Kuroto tidak akan sampai-sampai lebih dekat lagi.”
“Kenapa begitu? Bukankah malah Kuroto yang lebih tenar sebagai penakluk perempuan seantero sekolah? Menurutku mencium perempuan saja dia akan merasa biasa…”
“Kamu tahu sendiri…”
Dua orang siswa itu menoleh ke belakang bersamaan. Di sana Hana duduk menutupi wajahnya dengan konsol gamenya—sibuk dengan gamenya.
Tapi kedua siswa itu cukup tahu jika Hana mencengkram konsol gamenya begitu keras.
“Dia marah…”
“Bukankah ini gawat?”
Keduanya sweatdrop di tempat.
Semakin tergigitnya pocky, semakin berkurang pula jarak di antara Yoshiki dan Rina. Di situ Rina tersenyum lebar walaupun giginya terus bergerak mengunyah pocky.
‘Seperti yang diharapkan dari primadona sekolah… tidak ragu sama sekali!’ Rina Urakawa terus mempertahankan kecepatan mengigitnya.
‘Bodoh. Pikiranmu mudah dibaca,’ pikir Yoshiki kebosanan.
Sorakan-sorakan seolah-olah semakin memekikkan telinga begitu jarak diantaranya hanya tinggal beberapa senti saja.
‘Yah…. Dia memang tampan dilihat dari sisi manapun. Jadi ingin menciumnya. Tunggu, jika aku menang maka aku yang akan melawan Hana di babak final?’
‘!!’
Seketika gigitan Yoshiki melambat .