Selasa, 18 Maret 2014

Yami no AI [CHAPTER 18]

Chap 18


"Hn. Ayo" Yoshiki segera menarik Hana kedalam mobil. Dan segera dipacunya mobil itu.
"Ano... Kita mau kemana?" tanya Hana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Manorku" jawab Yoshiki singkat.
"Untuk?" tanya Hana lagi.
"Melakukan upacara pernikahan kita"
"HEEEEEEE!?"
"Kau harus menyiapkan dirimu. Malam ini kau akan menjadi milikku. Seutuhnya."
"Tapi aku hanya memakai ini!"
"Jangan pikirkan itu. Kau bisa memilih gaun yang kau inginkan"

Beberapa menit kemudian mobil Yoshiki mulai menurunkan kecepatan. Kerana penasaran seperti apa 'manor' Yoshiki, Hana menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri.
"Kai!" ucap Yoshiki tiba-tiba dengan kuat.
'segel' yang berada di antara pepohonan rindang segera luntur. Luntur dan luntur hingga nampaklah sebuah istana yang benar-benar luas.
Takjub. Hana sampai tidak mengedipkan matanya.
"Bagaimana manorku?" tanya Yoshiki.
"Kau buta ya? Ini istana bodoh. Bukan manor" cibir Hana hambar.
"Hn"
"Tadaima My Lord" ucap seorang penjaga saat Yoshiki memasuki sebuah 'garasi' yang luar biasa lebar.
"Hn. Ayo" Yoshiki menarik Hana (lagi).
"Misaki. Siapkan segelanya untuk dia. Aku pergi" ucap Yoshiki pada seorang maid berambut aquamarine.
"Yes, My Lord" ucap sang pelayan dengan menundukan kepalanya hormat.
"Tolong ikuti saya" Maid itu meminta Hana mengikutinya. Mau tak mau akhirnya Hana mengikutinya. Mengingat Yoshiki sudah hilang entah kemana.

"...." Hana terdiam.
Wajahnya sudah memanas sedari tadi. Kepalanya berputar-putar alay.
Ia akan mengenakan salah satu dari banyak gaun pengantin wanita yang ada disekitarnya ini dengan Yoshiki menggandengnya sebagai pasangannya.
Oh ayolah. Semua hayalan konyolnya waktu kecil beberapa detik lagi akan terwujud.
"Baiklah. Anda bisa melihat sekarang" seru Misaki dengan girang.
Hana membuka matanya. Nampak bayangan dirinya tengah dibalut sebuah gaun mewah berwana putih.
Wajah 'tampan'nya sudah hilang tak berbekas. Yang ada, hanya seorang gadis cantik.
"I-itu a-aku?" tanya Hana tak percaya.
"Ha'i" jawab Misaki.
"Ki-kirei..." ucap Hana tak percaya.
BRAK! Tiba-tiba kamar 'pengantin' Hana dibuka hingga muncul seorang wanita berkacamata.
"My Lady" wanita itu membungkuk sedalam-dalamnya.
"My Lord sudah menunggu" lanjutnya.
Hana mengangguk mantap lalu mengikut langkah sang wanita berkacamata.

Gaun putih mewahnya terusd berkibar menyapu lantai berkarpet itu. Ketika memasuki sebuah aula yang luar biasa luas, seluruh pandangan mata dari seluruh peserta yang hadir mengarah pada Hana.
"Hn" Yoshiki tersenyum melihat kehadiran Hana. 'cantik...' innernya.
Wajah Hana semakin memerah melihat Yoshiki yang oh demi dewa atau apapun terlihat sangat gagah dan tampan dengan 'mungkin' seragamnya sebagai seorang raja. Warna hitam mendominasi seragamnya itu. Dengan aksesoris tanda 'pangkat' menempel dimana-mana. Kemeja hitam dan dasi hitam dibalik itu semua.

"Hana Rayumi-sama. Dengan ini kau menjadi Hana Kuroto-sama. Berjanji, dalam suka maupun duka tetap mencintai Yoshiki Kuroto-sama?"
Read More ->>

Yami no AI [CHAPTER 17]

Chap 17

"Bisa jadi" jawab Hana tak acuh.
"Hn"
"Kau... Punya banyak fans girl ya?" tanya Hana hambar.
"Hn. Lalu? Kau cemburu?" jawab Yoshiki dingin dengan seringainya.
Wajah Hana perlahan memanas. "tidak. Siapa peduli. Kau berciuman dengan wanita lain pun aku tidak peduli. Kau dan aku kan.... Tidak ada ikatan"
Duk. Yoshiki berhenti. Hana menabrak punggung Yoshiki.
"Hei!" protes Hana.
"Tidak ada ikatan?" Yoshiki kembali mengunci Hana diantara dinding.
"Yoshiki hentikan! Ini disekolah!"
"siapa peduli? Aku bisa membuat semua orang di dunia ini tanpa melihat kita."
Hana hanya bisa menunduk.
"Jadi, My Lady.... Kau belum memahami perasaanku?"
Hana masih tidak menjawab.
Yoshiki merogoh sakunya. Mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah.
"Kau suka?" tanya Yoshiki.
Mau tak mau Hana mengangkat wajahnya karena penasaran.
Iris saphire Hana terbelalak melihat dua buah cincin bersemayan rapi disebuah kotak merah.
"Kirei..." ucap Hana.
"My Lady" Yoshiki berbisik mesra tepat di telinga Hana. "Will you be mine?"
"A...a...a..." Hana bingung. Siapapun tolong jelaskan apa maksudnya ini.
"Me-menikah?" Tanya Hana.
"Ya" hei dengar! Yoshiki mengatakan 'ya'. Sepertinya kali ini Yoshiki benar-benar serius. Karena biasanya ia akan menggunakan kata 'Hn' emasnya itu.
"T-T-Tapi k-kan kita masih senior high school!"
"Disini kau sebagai kekasihku. Ditempatku kau istriku" jelas Yoshiki.
"A-ano..." jawab Hana kikuk.
"Aku mencintaimu. My Lady," Yoshiki mengecup ringan punggung tangan Hana.
"...." Hana terdiam. Wajahnya sudah merah luar biasa. "aaa! Moo! Wakatta! P-pasangkan. C-cincin i-itu" seseorang tolong potret wajah tsundere Hana saat ini. Dengan tampang tomboynya, ia memalangkan wajah menyembunyikan sipuan di wajahnya.
"Hn" Yoshiki tersenyum melihatnya. Oh! Yoshiki tersenyum! Demi apapun! Yoshiki Kuroto! Si raja iblis! Si dingin! Baru saja tersenyum!
"Jadi, kau mau menjadi pendamping seorang raja Iblis?"
"Hngg... Sebelum itu bisa beri tahu aku berapa umurmu yang sebenarnya?"
"3700 nanti malam"
"Jadi hari ini ulang tahunmu?"
Yoshiki mengangguk pelan. "Kau belum menjawab pertanyaanku, nona?"
"Astaga bisa-bisanya aku jatuh cinta dan menerima lamara dari kakek-kakek berumu 3700 tahun yang sudah menopouse" gurau Hana.
"Menopouse? Akan kubuat kau menyesali ucapanmu"
"Dasar kakek-kakek menopouse"
"Aku akan menjemputmu nanti jam 8 malam. Jaa~" Yoshiki menghilang bersamaan dengan kepulan asap yang tiba-tiba muncul.

'Aku akan menjemputmu nanti jam 8 malam'
'Aku akan menjemputmu nanti jam 8 malam'
kata-kata Yoshiki terus terngiang dipikiran Hana. Ini sudah hampir pukul 8 malam. Jam 8 nanti Yoshiki akan menjeputnya untuk apa? Acara pernikahan? Oh ayolah jangan konyol.
Hana hanya mengenakan pakaian bisanya. Memakai kemeja biru dengan jelana jeans putih ditambah sepatu kets hitam.
Tak lama Hana mendengar sebuah deru mobil di depan rumahnya. Yoshiki. Siapa lagi kalau bukan dia? Dengan cepat Hana berlari menuju pintu depan dan menyambut Yoshiki.
Read More ->>

Yami no AI [CHAPTER 16]

Chap 16

Seketika wajah Hana semakin panas mendengar jawaban Yoshiki.
"Sou ka, dengar aku Kuroto! Jika kau menyakiti, melukai, membuat Hana galau atau sedih aku yang akan menghajarmu" ucap Sasano tegas.
"Hn. Percayakan padaku" jawab Yoshiki sebagai janji.
"Hana!!" tiba-tiba Maki berlari menghampiri mereka. Nafasnya ngos-ngosan hebat.
"Maki? Ada apa?" Hana segara menghampiri Maki khawatir.
"Lokermu! Berantakan!"
"Oh. Yasudah tinggal dibereskan" ucap Hana santai.
"Ta-tapi ini kan..."
"Sudah ayo lihat saja"

"Ara? Berengsek? Pelacur? Murahan? Centil? Hefemale?" Hana membaca satu per satu tulisan dari cat semprot, cat minyak, tip-x, tinta, dll di lokernya yang benar-benar berantakan. Beberapa buku yang ada dirobek dan dicoret-coret. Sepatu kats Hana berbau khas air selokan.
"Astaga..." Hana menghela nafas.
"khhh! Siapa disana!?" teriak Sasano emosi mengetahui 'imouto'nya dibully seperti ini.
Drap...drap... Terdengar langkah kaki berlari. Nampaknya si pelaku melarikan diri.
'....' sementara Yoshiki hanya terdiam melihat keadaan loker Hana.
"Maki maaf ya, nanti bisa tolong aku membersihkan ini?" tanya Hana lesu pada Maki.
"Tentu akan kubantu!" jawab Maki yakin.
"Tidak perlu. Maki Hisegawa, Sasano Tokuto bisakah kalian kembali ke lapangan? Ada beberapa hal yang harus kukatakan pada Hana" pinta Yoshiki.
"Apa!? Apa yang akan kaulakukan pada Hana!?" protes Sasano.
"Hn" mata onix Yoshiki berubah menjadi azure merah sebentar dan kembali lagi menjadi onix kelam.
"Wakatta. My Lord" ucap keduanya serentak lalu berbalik arah meninggalkan Yoshiki dan Hana.
Hana sedikit tercengang dengan kelakuan aneh Sasano dan Maki. Namun tak lama kemudian Hana sadar, itu hal biasa bagi Yoshiki.
"Hn. Kau dibully?" selidik Yoshiki memastikan.
"Bisa jadi" jawab Hana hambar. "Ayo bantu aku membersihkan ini"
"Tidak perlu"
"Hah?" Hana segera berbalik menghadap Yoshiki meminta jawaban 'kenapa?'
"Lokermu sudah bersih" ucap Yoshiki dingin lalu berjalan kembali ke lapangan.
Hana berbalik badan dan mendapati lokernya kembali seperti semula. "Heeee??" Hana kaget dan segera mengejar Yoshiki.
"Bagaimana bisa?"
"Control Z. Kira-kira begitu" jawab Yoshiki.
"Undo?"
"Hn"
"Woaaaa keren! Yoshiki keren!"
"Hn" Yoshiki segera berbalik dan mengunci Hana diantara dinding.
"Katakan padaku jika ada apa-apa. Aku akan membunuh semua yang telah melaukan ini padamu jika kau ingin" ucap Yoshiki serius.
"Membunuh? Tidak. Aku yang harusnya membunuh mereka" ucap Hana sarkatis.
"Nee, Yoshiki-chan. Taukah kau aku seorang psikopat?" tanya Hana dengan tersenyum namun aura mencekam terus menguar disekitar Hana.
'chu' tiba-tiba Yoshiki menciumnya tetap di bibir membuat Hana kembali kepada sifat 'tsundere'nya.
"Aku tahu" jawab Yoshiki setelah melepas ciumannya.
"lalu kenapa kau menciumkuu!?" protes Hana.
"Karena aku ingin" jawab Yoshiki santai.
"mo! Dasar kau ini!" rengek Hana dengan wajah memerah.
"Hn. Masalah kau telat di jam olah raga tadi. Apa karena perbuatan mereka juga?" tanya Yoshiki.
Read More ->>

Yami no AI [CHAPTER 15

Chap 15

"Hei baka! Sesuai janji susu kaleng!" Hana mengacak rambut Sasano.
"Hahaha kau mendengarnya?" Sasano memalingkan wajahnya.
"Aku mendengarnya kok." Hana mendekatkan wajah seriusnya pada wajah Sasano.
"Hahaha! Wakatta aku traktir kamu!" Sasano mengacak rambut Hana dan membuat jarak diantara wajah mereka semakin dekat hingga jidat lebar mereka saling bertemu.
"Gomen minna. Sensei ada panggilan mendadak. Kalian sensei bebaskan berolahraga. Namun kalian harus terus bergerak. Ketua kelas tolong catat siapa saja yang kerjaannya diam saja" dan setelah itu Kaname-sensei sudah menuju ruang guru.
"Nah, ayooooo" Hana dengan cekatan menarik Sasano menuju kantin.
Dari belakang Yoshiki mengikuti mereka dengan langkah santai. Namun raut wajah datarnya nampak kaku. Sesampainya di dekat kantin umum, Yoshiki segera merapatkan dirinya pada tembok untuk menguping.
"Aaah! Segarnya!" teriak Hana 'ndeso' setelah meneguk sekaleng susu.
"Aku heran padamu. Apa enaknya susu hambar itu?" tanya Sasano malas. "mana mahal" lanjutnya.
"Pokoknya enak. Kau mau coba?" tawar Hana.
"Tidak." jawab Sasano tegas.
"Atau kau mau minum dari mulutku?" goda Hana.
"Hahaha. Jangan nanti aku dikira Yaoi" Sasano balik menggoda Hana.
"Teme..." Melihat Sasano berjalan pergi Hana segera mengejarnya.
"Kau pacaran dengannya?" tanya Sasano tiba-tiba.
Hana hampir tersedak karena pertanyaan tiba-tiba dari Sasano. "Umm. Bisa jadi" jawab Hana bingung.
"Bisa jadi?" Sasano menaikan alisnya meminta keterangan tambahan.
"Iya" Hana meminum susunya.
"Dasar. Tapi... Kau menyukainya?"
"Suka" jawab Hana polos.
"mencintainya?"
wajah Hana memerah seketika. "aaaa! Kenapa bertanya hal itu?"
"Jawab saja" paksa Sasano.
"Wakaranai" Hana menjawab sambil memeletkan lidahknya.
"Hhh dasar" Sasano menghela nafas.
"Tapi aku suka dimana dia terus memperhatikanku. Jantungku selalu berdegub kencang begitu melihatnya, dan entah kenapa wajahku ikutan memanas. Kadang... Aku juga merasa sakit disini.." Hana menyentuh dadanya, "ketika ia dikerumuni banyak wanita"
"Hee? Artinya kau mencintainya" simpul Sasano begitu saja.
"Eeeeh! Dasar onii-chan!" Hana memukul pundak Sasano pelan.
'Onii-chan?' tanya Yoshiki dalam hati yang sedari tadi menguping.
"Onii-chan? Sudah lama juga kau tidak memanggilku begitu. Sejak naik ke junior high school mungkin" ucap Sasano sambil mengangkat wajahnya.
"Hn. Hana?" tiba-tiba Yoshiki muncul dengan wajah dinginnya seperti biasa.
"Are? Yoshiki-kun?" Tanya Hana melihat kedatangan Yoshiki.
"...." Hana terdiam. Nampaknya otak lemotnya mulai kambuh.
"K-kau... Dari tadi atau b-barusan?" tanya Hana gugup.
"Dari tadi" jawab Yoshiki singkat.
"J-jadi kau mendengarkannya?"
"Hn. Semua"
"Aaaaaaa!!" wajah Hana memerah seketika.
"Dasar tsundere" cibir Sasano.
"Aaaa! Ini gara-gara kamu!" teriak Hana kepada Sasano.
"Hei Kuroto. Kau mencintainya?" tanya Sasano tegas. Cowok berambut ikal itu menatap Yoshiki serius.
"Hn. Aku, sangat mencintainya." jawab Yoshiki.
Read More ->>

Yami no Ai [CHAPTER 14]

Chap 14

'dasar gadis jalang bodoh' pikir Yoshiki meremehkan.
"Ano... Ada apa..? Kuroto-s-san?" tanya Luka menunduk malu.
"Iie" jawab Yoshiki dingin.
"Sudah sudah. Apapun alasannya kau harus dihukum. Kalian harus berlari mengelilingi langapangan ini 3x" ucap Kaname-sensei.
'Gawat! Kalau begini Liver Maki bisa kambuh!' batin Hana kaget.
"Sensei! Saya akan melakukan 3x putaran dengan waktu 2 menit! Asal saya diperbolehkan menggantikan hukuman Maki!" jawab Hana tegas.
Baik Maki, seluruh kelas, sampai Yoshiki tercengang dengan penuturan Hana.
"Woaah! Kau keren Hana!"
"Love you Hana!" racau siswa lelaki yang tidak peduli pada konflik para siswi.
"Kau yakin? Bagaimana kalau kau gagal?" tanya Kaname-sensei.
"Jika saya gagal, saya akan berlari 10x putaran lagi!" jawab Hana yakin.
Semua semakin tercengang.
"Cih cari perhatian!" cibir Luka.
"Hana? Kau yakin?" tanya Maki khawatir.
"Tentu saja. Sana istirahat jaga Livermu. Kau tidak boleh sakit sebelum Aoi-senpai mengetahui perasaanmu" jawab Hana santai.
"Oke siap?" Tanya Kaname-sensei dipinggir garis start menyiapkan stopwatchnya
Hana mengangguk mantap.
'Hn. Dasar...' ucap Yoshiki sambil menatap Hana.
"Priiit!!" peluit ditiupkan oleh Kaname-sensei. Dan dengan segera ditekan tombol mulai pada stopwatchnya.
Sraak... Drap... Drap... Drap... Dengan lincah kaki jenjang Hana melangkah selebar mungkin. Megitari lapangan dengan keliling 100m sebanyak 3x dalam waktu 2 menit mampuhkah dia?

"Dasar sok cari perhatian! Mana mungkin dia bisa mencapai dalam waktu 2 menit. Sasano-kun saja hanya bisa mencapai waktu 2 menit 17 menit!"
"Hana! Hooy! Kalau kau bisa akan kutraktir kau susu kaleng favoritmu!" teriak Sasano.
Dari kejauhan nampaknya Hana semakin mempercepat laju larinya.
Mata onix Yoshiki terus memperhatikan gadis hyperactiv itu berusaha berlari secepat mungkin.
'Hn.' tanpa diduga Yoshiki menggunakan kekuatan telpatinya.
'Are? Yoshiki-kun?' Hana yang mendengar suara pria itu didalam pikirannya bertanya.
'Konstentrasilah. Aku akan menambah kecepatan berlarimu.'
'Tidak! Aku pasti bisa melakukannya sendiri!'
'Ini sudah 1 menit 27 detik. Kau masih kurang 1 putaran lagi'
'....'
'Jadi?'
'Ba-bantu aku'
'Hn. As your wish, My Lady. Konstenrasilah'
'Ryoukai!'
"Heyaaaaa!" dan seketika kecepatan berlari Hana bertambah.
Sedikit lagi. 'garis finish' sudah terlihat.
Semua siswa-siswi kelas 1-4 semakin tegang.
Kaki Hana menginjak 'garis finish' dan dengan segera stopwatch dimatikan.
Klik!
Semua yang ikut menjadi time keeper terdiam.
"Hh... Hah... Hah..." Hana langsung menjatuhkan diri pada lapangan secara terlentang saking lelahnya.
"1 menit 59 detik. Kau berhasil Hana" ucap Kaname-sensei dengan tersenyum. "Mungkin setelah ini aku akan mengikutkanmu lomba lari nasional" candanya.
"SENSEI! Tapi stopwatch kami menunjukan waktu 2 menit lebih 1 detik!" protes Luka.
"Apa aku belum mengajari kalian cara menggunakan stopwatch yang benar? Tekan saat kaki Hana mulai melangkah. Dan tekan lagi saat kaki Hana menginjak atau melewati garis"
Read More ->>

Yami no Ai [CHAPTER 13]

Chap 13

Karena, yeah Hana sama sekali tidak tertarik dengan hal yang bernama "cinta".
Tapi kenapa? Dadanya terasa sesak mendengar suara Yoshiki yang mabuk seperti orang yang terpuruk sangat dalam dengan kesedihan.
"Karena... Aku menyukaimu" jawab Hana ragu.
"Lalu... Gluk..." tanya Yoshiki yang kemudian dilanjutkan meneguk sesuatu.
"Yoshiki! Kau minum lagi? Hentikan!" perintah Hana tegas.
"...." Yoshiki terdiam cukup lama.
"....Sraak..." suara derit kursi yang digeser terdengar. Nampaknya Yoshiki bangkit dari duduknya.
"Kau milikku. Kau hanya boleh menatapku. Kau hanya boleh menyebut namaku. Kau hanya boleh mencintaiku. Kau hanya boleh menyukaiku." racau Yoshiki tanpa henti.
"...." Hana terdiam. Wajahnya memerah panas.
"Wa-wakatta! Sekarang berhentilah minum!" mungkin hanya ini, yang dapat Hana katakan untuk saat ini.
"Hn... Tit. Tuut Tuut." dan telepon ditutup.

Pagi harinya di Mirai no Gakko seluruh siswi digemparkan dengan sebuah kejadian yang luar biasa. Tentu saja kalau bukan idola mereka--Yoshiki Kuroto--menggandeng tangan seorang gadis berdada rata, berambut pendek, tidak stylis, dan hyperactiv.
Beratus tatapan mengarah tepat kepada Hana. Dari ekspresi marah sampai ekspresi meremehkan terus menghujam kedapa Hana.
'Ha ha ha' tawa Hana hambar. 'siapa sangka digandeng Yoshiki di tempat seperti ini bisa membunuhku' batin Hana.
"Hn" nampaknya si idola tidak peduli dan dengan santainya menggandeng--ah mungkin bagi Hana menarik--Hana.
"He? Pasangan baru?" tanya Maki begitu melihat keduanya memasuki kelas dengan Yoshiki tetap menggandeng Hana.
"Ha ha ha" tawa Hana hambar.
"Bisa jadi" jawab Hana hambar.
"Are!? Bagaimana dengan Ryuu-senpai? Dia bahkan sudah mulai pek-"
"Bisa hentikan itu?" sela Yoshiki kemudian kembali menarik Hana untuk duduk di bangku mereka.
"Maaf sensei terlambat. Sekarang buka halaman 74, kita lanjutkan belajar Fluida" ucap Hibiki-sensei yang baru masuk.

Bel pergantian jam pelajaran terdengar. Di kelas X-4 saat ini pergantian menjadi kelas olah raga. Dengan cepat Hana memasuki ruang ganti. Namun ternyata Hana kurang cepat. Pintu ruang ganti sudah tertutup.
"Are? Minna~ aku masuk~ tolong bukakan" Hana mengetuk pintu.
Tiba-tiba pundak Hana terasa ada yang menyentuh. Begitu menoleh ternyata itu adalah Maki.
"Ayo ganti di kamar mandi saja. Akan kutemani." dan begitulah, karena mereka ganti di kamar mandi jadi memakan waktu yang lebih lama untuk tiba di lapangan.

"Hana! Maki! Kenapa kalian telat!?" tanya Kaname-sensei selaku guru olah raga.
"Gomen sensei. Nampaknya saya dikira cowok dan mau mengintip ruang ganti cewek. Jadi saya ganti di toilet."
semua siswi langsung mencibir pelan.
"Alasan sensei! Kami menyuruhnya cepat masuk tapi dia sendiri yang berlari. Mengejar siswa lain mungkin dasar pelacur" ucap Luka santai.
"Luka!" hardik Kaname-senpai.
"Gomennasai sensei. Tidak akan saya ulangi," Luka meminta maaf.
Sementara Yoshiki menatap Luka dengan tatapan dingin. Luka yang ditatap hana memasang wajah memerah.
Read More ->>

Yami no Ai [CHAPTER 12]

Chap 12

"Kau melupakanku?" Yoshiki muncul dari tembok penghalang antara ruang tengah dan pintu masuk.
"Yo-shi-ki?" Hana terbata-bata melihat pria berambut donker itu menatapnya sinis.
"Apa yang kau lakukan?" dengan wajah tanpa dosa Hana melangkah memasuki ruang tengah dan melewati Yoshiki begitu saja.
GREP! DUUK!
Yoshiki menarik lengah Hana dan mengunci badan Hana diantar tembok.
"Eh? Yoshiki-kun!!!" Hana berontak merasa ada yang tidak beres. Sementara badan atletik Yoshiki masih terus menahan.
"Lepas!" rengek Hana.
"DIAM!" teriak Yoshiki tanpa diduga. Suara baritonenya itu sungguh sudah membuah Hana terdiam.
Peluh menetes perlahan pada pipi tan Hana. Baru kali ini Hana mendengar Yoshiki berteriak. Yoshiki nampak marah. Tapi kenapa?
Tiba-tiba Hana merasa geli pada bagian lehernya yang kemudian menjalar pada telinga kirinya.
"Yo-Yoshi..--" Hana menggeliat berusaha meronta.
Geli itu kembali terasa kembali pada bagian leher hingga.. "Akh!" Hana merintih saat Yoshiki membuat bercak kemerahan pada lehernya.
DUK! Kepalan tangan Yoshiki menggebrak tembok dengan keras.
Sambil menggeratkan giginya, Yoshiki melepaskan kunciannya. Membuat Hana merosot dengan wajah kebingungan.
"A-a-a..." lidah Hana keluh.
"Aku benci. Mendengarmu mengucapkan nama pria lain. Apalagi ternyata kau mencintainya" Ucap Yoshiki menunduk.
Hana mendongkakkan kepalanya.
Sebuah flashback ringan mengingatkan Hana bahwa dirinya telah menyebut Ryuu-senpai di depan kelas denga konyolnya seperti biasa tanpa sadar ada Yoshiki, si siswa baru disana.
"Go-gomen" Hana menunduk kebingungan. Digigitnya perlahan bibirnya.
"Hn" Yoshiki keluar dari kediaman Rayumi.

Malam ini hujan turun cukup deras. Nampaknya langit tau perasaan kalut Hana dan mencoba memahaminya dengan menangis.
Hana bingung. Sangat bingung mungkin. Dia, cewek paling tampan se Mirai no Gakko menyukai Ryuu-senpai. Tapi di lain pihak akal tidak sehatnya menyukai Yoshiki yang merupakan bagian dari impian masa lalu konyolnya. Satu pertanyaan. Apa yang harus ia lakukan?
Telepon? Ya benar. Mungkin ini tindakan tepat.
Segera diraihnya handphone lipat miliknya. Jemari tannya dengan tangkas menari dan menekan tombol hijau untuk menelepon.
....
....
Lama. Sampai akhirnya terdengar suara telepon diangkat.
"Halo?" ucap Hana ragu.
"..." tak ada yang menjawab.
"Halo?" ulang Hana.
"...brak...hng...kyuung...gluk...brak..." terdengar suara-suara aneh dari telepon itu.
"...Hentikan My Lord..."
"Halo!?" Hana mengeraskan suaranya.
"Hng?" akhirnya suara pria yang dinantinya terdengar juga.
"Yoshiki-kun?" tanya Hana.
"Braak..." lagi-lagi terdengar suara aneh.
"Hng... Ada.. Apa kau meneleponku berengsek? Bukannya kau mecintai si Ryuu-sialan itu?" ucap sang lawan bicara. Dari nada bicaranya nampak jelas kalau sang lawan bicara sedang mabuk.
"Yoshiki-kun kau mabuk?" tanya Hana kaget.
"Apa pedulimu?" Yoshiki malah bertanya balik.
"..." Hana terdiam. Pikirannya berkecamuk luar biasa. Oh ayolah, ini adalah hal paling hebat dalam hidup Hana.
Read More ->>

Yami no Ai [CHAPTER 11]

Chap 11

Hana mengejar Yoshiki dan menyamakan kecepatan berjalannya.
"Yo-Yo..." Hana kembali berusaha mengawali percakapan.
"Hn" tiba-tiba Yoshiki berhenti. Tangannya merogoh saku celananya dengan cepat. Hana ikut berhenti karena reflek. "Dasar" ucap Yoshiki sambil melap rempah roti pada bibir Hana dengan sapu tangan.
"Are?" Hana semakin memerah saja dibuatnya.
"Yoshiki-san!" teriak Hana melawan malu.
"Hn?" Yoshiki kembali memasukan sapu tangannya pada kantong.
"A-apa maksud telepon kemarin?"
"Hn? Soal melakukan itu?" seringai Yoshiki muncul.
"U-uum..." Hana mengangguk pelan.
"Fufufu. Aku selalu mengawasimu my lady. Hal wajar aku mengetahu semua yang kau lakukan"
"A..ak..." Hana membeku.
"Tak kusangka kau nakal juga. Hmm sejujurnya aku menikmati setiap detik lenguhanmu. Kau membuat hasratku menggil--"
"Jangan katakan kepada siapapun! Onegai!" Hana berojigi.
"Hn. Ada syaratnya"
"A...apa?" Hana shock.
'chu' Yoshiki mengecup bibir Hana pelan. Untung Mirai no Gakko sedang sepi. Jika tidak, mungkin berikutnya Hana akan dihujami tatapan sinis dari para siswi.
Wajah Hana seketika memerah luar biasa.
"Baiklah. Syarat sudah lengkap. Aku tak akan mengatakan kepada siapapun." ucap Yoshiki dengan seringainya.
"Ba-Bakaaaa!" Hana berteriak sejadinya.
"Berisik! Masih pagi tau! Dan lagi... Mimpi apa kau datang pagi? Menunggu Ryuu-senpai?" ucap Maki yang baru datang dengan sedikit menutupi telinga kanannya.
"Ma-Maki! Ryuu-senpai?" Hana memasang wajah bodoh.
"Itu" ucap Maki santai saat melihat seorang senpai tampan lengkap dengan kacamatanya memasuki gerbang sekolah.
"A.... A..." tanpa banyak kata Hana segera berlari sekencang mungkin.
Dilain pihak ternyata sepasang mata onix menatapnya dengan pandangan yang sinis bercampur sedih.

"Hahaha. Coba kau sedikit feminim. Mungkin Ryuu-senpai akan jatuh hati kepadamu"
"Ngomong apa sih Rika?" jawab Hana malas.
"Jangan begitu. Hana walaupun hefemale tetap ada daya tariknya walaupun pettan" ledek Maki.
"Apanya yang pettan!? Mite! Mite!" Hana meremas dadanya sedikit.
"Masih besar punya Yuzu. Hohoho" ledek Naruko.
"Ah tidak. Seberanya milik Hana masih lebih besar dari pada milik Riyuki" tambah Rin.
"Tuh kan!" Hana menyetujui.
"Tapi kau beruntung bisa dekat dengan Kuro-kun. Aku jadi iri" ucap Naruko.
"Ah? Biasa saja. Aku kan bisa kenal dengan siapapun"
"Hahaha. Karena kau seperti itu sih. Aku heran kenapa Kuro-kun tidak ilfeel melihatmu" ejek Maki.
"Urusai! Dasar aku bilangin Kizu-senpai loh"
"Dasar penikung" balas Maki.
"Penikung? Maaf ya. Cintaku pada Ryuu-senpai masih belum hilang. Lagian aku tidak tertarik sama sifat keibuan Ryuu-senpai"
"Hanaaaa" dan begitulah. Maki mengejar Hana. Dan Hana berlari.
'Hn. Masih belum hilang?' tatap Yoshiki dingin.

Pukul 3 sore. Jam pelajaran telah selesai.

"Astaga. Hari yang melelahkan. Dasar Maki" gerutu Hana melepas sepatunya.
"Benar. Hari yang melelahkan." jawab sebuah suara.
"Siapa!?" tanya Hana panik.
Read More ->>

Yami no Ai [CHAPTER 10]

Chap 10
Answer

blush. Wajah Hana semakin memerah padam.
"Kau... Sudah dapat banyak coklat..." bibir Hana keluh.
Yoshiki menaikan dagu Hana dan mengecupnya lembut.
"Eh? Eh?--Heeeee!!!" mungkin Hana bisa pingsan akibat tindakan Yoshiki barusan. Jantungnya berdegub semakin kencang.
"Hn. Aku hanya menginginkanmu. Jadi, aku hanya mengiginkan coklat buatanmu," bisik Yoshiki seksi di telinga Hana.
Bahagia. Senang. Ya kira-kira itu yang di rasakan Hana.
"Ka-kalau begitu makan saja" Hana memalingkan wajah malu.
"Hn. Waktunya pelajaran."

"Doushite My Lord?" tanya seorang wanita berambut emas dan bermata emerald.
"Hn?" ucap Yoshiki dingin.
"Kenapa.... Anda tersenyum sendiri sambil memandang ... Kotak itu?"
"Ini?" Yoshiki menatap lagi kotak itu lalu tersenyum lagi. "Coklat dari wanita yang sangat kucintai"
tiba-tiba sebuah pesan muncul di hp touchscreen Yoshiki.
From: Mine
bagaimana coklatnya? :3

Yoshiki tersenyum dan membalas sms itu.
To: Mine
tidak enak
SEND
From: Mine
hee??? Hounto kah?

Yoshiki menaikan ujung bibirnya dan tersenyum tipis. Diputuskannya untuk tidak membalas sms itu.
Sampai... 15 menit kemudian ponselnya menunjukan sebuah panggilan.
Diangkatnya telpon itu.
"Yoshiki-san?"
"Hn?"
"Tidak enaknya seperti apa?"
"Karena kau tidak menyuapiku makanya rasanya tidak enak"
"Haa?? Kau menggodaku?"
"Hn"
"Hn apanya! Yang jelas dikit!"
"Hn. Apa yg kau lakukan sekarang?"
"Eh... Anno... Mengerjakan tu-tugas..."
"Hn"
"Yo-yoshiki-kun sendiri?"
"Menandatangani beberapa arsip"
"Eh? A-apa aku mengganggu? Kalau begit selamat malam! J-"
"Tidak."
"eh?"
"Aku merindukanmu."
"Heee!!?"
"Sudah malam. Tidurlah. Dan jangan telanjang. Kau boleh melakukan hal itu lagi sambil memanggil namaku seperti kemarin"
"A--" Trek... Tuut tuut...
Dan Hana terdiam di tempatnya. Bagaimana tidak! Nama pria yang selalu ia sebut saat bermasturbasi mengetahui tindakannya. Oh demi apapun! Bagaimana bisa?
Baiklah, baiklah Yoshiki memang seorang raja iblis. Hal mudah mengetahui tindakannya setiap saat. Jadi... Ini salah Hana mutlak karena melakukan hal konyol seperti itu.
"Gyaaaaa! Dia tau! Bagaimana ini!!!?" Hana memukul-mukulkan bantal ke wajahnya.
"Ah tidak! Mungkin maksud Yoshi-kun bukan yang itu! Mungkin yang lain!" Hana berusaha menenangkan dirinya dan berusaha terlelap

Pagi ini Hana berangkat lebih pagi. Tentu saja ada alasannya. Dengan rempah roti masih menempel sedikit pada bibirnya Hana duduk di sebuah kursi di dekat gerbang sekolah. Yoshiki Kuroto. Hana sedang menunggu pria yang telah mengetahui rahasia besarnya.

Ckit. Sebuah mobil Mazda hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Dan itu dia manusia ah tidak, raja iblis yang ditunggu Hana muncul. Entah ada apa, sang raja lebih memilih diantar jemput.
"Hn?" Yoshiki sedikit bingung melihat Hana di depannya. Apalagi wajahnya yang memerah itu.
"A-ano! Mau tanya!" Hana mengacungkan tangannya tinggi-tinggi.
"Hn?" Yoshiki berjalan melewati Hana. Namun dari nada bicaranya, ia memperbolehkan Hana bertanya.
Read More ->>

Yami no Ai [CHAPTER 9]

Chap 9
Valentine

Pagi yg cukup cerah di Mirai no Gakoo. Namun tidak terlalu-ah tidak. Ralat-ini benar-benar tidak tenang. Tentu saja karena pagi ini adalah 14 Februari. Apa lagi kalau bukan hari valentine?

Sebuah Lamborgini putih yang baru saja mengeluarkan makhluk nan sepurna langsung diserbu oleh puluhan gadis.
"Kuro-"
"Kuroto! Terimalah coklatku!"
"Ini untukmu Kuroto-san!"
"Kuroto-san..."
dan begitulah, pria berambut raven itu memang pria sempurna. Tak heran banyak gadis menyukainya.
"Hn," bosan. Pria bermata onix itu memilih sembarangan dari banyak coklat yg berjubel mendekatinya.
Sekali tangkap 5 kotak coklat. Dan jelas tangannya sudah penuh.
"Hn. Yang lain berikan kepada org lain saja." jawab pria itu dingin. Lalu segera menuju kelasnya.
Dan tetap saja. Sang pria sempurna terus dikerumuni coklat-coklat manis.

Hana memasuki kelasnya.
"Oha-" ucapan selamat pagi Hana terhenti begitu melihat bangkunya di penuhi wanita yang ia kenal bahkan sampai yang ia tidak kenal.
Gadis bersafir itu tersenyum miris. 'Bodoh, kalau coklat yg didapat sebanyak itu, apa coklatku akan dimakannya? Ah konyol. Diterima saja belum pasti,' ucap Hana dalam hati miris.
"Permisi~" Namun bukan Hana jika terlalu berlarut-larut dalam kegalauan. Dengan nada bercanda seperti biasa Hana berusaha menyingkirkan para siswi yg memenuhi bangkunya.
"Huh...." Gerutu para siswi yang terganggu dengan kedatangan Hana.
"Jangan makan banyak-banyak coklat Yo-" Hana terdiam "Kuroto-san," Hana lalu berlalu.
'Ck!' decih Yoshiki.

"Hayo! Ngapain disini? Galau gara-gara senpai?" goda Maki begitu menyadari Hana melamun menatap pancuran di tengah taman.
"Ah Maki! Dasar!" muka Hana sedikit memerah.
"Hahaha. Ada apa?"
Hana menggeleng lemah.
"Kau sudah memberi coklat pada Kizu-senpai nih Maki?" Hana mengalihkan pembicaraan. Sekalian mengecoh Maki.
"Ah iya!" dan dengan konyolnya Maki mau-mau saja dibohongi Hana.
Benar. Hari ini Hana ingin sendiri. Melamun rasanya tenang juga.
Tangan Hana yg diselipkan di blaser khas Mirai no Gakoo bergentar sebentar.
"Kalau begitu kuberikan senpai saja..." ucap Hana miris.
"Berikan benda yang ada di kantongmu itu padaku." tiba-tiba sebuah suara baritone familiar terdengar.
Hana segera berbalik dan mendapati sosok Yoshiki menatapnya datar namun dingin.
"Apa?" Hana bingung.
Tanpa banyak kata Yoshiki mendekat Hana. Diangkatnya tangan kanan Hana yg memegang sekotak coklat kecil buatannya pada saku. Sehingga terlihatlah kotak kecil berwarna hijau berisi coklat itu. Dengan sigap dirampasnya kotak itu.
Bibir maskulin menggodanya berusaha mengecup bibir Hana namun tidak jadi. Raut wajahnya berubah kesal namun kembali datar. Ditatapnya safir milik Hana.
"Coklat ini untuk siapa?" tanya Yoshiki tajam.
Blush. Pipi Hana merona merah sekali.
"..." Hana tak menjawab.
"Aku tanya padamu nona. Bisa kau beritahu untuk siapa coklat ini?"
Hana menunduk.
"Ba-baka! Apa pedulimu!?" teriak Hana akhirnya.
"Apa peduliku? Apa aku harus menjadikanmu Hana Kuroto untuk memberimu jawaban?"
Read More ->>

Selasa, 04 Maret 2014

Yami no Ai [CHAPTER 8]

Chapter 8
Go Away

"Siapa kau?" tanya Yamada meledek. Sejujurnya Yamada juga bingung tiba-tiba seorang pria tampan datang menghadapnya dan menyuruhnya menjauh.
"Tidak penting siapa aku. Kau harus menjauh darinya" Yoshiki berjalan mendekati Yamada dan Hana. "Misikin? Tidak punya pacar? Fuh, kau benar-benar manusia sialan!" guman Yoshiki sambil mengeluarkan aura membunuhnya. Yamada semakin ketakutan.
"Bagaimana mungkin dia miskin jika dia seorang pendamping raja iblis? Bagaimana mungkin dia punya pacar jika suaminya seorang raja iblis?" guman Yoshiki saat mendekati Yamada.
"gyaaaaa" Yamada ketakutan dan berlari menjauh.
"Y-Yoshiki?" Hana kebingungan.
"Hn. Kenapa kau mau-mau saja dijadikan seperti itu oleh sahabatmu?" Yoshiki memakai jasnya.
"Karena sayu masih polos. Dan ini pertama kalinya dia kencan! Dia takut akan terjadi sesuatu! Mangkannya dia mengajakku!"
"Hoo, bahkan sampai rela di ejek seperti itu?"
"A-aku gak berpikiran sampai sana..." Hana menunduk.
"Apa maksudmu memanggilku Kuroto-sama tadi?"
"ah?" Hana tercekat lalu menunduk. "Kuroto-sama...--" Yoshiki memotongnya "Apa mak--" Hana memotongnya "Kenapa kau muncul di kehidupanku? Kau adalah imajinasiku. Apa sekarang aku sedang berimajinasi? Tolong sadarkan aku kalau memang begitu." ucap Hana rapuh.
"My Lady," Yoshiki mengangkat dagu Hana dan segera mendaratkan ciumannya.
Hana tersentak. Wajahnya memerah seketika.
"kyaaaa" Hana melepas ciuman itu dan tiba-tiba air mata menetes.
"hweeee" Hana menangis.
"Kau jahat! Aku menyuruhmu membuatku sadar dari imajinasiku ini!"
"Ini bukan imajinasimu. Kau sudah sadar. Aku nyata."
"La-lalu k-kenapa k-kau menciumku?"
"Karena aku mencintaimu."
"......"
"..."
"N-Nani!?"
"Aishiteru... My Lady."
"N-naze?"
"Naze? Kau bertanya alasan aku mencintaimu?"
Hana tak menjawab.
"Cih. Memang cinta membutuhkan alasan? Justru karena beralasan itu tandanya cinta karena alasan. Bahkan iblis sepertiku menganggap cinta yg seperti itu hanyalah omong kosong."
Read More ->>

Senin, 03 Maret 2014

Yami no Ai [CHAPTER 7]

Chapter 7
Kidding

"Yo-shi-ki-san aku sedang tidak bercanda,"
Yoshiki menghentikan aktivitas makannya dan menatap Hana, lalu lanjut makan lagi. Hana sweatdrop.
"Menurutmu?"
Hana sedikit tesentak dengan pertanyaan Yoshiki.
"ka-kata pria tadi kau.... R-Raja I-Iblis...." Akhirnya Hana melontarkan pernyataannya walau dengan gemetar.
"Yes that's rights. I'm king of the demon." Yoshiki menatap Hana dengan mata yg berubah menjadi merah darah berkilat. Yoshiki sengaja mengeluarkan aura membunuh.
'Gluk' Hana menelan ludah.
Yoshiki yg ia kenal adalah raja iblis. Fakta menakutkan bukan? Namun tiba-tiba otaknya merekam sebuah kenangan.
"Fuh... Yokatta...."
"Yokatta?" Yoshiki bingung.
Bibir Hana melengkung tersenyum. "Yokatta... Ternyata Iblis memang ada."
Yoshiki tercengan. "Apa maksudmu?"
"Iie..." Hana menggeleng.
"Hn."
"Ano ne ... K-Kuroto-s-sama aku ada janji menemani Sayu kencan," Hana langsung bangkit dari duduknya dan hendak keluar namun GREP tangannya dicengkram Yoshiki kuat. "Matte! Apa mak-?" "Aku sudah telat! Gomen!" Hana mengibatkan tangannya dan berlari keluar restoran. Kebetulan juga tempat restoran itu hanya berjama 3 blok dari mall tempat ia janjian dengan Sayu.
"Apa maksudnya ini? Dia raja iblis datang ke dunia manusia dan mengajakku makan malam? Konyol," rutuk Hana dalam hati. Tiba-tiba air matanya menetes. "Eh?" Hana segera menyekanya dengan cepat dan menahan supaya tidak ada yg menetes lagi. "Jangan buat aku menyukaimu. Aku bisa terluka karena kau pasti tidak menyukai cewek tomboy dan aneh sepertiku," ucap Hana pelan.
"HANAAAAA~" Suara Sayu terdengar membuat Hana mendongkak dan melihat Sayu melambai. Hana tersenyum dan segera berlari kearah Sayu.
"Wah, jadi ini pacarmu?" Hana menyikut tangan Sayu pelan.
"Haha iyo, kenalkan Toshiki Yamada,"
"Dare ka Sayu?" tanya Yamada pacar Sayu.
"Anata, dare wa Hana desu. Ore no tomodachi,"
"domo."
"domo."
'Ck! Cewek ini bodoh ya? Dia nggak lihat kami sedang kencan!? Sayu juga kenapa sih ajak2 cewek yg gak jelas kelaminny! Cewek tapi tampan, cowok tapi manis. Huh!'
"Saa, hayaku."

Sayu dan Yamada bergandengan tangan mesra didepannya. Mungkin kalau bukan atas nama sahabat dia tak mungkin mau melakukan hal konyol ini. Menjadi pengganggu orang kencan? Tidak! Sejujurnya Hana iri melihat dua orang didepannya. Tapi Hana sadar siapa dirinya. Mungkin bisa menikah nanti suatu keburuntungan, pikirnya.

'Ck! Sial wanita jadi-jadian itu tak kunjung pulang! Aku jadi tak bisa melakukan sesuatu yg rahasia kepada Sayu!"
"Ne Ne! Toko cosplay! Masuk ah!" Sayu berteriak layaknya anak kecil dan segera berlari memasuki toko itu. Hana yg hendak menyusul ditarik oleh Yamada dan di pepetkan ke dinding.
"Hey kau! Cewek gak jadi! Sampai kapan kau mengikuti kami? Kau pasti miskin dan tidak punya pacar kan?" ledek Yamada.
DEG. Hana langsung bingung menjawab apa.
"Menjauh darinya." tiba-tiba sebuah suara yg sangat femiliar bagi Hana terdengar.
"Hah?" Yamada melepaskan Hana dan memasang wajah mengejek pada Yoshiki.
Read More ->>

Yami no Ai [CHAPTER 6]

Chapter 6
Text

Form: unknow number
Hari ini dingin. Pakailah pakaian hangat. Dan jangan keluar dari kamar mandi telanjang.
"Heh?" Hana memiringkan kepala.
"Siapa ini? Dia tau aku sering telanjang waktu selesai mandi. Siapa? Mika? Louise? .... Y-Yoshiki?" dengan wajah memerah Hana membalas sms itu.
To: Unknow Number
Dare?
Send
"Semoga bukan Yoshiki! Semo--" Lantunan In The End kembali terdengar.
From: Unknow Number
Your's
"Hah!? Siapa sih!? GJ deh!" Hana hampir membanting hpnya.
To: Unknow Number
Dare desu ka!?
Send
Form: Unknow Number
Yoshiki Kuroto
"GYAAAA! BENERAN DIA!" Hana semakin menggila.
"Eh, dia sms aku! Yokatta... Bisa lebih mudah menghubingi dia"
To: Yoshiki Kuroto
kau ini -_-
Ngomong2 salinan catatannya sudah selesai nih
Send
Form: Yoshiki Kuroto
Aku kerumahmu. Sekalian ikut aku pergi
To: Yoshiki Kuroto
Hah? Pergi kemana?
Form: Pakai saja pakaian yg layak
"Apa maksudnya yg layak?" Hana sweatdrop.
Akhirnya Hana memutuskan memakai celana jeans hitam dan kaos merah.
Hana segera keluar rumah. Hana memang tidak suka make up. Disaat membuka pintu disana Yoshiki sudah berdiri sambil mengetik sesuatu di hpnya.
"Eh? Hai..." sapa Hana canggung.
"Hn."
"Ini catatannya..."
Yoshiki menerima itu. "Hn. Ayo ikut."
Yoshiki benar-benar tampan hari ini. Rambutnya yang benar-benar stylis. Memakai kemeja putih lengan panjang.
'Dia... Benar-benar tampan...' Batin Hana sambil memasuki mobil Chevorlet putih.
"He? Kau sewa mobil ya?" ucap Hana ceplas-ceplos saat mengetahui mobil yg digunakan Yoshiki selalu berganti-ganti.
"Ini milikku." balas Yoshiki datar lalu melajukan mobil.
"Masa?" tanya Hana tak percaya.
Yoshiki menunjukan kartu pemilik mobil. Dan benar saja disana tertulis nama Yoshiki Kuroto.
"Eh?" 'M-Masa sih? Dia sekaya itu kah?' Hana sedikit menekuk senyumnya.

Mobil Chevorlet itu berhenti di sebuah restoran Rusia.
Restoran itu benar-benar megah.
'wuah... Sugoii... Ini bener-bener bisa buat class fest besok! Pasti Yoshiki membawaku kemari supaya dapet ide.'
Yoshiki menarik tangah Hana dan mendudukannya disebuah kursi. Hana hanya bisa memasang wajah bingung.
"Waitress..." Yoshiki memanggil seorang pelayan.
"Tuan?" Waitress itu membungkung dengan mata terpejam, saat waiterss itu membuka matanya ekspresi sang waiterss langsung berubah. "M...My Lord?"
"Hn. Seperti biasa. Dan nona ini?"
"Eh?" Hana kelabakan.
"Dia juga sama,"
Tak beberapa lama pesanan tiba. Meja itu jadi penuh dengan berbagai hidangan.
"Ara? Y-Yoshiki-kun?" Hana kebingungan.
"Makanlah..."
Dengan sedikit canggung Hana mengambil piring didekatnya yg berisi daging dengan banyak saus. Entah apa namanya dan memakannya.
Entah sengaja atau tidak, Yoshiki tak memperdulikan Hana dan sibuk pada makanannya.
Tak tahan dengan suasana canggung dan rasa penasaran, akhirnya Hana berkata, "Ano ne Yoshiki-kun...?"
"Hn?" Yoshiki mendongkak.
"Boleh bertanya?"
"Nani?"
"Ano ne... K-kau s-siapa?" tanya Hana sedikit takut.
"I'm Yours"
'Oh ya dia juga bilang begitu di sms' Hana sweatdrop.
Read More ->>

Yami no Ai [CHATER 5]

Chapter 5
Emotion

"MATI!" Aura hitam menyekam segera menyebar di area itu. Hana sampai bergidik ketakutan.
"UARGH!!" Pria itu langsung rebah setelah kepalanya dan tubuhnya hampir tak menyambung.
"Hn." mata Azure itu perlahan berubah menjadi Onix.
Yoshiki berbalik. Hana sedikit ketakutan melihat Yoshiki dengan tatapan yg tak seperti biasanya, kedua tangannya terdapat darah.
"Kau berbohong. Ayo kuantar." ucap Yoshiki dingin sambil berlalu.
Dan tanpa tapi segera mengikut Yoshiki dan memasuki mobil Mazda hitam.
'Ganti mobil?' tanya Hana dalam hati.
masih cukup jauh untuk sampai di rumah Hana. Entah apa dipikiran Hana untuk berjalan sejauh itu.
Suasana canggung terus berlanjut. Hana sendiri tidak suka suasnan canggung.
Hana tau ia berbohong. Oleh sebab itu ada rasa takut untuk bicara. Apa lagi setelah melihat adegan tadi. Namun akhirnya Hana angkat bicara, "Tanganmu... Tidak apa?"
"Hn. Sudah sembuh." Yoshiki menunjukan tangannya yg tadi terkena tusukan pisau.
"Eh? K-kok bisa?"
"Hn."
ucapan pria yg tadi hampir membunuhnya terngiang kembali. Raja kegelapan? Raja iblis? Kuroto Yoshiki? Wanitanya? Aku?
'Arghh! Aku kan bego. Mana bisa berpikir sampai sana. Seseorang beritahu aku apa maksudnya ini!!' tanpa sadar Hana menarik-narik rambutnya frustasi.
Yoshiki menyadari itu. Namun ia lebih memilih mendiamkannya.
Ckiit. Mobil Mazda hitam itu telah sampai di depan rumah Hana.
Hana membuka pintu lalu turun. "Ano ne... Arigato Yoshiki-san. Dan... Hontou ni gomenassai telah berbohong."
"Hn."
Dan mobil itu melaju kencang.
"Hh.... Apa dia marah?" Hana menghela nafas dan memasuki rumahnya.

Hana keluar dari kamar mandi dengan telanjang seperti biasa. Tiba-tiba wajahnya memerah mengingat kejadian Yoshiki melihat tubuh telanjangnya. Hana memasuki kamarnya. Dinyalakannya laptopnya dan segera ia buka file kumpulan film pornonya.
'Nhh...' Hana memutar-mutar clitorisnya dengan jari lentiknya.
'Yo-shi-ki... Ah...' sebuah cairan bening mengalir dari vaginanya. Ya, Hana orgasme dengan menyebut nama Yoshiki.

Sebuah seringai terlihat. "Kau benar-benar membuatku terkejut my lady. Dan aku tak sabar segera memilikimu. Ya, hanya milikku."

"Hh... Hh... H..." Hana ngantur nafas dan detak jantungnya. "Yoshiki? Nani? Aku menyebut namanya saat orgasme! Apa-apaan ini!?" seketika itu wajah Hana memerah padam. "Yoshiki... Memang tampan sih. Ya, sangat tampan." Hana berguman sambil berpakaian.
Safir Hana menangkap sebuah map putih. "Oh ya, ini kan salinan catatan untuk Yoshiki. Kalau kuberikan besok bagaimana cara bawanya?" Hana memandang tasnya yang penuh dengan properti Class Fest. "Kalau setelah class Fest... Langsung diadakan ujian besoknya. Yoshiki pasti tak sempat belajar! Harus kuberikan hari ini! Eh... Tapi aku gak ngerti nomor telfon dan rumahnya..." Hana sweatdrop.
Seketika itu lagu In The End milik Linkin Park mengalun. Itu nada dering untuk sms hp Hana. Dengan cekatan Hana membuka sms itu.
Read More ->>

Yami no Ai [CHAPTER 4]

Chapter 4
Jealoused

Yoshiki menyadari wajah Hana memerah. 'Hn. Kenapa?' tanpa sadar kaleng  cola yg sudah habis diminumnya ia remas sampai sedikit penyok.

"Permisi," Masuklah 2 orang senpai tampan. Siapa lagi kalau bukan Kizu-senpai dan Ryuu-senpai.
"Ryuu-senpai dicari Hana~ ceilah... Kizu-senpai dicari Maki~" 1-4 langsung ribut.
"Urusai!" Muka Hana benar-benar merah.
"Ciye... Ryuu-senpai itu loh Han," Hana terus dipanas-panasi.
Dan Hana tidak bisa apa-apa. Dia menahan wajahnya yang benar-benar merah sambil menyimak sosialisasi.
"Arigato Gosaimash" dan duo senpai penyebar keributan itu akhirnya keluar.
"Baka Hana! Kenapa tadi gak minta nmr hpnya Ryuu-senpai sih!" teriak Yuzu.
"Maki juga!" tambah Rika.
"Kalian membuat aku gila tau! Argggh! Sekarang Ryuu-senpai tau aku jadi fans-nya! Akhh!" Hana frustasi dan menjambaki rambutnya.
'Cih' Tak ada yg menyadari. Seorang pemuda sedari tadi mendecih.

"Saa, Minna... Bajunya sudah datang. Arigato ne Mizuki-kun!"
Dan kostum Maid-Butler yg digunakan untuk class Fets dimana kelas mereka mengambil tema Cafe pun dibagikan.
"Ukuranmu L kan Yoshiki-san?" Hana menoyodorkan sebuah pakaian Butler.
"Hn." Yoshiki mengambil baju itu dengan wajah dingin.
"Nn? Doushite Yoshiki-kun?" Tanya Hana bingung dengan perubahan itu.
"Hn. Pulang aku antar."
"Heh? Kok serasa Yoshiki-san supir aku ya? Umm, nanti aku mau beli buku. Aku pulang sendiri saja. Jangan khawatir aku gak akan jalan kok hehe."
"Hn."
Onix itu menatap tajam Hana. Dan Hana tidak menyadarinya.

"Yosh! Akhirnya dapet novel Sherlock Holmes juga!" Hana memandangi novel yg baru saja dibelinya. Sementara kakinya terus menapat di jalan sepi. Ya, Hana bohong kepada Yoshiki.
'Cih!' Si pemilik mata Onix yg kini tengah duduk santai di salah satu atap.
Tiba-tiba Yoshiki merasakan sebuah energi mendekat. 'ini....'
Hana masih terus berjalan. Dia ingin cepat-cepat sampai rumah dan membaca novel barunya.
"MATI KAU!" suara nyaring memekakkan telinga Hana.
"Eh?" Hana menoleh.
CRAT! Cairan merah muncrat.
Safir Hana membulat. Deg. Deg. Deg.
"Kisama!" suara bariton memenuhi jalan sepi itu.
Duakh!
Sebuah tendangan berhasil mementalkan si peneriak-'mati kau'.
"Akhirnya muncul juga... Fufufu.... The king of the darkness. The king of the demons. Kuroto... Yoshiki..." pria yg baru saja terkena tendangan itu bangkit dengan mengusap darah yg keluar dari mulutnya.
"Y-Yoshik..i?" lidah Hana keluh. Ia bingung. Ia takut. Ia khawatir. Melihat tangan Yoshiki yg berdarah.
"Ho... Jadi dia wanitamu? Aku tak yakin kau akan memiliki wanita.... Hh... H... Karena kau adalah IBLIS!" pria itu menembakkan langsung pistol yg disimpannya ke arah Hana.
"Hah?" Hana gemetar.
Namun belum sempat peluru itu mengenai Hana, sebuah kekai berwarna hitam samar muncul.
"Jangan kau sentuh...." suara Yoshiki terdengar marah.
"MILIKKU!" mata onix Yoshiki berubah menjadi azure.
Yoshiki berlari sangat cepat. Sangat cepat sampai tak kasat mata. Yoshiki muncul dengan mencengkram leher pria itu.
Read More ->>

Yami no Ai [CHAPTER 3]

Chapter 3
Introducted

"Hanaaaaa!" Maki mulai berteriak-teriak.
"Nani? Kizu-senpai?" tanya Hana bosan.
Maki mengangguk-angguk semangat. Wajahnya memerah.
"Hah...." Hana menghela nafas.
"Maki serius lah sedikit! Mulai nanti persiapan Fest loh!" ingat Hana.
"Ah, aku sudah merelakan diriku memakai pakaian itu kan?"
"Ya tapi... Ah sudahlah..."
Sreek. Pintu kelas 1-A terbuka.
"Minna-san," wali kelas 1-A, Yumichi-sensei muncul.
Seluruh siswa refleks kembali duduk dengan tenang.
"Nee, dengan kepindahan Shiki kelas ini menjadi kekurangan murid. Namun kali ini akan ada siswa yg melengkapinya. Silahkan..."
Lalu masuklah seorang pemuda.
Berambut raven. Bermata onix. Kulit putih. Tegap. Stylis. Kece. Modis.
Seluruh siswa perempuan langsung bersemu.
"Kyaaaa tampan!!" teriak mereka.
Safir Hana membulat.
'Ku-Kuroto... Yo-Yoshiki...'
"Perkenalkan dirimu," perintah Yumichi-sensei.
"Ha'i. Watashi wa namae wa Kuroto Yoshiki desu," Yoshiki memperkenalkan dirinya dengan wajah datar.
"Apa alasanmu pindah kemari?" tanya sensei.
"Saya sedang mencari seseorang," ucap Yoshiki datar.
"Ah.. Ahaha sou ka..." Sensei nampak bingung.
"Kalau begitu kau boleh duduk di dekat Rayumi-san yg kosong,"
"Hai." Yoshiki segera menuju ke tempat duduk kosong itu.
Safir Hana hanya memandangi Yoshiki tak percaya. Sementara Yoshiki hanya menyunggingkan seringai tipis. Yang membuat seluruh gadis berteriak-teriak.
"Saa, Kalian diberi waktu 2 hari untuk Class Fest. Yumichi-sensei mengucapkan selamat berjuang ya!"
"Ooo!!" jawab murid kelas 1-A semangat.

"Yosh! Minna-san rencana kita udah final. Tinggal kita beli bahan-bahannya. Kita harus bisa mendekorasi ruangan ini menjadi layaknya aula kerajaan eropa yoo!" teriak Hana selaku panitia kreative dengan berapi-api.
"Yooo!" jawab semua siswa berapi-api.

"Hhh..." Hana menghela nafas berat dan menuju bangkunya untuk mengambil botol minumya. Habis. Dia sadar telah meminumnya sampai habis setelah makan siang tadi.
"Hhh..." makin lesu saja Hana nampaknya. Ditambah beban pikiran.
Csss.... Sebuah benda dingin menyentuh pipinya.
"Eh?" Hana kaget.
"Kau haus... Minumlah," Suara itu! Hana segera menoleh untuk mengetahui benar atau tidak siapa yg ada dipikrannya. Benar!
"Ku-Kuroto..-san,"
Mata onix Yoshiki seakan menusuk kedalam safir Hana. Seakan paham maksud Yoshiki, Hana segera mengoreksi kata-katanya.
"Y-Yoshiki-san..."
"Minumlah..."
Hana meraih minuman isotonik itu.
"A-Arigato..." lalu ditengguknya minuman isotonik dingin menyegarkan itu.
"Huwaaa segarnya!" Hana berteriak gj lagi.
Yoshiki sweatdrop ringan. "Ehehe gomen,"
"Hn"
"Ano..ne.. Yoshiki-san. Boleh tanya?"
"Hn. Nani?"
"Aku agak bingung. Atau otakku saja yg terlalu bodoh... Ng... Apa maksud dari mencari seseorang?"
"Hn. Kau penasaran?"
Hana mengangguk.
"Hn. Kau nanti juga akan tahu."
"Hanaaaaa!! Gawat! Gawat!" Maki berlari dan berteriak-teriak gj. Penghancur suasana!
"Ehh... Kenapa?" Hana sweatdrop.
"Kizu-senpai dan Ryuu-senpai! Mereka melakukan sosialisasi per kelas!"
Deg. Wajah Hana memerah.
Read More ->>

Yami no Ai [CHATER 2]

Chapter 2
Interested

'Naze? Tak biasanya aku terangsang semudah ini. Padahal aku hanya melihat payudaranya. Yang menurutku tidak sebesar wanita-wanita yang pernah kurasakan. Dan nampaknya vagina miliknya... Tidak berbulu... Oh Shit!' Miliknya yg dibawah nampaknya semakin menyembul.
'Hn. Menarik. Akan kupastikan kau menjadi milikku, My Lady.'

'gyaaa! Doushite koko ni? Dia melihatku telanjang! Baka Hana! Ukkh! Kenapa aku sampai lupa dia menginap!' Hana terus merutuki kebodohannya ketika tangannya dengan lincah memakai seragam sekolahnya.
Cklek.
Akhirnya wanita bersurai biru tua itu keluar dari kamar mandi. Mukanya masih memerah malu.
Seperti jadwal hariannya, dia menuju dapur, memakai celemek dan mulai menyalakan kompor. Hana memasak.
Tak lama kemudian bunyi sebuah piring digeser memecahkan fokus Yoshiki membaca koran.
"Ano, aku lihat Yoshiki-san sepertinya sangat dewasa dan err... Kaya. Aku membuat telur dadar. Semoga kau menyukainya."
Yoshiki menaruh koran yang dibacanya.
"Hn. Kau memang istri terbaik," akibat tercengang dengan sikap Hana, Yoshiki sedikit keceplosan. Ia sadar kalau ia keceplosan. Namun ia cepat-cepat berwajah datar lagi.
"Eh? Nani?" Hana juga ikut kaget.
"Nandemonai. Ngomong-ngomong saos ini bergambar emoticon wajah memerah kan. Kenapa?"
Deg. 'Gawat! Dia tau!' rutuk Hana.
"Ah, sudah kebiasaan. Hehehe."
"Hn," Yoshiki menyuapkan telur dadar ke mulutnya. Mulutnya mengunyah perlahan. Safir Hana terus memperhtikan. Yoshiki menelan. Keringat menetes di wajah Hana.
'Bagaimana ini? Apa terlalu asin? Terlalu pedas?'
"Enak." lagi, Yoshiki menyuapkan telur dadar itu.
'Fuh... Yokatta'
"Oh ya. Umur Yoshiki-san berapa?"
'3700 tahun...' "15 tahun. Apa aku terlihat tua?"
"Iie... Yoshiki-san tampan," Muka Hana memerah. "Hanya.. Yoshiki-san terlihat dewasa,"
"Hn."
"Dimana sekolah Yoshiki-san?"
"Aku baru pindah kemari."
"Eh, lalu bagaimana caramu pulang nanti?"
"GPS"
"Oh ya..."
"Hn. Bukannya kau harus berangkat sekarang?"
07:10
"gyaaa telat telat!" Hana langsung menggila. Ia mengambil tas dan segala keperluannya.
Setelah Hana keluar kamarnya, "Loh dia sudah pulang ya? Yasudah."
Hana segera mengunci rumahnya. Safirnya menatap jam tangannya. 07:15
"Gyaaaa!" Hana semakin panik dan segera berlari.
"Mau kemana kau?"
sebuah suara yg familiar mengagetkannya.
"Eh?"
"Masuk."
saat Hana menoleh didapatinya sebuah mobil porsche hitam dengan pintu terbuka.
"Eh..eh... De-demo."
"Hayaku."
"Ha..Ha'i" akhirnya Hana masuk juga.
5 menit. Waktu yg dibutuhkan untu menempuh 5 Km.
Sebuah porsche yg awalnya melaju kencang itu akhirnya melambat dan akhirnya berhenti disebuah sekolah elegan.
Pintu terbuka. Hana muncul dengan wajah sedikit ngos-ngosan.
Yoshiki muncul.
"Ano ne... Arigatto Yoshiki-san," Hana membungkuk lalu berlari ke arah sahabat-sahabatnya.
"siapa itu? Pacarmu ya? Haha mustahil," ledek Yuyu.
"Chigau!" Muka Hana memerah samar.
"Hahaha. Ryuu-senpai mau ditaruh mana?" tambah Maki.
"Dihatiku" jawab Hana sambil memeletkan lidah lalu berlari meninggalkan mereka.
Read More ->>

Yami no Ai [CHAPTER 1]

Chapter 1
Investigated

lagi-lagi seringai yg membuat wajah pria itu semakin tampan muncul lagi. Dan selama itupun Hana tak menyadarai sama sekali.
"Hn. Kau tak takut aku 'menyerangmu' saat tidur?" ucap Kuroto dengan nada mengejek.
"Aku akan ganti menyerangmu, aku kanibal loh," jawab Hana dengan muka polos.
"Sou ka... Aku jadi tidak berani menyerangmu kalau begitu."
"Ne, Kuroto--" "Yoshiki." sela Yoshiki.
"Eh, sonna... Kita kan baru berkenalan...,"
'ck!' Yoshiki mendecih pelan.
"Yoshiki. Panggil aku Yoshiki... Hana."
Hana sedikit tercengang. "Hh... Hai Hai..." akhirnya Hana menyetujui. "Saa, oyasumi Ku-" Yoshiki langsung menatap tajam "Eh Yoshiki-san... Aku suka jadi beruang, kalau dingin pingin tidur melulu hehe. Lagian besok harus bangun pagi. Ada event sih," dan Hana sudah berkelut selimut dan tertidur.
Yoshiki kembali menatap badai salju. Tak lama kemudian kakinya melangkah mendekati meja belajar Hana.
'Mirai no Gakoo...'
tangan licah Yoshiki segara mengambil ponsel disakunya dan mengetik sebuah sms.
To: Rangiku
Mirai no Gakoo
Send
tak selang beberapa menit ponselnya menampilkan sebuah sms
Form: Rangiku
Ryoukai My Lord
OK
mata dan tangannya terus menelusuri meja belajar itu.
'Winter Event... Besok...'
Yoshiki mendekati futon. Dia akan tidur? Tidak, ternyata dia mendekati Hana. Dia mendekatkan wajah tampannya ke wajah Hana. Sangat dekat, sampai ia mampu merasakan nafas damai Hana.
'Milikku... Kau milikku...' tiba-tiba suatu hasrat di tubuh Yoshiki muncul. Mata onixnya berubah menjadi merah. Cepat-cepat Yoshiki menahan hasrat itu.
'ukh! Sial... Kau benar-benar nakrotika bagiku My Lady... Hhhh daijobu... Daijobu tak lama lagi, kau akan jadi milikku.'
setelah matanya yg semerah batu azure itu kembali menjadi batu onix menwan ia bangkit dan menjelajaih seluruh seluk beluk rumah Hana. Dengan kamampuan menerawang masa lalu-nya Yoshiki terus menyelidiki seorang Rayumi Hana.
'sou ka...'

pelahan tapi pasti kelopak mata Hana naik dan membuka matanya. Tangannya membantu mengucek matanya.
Dalam keadaan masih ngantuk dia melihat jam weker disampingnya. "gyaaaa! Kelewatan 5 menit! Kenapa gak bunyi sih!?" Hana segera bangkit dengan meloncat.
"Alarm itu berbunyi. Kau saja yang tidak mau bangun," sebuah suara membuat Hana reflek menoleh mencari asal suara.
"Eh... Yoshiki-san..." setelah itu Hana langsung berlari ke kamar mandi.
Hana keluar dari kamar mandi telanjang dengan santai sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Hufft... Untung mandiku tak perlu lama-lama," Hana menghela nafas.
Bola matanya yg seindah lautan menangkap sebuah ah tidak seseorang tengah duduk sambil membaca koran langganan pagi ini.
"Hn?" seseorang itu menatap Hana. Wajah datarnya sempat tercengang, namun kembali menjadi datar.
"aa...aaa..." Wajah Hana menjadi merah. Benar-benar merah.
"Gomen! Hontou ni Gomennasai!" Hana menunduk lalu menutupi tubuhnya dengan handuk dan segera kembali ke kamar mandi. Blam
'Fuh... Shit...' Yoshiki merasakan miliknya mulai mengeras.
Read More ->>

Sabtu, 01 Maret 2014

My Stories : Yami no Ai [CAST/SUMMARY/OPENING]

Hola Hola :v
Sudah lama juga gak posting di blog :v
tralalala
wakatta...
sebagai ganti saya akan menulis sebuah cerita di blog ini :3
hope you Like it :3

CAST:

Kuroto Yoshiki as Demon King (seorang iblis yang datang ke dunia manusia untuk ***sensor :v

Hana Nemiya as **** sensor :v

and many more

SUMMARY:

Seorang raja iblis datang ke dunia manusia demi memiliki suatu hal yang memang harusnya menjadi miliknya. Mampu kah ia mengambil kembali miliknya?

RATED : M (for gore and hard lemon)
GENRE: All Genre

#Wanna See?
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.