Selasa, 18 Maret 2014

Yami no Ai [CHAPTER 11]

Chap 11

Hana mengejar Yoshiki dan menyamakan kecepatan berjalannya.
"Yo-Yo..." Hana kembali berusaha mengawali percakapan.
"Hn" tiba-tiba Yoshiki berhenti. Tangannya merogoh saku celananya dengan cepat. Hana ikut berhenti karena reflek. "Dasar" ucap Yoshiki sambil melap rempah roti pada bibir Hana dengan sapu tangan.
"Are?" Hana semakin memerah saja dibuatnya.
"Yoshiki-san!" teriak Hana melawan malu.
"Hn?" Yoshiki kembali memasukan sapu tangannya pada kantong.
"A-apa maksud telepon kemarin?"
"Hn? Soal melakukan itu?" seringai Yoshiki muncul.
"U-uum..." Hana mengangguk pelan.
"Fufufu. Aku selalu mengawasimu my lady. Hal wajar aku mengetahu semua yang kau lakukan"
"A..ak..." Hana membeku.
"Tak kusangka kau nakal juga. Hmm sejujurnya aku menikmati setiap detik lenguhanmu. Kau membuat hasratku menggil--"
"Jangan katakan kepada siapapun! Onegai!" Hana berojigi.
"Hn. Ada syaratnya"
"A...apa?" Hana shock.
'chu' Yoshiki mengecup bibir Hana pelan. Untung Mirai no Gakko sedang sepi. Jika tidak, mungkin berikutnya Hana akan dihujami tatapan sinis dari para siswi.
Wajah Hana seketika memerah luar biasa.
"Baiklah. Syarat sudah lengkap. Aku tak akan mengatakan kepada siapapun." ucap Yoshiki dengan seringainya.
"Ba-Bakaaaa!" Hana berteriak sejadinya.
"Berisik! Masih pagi tau! Dan lagi... Mimpi apa kau datang pagi? Menunggu Ryuu-senpai?" ucap Maki yang baru datang dengan sedikit menutupi telinga kanannya.
"Ma-Maki! Ryuu-senpai?" Hana memasang wajah bodoh.
"Itu" ucap Maki santai saat melihat seorang senpai tampan lengkap dengan kacamatanya memasuki gerbang sekolah.
"A.... A..." tanpa banyak kata Hana segera berlari sekencang mungkin.
Dilain pihak ternyata sepasang mata onix menatapnya dengan pandangan yang sinis bercampur sedih.

"Hahaha. Coba kau sedikit feminim. Mungkin Ryuu-senpai akan jatuh hati kepadamu"
"Ngomong apa sih Rika?" jawab Hana malas.
"Jangan begitu. Hana walaupun hefemale tetap ada daya tariknya walaupun pettan" ledek Maki.
"Apanya yang pettan!? Mite! Mite!" Hana meremas dadanya sedikit.
"Masih besar punya Yuzu. Hohoho" ledek Naruko.
"Ah tidak. Seberanya milik Hana masih lebih besar dari pada milik Riyuki" tambah Rin.
"Tuh kan!" Hana menyetujui.
"Tapi kau beruntung bisa dekat dengan Kuro-kun. Aku jadi iri" ucap Naruko.
"Ah? Biasa saja. Aku kan bisa kenal dengan siapapun"
"Hahaha. Karena kau seperti itu sih. Aku heran kenapa Kuro-kun tidak ilfeel melihatmu" ejek Maki.
"Urusai! Dasar aku bilangin Kizu-senpai loh"
"Dasar penikung" balas Maki.
"Penikung? Maaf ya. Cintaku pada Ryuu-senpai masih belum hilang. Lagian aku tidak tertarik sama sifat keibuan Ryuu-senpai"
"Hanaaaa" dan begitulah. Maki mengejar Hana. Dan Hana berlari.
'Hn. Masih belum hilang?' tatap Yoshiki dingin.

Pukul 3 sore. Jam pelajaran telah selesai.

"Astaga. Hari yang melelahkan. Dasar Maki" gerutu Hana melepas sepatunya.
"Benar. Hari yang melelahkan." jawab sebuah suara.
"Siapa!?" tanya Hana panik.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.