Chap 9
Valentine
Pagi yg cukup cerah di Mirai no Gakoo. Namun tidak terlalu-ah tidak. Ralat-ini benar-benar tidak tenang. Tentu saja karena pagi ini adalah 14 Februari. Apa lagi kalau bukan hari valentine?
Sebuah Lamborgini putih yang baru saja mengeluarkan makhluk nan sepurna langsung diserbu oleh puluhan gadis.
"Kuro-"
"Kuroto! Terimalah coklatku!"
"Ini untukmu Kuroto-san!"
"Kuroto-san..."
dan begitulah, pria berambut raven itu memang pria sempurna. Tak heran banyak gadis menyukainya.
"Hn," bosan. Pria bermata onix itu memilih sembarangan dari banyak coklat yg berjubel mendekatinya.
Sekali tangkap 5 kotak coklat. Dan jelas tangannya sudah penuh.
"Hn. Yang lain berikan kepada org lain saja." jawab pria itu dingin. Lalu segera menuju kelasnya.
Dan tetap saja. Sang pria sempurna terus dikerumuni coklat-coklat manis.
Hana memasuki kelasnya.
"Oha-" ucapan selamat pagi Hana terhenti begitu melihat bangkunya di penuhi wanita yang ia kenal bahkan sampai yang ia tidak kenal.
Gadis bersafir itu tersenyum miris. 'Bodoh, kalau coklat yg didapat sebanyak itu, apa coklatku akan dimakannya? Ah konyol. Diterima saja belum pasti,' ucap Hana dalam hati miris.
"Permisi~" Namun bukan Hana jika terlalu berlarut-larut dalam kegalauan. Dengan nada bercanda seperti biasa Hana berusaha menyingkirkan para siswi yg memenuhi bangkunya.
"Huh...." Gerutu para siswi yang terganggu dengan kedatangan Hana.
"Jangan makan banyak-banyak coklat Yo-" Hana terdiam "Kuroto-san," Hana lalu berlalu.
'Ck!' decih Yoshiki.
"Hayo! Ngapain disini? Galau gara-gara senpai?" goda Maki begitu menyadari Hana melamun menatap pancuran di tengah taman.
"Ah Maki! Dasar!" muka Hana sedikit memerah.
"Hahaha. Ada apa?"
Hana menggeleng lemah.
"Kau sudah memberi coklat pada Kizu-senpai nih Maki?" Hana mengalihkan pembicaraan. Sekalian mengecoh Maki.
"Ah iya!" dan dengan konyolnya Maki mau-mau saja dibohongi Hana.
Benar. Hari ini Hana ingin sendiri. Melamun rasanya tenang juga.
Tangan Hana yg diselipkan di blaser khas Mirai no Gakoo bergentar sebentar.
"Kalau begitu kuberikan senpai saja..." ucap Hana miris.
"Berikan benda yang ada di kantongmu itu padaku." tiba-tiba sebuah suara baritone familiar terdengar.
Hana segera berbalik dan mendapati sosok Yoshiki menatapnya datar namun dingin.
"Apa?" Hana bingung.
Tanpa banyak kata Yoshiki mendekat Hana. Diangkatnya tangan kanan Hana yg memegang sekotak coklat kecil buatannya pada saku. Sehingga terlihatlah kotak kecil berwarna hijau berisi coklat itu. Dengan sigap dirampasnya kotak itu.
Bibir maskulin menggodanya berusaha mengecup bibir Hana namun tidak jadi. Raut wajahnya berubah kesal namun kembali datar. Ditatapnya safir milik Hana.
"Coklat ini untuk siapa?" tanya Yoshiki tajam.
Blush. Pipi Hana merona merah sekali.
"..." Hana tak menjawab.
"Aku tanya padamu nona. Bisa kau beritahu untuk siapa coklat ini?"
Hana menunduk.
"Ba-baka! Apa pedulimu!?" teriak Hana akhirnya.
"Apa peduliku? Apa aku harus menjadikanmu Hana Kuroto untuk memberimu jawaban?"
Selasa, 18 Maret 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar