Selasa, 18 Maret 2014

Yami no Ai [CHAPTER 12]

Chap 12

"Kau melupakanku?" Yoshiki muncul dari tembok penghalang antara ruang tengah dan pintu masuk.
"Yo-shi-ki?" Hana terbata-bata melihat pria berambut donker itu menatapnya sinis.
"Apa yang kau lakukan?" dengan wajah tanpa dosa Hana melangkah memasuki ruang tengah dan melewati Yoshiki begitu saja.
GREP! DUUK!
Yoshiki menarik lengah Hana dan mengunci badan Hana diantar tembok.
"Eh? Yoshiki-kun!!!" Hana berontak merasa ada yang tidak beres. Sementara badan atletik Yoshiki masih terus menahan.
"Lepas!" rengek Hana.
"DIAM!" teriak Yoshiki tanpa diduga. Suara baritonenya itu sungguh sudah membuah Hana terdiam.
Peluh menetes perlahan pada pipi tan Hana. Baru kali ini Hana mendengar Yoshiki berteriak. Yoshiki nampak marah. Tapi kenapa?
Tiba-tiba Hana merasa geli pada bagian lehernya yang kemudian menjalar pada telinga kirinya.
"Yo-Yoshi..--" Hana menggeliat berusaha meronta.
Geli itu kembali terasa kembali pada bagian leher hingga.. "Akh!" Hana merintih saat Yoshiki membuat bercak kemerahan pada lehernya.
DUK! Kepalan tangan Yoshiki menggebrak tembok dengan keras.
Sambil menggeratkan giginya, Yoshiki melepaskan kunciannya. Membuat Hana merosot dengan wajah kebingungan.
"A-a-a..." lidah Hana keluh.
"Aku benci. Mendengarmu mengucapkan nama pria lain. Apalagi ternyata kau mencintainya" Ucap Yoshiki menunduk.
Hana mendongkakkan kepalanya.
Sebuah flashback ringan mengingatkan Hana bahwa dirinya telah menyebut Ryuu-senpai di depan kelas denga konyolnya seperti biasa tanpa sadar ada Yoshiki, si siswa baru disana.
"Go-gomen" Hana menunduk kebingungan. Digigitnya perlahan bibirnya.
"Hn" Yoshiki keluar dari kediaman Rayumi.

Malam ini hujan turun cukup deras. Nampaknya langit tau perasaan kalut Hana dan mencoba memahaminya dengan menangis.
Hana bingung. Sangat bingung mungkin. Dia, cewek paling tampan se Mirai no Gakko menyukai Ryuu-senpai. Tapi di lain pihak akal tidak sehatnya menyukai Yoshiki yang merupakan bagian dari impian masa lalu konyolnya. Satu pertanyaan. Apa yang harus ia lakukan?
Telepon? Ya benar. Mungkin ini tindakan tepat.
Segera diraihnya handphone lipat miliknya. Jemari tannya dengan tangkas menari dan menekan tombol hijau untuk menelepon.
....
....
Lama. Sampai akhirnya terdengar suara telepon diangkat.
"Halo?" ucap Hana ragu.
"..." tak ada yang menjawab.
"Halo?" ulang Hana.
"...brak...hng...kyuung...gluk...brak..." terdengar suara-suara aneh dari telepon itu.
"...Hentikan My Lord..."
"Halo!?" Hana mengeraskan suaranya.
"Hng?" akhirnya suara pria yang dinantinya terdengar juga.
"Yoshiki-kun?" tanya Hana.
"Braak..." lagi-lagi terdengar suara aneh.
"Hng... Ada.. Apa kau meneleponku berengsek? Bukannya kau mecintai si Ryuu-sialan itu?" ucap sang lawan bicara. Dari nada bicaranya nampak jelas kalau sang lawan bicara sedang mabuk.
"Yoshiki-kun kau mabuk?" tanya Hana kaget.
"Apa pedulimu?" Yoshiki malah bertanya balik.
"..." Hana terdiam. Pikirannya berkecamuk luar biasa. Oh ayolah, ini adalah hal paling hebat dalam hidup Hana.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.