Jumat, 25 Desember 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 56]

 CHAPTER 56: WHEN YOU ARE GONE

Sesuai apa yang dikatakan F-772, mereka tiba di sebuah apartemen sederhana setelah 20 menit perjalanan. Sementara Keigo sibuk mengeluarkan semua barang bawaan dari bagai mobil, Hana masih asyik mengusap kedua matanya dan menguap puas.

“Tidurmu nyenyak?” Keigo berjalan di samping Hana menaiki tangga menuju apartemen mereka.

“Maaf meninggalkan Keigo-kun tidur tadi.”

“Tidak apa-apa,” Keigo sudah boleh lega sekarang. Hana yang seharian penuh di dalam pesawat jarang memejamkan mata akhirnya benar-benar tertidur pulas, “kamu boleh menlanjutkan tidur lagi setelah beres menata barang.”

“Silahkan. Ini kamar apartemen kalian mulai sekarang,” F-772 sudah berada di depan pintu begitu keduanya tiba.

“Terima kasih,” Keigo menundukkan kepalanya.

F-772 tersenyum tipis, “ini notes berisi paduan singkat. Seperti dimana kamu bisa berbelanja beberapa kebutuhan, ah kontakku juga ada di sana jika kalian menemui masalah.”


.


“Huwaaa akhirnya selesai!” Hana menghempaskan tubuhnya pada lantai begitu selesai menata pakaiannya sendiri di dalam lemari.

“Kau lelah?” Dari balik ruangan Keigo mengintip dengan membawa dua cangkir beraroma manis.

“Sangat, seperti jantung dan tubuhku tidak pernah dipaksa bekerja berat,” Hana bangkit dalam satu sentakan, “aku semakin tua saja.”

“Haha, kamu kan masih dua puluh tahun. Jangan berlagak seperti nenek-nenek. Bahkan nenek-nenek jauh lebih energik disbanding denganmu,” Keigo menyodorkan segelas madu hangat.

“Kamu lihat ada nenek-nenek energik di mana memangnya?”

“Ya… pokoknya ada,” Keigo menjawab sembarangan.

Hana menyesap madunya perlahan, “heuuuum ini enak sekali untuk otot-ototku.”

“Hahaha, oke aku setuju kamu semakin tua, enak ya nek madu hangatnya?”

“Keigo-kun!!!”


.


Jeritan menggema di seluruh mansion kala itu. Teriakan demi teriakan yang memilukan seolah menahan seluruh penghuni mansion untuk menjalankan tugas. Lagipula sekarang siapa yang tidak akan merindung dan ketakutukan begitu mendengar tangisan pilu penyiksaan?

Benar, seluruh tim intelejen yang ditugaskan telah gagal mencari penerbangan pelarian Hana dalam satu malam. Yoshiki tidak pernah main-main dengan perkataannya juga. Eksekusi harus dilakukan bagi seluruh pembangkang yang gagal.

“Tidak My Lord, My Lord ampuni kami. Kami akan berusaha sebaik mungkin setelah ini. Kami akan menemukan My Lady sesegera mungkin,” tangisan penuh rintihan dan isakan itu keluar dari bibir yang sudah tidak berbentuk dari salah satu personil.

“Tentu saja kau harus menemukannya sesegera mungkin,” Yoshiki menjawab malas. Ia hanya duduk memandangi para agennya menderita secara fisik.

“Masukkan,” gumanan dingin itu seolah menjadi mimpi buruk bagi para agen.

“ARGGGHHHH!!!” Teriakan pilu kembali menggema setelah kepala para agen itu dimasukkan ke dalam air sulfat pekat. Wajah mereka yang hampir tidak berbentuk itu kembali meleleh oleh karena asam kuat, membuat warna asam pekat yang awalnya hanya kekuningan pucat itu menjadi air darah.

“My Lord, My Lord, kami mohon belas kasihan anda,” kembali salah satu personil memohon maaf di tengah rintihannya. 

Iblis tidak bisa mati seperti manusia. Mati yang digambarkan di mana jiwa meninggalkan tubuh jasmani tidak bisa terjadi pada iblis yang bahkan jiwanya tidak akan bisa diterima di alam berikutnya. Jiwa mereka akan terus tertanam pada tubuh jasmani sementara tubuh jasmani mereka disiksa sedemikian rupa. 

Padangan Yoshiki masihlah datar menghadapi rintihan permohonan maaf para agennya, wajah mereka yang sempat hancur oleh asam pekat perlahan kembali tumbuh beregenerasi, namun sayangnya sebelum regenerasi selesai Yoshiki sudah memberi aba-aba bagi para eksekutor untuk kembali menenggelamkan kepala para agennya pada asam pekat.

“Karena kalian tidak berhasil menemukannya, ini seperti memberi kesempatan pada si sialan itu untuk bersama milikku. Dan kalian tau betapa tersiksanya aku membayangkan hal itu? Maka aku membagi rasa sakit itu kepada kalian.”

“My Lo—arggghhh!!!”

Pekikan memilukan itu terus terjadi sampai kurun waktu lebih dari dua jam. Hingga akhirnya sang penguasa bangkit dari duduknya, “satu minggu, jika kalian gagal menemukannya lagi, berikutnya kalian tidak akan bisa berteriak sama sekali,” ujar Yoshiki dengan pandangan dinginnya.


.


Dua hari sejak kepindahan keduanya di negara kangguru. Sebenarnya yang menjadi penghalang terbesar bagi Hana untuk menikmati negara ini adalah bahasanya. Kemampuan berbahasa Inggris Hana tidaklah buruk, namun ia hanya kesusahan dalam mengucapkannya untuk berinteraksi secara langsung.

“Aku mendapatkan email pemberitahuan untuk interview besok siang,” Keigo tiba-tiba berucap setelah menyesap sodanya.

Udara pagi itu cukup bersahabat untuk keduanya melakukan jogging dan berhenti sejenak di sebuah taman dekat danau.

“Woah keren sekali Keigo-kun! Keigo-kun melamar apa?”

“Aku melamarmu,” walaupun berusaha membuat wajah yang serius, namun pria yang tidak bisa berhenti tersenyum dengan manis itu tetap tidak bisa menahan senyumnya saat menggoda Hana.

Namun candaan itu memberikan dampak tersendiri bagi Hana, wajahnya memerah bagai kepiting rebus.

Melihat itu Keigo mendadak merasa canggung, wajahnya ikut memerah karena kebodohannya sendiri.

“Hahahahaha!!!” Namun ia menutupinya dengan tawa canggung, “aku melamar di sebuah Lembaga les privat. Mereka tidak memiliki guru bahasa Jepang. Well…”

“Dasar Keigo-kun bodoh!” Hana meninju lengan pria itu dengan kesal.

“Haha, dukung aku dong,” Keigo masih sibuk tertawa.

Hana tersenyum menanggapi, “tentu. Akan kudukung untuk seterusnya.”


.


Bunyi tak nyaring timbul ketika layar macbook tertutup. Disusul dengan sebuah helaan nafas berat.

Kuroto Yoshiki memijat pelipisnya sejenak. Ia lelah. Jam dinding sudah menunjukkan waktu pukul tujuh pagi. 

Tubuh kakunya perlahan bangkit dari kursi yang sudah ia duduki sejak lebih dari delapan jam yang lalu tanpa tidur.

Setelah melakuakan peregangan dan sedikit mengacak rambutnya, sesuatu bergetar entah dari mana. Membuatnya menghelakan nafas berat dengan malas.

Meja yang penuh dengan tumpukkan kertas itu ia acak-acak guna menemukan sumber penghasil getaran itu. Ponselnya. Begitu ia mendapati benda persegi panjang itu, sudah ada beberapa panggilan tidak terjawab di sana.

Ia menelepon balik, “ada apa?”

Wajahnya benar-benar kusut, “tidak, izin resmi dari Kementrian Luar Negri dan Kedaulatan Norwegia sudah didapatkan.”

Kedua matanya sedikit memincing begitu merasakan cahaya matahari yang menerobos masuk melalui sela-sela gordennya, “kalau begitu aku akan tiba di kantor dalam tiga puluh menit, siapkan berkasnya.”

Begitu mengakhiri panggilan, jari pria itu bergerak memeriksa jajaran notifikasi penting lainnya, hingga akhirnya ia membersihkan seluruh notifikasi yang ada. Menyisahkan homescreen kosongnya. Membuat tangannya tergelitik usil membuka gallery. Tentu saja dalam sekali tekan semua foto yang paling mendominasinya seketika menjadi fokusnya, apalagi kalau bukan foto-foto random yang diambil oleh istrinya.

Dengan alasan seperti ‘wah kameranya keren’ istrinya itu berkali-kali mengambil foto dirinya jika moodnya sedang baik. Dari foto yang menunjukkan sisi timboy hingga girly sang istri, seolah ponsel Yoshiki menyimpan itu semua. Beberapa foto dirinya yang dipotret diam-diam pun tersemat. 

Seperti halnya sebuah foto dimana ia nampak sibuk bekerja. Foto ini diambil ketika sang istri tengah bosan menunggunya selesai bekerja.

“Lihat ini…. Yoshiki-kun sedang bekerja…. Hmmm…. Padahal cuman bekerja, tapi masih tetap tampan. Hmmm….” Hana memainkan fungsi zoom pada kamera ponsel Yoshiki, dan mengambil beberapa foto acak yang mana menurut dia menunjukkan pose unik suaminya.

Tanpa sadar ujung bibir yang sedari tadi nampak kaku itu mulai tertarik ke atas. Pandangannya melembut.

Ia menekan fungsi kunci pada ponselnya, menggelapkan seluruh tampilan layarnya.

Sedikit hembusan nafas, Yoshiki melangkah meninggalkan ruang kerjanya.


.


“Aku pulang,” Keigo muncul dari balik pintu.

“Selamat datang,” Hana menyahuti dari arah dapur. Beberapa suara logam alat masak pun terdengar menyusul.

“Hooo apa yang kau buat? Ini masih pukul 5 loh. Bukankah masih terlalu dini untuk makan malam? Atau kau sudah lapar saja? Dasar jagoan makan,” Keigo meletakkan mantel dan tasnya pada kursi.

Dengan wajah yang setengah memerah dan tangannya yang sibuk memoleskan bawang pada suatu daging ia menjawab, “aku membeli daging dengan diskon 70% tadi, dan kualitasnya bagus untuk dibuat steak. Aku berencana membuat pesta kecil-kecilan untuk merayakan interview-mu.”

“Hooo…. Bagaimana kamu bisa dapat diskon sebesar itu?” Sekarang Keigo sudah berhenti di depan daging yang sedang Hana rendam dengan tumpukkan bawang.

“Aku hanya datang ke minimarket yang ada dalam list yang diberikan exorcist kemarin, sebenarnya aku juga tidak terpikirkan untuk membuat pesat kecil-kecilan, lalu ketika aku melihat ibu-ibu berebutan aku jadi penasaran, ternyata mereka merebutkan daging ini. Langsung saja aku melesat ke dalam kerumunan itu,” ucap Hana penuh percaya diri.

“Haha… melesat bagaimana?” Keigo tertawa renyah.

“Orang Australia kan sedikit lebih tinggi daripada orang Jepang sepertiku, jadi aku bisa masuk disela-sela tubuh mereka.”

Keigo semakin tidak bisa menahan tawanya, “tidak semua orang Jepang sekecil kamu loh.”

Wajah Hana kembali memerah, kesal, “aku tidak kecil! Mereka saja yang sebesar titan!”

Keigo terbahak-bahak.

“Sana mandi dulu! Kamu bau!” Gerutu Hana kesal.

“Eh? Benarkah?” Keigo mulai mengendus permukaan pakaiannya, “bagaimana aku bisa bau? Aku hanya duduk saat interview, tidak berkeringat sama sekali—” namun klimatnya berhenti saat ia memiliki ide untuk mengisengi Hana, “kalau begitu, rasakan ini, kamu juga jadi bau!” Keigo memeluk Hana dari belakang tiba-tiba.

Tentu saja, wajah Hana akan memerah dan ia akan berteriak, “KEIGO-KUN BODOH!!!”


.


Yoshiki melangkah keluar dari lift sebuah gedung dengan percaya diri. Ia baru saja mendapat persetujuan penting dari seorang senat negara lain. Dengan begini, proyek yang ia sponsori lintas negara akan memberikan pundi-pundi keuntungan secara gila-gilaan padanya.

Begitu tiba pada aera parkir, ia mengeluarkan kontak mobilnya untuk membuka kuncinya. Memasuki mobilnya dan meregangkan dasi yang seolah menjerat lehernya.

Perasaan bagus mengalir pada seluruh tubuh pria itu, sedikit perayaan untuk memulai awal yang bagus sepertinya tidak buruk? Benar juga, seingatnya ia pernah menimkati yakiniku kualitas terbaik bersama koleganya. Hana sangat menyukai makanan penuh protein itu. Oleh sebab itu ia mengeluarkan ponselnya tanpa ragu, hendak mengabari sang istri untuk segera bersiap-siap sebelum ia menjemput—Ia terdiam menatap ponselnya.

“Sial,” Ia mengumpat cepat.

Ia bahkan lupa jika sang istri telah pergi meninggalkannya dan keberadaanya tak diketahui di mana.

Benda persegi panjang itu ia lemparkan sembarangan pada kursi di sampingnya, semenatara kepalanya bersandar pada jok dengan lemas, pandangannya menjadi kosong.


.


“Enak enak! Ini enak! Hana sejak kapan jago memasak?” Keigo tak bisa berhenti memuji rasa masakan Hana setiap kali ia memasukkan sepotong daging pada mulutnya.

“Ho ho ho! Diam-diam aku suka menyusup ke dapur saat semua koki tengah menyiapkan makan malam!” Hana dengan ponggahnya berujar.

“Begitu ya!” Keigo masih asyik melahap hidangannya.

Sayangnya akibat kalimatnya sendiri, Hana menjadi kurang nyaman dengan masakannya. Kepalanya sekarang penuh dengan, ‘apa yang dilakukan Yoshiki-kun sekarang?’, ‘bagaimana kabar Yoshiki-kun sekarang?’ dan beberapa perasaan bersalah karena meninggalkan pria itu.

“Kamu baik-baik saja? Tiba-tiba melamun?” Keigo yang menyadari keadaan Hana, ikut berhenti mengunyah makanannya.

“Eh? Ah! Tidak apa-apa kok, ayo dimakan yang banyak Keigo-kun!” Hana meletakkan telur mata sapi pada nasi Keigo.

Keigo mengulas senyum, sebelum kembali melahap hidangannya dengan puas.

“Bagaimana tadi interview-nya?” Hana kembali menyuapkan nasi pada mulutnya.

“Menyenangkan. Mereka memang sangat membutuhkan tentor orang Jepang. Malahan kita membicarakan keseharian di Jepang bagaimana, haha.”

“Apa mereka tau jika Keigo-kun juga mantan dosen?”

Keigo mengangguk sembari mengunyah, “ada dalam CV ku, mereka menanyakan mengapa aku keluar, aku mengatakan butuh suasana lain untuk melepaskan diri dari kejenuhan.”

“Lalu-lalu, kapan Keigo-kun akan mulai bekerja?”

“Besok. Karena tentor bahasa Jepang hanya aku di sana, sepertinya aku akan mendapat full timer.”

“Wooow, selamat Keigo-kun!”

Keigo meraih segelas jus jeruk dan meneguknya, “tapi dengan begitu waktuku bersamamu akan berkurang.”

“Ih, ya tidak masalah, aku kan bukan anak kecil,” Hana menekuk dahinya.

“Eh? Bukan?” Keigo bertanya polos.

“KEIGO-KUN!!!!”


.


Yoshiki hanya memutar gelas anggurnya. Menatap cairan pekat di dalamnya bergoyang perlahan mengikuti gravitasi.

Pandangannya datar dan kosong entah menatap kemana.

Para koki kelas atas berkali-kali menyajikan beberapa lembar yakiniku yang telah dimasak dengan sempura. Namun daging-daging berkualitas tinggi itu hanya teronggok di piring sang raja hingga dingin.

“My Lady….” Mulutnya berguman datar.

Sepertinya ia akan menyanyakan kewarasan dirinya setiap kepalanya membuat halusinasi adanya sosok Hana yang duduk di sampingnya. Sosok itu tertawa lepas sembari melemparkan banyolan gelap kesukaannya dan memukul-mukul ringan tubuhnya tergelak.

Tak bisa Yoshiki pungkiri. Hana adalah pendengar yang baik. Ia akan mendengar setiap ceritanya walaupun Ia sendiri tidak yakin apakah Hana memahami ceritanya. Walaupun kadang perempuan itu akan menyergah kalimat yang tidak sesuai dengan pendapatnya.

‘Apa? Yoshiki-kun merindukanku?’ Sosok itu duduk di hadapannya dengan seyum lima jarinya.

“Ya… aku merindukanmu…”

‘Aku juga merindukan Yoshiki-kun!” Senyum sosok itu semakin melebar, ‘mau bagaimana lagi? Yoshiki-kun memang sibuk bukan? Oh! Bagaimana hari Yoshiki-kun?’

Pria itu berguman sendirian menceritakan harinya kepada angin.

.

Hari terakhir di satu minggu janji seluruh agen untuk menemukan sang ratu. Mereka tidak ingin merasakan kengerian yang sama kembali mereka rasakan jika gagal menemukan sang ratu, atau mungkin hal yang lebih buruk akan terjadi?

Mereka tidak mau. Ditekan rasa takut mereka terus bergerak mengusahakan segala hal.

Mencari CCTV dari segala penjuru bandara adalah hal utama yang mereka lakukan.

“Cek Beijing Capital International Airport pukul 9 pagi. Gate 3.”

“Cocokkan dengan seluruh data yang ada pada CCTV keberangkatan dari Paris.”

“Tolong konfirmasi subyek yang ditemukan di bandara Schiphol. Dia mengenakan topi putih dan tas yang sama.”

“Perempuan itu mempunyai garis muka yang berbeda dengan My Lady. Tidak mungkin. Identitasnya juga sudah dipastikan. Dia benar-benar mahasiswa yang tinggal di Paris dan berlibur di Belanda.”

“Bagaimana dengan laki-laki berambut ikal yang keluar dari bandara Kairo? Proporsinya sesuai dengan tubuh My Lady. Bisa saja dia hanya menggunakan lensa kontak berwarna coklat.”

“Cari passportnya, cocokkan, klarifikasi.”

Pusat pencarian benar-benar hectic kala itu. 7 jam lagi sampai deadline penghakiman mereka jika gagal.


.


Yoshiki meneguk kopi kaleng yang sudah hampir habis menemaninya menanti pesawat jet pribadinya siap diberangkatkan. Pria itu bersandar pada teralis dengan pandangannya terarah pada landasan terbang bandara Narita.

Read More ->>

Senin, 07 Desember 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 55]

 CHAPTER 55: WIND RUNAWAY

“Cincinnya—” Hana sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi. Benda plastik itu sudah remuk tak berbentuk di lantai.

“Hn, kau sedih karena benda cincin murahan itu kuhancurkan? Ayolah My Lady, aku bisa membelikanmu berapa banyak yang kau mau. Lagipula, bukankah cincin ini lebih mahal?” Yoshiki kembali mendekati Hana untuk meraih tangan wanita itu, berniat memasangkan kembali cincin pernikahannya, “sebaiknya kau mengenakannya My Lady, aku sungguh tidak nyaman saat melihat kau melepaskannya.”

Namun Hana segera menepis tangannya.

“Hn…. Lihat siapa yang mulai membangkang sekarang?” Bagai sudah kehilangan akal, Yoshiki menahan kedua tangan Hana pada sofa dan menghimpi wanita itu.

“Kau kesal?”

Hana hanya memalingkan wajahnya.

“Kalau begitu bagaimana denganku My Lady?” Nada dingin terdengar dari mulut pria itu. “aku membawamu sejauh ini ke Eropa, berusaha membuatmu melupakan segala hal di Tokyo termasuk si sialan itu, namun siapa yang akan menyangkan jika kau akan diam-diam bertemu si sialan itu di tengah bulan madu kita?”

“Yoshiki-kun sendiri yang memaksakan bulan madu ini!”

“Hn…. Sekarang kau bermaksud mengatakan jika bulan madu ini sama sekali tidak sesuai keinginanmu?”

“Bagaimana ini bisa sesuai keinginanku jika dari awal Yoshiki-kun yang sudah memaksa!?”

Yoshiki terdiam.

Wajah bahagia Hana yang mengangguk ragu dan berujar jika ia senang melihat Menara eifel, wajah lucu Hana saat begitu menikmati berbagai sajian makanan, wajah terpukau Hana kala berada di kastil Versailles, semuanya terlintas di benak Yoshiki.

“Begitu…?” Nada yang digunakan pria itu terasa sangat berat.

Hana hanya mampu melirik wajah pria itu. Rasa bersalah seperti menguasai wajah kaku pria itu.

“Haha…” pria itu terkekeh.

Seketika kengerian menjalar di seluruh tubuh Hana. Yoshiki sudah kehilangan kewarasannya.

“Baiklah baiklah, kita akhiri saja bulan madu konyol ini. Kita pulang,” sembari tertawa lepas, pria itu melepaskan rengkuhannya, “bersiaplah, kita akan segera kembali ke Tokyo.”


.


Sekarang di sinilah Hana berada. Ruang tunggu bandara. Duduk degan segala kekacauan dalam pikirannya.

“Benar. Malam ini aku akan tiba di Tokyo. Hanya sebuah kekacauan kecil. Tentu. Aku ingin melihat kualitas turbinnya sendiri—” sementara itu Yoshiki yang berdiri tidak jauh darinya masih sibuk dengan urusannya. Bagaimana mungkin dia menyebut kekacauan besar ini sebagai kekacauan kecil? Hana tidak habis pikir.

“Aku mau ke toilet,” pamit Hana begitu berdiri.

Yoshiki terkekeh kecil, “Hn, apa ini? Strategi kabur dariku? Kau berpura-pura ke toilet padahal sebenarnya si sialan itu sudah menunggumu entah dimana untuk membawamu pergi dariku?”

Hana menatap jengah, “aku bahkan tidak menghubungi Keigo-kun sama sekali!”

“Keigo-kun…” Yoshiki mengulang bagaimana Hana menyebut sang sahabat dengan nada megejek.

“Terserah,” kesal. Tanpa peduli lagi Hana meninggalkan Yoshiki.


.


Helaan nafas keluar dari mulut Helaan itu begitu berat seolah bisa mengalahkan bunyi pancaran air dari kran yang ia gunakan untuk membasuh kedua telapak tangannya.

Dipercikkannya sedikit air pada wajahnya. Pantulan wajahnya pada cermin benar-benar parah. Wajahnya benar-benar kusut.

“Hana!”

Perempuan itu terkejut. Namanya dipanggil tiba-tiba dari belakang oleh seorang pria.

“Keigo-kun!?”

“Ssst! Jangan keras-keras. Ayo ikut!”

“Tunggu! Kenapa Keigo-kun tau aku di sini?”

“Aku bersama teman exorcist yang membantuku berusaha mencarimu karena kemarin malam kamu tidak datang. Nah, ayo! Kita tidak punya banyak waktu! Iblis itu akan menyadari banyak hal jika kita membuang-buang waktu!”

Hana terdiam. Kedua matanya tidak berkedip sama sekali.

Hana tidak hanya merasakan firasat buruk. Tapi semua hal yang pernah terjadi selama ini membuatnya enggan menyetujui rencana Keigo. Bayangan bagaimana Kuroto Yoshiki akan menggila dan menghancurkan setiap makhluk hidup yang meghalanginya bisa ia bayangkan dengan sempurna. 

Sudah berapa kali ia berusaha kabur dari Yoshiki? Dan sudah berapa nyawa ia korbankan karena keegoisannya?

‘Kau berpura-pura ke toilet padahal sebenarnya si sialan itu sudah menunggumu entah dimana untuk membawamu pergi dariku?’ Ucapan penuh sindiran dari Yoshiki kembali terngiang pada indra pendengarannya.

Hana menggeleng lemah, penuh ketakutan, “tidak, Keigo-kun.”

“Kamu kenapa Hana? Waktu kita sempit!”

“Dia akan mencelakaimu! Aku tidak ingin ada siapapun yang menderita lagi!”

“Tidak aka nada yang celaka Hana! Ayo!” Keigo sudah kehilangan kesabaran, pria itu meraih tangan Hana, berusaha menariknya, “semakin kita membuang-buang waktu di sini justru membuat kita semakin celaka!”

Hana kembali menggeleng, “tidak Keigo-kun! Tidak, Dia sudah membuat Keigo-kun operasi sekian banyak kali! Berikutnya bisa lebih parah lagi!”

GREB

Pria itu merengkuh Hana dalam pelukannya.

“Percayalah, aku sudah merencanakan semuanya dengan baik.”

Kalimat itu seolah menjadi penghibur tersendiri bagi Hana.

“Nah, ayo. Kita berpacu dengan waktu. Kesuksesan rencana ini juga bergantung dengan timing yang kita ambil. Kau mau kan, Hana?” Pria itu menatap lekat-lekan kedua sapphire Hana.

Hingga akhirnya sebuah anggukan diberikan.

“Bagus, ayo.” Tanpa mengambil waktu lebih banyak lagi, Keigo memberikan tasnya, “ganti pakaianmu, di dalam juga ada wig dan topi, kenakan semuanya. Kita sudah menghabiskan cukup waktu tadi. Kuharap kamu bisa berganti pakaian lebih cepat.”

Hana melakukan semua perintah Keigo. Dilucutinya semua pakaiannya dan berganti dengan set pakaian baru. Sebuah keuntungan dari rambut pendeknya, ia bisa mengenakan wig dengan lebih mudah.

“Kau terlihat manis dengan rambut panjang, haha,” Keigo setengah terkekeh melihat Hana yang baru saja keluar dari bilik toilet dengan penampilan barunya.

“Berisik ah!” respon Hana kesal, “lihat dirimu yang pria tapi malah masuk toilet perempuan tanpa malu! Memangnya tidak takut kalau ada yang masuk?”

“Aku sudah pasang tanda toilet sedang dibersihkan di luar. Juga ada temanku yang berjaga. Ah, pakaian lamamu bisa ditinggal saja. Aku tidak ingin mengkhawatirkan jika ada penyadap di dalam sana.”

Setelah meletakkan pakaian lamanya Hana mengikuti Keigo meninggalkan toilet. Dan benar saja, begitu ia keluar dari toilet, sosok exorcist yang ia temui beberapa hari lalu telah bersiaga.

“Segera masuk ke gerbang keberangkatan. Kalian sudah menghabiskan terlalu banyak waktu. Iblis itu sudah was-was,” ucap sang exorcist.

“Terima kasih banyak Nikole! Aku pasti akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti!” 

“Ya itu suatu hari nanti saja, sekarang cepat pergi sebelum iblis itu curiga! Ini sudah hampir 20 menit!”

Keigo mengangguk mantap.

“Ayo Hana,” ditariknya tangan sang perempuan untuk berlari ke gerbang keberangkatan.

“2 gerbang keberangkatan bandara ini hari ini sedang masa renovasi, maka beberapa penerbangan gerbangnya akan dijadikan satu. Nikole membantuku membuat passport palsu. Setiap gate keeper yang akan kita lewati adalah bagian dari exorcist network. Jadi kamu tidak perlu khawatir rencana ini gagal. Aku sudah memikirkan berbagai rencana cadangan. Karena bagaimanapun lawan kita adalah iblis mahakuasa, si Lucifer itu sendiri,” Keigo menejlaskan sembari terus menarik Hana menuju penjagaan.

“Saya Keigo Yasumoto dari exorcist, saya membawa Rayumi Hana,” ujar Keigo tanpa menunjukkan passport dan visanya.

“Oh Yasumoto-san, baiklah silahkan. Semoga selamat sampai tujuan,” ucap sang penjaga.

Tanpa banyak kata lagi, Keigo segera menarik Hana menuju landasan pacu. Menaikki sebuah pesawat dengan kelas bisnis. Hana bahkan tidak tau kemana tujuan penerbangan pesawat ini. Yang ia tau hanya begitu keduanya masuk, pintu pesawat segera ditutup, seolah mereka adalah penumpang terakhir.

“Kita akan kemana Keigo-kun?” Akhirnya Hana memberanikan diri untuk bertanya begitu pesawat benar-benar lepas landas. Tak bisa ia pungkiri selama pelariannya jantungnya terus berdetak kencang tanpa henti. Ketakutannya terhadap Yoshiki benar-benar nyata. Namun akhirnya ia bisa menghela nafas panjang setelah pesawat berhasil lepas landas tanpa ketahuan oleh Yoshiki.

Keigo mengeluarkan beberapa lembar tiket pesawat dari sakunya, seolah sengaja memperlihatkan itu pada Hana.

Melihat itu tentu saja Hana terkejut, “astaga banyak sekali. Ini penergbangan ke berbagai negara… Brazil…. Israel…. Findlandia….Korea Selatan…. Australia… dan lagi namanya beda-beda semua, dan bukan nama kita berdua.”

“Itulah rencananya. Aku membeli banyak penerbangan untuk kita berdua dengan nama berbeda-beda untuk mengecoh penelurusan iblis itu nanti.”

“Tapi bagaimana bisa? Nama di passport bagaimana?”

“Exorcist membantu kita berdua. Tapi hanya sampai pada taraf ini karena mereka juga sebenarnya sedang kesusahan.”

“Tapi Keigo-kun membeli semua tiket ini sendiri?”

“Ya,” Keigo mengangguk singkat.

Hana terdiam beberapa saat, ia yakin semua tiket penerbangan untuk pengecoh ini semuanya berharga 73000 Yen (10 Juta IDR) ke atas.

Merasakan keraguan Hana, Keigo menimpali, “tidak apa, itu harga yang pantas untuk mengecoh Lucifer. Jangan dipikirkan ok? Aku masih memiliki sisa tabungan untuk hidup kita berdua nanti.”

Keigo tersenyum lembut melihat wajah Hana yang masih terdiam menyedihkan, “hei bukankah sudah kubilang untuk tidak dipikirkan? Tenang saja, setelah sampai Australia, exorcist sudah menyiapkan sebuah apartemen sederhana. Namun kita tidak bisa terlalu berharap karena seperti kataku sebelumnya, mereka juga sedang kesusahan.”

Sebuah air mata yang sedari tadi mengumpul pada pelupuk matanya akhirnya terjatuh pada tiket-tiket yang hampir lusut pada genggaman emosionallnya.  Diiringi suara isakan kecil yang tertahan, tubuh itu gemetar nampak begitu rapuh.

Kedua iris Keigo melebar mengetahui hal itu, tubuh pria itu pun kehilangan kendali, tanpa sadar ia merengkuh tubuh gemetar di sampingnya, seolah ingin merasakan penderitaan yang dirasakan tubuh kecil itu.

Hana sendiri tidak tau. Ia merasakan kebahagiaan dari suatu kebebasan akan kebohongan yang selama ini menyelimutinya oleh Yoshiki. Namun di suatu sisi ada bagian dari dirinya yang menyesali keadaannya saat ini dan mempertanyakan, apakah dengan begini ia benar-benar akan berpisah dari Yoshiki?

Ia hanya bisa terisak di balik rengkuhan Keigo. Hingga kedua kelopak matanya terkatup lelah. Ia tertidur.

.

“Hahaha…” Yoshiki tertawa dalam nada beratnya. Telapak tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Pria itu terus tertawa seolah menertawakan dirinya sendiri.

Sudah hampir setengah jam sejak Hana terakhir izin untuk menggunakan toilet. Sampai detik ini ia sama sekali tidak melihat batang hidung perempuan itu.

Padahal ia sudah mencoba untuk mempercayai ucapan Hana. Membiarkan perempuan itu pergi tanpa ada pengawasan apapun. Mencoba memberikan perempuan itu kebebasan setelah ia sadar apa yang ia lakukan kemarin berlebihan.

“My Lord, kami menemukan mantel dan pakaian My Lady dibuang di toilet,” seorang pelayan datang membawa tumpukan pakaian Hana.

Yoshiki hanya memberikan tatapan datar, “si sialan itu cerdik juga.”

Tangannya membongkar isi saku pada mantel Hana dan menarik sebuah pemancar sinyal. Pemancar yang sudah ia siapak dengan harga fantastis yang tetap bisa memancarkan sinyal berfrekuensi rendah walau pada jarak sejauh diameter bumi ini menjadi sia-sia.

“Cari tau kemana penerbangan mereka.”

“Kami melakukan yang terbaik My Lord,” ucap sang pelayan agak ragu.

“Apa maksudnya?”

“Kami sudah melakukan pencarian sesegera mungkin setelah menemukan pakaian My Lady. Namun sepertinya My Lady pergi dengan menggunakan nama palsu.”

“Apa?” Kedua alis Yoshiki mengernyit, “si sialan itu! Periksa CCTV!”

“Sudah kami lakukan juga My Lord. Hanya saja kita mengalami kesulitan karena bandara ini sedang renovasi menyebabkan beberapa penerbangan hanya melewati satu gerbang saja. Ditambah My Lady menggunakan penyamaran yang tidak bisa kami perkirakan.”

“My Lord, jet pribadi sudah siap,” pelayan yang lain muncul dengan sebuah informasi.

Yoshiki terdiam sejenak setelah berdecak kesal, “lanjutkan pencarian. Jika sampai malam ini kalian masih tidak tau ke mana penerbangan My Lady, leher kalian yang akan jadi taruhannya.”

Semua pelayan yang mendengar hal itu tidak bisa menahan bulu kuduk mereka untuk berdiri. Ancaman tuan mereka tidak pernah main-main.

“Kita kembali ke Jepang. Aku memiliki janji.”

“Yes, My Lord.”


.


Setelah satu hari penuh penerbangan yang melelahkan Hana dan Keigo jalanin, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di bandara Sydney Kingsford Smith.

“Anda Keigo Yasumoto dan Hana Rayumi?” Seorang pria dengan setelan jas rapih beserta berbandana lengan bertuliskan F-772 seketika menyambut keduanya begitu turun dari pesawat.

“Benar, saya Keigo Yasumoto dan ini Hana Rayumi,” Keigo memperkenalkan dirinya dan Hana.

“Salam kenal, saya F-772, exorcist yang bertugas mengantar kalian dan mungkin membantu kalian selama di Australia ini,” sosok dengan rambut pirang tebal itu balik memperkenalkan diri.

“Terima kasih, mohon bantuannya,” Keigo berojigi.

“Silahkan kemari,” F-772 mengarahkan keduanya pada gerbang pemeriksaan.

Sebuah negosiasi ringan dilakukan antara sang exorcist dan sang penjaga gerbang sebelum akhirnya ketiganya berhasil keluar bandara tanpa ada masalah.

“Apartemennya berjarak 20 menit dengan mobil, mungkin kalian bisa beristirahat sejenak setelah penerbangan kalian yang panjang,” ucap F-772 begitu ketiganya telah memasuki mobil. F-772 duduk di samping kursi kemudi sementara Keigo dan Hana duduk di belakang.

“Ah terima kasih,” ucap Keigo ramah.

“Maaf hanya saya yang berperingkat 772 yang menjadi pembantu kalian selama di sini, padahal di sini ada nona Rayumi Hana si pemegang segel. Australia sendiri sebenarnya punya peringkat 9. Tapi sepertinya beliau sedang bertugas di pusat setelah kekalahan exorcist kemarin.”

“Ah tidak apa-apa. Kami mengerti. Dibantu dalam pelarian ini saja kami sudah sangat berterima kasih.”

“Pasti susah ya?” Sang exorcist tiba-tiba membawa topik yang memberatkan udara.

Hana yang sedari tadi memutuskan untuk membisu sebagai bentuk penghakimannya sendiri, sekarang semakin menudukkan kepalanya.

“Mau bagaimana lagi, lawan kita Lucifer.”

“Hmmm… maksudku pasti susah ya menghadapi petinggi?”

“Ah itu, saya sebenarnya hanya exorcist non peringkat. Saya dibantu oleh teman dari Paris. Dia yang menyediakan jalur melarikan diri. Semuanya diarahkan oleh dia.”

Untuk beberapa saat F-772 hanya diam, namun ia kembali berbicara, “syukurlah…”

Entah karena lelah karena penerbangan atau karena memikirkan bebannya, kepala Hana sudah tersandar pada bahu Keigo dengan kedua matanya terpejam. Hana tertidur.

“Benar…. Syukurlah,” Keigo mengangguk lega.

“Karena sejujurnya seluruh peringkat atas di negara ini sudah tidak mampu mengurusi hal ini. Entah mereka fokus pada pemulihan diri, atau mereka sudah enggan berurusan dengan Lucifer. Pengecut. Padahal kita tidak boleh semudah itu menyerah pada iblis. Prinsipku, bila ada suatu kesempatan untuk menghancurkan iblis, bahkan sekecil apapun itu, aku pasti akan melakukannya.”

“F-772 anda sangat bersemangat ya…”

“Andai peringkatku bisa lebih tinggi lagi. Andai Abschleppen Geist ku bukan sebuah jarum.”

Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.