Jumat, 25 Desember 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 56]

 CHAPTER 56: WHEN YOU ARE GONE

Sesuai apa yang dikatakan F-772, mereka tiba di sebuah apartemen sederhana setelah 20 menit perjalanan. Sementara Keigo sibuk mengeluarkan semua barang bawaan dari bagai mobil, Hana masih asyik mengusap kedua matanya dan menguap puas.

“Tidurmu nyenyak?” Keigo berjalan di samping Hana menaiki tangga menuju apartemen mereka.

“Maaf meninggalkan Keigo-kun tidur tadi.”

“Tidak apa-apa,” Keigo sudah boleh lega sekarang. Hana yang seharian penuh di dalam pesawat jarang memejamkan mata akhirnya benar-benar tertidur pulas, “kamu boleh menlanjutkan tidur lagi setelah beres menata barang.”

“Silahkan. Ini kamar apartemen kalian mulai sekarang,” F-772 sudah berada di depan pintu begitu keduanya tiba.

“Terima kasih,” Keigo menundukkan kepalanya.

F-772 tersenyum tipis, “ini notes berisi paduan singkat. Seperti dimana kamu bisa berbelanja beberapa kebutuhan, ah kontakku juga ada di sana jika kalian menemui masalah.”


.


“Huwaaa akhirnya selesai!” Hana menghempaskan tubuhnya pada lantai begitu selesai menata pakaiannya sendiri di dalam lemari.

“Kau lelah?” Dari balik ruangan Keigo mengintip dengan membawa dua cangkir beraroma manis.

“Sangat, seperti jantung dan tubuhku tidak pernah dipaksa bekerja berat,” Hana bangkit dalam satu sentakan, “aku semakin tua saja.”

“Haha, kamu kan masih dua puluh tahun. Jangan berlagak seperti nenek-nenek. Bahkan nenek-nenek jauh lebih energik disbanding denganmu,” Keigo menyodorkan segelas madu hangat.

“Kamu lihat ada nenek-nenek energik di mana memangnya?”

“Ya… pokoknya ada,” Keigo menjawab sembarangan.

Hana menyesap madunya perlahan, “heuuuum ini enak sekali untuk otot-ototku.”

“Hahaha, oke aku setuju kamu semakin tua, enak ya nek madu hangatnya?”

“Keigo-kun!!!”


.


Jeritan menggema di seluruh mansion kala itu. Teriakan demi teriakan yang memilukan seolah menahan seluruh penghuni mansion untuk menjalankan tugas. Lagipula sekarang siapa yang tidak akan merindung dan ketakutukan begitu mendengar tangisan pilu penyiksaan?

Benar, seluruh tim intelejen yang ditugaskan telah gagal mencari penerbangan pelarian Hana dalam satu malam. Yoshiki tidak pernah main-main dengan perkataannya juga. Eksekusi harus dilakukan bagi seluruh pembangkang yang gagal.

“Tidak My Lord, My Lord ampuni kami. Kami akan berusaha sebaik mungkin setelah ini. Kami akan menemukan My Lady sesegera mungkin,” tangisan penuh rintihan dan isakan itu keluar dari bibir yang sudah tidak berbentuk dari salah satu personil.

“Tentu saja kau harus menemukannya sesegera mungkin,” Yoshiki menjawab malas. Ia hanya duduk memandangi para agennya menderita secara fisik.

“Masukkan,” gumanan dingin itu seolah menjadi mimpi buruk bagi para agen.

“ARGGGHHHH!!!” Teriakan pilu kembali menggema setelah kepala para agen itu dimasukkan ke dalam air sulfat pekat. Wajah mereka yang hampir tidak berbentuk itu kembali meleleh oleh karena asam kuat, membuat warna asam pekat yang awalnya hanya kekuningan pucat itu menjadi air darah.

“My Lord, My Lord, kami mohon belas kasihan anda,” kembali salah satu personil memohon maaf di tengah rintihannya. 

Iblis tidak bisa mati seperti manusia. Mati yang digambarkan di mana jiwa meninggalkan tubuh jasmani tidak bisa terjadi pada iblis yang bahkan jiwanya tidak akan bisa diterima di alam berikutnya. Jiwa mereka akan terus tertanam pada tubuh jasmani sementara tubuh jasmani mereka disiksa sedemikian rupa. 

Padangan Yoshiki masihlah datar menghadapi rintihan permohonan maaf para agennya, wajah mereka yang sempat hancur oleh asam pekat perlahan kembali tumbuh beregenerasi, namun sayangnya sebelum regenerasi selesai Yoshiki sudah memberi aba-aba bagi para eksekutor untuk kembali menenggelamkan kepala para agennya pada asam pekat.

“Karena kalian tidak berhasil menemukannya, ini seperti memberi kesempatan pada si sialan itu untuk bersama milikku. Dan kalian tau betapa tersiksanya aku membayangkan hal itu? Maka aku membagi rasa sakit itu kepada kalian.”

“My Lo—arggghhh!!!”

Pekikan memilukan itu terus terjadi sampai kurun waktu lebih dari dua jam. Hingga akhirnya sang penguasa bangkit dari duduknya, “satu minggu, jika kalian gagal menemukannya lagi, berikutnya kalian tidak akan bisa berteriak sama sekali,” ujar Yoshiki dengan pandangan dinginnya.


.


Dua hari sejak kepindahan keduanya di negara kangguru. Sebenarnya yang menjadi penghalang terbesar bagi Hana untuk menikmati negara ini adalah bahasanya. Kemampuan berbahasa Inggris Hana tidaklah buruk, namun ia hanya kesusahan dalam mengucapkannya untuk berinteraksi secara langsung.

“Aku mendapatkan email pemberitahuan untuk interview besok siang,” Keigo tiba-tiba berucap setelah menyesap sodanya.

Udara pagi itu cukup bersahabat untuk keduanya melakukan jogging dan berhenti sejenak di sebuah taman dekat danau.

“Woah keren sekali Keigo-kun! Keigo-kun melamar apa?”

“Aku melamarmu,” walaupun berusaha membuat wajah yang serius, namun pria yang tidak bisa berhenti tersenyum dengan manis itu tetap tidak bisa menahan senyumnya saat menggoda Hana.

Namun candaan itu memberikan dampak tersendiri bagi Hana, wajahnya memerah bagai kepiting rebus.

Melihat itu Keigo mendadak merasa canggung, wajahnya ikut memerah karena kebodohannya sendiri.

“Hahahahaha!!!” Namun ia menutupinya dengan tawa canggung, “aku melamar di sebuah Lembaga les privat. Mereka tidak memiliki guru bahasa Jepang. Well…”

“Dasar Keigo-kun bodoh!” Hana meninju lengan pria itu dengan kesal.

“Haha, dukung aku dong,” Keigo masih sibuk tertawa.

Hana tersenyum menanggapi, “tentu. Akan kudukung untuk seterusnya.”


.


Bunyi tak nyaring timbul ketika layar macbook tertutup. Disusul dengan sebuah helaan nafas berat.

Kuroto Yoshiki memijat pelipisnya sejenak. Ia lelah. Jam dinding sudah menunjukkan waktu pukul tujuh pagi. 

Tubuh kakunya perlahan bangkit dari kursi yang sudah ia duduki sejak lebih dari delapan jam yang lalu tanpa tidur.

Setelah melakuakan peregangan dan sedikit mengacak rambutnya, sesuatu bergetar entah dari mana. Membuatnya menghelakan nafas berat dengan malas.

Meja yang penuh dengan tumpukkan kertas itu ia acak-acak guna menemukan sumber penghasil getaran itu. Ponselnya. Begitu ia mendapati benda persegi panjang itu, sudah ada beberapa panggilan tidak terjawab di sana.

Ia menelepon balik, “ada apa?”

Wajahnya benar-benar kusut, “tidak, izin resmi dari Kementrian Luar Negri dan Kedaulatan Norwegia sudah didapatkan.”

Kedua matanya sedikit memincing begitu merasakan cahaya matahari yang menerobos masuk melalui sela-sela gordennya, “kalau begitu aku akan tiba di kantor dalam tiga puluh menit, siapkan berkasnya.”

Begitu mengakhiri panggilan, jari pria itu bergerak memeriksa jajaran notifikasi penting lainnya, hingga akhirnya ia membersihkan seluruh notifikasi yang ada. Menyisahkan homescreen kosongnya. Membuat tangannya tergelitik usil membuka gallery. Tentu saja dalam sekali tekan semua foto yang paling mendominasinya seketika menjadi fokusnya, apalagi kalau bukan foto-foto random yang diambil oleh istrinya.

Dengan alasan seperti ‘wah kameranya keren’ istrinya itu berkali-kali mengambil foto dirinya jika moodnya sedang baik. Dari foto yang menunjukkan sisi timboy hingga girly sang istri, seolah ponsel Yoshiki menyimpan itu semua. Beberapa foto dirinya yang dipotret diam-diam pun tersemat. 

Seperti halnya sebuah foto dimana ia nampak sibuk bekerja. Foto ini diambil ketika sang istri tengah bosan menunggunya selesai bekerja.

“Lihat ini…. Yoshiki-kun sedang bekerja…. Hmmm…. Padahal cuman bekerja, tapi masih tetap tampan. Hmmm….” Hana memainkan fungsi zoom pada kamera ponsel Yoshiki, dan mengambil beberapa foto acak yang mana menurut dia menunjukkan pose unik suaminya.

Tanpa sadar ujung bibir yang sedari tadi nampak kaku itu mulai tertarik ke atas. Pandangannya melembut.

Ia menekan fungsi kunci pada ponselnya, menggelapkan seluruh tampilan layarnya.

Sedikit hembusan nafas, Yoshiki melangkah meninggalkan ruang kerjanya.


.


“Aku pulang,” Keigo muncul dari balik pintu.

“Selamat datang,” Hana menyahuti dari arah dapur. Beberapa suara logam alat masak pun terdengar menyusul.

“Hooo apa yang kau buat? Ini masih pukul 5 loh. Bukankah masih terlalu dini untuk makan malam? Atau kau sudah lapar saja? Dasar jagoan makan,” Keigo meletakkan mantel dan tasnya pada kursi.

Dengan wajah yang setengah memerah dan tangannya yang sibuk memoleskan bawang pada suatu daging ia menjawab, “aku membeli daging dengan diskon 70% tadi, dan kualitasnya bagus untuk dibuat steak. Aku berencana membuat pesta kecil-kecilan untuk merayakan interview-mu.”

“Hooo…. Bagaimana kamu bisa dapat diskon sebesar itu?” Sekarang Keigo sudah berhenti di depan daging yang sedang Hana rendam dengan tumpukkan bawang.

“Aku hanya datang ke minimarket yang ada dalam list yang diberikan exorcist kemarin, sebenarnya aku juga tidak terpikirkan untuk membuat pesat kecil-kecilan, lalu ketika aku melihat ibu-ibu berebutan aku jadi penasaran, ternyata mereka merebutkan daging ini. Langsung saja aku melesat ke dalam kerumunan itu,” ucap Hana penuh percaya diri.

“Haha… melesat bagaimana?” Keigo tertawa renyah.

“Orang Australia kan sedikit lebih tinggi daripada orang Jepang sepertiku, jadi aku bisa masuk disela-sela tubuh mereka.”

Keigo semakin tidak bisa menahan tawanya, “tidak semua orang Jepang sekecil kamu loh.”

Wajah Hana kembali memerah, kesal, “aku tidak kecil! Mereka saja yang sebesar titan!”

Keigo terbahak-bahak.

“Sana mandi dulu! Kamu bau!” Gerutu Hana kesal.

“Eh? Benarkah?” Keigo mulai mengendus permukaan pakaiannya, “bagaimana aku bisa bau? Aku hanya duduk saat interview, tidak berkeringat sama sekali—” namun klimatnya berhenti saat ia memiliki ide untuk mengisengi Hana, “kalau begitu, rasakan ini, kamu juga jadi bau!” Keigo memeluk Hana dari belakang tiba-tiba.

Tentu saja, wajah Hana akan memerah dan ia akan berteriak, “KEIGO-KUN BODOH!!!”


.


Yoshiki melangkah keluar dari lift sebuah gedung dengan percaya diri. Ia baru saja mendapat persetujuan penting dari seorang senat negara lain. Dengan begini, proyek yang ia sponsori lintas negara akan memberikan pundi-pundi keuntungan secara gila-gilaan padanya.

Begitu tiba pada aera parkir, ia mengeluarkan kontak mobilnya untuk membuka kuncinya. Memasuki mobilnya dan meregangkan dasi yang seolah menjerat lehernya.

Perasaan bagus mengalir pada seluruh tubuh pria itu, sedikit perayaan untuk memulai awal yang bagus sepertinya tidak buruk? Benar juga, seingatnya ia pernah menimkati yakiniku kualitas terbaik bersama koleganya. Hana sangat menyukai makanan penuh protein itu. Oleh sebab itu ia mengeluarkan ponselnya tanpa ragu, hendak mengabari sang istri untuk segera bersiap-siap sebelum ia menjemput—Ia terdiam menatap ponselnya.

“Sial,” Ia mengumpat cepat.

Ia bahkan lupa jika sang istri telah pergi meninggalkannya dan keberadaanya tak diketahui di mana.

Benda persegi panjang itu ia lemparkan sembarangan pada kursi di sampingnya, semenatara kepalanya bersandar pada jok dengan lemas, pandangannya menjadi kosong.


.


“Enak enak! Ini enak! Hana sejak kapan jago memasak?” Keigo tak bisa berhenti memuji rasa masakan Hana setiap kali ia memasukkan sepotong daging pada mulutnya.

“Ho ho ho! Diam-diam aku suka menyusup ke dapur saat semua koki tengah menyiapkan makan malam!” Hana dengan ponggahnya berujar.

“Begitu ya!” Keigo masih asyik melahap hidangannya.

Sayangnya akibat kalimatnya sendiri, Hana menjadi kurang nyaman dengan masakannya. Kepalanya sekarang penuh dengan, ‘apa yang dilakukan Yoshiki-kun sekarang?’, ‘bagaimana kabar Yoshiki-kun sekarang?’ dan beberapa perasaan bersalah karena meninggalkan pria itu.

“Kamu baik-baik saja? Tiba-tiba melamun?” Keigo yang menyadari keadaan Hana, ikut berhenti mengunyah makanannya.

“Eh? Ah! Tidak apa-apa kok, ayo dimakan yang banyak Keigo-kun!” Hana meletakkan telur mata sapi pada nasi Keigo.

Keigo mengulas senyum, sebelum kembali melahap hidangannya dengan puas.

“Bagaimana tadi interview-nya?” Hana kembali menyuapkan nasi pada mulutnya.

“Menyenangkan. Mereka memang sangat membutuhkan tentor orang Jepang. Malahan kita membicarakan keseharian di Jepang bagaimana, haha.”

“Apa mereka tau jika Keigo-kun juga mantan dosen?”

Keigo mengangguk sembari mengunyah, “ada dalam CV ku, mereka menanyakan mengapa aku keluar, aku mengatakan butuh suasana lain untuk melepaskan diri dari kejenuhan.”

“Lalu-lalu, kapan Keigo-kun akan mulai bekerja?”

“Besok. Karena tentor bahasa Jepang hanya aku di sana, sepertinya aku akan mendapat full timer.”

“Wooow, selamat Keigo-kun!”

Keigo meraih segelas jus jeruk dan meneguknya, “tapi dengan begitu waktuku bersamamu akan berkurang.”

“Ih, ya tidak masalah, aku kan bukan anak kecil,” Hana menekuk dahinya.

“Eh? Bukan?” Keigo bertanya polos.

“KEIGO-KUN!!!!”


.


Yoshiki hanya memutar gelas anggurnya. Menatap cairan pekat di dalamnya bergoyang perlahan mengikuti gravitasi.

Pandangannya datar dan kosong entah menatap kemana.

Para koki kelas atas berkali-kali menyajikan beberapa lembar yakiniku yang telah dimasak dengan sempura. Namun daging-daging berkualitas tinggi itu hanya teronggok di piring sang raja hingga dingin.

“My Lady….” Mulutnya berguman datar.

Sepertinya ia akan menyanyakan kewarasan dirinya setiap kepalanya membuat halusinasi adanya sosok Hana yang duduk di sampingnya. Sosok itu tertawa lepas sembari melemparkan banyolan gelap kesukaannya dan memukul-mukul ringan tubuhnya tergelak.

Tak bisa Yoshiki pungkiri. Hana adalah pendengar yang baik. Ia akan mendengar setiap ceritanya walaupun Ia sendiri tidak yakin apakah Hana memahami ceritanya. Walaupun kadang perempuan itu akan menyergah kalimat yang tidak sesuai dengan pendapatnya.

‘Apa? Yoshiki-kun merindukanku?’ Sosok itu duduk di hadapannya dengan seyum lima jarinya.

“Ya… aku merindukanmu…”

‘Aku juga merindukan Yoshiki-kun!” Senyum sosok itu semakin melebar, ‘mau bagaimana lagi? Yoshiki-kun memang sibuk bukan? Oh! Bagaimana hari Yoshiki-kun?’

Pria itu berguman sendirian menceritakan harinya kepada angin.

.

Hari terakhir di satu minggu janji seluruh agen untuk menemukan sang ratu. Mereka tidak ingin merasakan kengerian yang sama kembali mereka rasakan jika gagal menemukan sang ratu, atau mungkin hal yang lebih buruk akan terjadi?

Mereka tidak mau. Ditekan rasa takut mereka terus bergerak mengusahakan segala hal.

Mencari CCTV dari segala penjuru bandara adalah hal utama yang mereka lakukan.

“Cek Beijing Capital International Airport pukul 9 pagi. Gate 3.”

“Cocokkan dengan seluruh data yang ada pada CCTV keberangkatan dari Paris.”

“Tolong konfirmasi subyek yang ditemukan di bandara Schiphol. Dia mengenakan topi putih dan tas yang sama.”

“Perempuan itu mempunyai garis muka yang berbeda dengan My Lady. Tidak mungkin. Identitasnya juga sudah dipastikan. Dia benar-benar mahasiswa yang tinggal di Paris dan berlibur di Belanda.”

“Bagaimana dengan laki-laki berambut ikal yang keluar dari bandara Kairo? Proporsinya sesuai dengan tubuh My Lady. Bisa saja dia hanya menggunakan lensa kontak berwarna coklat.”

“Cari passportnya, cocokkan, klarifikasi.”

Pusat pencarian benar-benar hectic kala itu. 7 jam lagi sampai deadline penghakiman mereka jika gagal.


.


Yoshiki meneguk kopi kaleng yang sudah hampir habis menemaninya menanti pesawat jet pribadinya siap diberangkatkan. Pria itu bersandar pada teralis dengan pandangannya terarah pada landasan terbang bandara Narita.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.