CHAPTER 63: SPOILED HUSBAND
“A-Apa masih kurang?”
“Hn? Kurang?”
Sedikit mengalihkan wajahnya Hana berujar, “darahku, kemarin kan hanya dari rembesan luka saja. Jika itu masih kurang, Yoshiki-kun boleh mengambil lagi.”
Yoshiki terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum cukup lebar, “kau mengizinkanku meminum darahmu My Lady?”
“J-Jika masih kurang!”
“Hn… untuk memenuhi perjanjian darah, darahmu kemarin sudah sangat cukup. Namun untuk memuaskan dahagaku… tentu saja kemarin sangatlah kurang.”
Hana mengangguk, “kalau begitu, silahkan,” Hana sedikit mengangkat kepalanya untuk memperlihatkan lehernya dengan ragu.
“….” Yoshiki kembali terdiam beberapa saat menatap leher tan Hana yang tanpa pertahanan apapun.
Sudah berapa lama ia menunggu dan cukup menderita karena hal ini? Menunggu Hana tanpa berat hati mengizinkan dirinya meminum darahnya.
“Umm? Yoshiki-kun?” Hana mengambilkan Yoshiki dari pikirannya.
Sebuah senyum lembut terpatri pada bibir pria itu, “Itadakimasu,” ujarnya sebelum menggores leher Hana dengan kuku jarinya hingga menciptakan luka tipis dan mengalirkan darah kental dari sana. Perlahan lidahnya menyapu bersih setiap lelehan darah yang keluar.
Sementara rasa geli menjalar pada leher Hana, ruam merah perlahan menguasai wajahnya.
“Lcchh—”
Dan mau bagaimanapun suara yang Yoshiki hasilkan dari kegiatannya menimbulkan bunyi-bunyian yang terdengar sensitive bagi Hana.
“Uhm…” Tanpa sadar bibir Hana melenguh tipis.
“Terima kasih makanannya,” Yoshiki menarik diri dari leher Hana, dan beralih pada nakas untuk mengambil kotak P3K dan meneluarkan plester luka dari sana.
“Sudah?”
Yoshiki mengangguk dan menempelkan plester luka pada leher Hana, “jika kuteruskan kau akan terkena anemia.”
BRUK
Tiba-tiba saja pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Hana. Ditariknya selimut hingga menutupi bahu bidangnya. Kedua matanya terpejam sementara tangannya bergerak meraba-raba salah satu belahan dada perempuan berambut pendek itu dengan lembut.
“My Lady… dadamu lembut,” guman pria itu.
Ruam merah seketika menyebar pada wajah Hana, “a-apa-apaan Yoshiki-kun!?”
“Lately I’m so missed to cuddle with you. I miss how soft your breasts are.”
“M-memangnya selembut itu?”
“Hn…”
“P-padahal dadaku tidak besar.”
“Lalu?”
“T-tidak sebesar dada perempuan-perempuan yang pernah Yoshiki-kun tiduri.”
Seketika kepala pria itu terangkat, menatap wajah Hana dengan pandangan kesal, bukan pandangan datar seperti yang biasa ia berikan.
“Ada apa?” Tanya Hana ragu.
“Hn… tidak, aku hanya kesal.”
Hana tau pria itu sedang kesal tanpa diberi tau sekalipun, “kenapa sampai kesal?”
“Aku memang pernah tidur bersama banyak perempuan, namun sekarang hanya ada kau My Lady. Aku milikmu, dan hanya milikmu. Kau mengerti?”
TOK TOK
Suara ketukan pintu menginterupsi keduanya.
Sebelum merespon, “masuk,” pria itu sempat menghela nafas berat.
Pintu berdaun dua itu terbuka, menampakkan sesosok perempuan berambut pendek rapi dengan kemeja dan vestnya, “Selamat pagi, My Lord. Pukul 10 pagi ini anda memiliki jadwal kuliah tamu untuk Sir William Dunn School of Pathology, Universitas Oxford. Lalu pukul 7 malam untuk makan malam bersama Sir. Fox Bingham pemilik fondasi amal Bingham.”
Tangan Yoshiki bergerak mengisyaratkan sang perempuan untuk segera enyah. Mematuhi apa yang diperintahkan sang tuan, perempuan itu menundukkan kepala hormat dan kembali menutup pintu untuk undur diri.
“Itu… siapa?” Hana tidak familiar dengan wajah perempuan itu.
“Sekretaris.”
“Sekretaris baru?”
“Hn…” Yoshiki kembali menjawab malas, sementara ia meletakkan kepalanya pada dada Hana.
“Memangnya Tomuro-kun kemana?”
“New Delhi. Lagipula Tomuro bukan sekretarisku.”
“Eh? Lalu siapa selama ini?”
“Entahlah. Hazel yang terkadang membantuku, namun sekarang dia harus menyelidiki Exorcist. Lagipula sebelumnya aku tidak terlalu turun tangan pada pekerjaanku, aku selalu menggunakan orang lain. Baru sekarang aku kembali ingin bekerja secara langsung lagi.”
“Kenapa begitu?”
“Kenapa?” Yoshiki menaikkan wajahnya menatap Hana, “tentu saja untuk mengisi kekosongan saat kau meninggalkanku.”
“Eh?”
Yoshiki kemabli meletakan kepalanya pada dada Hana, “sekarang kau sudah kembali, aku tidak ingin melakukan pekerjaanku lagi.”
Pria itu meraih pinggang Hana dan mendekapnya erat, “aku ingin seperti ini saja,” gumanan itu terdengar setelah kepala sang pria digesekkan berkali-kali pada dada Hana.
Hana menggelengkan kepalanya tidak percaya. Kuroto Yoshiki yang selama ini ia lihat adalah sosok tangguh, absolut, dingin, tegas. Tapi apa yang ia lihat sekarang? Tidak lebih dari sesosok pria manja, rapuh, lemah, dan…. Menggemaskan.
“Y-Yoshiki-kun, kamu harus bekerja. Apa itu tadi? Aku mendengar tentang Univeristas Oxford?”
“Hn, aku harus memberikan kuliah mengenai Vulvar Pathology,” Yoshiki menjawab dengan tetap mengubur kepalanya pada dada Hana, membuat suaranya agak tidak terlalu jelas terdengar.
“Umm, kedokteran?”
Kepala pria itu bergerak ke atas ke bawah membenarkan.
“Umm, aku tidak tau itu apa, tapi sepertinya keren, boleh aku lihat Yoshiki-kun saat memberikan kuliah?”
Seketika tubuh dan kepala Yoshiki terangkat, “tentu kau boleh. Tunggu, aku akan bersiap-siap,” dan pria itu bergegas menuju kamar mandi untuk membenahi dirinya.
Sapphire Hana hanya mengikuti punggung pria itu sebelum akhirnya menghilang dari balik kamar mandi, ia tersenyum tipis, “dasar Yoshiki-kun.”
.
“… cause cancer the first one high risk HPV strains. Because it caused your cell cycle to rev up cause cells to grow more and they can mutate more, so they can be from HPV which is the most common or we also talked about things like lichen sclerosis like a simplex Krakus chronic inflammation.”
‘Uwaaah… keren sekali…’ batin Hana dengan ekspresi konyolnya menatap sang suami yang tengah melakukan video conference.
“Professor I have a question.”
“Sure. Go on,” respon Yoshiki.
‘Uwaaah, bahkan dipanggil professor. Yah, memang professor sih,’ lagi-lagi Hana menatap Yoshiki dengan pandangan konyol.
Hana menyesap sebuah the dengan madu yang disajikan oleh maid bersama dengan potongan brownies penuh krim sementara sapphirenya sama sekali tak teralihkan pada sang suami yang masih berbicara dalam bahasa inggris. Hana tidak terlalu memahami hal yang diucapkan sang suami sebenarnya.
‘Apa sih aku ini, sok-sokan sekali ingin mendengar padahal tidak paham apapun. Yah, materi kuliahku sendiri saja terkadang aku tidak paham, apalagi materi perkuliahan kedokteran, dengan bahasa inggris pula,’ Hana merutuki dirinya sendiri.
“…. Alright thank you for your attendance, it’s my pleasure to teach you all about pathology,” dengan kalimatnya tersebut, Yoshiki bangkit dari kursinya. Kuliahnya telah berakhir.
“Sudah selesai?” Tanpa Hana sadari, waktu 2 jam telah terlewati dengan cepat.
“Hn… bagaimana kuliahku menurutmu?” Kuroto Yoshiki berjalan ke arahnya.
“Eh? Yah..” Pandangan Hana menghindari pandangan Yoshiki, “aku tidak paham apapun sejujurnya.”
Yoshiki tertawa renyah begitu meletakkan pantatnya pada kursi di hadapan Hana, “it’s hard for you to understand my lecture?” Kali ini Yoshiki sengaja menggunakan logat British yang benar-benar susah didengar.
“A-apa?” Hana menatap konyol Yoshiki.
Lagi, pria itu tertawa renyah. Puas.
“…. Yoshiki-kun sedang menggodaku?”
“Apa kuliahku sangat susah dimengerti untukmu?” Pada akhirnya pria itu mengulangi kalimatnya dengan bahasa Jepang.
“Sebenarnya mungkin dari faktor bahasa yang membuatku tidak mengerti,” jawab Hana dan disusul dengan penyuapan sepotong brownies pada mulutnya.
Chu~
Kedua mata Hana terbelalak seketika. Dalam hitungan detik bahkan sebelum ia sempat mengunyah brownies dalam mulutnya, dagunya sudah ditarik dan bibirnya dikecup sembarangan.
“A-apa?” Ruam merah menguasai wajah Hana sesudah Yoshiki kembali melepaskan dagu Hana.
“Bibirmu manis,” tak menjawab pertanyaan sang istri, Yoshiki malah sibuk mengomentari, “hn, rasa madu dan brownies.”
“Tentu saja aku kan baru memakannya!” geram Hana, “hei kamu belum menjawab pertanyaanku!”
“Hn, pertanyaan yang?” Pria itu merespon santai sembari meletakan pantatnya di samping Hana.
Wajah Hana kembali meledak merah, “kenapa Yoshiki-kun tiba-tiba menciumku!?”
“Tidak boleh?” Yoshiki dengan santai membalik pertanyaan Hana.
“E-eh, boleh sih,” jawab Hana gagap.
“Energy charging.” Jawab Yoshiki cepat.
“P-pengisian energi? Eh? Energi sihir?” Hana memiringkan kepalanya konyol.
Onyx Yoshiki melirik Hana kesal, “Hn, itu hanya bonus. Aku lelah bekerja tadi. Maka aku butuh pengisian energi darimu.”
“Tapi kan hanya memberikan kuliah selama 2 jam,” ucap Hana polos.
Muncul kerutan emosi pada dahi Yoshiki, namun pria itu tetap dalam wajah stoicnya, “terserah, yang penting aku sudah mendapatkan bibirmu.”
“C-cih,” Hana gagal menggoda Yoshiki lebih jauh lagi.
“Nanti malam aku ada makan malam bersama Fox dan beberapa petinggi lain. Kau harus ikut.”
“Eh?”
.
‘EEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHH!!!!???????’ Hana tidak bisa menahan teriakan dalam dirinya.
‘Apa… apaan ini?’ Hana terjebak.
Perempuan berambut pendek itu tengah duduk diantara meja bundar yang dikelilingi para istri sosialita. Dari samping kanan sampai samping kiri semuanya adalah istri dari sosok terkenal dan penting.
‘Uwaaa…. Lihat semua yang mereka kenakan…’ Hana tidak bisa menahan sweatdropnya. Para istri itu mengenakan perhiasan yang nampak mahal pada leher, pergelangan tangan, hingga jari mereka. Belum lagi kilauan dari pernak Pernik hiasan pada pakaian mereka.
‘Sial, sepertinya aku satu-satunya alien di sini.’
Mau bagaimanapun Hana sedikit banyak bersyukur datang dengan pakaian yang sudah disiapkan maid sehingga setidaknya ia merasa sedikit pantas.
“Lihat lihat itu The Winston Blue, astaga anda sangat beruntung sekali Fox-san,” ujar salah seorang wanita.
‘Ah, bahkan mereka berbicara dengan bahasa Inggris sekarang. Mati saja aku,’ batin Hana meraung-raung.
“Ini yang harganya hampir menyentuh 24 juta dollar itu kan?”
Hana menahan diri untuk tidak menyemburkan minumannya. 24 juta dollar kalau dijadikan yen… lebih dari 24 triliun yen!
“Astaga benar-benar beruntung anda bersama tuan Fox!”
“Cantik sekali!”
Para ibu-ibu muda itu nampak memuji berlian yang mengait jemari Mrs. Fox.
“Mrs. Kuroto benar?” Tiba-tiba suara itu tertuju pada Hana dan rasanya jantung Hana seolah berhenti mendengarnya.
“I-iya?” Jawab Hana kaku.
“Bagaimana dengan cincin pernikahan anda Mrs. Kuroto?” Wanita itu menatapnya—aneh.
‘Ah, mati aku.’
“A-ah, s-saya tidak tau banyak soal berlian, tapi… ada sesuatu kecil di tengah-tengahnya,” Hana dengan ragu melepaskan cincin pernikahannya, mengizinkan siapapun mengamati.
“Iya kecil juga ya…” para wanita itu memutar-mutar cincin pernikahan Hana.
“Tapi bentuknya cantik dan elegan.”
“Ini apa? Silver?”
“Sepertinya tidak sebanding dengan milik Mrs. Fox yang berliannya cukup besar dan terbuat dari emas murni?” Mereka mulai bergunjing.
Mrs. Fox dengan wajah congkaknya mulai tertawa meremehkan, “mungkin Mr. Kuroto memiliki selera tersendiri.”
“Apakah Mr. Kuroto cukup pelit?” Mereka terus bergunjing.
“Padahal ini untuk cincin pernikahan loh.”
Telinga Hana panas.
“Yah mau bagaimana lagi? Apa Mr. Kuroto merasa tidak nyaman dengan pernikahannya?”
“Anu!” Hana bangkit dari kursinya, “S-Saya tidak keberatan jika saya yang diejek. Tapi tolong jangan Yoshiki-kun!” Dengan kesal Hana berbicara dengan bahasa inggris yang belepotan.
“Konyol,” tiba-tiba suatu suara perempuan terdengar. Seketika seluruh pandangan terarah pada sesosok wanita elegan dengan dress putihnya tengah menyendiri menikmati minumannya.
“Berlian kecil itu disebut The Heart of Eternity, seharga 16 juta dollar. Lagipula itu bukan silver. Itu Platinum, harganya 30 kali lipat daripada emas karena langka. Belum biaya desain dan pembuatan pribadi sebagai komisi. Untuk satu cincin itu bisa menjapai 22 juta dollar.”
‘Eh?’ Hana membeku di tempatnya.
’22 Juta Dollar? Itu kalau dijadikan yen…. 2 Triliun Yen… eh? Jadi cincin yang beberapa hari lalu kubuang di waduk itu…. Eh? Eh? EEEEEEEEEEHHHHH???’ Hana berkeringat dingin sekarang.
Bisikan demi bisikan terdengar, tidak ada yang mampu menyangkal ucapan sang wanita lantaran sang wanita adalah istri pengusaha perhiasan terkenal.
“Yah, tidak heran untuk seorang istri Kuroto Yoshiki,” Fox berguman menahan rasa kesalnya.
“Benar indah sekali…”
“Cantik…”
Para istri yang daritadi hanya mengungkapkan ketidaksukaan mulai memuji entah tulus atau tidak.
Begitu cincin tersebut dikembalikan, Hana kembali menyematkan cincin tersebut pada jari manisnya. Kilauan biru permata kecil tersebut berpendar dengan indah memang.
’22 Juta Dollar…’ pikiran Hana tidak bisa berhenti memikirkan bertapa luar biasa mahalnya benda yang menempel pada jarinya tersebut.
Makan malam kali itu benar-benar membunuh Hana. Suasana nya bagaikan langit dan bumi. Hana benar-benar yakin tidak bisa bergaul dengan siapapun di meja itu. Mereka membicarakan hal-hal yang benar-benar Hana tidak mengerti. Produk kecantikan, fashion, semuanya tidak bisa Hana mengerti.
Tapi tak bisa Hana pungkiri, semua istri dari para petinggi sangatlah cantik. Hana bahkan tidak yakin jika mereka adalah ibu-ibu mengingat wajah mereka sangatlah mulus jauh dari keriput.
‘Astaga apa yang kulakukan di sini…’ Hana berguman pada dirinya sendiri sembari meneguk sebuah wine putih.
“Saya juga tidak bisa bergaul dengan mereka,” sebuah suara menginterupsi lamunan Hana.
Wanita cantik yang tadi menyebutkan harga cincinnya. Hana hanya bisa menatap konyol wanita yang ada di sampingnya.
“Nama saya Kusano Aya,” ujar sang wanita seolah menebak wajah konyol Hana.
Hana menundukkan kepalanya sekilas, “saya Hana Kuroto.”
“Saya tau. Mana mungkin saya tidak tau istri bos suami saya,” wanita itu tersenyum manis.
“Tadi terima kasih sudah membantu,” dengan konyol Hana menundukkan kepalanya lagi.
Wanita itu tertawa, tawa yang cukup elegan menurut Hana, “anda baik dan polos sekali. Sepertinya anda mirip dengan saya yang dulu.”
“Eh?”
“Umur saya masih 20 tahun loh.”
“EH— Sama,” Hana shock.
“Saya mantan sugar baby suami saya sejak usia 17 tahun. Saya hanya siswa miskin dari desa yang datang ke Tokyo untuk memband. Karena tanpa persiapan matang semuanya kacau balau. Saya bekerja di zona merah dan saya bertemu suami saya. Syukurlah bukan?” Wanita itu kembali tersenyum elegan.
Kepala Hana melayang. Dengan nama Kusano yang muncul di kepala Hana adalah sosok pria berusia 45 tahun, si pengusaha tambang.
“EEEEEHHH???” Hana kembali shock menyadari umur dan rupa Kusano Rintarou.