Kamis, 27 Mei 2021

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 63]

 CHAPTER 63: SPOILED HUSBAND

“A-Apa masih kurang?”

“Hn? Kurang?”

Sedikit mengalihkan wajahnya Hana berujar, “darahku, kemarin kan hanya dari rembesan luka saja. Jika itu masih kurang, Yoshiki-kun boleh mengambil lagi.”

Yoshiki terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum cukup lebar, “kau mengizinkanku meminum darahmu My Lady?”

“J-Jika masih kurang!”

“Hn… untuk memenuhi perjanjian darah, darahmu kemarin sudah sangat cukup. Namun untuk memuaskan dahagaku… tentu saja kemarin sangatlah kurang.”

Hana mengangguk, “kalau begitu, silahkan,” Hana sedikit mengangkat kepalanya untuk memperlihatkan lehernya dengan ragu.

“….” Yoshiki kembali terdiam beberapa saat menatap leher tan Hana yang tanpa pertahanan apapun.

Sudah berapa lama ia menunggu dan cukup menderita karena hal ini? Menunggu Hana tanpa berat hati mengizinkan dirinya meminum darahnya. 

“Umm? Yoshiki-kun?” Hana mengambilkan Yoshiki dari pikirannya.

Sebuah senyum lembut terpatri pada bibir pria itu, “Itadakimasu,” ujarnya sebelum menggores leher Hana dengan kuku jarinya hingga menciptakan luka tipis dan mengalirkan darah kental dari sana. Perlahan lidahnya  menyapu bersih setiap lelehan darah yang keluar.

Sementara rasa geli menjalar pada leher Hana, ruam merah perlahan menguasai wajahnya.

“Lcchh—”

Dan mau bagaimanapun suara yang Yoshiki hasilkan dari kegiatannya menimbulkan bunyi-bunyian yang terdengar sensitive bagi Hana.

“Uhm…” Tanpa sadar bibir Hana melenguh tipis.

“Terima kasih makanannya,” Yoshiki menarik diri dari leher Hana, dan beralih pada nakas untuk mengambil kotak P3K dan meneluarkan plester luka dari sana.

“Sudah?”

Yoshiki mengangguk dan menempelkan plester luka pada leher Hana, “jika kuteruskan kau akan terkena anemia.”

BRUK

Tiba-tiba saja pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Hana. Ditariknya selimut hingga menutupi bahu bidangnya. Kedua matanya terpejam sementara tangannya bergerak meraba-raba salah satu belahan dada perempuan berambut pendek itu dengan lembut.

“My Lady… dadamu lembut,” guman pria itu.

Ruam merah seketika menyebar pada wajah Hana, “a-apa-apaan Yoshiki-kun!?”

“Lately I’m so missed to cuddle with you. I miss how soft your breasts are.”

“M-memangnya selembut itu?”

“Hn…”

“P-padahal dadaku tidak besar.”

“Lalu?”

“T-tidak sebesar dada perempuan-perempuan yang pernah Yoshiki-kun tiduri.”

Seketika kepala pria itu terangkat, menatap wajah Hana dengan pandangan kesal, bukan pandangan datar seperti yang biasa ia berikan.

“Ada apa?” Tanya Hana ragu.

“Hn… tidak, aku hanya kesal.”

Hana tau pria itu sedang kesal tanpa diberi tau sekalipun, “kenapa sampai kesal?”

“Aku memang pernah tidur bersama banyak perempuan, namun sekarang hanya ada kau My Lady. Aku milikmu, dan hanya milikmu. Kau mengerti?”

TOK TOK

Suara ketukan pintu menginterupsi keduanya.

Sebelum merespon, “masuk,” pria itu sempat menghela nafas berat.

Pintu berdaun dua itu terbuka, menampakkan sesosok perempuan berambut pendek rapi dengan kemeja dan vestnya, “Selamat pagi, My Lord. Pukul 10 pagi ini anda memiliki jadwal kuliah tamu untuk Sir William Dunn School of Pathology, Universitas Oxford. Lalu pukul 7 malam untuk makan malam bersama Sir. Fox Bingham pemilik fondasi amal Bingham.”

Tangan Yoshiki bergerak mengisyaratkan sang perempuan untuk segera enyah. Mematuhi apa yang diperintahkan sang tuan, perempuan itu menundukkan kepala hormat dan kembali menutup pintu untuk undur diri.

“Itu… siapa?” Hana tidak familiar dengan wajah perempuan itu.

“Sekretaris.”

“Sekretaris baru?”

“Hn…” Yoshiki kembali menjawab malas, sementara ia meletakkan kepalanya pada dada Hana.

“Memangnya Tomuro-kun kemana?”

“New Delhi. Lagipula Tomuro bukan sekretarisku.”

“Eh? Lalu siapa selama ini?”

“Entahlah. Hazel yang terkadang membantuku, namun sekarang dia harus menyelidiki Exorcist. Lagipula sebelumnya aku tidak terlalu turun tangan pada pekerjaanku, aku selalu menggunakan orang lain. Baru sekarang aku kembali ingin bekerja secara langsung lagi.”

“Kenapa begitu?”

“Kenapa?” Yoshiki menaikkan wajahnya menatap Hana, “tentu saja untuk mengisi kekosongan saat kau meninggalkanku.”

“Eh?”

Yoshiki kemabli meletakan kepalanya pada dada Hana, “sekarang kau sudah kembali, aku tidak ingin melakukan pekerjaanku lagi.”

Pria itu meraih pinggang Hana dan mendekapnya erat, “aku ingin seperti ini saja,” gumanan itu terdengar setelah kepala sang pria digesekkan berkali-kali pada dada Hana.

Hana menggelengkan kepalanya tidak percaya. Kuroto Yoshiki yang selama ini ia lihat adalah sosok tangguh, absolut, dingin, tegas. Tapi apa yang ia lihat sekarang? Tidak lebih dari sesosok pria manja, rapuh, lemah, dan…. Menggemaskan. 

“Y-Yoshiki-kun, kamu harus bekerja. Apa itu tadi? Aku mendengar tentang Univeristas Oxford?”

“Hn, aku harus memberikan kuliah mengenai Vulvar Pathology,” Yoshiki menjawab dengan tetap mengubur kepalanya pada dada Hana, membuat suaranya agak tidak terlalu jelas terdengar.

“Umm, kedokteran?”

Kepala pria itu bergerak ke atas ke bawah membenarkan.

“Umm, aku tidak tau itu apa, tapi sepertinya keren, boleh aku lihat Yoshiki-kun saat memberikan kuliah?”

Seketika tubuh dan kepala Yoshiki terangkat, “tentu kau boleh. Tunggu, aku akan bersiap-siap,” dan pria itu bergegas menuju kamar mandi untuk membenahi dirinya.

Sapphire Hana hanya mengikuti punggung pria itu sebelum akhirnya menghilang dari balik kamar mandi, ia tersenyum tipis, “dasar Yoshiki-kun.”


.


“… cause cancer the first one high risk HPV strains. Because it caused your cell cycle to rev up cause cells to grow more and they can mutate more, so they can be from HPV which is the most common or we also talked about things like lichen sclerosis like a simplex Krakus chronic inflammation.”

‘Uwaaah… keren sekali…’ batin Hana dengan ekspresi konyolnya menatap sang suami yang tengah melakukan video conference.

“Professor I have a question.”

“Sure. Go on,” respon Yoshiki.

‘Uwaaah, bahkan dipanggil professor. Yah, memang professor sih,’ lagi-lagi Hana menatap Yoshiki dengan pandangan konyol.

Hana menyesap sebuah the dengan madu yang disajikan oleh maid bersama dengan potongan brownies penuh krim sementara sapphirenya sama sekali tak teralihkan pada sang suami yang masih berbicara dalam bahasa inggris. Hana tidak terlalu memahami hal yang diucapkan sang suami sebenarnya.

‘Apa sih aku ini, sok-sokan sekali ingin mendengar padahal tidak paham apapun. Yah, materi kuliahku sendiri saja terkadang aku tidak paham, apalagi materi perkuliahan kedokteran, dengan bahasa inggris pula,’ Hana merutuki dirinya sendiri.

“…. Alright thank you for your attendance, it’s my pleasure to teach you all about pathology,” dengan kalimatnya tersebut, Yoshiki bangkit dari kursinya. Kuliahnya telah berakhir.

“Sudah selesai?” Tanpa Hana sadari, waktu 2 jam telah terlewati dengan cepat.

“Hn… bagaimana kuliahku menurutmu?” Kuroto Yoshiki berjalan ke arahnya.

“Eh? Yah..” Pandangan Hana menghindari pandangan Yoshiki, “aku tidak paham apapun sejujurnya.”

Yoshiki tertawa renyah begitu meletakkan pantatnya pada kursi di hadapan Hana, “it’s hard for you to understand my lecture?” Kali ini Yoshiki sengaja menggunakan logat British yang benar-benar susah didengar.

“A-apa?” Hana menatap konyol Yoshiki.

Lagi, pria itu tertawa renyah. Puas.

“…. Yoshiki-kun sedang menggodaku?”

“Apa kuliahku sangat susah dimengerti untukmu?” Pada akhirnya pria itu mengulangi kalimatnya dengan bahasa Jepang.

“Sebenarnya mungkin dari faktor bahasa yang membuatku tidak mengerti,” jawab Hana dan disusul dengan penyuapan sepotong brownies pada mulutnya.

Chu~

Kedua mata Hana terbelalak seketika. Dalam hitungan detik bahkan sebelum ia sempat mengunyah brownies dalam mulutnya, dagunya sudah ditarik dan bibirnya dikecup sembarangan.

“A-apa?” Ruam merah menguasai wajah Hana sesudah Yoshiki kembali melepaskan dagu Hana.

“Bibirmu manis,” tak menjawab pertanyaan sang istri, Yoshiki malah sibuk mengomentari, “hn, rasa madu dan brownies.”

“Tentu saja aku kan baru memakannya!” geram Hana, “hei kamu belum menjawab pertanyaanku!”

“Hn, pertanyaan yang?” Pria itu merespon santai sembari meletakan pantatnya di samping Hana.

Wajah Hana kembali meledak merah, “kenapa Yoshiki-kun tiba-tiba menciumku!?”

“Tidak boleh?” Yoshiki dengan santai membalik pertanyaan Hana.

“E-eh, boleh sih,” jawab Hana gagap.

“Energy charging.” Jawab Yoshiki cepat.

“P-pengisian energi? Eh? Energi sihir?” Hana memiringkan kepalanya konyol.

Onyx Yoshiki melirik Hana kesal, “Hn, itu hanya bonus. Aku lelah bekerja tadi. Maka aku butuh pengisian energi darimu.”

“Tapi kan hanya memberikan kuliah selama 2 jam,” ucap Hana polos.

Muncul kerutan emosi pada dahi Yoshiki, namun pria itu tetap dalam wajah stoicnya, “terserah, yang penting aku sudah mendapatkan bibirmu.”

“C-cih,” Hana gagal menggoda Yoshiki lebih jauh lagi.

“Nanti malam aku ada makan malam bersama Fox dan beberapa petinggi lain. Kau harus ikut.”

“Eh?”


.


‘EEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHH!!!!???????’ Hana tidak bisa menahan teriakan dalam dirinya.

‘Apa… apaan ini?’ Hana terjebak.

Perempuan berambut pendek itu tengah duduk diantara meja bundar yang dikelilingi para istri sosialita. Dari samping kanan sampai samping kiri semuanya adalah istri dari sosok terkenal dan penting.

‘Uwaaa…. Lihat semua yang mereka kenakan…’ Hana tidak bisa menahan sweatdropnya. Para istri itu mengenakan perhiasan yang nampak mahal pada leher, pergelangan tangan, hingga jari mereka. Belum lagi kilauan dari pernak Pernik hiasan pada pakaian mereka.

‘Sial, sepertinya aku satu-satunya alien di sini.’

Mau bagaimanapun Hana sedikit banyak bersyukur datang dengan pakaian yang sudah disiapkan maid sehingga setidaknya ia merasa sedikit pantas.

“Lihat lihat itu The Winston Blue,  astaga anda sangat beruntung sekali Fox-san,” ujar salah seorang wanita.

‘Ah, bahkan mereka berbicara dengan bahasa Inggris sekarang. Mati saja aku,’ batin Hana meraung-raung.

“Ini yang harganya hampir menyentuh 24 juta dollar itu kan?”

Hana menahan diri untuk tidak menyemburkan minumannya. 24 juta dollar kalau dijadikan yen… lebih dari 24 triliun yen! 

“Astaga benar-benar beruntung anda bersama tuan Fox!”

“Cantik sekali!”

Para ibu-ibu muda itu nampak memuji berlian yang mengait jemari Mrs. Fox.

“Mrs. Kuroto benar?” Tiba-tiba suara itu tertuju pada Hana dan rasanya jantung Hana seolah berhenti mendengarnya.

“I-iya?” Jawab Hana kaku.

“Bagaimana dengan cincin pernikahan anda Mrs. Kuroto?” Wanita itu menatapnya—aneh.

‘Ah, mati aku.’

“A-ah, s-saya tidak tau banyak soal berlian, tapi… ada sesuatu kecil di tengah-tengahnya,” Hana dengan ragu melepaskan cincin pernikahannya, mengizinkan siapapun mengamati.

“Iya kecil juga ya…” para wanita itu memutar-mutar cincin pernikahan Hana.

“Tapi bentuknya cantik dan elegan.”

“Ini apa? Silver?”

“Sepertinya tidak sebanding dengan milik Mrs. Fox yang berliannya cukup besar dan terbuat dari emas murni?” Mereka mulai bergunjing.

Mrs. Fox dengan wajah congkaknya mulai tertawa meremehkan, “mungkin Mr. Kuroto memiliki selera tersendiri.”

“Apakah Mr. Kuroto cukup pelit?” Mereka terus bergunjing.

“Padahal ini untuk cincin pernikahan loh.”

Telinga Hana panas.

“Yah mau bagaimana lagi? Apa Mr. Kuroto merasa tidak nyaman dengan pernikahannya?”

“Anu!” Hana bangkit dari kursinya, “S-Saya tidak keberatan jika saya yang diejek. Tapi tolong jangan Yoshiki-kun!” Dengan kesal Hana berbicara dengan bahasa inggris yang belepotan.

“Konyol,” tiba-tiba suatu suara perempuan terdengar. Seketika seluruh pandangan terarah pada sesosok wanita elegan dengan dress putihnya tengah menyendiri menikmati minumannya.

“Berlian kecil itu disebut The Heart of Eternity, seharga 16 juta dollar. Lagipula itu bukan silver. Itu Platinum, harganya 30 kali lipat daripada emas karena langka. Belum biaya desain dan pembuatan pribadi sebagai komisi. Untuk satu cincin itu bisa menjapai 22 juta dollar.”

‘Eh?’ Hana membeku di tempatnya.

’22 Juta Dollar? Itu kalau dijadikan yen…. 2 Triliun Yen… eh? Jadi cincin yang beberapa hari lalu kubuang di waduk itu…. Eh? Eh? EEEEEEEEEEHHHHH???’ Hana berkeringat dingin sekarang.

Bisikan demi bisikan terdengar, tidak ada yang mampu menyangkal ucapan sang wanita lantaran sang wanita adalah istri pengusaha perhiasan terkenal.

“Yah, tidak heran untuk seorang istri Kuroto Yoshiki,” Fox berguman menahan rasa kesalnya.

“Benar indah sekali…”

“Cantik…”

Para istri yang daritadi hanya mengungkapkan ketidaksukaan mulai memuji entah tulus atau tidak.

Begitu cincin tersebut dikembalikan, Hana kembali menyematkan cincin tersebut pada jari manisnya. Kilauan biru permata kecil tersebut berpendar dengan indah memang.

’22 Juta Dollar…’ pikiran Hana tidak bisa berhenti memikirkan bertapa luar biasa mahalnya benda yang menempel pada jarinya tersebut.

Makan malam kali itu benar-benar membunuh Hana. Suasana nya bagaikan langit dan bumi. Hana benar-benar yakin tidak bisa bergaul dengan siapapun di meja itu. Mereka membicarakan hal-hal yang benar-benar Hana tidak mengerti. Produk kecantikan, fashion, semuanya tidak bisa Hana mengerti.

Tapi tak bisa Hana pungkiri, semua istri dari para petinggi sangatlah cantik. Hana bahkan tidak yakin jika mereka adalah ibu-ibu mengingat wajah mereka sangatlah mulus jauh dari keriput.

‘Astaga apa yang kulakukan di sini…’ Hana berguman pada dirinya sendiri sembari meneguk sebuah wine putih.

“Saya juga tidak bisa bergaul dengan mereka,” sebuah suara menginterupsi lamunan Hana.

Wanita cantik yang tadi menyebutkan harga cincinnya. Hana hanya bisa menatap konyol wanita yang ada di sampingnya.

“Nama saya Kusano Aya,” ujar sang wanita seolah menebak wajah konyol Hana.

Hana menundukkan kepalanya sekilas, “saya Hana Kuroto.”

“Saya tau. Mana mungkin saya tidak tau istri bos suami saya,” wanita itu tersenyum manis.

“Tadi terima kasih sudah membantu,” dengan konyol Hana menundukkan kepalanya lagi.

Wanita itu tertawa, tawa yang cukup elegan menurut Hana, “anda baik dan polos sekali. Sepertinya anda mirip dengan saya yang dulu.”

“Eh?”

“Umur saya masih 20 tahun loh.”

“EH— Sama,” Hana shock.

“Saya mantan sugar baby suami saya sejak usia 17 tahun. Saya hanya siswa miskin dari desa yang datang ke Tokyo untuk memband. Karena tanpa persiapan matang semuanya kacau balau. Saya bekerja di zona merah dan saya bertemu suami saya. Syukurlah bukan?” Wanita itu kembali tersenyum elegan.

Kepala Hana melayang. Dengan nama Kusano yang muncul di kepala Hana adalah sosok pria berusia 45 tahun, si pengusaha tambang.

“EEEEEHHH???” Hana kembali shock menyadari umur dan rupa Kusano Rintarou.

Read More ->>

Rabu, 05 Mei 2021

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 62]

 CHAPTER 62: TRIGGERING WOUND

“Kenapa? Masak bersama untuk makan malam adalah hal normal yang biasa dilakukan pasangan bukan?”

“Ya memang sih,” Hana semakin menduga jika apa yang dilakukan pria itu dikarenakan insiden kaburnya dirinya dengan Keigo Yasumoto.

“Lihat lihat cowok itu. Yang pakai mantel itu. Dia cakep banget.”

“Eh itu yang di sampingnya pasti pacarnya.”

“Pacarnya? Serius? Penampilan keduanya bagaikan langit dan bumi kau tahu. Mana mungkin cowok seganteng itu mau pacaran dengan perempuan kusut seperti itu.”

“Tapi dia pakai cincin loh.”

“Yang perempuan tidak, berarti memang bukan pacarnya.”

Semuanya jelas terdengar bagi Hana maupun Yoshiki. Dua orang perempuan di belakang mereka tengah menbicarakan mereka.

“….” Hana hanya terdiam mendengarnya.

“Permisi, apakah kalian tahu dimana tempat Pare?”

Seketika Hana mengangkat kepalanya begitu menyadari jika Yoshiki mendekati kedua perempuan itu.

“Eh? Ah, Um… dimana ya tadi?”

“K-Kalau tidak salah di dekat deretan tomat y-ya?”

Yoshiki hanya menatap datar keduanya yang salah tingkah di hadapannya.

“K-Kakak suka pare ya?”

“Hn?” Yoshiki menaikkan sebelah alisnya, memberikan tatapan penuh seduktif dan mendekatkan wajahnya, memancing keduanya ikut mendekatkan wajah, “benar, aku menyukai memasukkan pare ke dalam mulut kalian yang pahit itu. Kalian kira kalian lebih baik daripada istriku? Kalian tidak lebih dari perempuan penggoda. Lebih baik kalian fokus belajar dan menjadi pintar karena kalian sangat terlihat bodoh di hadapanku,” bisiknya.

“!!!!???” Keduanya berjingat ke belakang seketika.

“C-Cih, apa sih! Mentang-mentang ganteng!” Gerutu mereka sambil berlari pergi.

Sebuah seringai tipis terbentuk pada bibir Yoshiki.

“Mereka kenapa?” Hana muncul dari arah belakang.

“Hn? Pergi untuk membuat diri mereka lebih pantas mungkin?” Jawab Yoshiki acuh.


.


Suara pisau yang memotong motong wortel terdengar menggema di dapur mansion yang luar biasa luas dan lengkap namun hanya dihuni oleh Hana dan dua orang koki.

GRAB

Sebuah pelukan lantas menghentikan aktivitas Hana. Membuat perempuan berambut pendek itu kaget.

“Ada yang bisa dibantu?” Suara berat Yoshiki mengalun pada daun telinganya.

“Y-Yoshiki-kun!” Tak bisa dipungkiri wajah Hana memerah.

“Jadi, apa yang bisa kubantu?” Yoshiki kembali mengulang pertanyaannya, kali ini wajahnya menatap lekat wajah Hana.

“E-Eh… a-anu bisa tolong bersihkan dagingnya lalu dipotong-potong?” Hana gelagapan.

“Siap laksanakan,” dengan enggan Yoshiki menarik kedua tangannya dari tubuh Hana dan beralih pada daging yang dikemas dalam plastic wrap.

Sementara tangan Hana terus bergerak memotong wortel, Sapphirenya bergerak mengikuti pergerakan yang suami yang seolah seperti telah terbiasa memotong daging dengan rapi dan cantik.

“Ternyata Yoshiki-kun jago sekali ya. Setelah itu bisa tolong potong kentangnya? Aku akan menyiapkan nasi.”

“Tentu saja. Aku sudah hidup beratus-ratus tahun My Lady. Akan sangat menyedihkan jika aku tidak bisa memasak.”

“Eh begitu—Ouch,” darah bercucuran dari jari telunjuk Hana yang tergores pisau.

GREP.

Tangan tangkas Yoshiki tangkas meraih tangan Hana. Detik berikutnya Hana sudah tidak bisa mencegah apa yang terjadi. Yoshiki membawa masuk jarinya ke dalam mulut. Menghisap darah yang mengalir dengan tekanan rendah itu dengan mata terpejam seolah menikmati setiap lelehannya.

“….” Hana hanya bisa terdiam membeku dengan wajahnya yang setengah memerah.

“A-anu… Y-Yoshiki-kun?”

“!!” Seketika kedua mata Yoshiki terbuka dan melepaskan jari Hana dari mulutnya.

“…. Maaf.”

Hana tidak bisa mengatakan apapun, keduanya terjebak dalam situasi aneh.

“Ayo kita balut lukamu sebelum infeksi. Tunggu akan kuambilkan P3K,” degan ekspresi wajah yang tak bisa Hana baca, Yoshiki meninggalkan dapur.

“U-um,” Hana hanya bisa mengangguk ambigu, menatap punggung Yoshiki menghilang dari lorong dapur.

Jemarinya memijat jari telunjuknya yang tergores namun sudah tidak mengalirkan darah itu lagi. Kepalanya kembali terisi oleh perasaan bagaimana saat darahnya dihisap perlahan dalam lembabnya mulut Yoshiki.

Tanpa ia sadari, jantungnya berdebar kencang.


.


“Silahkan My Lord, plester luka,” seorang maid menyerahkan sebuah plester luka dari kotak P3K.

“…” Dalam diam Yoshiki menerima plester tersebut.

Deg Deg.

Jantungnya berdebar kencang begitu ingatan bagaimana ia menghisap luka Hana, lewat tanpa ia minta.

‘Sial,’ rutuknya dalam hati. Bagaimana bisa ia kehilangan kendali hanya karena mencium bau darah Hana? Bagaimana jika Hana tidak menyukai ini dan kembali meninggalkannya?

‘Tapi darahnya benar-benar manis, dan dengan begini…’ Ia menatap tangannya yang merasa kembali terpenuhi energi sihir, ‘energiku kembali terisi.’

Yoshiki menghelakan nafasnya berat, ia menyandarkan tubuhnya pada dinding, ‘apa yang harus kulakukan jika dia kembali meninggalkanku…’


.


Aktivitas Hana meletakan sepiring nasi dan kare pada meja makan terhenti begitu melihat Kuroto Yoshiki memasuki ruang makan dengan gontai dan kepala tertunduk.

“Mencari P3K di planet Mars?” Tanya Hana, “ayo duduk, Karenya sudah matang.”

Dengan enggan Yoshiki melangkah menuju meja makan, meraih jemari Hana yang terluka dan membalutkan plester di sana.

“Umm, terima kasih.”

Yoshiki hanya mengangguk ringan sebelum meletakan pantatnya pada kursi, “selamat makan,” ia berguman lesu dan menyantap karenya.

“… Bagaimana?” Sementara Hana hanya bisa berharap-harap cemas menatap Yoshiki.

“Hn,” Yoshiki mengagguk, “ini enak.”

“Syukurlah! Yoshiki-kun tadi pergi mengambil P3K lama sekali, jadi aku tidak sempat menanyakan bagaimana rasa yang sesuai dengan keinginan Yoshiki-kun.”

“Hn, tidak apa-apa. Ini enak,” Yoshiki menjawab datar.

Menyadari sifat Yoshiki yang mendadak berubah, Hana hanya bisa berusaha mengabaikannya dan berlaih makan.

Suasana hening mengisi udara ruang makan yang begitu luas namun hanya diisi oleh 2 manusia saling berdiam diri.

“A-Ano—”

“Hei—”

Keduanya kembali terdiam setelah tanpa sadar saling berbicara di waktu bersamaan.

“Yoshiki-kun dulu—”

“Kau saja—”

Keduanya kembali terdiam setelah kedua kalinya berbicara di timing yang bersamaan.

“Ah, Yoshiki-kun boleh duluan,” ujar Hana ragu.

Yoshiki dengan ragu menelan wortel yang telah ia kunyah, sebelum akhirnya berujar, “maaf, yang tadi, aku tidak sengaja.”

“Eh?”

“Darahmu memiliki bau yang benar-benar menarikku, apalagi ini sudah beberapa hari sejak hari itu, aku sudah tidak bisa menahan diriku.”

“A-ah begitu, aku tidak apa-apa kok.”

Yoshiki mengangkat kepalanya seketika, menatap tidak percaya pada perempuan yang duduk di sisi meja makan.

“Kau… tidak marah?”

“Itu hanya darah karena luka lagipula.”

Tidak bisa membohongi dirinya sendiri, Yoshiki menghela nafas lega tanpa sadar, “jadi, kau mau bicara apa?”

Hana menaguk air putih dari gelas, “ah tidak, tidak jadi,” ia menggeleng kuat, “nah ayo dimakan lagi karenya.”

Yoshiki tersenyum simpul, “tentu. Ini sangat enak My Lady, berikutnya aku berharap bisa lebih sering merasakan masakanmu.”

“Eh, masakanku tidak seenak koki di sini.”

“Kalau kau yang memasak rasanya berbeda.”

“Kenapa?” Hana memiringkan kepalanya tidak mengerti.

“Karena kau istriku tentu saja.”

Seketika wajah Hana meledak memerah.


.


Hana mencelupkan kakinya perlahan pada kolam renang. Udara dingin malam musim panas menghembus tubuhnya. Suasana kolam benar-benar sepi dan senyam, hanya terdengar suara gemericik air.

BYUUUR

Seluruh tubuhnya tercelup sempurna di dalam kolam. Tubuhnya yang hanya terbalut bikini hitam bermodel sport meluncur dari ujung kolam ke ujung yang lain.

Tubuhnya seolah terasa ringan di dalam air. Setelah beberapa hari di kurung di penjara bawah tanah, akhirnya Hana merasakan banyak kebebasan hari ini. Ia tidak menyangka permintaannya untuk berenang akan disetuji Yoshiki, terlebih seketika pria itu tidak mengizinkan semua butler untuk mendekati area kolam renang. Pria itu memang selalu bertindak berlebihan dengan keposesifannya.

SPLASH

Tubuhnya kembali muncul dipermukaan.

“Kau menikmati berenang malammu?”

Terkejut, seketika Hana menolehkan kepala ke sumber suara yang ada di belakangnya. Di sata telah duduk Kuroto Yoshiki di sebuah kursi santai dengan hanya menganakan celana renangnya. Mengekspos seluruh otot dan keindahan yang selama ini terbalut dalam setelan jas yang merupakan pakaian favoritnya.

“Y-Yoshiki-kun.”

Pria itu tersenyum misterius dan beranjak menceburkan dirinya ke dalam kolam. Membuat seluruh tubuhnya basah sepenuhnya oleh air.

“K-kenapa?”

“Aku juga mau berenang,” jawabnya datar.

“O-Oh..”

“Tidak. Aku berbohong.”

“Eh?”

Kejadiannya terjadi begitu cepat. Setelah Hana sadar, tubuhnya telah terhimpit oleh tepian kolam dan tubuh atas Yoshiki yang telanjang dan demi apapun sangat sexy.

“My Lady…” Pria itu berguman seduktif dan benar-benar terdengar sexy bagi telinga Hana.

“Y-Ya?”

“Mau kah kau berjanji untuk tidak meninggalkanku lagi?”

Hana mendongkak seketika, ia mendapati wajah Kuroto Yoshiki dengan rambutnya yang basah tengah menatapnya sedih.

Situasi ini benar-benar rumit bagi Hana. Pria di hadapannya sudah berbuat hal buruk pada Keigo Yasumoto, yang notabene sosok yang paling penting saat kelam pada masa kecilnya. Terlebih, pria ini membunuh kedua orang tuanya, dan menyembunyikan banyak fakta. Entah berapa banyak rahasia lagi yang ada di balik punggung sang raja ini.

Namun Hana bisa tau jika pandangan pria itu benar-benar sedih sekarang. Kedua alisnya tertaut ke atas walaupun pandangannya hanya menatap datar.

“My Lady?”

“Yoshiki-kun sebenarnya apa lagi rahasia yang kamu miliki?” Hana tidak bisa berjanji. Ia masih cukup takut mengentahui kenyataan-kenyataan lain yang akan terungkap.

“Hn?”

Hana menundukkan kepalanya, “aku hanya takut, aku tidak siap menerima kenyataan-kenyataan lain. Yoshiki-kun adalah Lucifer yang sudah hidup sangat lama, banyak hal yang sudah dilalui Yoshiki-kun tanpa aku mengetahuinya. Aku hanya… takut…”

Tangan Yoshiki meraih dagu perempuan berambut hitam di hadapannya, sedikit memaksa wajah Hana untuk menemui wajahnya.

Chu

Sebuah ciuman diberikan.

“Y-Yoshiki-kun,” Hana berusaha melepasan diri dari ciuman.

Kecup.

Yoshiki kembali memaksakan ciumannya.

“Setiap masalah yang timbul karena apa yang telah terjadi, aku akan berusaha mengatasinya, karena itu… jangan pernah meninggalkanku lagi,” pria itu berujar sendu sebelum akhirnya memberikan rangsangan pada leher Hana.

“Hngg—” Hanya desahan yang bisa keluar dari bibir Hana.

“…!” Wajah Hana memerah seketika begitu menyadari sesuatu mengusap pahanya. Sesuatu yang keras dan tegang.

Beberapa kecupan terus menerjang leher dan turun hingga pada dada Hana.

“Hngg—Yoshiki-kun..” Hana berusaha mendorong tubuh Yoshiki.

Tak mengindahkan, Yoshiki semakin menekan tubuh Hana pada tepian kolam dan mengangkat salah satu paha Hana.

“U-Uh…” Hana bisa merasakan Yoshiki menyibakkan bikininya dan mengusap-usapkan kejantanannya pada clitorisnya.

“Ada apa My Lady? Nafasmu memberat, tubuhmu sedikit menegang,” pria itu berbisik sexy pada telinganya.

“K-Karena Yoshiki-kun mengusap-usapkannya ah…”

“Hn, kalau begitu apa yang harus kulakukan My Lady?”

Hana yang semakin terhimpit terpaksa mengalungkan kedua tangannya pada leher Yoshiki dan menyandarkan kepalanya pada pundak Yoshiki.

“My Lady?”

Bibir Hana terbuka beberapa saat, bergerak namun tak mengatakan sesuatu, “Ungh…” sementara kejanjatan Yoshiki semakin merangsangnya di bawah, “…. M-masukkan…”

Sebuah seringai tercetak jelas pada bibir pria itu, “as you wish, My Lady,” bisik pria itu sexy.

“Ahng!” rintih Hana tertahan begitu sesuatu yang keras itu benar-benar memasuki miliknya.

“Sakit?” Tanya pria itu lembut.

Oh Hana benar-benar terkejut. Ia sudah melupakan bagaimana pria itu bisa selembut ini.

“T-tidak,” jawab Hana cepat.

“Hn, kalau begitu kugerakkan,” pria itu kembali berujar lembut sebelum akhirnya mulai memompa tubuh Hana.

Bunyi cipratan air yang tercipta saat kedua tubuh itu menyatu menambah kesan tersendiri.

“U-uhn…” Wajah Hana memerah menyadari betapa miliknya di bawah begitu terasa nikmat oleh setiap genjotan sang suami.

“Kau menyukainya My Lady?”

Pertanyaan Yoshiki seolah mengajaknya kehilangan kewarasan, ia mengangguk ringan.

“Kalau begitu desahkan namaku.”

Tidak ada protes, “Y-Yoshiki-kun… nghh…” Hana mendesahkan nama pria itu saat tubuhnya menikmati setiap hentakan.

“Hnhh…” Sementra pria yang ia desahkan menghembuskan nafas berat, tubuh pria itu ikut merespon.

“Mnghh—” Pergerakan Yoshiki semakin di luar kewarasan Hana. Suara kecipuk air seolah menjadi pengiring dalam permainan keduanya.

“My Lady hhhah… kau milikku… kau hanya boleh melihatku… haah… jangan pergi dari sisiku… tetaplah bersamaku… haah…” pria itu meracau di tengah pergerakkan panasnya.

Hana bisa merasakan, di bawah sana, milik sang pria mulai berkedut.

“Y-Yoshiki-kun… a-aku… Ahnnn—” tangan Hana memeluk erat leher sang pria membuat tubuhnya semakin menenggelamkan milik Yoshiki. Bersamaan dengan orgasmennya, Yoshiki melepaskan gumpalan putihnya ke dalam rahim Hana.

“A-Aaah…” Tubuh Hana bergetar. Ia baru saja merasakan orgasme yang luar biasa memabukkan.

“Y-Yoshiki-kun bodoh… kita di kolam renang astaga…” Masih dalam kondisi memeluk dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami Hana menggerutu dengan wajahnya yang memerah.

Pria itu terkekeh pelan, “bukankah kau sendiri yang meminta?”

“Tapi gara-gara Yoshiki-kun! Hungg!”

“Haha,” pria itu kembali terkekeh.

“My Lady?”

“Humm?”

“Jangan pernah meninggalkanku lagi.”

Hana kembali terdiam. Suaminya itu sudah mengatakan hal sejenis berkali-kali. Seolah hal itu menjadi masalah utama dalam kehidupannya. Membuat perempuan berambut pendek itu merasa bersalah telah mengambil tindakan untuk meninggalkan sosok dalam pelukannya.


.


Suara kicauan burung bersamaan dengan cahaya matahari yang menembus kaca membuat kelopak mata Hana perlahan mengerjap hingga akhirnya terbuka, “!!!!” dan melebar karena sedikit kaget melihat wajah Kuroto Yoshiki yang tersenyum tipis.

“K-Kenapa tersenyum begitu?” Wajah Hana mulai memerah.

“Aku senang.”

“S-Senang?”

“Hn, My Lady ketika kau pergi, aku sama sekali tidak berminat kembali ke kamar setelah merasakan bangun pagi tanpa adanya keberadaanmu. Setelah itu aku lebih memilih beristirahat di kantor. Lehernku jadi cepat lelah akhir-akhir ini karena istirahat di tempat yang tidak seharusnya. Jadi sekarang aku senang. Aku tidak perlu istirahat di kantor lagi.”

Ruam merah semakin menebal pada pipi Hana, “m-memangnya sampai seperti itu?”

“Hn?” Yoshiki menaikkan alisnya sejenak, sebelum akhirnya pria itu bangkit dan mendekatkan wajahnya pada wajah Hana, “sampai seperti itu,” pria itu menatapnya lekat, sebelum akhirnya mengecup bibirnya dan berujar, “selamat pagi My Lady.”

Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.