CHAPTER 62: TRIGGERING WOUND
“Kenapa? Masak bersama untuk makan malam adalah hal normal yang biasa dilakukan pasangan bukan?”
“Ya memang sih,” Hana semakin menduga jika apa yang dilakukan pria itu dikarenakan insiden kaburnya dirinya dengan Keigo Yasumoto.
“Lihat lihat cowok itu. Yang pakai mantel itu. Dia cakep banget.”
“Eh itu yang di sampingnya pasti pacarnya.”
“Pacarnya? Serius? Penampilan keduanya bagaikan langit dan bumi kau tahu. Mana mungkin cowok seganteng itu mau pacaran dengan perempuan kusut seperti itu.”
“Tapi dia pakai cincin loh.”
“Yang perempuan tidak, berarti memang bukan pacarnya.”
Semuanya jelas terdengar bagi Hana maupun Yoshiki. Dua orang perempuan di belakang mereka tengah menbicarakan mereka.
“….” Hana hanya terdiam mendengarnya.
“Permisi, apakah kalian tahu dimana tempat Pare?”
Seketika Hana mengangkat kepalanya begitu menyadari jika Yoshiki mendekati kedua perempuan itu.
“Eh? Ah, Um… dimana ya tadi?”
“K-Kalau tidak salah di dekat deretan tomat y-ya?”
Yoshiki hanya menatap datar keduanya yang salah tingkah di hadapannya.
“K-Kakak suka pare ya?”
“Hn?” Yoshiki menaikkan sebelah alisnya, memberikan tatapan penuh seduktif dan mendekatkan wajahnya, memancing keduanya ikut mendekatkan wajah, “benar, aku menyukai memasukkan pare ke dalam mulut kalian yang pahit itu. Kalian kira kalian lebih baik daripada istriku? Kalian tidak lebih dari perempuan penggoda. Lebih baik kalian fokus belajar dan menjadi pintar karena kalian sangat terlihat bodoh di hadapanku,” bisiknya.
“!!!!???” Keduanya berjingat ke belakang seketika.
“C-Cih, apa sih! Mentang-mentang ganteng!” Gerutu mereka sambil berlari pergi.
Sebuah seringai tipis terbentuk pada bibir Yoshiki.
“Mereka kenapa?” Hana muncul dari arah belakang.
“Hn? Pergi untuk membuat diri mereka lebih pantas mungkin?” Jawab Yoshiki acuh.
.
Suara pisau yang memotong motong wortel terdengar menggema di dapur mansion yang luar biasa luas dan lengkap namun hanya dihuni oleh Hana dan dua orang koki.
GRAB
Sebuah pelukan lantas menghentikan aktivitas Hana. Membuat perempuan berambut pendek itu kaget.
“Ada yang bisa dibantu?” Suara berat Yoshiki mengalun pada daun telinganya.
“Y-Yoshiki-kun!” Tak bisa dipungkiri wajah Hana memerah.
“Jadi, apa yang bisa kubantu?” Yoshiki kembali mengulang pertanyaannya, kali ini wajahnya menatap lekat wajah Hana.
“E-Eh… a-anu bisa tolong bersihkan dagingnya lalu dipotong-potong?” Hana gelagapan.
“Siap laksanakan,” dengan enggan Yoshiki menarik kedua tangannya dari tubuh Hana dan beralih pada daging yang dikemas dalam plastic wrap.
Sementara tangan Hana terus bergerak memotong wortel, Sapphirenya bergerak mengikuti pergerakan yang suami yang seolah seperti telah terbiasa memotong daging dengan rapi dan cantik.
“Ternyata Yoshiki-kun jago sekali ya. Setelah itu bisa tolong potong kentangnya? Aku akan menyiapkan nasi.”
“Tentu saja. Aku sudah hidup beratus-ratus tahun My Lady. Akan sangat menyedihkan jika aku tidak bisa memasak.”
“Eh begitu—Ouch,” darah bercucuran dari jari telunjuk Hana yang tergores pisau.
GREP.
Tangan tangkas Yoshiki tangkas meraih tangan Hana. Detik berikutnya Hana sudah tidak bisa mencegah apa yang terjadi. Yoshiki membawa masuk jarinya ke dalam mulut. Menghisap darah yang mengalir dengan tekanan rendah itu dengan mata terpejam seolah menikmati setiap lelehannya.
“….” Hana hanya bisa terdiam membeku dengan wajahnya yang setengah memerah.
“A-anu… Y-Yoshiki-kun?”
“!!” Seketika kedua mata Yoshiki terbuka dan melepaskan jari Hana dari mulutnya.
“…. Maaf.”
Hana tidak bisa mengatakan apapun, keduanya terjebak dalam situasi aneh.
“Ayo kita balut lukamu sebelum infeksi. Tunggu akan kuambilkan P3K,” degan ekspresi wajah yang tak bisa Hana baca, Yoshiki meninggalkan dapur.
“U-um,” Hana hanya bisa mengangguk ambigu, menatap punggung Yoshiki menghilang dari lorong dapur.
Jemarinya memijat jari telunjuknya yang tergores namun sudah tidak mengalirkan darah itu lagi. Kepalanya kembali terisi oleh perasaan bagaimana saat darahnya dihisap perlahan dalam lembabnya mulut Yoshiki.
Tanpa ia sadari, jantungnya berdebar kencang.
.
“Silahkan My Lord, plester luka,” seorang maid menyerahkan sebuah plester luka dari kotak P3K.
“…” Dalam diam Yoshiki menerima plester tersebut.
Deg Deg.
Jantungnya berdebar kencang begitu ingatan bagaimana ia menghisap luka Hana, lewat tanpa ia minta.
‘Sial,’ rutuknya dalam hati. Bagaimana bisa ia kehilangan kendali hanya karena mencium bau darah Hana? Bagaimana jika Hana tidak menyukai ini dan kembali meninggalkannya?
‘Tapi darahnya benar-benar manis, dan dengan begini…’ Ia menatap tangannya yang merasa kembali terpenuhi energi sihir, ‘energiku kembali terisi.’
Yoshiki menghelakan nafasnya berat, ia menyandarkan tubuhnya pada dinding, ‘apa yang harus kulakukan jika dia kembali meninggalkanku…’
.
Aktivitas Hana meletakan sepiring nasi dan kare pada meja makan terhenti begitu melihat Kuroto Yoshiki memasuki ruang makan dengan gontai dan kepala tertunduk.
“Mencari P3K di planet Mars?” Tanya Hana, “ayo duduk, Karenya sudah matang.”
Dengan enggan Yoshiki melangkah menuju meja makan, meraih jemari Hana yang terluka dan membalutkan plester di sana.
“Umm, terima kasih.”
Yoshiki hanya mengangguk ringan sebelum meletakan pantatnya pada kursi, “selamat makan,” ia berguman lesu dan menyantap karenya.
“… Bagaimana?” Sementara Hana hanya bisa berharap-harap cemas menatap Yoshiki.
“Hn,” Yoshiki mengagguk, “ini enak.”
“Syukurlah! Yoshiki-kun tadi pergi mengambil P3K lama sekali, jadi aku tidak sempat menanyakan bagaimana rasa yang sesuai dengan keinginan Yoshiki-kun.”
“Hn, tidak apa-apa. Ini enak,” Yoshiki menjawab datar.
Menyadari sifat Yoshiki yang mendadak berubah, Hana hanya bisa berusaha mengabaikannya dan berlaih makan.
Suasana hening mengisi udara ruang makan yang begitu luas namun hanya diisi oleh 2 manusia saling berdiam diri.
“A-Ano—”
“Hei—”
Keduanya kembali terdiam setelah tanpa sadar saling berbicara di waktu bersamaan.
“Yoshiki-kun dulu—”
“Kau saja—”
Keduanya kembali terdiam setelah kedua kalinya berbicara di timing yang bersamaan.
“Ah, Yoshiki-kun boleh duluan,” ujar Hana ragu.
Yoshiki dengan ragu menelan wortel yang telah ia kunyah, sebelum akhirnya berujar, “maaf, yang tadi, aku tidak sengaja.”
“Eh?”
“Darahmu memiliki bau yang benar-benar menarikku, apalagi ini sudah beberapa hari sejak hari itu, aku sudah tidak bisa menahan diriku.”
“A-ah begitu, aku tidak apa-apa kok.”
Yoshiki mengangkat kepalanya seketika, menatap tidak percaya pada perempuan yang duduk di sisi meja makan.
“Kau… tidak marah?”
“Itu hanya darah karena luka lagipula.”
Tidak bisa membohongi dirinya sendiri, Yoshiki menghela nafas lega tanpa sadar, “jadi, kau mau bicara apa?”
Hana menaguk air putih dari gelas, “ah tidak, tidak jadi,” ia menggeleng kuat, “nah ayo dimakan lagi karenya.”
Yoshiki tersenyum simpul, “tentu. Ini sangat enak My Lady, berikutnya aku berharap bisa lebih sering merasakan masakanmu.”
“Eh, masakanku tidak seenak koki di sini.”
“Kalau kau yang memasak rasanya berbeda.”
“Kenapa?” Hana memiringkan kepalanya tidak mengerti.
“Karena kau istriku tentu saja.”
Seketika wajah Hana meledak memerah.
.
Hana mencelupkan kakinya perlahan pada kolam renang. Udara dingin malam musim panas menghembus tubuhnya. Suasana kolam benar-benar sepi dan senyam, hanya terdengar suara gemericik air.
BYUUUR
Seluruh tubuhnya tercelup sempurna di dalam kolam. Tubuhnya yang hanya terbalut bikini hitam bermodel sport meluncur dari ujung kolam ke ujung yang lain.
Tubuhnya seolah terasa ringan di dalam air. Setelah beberapa hari di kurung di penjara bawah tanah, akhirnya Hana merasakan banyak kebebasan hari ini. Ia tidak menyangka permintaannya untuk berenang akan disetuji Yoshiki, terlebih seketika pria itu tidak mengizinkan semua butler untuk mendekati area kolam renang. Pria itu memang selalu bertindak berlebihan dengan keposesifannya.
SPLASH
Tubuhnya kembali muncul dipermukaan.
“Kau menikmati berenang malammu?”
Terkejut, seketika Hana menolehkan kepala ke sumber suara yang ada di belakangnya. Di sata telah duduk Kuroto Yoshiki di sebuah kursi santai dengan hanya menganakan celana renangnya. Mengekspos seluruh otot dan keindahan yang selama ini terbalut dalam setelan jas yang merupakan pakaian favoritnya.
“Y-Yoshiki-kun.”
Pria itu tersenyum misterius dan beranjak menceburkan dirinya ke dalam kolam. Membuat seluruh tubuhnya basah sepenuhnya oleh air.
“K-kenapa?”
“Aku juga mau berenang,” jawabnya datar.
“O-Oh..”
“Tidak. Aku berbohong.”
“Eh?”
Kejadiannya terjadi begitu cepat. Setelah Hana sadar, tubuhnya telah terhimpit oleh tepian kolam dan tubuh atas Yoshiki yang telanjang dan demi apapun sangat sexy.
“My Lady…” Pria itu berguman seduktif dan benar-benar terdengar sexy bagi telinga Hana.
“Y-Ya?”
“Mau kah kau berjanji untuk tidak meninggalkanku lagi?”
Hana mendongkak seketika, ia mendapati wajah Kuroto Yoshiki dengan rambutnya yang basah tengah menatapnya sedih.
Situasi ini benar-benar rumit bagi Hana. Pria di hadapannya sudah berbuat hal buruk pada Keigo Yasumoto, yang notabene sosok yang paling penting saat kelam pada masa kecilnya. Terlebih, pria ini membunuh kedua orang tuanya, dan menyembunyikan banyak fakta. Entah berapa banyak rahasia lagi yang ada di balik punggung sang raja ini.
Namun Hana bisa tau jika pandangan pria itu benar-benar sedih sekarang. Kedua alisnya tertaut ke atas walaupun pandangannya hanya menatap datar.
“My Lady?”
“Yoshiki-kun sebenarnya apa lagi rahasia yang kamu miliki?” Hana tidak bisa berjanji. Ia masih cukup takut mengentahui kenyataan-kenyataan lain yang akan terungkap.
“Hn?”
Hana menundukkan kepalanya, “aku hanya takut, aku tidak siap menerima kenyataan-kenyataan lain. Yoshiki-kun adalah Lucifer yang sudah hidup sangat lama, banyak hal yang sudah dilalui Yoshiki-kun tanpa aku mengetahuinya. Aku hanya… takut…”
Tangan Yoshiki meraih dagu perempuan berambut hitam di hadapannya, sedikit memaksa wajah Hana untuk menemui wajahnya.
Chu
Sebuah ciuman diberikan.
“Y-Yoshiki-kun,” Hana berusaha melepasan diri dari ciuman.
Kecup.
Yoshiki kembali memaksakan ciumannya.
“Setiap masalah yang timbul karena apa yang telah terjadi, aku akan berusaha mengatasinya, karena itu… jangan pernah meninggalkanku lagi,” pria itu berujar sendu sebelum akhirnya memberikan rangsangan pada leher Hana.
“Hngg—” Hanya desahan yang bisa keluar dari bibir Hana.
“…!” Wajah Hana memerah seketika begitu menyadari sesuatu mengusap pahanya. Sesuatu yang keras dan tegang.
Beberapa kecupan terus menerjang leher dan turun hingga pada dada Hana.
“Hngg—Yoshiki-kun..” Hana berusaha mendorong tubuh Yoshiki.
Tak mengindahkan, Yoshiki semakin menekan tubuh Hana pada tepian kolam dan mengangkat salah satu paha Hana.
“U-Uh…” Hana bisa merasakan Yoshiki menyibakkan bikininya dan mengusap-usapkan kejantanannya pada clitorisnya.
“Ada apa My Lady? Nafasmu memberat, tubuhmu sedikit menegang,” pria itu berbisik sexy pada telinganya.
“K-Karena Yoshiki-kun mengusap-usapkannya ah…”
“Hn, kalau begitu apa yang harus kulakukan My Lady?”
Hana yang semakin terhimpit terpaksa mengalungkan kedua tangannya pada leher Yoshiki dan menyandarkan kepalanya pada pundak Yoshiki.
“My Lady?”
Bibir Hana terbuka beberapa saat, bergerak namun tak mengatakan sesuatu, “Ungh…” sementara kejanjatan Yoshiki semakin merangsangnya di bawah, “…. M-masukkan…”
Sebuah seringai tercetak jelas pada bibir pria itu, “as you wish, My Lady,” bisik pria itu sexy.
“Ahng!” rintih Hana tertahan begitu sesuatu yang keras itu benar-benar memasuki miliknya.
“Sakit?” Tanya pria itu lembut.
Oh Hana benar-benar terkejut. Ia sudah melupakan bagaimana pria itu bisa selembut ini.
“T-tidak,” jawab Hana cepat.
“Hn, kalau begitu kugerakkan,” pria itu kembali berujar lembut sebelum akhirnya mulai memompa tubuh Hana.
Bunyi cipratan air yang tercipta saat kedua tubuh itu menyatu menambah kesan tersendiri.
“U-uhn…” Wajah Hana memerah menyadari betapa miliknya di bawah begitu terasa nikmat oleh setiap genjotan sang suami.
“Kau menyukainya My Lady?”
Pertanyaan Yoshiki seolah mengajaknya kehilangan kewarasan, ia mengangguk ringan.
“Kalau begitu desahkan namaku.”
Tidak ada protes, “Y-Yoshiki-kun… nghh…” Hana mendesahkan nama pria itu saat tubuhnya menikmati setiap hentakan.
“Hnhh…” Sementra pria yang ia desahkan menghembuskan nafas berat, tubuh pria itu ikut merespon.
“Mnghh—” Pergerakan Yoshiki semakin di luar kewarasan Hana. Suara kecipuk air seolah menjadi pengiring dalam permainan keduanya.
“My Lady hhhah… kau milikku… kau hanya boleh melihatku… haah… jangan pergi dari sisiku… tetaplah bersamaku… haah…” pria itu meracau di tengah pergerakkan panasnya.
Hana bisa merasakan, di bawah sana, milik sang pria mulai berkedut.
“Y-Yoshiki-kun… a-aku… Ahnnn—” tangan Hana memeluk erat leher sang pria membuat tubuhnya semakin menenggelamkan milik Yoshiki. Bersamaan dengan orgasmennya, Yoshiki melepaskan gumpalan putihnya ke dalam rahim Hana.
“A-Aaah…” Tubuh Hana bergetar. Ia baru saja merasakan orgasme yang luar biasa memabukkan.
“Y-Yoshiki-kun bodoh… kita di kolam renang astaga…” Masih dalam kondisi memeluk dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami Hana menggerutu dengan wajahnya yang memerah.
Pria itu terkekeh pelan, “bukankah kau sendiri yang meminta?”
“Tapi gara-gara Yoshiki-kun! Hungg!”
“Haha,” pria itu kembali terkekeh.
“My Lady?”
“Humm?”
“Jangan pernah meninggalkanku lagi.”
Hana kembali terdiam. Suaminya itu sudah mengatakan hal sejenis berkali-kali. Seolah hal itu menjadi masalah utama dalam kehidupannya. Membuat perempuan berambut pendek itu merasa bersalah telah mengambil tindakan untuk meninggalkan sosok dalam pelukannya.
.
Suara kicauan burung bersamaan dengan cahaya matahari yang menembus kaca membuat kelopak mata Hana perlahan mengerjap hingga akhirnya terbuka, “!!!!” dan melebar karena sedikit kaget melihat wajah Kuroto Yoshiki yang tersenyum tipis.
“K-Kenapa tersenyum begitu?” Wajah Hana mulai memerah.
“Aku senang.”
“S-Senang?”
“Hn, My Lady ketika kau pergi, aku sama sekali tidak berminat kembali ke kamar setelah merasakan bangun pagi tanpa adanya keberadaanmu. Setelah itu aku lebih memilih beristirahat di kantor. Lehernku jadi cepat lelah akhir-akhir ini karena istirahat di tempat yang tidak seharusnya. Jadi sekarang aku senang. Aku tidak perlu istirahat di kantor lagi.”
Ruam merah semakin menebal pada pipi Hana, “m-memangnya sampai seperti itu?”
“Hn?” Yoshiki menaikkan alisnya sejenak, sebelum akhirnya pria itu bangkit dan mendekatkan wajahnya pada wajah Hana, “sampai seperti itu,” pria itu menatapnya lekat, sebelum akhirnya mengecup bibirnya dan berujar, “selamat pagi My Lady.”
0 komentar:
Posting Komentar