Jumat, 25 Desember 2015

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 4]

CHAPTER 4: RESULT OF THE WAR
Sepersekian detik dari seringaiannya, tubuh Arashi Tomuro tiba-tiba membuat delapan refleksi tubuhnya (bayangannya). Kesembilan Arashi Tomuro berlari menyebar mengelilingi Yosef Strauss. Melesat secara bersamaan kea rah sang Exorcist dan menusukan sebuah beda hitam padat yang terbentuk dari partikel-partikel sihir gelapnya.
“GYAHAHAHAHAHA!!”
“Ugh!!” Manik abu-abu Yosef melebar saat kesembilan musuhnya menyerangnya serentak.
TING!
TRANG!
Mata abu-abu itu kembali membelalak semakin lebar.
Padahal dia sudah berhasil memutar tubuhnya dan melempar semua senjata Tomuro. Sayangnya dirinya hanya bisa memukul kedelapan senjata.
Seringai pada bibir pemuda berambut merah itu mengembang. Kedelapan bayangannya memang gagal. Tapi tidak dengan dirinya yang asli. Senjatanya berhasil menembus tepat ke dalam dada kanan sang Exorcist.
Manik abu-abu Yosef dengan bergetar melirik ke arah Abschleppen Geist miliknya yang telah ia coba tusukan kea rah sang iblis teryata sama sekali tidak menyentuh satu inchi pun sang iblis. Padahal Tomuro sendiri berhasil menusukan senjatanya hingga menusuk paru-parunya. Sungguh miris.
-[Yami no Ai]-
Di hadapan manik azurenya, sebuah palu, tombak, dan gergaji mesin menghantam secara bersamaan. Menghela nafas malas, menutup maniz azurenya, dirinya berguman, “tidak berguna…” dan ketiga Abschleppen Geist akhirnya hanya menghantam tanah. Tentu saja, karena subjek sasaran mereka telah melesat lima meter ke kanan.
Ketiganya terbebelalak sesaat, mengetahui sang subjek sudah berdiri dengan tenang, lepas dari serangan mereka.
SYUUUT
Tiba-tiba saja, tombak sepanjang 2 meter melesat dengan tepat mengincar kepala raven Kuroto Yoshiki.
TEP
Sayangnya, Abschleppen Geist yang awalnya berkecepatan tinggi itu harus terhenti dalam genggaman tangan sang raja iblis. Kepala ravennya menoleh beberapa derajat, memperlihatkan tajamnya tatapan azure-nya.
Pemuda berambut putih yang baru saja melemparkan Abschleppen Geist miliknya itu hanya bisa menegukkan ludah. Peluh menetes dari pelipisnya.
“Peraturan pertama, Abschleppen Geist tidak bisa digunakan untuk menyegel Lucifer…”gumannya dengan tatapan tidak percaya. Dan tatapannya itu ia tujukan kepada sang iblis yang dengan tenang berbalik badan menghadap ketiganya.
-[Yami no Ai]-
Rayumi Hana dengan kekhawatirannya yang luar biasa, berjalan di belakang sang Exorcist berbando lengan ‘H-5’.  Kepalanya tidak berhenti mendongkak menatap rambut kuning kecoklatan H-Funf. Alisnya berkerut-kerut kebingungan.
“Hei, kau mau membawaku ke mana?” kernyitan pada alis Hana semakin dalam.
“Mau ke kafe sebelah? Aku yang traktir deh,” H-Funf menoleh ke arah Hana, tangannya menunjuk sebuah kafe kopi.
Hana menundukan kepalanya, “aku tidak suka kopi.”
H-Funf terdiam melihat Rayumi Hana.
“Mereka juga menyediakan minuman yang lain kok…”
“Susu, ada?”
“A-ada…” cukup sweatdrop yang dirasakan H-Funf. Bagaimana bisa sandranya ini bertingkah biasa-biasa saja?
“Kalau begitu aku mau.”
Kedua bola mata oranye miliknya sejenak hanya mengikuti gerakan Hana yang sudah berjalan mendahuluinya, hingga akhirnya dia ikut melangkah.
Kini keduanya telah duduk saling berhadapan. Kedua perempuan berambut pendek itu saling bertatapan. Hilda terus mempertahankan senyumnya menghadapi wajah ditekuk Hana.
“Jadi… ada apa?” Hana memberanikan diri membuka mulut.
Kejadian saat tahun baru setahun lalu terus terbayang di pikirannya. Orang di hadapannya inilah yang telah menyerangnya, dan suaminya. Kedua tangannya yang ia letakan di atas kedua pahanya meremat kesal. Merutuk. Merutuki dirinya yang lemah. Merutuki kehadrian Exorcist ini. Dan merutuki semuanya.
“Aku tidak akan melukaimu atau menyerangmu kok. Santai saja.” Hilda tersenyum ringan merasakan ketegangan Hana.
Walaupun begitu ketegangan Hana sama sekali tidak berkurang.
“Hei, boleh aku bertanya?” Kini giliran Hilda yang melontarkan pertanyaan.
Pelayan kafe datang dan meletakan pesanan traktiran Hilda. Segelas coklat panas untuk Hana. Dan segelas kopi hangat untuk Hilda.
Hana sedikit memincingkan matanya, “bertanya apa?”
“… Kau…” Hilda mengambil ponsel dari saku kemeja dalamnya, “mencintai Lucifer?”
“Eh? Lucifer?”
“Maksudku Kuroto Yoshiki.” Hilda mengutak atik ponselnya.
“Aku mencintainya!”
Hilda terpengarah. Kedua bola matanya melebar sedikit. DI hadapannya, Rayumi Hana baru saja mengatakan perasaannya tanpa ada keragu-raguan sedikitpun.
“Dia hanya iblis yang egois, sombong, kejam, dan intinya dia itu iblis—“
“Aku tidak peduli! Aku mencintai Yoshiki-kun!” Sekali lagi mentakan perasannya dengan lantang.
“Hey, hey, tidak kusangka seorang perempuan tomboy akan seperti itu jika sudah menyukai seseorang.”
Hana kembali duduk di bangkunya. Tubuhnya sempat bangkit beberapa senti dari bangkunya untuk megeaskan perasaannya tadi.
“Cih…” Hana membuang mukanya menahan rona merah di wajahnya.
Bagaimana pun Exorcist di hadapannya ini juga sama tomboy-nya seperti dirinya. Mana mungkin dia menjatuhkan harga dirinya sebagai sesame perempuan tomboy seperti ini!?
Hilda menahan tawa melihat tingkah Hana yang sangat-sangat Tsundere.
“Aku juga… sama sepertimu kok… tapi orang yang kusukai sama sekali tidak memiliki kepekaan…” guman Hilda.
“Eh?”
“AH—ADUH!”
Belum sempat Hana menolehkan kembali kepalanya, sebuah gelas berisi kopi melayang begitu saja ke arahnya. Sekali kedipan, refleksnya menjadi melambat.
SPLASH!
BRAK!
Dan jadilah Hana sekarang terjatuh di lantai dengan tumpahan kopi di seluruh bajunya. Noda hitam itu mengotori sweater putihnya.
“W-WAAAHH!! M-Maaf Rayumi! P-Pelayan tolong lapnya!” teriak Hilda kebingungan.
Seorang pelayan dengan tanggap segera mendatangi Hana. Membantu membersihkan tubuh Hana, dan membersihkan kekacauan yang dibuat Hilda.
“Uh, noda kopinya…” Hana merengut melihat noda kopi yang menempel pada sweaternya.
“Kalau cepat-cepat dicuci akan bisa hilang kok,” sahut Hilda.
Manik biru Hana merengut melirik Hazel. Exorcist itu tengah sibuk dengan ponselnya.
“Nah, Ki-rim!” Hilda menekan layar ponsel pintarnya dengan semangat.
“Apa yang baru saja kau kirim?” Hana berkedip sweatdrop.
“Sesuatu yang akan merubah jalannya perang ini,” ujar Hilda yakin.
Mata Hana terbebalalk lebar. Tentu saja, Exorcist ini datang kemari pasti bukan hanya datang untuk tiba-tiba mentraktirnya susu coklat. Pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan perang.
“Apa yang baru saja kau kirim?” Hana berteriak lantang.
Seluruh penghuni kafe lantas menoleh kea rah keributan. Tapi Hana tidak peduli.
“Hey, hey, tenanglah. Kita menjadi pusat perhatian loh!” peringat Hilda.
“Aku tidak peduli! Apa yang baru saja kau kirim!?” Hana berteriak semakin lantang.
“Hahh… kau memang tidak pantang menyerah ya…” Hilda menghela nafas.
Setelah beberapa detik mengutak atik ponselnya, ditunjukannya layar ponsel pintarnya pada Hana. Sebuah foto di mana dia terkena tumpahan kopi Hilda. Dan tentu saja… ada sebuah editan sederhana di sana.
Nampak dirinya tengah tertunduk menatap tumpahan kopi di bajunya. Namun noda kopi di gambar itu telah diedit warnanya menjadi merah, dan… ada sebuah pedang yang nampak tertancap pada perutnya.
“B-Bagaimana…?” Bibir Hana keluh. Dirinya takjub dan ketakutan. Takjub karena dengan sebuah ponsel saja, Exorcist ini sudah mampu mengedit hingga sebagus dan senyata itu. Sekaligus juga takut, karena dengan foto itu… Yoshiki akan…


Baik Yoshiki maupun Tomuro keduanya seketika terdiam di tempat dengan kedua mata melebar.
Yoseff Straus dan Aidrin Polystinkov tengah menunjukan layar ponsel mereka. Menunjukan gambar yang baru saja di kirimkan Hilda.
“H-Funf telah berhasil menangkap Rayumi Hana,” jelas A-Drei.
Tanpa memperdulikan penjelasan A-Drei, Yoshiki segera melesat pergi. Tujuannya hanya satu. Hana! Dirinya harus menyelamatkan istrinya!
“Kejar!” Ketiganya segera melesat mengikuti kecepatan berlari sang raja iblis yang sudah di luar nalar.
“Khh! My Lady…” Bagaimana dia bisa sebodoh itu membiarkan istrinya hanya dengan pengawasan sekelompok pasukan pengintai!? Bagaimana dia bisa tak menyadari ketidak adaan H-Funf!?
Sebuah bayangan palu yang melesat hendak menghantam kepalanya terlihat jelas, walaupun itu berada di belakangnya.
Mata Azure-nya berkilat. Sebuah aura gelap yang ia keluarkan dari punggungnya menghantap Aidrin jatuh.
TEP.
Yoshiki berhenti melangkah. Tubuhnya semakin mengeluarkan aura kematian.
“D-dia… mengeluarkan 40% kekuatannya…” guman X-Zwei dengan bibirnya sedikit bergetar.
“Berhenti. Kuroto Yoshiki, Lucifer.” Sebuah suara perempuan menginterupsinya. Membuatnya terpaksa menoleh ke asal suara.
H-Funf berdiri di hadapannya dengan tenang.
‘Perempuan ini… perempuan ini yang telah…’ giginya bergemalatuk.
H-Funf menunjukan ponselnya. Pada layarnya tertera gambar Hana tengah di dudukan di suatu tempat dengan kedua tangannya diikat di belakang. Kepalanya dikenakan sebuah helm. Lehernya seperti dipasangi sebuah choker. Tapi tak membuatnya ragu jika itu Hana atau bukan.
“Kau menyerangku dia mati. Tadi yang kukirimkan dan diperlihatkan rekan-rekanku hanyalah editanku saja.”
Yoshiki terdiam. Bagaimana bisa dia termakan dengan jebakan seperti itu!?
“Tapi kali ini aku serius. Dikepala, leher, dan tangannya sudah kupasangi jebakan buatanku sendiri. Jebakan pada kepalanya berfungsi memisahkan tenngkoraknya dengan rahang bawahnya. Choker di lehernya memiliki sebuah sekrup yang akan berjalan membor lehernya hingga kedalaman sepuluh sentimeter. Borgol di tangannya akan memberikan sengatan listrik sebesar seratus volt.
“Dengan kau bergerak sedikit saja, aku akan menekan tombol ini, dan kesemua alat itu akan bekerja,” tangan kiri Hilda memegang sebuah pengontrol jarak jauh.
“Kami sudah tahu. Jika kekuatanmu tidak akan bekerja jika itu berhubungan dengan Rayumi Hana. Jadi dipastikan kau tidak akan bisa merebut pengontrol jarak jauh ini dengan kekuatanmu.
“Menyerahlah tanpa syarat Lucifer. Hanya itu pilihanmu. Jika kau benar-benar menyerah, aku bisa dengan senang hati melepaskan Rayumi Hana tanpa kau perintah.”
Akhirnya dirinya mengerti. Pengibaran bendera perang yang terang-terangan dikobarkan oleh Yoseff Strauss, semua peperangan ini hanyalah alat untuk memancingnya masuk ke dalam jebakan ini. Dengan berselimutkan Hana, dirinya jadi tidak bisa menembus rencana yang dibuat para Exorcist.
“Khhh—“ Yoshiki menggeram pelan. Merutuki segala kebodohan dan kesalahan yang telah ia buat. Aura kegelapan yang menyelimutinya perlahan mereda dan benar-benar Hilang.
Xin Zhao mengangguk kepada seluruh rekannya. Menandakan Kuroto Yoshiki telah menghentikan sihirnya. Matanya berbeda warna. Hitam dan kuning. Permukaan kulit pada dahi, kelopak mata hingga pipinya terbentang sebuah luka goresan. Ternyata pada suatu pertarungan matanya terkena serangan, hingga memaksanya kehilangan satu matanya. Namun dirinya bertemu dengan seorang professor yang memberinya sebuah mata buatan. Berbola mata kuning. Bola mata yang bisa melihat kekuatan sihir lawannya.
Hilda mengeluarkan sesuatu dari tasnya, melemparkan benda itu pada Aidrin.
Sebuah borgol.
Selama ini tidak ada alat apapun yang bisa menahan kekuatan sang Lucifer. Bahkan Abschleppen Geist pun tidak mempan.
Borgol yang baru saja terasang pada pergelangan tangan Yoshiki adalah benda buatan Hilda yang telah Hilda rancang dengan kemungkinan “bisa” menahan kekuatan sang raja Iblis.
Aidrin hanya bisa percaya, dan berdoa jika benda temuan sahabatnya ini memang benar-benar bisa menahan kekuatan raja Iblis.
Kepala Yoshiki tertus tertunduk. Menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan poni-poni rambutnya yang terurai memenuhi wajah tampannya.
“Ayo, jalan.” Aidrin membimbing Yoshiki berjalan kea rah yang mereka tuju, markas mereka.
Mengetahui Yoshiki sama sekali tidak melakukan perlawanan, dan Xing Zhao menyetujui jika Yoshiki benar-benar mematikan sihirnya, Hilda mengambil keputusan, “aku menghargai sikap pria-mu. Sesuai janji, Rayumi Hana kulepaskan,” ditekannya beberapa tombol pada pengontrol jarak jauhnya.
Tidak ada respon dari Yoshiki. Dirinya hanya terus melangkah mengikuti arahan dari Aidrin.
“Y-Eins!” Pekikan Michaelis membuat ketiga Exorcist lain menghalihkan pandangannya.
Di depan mereka, seseorang yang mereka kenal tengah terkapar berlumuran darah di tanah, dan tak jauh dari sana, seseorang nampak duduk bersandar di pohon seperti tengah berusaha menyembuhkan tubuhnya.
Yosef Strauss dalam keadaan tidak sadar. Luka di dadanya terus mengeluarkan darah segar.
Keempat Exorcist yang ada segera disibukan dengan keberadaan jendral mereka yang tak sadarkan diri. Menggunakan kesempatan itu, Yoshiki dan Tomuro saling bertatapan. Bahkan dalam sekali tatapan itu, Tomuro bisa mengerti maksud Yoshiki.
Keduanya bertukar tempat. Tomuro menyamar menjadi Yoshiki, dan Yoshiki menyamar menjadi Tomuro. Ah, sepertinya borgol buatan Hilda sama sekali tidak berfungsi.
Xing Zhao dan Michaelis Slach membopong tubuh Yosef Strauss, sementara Aidrin dan Hilda tetap mengawal Kuroto Yoshiki.
“Hei… bagaimana dengan yang di sana?” Hilda menunjuk kea rah Tomuro.
Yoshiki yang tengah menyamar menjadi Tomuro, segera melesat pergi.
“Ah! Dia kabur!” Hilda berseru.
“Biarkan saja dia. Misi kita telah selesai. Lucifer di tangan kita. Kita juga harus segera kembali untuk menyelamatkan Y-Eins!” tandas Aidrin.


Bersamaan dengan bunyi PSSSHHH yang mulai terdengar. Semua alat yang tadinya terpasang di tubuhnya mulai lepas satu persatu.
Dengan cekatan Hana segera melepaskan ketiga alat tersebut dari tubuhnya. Membanting helm jebakan pada kepalanya dengan kasar.
Wajahnya terlihat kacau. Rambutnya tidak karuan. Air mata menganak sungai mengotori wajahnya.
Exorcist itu membuatnya pingsan dengan obat yang dia campurkan pada susu coklatnya, mungkin timingnya adalah saat dia terjatuh terkena tumpahan kopi. Membuatnya tersadar dalam keadaan penuh jebakan seperti ini.
Yoshiki…
Di kepalanya hanya berisi sosok suaminya itu. Tanpa memperdulikan sahabat-sahabatnya yang mungkin masih memakan cheess cake mereka, Hana berlari menuju lapangan parkir.
Sapphire-nya menemukan mobil yang digunakan oleh supir yang tadi mengantarnya di lapangan parkir, dan hasilnya sesuai dugaan, setelah didatanginya mobil itu, di dalamnya tidak ada paman yang biasa menjadi supirnya. Kemungkinan besar supirnya telah tertangkap Exorcist.
Berlari. Tanpa memperdulikan badai salju yang menerpa tubuhnya, kaki-kaki Hana menapaki putihnya jalanan. Berlari sekuat tenaga melawan angin, dan dingin. Berlari secepat mungkin menuju manornya.
Air mata tidak henti-hentinya mengalir dan terbawa angin badai yang kencang.


Kencangnya tiupan badai salju sama sekali tak menurunkan kecepatan larinya. Kedua kakinya terus menapak lebar.
Tujuannya hanya satu, departemen store.
“My Lady…” gumannya berat.
Dirinya telah gagal. Gagal menjaga istrinya. Gagal menjaga kehormatannya.Para Exorcist sialan itu telah menginjak-injaknya hari ini.
Pertarungan terakhir:
Exorcist menyatakan misi mereka berhasil dan berakhir.
Read More ->>

Sabtu, 19 Desember 2015

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 3]

CHAPTER 3: THE 2ND DAY OF WAR

Fajar hari kedua peperangan antara yang gelap dan yang terang meningsing namun terhalang oleh gumpalan-gumpalan awan dingin pembawa badai salju. Menurut ramalan cuaca hari ini memang dipastikan aka nada badai salju.
Kuroto Yoshiki menatap datar ke bawah. Seluruh pasukannya telah bersiap dengan segala persenjataan mereka. Menunggu perintah absolut dari wakilnya untuk mengorbankan jiwa mereka.
“Tomuro?”
“Mereka sudah bergerak. Tapi…,” seorang pemuda berwajah serius menjawab ucapan Yoshiki tanpa mengurangi sedikitpun raut wajah seriusnya.
“Jelaskan.”
“Mereka bergerak dengan pasukan sedikit. Ini berbeda dari yang kemarin.” Kerutan pada alis merahnya semakin dalam. Tangannya ia silangkan di depan dadanya. Mata azhure miliknya menatap serius ke depan menggunakan kemampuannya untuk melihat jarak ber-ribu-ribu meter ke daerah pertempuran yang telah ditentukan.
Yoshiki terdiam untuk beberapa saat.
“Ini pasti bagian dari rencana Y-Eins. Baiklah untuk sementara, LM-11 Keluar!” Dengan aba-aba absolute itu, dari arah samping kanan mansion dua puluh naga berpenumpang terbang dengan kecepatan penuh.
“Yoshiki-kun?” Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah suara menginterupsi konsentrasi keduanya.
Baik Yoshiki maupun Tomuro seketika menolehkan kepalanya ke belakang.
“My Lady?” Setelah berbalik badan, Yoshiki melangkah mendekati istrinya yang tengah berdiri di ambang pintu.
“Yoshiki-kun, Shiro mengajakku memakan cheess cake di departemen store. Boleh?”
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan.
“Tidak boleh?” Hana memiringkan kepalanya sedikit dan kedua alisnya berkerut kecewa.
Sebenarnya dirinya sepenuhnya mengerti jika sekarang sedang dalam kondisi darurat perang. Tapi tawanran cheess cake dari Shiro benar-benar menggoyahkan pemikirannya.
Tangan Yoshiki bergerak memijat pelipisnya. Sejujurnya dia sama sekali tidak kuat melihat ekspresi Hana yang seperti itu.
“Hn… Akan ada badai salju My Lady…” Yoshiki tidak membahas masalah perang sama sekali guna mengurangi kecemasan Hana.
“Aku tahu. Aku tidak akan pulang sebelum badai saljunya berhenti. Menurut prakiraan cuaca badai saljunya hanya berlangsung sekitar tiga sampai empat jam.” Sekrang Hana menyerang Yoshiki dengan tatapan memohonnya.
Yoshiki semakin memijat pelipisnya.
“Baiklah…”
“APA!?” Tomuro yang awalanya berpikiran jika tuannya itu pasti akan menolak seketika gagal fokus pada pengamatannya pada medan perang dan berteriak alay.
“Eh?” Hana hanya cengo mendengar teriakan Tomuro.
“Tunggu Yoshiki! Kau sudah gila!?” pekik Tomuro.
“Kembali atur pasukan Tomuro,” ucap Yoshiki datar.
“Cih!” Dengan agak kesal atas keputusan tuannya, Tomuro kembali ke posisinya.
“Kazuhiko akan mengantarmu.”
“Uhm!” Hana mengangguk mantap menyetujui. Kedua kakinya berjinjit untuk menyamai tinggi Yoshiki, dan kemudian, ‘chu…’ dikecupnya bibir Yoshiki.
“He he he, kalau begitu aku berangkat Yoshiki-kun.” Dengan cengiran dan lambaian tangan Hana berlari meninggalkan Yoshiki.
“Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Musuh mengincarnya dank au malah membiarkan dia pergi keluyuran!?” Protes Tomuro begitu Yoshiki telah kembali berdiri di sampingnya.
“AM-28 ikuti dan awasi My Lady.” Tanpa menggubris ucapan Tomuro, Yoshiki memerintahkan pasukan pengintai mengawasi Hana.
“Yes, My Lord.” Suara seorang perempuan menggema dari alat transmisi.
“Hei! Aku berniat menggunakan AM-28 setelah ini untuk bersiaga!”
“Kau gunakan AM-30.”
“Cerberus peliharanmu  akan mengacaukan rencanaku!”
“Kalau begitu gunakan rencana yang lain.”
Tomuro terdiam setelah berkedi beberapa kali. Sudah hampir berabad-abad dirinya melayani pria berambud raven ini. Dan dirinya sepenuhnya mengerti jika Yoshiki sangat menyebalkan.
Dalam pembagian pasukan pada pihak iblis, biasanya setiap pasukan berisi sepuluh sampai dua puluh jiwa. Setiap pasukan memiliki nama berupa dua huruf dan disusul dua angka. Setiap pasukan disusun sesuai dengan kehendak ketua pasukan. Dan anggota setiap pasukan juga sesuai dengan kehendak kepala pasukan yang telah ditunjuk oleh Yoshiki.


“Shiro!” kedua tangan Hana yang telah terbalut mantel dan sarung tangan coklat melambai ditengah-tengah lapangan parkir yang sepenuhnya telah ditutupi oleh salju.
“Hana! Cepat kemari! DI luar dingin!” Dari arah departemen store Shiro balas melambai, ditambahi dengan lompatan-lompatan hyperactive miliknya. Sukses membuat dirinya menjadi perhatian pengunjung sekitar.
“Maki… tolong kau ingatkan Shiro agar tidak terlalu hyperactive.” Yui menepuk bahu maki dengan menghela nafas.
“Ah… ha ha ha..” Maki hanya menyahuti dengan tawa sweatdropnya.
“Apa kalian menunggu lama?” Hana yang baru saja melangkahkan kakinya memasuki departemen store mulai mebersihkan mantelnya yang dipenuhi tumpukan salju.
“Tidak kok. Ayo cepat, chess cake-nya enak jadi antriannya cukup panjang.” Timpal Yui.
“Yooosh!!” Shiro segera melesat meninggalkan ketiganya.
“Memangnya siapa paman baik hati yang memberikan kita tiket makan chess cake sepuasnya itu?” Hanya yang berjalan diantara Yui dan Maki bertanya.
“Entahlah. Dia sangat tampan dengan kulit tropisnya. Sepertinya dia bukan orang Jepang,” sahut Maki.
“Kami bertemu dengannya kemarin waktu pulang dari membeli roti browniss di lantai atas.” Yui menimpali.
“Kalian bertemu dengannya di sini?”
“Yah. Dia nampak kebingungan. Katanya teman-teman yang janjinya ikut dengannya kemari hari ini mendapat kesibukan, jadi dia memberikan keempat tiket ini pada kita.” Yui menatap empat lembar tiket berwarna kuning di tangannya.
“Entah kenapa pas sekali jumlahnya ada empat.” Maki tersenyum.
“Benar juga…” guman Hana. Sesuatu mengganggu pikirannya.
Sementara itu, dua orang berkacamata dan bermantel hitam memasuki pintu utama departemen store dan terus mengamati kepergian keempat perempuan itu.


“Bagaimana persiapan kalian?” seorang pemuda berambut abu-abu tengah mengacingkan jas hitamnya rapat. Sebuah jas hitam dengan logo salib merah pada dada kanan.
“Siap.” Seorang berambut merah jabrik membalas sementara tanagn kirinya ia gunakan untuk memasang bando lengannya yang bertuliskan ‘X-3’.
“Selalu siap,” jawab pemuda blonde dengan tenang.
“H-Funf siaaaap!” seorang perempuan berambut ekstra pendek membalas dengan kedua tangannya teracung bersemangat.
“Kau sudah memahami tugasmu kan H-Funf?” Seorang pria berambut putih muncul dari belakang perempuan itu.
“A-Drei kau berlebihan! Kau pikir aku bodoh hingga kau perlu memastiak hal itu berkali-kali?”
“Aku hanya memastikan. Karena kunci keberhasilan rencana ini ada padamu.”
“Kau bisa menangani mereka kan H-Funf?” X-3 angkat bicara.
“Laporan baru saja tiba. Sepertinya pasukan yang dikirimkan untuk menjaga Rayumi Hana hanya AM-28.” Yosef Strauss mematikan alat transmisinya.
“Tidak masalah.” Guman H-Funf dengan seringai di bibirnya.
“Kuharap kau tidak mengacaukan apapun.” Pemuda berambut putih itu kini tengah meneguk kopinya.
“Sudah kubilang, kau terlalu berlebihan A-Drei!” geramnya. “Ah, Y-Eins?”
“Ada apa H-Funf? Ada yang ingin kau tanyakan?”
“Dendam hanya akan menimbulkan dendam yang lain.”
Yosef Strauss terdiam dengan kedua matanya membesar.


SRAAAK!!
Arashi Tomuro berdiri dari duduk tenangnya. Wajahnya menunjukan kebingungan luar biasa.
“Mereka menarik pasukan secara serempak?” Tebak Yoshiki dengan tenang.
“Sialan! Sebenarnya rencana apa yang digunakannya!?” geram Tomuro. Kedua tangannya mengepal erat. “Apa Y-Eins sialan itu mempermainkanku!?”
“Tenangkan dirimku Tomuro… Kau akan termakan jebakannya jika kepalamu tidak dingin…” Sejujurnya dirinya sendiri juga kebingungan. DIa tidak bisa membaca isi pikiran para peringkat tertinggi Exorcist karena dalam rencana mereka tentu saja berisi keberadaan Hana yang merupakan penghalang dari kekuatannya.
Mata Azhure Tomuro menangkap bayangan pergerakan sesuatu yang sangat cepat dan berkekuatan tinggi. Tengah melesat menuju medang perang.
“Mereka bergerak.” Yoshiki seketika berdiri dari posisi duduknya.
Bibir Tomuro melengkuk memebentuk sebuah seringai. “Mari kita pukul pantat anak nakal ini,” guman Tomuro dengan aura kegelapan menguar dari punggungnya.


“Sial. Yang lain mungkin sedang menikmati menghantam wajah Exorcist,” decak malas seorang pria bermantel hitam.
“Berhenti menggerutu Kaga! Kita di sini juga memiliki tugas penting untuk menjaga My Lady!” Perempuan di hadapannya menghardiknya keras.
“Aku tahu Yuu. Aku hanya bosan jika terus berdiam diri,” pria itu menopang dagunya malas.
Yuu Aburame yang merupakan ketua dari pasukan AM-28 dan Kaga Ousawa wakil dari pasukan AM-28 kini sedang duduk di sebuah kafe di dekat restoran cheess cake yang dikunjungi ratu mereka bersama sahabta-sahabatnya. Di meja mereka terhidang kopi panas yang seharusnya menggoda selera di saat cuaca dingin seperti ini. Tapi sayangnya mereka berdua adalah sepasang drakula yang tidak meminum kopi tentu saja.
“Benar. Aku juga bosan jika hanya harus melawan cecenguk seperti kalian.” Sebuah suara menginterupsi keduanya. Membuat keduanya segera menoleh ke asal suara yang ternyata sudah berdiri dengan tenang di depan meja mereka.
“Yo!” Seorang perempuan berambut kuning kecoklatan tersenyum menyapa mereka.
Melihat jas hitam dan bando lengan itu keduanya langsung siaga.
“Exorcist!?”
Dengan kemunculan Exorcist ini di sini, telah dipastikan pasukan AM-28 lainnya telah dibabat habis.
“Tenang kalian berdua. Mari berpindah tempat terlebih dahulu. Aku tidak ingin pertempuran membosankan kita menyakiti warga sipil.”
“Sialan!” Tanpa banyak pikir lagu, Kaga menghantamkan tangan kosongnya tepat pada wajah Hilda. Namun—Tep. Tangan Hilda yang telah mengenakan sarung tangan Abschleppen Geist menyentuh kepalan tangan Kaga dan tentu saja menyegel vampir tidak sabaran itu. Untunglah suasana kafe sedang sangat sepi sehingga tidak ada yang begitu memperhatikan tindakan Hilda barusan. Hilda sedikit bersyukur karena Aidrin yang biasa menceramahinya tidak ada di sini. Karena pastinya dia akan diomeli habis-habisan karena menggunakan Abschleppen Geist sembarangan.
“Nah, nona vampire anda masih mau bertarung di ruang sempit yang memungkinkan anda terkena Abschleppen Geist-ku sangat besar?” Tanya Hilda dengan enteng.
“Tch.” Dengan kesal Yuu menuruti ucapan Exorcist di hadapannya, berteleport menuju lapangan parkir.
Tumpukan putihlembut di mana-mana. Alam menjadi serba putih dengan kencangnya kecepatan angin. Badai salju yang diperkurakan benar-benar terjadi sejak beberapa menit yang lalu.
“Hahh… syukurlah aku memakai celana. Jika memakai rok mungkin aku sudah mati kedinginan sekarang.” Hilda mulai mengatakan omong kosong.
“Berhenti bicara Exorcist!” Yuu diluar kesabarannya mengeluarkan sebuah tembakan-tebakan sihir berwarna ungu.
Memiliki refleks yang bagus, Hilda menghindari empat tembakan yang dilancarkan iblis di hadapannya.
“Hei kau mau main tembak-tembakan dengaanku? Baiklah… aku juga punya… tapi peluruku… berwarna putih…” Hilda membentuk jari kedua tangannya seperti pistol—“BANG!”—dan dua buah letupan sihir keluar dari kedua jari telunjuk Hana, melesat ke arah Yuu.
Dengan alam yang serba putih, tembakan Hilda yang berkecepatan tinggi tentu saja semakin sulit untuk dilihat.
PSYAT
PSYAT
PSYAT
PSYAT
Keempatnya dengan tepat mengenai kedua tangan dan kaki Yuu. Menahan tubuh Yuu pada dinding belakang departemen store.
“Haaah… sudah kuduga melawan kalian sama sekali tidak bisa membuatku hangat,” desah Hilda malas.
Yuu masih berusaha keras melepaskan tembakan sihir Hilda, namun sepertinya peluru sihir itu menancap dalam ke tembok.
“Sudah sudah, sebentar lagi kamu bebas kok.”—TEP. Tangan Hana yang bersarung tangan Abschleppen Geist menyentuh kepala Yuu.


“Keberatan jika memberikan Y-Eins padaku Yoshiki?” Tomuro tengah berlari di samping Yoshiki. Keduanya berlari dengan kecepatan yang tidak bisa dinalar oleh pemikiran manusia.
“… Jangan gegabah.”
“Di depan!”
Yoshiki segera melompat menjauh. Berlari ke arah lain.
Langkah kaki Tomuro terhenti. DI hadapannya, berdiri seorang pemuda berambut abu-abu.
Seringai menghiasi bibir Tomuro. “Wajahmu tidak jauh berbeda dari pria tua itu.”
Alis gelap pemuda itu mengernyit, menatap tidak suka pada sosok iblis di hadapannya.
“AKAN KUPENGGAL LEHERMU!!” Arashi Tomuro merentangkan kedua tangannya lebar. Seketika angin besar berkecepatan tinggi berhembus ke arah Yosef Strauss.
“Kekuatan dari wakil Lucifer memang hebat.” Di hadapannya. Iblis gelap yang tengah menguarkan aura hitam kematian itu adalah iblis yang telah membantai kakeknya dua belas tahun lalu. Api dendam dalam dirinya berkobar seketika.
“Dendam hanya akan menimbulkan dendam yang lain.” Ucapan Hilda terngiang di kepalanya.
Bibirnya membentuk senyuman tipis. “Terima kasih, Hilda.”
“Abschleppen Geist!” Tangannya ia angkat ke atas. Munculah sebuah lingkarang sihir putih yang berjalan turun kea rah tangannya. Memunculkan sebuah pedang dalam genggaman tangannya.
“Oh, benda yang sama dengan milik Yehuda.” Ucap Tomuro dengan kekuatannya yang meluap-luap.
“Ini memang milik kakek. Beliau mewariskannya padaku. Agar aku juga bisa, menghapus keberadaan kalian—Iblis—di dunia ini.” Yosef melesat ke arah Tomuro.
Langkah Yoshiki terhenti.
Di hadapannya berdiri tiga Exorcist telah menggenggam Abschleppen Geist mereka masing-masing.
“Hn…” guman Yoshiki malas.


“Selamat siang.”
Sebuah suara menginterupsi keempat sahabat yang tengah asyik memakan cheess cake mereka.
“Ah ya?” Yui dengan sopan bertanya.
“Apa Cheess Cake-nya enak?” Hilda dengan senyumanya bertanya.
Hana yang baru saja memakan cheess cake dengan garpunya, tertegun begitu melihat sosok Hilda di hadapannya.
Tidak salah lagi, dia Exorcist yang waktu itu menyerangnya di malam tahun baru. Mata Hana membulat sempurna. Cheess cake dalam kerongkongannya ia telan perlahan.
‘Gawat…’
“ENAK! SANGAT ENAK!” Teriak Shiro.
“Kalau begitu syukurlah, sepertinya aku harus menyampaikan pada temanku jika kalian menyukai kuenya.”
“Eh? Anda teman paman yang waktu itu?” Tanya Maki.
“Ah…” Bibir Hilda membentuk senyuman yang ditekuk.
‘Paman katanya?’ batin Hilda shock. Dalam kepalanya terbayang sosok Yosef. ‘Dia memang terlihat sangat dewasa untuk ukuran remaja sepertinya.’
“…Ya.” Sambung Hilda.
“Wah! Kalau begitu pas sekali! Tolong sampaikan rasa terima kasih kami padanya!” Yui menyahut.
“Tentu saja. Sebagai rasa terima kasih, kamu yang di sana, bisa ikut aku dan membantuku?” Hilda menunjuk Hana yang duduk agak jauh dari Hilda.
Kelopak Hana sama sekali tidak berkedip sekali pun. Dirinya terlalu shock.
‘Bagaimana ini? Dia ada di sini. Apa dia akan menangkapku? Yoshiki-kun? APa sesuatu terjadi dengan Yoshiki-kun? Apa mereka akan membunuhku?’
“HANA! Dengarkan orang yang berbicara padamu!” teriak Shiro yang duduk di hadapannya
“Hei, Hana!” Maki menyikut tangan Hana pelan.
“Eh?” Hana akhirnya berkedip dan kesadarannya sepertinya telah kembali.
“Ah… I-Iya…”

-TO BE CONTINUTED-
Read More ->>

Jumat, 11 Desember 2015

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 2]

CHAPTER 2: DECLARATE THE WAR!
Deru salju ribut memenuhi langit malam. Kuroto Yoshiki yang baru saja mengeratkan mantel tebalnya dan hendak memasuki kursi belakang Audi Hitamnya tiba-tiba berhenti bergerak.
“Exorcist.” Mulutnya menggumankan sebuah kata.
Tap. Benar saja, dari arah belakangnya sebuah sepatu pantofel putih muncul dari arah gelapnya gang gedung.  Walau begitu kepaa sombong Yoshiki sama sekali tidak menoleh guna menatap siapa sosok bermantel putih di belakangnya.
“Sudah kuduga kau pasti akan menyadariku Kuroto Yoshiki,” baritone itu memecah ributnya badai salju.
“Yosef Strauss. Y-1. Apa maumu?” Tidak diturunkannya sama sekali satu oktav pun suaranya yang penuh kesombongan itu.
Pemuda berambut abu-abu itu tersenyum tulus. “Tolong jangan sebutkan kode itu di sini. Aku sedang tidak mengenakan seragam tugas.”
“Itu bukan jawaban pertanyaanku.” Dengan cepat dan datar Yoshiki menyahuti ucapan pemuda itu.
“Ah, maaf,” mata abu-abu pemuda itu agak berkilat. “Sebenarnya…kehadiranku di sini adalah soal… pengibaran bendera perang karena kau telah lancang melakukan perjanjian darah pada Rayumi Hana.”
Kuroto Yoshiki telah berbalik sempurna menghadap Yosef Strauss. Bola mata hitamnya telah menjadi semerah azure dan menatap rendah siapapun yang ada di hadapannya.
“Hn. Mungkin aku harus mengoreksi kata-katamu. Dia Kuroto. Kuroto Hana.”
“Kami berencana merebut Rayumi Hana,” dengan tenang Yosef Strauss menyelesaikan kalimat perangnya.
Sampai kapanpun, pihak Exorcist tidak akan pernah mengakui jika si sumber kekuatan telah berhasil dimiliki oleh iblis yang notabene adalah musuh abadi Exorcist.
Yoshiki terdiam untuk sejenak. Rahangnya mengeras. Ekspresinya menjadi kaku. Tatapannya semakin tajam.
Ini buruk. Miliknya benar-benar terancam sekarang.
“Tidak akan kubiarkan kalian merampas milikku.”
Yosef Strauss tersenyum tipis. “Dengan begini bendera perang telah dikibarkan. Kalau begitu, selamat malam Mr. Kuroto,” dan sosok itu berbalik, menghilang ditelan bada salju.
Untuk sejenak tatapan kaku Yoshiki terus mengamati hilangnya sosok pemuda asal Israel itu. Hingga bayangan yang terlihat benar-benar tidak ada, barulah Yoshiki memasuki mobilnya.
“My Lord?” Supir Yoshiki yang sejak tadi ikut mengamati perbincangan kedua pria berkekuatan penuh itu akhirnya angkat bicara. Menanyakan keputusan tuannya.
Tidak ada jawaban dari Yoshiki. Sungguh, moodnya benar-benar menjadi buruk sekarang. Hanya tatapan kebencian yang menguar dari kedua bola matanya yang telah menjadi hitam.
Mengethaui kondisi tuannya tidak bisa dipertimbangkan lagi, tanpa banyak bicara lagi sang supir mulai memanaskan mesin mobil dan kemudian melajukan mobil itu membelah outihnya jalanan.
Pandangan Yoshiki teralih pada jendela gelap yang menampakan alam serba putih di luar sana. Sekilas matanya menghadap jam tangannya. Benar juga, hari ini, dua tahun lalu adalah pertama kalinya dia menunjukan diri di depan Hana.
Begitu banyak terjadi kenangan dan kejadian yang telah ia lalui bersama permepuan tomboy itu. Dan sekarang, musuh abadinya, para Exorcist sialan itu berencana merebutnya. Tidak bisa. Ini tidak bisa dibiarkan—kedua genggaman tangan Yoshiki mengepal erat.
---
“Tomuro!” Suara berat Yoshiki memenuhi tempat pelatihan selatan. Di ujung sana, seorang pemuda berambut merah menyala tengah memumunggui Yoshiki dengan mantel hitamnya.
“Apa lagi?” sahut Arashi Tomuro dengan malas. Tidak berbalik sedikitpun, sibuk dengan pekerjaannya yang entah apa itu.
“Yosef Strauss mendatangiku.”
Ucapan datar barusan sukses membuat kepala merah itu berbalik menghadap sang lawan bicara dengan ekspresi cukup kaget. “Y-1?”
“Hn.”
“Untuk apa dia menemuimu Yoshiki!?” kakinya melangkah mendekati Kuroto Yoshiki.
“Mengibarkan bendera perang. Mereka menginginkan milikku.” Geraman tertahan terselip dari bibir Yoshiki.
“Jadi Exorcist tidak menyerah?” kerutan di alis Tomuro tercetak jelas.
“Hn.”
“Jadi, apa yang akan kita lakukan My Lord?” salah satu alis Arashi Tomuro naik, menunggu jawaban dari tuannya.
Kedua tangan Yoshiki mengepal erat. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh milikku barang seujung rambut pun.”
“Perintahmu?”
Tatapan Yoshiki sekarang dengan mantap menatap wakilnya. “Arashi Tomuro, bawa semua pasukan untuk melindungi milikku!”
Senyum Arashi Tomuro mengembang jelas. “Yes, My Lord!”
---
Dengan langkah tergesa, kedua kaki hitam itu melangkah menuju perpustakaan utama. Onyx hitamnya menjelajah dengan cepat setiap sudut luas perpustakaan miliknya. Menemukan sosok berambut hitam pendek di sana.
Itu dia. Wanitanya itu sedang duduk di kursi. Tengah memainkan sebuah game pada ponsel pintarnya.
“My Lady?” Gumanan datar itu lantas membuat perempuan berambut hitam itu menghentikan aktivitasnya. Mem-pause game misteri dalam ponselnya, dan menolehkan kepalanya kepada sumber suara.
“Ah, Yoshiki-kun!” Layaknya anak kecil, Kuroto Hana menghambur kea rah sang suami dan memeluknya erat.
Senyuman tipis menghiasi bibir Yoshiki. Tangannya tanpa bisa menahan lagi, mengusap rambut pendek perempuannya itu.
Kepala hitam itu mendongkak menatap wajah datar Kuroto Yoshiki. “Uhm? Ada apa Yoshiki-kun? Kau terasa aneh…”
Yoshiki terdiam. Sepertinya dengan dirinya yang telah menjadi iblis, mulai bisa merasakan perasaan di sekitarnya.
“Hn, Exorcist… mengibarkan bendera perang.”
Saphirre itu terbelalak lebar. “Kenapa? Sekarang kenapa lagi!? Bukankah aku sudah melakukan perjanjian darah!?”
Tak kuasa menatap ekspresi bersalah itu, Yoshiki kembali merengkuh tubuh Hana ke dalam pelukannya.
“Mereka… berusaha mengambilku dariku…” ada sedikit geraman ketakutan di setiap ucapan Yoshiki. Walaupun dirinya pasti akan berusahan menjaga miliknya ini hingga titik darah penghabisan, ada saja perasaan takut kehilangan perempuan yang dipeluknya erat itu.
“…” Tidak ada sahutan dari Hana.
“Aku akan melindungimu My Lady… tidak akan kubiarkan mereka menyentuhmu barang seujung rambut pun,” pelukan Yoshiki semakit erat. Seolah memenjarakan Hana dan menjaga Hana dalam pelukannya.
“Yoshiki-kun…”
“Hn, jangan khawatir. Pertempuran ini tidak akan lama. Aku akan menyingkirkan mereka semua.”
***
Keesokan paginya. Fajar menyingsing dengan terangnya. Menyinari bumi ini tanpa ampun, menerangi setiap sudut gelap Tokyo.
Kuroto Yoshiki dengan jubah hitam yang telah lama tak digunakanannya tengah sibuk memantau dan membuat rencana bersama Arashi Tomuro. Di kanan kiri terlihat banyaknya prajurit yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mansion Yoshiki benar-benar dalam mode darurat perang.
Sementara itu Kuroto Hana hanya bisa mengintip dari kejahuan keributan di luar mansion. Hiruk pikuk para prajurit yang tengah membakar semangat mereka memekakan telinga.
Tentu saja, Kuroto Yoshiki segera menyadari keberadaan istrinya yang tengah mengintip tersebut. Dengan segera dihampirinya.
“Hn, apa yang membuatmu kemari My Lady? Apa Misaki meninggalkanmu?” tangan kekarnya mengusap lembut pipi tan perempuan itu.
“Yoshiki-kun…”
“Hn?”
“Apa aku tidak bisa membantumu?”
Pertanyaan itu seketika membuat Yoshiki tercekat.
“Apa kau sudah berhenti menggunakan otakmu My Lady?” Yang benar saja. Dirinya berusaha agar perempuannya ini tidak sampai tersentuh mereka. Sekarang malah perempuannya ini datang kepadanya, meminta ikut campur dalam pertempuran bagaikan memberikan makanan kepada singa lapar.
“T-Tapi… setidaknya aku ingin berguna!”
Yoshiki mengertiarti tatapan bersalah yang diberikan oleh istrinya itu.
“Aku bisa menanganinya sendiri My Lady,” tangannya bergerak mengacak kepala hitam istrinya itu.
“T-Tapi—“
“Tunggu aku. Berikan aku pelukan setelah aku menghabisi mereka. Jika kau memang ingin berguna, maka lakukan itu.”
“Yoshiki?” Suara tergesa dari Arashi Tomuro menginterupsi keduanya.
“Hn?”
“Exorcist mulai bergerak. Mereka menuju distrik barat di mana ada padang rumput luas di kaki gunung. Mereka memilih lokasi tersebut karena jauh dari pemukiman.”
“Hn. Pasukan mereka?”
“Barisan pertama Lithium-41 dikepalai Asimov, A-56.”
Onyx gelap Yoshiki sedari tadi terus menangkap pancaran kebahagiaan dari raut wajah wakilnya. Tentu saja otak cerdasnya segera memangkap isi pikiran dari wajah kebagaiaan itu.
“Cepat berikan perintahmu Yoshiki!” Bahkan dia bicara seperti itu dengan raut wajah seolah kehausan, haus akan pertarungan berikutnya, haus akan lawan yang kuat, haus bertarung sekuat tenaga dan melepaskan rasa kebosanannya.
“Ini catur Tomuro. Jendral perang pihak Exorcist kali ini adalah Yosef Strauss. Dia menggunakan pasukan Exorcist rendahan layaknya sebuah bidak catur. Dan tentu saja, bukankah lebih baik kau saja yang turun tangan untuk bermain catur dengannya?”
Kalimat Yoshiki yang bernada rendah itu sukses membuat Tomuro kegirangan.
“Akan kupastikan mereka bertekuk lutut padamu My Lord!” Tatapan azure Tomuro dengan yakin membelah gelapnya onyx Yoshiki.
“SK-9 bergerak. Tenggara distrik Selatan!”
Begitu perintah itu turun. 10 iblis segera melesat meninggalkan mansion.
“Baiklah… mari kita lihat seberapa cerdas dirimu Yosef Strauss,” seringai Tomuro melebar.
---
“Bawa pasukan Copper-74 untuk berikutnya.” Dengan tenang, Yosef Strauss duduk di kursinya dan memimpin jalannya peperangan.
“Lalu Xeon-13 ke barat daya.”
“Bukan kah itu terlalu cepat Y-1!?” Sela sosok berambut pirang panjang.
“Kita harus bergerak cepat W-6, dilihat dari pergerakan prajurit iblis itu, yang menjadi jendral kali ini adalah dia.”
“Dia?”
“Ya. Dia. Iblis gila yang waktu itu memenggal kepala Yehuda Strauss, kakekku,” Kerutan kepahitan mengisi wajah tan Yosef Strauss, “Arashi Tomuro.”
---
“Cerdas! Dia cerdas! Selanjutnya MG-55!”
Membayangkan betapa hebatnya lawannya kali ini saudah mampu membuatnya merasakan getaran pada tubuhnya.
Akhirnya—Akhirnya ada yang sebanding dengannya, walaupun ini hanya masalah strategi dan pikiran. Setidaknya lawannya kali ini sudah hampir membuat jantungnya kembali berdetak kegirangan.
“Yosef Strauss eh?” bersamaan dengan munculnya kenangan dimana dirinya dulu berhasil mengalahkan si peringkat pertama Exorcist 12 tahun lalu, bibirnya menyeringai.
---
Pertikaian di mana-mana. Detingan logam menggema di antara sunyinya gemerisik daun. Sabetan benda tajam bergemirincing menyahuti.
Seolah Distrik Selatan telah menjadi medan perang utama, pasukan Exorcist dan pasukan iblis bertarung habis-habisan. Tanpa ampun. Tanpa menyerah.
“Matiii!” Pekikan kutukan menggema di mana-mana.
Abschleppen Geist menyegel setiap iblis yang bersentuhan dengannya. Sebuah senjata dengan bebagai macam itu adalah Rosario bagi para Exorcist.
Membantai atau disegel. Hanya itu pilihan bagi para iblis.
Udara dingin, dan salju yang perlahan mulai turun di hari itu menjadi saksi kegilaan dunia yang tidak bisa diraih dan dinalar oleh manusia biasa. Perang dingin antara hitam dan putih.
“Serahkan Rayumi Hana, maka perang ini berakhir. Kalian akan tersegel jika terkena Abschleppen Geist.Jangan sia-siakan kehidupan yang diberikan Tuhan untuk kalian.” Ucap seorang Exorcist berbando M-112.
“Ceh. Kau pikir kami peduli? My Lord yang memberikan kehidupan untuk kami. Dan My Lady adalah ratu kami. Jika kalian berharap kami menyerahkan My Lord? Kalian sedang bermimpi!” Dengan yakin sosok pria paruh baya menghardik Exorcist di hadapannya.
Tangannya menarik pedang dari sarungnya dan mengarahkan kepada sang Exorcist M-112. Tapi dengan cekatan M-112 menangkisnya dengan tali baja yang menjadi Abschleppen Geist-nya.
–KIIIIINGG!!!
Sementara itu, di daerah lain, suasana tak jauh berbeda menjadi kenampakan yang tak asing.
–TSUB!
Sebuah paku yang ternyata berupa Abschleppen Geist menusuk dengan tepat pada kepala Troll berwujud manusia.
“—Gwaaah!” Sinar muncul dari paku tersebut dan menghilangkan sang Troll dalam sekejap.
“Fyuuuh…” Esxorcist berbando J-407 mengambil paku tersebut sembari menghela nafas.
Namun sayangnya Exorcist itu terlalu bodoh untuk menyadari jika ada sesosok warewolf dari arah belakangnya tengah mengendap-endap dengan dengan air liurnya yang menetes-netes.
–Sraak
Detik berikutnya, kepala Exorcist malang itu telah berada dalamkunyahan gigi-gigi tajam warewolf itu. Tubuhnya terjatuh dengan pendarahan luar biasa pada lehernya.
---
Tenggelamnya matahari membuat para pasukan Exorcist menarik diri dari gelapnya suasana hutan distrik selatan. Penarikan pasukan pada malam hari adalah hal umum dalam peperangan. Apalagi bagi para Exorcist yang sebenarnya hanyalah manusia biasa yang dipercaya dengan iman mereka memegang Abschleppen Geis untuk menyegel iblis yang pada dasarnya tidak bisa dibunuh.
Pertarungan hari pertama:
Exorcist kehilangan 422 nyawa
390 Iblis tersegel
Hasil yang setimpal untuk sebuah pengorbanan melindungi sesuatu yang berharga.
“Bagaimana Tomuro?” Kedua tangannya ia silangkan di depan dadanya, Kuroto Yoshiki bersandar di daun pintu ruang strategi.
Arashi Tomuro yang tengah duduk di kursi putarnya, memutar kursi tersebut hingga dirinya menatap tuannya.
“Mereka menarik diri. Tentu saja.” Bicara dengan kesombongannya dan mengendikan kedua bahunya.
“Hn. Perang belum berakhir.”
“Aku tahu. Aku juga sedang merencanakan strategi untuk besok.”
“Hn…”
“—Exorcist diperbolekan memiliki dendam eh, Yoshiki?” Langkah Yoshiki yang hendak meninggalkan ruangan strategi terhenti mendengar pertanyaan Tomuro.
“Yosef Strauss?” Yoshiki malah balik memberikan pertanyaan Tomuro.
“Yah…” Arashi Tomuro menangguk.
“Seharusnya, jika dia memang anak-Nya, dia tidak boleh menyimpan dendam,” sahut Yoshiki dengan datar. Tidak peduli.
“Tapi sepertinya anak yang satu ini cukup nakal sehingga dia diam-diam menyimpan dendam padaku yang telah membunuh Yehuda Strauss 12 tahun lalu.”
“Tomuro… jangan sampai termakan jebakan.” Setelah mengucapkan kalimat ambigu itu, Yoshiki benar-benar meninggalkan ruang strategi.
Tomuro hanya terdiam di kursinya. Entah mengerti apa arti ucapan Yoshiki barusan.
---
“A-Zwei… aku bosan,” seorang Exorcist perempuan berambut pendek berwarna kuning kecoklatan tengah meregangkan tubuhnya bagai kucing yang baru bangun tidur.
“Duduk di tempatmu kembali H-Funf!” Dengan jengkel pemuda berambut putih itu menyahuti.
“Tidak mau A-Zwei! Pantatku panas!”
“Bersabarlah, kita akan segera memenangkan peperangan ini.”
“Mana bisa menang jika kita hanya menonton seperti ini!? Hei Y-Eins kapan kita maju!?”
“H-Funf, bukankah aku sudah mengatakan semuanya dalam rapat kita empat hari yang lalu?” Yosef Strauss hanya membalas dengan senyuman.
“Ah, yang itu? Maaf aku ketiduran. Tee-hee,” Hilda mengggaruk pipinya yang tidak gatal lalu menjulurkan lidahnya tanpa dosa.
“Sudahlah. Kau hanya perlu mengikutiku saja.” Sahut Aidrin.
“Ah, begitu? Baiklah.” Jawab Hilda polos.
“Aku percaya padamu Y-Eins. Dengan rencana ini Rayumi Hana akan berhasil kita ambil.” Seorang berlogat Cina berbando lengan X-3 ikut andil.
“Ya, rencanamu luar biasa Y-Eins,” sambung seorang pemuda berambut blonde berbando lengan M-4.
-TO BE CONTINUTED-
Read More ->>

Jumat, 04 Desember 2015

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 1]

Chapter 1
Something Trouble: Yoshiki makan makanan manusia!?

Rayumi Hana--ralat--Kuroto Hana dengan tatapan bosannya mulai menyapu seluruh penjuru kelas.
Blazer biru yang dulu dikenakannya telah berganti warna menjadi merah, menandakan dirinya telah menaiki satu tingkatan kelas.
Ah... semakin hari semakin tua saja rasanya. Saphire jernih itu nampak memikir kedepan. 'Dirinya tidak akan menjadi tua.' Sebuah kalimat yang sebenarnya cukup mengerikan terlintas di benaknya.
Jika berpikir singkat maka kalimat tersebut adalah kabar gembira. Namun jika dipikirkan lebih dalam... kalimat itu adalah mimpi buruk. Hana tahu itu. Ia sudah sangat lama terpikirkan hal itu sejak ia mulai memutuskan menyerahkan dirinya kepada sang iblis.
"Hhhh... sudahlah dijalani saja...." perempuan berambut pendek itu menghela nafas lesu.
"HANAAAAA!!!"
Dari arah pintu kelas, masuk seorang makhluk berambut putih dan menyerbu Hana seketika.
Hana yang mengetahui hal itu hanya menghela nafas bosan dan berusaha tak menggubris makhluk yang baru saja muncul.
"OHAYOU HANA!" Ucap Shiro bersemangat.
"Ohayou Shiro" jawab Hana.
"Wah akhirnya Shiro si jam karet datang" ujar Maki. Dari arah depan Maki dan Ida datang bergabung.
"Huum! Shiro bukan karet dan Shiro tidak terlambat!" Ujar Shiro dengan menggembungkan kedua pipinya.
"Hn." Tiba-tiba sebuah gumanan dingin terdengar. Serempak keempat pasang mata itu tertuju ke arah pengguman.


Kuroto Yoshiki tengah berdiri dengan dada bidangnya yang kokoh. Sungguh sangat cocok dengan jas merah yang dikenakannya.
"OHAYOU KUROTO-KUN!" Dengan semangat Maku mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengucapkan salam.
Yoshiki sendiri tak terlalu peduli dengan perempuan albino itu. Kakinya melangkah mendekati meja sang kekasih.
"Hn, kau lapar?" Tanya Yoshiki tiba-tiba.
"Tidak, aku baik-baik saja" Hana tersenyum mendongkak menatap Yoshiki.
"Hn..." Setelah berguman sebentar pria dengan rambut raven jaged itu segera menuju bangkunya.
"Apa maksudnya itu Hana? Kau belum sarapan?" Maki bertanya.
"Um? Ah ya sepertinya begitu... haha" Hana tertawa canggung. Mustahil kan dia bilang hal yang dimaksud Yoshiki adalah 'memakan jiwa manusia'?
"Hei hei nanti mau mencoba berkeliling?" Celetuk Maki.
"Buat apa?" Sahut Yui.
"Ya tentu saja.... mencari junior idaman lah~"
Yui memutar bola matanya bosan. "Hhh..  kau itu tidak berubah. Karena Kizu-senpau sudah lulus kau sekarang mau mencoba menggaet junior!? Astaga Maki..."
"Ah biarin, Yui kan cantik jadi tidak perlu ikut mencari," Maki mengerucutkan bibirnya ke arah Yui dan mengapit lengan Hana, "Kau mau kan Hana?"
Hana sweatdrop menatap Maki. Dengan tangan lainnya di dorongnya tubuh Maki. "Iya iya! Menjauh dariku Maki! Kau menjijikkan!"
***
"Waah yang itu tampan~" ujar Maki dengan wajahnya yang memerah. Siswi bermata jade itu sekarang tengah menopang dagu pada jendela kelas.
Hana dan Yui hanya bisa menatap kelakuan teman pirangnya itu dari belakang dengan tatapan sweatdrop dan tangan dilipat di depan dada mereka.
"Dan setelah dia menarikku dan membuatku malu di depan siswa baru dia akhirnya juga merasa malu dan memilih hanya melihat dari sini" ucap Hana dengan menahan kedutan kesal pada dahinya.
"Kau benar" timpal Yui.
Sementara Shiro?
"Loh ya... kemana Shiro?" Tanya Hana.
"Ah tadi katanya ke klinik untuk bertemu Tomoaki-sen--"
"YAHOOO!!" Belum sempat Yui menyelesaikan kalimatnya, orang yang beraangkutan sudah muncul dengan teriakan khusuanya.
Hana sweadrop. "Shiro, dari mana saja kau?"
"Shiro habis meninju junior yang memberikan hadiah kepada Araide-kun!" Ujar Shiro dengan mengepalkan kedua tangannya lalu meniru gaya petinju.
Yui sweatdrop. "Memangnya seperti apa?"
Shiro menghentikan kegiatannya. "Yah... Araide-kun bercerita dia menerima jam tangan dari seorang junior, lalu hari ini ketika aku berkunjung ke klinik junior itu tiba-tiba masuk klinik dan memberikan sebuah jaket kepada Araide-kun! Langsung saja kutinju muka perempuan itu!"
"Ha... Ha..." Yui dan Hana sweatdrop.
"Omong-omong Hana, aku melihat Kuroto-kun di dekat kantin. Dan banyak junior yang mengikutinya" Shiro menatap Hana dengan tatapan polos.
"Ap--" Belum sempat Hana melanjutkan kalimatnya. Suara gaduh dari luar kelas menghentikan kalimat Hana dan membuat kepalanya menoleh ke sumber suara.
Mata itu bertatapan. Saphire dan Onyx. Biru dan Hitam. Langit pagi dan lagit malam.
Entah kenapa tubuh Hana sama sekali tak bergerak. Kepalanya masih menengok dan menatap keriuhan di ambang pintu kelas.


Di sana, Kuroto Yoshiki tengah diikuti oleh 3-4 junior dengan berisik.
Sementara Yoshiki sendiri hanya memasang tatapan datar dan tangan kanannya membawa sebuah jus tomat kotak untuk diminum dengan sedotan. Kaki jenjangnya berjalan memasuki kelas. Dan... pria itu duduk dengan santai di bangkunya.
Ekor mata Hana hanya bisa mengamati pria jaged itu. Bisa dilihat setelah itu Suzaku yang duduk di depan Yoshiki menoleh ke belakang lalu berbicang entah apa.
"Kuroto. Namanya Kuroto Yoshiki"
"Dia tampan..."
"Benar, dia keren."
"Sudah punya pacar belum ya?"
Gumanan-gumanan dari junior yang mengikuti Yoshiki terdengat sangat keras sejenak lalu perlahan menghilang setelah semua junior itu memutuskan untuk meninggalkan kelas 3-1. Jujur saja, telinga Hana seperti terbakar rasanya begitu mendengar pembicaraan junior itu.
"Wah susah juga ya punya kekasih yang terlewat keren itu" goda Yui.
"Hana! Kau jangan mau kalah! Kau harus menunjukan kekuatan Unlimited Blade Works*!" Shiro menimpali.
"Huh jangankan Unlimited Blade Works, bahkan Holy Grail* akan kudapatkan untuk membunuh mereka!" Hana mendelik kesal.
------
"Haaaah sial aku lupa bagaimana cara menyelesaikan ini!" Dengan mengacak rambut pendeknya frustasi Hana menggerutu sambil menghantamkan punggungnya pada kursi.
Sepasang mata kelam sesekali melirik ke arah perempuan berambut pendek itu.
Sebuah guratan siku muncul di kening Hana. "Apa lihat-lihat!?"
Yoshiki menegakkan tubuhnya dan merapikan jasnya. Disandarkannya punggung lebarnya pada kursinya. "Hn, ada apa My Lady? Kau kesusahan?"
"Cih, jangan sombong karena kau menguasai semua materi pelajaran!" Decak Hana gusar.
"Hn, tidak hanya materi pelajaran. Semua pengetahuan di bumi ini, aku mekilikinya"
"Yeah-- yeah-- siapa yang tidak mengenal tuan Kuroto Yoshiki sang raja iblis yang agung, cerdas, luar biasa"
Yoshiki menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Hana. "Sepertinya kau memiliki masalah, kau terlihat sensitif. Apa kau sedang datang bulan?"
Kedutan seperempat bertambah lagi di kepala Hana. Sayang sekali di kanan kirinya tidak ada benda yang bisa dilempar ke arah wajah tampan suaminya.
"Aku tidak sensitif..." getaran emosi kesal terdengar jelas pada setiap penekanan kata yang diucapkan Hana. "Dan... tidak sedang datang bulan!"
"My Lord, sudah waktunya" setelah berselang beberapa detik dari ketukan pintu ruang kerja Yoshiki, munculah Tomuro.
"Hn," Yoshiki segera bangkit dari tempat duduknya dan merapikan dasi beserta jasnya. Sebelum sempat meninggalkan ruang kerjanya Yoshiki berhenti tepat di depan meja Hana yang tak jauh dari pintu.


"Hn, aku akan pulang cepat dan membantumu belajar. Chu~" Dalam satu kedipan mata, Yoshiki sudah berada di depan Hana dan mengecup bibir ranum Hana.
"Eh?" Seaakan seluruh darah di tubuhnya mengalir ke atas semua memenuhi kepalanya.
Klek.
Setelah Yoshiki menutup pintu ruang kerjanya barulah terdengar suara dari dalam sana. "DASAR BAKA YOSHIKI!"
------
Bel istirahat baru saja berbunyi. Kagetane-sensei telah meninggalkan kelas, tak lupa meninggalkan setumpuk tugas juga.
Hanya menutup bukunya dengan malas.
"Hhhh..." dirinya menghela nafas panjang. Kenapa? Entah siapa yang tahu.
Diraihnya tasnya dan dimasukkannya buku-buku yang tadi menjadi materi pelajaran.
"Uhm?" Tiba-tiba kepala Hana mendongkak dan menoleh kebelakang. Itu Yoshiki, Yoshiki baru saja pergi keluar kelas.
Dengan cepat dimasukannya semua buku yang berantakan pada mejanya lalu menarik Yui yang hendak memakan bento-nya.
"HEY! Hana! Ada apa sih!? Aku sedang makan tahu!" Rengekan Yui tak diperdulikan sama sekali. Keduanya terus berjalan mengikuti Yoshiki diam-diam.
Setelah menduduki sebuah meja dengan letak cukup strategis, Hana kembali mengamati tingkah Yoshiki.
"Hei, ada apa sih? Kau membuang waktu makan siangku, jika ini tidak penting aku akan menggantungmu di kelas" Yui berbisik kepada Hana.
"..." Hana tak menjawab, dia masih sibuk mengamati Yoshiki. Sekarang pria-nya itu sedang mengantri pada sebuah stand.
"Hana?"
"..."
"Rayumi Hana-san!" Yui agak mengeraskan suaranya.
"Eh ya? Aku memgamati Yoshiki-kun" Hana menjawab dengan cengo.
"Hah!? Mengawasi!? Untuk apa!?"
"Yoshiki-kun makan di kantin" mata Sapphire Haba masih sibuk mengamati pergerakan Yoshiki.
"Lalu kenapa? Bukannya itu normal? Mungkin dia tidak membawa bento dari rumah"
Hana tak menggubris ucapan Yui. Seandainya Yui tahu, bahwa Yoshiki adalah raja iblis! Untuk apa raja iblis yang tak membutuhkan makanan manusia membeli makanan manusia di kantin sekolah!?


Yoshiki yang duduk di meja paling pojok sendirian lantas menarik perhatian para hawa yang sedang asyik menikmati makanan mereka. Siapa yang tidak kelas Kuroto Yoshiki? Salah satu dari jajaran cowok tampan di Mirai no Gakoo. Apalagi yang satu ini cukup elit, dengan wajah yang err--luar biasa tampan, tubuh tegap, dada bidang, tatapan dingin, dan sikap cuek-nya membuat hampir seluruh kaum hawa di sini terpesona.
Nampan yang di bawah hanyalah berisi sebuah sandwich dengan ekstra tomat di dalamnya, dan sebuah jus tomat kotak.
Dengan tenang pria itu mulai memakan hidangannya.
Hampir seluruh pasang mata telah menatap Yoshiki hari ini. Dan setelah itu mulut mereka mulai menggumankan apa yang baru saja mereka lihat baik perempuan maipun laki-laki di sana.
"Hei bukannya dia Kuroto Yoshiki dari kelas 3-1?"
"Ya, baru pertama kali ini aku melihatnya ke kantin"
"Cih dia kemari hanya untuk tebar pesona pada perempuan, apalagi siswa baru" bisik para kaum adam.
"Hei hei... dia lumayan ya"
"Hottest! Sexyest! Dia siapa sih!!?"
"Mau coba ke sana? Duduk di sampingnya?" Seorang gadis dengan rambut pendek berwarna coklat bertanya kepada temannya.
"Ikut!"
"Aku juga!"
Dan jadinya, ketiga gadis berjas warna hijau itu kini berdiri di depan meja Yoshiki.
Yoshiki hanya memberikan tatapan datar pada ketiganya.
"Ano... boleh kami makan di sini?" Tanya gadis berambut coklat itu ragu-ragu.
"Hn..." Yoshiki hanya berguman datar. Sesungguhnya, dia sama sekali tidak perduli terhadap mereka.
"Namaku Mihiro Shodo!"
"Aku Yuka Kuze!"
"Kikuna Takimoto!"
Mereka bertiga memperkenalkan diri.
"Hn..." Yoshiki hanya berguman sembari meminum jus tomat kotak-nya.
"Lalu, siapa nama kakak?" Mihiro--si berambut coklat--mencondongkan diri ke arah Yoshiki.
"Kuroto Yoshiki" Yoshiki menjawab datar.
"Kakak suka tomat ya? Semuanya serba tomar" sambung Yuka.
"Hn..." lagi-lagi Yoshiki berguman malas.
"Kakak di kelas mana?"
"3-1" Jawab Yoshiki singkat, padat, dan dingin.
Ketika orang junior itu langsung terdiam. Sepertinya ini pertama kali bagi mereka menghadapi cowok dingin.
Mata Hana terbelalak melihat ketiga junior duduk dan bercanda di meja Yoshiki sekarang.
"Apa-apaan mereka!?" geram Hana.
Yui sendiri hanya bertopang dagu malas mengamati.
"Yoshiki-kun juga kenapa sih?" Hana semakin geram.
"Lihat dulu, wajah datarnya itu menunjukkan dia sama sekali tidak memperhatikan dan tidak perduli kepada para junior itu" Yui menimpali.
"Tapi kenapa Yoshiki-kun makan di kantin?"
"Entahlah. Kau kan kekasihnya! Harusnya kau tahu kenapa. Atau jika kau tidak ingin kekasihmu menjadi penarik perhatian di kantin, kau harus membuatkannya bento besok"
"Eh, benar juga" Hana mengangguk setuju.


"Begitu ya... oh ya, apa kau memiliki alamat email Yoshiki-san?" Kikuna sudah mengeluarkan ponselnya.
"Tidak ada yang mengizinkanmu memanggilku dengan nama kecilku. Dan lagi jika aku memilikinya apa yang akan kalian lakukan? Memintanya? Tch..." Yoshiki segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan kantin. Mungkin ketiga gadis itu perlu diperiksakan ke dokter setelah mental mereka dibuat 'down' oleh Yoshiki barusan.

Bersembunyi, mengintip, berjalan berjingkat, dan mengawasi. Sungguh tingkah Hana sekarang seperti seorang detektif bodoh yang baru saja dikeluarkan dari kepolisian.
"Yo, Kuroto," dari arah belakang sosok Suzaku muncul dan menepuk pelan pundak Yoshiki.
"Hn..."
"Kau darimana?" Pemuda berkulit gelap itu terus mempertahankan senyum di bibirnya.
"Kantin." Jawab Yoshiki singkat.
"Wah pantas tadi di sana cukup ramai, sepertinya itu ulahmu ya?"
"Hn..."
Sapphire Hana terus mengamati sampai kekasihnya itu menaikki tangga menuju lantai kelas mereka.
"Hhh... mau sampai kapan kau menjadi seperti penguntit?" Yui bersilang tangan sembari menghela nafas melihat tingkah Hana.
"Yui. Sarankan aku makanan yang banyak mengandung tomat" Hana menatap Yui yakin.

***

Masih menjadi sebuah misteri. Kenapa Yoshiki yang notabene raja iblis jelas-jelas tidak membutuhkan makanan dan minuman untuk kelangsungan hidupnya tiba-tiba minum jus tomat dan makan sandwich isi tomat di kantin. Aneh bukan? Bukan. Bukan tomat berlebihan yang aneh. Yoshiki memang suka tomat dan sangat membenci keju. Hana tahu itu.
Sudah berkali-kali Hana berniat menanyakan hal ini kepada Yoshiki, tapi hasilnya dirinya malah menjadi sensitif karena teringat bagaimana para junior mendekati kekasihnya.
"Cih, jika dia memang berniat menggoda mereka kali ini kau tidak akan bisa menggoda mereka Yoshiki-kun! Lihat saja!" Hana menatap Yoshiki dengan tatapan membara dari belakang--Hana duduk di bangku urutan ke 4 dan barisan ke 4 dari pintu kelas, dan Yoshiki duduk di bangku urutan ke 2 dan barisan ke 3 dari pintu kelas.
Entah karena Yoshiki memang merasakan tatapan Hana, tiba-tiba kepala raven-nya menoleh ke belakang dengan memasang sebuah seringai di bibirnya. Sungguh sex--tidak tidak! Sungguh sialan! Apa-apaan itu!? Apa dia sedang mempermainkannya!?
"Ohayou" Tiba-tiba sebuah tepukan pelan padan bahu Hana membuat fokus Hana berganti kepada si penepuk. Itu Yui. Sahabat berambut ungu gelap-nya itu baru saja datang dan meletakan tasnya di atas bangku di depannya.
"Bagaimana?"
"Mission 80% complete" jawab Hana.
"Berjuanglah. Biasanya bagian tersulit berada di akhir loh"
"Aku tahu." Hana menatap Yui yakin. Tangannya menggenggam kuat tasnya.



Bel istirahat yang ditunggu akhirnya terdengar juga.
Seperti harapan Hana. Yoshiki bersiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu belakang kelas--dan akan melewati bangkunya.
Dari luar kelas sudah terdengat riuh para junior yang sedari tadi terus mengintip dan berguman tak sabar. Membuat Hana semakin kesal dan rasanya ingin menendang mereka satu per satu.
Kedua telapak Hana terus menggenggam sebuah bungkusan dengan kuat. Jantungnya berdetak tak tentu.
Ini aneh. Kenapa dia harus bersikap berlebihan seperti ini? Yoshiki kekasihnya. Wajar bukan jika dia memberikan sebuah bento untuk kekasihnya? Astaga... sungguh, ini bukan seperti dirinya saja.
Tatapan tajam dan kelam Yoshiki terus menatap ke arah bangku Hana. Ia terus mengamati apa yang tengah Hana perbuat--walau sedari tadi Hana hanya menunduk.
Tap.
Yoshiki dengan kedua tangannya memasuki saku celananya itu akhirnya melewati bangku Hana dan terus berjalan keluar kelas.
"Hana!" Yui menghardik Hana dengan keras melihat ketololan Hana yang terus terdiam.
Srak.
Dengan wajah setengah yakin dan tidak yakin akhirnya Hana berdiri dari tempat duduknya dan berlari menyusul Yoshiki keluar kelas.
Tap.
Hana berhenti di depan pintu kelas. Menatap kekasih--suaminya tengah didekati dengan banyak perempuan.
"Kuroto-kun, aku membuatkan bekal untukmu" seorang gadis dengan rambut hitam panjang menyerahkan sebuah bento ke arah Yoshiki.
Tatapan Hana saat itu seolah berkata akan-kupotong-kepalamu-dan-memasukkan-kepalamu-ke-dalam-ring-basket-setelah-ini.
"YOSHIKI-KUN!" Hana berteriak tiba-tiba dengan cukup keras.
Seluruh perhatian dari seluruh siswa yang tengah berada di lorong seketika terpuasat ke arah Hana yang sekarang sedang menggenggam bento dengan kedua tangannya di belakang tubuhnya dan dengan wajah memerah, berkeringat, menahan debaran jantungnya.
Ada selang beberapa detik saat Hana berusaha menetralkan dirinya.
"Kenapa dia memanggil Kuroto-kun dengan panggilan begitu?"
"Apa dia memiliki hubungan dengan Kuroto-kun?"
"Apa-apaan perempuan itu!?"
Protes kecil-kecilan mulai terdengar dari mulut para junior.
Yoshiki masih menatap Hana dengan tatapan datarnya.
Sementara Yui, Maki, dan Shiro terus menonton adegan itu dari balik pintu kelas. Dengan tatapan yang sangat susah dijelaskan.
"...." Hana menyodorkan bento buatannya. Kepalanya ia tundukkan menahan ruam merah yang mendadak memenuhi kepalanya. Sial! Wajahnya terasa panas.
"Hn?" Yoshiki sudah tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum lagi.
"A-aku membuatkan bento untuk Yoshiki-kun!" Hana berusaha mengeraskan suaranya.
"Apa!? Tidak bisa! Kuroto-kun akan memakan bento buatanku!" Sang Junior merengek tidak terima.


Kaki Yoshiki melangkah ke arah Hana dan tangannya meraih bento di tangan Hana.
"Hn, sepertinya terlihat enak." Yoshiki berguman sambil memasuki kelas.
"Kenapa? Kenapa Kuroto-kun menerima bento darinya?"
"Siapa dia?"
Gumanan-gumanan kekecewaan memenuhi pintu belakang kelas 3-1.
"Oy! Jangan berisik di sini deh! Kembali ke kelas kalian!" Makoto Hasekura. Ketua kelas 3-1 yang memiliki rambut berwarna coklat kehitaman dan berkacamat itu menghardik para junior yang menurutnya membuat kelas 3-1 menjadi ramai dan rusuh.
Kini Hana sudah duduk di bangku milik Shiro--yang duduk di depan bangku Yoshiki--dengan posisi menghadap Yoshiki yang tengah memakan bento buatannya.
Hana hanya tersenyum saat Hasekura memberinya acungan jempol--tanda posisi sudah aman. Sungguh beruntung memasuki kelas 3-1. Satu kelas dengan ketiga sahabatnya, kekasihnya, kekasih sahabatnya, teman-teman terpercayanya, dan beberapa orang lain yang walaupun terlihat cuek namun tetap menomorsatukan kekeluargaan. "Thanks Hasekura."
"Hn... Kare tomat tidak buruk juga..." Yoshiki berbicara sembari mukutnya mengecap rasa asam yang menjadi favoritnya itu.
"Kau suka?"
"Hn... ini terbaik."
"Kalau begitu habiskan itu," Hana tersenyum tulus. "Dan... kau berhutang penjelasan padaku Yoshiki-kun," Hana menatap Yoshiki jengkel sekarang.
Yoshiki menelan gumpalan tomat pada kerongkongannya dengan agak kesusahan, lalu tertawa pelan. "Hn, akan kujelaskan sejelas mungkin."

"Jadi, bisa tolong kau jelaskan apa yang terjadi selama 4 hari ini Mr. Kuroto?" Hana duduk dengan santai di depan meja kerja Yoshiki.
"Tentu saja Miss Kuroto. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu." Sebuah seringai meluncur mulus pada bibir sexy pria dihadapannya.
Ruam merah pada pipi Hana mendadak muncul sesaat setelah melirik bibir empuk Yoshiki. "Aku tidak akan bertanya. Jelaskan saja semuanya dari awal," Hana meneguk ludahnya menahan kesal.
"Hn... Kishima Suzaku. Akhir-akhir ini aku mencium bau busuk Exorcist dari tubuhnya."
"Kau mau bilang Suzaku-kun adalah Exorcist?"
"Tidak. Dia hanya berbau Exorcist. Kemungkinan besar dia dekat dengan salah satu dari mereka."
"Lalu?"
"Dia belum mengetahui informasi mengenai kita. Tapi waktu itu dia sempat bertanya kepadaku mengapa ia tak pernah melihatku ke kantin untuk makan. Sebenarnya aku bisa dengan mudah membuatnya melupakan ucapannya itu. Tapi itu akan membuat hal merepotkan lainnya muncul."
"Merepotkan?"
"Hn. Exorcist akan mencium hal itu. Mereka akan bertindak. Aku malas menanggapi mereka."
"Hanya begitu?"
"Hn. Hanya begitu." Kembali Yoshiki mengulas senyuman tipis.
"Cih. Apa-apaan itu. Membuatku kerepotan saja," Hana mendecih kesal.
 "Hn... Mereka... para junior itu juga merepotkan."
"Huh apa bukannya kau malah senang?'
"Mereka berisik."
"Jadi.... sudah berapa junior yang mengirimkanmu email? Mereka meminta alamat emailmu kan?" Hana mematap Yoshiki curiga.
"Hn..." diletakknya ponsel pintarnya di atas meja. Ditatapnya Hana dengan tatapan 'periksa-saja-ponselku'.
"Ah... oke-oke. Sekarang sudah jelas~" Hana mendorong punggungnya ke belakang hingga bersentuhan dengan kursi.
"Hn. Jadi selama 3 hari terkahir ini kau menjadi sensitif karena kau cemburu?" Yoshiki tersenyum menyeringai.
"!!?" Wajah Hana mendadak memerah merespon pertanyaan Yoshiki.
"Hn, lain kali aku ingin kau membuatkanku salad tomat." Yoshiki tersenyum tipis.
"Ya... akan kubuatkan... dan akan kucampurkan Kalium Sianida di dalamnya!" Hana berteriak tsundere.
Read More ->>

Senin, 04 Mei 2015

Yami no Ai [Chapter 220]

Chap 220

Hana tersenyum tipis mendengar pertanyaan singkat Yoshiki.
"Kalau begitu lakukan saja..." ujar Hana dengan senyuman tipisnya.
Yoshiki mendekatkan dirinya pada tubuh Hana. Mengurangi jarak dinatara tubuh mereka hingga bersisa kurang dari 5 cm saja.
"Aku mencintaimu... My Lady..." guman Yoshiki tipis di depan wajah Hana.
Mendengar itu, kontan wajah Hana langsung blushing.
'clllk...' tiba-tiba sesuatu yang basa dan geli menjalari leher Hana.
Itu lidah Yoshiki yang tengah memainkan lehernya.
"U-uuh..." Hana meringis geli.
"My Lady? Kau tahu bagaimaa prosesi pertukaran darah kan?" Yoshiki menghentikan aktivitasnya sejenak.
Hana mengangguk memberi jawaban.
'llckk...' Yoshiki kembali memainkan lidahnya pada leher jenjang Hana yang di sana terdapat beberapa jejak kissmark buatannya.
"H-Haaah" Hana mendesah kecil menahan geli.
"My Lady... Aku mulai..." Yoshiki memberi aba-aba kepada Hana.
Dijawab lagi dengan anggukan kecil oleh Hana.
Ya. Hana telah memberi persetujuan untuknya. Inilah yang dinanti-nanti oleh Yoshiki selama ini.
Tangan Yoshiki bergerak menyusuri leher tan Hana.
Inilah saatnya...
Kuku ibu jari Yoshiki yang agak panjang mulai ia tempelkan pada leher Hana dan menggores kulit Hana hingga robek dan mengeluarkan darah.
"Nghh" Entah kenapa Hana malah mendesah saat kulitnya dirobek seperti itu. "AHHH--" Desahan Hana bertambah saat Yoshiki mulai menghisap darahnya.
DEG. DEG. DEG....
Tubuh Yoshiki yang baru saja meminul 5 teguk darah Hana langsung bereaksi hebat.
Setelah berhasil menetralkan kekuatan Hana dalam dirinya, kini gilirannya untuk menuntaskan upacara perjanjian darah ini. Yoshiki harus memberikan darahnya pada Hana lewat mulut Hana.
"Hn, masih terasa sakit?" Sebelum itu Yoshiki memastikan keadaan Hana.
Hana menggeleng perlahan. Baguslah bila begitu.
Yoshiki tersenyum menyambutnya.
Ibu jari Yoshiki yang memiliki kuku tajam tadi ia dekatkan pada kulit lehernya dan menggoreskan luka dalam di sana. Darah segar segera mengucur dari sana.
Dengan sabar dibimbingnya kepala Hana untuk mendekat ke arah lehernya yang mengeluarkan darah.
Paham akan keinginan Yoshiki, Hana segera menjulurkan lidahnya mendekati liquid merah menggenang itu.
Lidahnya saat mulai mengecap liquid merah itu terasa aneh. Namun tiba-tiba ia merasa haus dan sangat ingin menghisap habis liquid merah itu.
1 teguk
2 teguk
3 teguk
4 teguk
5 teguk
DEG!!!
Tubuh Hana bereaksi cepat. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas luar biasa. Rasa pusing seperti menghantam kepalanya. Tenggorokannya perih dan kering. Rasanya seluruh tubuhnya mati rasa dan seperti memuntahkan banyak cairan lewat di seluruh lubang di tubuhnya.
Tangan Hana mencakar tenggorokannya yang terasa terbakar.
Tubuh Hana kelojotan luar biasa sesaat setelah meminum darah Yoshiki hingga tak sadarkan diri.
Tiba-tiba saja kelopak mata Hana terbuka. Menampakkan sebuah Azure merah darah, bukan Saphire seperti biasanya.
"Nah My Lady... Wellcome to our life..."

END

or

TO BE CONTINUTED?
Read More ->>

Minggu, 03 Mei 2015

Yami no Ai [Chapter 219]

Chap 219

Dan di samping suaminya itu, seorang wanita berambut pirang panjang tengah membalutkan kasa pada luka besar di perut Yoshiki.
"Ara? My Lady?" ujar perawat itu sok kaget.
Hana masih ngos-ngosan dan mengelap keringatnya.
"Hmm? Kenapa anda kemari? Khawatir pada kondisi My Lord? Atau... Takut My Lord berselingkuh?" perawat itu segera mendekatkan dirinya pada dada bidang Yoshiki dan mengusap dada itu dengan sexy.
"!!?" Hana sendiri hanya bisa terkaget dan blushing saat melihat perawat itu mengusap dada bidang Yoshiki.
PLAK. Tanpa perlu Hana mengomel pada Yoshiki, pria itu sudah menyingkirkan tangan nakal sang perawat yang tanpa izin menyentuh tubuhnya.
"Hn, kau melakukannya lagi kubunuh kau" ujar Yoshiki datar pada sang perawat.
"A-ara..." si perawat hanya bisa tersenyum canggung.
"Hn," Yoshiki menoleh ke arah Hana. "Ada apa My Lady?"
"Eh!? Ya! Anno..." Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Yoshiki-kun, ayo kita melakukan perjanjian darah!" ujar Hana yakin.
"!??" Yoshiki seketika langsung tersentak mendengar penuturan Hana. Matanya menatap Hana tidak percaya.
Raut wajah Yoshiki bercampur menjadi satu. Antara senang, bahagia, bingung, tidak percaya, kalut, merasa menang, dan semua itu tertuang pada wajah Yoshiki yang biasanya sedatar triplek.
Yoshiki segera turun dari ranjang pasiennya dan segera mendekati Hana.
"My Lady... Apa kau yakin?"
"Ya! Lagi pula aku adalah milik Yoshiki-kun..." ujar Hana polos.
Yoshiki tersenyum tipis.
"Hup" Tiba-tiba lengan kekar Yoshiki dengan cekatan menggendong Hana ala bridal dan berjalan meninggalkan unit kesehatan tanpa mengenakan atasan kemeja-nya.
Setelah digendong Yoshiki dengan gaya memalukan seperti itu melewati banyak koridor yang tentu saja banyak dilewati seluruh penghuni manor house, akhirnya Hana pun direbahkan pada ranjang di kamarnya dan kamar Yoshiki.

Pria bermata kelam itu menindih tubuh Hana dengan bertopang pada kedua tangannya.
Pikiran Yoshiki masih kacau. Benarkah? Benarkah sosok di bawahnya ini menyetujui apa yang selama ini menjadi keinginannya.
Saphire dibawahnya hanya menatap biasa. Seolah sebentar lagi terjadi hanyalah hal biasa.
"Kau yakin My Lady?" tanya Yoshiki.
"Mmh" Hana hanya mengangguk.
"Tapi sebentar lagi kau--"
"Berubah menjadi iblis" sergah Hana enteng.
Yoshiki terdiam sejenak lagi mengamati wajah Hana.
"Kau tahu... Apa saja resikonya kan?" Yoshiki bertanya lagi.
"Tau" jawab Hana polos dengan menganggukan kepalanya.
"Lalu...?"
"Aku tak masalah dengan segala resikonya. Aku hanya..." Hana memberi jeda pada ucapannya, "... Tidak ingin Yoshiki-kun terluka lagi karena diriku dan kekuatanku, jika aku memberikan kekuatanku pada Yoshiki-kun, aku berharap Yoshiki-kun tidak akan terluka lagi. Lagi pula... Yoshiki-kun tidak akan membuangku setelah mendapat kekuatan itu kan?" Hana menatap Yoshiki dengan kerutan di alisnya, meminta jawaban.
Onix Yoshiki menatap balik Saphire Hana.
"Hn, kau meragukanku?"
Read More ->>

Sabtu, 02 Mei 2015

Yami no Ai [Chapter 218]

Chap 218

"Oh, sudah baikan" ucap Tomuro melihat keadaan di belakang lewat spion tengah mobil.
"H-huweeee!!" tangis Hana pecah.
Yoshiki mengernyitkan alisnya melihat Hana yang menangis tiba-tiba.
"Gomen Yoshiki-kun... Hiks... Gara-gara aku Yoshiki-kun jadi seperti ini... Hiks!" Hana sesenggukan.
Senyuman tipis terulas di bibir Yoshiki. Onyx Yoshiki menatap Hana seolah berkata, 'tak-apa' untuk menenangkan Hana.
Ya walaupun begitu... Yoshiki harus mati-matian menahan pendarahan di tubuhnya untuk berhenti. Setidaknya sampai ia ditangani oleh petugas medis saat tiba di manornya.

Begitu mobil yang dikemudikan oleh Tomuro itu terparkir rapi, si supir langsung keluar dan membantu sang majikan keluar untuk segera dipapah oleh tenaga medis yang sudah siap sedia.
Setelah tubuh Yoshiki terbaring rapi pada ranjang beroda, para tenaga medis segera menyeret Yoshiki entah kemana.
Hana hanya bisa menatap kepergian Yoshiki.
Tomuro yang memang tak berniat mengikuti para tenaga medis terdiam di tempatnya menatap Hana.
"Jangan khawatir. My lord pasti baik-baik saja" ujar Tomuro.
Hana mengalihkan tatapannya ke arah Tomuro lalu menunduk sambul berguman "Hu'um"
"Dari cerita anda tadi... My lord menusukkan pedang ke tubuhnya untuk menyerap kekuatan anda supaya anda tidak mati bukan?"
"Hmm..." Hana hanya bisa berguman. Jujur saja, dia masih tidak tenang mengingat kondisi Yoshiki saat ini.
"Ini salah anda My Lady"
DEG.
Ucapan datar Tomuro barusan seperti memecahkan kepalanya dengan batu besar.
"A-apa...?"
"Ya, ini salah anda. My Lord tidak perlu terluka jika anda tidak menjadi incaran Exorcist..."
"T-tapi aku--kenapa ak--?" Pertanyaan yang hendak Hana lontarkan terhenti mengingat ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri.
Jawabannya adalah kekuatan dalam dirinya. Para Exorcist itu menyerangnya karena kekuatannya. Dan Yoshiki terkena imbasnya.
"Lalu apa yang harus kulakukan Tomuro-kun!?" Hana segera menyengkram tangan Tomuro. Tak terasa air mata sudah menganak sungai di pipi tannya.
"Perjanjian darah"
"Eh?" Hana langsung mendongkak setelah mendengar 2 kata ucapan Tomuro.
"Anda harus melakukan perjanjian darah dengan My Lord. Dengan begitu, kekuatan anda yang selama ini dicari oleh seluru pihak di muka bumi ini akan langsung menjadi milik My Lord seorang. Exorcist tidak akan memburu anda lagi, dan anda tidak perlu merasa bersalah lagi" jelas Tomuro.
"Benar! Itu dia! Aku harus melakukan perjanjian darah!" ucap Hana pada dirinya dengan wajah polos.
"Baiklah... Terima kasih Tomuro-kun!" Hana melambai sambil dirinya berlari menuju unit medis.

SRAAK!
Dengan kasar Hana membuka pintu geser suatu ruangan bernuansa putih dan berbau antiseptik.
Refleks dua pasang mata yang menghuni ruangan itu menatap ke arah Hana yang ngos-ngosan.
"My Lady?" ujar Yoshiki kalem.
Saphire Hana langsung menatap suaminya. Suaminya itu duduk di sebuah ranjang dengan keadaan bertelanjang dada.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 217]

Chap 217

ia tak bisa meregenerisasi tubuh manusianya sekarang. Kekuatan sendiri tertahan oleh kekuatan Hana.
"Yoshiki-kun..." Hana terisak.
Dengan cekatan ia mengambil ponselnya dan mendial ponsel Tomuro.
Tak lama setelah 2 kali nada sambung akhirnya percakapan mereka terhubung.
"Tomuro-kun!!?"
"Eh? Ya? My Lady kah?"
"Hiks... T-Tomuro-kun..."
Dia adalah ratunya. Dan sekarang ratunya itu menangis. "Ada apa My Lady!?" tanya Tomuro panik.
"Y-Yoshiki-kun... K-kami diserang E-hiks-Exorcist..."
"Dimana lokasi anda!?"
"Di pematang sunga Kanagawa, dekat jembatan kereta api stasiun Kanagawa"
"Saya akan segera ke sana!"
dan sambungan berakhir.
Tanpa menunggu lama, suara tapakan kaki orang berlari mengalihkan pikiran Hana. Itu adalah Tomuro. Pria berambut merah itu berlari menyongsong ke arahnya.
"Tomuro-kun!" Hana menyebut nama pria itu.
Tomuro sudah berjongkok di depan Hana. Dirinya menatap nanar ke arah sang raja yang sekarang dalam keadaan 'setengah sadar'.
"Ayo kita masuk ke mobil" ujar Tomuro.
Hana mengangguk.
Tomuro segera mengambil alih tubuh Yoshiki dan membopongnya memasuki mobil.
Kini mereka bertiga sudah merasakan hangatnya car heater.
Tomuro segera memacu mobil milik Yoshiki menuju manor house.
"Yoshiki-kun..." Hana yang duduk di belakang bersama Yoshiki tak henti-hentinya menyebut nama pria itu sambil menatap khawatir ke arah pria itu.
Tapi Kuroto Yoshiki masih dalam keadaan yang sama. Sangat lemah. Bahkan rasanya kelopak matanya sangatlah berat.
'sial...' guman Yoshiki dalam hati. Ia berusaha 'menetralkan' kekuatan Hana yang meracuni dirinya sekarang.
"Ceritakan kepada saya apa yang terjadi My Lady" pinta Tomuro tiba-tiba.
"Seorang Exorcist menyerang kami... Aku tidak tahu, tiba-tiba aku dikurung dan Yoshiki-kun membawa sebuah pedang. Kata Exorcist itu kurungan itu menarik kekuatanku dan akan terus menarik hingga aku mati. Lalu..." Hana mengalihkan pandangannya yang tadi menatap Tomuro sekarang menatap Yoshiki, "Kau bodoh Yoshiki-kun..." Hana meletakan kepalanya ke dada bidang pria itu.
Dapat dirasakannya di sana, dada itu tidak berdetak. Tidak ada tanda kehidupan. Ya, tubuh itu tidak berfungsi, namun berisi jiwa dari sang raja iblis.
Melihat Hana bersandar pada dadanya, sebuah tarikan senyuman terlihat di bibir Yoshiki.
"Anda sudah mencium My Lord?" lagi-lagi Tomuro tiba-tiba berbicara.
"Eh? M-mencium? T-tidak..."
"Cium dia My Lady!"
"Untuk apa!?" Wajah Hana sudah memerah sekarang.
"My Lord sedang berusaha menetralkan kekuatan anda di tubuhnya, bantu dia dengan menambahkan penawar lewat ciuman anda" jelas Tomuro.
Hana mengangguk paham.
Tapi... Walau dirinya paham... Ia harus mencium Yoshiki! Sekarang! Saat ini juga! Di belakang Tomuro!
Seketika wajah Hana mulau berasap.
Tiba-tiba sebuah tangan besar berada di kepalanya dan mengusap rambut hitam pendeknya.
Hana terbelalak, itu Yoshiki. Pria itu tengah tersenyum menatapnya.
"Y-Yoshiki-kun!" ucap Hana keras setelah mengetahui suaminya mulai membaik.
Yoshiki tersenyum samar.
Read More ->>

Jumat, 01 Mei 2015

Yami no Ai [Chapter 216]

Chap 216

Sang exorcist H-5 langsung menggunakan tangannya untuk tameng dari debu yang langsung menerpa dirinya saat Hana menghancurkan pencaranya. Angin bergerak sangat cepat beberapa detik.
Dari kepulan asap debu yang menghalangi mata sang exorcist, akhirnya terlihat, sosok Rayumi Hana yang berdiri tegap yang langsung menyongsong keadaan sang suami.
"Cih" dengan terpaksa sang Exorcist bangkit berdiri. Tangan tan itu bergerak di udara dan muncullah sebuah pentagram. Seperti sebelumnya exorcist berambut coklat itu memasukkan tangannya ke dalam dan menarik sebuah Abschleppen Geist. Kali ini Abschleppen Geist yang muncul adalah sebuah bat besi baseball.
Rencananya telah gagal. Ia harus segera membunuh sang raja iblis sekarang.
Exorcist berambut coklat itu berlari ke arah Hana sambil mengayunkan bat baseball-nya ke arah Yoshiki dengan cepat.
Saphire Hana terbelalak ngeri dan langsung terpejam saat bat baseball yang dikendalikan oleh sang Exorcist bersiap menghantamnya dan suaminya yang tak berdaya.
"Sial..." guman Yoshiki tak bisa bergerak.
Bat baseball itu terayun kebawah dan mengarah pada tubuh Yoshiki.
DAK!
Tiba-tiba bat baseball itu terhenti mengayun ke bawah karena tertahan oleh sebuah tangan.
Saphire Hana langsung terbuka untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi.
Dilain pihak si Exorcist berperingkat 5 juga terkaget.
Siapa!!? yang baru saja menahan pukulannya!?
"Hentikan Hilda" sebuah suara dingin terdengar.
Sang Exorcist--yang ternyata bernama Hilda--kembali terbelalak menyadari siapakah orang yang menahan pukulannya. "A-Aidrin..." gumannya.
Sosok Exorcist baru muncul. Seorang remaja berumur krisaran 19 tahun dengan rambut putih dan mata hitam kelamnya menatap tajam Hilda.
Jas hitam khas milik exorcist itu terbuka menampakkan sebuah rompi berwarna kuning. Dan di bagian kanan Exorcist itu ada sebuah bando lengan bertuliskan "A-2" dialah Aidrin Polystiknov si peringkat ke-dua.
TAK!
Sebuah sentilan ringan mendarat di dahi Hilda.
"Aduh! Sakit!" Hilda memegang dahinya yang mulai menampakkan ruam merah.
"A-Zwei. Bukan Aidrin. Dan lagi tidak ada perintah menyerang. Jangan bertindak seenaknya" ujar Aidrin datar.
"Gah! Kau juga memanggil nama kecilku! Aku H-Funf! Huh... Biarlah... Jika bisa kubunuh sekarang kenapa harus menunggu nanti!?" Hilda melipat kedua tangannya dan bibirnya mengerucut kesal.
"Kau keras kepala, saatnya pulang!" tanpa banyak omong lagi Aidrin menyeret Hilda memasuki portal ruang dan menghilang dari pandangan Hana dan Yoshiki.
Sementara Hana sendiri sudah berlinang air mata menatap tubuh Yoshiki yang terkapar dengan tatapan yang semakin meredup. Darah segar terus merembe dari tubuhnya yang berlubang karena pedangnya sendiri.
Seandainya saja pedang itu tak mengalir kekuatan Hana dan ia tak menyerap kekuatan Hana pasti dirinya sudah kembali dengan luka yang menutup.
Kekuatan itu jika masuk ke dalam tubuhnya dengan sembarangan akan berisaft seperti racun yang membahayakan. Dan sekarang kekuatan Hana yang ia serap menguasai dirinya.
Read More ->>

Kamis, 30 April 2015

Yami no Ai [Chapter 215]

Chap 215

"Ahh~ lama..." si Exorcist berguman malas dan langsung menjatuhkan tubuhnya pada rerumputan sambil mengamati kejadian di depannya.
"Kau hanya perlu memilih tuan iblis yang terhormat. Cukup tusukkan pedangmu yang penuh dengan kekuatan murni Rayumi Hana dan biarkan itu membunuhmu, atau kau mau membiarkan Rayumi Hana mati karena inti sari jiwaya ikut terserap?"
ucapan si exorcist membuat Hana terkaget. Apa? Membunuh? Apa maksudnya!?
Yoshiki terlihat kebingungan menatap pedang kusanaginya.
"ahh... Apa kau tidak mau mati?" si Exorcist kembali berkicau.
Tidak. Sejujurnya Yoshiki sama sekali tidak takut mati. Bahkan jika saat ini Tuhan memanggilnya paksa dan menyiksanya ia tak akan takut.
Yang ia takutkan hanya sosok yang selalu tersenyum dengan konyol yaitu istrinya sendiri itu pergi mendahuluinya menemui Tuhan.
Kepala pria berambut jaged itu dengan perlahan menoleh ke arah sang istri yang terkurung. Sebuah senyum hambar terluas pada bibir tipisnya.
Sebentar lagi istrinya akan bebas dari belenggu rasa sakitnya.
Ah benar juga, dirinya akan menancapkan pedang yang seharusnya menjadi senjatanya itu ke dalam jantungnya dan mati-matian menarik semua kekuatan yang dimiliki istrinya supaya tidak ada lagi exorcist atau iblis lain yang mengejar istrinya. Agar kehidupan lama yang normal milik Hana kembali.
Dan dirinya sang raja iblis, akan mengakhiri masa kejayaannya.
Ah... Seperti inikah rasanya pilihan hidup dan mati?
Mati ya...? Bahkan kata itu jarang terlintas dalam pikirannya.
Yoshiki mulai mengangkat pedangnya dan mengarahkan mata pedangnya ke arah jantungnya.
Saphire Hana melebar. "Tidak! Jangan!! Yoshiki-kun!" Hana terus meneriakkan nama sang pria sambil menggelengkan kepalanya. Air mata tak tertampung mulai mengalir ke sana-kemari.
"Jangan..." Hana masin menggeleng. Eskpresi pria yang biasanya sedingin es itu memancarkan sebuah ekspresi aneh. Hana tidak suka itu!
Yoshiki sudah bulat. Ini pilihan terbaiknya. Setelah ini air mata yang turun dari kelopak mata Hana akan berhenti mengalir--pasti.
ZRRRASH!!
"tidaaak!" bersamaan dengan teriakan Hana, Yoshiki meusukkan pedang tajam itu sekaligus ke dadanya.
Darah merah lantas mengucur keluar dari sana.
"Gaaah!" Yoshiki berteriak menggelepar.
Sakit. Tubuhnya terasa panas saat pedang itu menancap di dadanya. Dan sekarang dia harus bertahan dan menghisap kekuatan istrinya sebelum Tuhan berhasil menariknya dari dunia.
"Yoshiki-kun! Yoshiki-kun!" Hana masih terus terisak dengan berlutut memandangi tubuh sang suami yang sedang berusaha mempertahankan kesadarannya.
Hana tidaklah bodoh. Ia sangat tahu seberapa besar penderitaan Yoshiki sekarang.
"Hentikan..." Hana menggeleng. Air matanya masih tumpah.
Yoshiki masih terus berusaha bertahan.
"Hentikan--"
"Hentikan--"
"Hentikaan!!" teriak Hana. Tiba-tiba sebuah cahaya berwarna kuning dan hitam menguar dari tubuh Hana dan menghancurkan pencara yang mengurungnya dengan sangat cepat.
Read More ->>

Rabu, 29 April 2015

Yami no Ai [Chapter 214]

Chap 214

"Karena dia masih manusa mungkin tidak terlalu sakit, karena penarik roh hanya bekerja pada iblis sepertimu. Tapi bagaimana pun ini stunt gun, pasti menyakitkan kan?" iris coklat itu menyipit seperti meremehkan ke arah Yoshiki.
"Sialan!" teriak Yoshiki emosi. Tangannya bergerak memerintahkan angin untuk menusuk sang Exorcist.
Refleks Exorcist berbando "H-5" itu melompat mundur untuk menghindari serangan sang raja iblis.
Sebuah saphire perlahan membuka. Hempasan angin berkecepatan tinggi tadi sukses membangunkannya dari tidur lelapnya. Tangan pemilik saphire itu bergerak mengucek karena saphirenya terasa gatal.
"Ehm?" Hana perlahan bangkit. Masih bingung dengan keadaan sekitar.
Exorcist itu menampakkan seringai di bibirnya. "Active!" ujarnya.
Seketika muncul pilar-pilang berwarna keemasan dari tanah, lalu membuat atap. Saking cepatnya, Hana hanya bisa menatap pilar-pilar yang mulai membentuk penjara baginya.
"Apa yang kau lakukan sialan!?" teriak Yoshiki emosi ke arah sang Exorcist.
"Percobaan nomor 12, ada sedikit kegagalan. Hanya dilakukan pada saat Subjek takbergerak, kurang efektif. Hmm..." Exorcist dengan bando lengan bertuliskan H-5 itu berguman sambil mecoret-coret sebuah agenda.
"Sialan!" Yoshiki menggeram. Exorcist di depannya berperingkat 5, ia harus segera menghabisi Eoxrcist itu. Dari tangannya muncul sebuah pedang bersarung hitam. Dikeluarkannya pedang itu. "Kusanagi..." bisiknya.
Yoshiki segera melesat hendak menebas kapala sang Exorcist dengan memberikan segala kekuatannya pada pedang kusanagi-nya.
"AKHHHH!!" Tiba-tiba teriakan Hana terdengar.
Yoshiki langsung menghentikan serangannya dan menoleh ke arah Hana. Nampak wanitanya itu tengah tersungkur di tanah dengan meremas bagian dadanya dengan wajah menahan perih.
"My Lady!?" teriak Yoshiki kaget.
"Trap. Kekuatan Rayumi Hana adalah kelemahanmu jika kekuatan itu belum masuk ke dalam tubuhmu. Saat tadi aku menindih tubuhnya, aku memberikan segel di sektar tubuhnya. Dan sekarang segel itu aktif. Aku mengeluarkan kekuatan Rayumi Hana dan membuat penjara yang.... Terhubung pada pedang kusanagimu" jelas sang exorcist.
Yoshiki yang melihat pedang kusanaginya terbebalak.
"AKHHHH!!" Hana kembali menjerit.
Mata onix Yoshiki melebar saat melihat bayangan kekuatan dalam diri Hana dipaksa keluar dan mengalir pada penjara yang mengurungnya kemudian mengalir pada kusanagi miliknya.
"SIALAN! CEPAT LEPASKAN DIA!" geram Yoshiki.
"Aku tak bisa," jawab sang exorcist enteng. "Kekuatannya tersalur pada pedangmu. Tapi kau tahu caranya kan My Lord?" lanjut exorcist itu dengan nada mengejek.
Yoshiki tau! Dia tau apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan Hana. Tapi--
"Ayolah... Kau mau membiarkan dia mati kering?" si Exorcist berguman malas.
"uuh..." Hana menggeram tertahan. "Y-Yoshiki-k-un..." Hana mengerjap ke arah Yoshiki. Pandangannya yang lelah mulai sayu.
"My Lady...." Yoshiki mengerutkan dahinya. Tak sanggup melihat ekspresi istrinya saat itu.
Dia harus melakukannya!
Read More ->>

Selasa, 28 April 2015

Yami no Ai [Chapter 213]

Chap 213

"WAAA!! MENONTON DENGAN CARA SEPERTI INI LEBIH ASYIK!!" Teriak Hana dengan kedua tangannya ia rentangkan ke atas.
Yoshiki hanya sweatdrop ringan melihat tingkah istrinya. Tubuhnya bergerak mendekati sang istri dan duduk di sampingnya.
Saphire itu masih sibuk mengamati warna-warna yang bertebaran di langit.
Tanpa sadar kepalanya sudah menengadah ikut mengamati meriahnya langit Tokyo malam ini.
Entah sudah berapa menit Yoshiki habiskan untuk melihat letusan-letusan yang ada.
"krrr...." sebuah dengkuran tipis terdengar.
Refleks Yoshiki menolehkan kepalanya ke asal suara. Itu suara dengkuran Hana. Wanitanya itu sudah terlelap rupanya. Wajah polos Hana yang tertidur membuat sudut bibir Yoshiki sedikit terangkat. 'manis...' batinnya.
Yoshiki bangkit berdiri menuju mobilnya dan membuka pintu, ini sudah waktunya untuk pulang.
"!?" belum sempat Yoshiki berbalik, ia sudah merasakan sesuatu sudah berada di dekat sang istri.
Benarlah perasaannya itu, sekarang sesosok manusia berambut cepak tengah menindih tubuh Hana. Sosok tampan berambut berwarna rambut kuning kecoklatan itu menyeringai menatap Yoshiki sinis.
"Selamat malam My Lord" ujar sosok itu.
Yoshiki tidaklah buta, melihat penampilan sosok tampan di depannya--dari jas yang dilengkapi pin kecil, dan sebuah bando lengan--dipastikan adalah Exorcist.
Tunggu dulu! Lihat bando lengan sang Exorcist. Itu bertuliskan "H-5" yang berarti Exorcist di depannya adalah ranking ke-5 Exorcit terkuat. Apa yang dilakukan Exorcist berperingkat tinggi di sini!? Apa Exorcist tiba-tiba bergerak!? Tapi kenapa dia tak mengendus masalah itu sedikit pun!?
Yoshiki menggeratkan giginya emosi. "Menyingkir dari milikku" ujar Yoshiki menahan emosinya.
Sosok bermata oranye itu menyeringai puas. "Apa? Kau cemburu eh?" tangan sang exorcist bergelirya pada dada Hana. Sedikit rematan sosok itu berikan pada dada Hana.
"Lihat tuan Kuroto Yoshiki, aku menyentuh milikmu"
Yoshiki terdiam sebentar. "... Kau pelacur, cepat menyingkir dari tubuh istriku" Yoshiki geram.
Pelacur? Bukankah itu sebutan untuk perempuan?
Exorcist itu tertawa renyah, "Hahaha kau tahu ya kalau aku perempuan? Sepertinya benar gosip jika kau sangat possesiv" sosok tampan itu berpose berfikir.
"Cepat menyingkir dari sana!" Yoshiki sudah kehabisan kesabaran.
"Bagaimana jika aku.... Menolak?" ujar sang Exorcist sambil mengenakan '
Abschleppen Geist'nya yang berbentuk sarung tangan.
Yoshiki masih menatap tajam ke arah sang Exorcist.
Exorcist itu menggerakan tangannya ke kanan. Seketika muncul sebuah pentagram berwarna biru. Tangan yang mengenakan
Abschleppen Geist itu melesak ke dalam pentagram itu dan saat setelah tangannya di tarik, tangan itu sedang menggenggam sebuah
Abschleppen Geist lain model stunt gun.
Yoshiki terbelalak.
Exorcist itu mengarahkan stunt gun-nya ke leher jenjang Hana yang masih tertidur pulas.
Aliran listrik mengalir pada stunt gun yang sudah berjarak 5 cm dari leher Hana.
Read More ->>

Senin, 27 April 2015

Yami no Ai [Chapter 212]

Chap 212

Yoshiki tak menjawab pertanyaan Hana. Dirinya kesal. Kenapa wanita-nya itu sama sekali tak menyadari perasaannya itu? Sungguh menjengkelkan.
Melihat reaksi sang suami yang diam membisu, sudut bibir Hana agak terangkat ke atas dan di lanjutkan dengan sebuah cengiran.
"Hahaha," Hana tertawa lepas.
Yoshiki kembali memalingkan wajahnya ke arah Hana karena mendengar tawa lepas Hana. Ekspresi pria itu nampak kusut. Segala emosi kesal, tidak suka, dan tidak terima berkumpul menjadi satu, namun sama sekali tak mengurangi dominasi ekspresi dingin andalannya.
"Jadi benar Yoshiki-kun cemburu dengan Oogami-kun?" Hana berbicara ditengah gelak tawanya.
Sungguh! Rasanya Yoshiki ingin sekali menindih wanita di sampingnya itu lalu memberi hukuman yang setimpal atas segala kesalahannya yang fatal.
"Ahaha..." Akhirnya tawa Hana mereda.
"Aku memang mengagumi Oogami-kun. Tapi... Ya hanya sebatas mengagumi. Dia keren. Tapi Yoshiki-kun jauh, bahkan sangat jauh lebih tampan Yoshiki-kun. Umm... Mungkin aku tadi terbawa emosi seorang fans. Tapi Yoshiki-kun sangat jauh lebih keren daripada Oogami-kun. Bahkan dari awal gulat kalian aku sudah tau bahwa Yoshiki-kun yang akan jadi pemenangnya" ujar Hana dengan senyum polosnya.
Yoshiki menatap Hana lekat. Tak disangkanya, istrinya itu akan berbicara sejujur itu di depannya.
"....--Ehem!" Yoshiki berdehem sebentar.
"Hn, baguslah jika begitu"

"Wah kurang beberapa menit lagi akan memasuki tahun baru!" ujar Hana tiba-tiba setelah melirik jam tangannya.
Salju tidak turun malam ini, kemungkinan pesta kembang api diadakan sangatlah besar. Meninggalkan melihat acara setahun sekali sangatlah merugikan tentu saja.
"Yoshiki-kun hentikan mobilnya! Aku ingin melihat kembang api!" perintah Hana tidak sabaran.
Yoshiki tanpa protes melakukan kemauan Hana, pria itu menepikan mobilnya. Setelah mobil itu menepi, Hana terlihat langsung melompat keluar dan memandang ke sana ke mari. Mencari titik yang mungkin menjadi pusat perayaan kembang api.
Mereka berhenti di sebuah jalan dekat pematang sungai. Yoshiki yang sudah keluar dari mobilnya langsung melempar jacket milik Hana yang tertinggal di mobil ke arah kepala Hana.
"Hn, kenakan itu. Kembang api akan muncul di sana" Yoshiki menunjuk ke arah langit di seberang sungai.
Setelah selesai memakai jacketnya, Hana dengan tidak sabar melihat jam tangan digitalnya.
"5...4...3....2...." Hana segera mengangkat kepalanya menengadah ke langit. "1..."
DUAR!! DUARR!!
Letusan demi letusan kembang api mewarnai gelapnya malam Tokyo malam itu. Berbagai warna pecah di langit. Saphire Hana tak berhenti menatap keindahan pancaran-pancaran kembang api yang bertebangan.
Bibir tipis Yoshiki sedikit terangkat melihat ekspresi Hana yang menatap ke arah kembang api dengan terkagum-kagum. 'seperti anak kecil saja,' pikir Yoshiki.
"Hup!" Tiba-tiba Hana melompat melewati pagar pembatas dan menuju pematang sungai. Direbahkannya tubuh ramping miliknya di rerumputan.
Read More ->>

Sabtu, 25 April 2015

Yami no Ai [Chapter 211]

Chap 211

Yoshiki menekuk tangannya dan meraih leher Oogami.
Begitu dipastikan tangannya mendekap erat leher pegulat itu segera ditariknya dan dibantingnya pegulat itu 90 derajat.
DRAAAAK!
Semua terjadi begitu cepat. Sampai-sampai mata semua penonton tak berkedip memastikan mereka tak ketinggalan satu detik bagian terpenting.
Masih dengan posisi Yoshik yang menahan tubuh berat Oogami yang tak sadarkan diri di atasnya karena tulang lehernya patah setelah menghantam permukaan keras ring gulat.
"G-German...."
"Su-su...plex!?"
"GERMAN SUPLEX!!" Teriak para penonton heboh.
"ITU GERMAN SUPLEX!! SUGOII! DIA MELAKUKANNYA!"
"Kyaaa!! Dia tampan, keren, dan kuat!!"
"Wow!!"
dan sorakan para penonton tak berhenti terdengar.
Yoshiki diumumkan sebagai pemenang.

Saat Yoshiki menuruni ring, serbuan kamera dan penggemar barunya tiba-tiba langsung menyeruak, namun sebuah tangan datang dan menyeretnya pergi dari kerumunan.
Sebuah tangan yang pemiliknya sangat dia butuhkan. Yoshiki tersenyum melihat wanitanya menariknya pergi.
"Sok keren!" cibir Hana di tengah perjalanan pulang mereka.
"Hn"
"Tapi Oogami-kun masih lebih keren!" ledek Hana.
"Hn, dia lemah" ujar Yoshiki datar.
TAK! Kena sasaran Yoshiki, kau membuat Hana kesal seketika.
"ITU KARENA KAU MENGGUNAKAN GERMAN SUPLEX TIBA-TIBA!!" protes Hana.
"Hn. Aku tidak suka" ucap Yoshiki tiba-tiba.
"Eh?" Hana kebingunan mendengar ucapan tidak nyambung Yoshiki.
"Kau terlalu mengaguminya... Aku..." Yoshiki agak memalingkan wajahnya ke kanan. "tidak suka..."
"Ara?" Hana menatap Yoshiki yang bertingkah aneh. "Yoshiki-kun, kau cemburu?"
Read More ->>

Yami no Ai [chapter 210]

Chap 210

TING-TING
Dan pertandingan berakhir dengan sangat cepat. Setelah mendapat tendangan yang dipastikan tepat pada pelipisnya, pegulat bertopeng gorila hitam itu terkapar tak berdaya.
"WOAAAAA!!" dan seluruh penonton bersorak menyambut kemenangan ke-87-nya dengan sangat gemilang.
"KEREN!! KAKOI!!" Hana berseru aneh sambil menyoraki Oogami.
"Nee! Yoshiki-kun, Oogami-kun keren kan?" Hana menarik-narik lengan Yoshiki.
Yoshiki di balik wajah datarnya, menyimpan rasa kesalnya. Jujur saja, dirinya sangat kesal melihat perempuan berambut pendek itu sangat mengagumi pegulat lucu bertopeng itu.
"Untuk siapapun yang ada di sini, Oogami memberi kesempatan bagi para penonton untuk melakukan gulat yang sah" tiba-tiba komentator berbicara. Mendadak para penonton terdiam.
"Dan bagi siapapun yang bisa mengalahkan Oogami, maka akan mendapat uang cash sebesar 8 juta yen" tambah sang komentator.
"wow! 8 juta!"
"8 juta!" para penonton mulai bersorak lagi.
"Daaaan! Oogami akan membuka topengnya!" seru sang komentator.
"WOOOOO!!" para penonton bersorak lebih heboh.
"Jadi... Siapakah penonton pemberani itu!?"
" ... ." sigh.... Para penonton langsung terdiam. Menanti siapakah yang akan berani mengadu nyawa mereka dengan sang pegulat profesional yang sudah memenangkan pertandingan sebanyak 87 kali tanpa kalah satu kalipun.
SRAAAK
Dari arah bangku deretan VIP terdengar suara seseorang bangkit dari kursinya. Seluruh tatapan mata seketika tertuju pada orang itu.
"eh!?" Hana terkaget melihat Yoshiki bangkit dari kursinya.
Wajah datar pria itu masih tak berubah. Tapi entah kenapa Hana bisa merasakan keseriusan dalam setiap inchi emosi datar di wajah suaminya.
Yoshiki mulai melangkah menuju ring gulat.
"Waa!! Ini dia!! Seorang penantang!!" seru sang komentator.
"waa... Dia keren..."
"Itu siapa!? Dia tampan sekali!"
"kyaaa!! Pria itu tampan!!"
"k-keren..."
para penonton perempuan yang di awal mendudukung Oogami mulai terpaku pada sosok Yoshiki yang berjalan dengan tenang menuju ring gulat.
Hana menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri melihat para penonton wanita yang memuji Yoshiki.
"huh, dasar cari perhatian" guman Hana kesal.
TING-TING!
Gulat pun dimulai.
Yoshiki sudah melepas jas hitamnya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya. Menatap tenang ke arah Oogami yang sudah bersiap.
"cih... Bisa apa bocah kecil itu"
"yaya... Dia hanya tampan saja..." gerutu penonton pria.
Yoshiki tahu setiap gerutuan itu. Tapi kali ini ia akan fokus kepada serigala lucu di depannya yang sudah menyongsongnya dengan sangat cepat sekali.
Namun Yoshiki bisa lebih cepat. Yoshiki menunduk menghindari Oogami dan melesat kebelakang pegulat itu.
"!?" para penonton tersentak. Mereka ternganga melihat pertunjukan di depan mereka.
Ada orang yang mampu menghindari Oogami!!
Yoshiki mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Sementara Oogami juga masih tertegun terdiam di tempatnya. Dirinya sendiri masih shock mengetahui ada orang yang lebih cepat darinya.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.