Chap 216 Sang exorcist H-5 langsung menggunakan tangannya untuk tameng dari debu yang langsung menerpa dirinya saat Hana menghancurkan pencaranya. Angin bergerak sangat cepat beberapa detik. Dari kepulan asap debu yang menghalangi mata sang exorcist, akhirnya terlihat, sosok Rayumi Hana yang berdiri tegap yang langsung menyongsong keadaan sang suami. "Cih" dengan terpaksa sang Exorcist bangkit berdiri. Tangan tan itu bergerak di udara dan muncullah sebuah pentagram. Seperti sebelumnya exorcist berambut coklat itu memasukkan tangannya ke dalam dan menarik sebuah Abschleppen Geist. Kali ini Abschleppen Geist yang muncul adalah sebuah bat besi baseball. Rencananya telah gagal. Ia harus segera membunuh sang raja iblis sekarang. Exorcist berambut coklat itu berlari ke arah Hana sambil mengayunkan bat baseball-nya ke arah Yoshiki dengan cepat. Saphire Hana terbelalak ngeri dan langsung terpejam saat bat baseball yang dikendalikan oleh sang Exorcist bersiap menghantamnya dan suaminya yang tak berdaya. "Sial..." guman Yoshiki tak bisa bergerak. Bat baseball itu terayun kebawah dan mengarah pada tubuh Yoshiki. DAK! Tiba-tiba bat baseball itu terhenti mengayun ke bawah karena tertahan oleh sebuah tangan. Saphire Hana langsung terbuka untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi. Dilain pihak si Exorcist berperingkat 5 juga terkaget. Siapa!!? yang baru saja menahan pukulannya!? "Hentikan Hilda" sebuah suara dingin terdengar. Sang Exorcist--yang ternyata bernama Hilda--kembali terbelalak menyadari siapakah orang yang menahan pukulannya. "A-Aidrin..." gumannya. Sosok Exorcist baru muncul. Seorang remaja berumur krisaran 19 tahun dengan rambut putih dan mata hitam kelamnya menatap tajam Hilda. Jas hitam khas milik exorcist itu terbuka menampakkan sebuah rompi berwarna kuning. Dan di bagian kanan Exorcist itu ada sebuah bando lengan bertuliskan "A-2" dialah Aidrin Polystiknov si peringkat ke-dua. TAK! Sebuah sentilan ringan mendarat di dahi Hilda. "Aduh! Sakit!" Hilda memegang dahinya yang mulai menampakkan ruam merah. "A-Zwei. Bukan Aidrin. Dan lagi tidak ada perintah menyerang. Jangan bertindak seenaknya" ujar Aidrin datar. "Gah! Kau juga memanggil nama kecilku! Aku H-Funf! Huh... Biarlah... Jika bisa kubunuh sekarang kenapa harus menunggu nanti!?" Hilda melipat kedua tangannya dan bibirnya mengerucut kesal. "Kau keras kepala, saatnya pulang!" tanpa banyak omong lagi Aidrin menyeret Hilda memasuki portal ruang dan menghilang dari pandangan Hana dan Yoshiki. Sementara Hana sendiri sudah berlinang air mata menatap tubuh Yoshiki yang terkapar dengan tatapan yang semakin meredup. Darah segar terus merembe dari tubuhnya yang berlubang karena pedangnya sendiri. Seandainya saja pedang itu tak mengalir kekuatan Hana dan ia tak menyerap kekuatan Hana pasti dirinya sudah kembali dengan luka yang menutup. Kekuatan itu jika masuk ke dalam tubuhnya dengan sembarangan akan berisaft seperti racun yang membahayakan. Dan sekarang kekuatan Hana yang ia serap menguasai dirinya.
Jumat, 01 Mei 2015
Yami no Ai [Chapter 216]
Published :
08.26
Author :
Hansel Vereiteln
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar