Chap 215 "Ahh~ lama..." si Exorcist berguman malas dan langsung menjatuhkan tubuhnya pada rerumputan sambil mengamati kejadian di depannya. "Kau hanya perlu memilih tuan iblis yang terhormat. Cukup tusukkan pedangmu yang penuh dengan kekuatan murni Rayumi Hana dan biarkan itu membunuhmu, atau kau mau membiarkan Rayumi Hana mati karena inti sari jiwaya ikut terserap?" ucapan si exorcist membuat Hana terkaget. Apa? Membunuh? Apa maksudnya!? Yoshiki terlihat kebingungan menatap pedang kusanaginya. "ahh... Apa kau tidak mau mati?" si Exorcist kembali berkicau. Tidak. Sejujurnya Yoshiki sama sekali tidak takut mati. Bahkan jika saat ini Tuhan memanggilnya paksa dan menyiksanya ia tak akan takut. Yang ia takutkan hanya sosok yang selalu tersenyum dengan konyol yaitu istrinya sendiri itu pergi mendahuluinya menemui Tuhan. Kepala pria berambut jaged itu dengan perlahan menoleh ke arah sang istri yang terkurung. Sebuah senyum hambar terluas pada bibir tipisnya. Sebentar lagi istrinya akan bebas dari belenggu rasa sakitnya. Ah benar juga, dirinya akan menancapkan pedang yang seharusnya menjadi senjatanya itu ke dalam jantungnya dan mati-matian menarik semua kekuatan yang dimiliki istrinya supaya tidak ada lagi exorcist atau iblis lain yang mengejar istrinya. Agar kehidupan lama yang normal milik Hana kembali. Dan dirinya sang raja iblis, akan mengakhiri masa kejayaannya. Ah... Seperti inikah rasanya pilihan hidup dan mati? Mati ya...? Bahkan kata itu jarang terlintas dalam pikirannya. Yoshiki mulai mengangkat pedangnya dan mengarahkan mata pedangnya ke arah jantungnya. Saphire Hana melebar. "Tidak! Jangan!! Yoshiki-kun!" Hana terus meneriakkan nama sang pria sambil menggelengkan kepalanya. Air mata tak tertampung mulai mengalir ke sana-kemari. "Jangan..." Hana masin menggeleng. Eskpresi pria yang biasanya sedingin es itu memancarkan sebuah ekspresi aneh. Hana tidak suka itu! Yoshiki sudah bulat. Ini pilihan terbaiknya. Setelah ini air mata yang turun dari kelopak mata Hana akan berhenti mengalir--pasti. ZRRRASH!! "tidaaak!" bersamaan dengan teriakan Hana, Yoshiki meusukkan pedang tajam itu sekaligus ke dadanya. Darah merah lantas mengucur keluar dari sana. "Gaaah!" Yoshiki berteriak menggelepar. Sakit. Tubuhnya terasa panas saat pedang itu menancap di dadanya. Dan sekarang dia harus bertahan dan menghisap kekuatan istrinya sebelum Tuhan berhasil menariknya dari dunia. "Yoshiki-kun! Yoshiki-kun!" Hana masih terus terisak dengan berlutut memandangi tubuh sang suami yang sedang berusaha mempertahankan kesadarannya. Hana tidaklah bodoh. Ia sangat tahu seberapa besar penderitaan Yoshiki sekarang. "Hentikan..." Hana menggeleng. Air matanya masih tumpah. Yoshiki masih terus berusaha bertahan. "Hentikan--" "Hentikan--" "Hentikaan!!" teriak Hana. Tiba-tiba sebuah cahaya berwarna kuning dan hitam menguar dari tubuh Hana dan menghancurkan pencara yang mengurungnya dengan sangat cepat.
Kamis, 30 April 2015
Yami no Ai [Chapter 215]
Published :
05.25
Author :
Hansel Vereiteln
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar