CHAPTER 57: YOU WON’T LEAVE ME RIGHT?
“Kali ini kamu akan kemana lagi?” Dari arah belakang seorang pria dengan rambut merahnya tengah menatap malas.
“Israel, Australia, dan Jamaica,” Yoshiki menjawab pertanyaan itu tanpa menoleh ke sang penanya.
“Hahaha,” Tomuro Arashi tergelak, “kamu benar-benar sudah sinting. Sejak kapan kau melakukan semua pekerjaanmu sendiri? Bukankah kamu selalu memerintahkan orang untuk menggantikanmu? Dan lagipula, bukankah ini hari terakhir para agenmu berjanji akan menemukan My Lady?”
“….” Tidak ada jawaban dari Yoshiki, pria itu lebih memilih menegak habis kopinya.
“Hooo…. Kamu depresi sekali sampai ingin melarikan diri?”
GRRTTT.
Kaleng yang telah kosong di tangannya penyok oleh cengkraman tangan Yoshiki.
Tomuro hanya menaikkan kedua bahunya seklias, “baiklah-baiklah, lakukan sesukamu, aku yang akan mengurus para agenmu.”
.
Bola mata sebiru sapphire milik Hana berkilat begitu mendapat pancaran dari bintang. Suasana malam itu begitu tenang. Udara dingin malam sesekali membuat tubuhnya berdesir. Namun ia cepat-cepat menghangatkan badannya dengan segelas coklat panas di tangannya.
Apartemennya terletak cukup jauh dari hirukpikuk kota, sehingga segala pemandangannya di pukul sebelas malam hanyalah pepohonan dan dedauan yang telah tenggelam oleh gelapnya malam. Sesekali ia memejamkan matanya menikmati ketenangan.
Sudah hampir satu minggu ia meninggalkan Yoshiki dan mulai hidup tenang bersama seorang manusia biasa, Keigo Yasumoto, teman masa kecilnya, cinta pertamanya.
Sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya. Tanpa sadar ia kembali tenggelam dalam pikirannya. Memangya ia masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu untuk Keigo? Yang ia tau perasaannya sudah berhasil di ambil alih oleh sang iblis.
Ia kembali tertawa. Menertawakan takdir. Bagaimana bisa ia hidup bersama pria yang tidak ia cintai sekarang?
“Tidak tidur?” Bersamaan dengan suara itu, sesuatu yang hangat menyentuh punggungnya, selimut.
“Keigo-kun sendiri tidak tidur?” Hana membalikkan pertanyaan pria yang sudah berdiri di sampingnya.
“Tentu saja aku tidur, lalu aku mendengar suara tawa perempuan, kukira Sadako-chan sudah menyebrang dari Jepang ke Australia,” pria itu berujar seolah meringankan segala udara berat yang mengitari Hana sedari tadi.
“Enak saja,” Hana terkikik.
“Aku baru sadar pemandangan malam di sini kalau malamnya cerah jadi indah sekali.”
Hana tersenyum, “kan!”
.
Di tengah sebuah pesta serba mewah, di sebuah hall megah yang dipenuhi oleh manusia berkopeten di bidangnya, Kuroto Yoshiki memilih menjauhkan diri di sebuah beranda dengan segelas gin di tangannya.
“My Lord,” sebuah suara muncul dari arah belakangnya.
Begitu ia menolehkan kepalanya dengan malas, didapatinya seorang pria dengan usia setengah abad berdiri dengan sopan, “Hassan Malakhi,” ia mengucapkan nama pria itu.
Pria itu tersenyum, “anda menikmati pestanya My Lord? Karena anda tamu istimewa pesta ini.”
“Hn….” Yoshiki menjawab enggan, “setidaknya pesta ini sudah standart para manusia.”
Hassan berdiri di samping Yoshiki, kedua pria itu membicarakan beberapa hal dengan santai, hingga Hassan sendiri menggali lubangnya dengan bertanya, “omong-omong dimana istri anda My Lord?”
Yoshiki terhenyak seketika, “dia…” ada jeda sepersekian detik sebelum ia kembali melanjutkan, “memiliki keperluan dengan dosennya,” ia tidak berbohong bukan? Lagipula Hana memang pergi dengan Keigo yang seorang dosen.
“Istri anda sangat bersemangat sekali ya dalam perkuliahan.”
Yoshiki tidak menjawab, pandangannya kini tertuju pada cincin pernikahannya yang tersemat pada jari manisnya.
‘My Lady….’
.
“!!!” Perempuan dengan rambut sekelam malam itu tersentak begitu merasa ia mendengar suara sang suami memanggil namanya.
“Ada apa?” Keigo yang ada di sampingnya sedikit terkejut.
“Eh? Ah…” Hana menggeleng cepat, “tidak, sepertinya aku sudah mengantuk, ayo tidur, Keigo-kun.”
.
Hana mendorong kereta belanjaannya yang hanya berisi tumpukkan mi instan yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya, ia merasa mi instan di Australia memili cita rasa yang berbeda dengan ramen instan di Jepang.
Ia tau ia akan segera mendapat omelan dari Keigo begitu pria itu melihat belanjaannya, tapi ia berani mengambil resiko tersebut.
Dari arah kejauhan terdengar suara pengumuman beberapa produk yang sedang diskon pada hari itu. Tangan Hana yang tengah asyik memilah-milah telur terhenti, ‘tanggal ini… sudah 11 hari sejak aku tiba Australia.’
Setelah mendapatkan telur yang ia mau, ia meletakkannya pada kereta belanjanya, ’11 hari terasa lancar saja…’ sebenarnya ia hanya tidak menyangka jika rencana kabur ke Australia ini akan bertahan sampai selama ini.
“God, I just don’t believe it. How could he broke your heart just because he got bored then bad mouthing you!”
“It’s okay Lee, I’m deserve it.”
“No! Ria! You are adorable!”
“Let’s just forget it okay? I would like to buy much cola haha!”
Percakapan dari dua orang perempuan yang Hana dengar ketika melewati bagian minuman bersoda membuatnya terngiang sebuah kejadian di awal minggu perkuliahannya, sebelum insiden perpisahannya dengan Yoshiki. Dimana ia tidak mendapatkan bangku makan kosong untuk berdua dan terpaksa bergabung dengan seorang mahasiswa tingkat empat.
“Anu, permisi, apakah kita oleh bergabung di sini? Tempat yang lain penuh,” ucap Hana dengan senyum kepada seorang mahasiswa dengan rambut ikalnya.
“Silahkan silahkan,” mahasiswa yang tengah asyik menyantap ramennya itu menjawab.
Begitu keduanya telah duduk sempurna, sebuah getar timbul dari ponsel yang diletakkan oleh sang mahasiswa di atas meja. Sebuah panggilan masuk.
“Halo. Bukankah sudah kukatakan untuk tidak menghubungiku lagi?”
“Jangan menangis kau membuatku seperti penjahat di sini. Ayolah, kita sudah berpacaran lebih dari 2 tahun dan kamu tidak berubah. Kamu itu cantik, tapi kenapa tidak mau merawat diri sih? Aku malu kepadamu. Aku malu setiap mengajakmu kemanapun.”
“Sudahlah. Jangan menghubingiku lagi.”
Monolog yang mahasiswa itu lakukan terhadap ponselnya telah berakhir. Ia memasukkan benda persegi itu pada kantung celananya sebelum beranjak dengan mood luar biasa kacau.
Yoshiki segera memindahkan tubuhnya untuk mengambil alih tempat duduk yang kosong di hadapan Hana. Dan bertepatan dengan itu makanan yang telah dipesan disajikan.
“Selamat makan,” setelahnya Hana segera meraih sumpit untuk menyuapkan tempura ke dalam mulutnya.
“Ada apa?”
Pertanyaan tiba-tiba Yoshiki lantas membuat Hana menghentikan suapannnya dan beralih menatap pria yang sedang asyik menikmati kopinya.
“Eh?”
“Kau sedikit murung bila dilihat dari sini.”
“Begitu kah?”
“Hn.”
Yoshiki-kun memang perhatian sekali. Pikir Hana.
“Aku hanya…. Terpikirkan oleh kejadian barusan.”
“Mahasiswa tadi? Kenapa?”
“Dia sepertinya memutuskan kekasihnya karena bosan. Tapi sepengetahuanku biasanya pria seperti itu karena tidak puas degan kekasihnya. Dalam hal ini…. Penampilan…. Yoshiki-kun… kita sudah berjalan 3 tahun lebih. A-aku…” Hana tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Ia merutuki keadaannya. Ia sama sekali tidak cantik. Secara fashion pun ia sangat kurang. Terkadang ia sangat takut memikirkan bagaimana jika suaminya akan mempermasalahkan hal ini. Terlebih suaminya bukan sosok yang biasa-biasa saja. Koneksi dan pekerjaan suaminya luar biasa bergengsi. Bagaimana jika sang suami malu memiliki istri sepertinya?
“Kenapa kau memikirkan hal setidak penting itu?”
“Eh?” Hana mendongkakkan kepalanya terkejut.
Pria di hadapannya entah dengan niat iseng atau apa, meraih tempura miliknya dan melahapnya santai, “perasaanku kepadamu tidak serendah itu. Kau selalu cantik bagiku. Kau cukup bagiku. Aku tidak akan menuntutmu apapun. Namun aku akan selalu memfasilitasimu apapun untuk menjadi apa yang kau inginkan. Cukup kau berada di sisiku, jangan meninggalkanku.”
Yoshiki terlampau sempurna. Pria itu tampan dengan segala kelebihannya. DItambah, pria itu memang mencintainya apa adanya. Hana sangat bersyukur telah bertemu pria ini dan menjadi istri sang pria.
“Kau tidak akan meninggalkanku kan? My Lady?”
Seketika Hana terbangun dari lamunannya.
‘Apa yang sudah kulakukan?’ Hana menggelengkan kepalanya berusaha menghapus pemikiran betapa bodohnya ia sudah meninggalkan pria yang memiliki perasaan sesungguhnya kepadanya.
.
Perlahan bola mata onix gelapnya terbuka dan mengerjap, berusaha beradaptasi dengan intensitas cahaya yang ada. Begitu pandangannya telah fokus, setengah mati ia terkejut mendapati sosok perempuan berambut hitam tengah bersandar pada dadanya. Seketika pandangannya mengedar sadarlah ia bahwa ia berada di sebuah taman.
“My… Lady…?” Panggilnya ragu.
“Hnggg??” Sosok perempuan itu perlahan menggerakkan kepalanya, mendongkak menatapnya, itu wajah Hana yang beru baru bangun tidur.
“Yoshiki-kun?” Tanyanya lemah.
Perasaan bahagia dan nyaman membuncah dari dalam dadanya sampai-sampai ia tidak bisa menahan senyuman pada bibirnya. Diusapnya lembut helaian kehitaman rambut Hana, “selamat pagi.”
Bukannya membalas ucapan Yoshiki, Hana malah semakin menyamankan kepalanya pada dada bidang sang suami yang terbalut jas gelap seperti biasa dan kembali memejamkan matanya.
Sebuah tawa kecil lolos dari bibir Yoshiki.
Namun semua itu tidak bertahan lama.
“Hana-chan!” Sesosok bocah laki-laki usia belasan tahun muncul di hadapan mereka.
“Hana-chan ayo main! Hana-chan ibu membuatkan hamburger! Hana-chan maafkan aku karena pergi tanpa mengabarimu.”
Yoshiki terkejut begitu menyadari Hana yang awalnya bersandar pada dadanya kini sudah berdiri turun dari bangku, terlebih lagi dalam sosok anak kecilnya.
“Keigo-kun! Umm! Ayo main!” Sosok kecil Hana menyongsong sosok kecil Keigo.
“My Lady!” seru Yoshiki menghentikan pergerakan Hana bocah.
“Umm?” Hana bocah hanya menolah konyol dan kebingungan, “paman siapa?”
Benar juga. Hana kecil tidak mengenal dirinya, “calon suamimu…,” Yoshiki menjawab ragu.
“Eh? Calon suami?” Hana kecil terkejut, “t-tapi aku s-s-suka Keigo-kun.”
“!!!” Yoshiki tersentak mendengar pengakuan bocah serba polos itu.
“Hana-chan! Ayo!” Kedua tangan kecil itu bertautan sebelum keduanya benar-benar berlari meninggalkan taman, menyebrangi jalan dan tertawa bersama.
“Tidak. Tunggu!” Tentu saja Yoshiki tidak akan membiarkan hal itu, ia menyusul berlari menyebrang jalan hingga—
TIIIIIINNNNNNN!!! Silaunya lampu dim truck seperti membutakan pandangannya—BRAAAAAAKKKKK!!!!
.
“!!” Kedua onyx itu terbuka dengan kasar. Nafas sang empunya pun tidak teratur, begitu pula dengan detak jantungnya. Seluruh tubuhnya hampi basah oleh keringat.
Begitu ia mengerjapkan matanya beberapa kali, barulah ia sadar jika apa yang baru saja ia alami adalah mimpi. Sedangkan dirinya sendiri berada di dalam sebuah pesawat pribadi menuju Australia.
Pria itu memijat pelipisnya sembari membenarkan posisi duduknya yang salah akibat tertidur, “My Lady….”
.
“EH!” Kepala Hana reflex menoleh ke balakang mendengar segala kekacauan mengerikan yang baru saja terjadi.
Di sana, di tengah jalan, seonggok tubuh nampak meregang nyawa dengan sekujur tubuhnya berdarah-darah, “m-my l-lady…” namun sosok itu masih berusaha bangkit, dengan tangannya terjulur ke arahnya.
“Y-Yoshiki-kun…” ucapnya tanpa sadar begitu sosok kecilnya yang asing pada Yoshiki telah berubah menjadi sosok dewasanya yang begitu mencintai sang pria.
GREB
Sebuah genggaman menghalangi niatnya untuk meraih tangan yang rapuh tersebut. Begitu ia menoleh ke sumber genggaman, ia mendapati sosok dewasa Keigo tengah menggeleng ke arahnya dengan ekspresi sedih, “jangan, Hana.”
“My…. Lady…. Arggh…” Hana kembali menoleh begitu erangan kesakitan itu terus memanggilnya.
“Sakit…. My Lady….” Sosok penuh darah itu kini berusaha merangkak ke arahnya.
“Jangan…. Pergi…. Jangan…. Meninggalkanku….” Bola mata sosok itupun seolah menjadi merah oleh darah, mulut sosok itu pun tak henti-hentinya memuntahkan darah kental ditengah erangannya.
“Kenapa… kau… pergi…. My Lady…?”
“My Lady….”
“My Lady….”
“MY LADY!!!” Tiba-tiba saja sosok yang telah berubah menjadi monster itu menerjangnya
.
.
“!!!!!!!” Hana tersentak, terbangun seketika.
Nafasnya tidak karuan. Seluruh tubuhnya penuh dengan peluh.
“Haaah….” Ia menghela nafas berat berusaha menangkan dirinya.
“Mimpi…” Gumannya parau.
“Hana tidak apa-apa!?” berselang beberapa detik kemudian pintu kamarnya didobrak oleh Keigo yang sudah berwajah khawatir, “suara eranganmu terdengar sampai kamarku.”
“Ah… aku hanya bermimpi kok Keigo-kun.”
“Mimpi buruk? Butuh segelas air?”
“Um,” Hana menangguk singkat, “aku memimpikan Yoshiki-kun tertabrak truk dan berubah menjadi monster, hahaha,” tawa Hana renyah.
Keigo Yasumoto cukuplah cerdas untuk menyadari jika mimpi buruk Hana ini berasal dari stress yang menumpuk karena takut oleh si iblis.
“Maaf sudah membangunkan Keigo-kun di jam 2 pagi seperti ini.”
“Tidak apa kok, aku akan tidur di sofa luar untuk berjaga-jaga, ok? Sekarang kamu bisa tidur lagi,” Keigo Yasumoto mengusap lembut pipi Hana.
Bersamaan dengan anggukan kecil dari Hana, malam itu berakhir dengan tidur nyenyak Hana tanpa ada lagi gangguan mimpi buruk.
.
“Bagaimana bisa seperti ini!? Sekarang si bodoh itu menjadi buronan CIA hah!?” Tak bisa menahan diri, Yoshiki melempar koran di hadapan pegawainya.
“Membawa kabur uang perusahan sebanyak 2 juta dollar, menyebabkan kerjasama dengan beberapa firma terhenti. Si sialan itu!” Lagi, ia menghardik entah kepada siapa. Yang jelas seluruh pegawainya hanya bisa diam mematung.
“Keluar!” Bersamaan dengan bentakan itu, seluruh pegawai berhamburan keluar dari ruangan kepala cabang yang kini sudah menjadi buron.
“Yang benar saja, aku datang kemari bukan untuk mendapatkan masalah seperti ini!”
.
“Kalau begitu, aku berangkat ya, Hana.”
Hana mengangguk kecil sembari menyerahkan tas kerja Keigo.
“Kalau ada apa-apa bisa menghubungi ponselku.”
“Um,” Hana kembali mengangguk.
“Kalau tidak apa-apa juga boleh menghubungi ponselku kok. Sekedar chat juga—” kalimatnya terhenti menyadari betapa memalukannya kalimatnya, ia menundukkan kepalanya yang memerah, “hahaha.”
“Hoho, awas saja kalau Keigo-kun protes ketika aku mengirimkan meme,” Hana menggunakan candaan sebagai tameng persembuyian dirinya yang nyatanya juga malu mendengarnya.
“Kenapa kamu hebat sekali kalau soal meme sih?” Ujar Keigo heran.
.
Dua belas siang.
Hana keluar membawa plastik sampah untuk ia buang sebelum jadwal pengambilan sampah tiba setengah jam lagi.
“Ah, tetangga baru!” Sebuah suara dari arah perempuan dari arah belakangnya membuatnya menoleh. Di sana seorang perempuan dengan perutnya yang membesar tengah tersenyum.
“Aku tinggal di kamar 109, namaku Graham Florence.”
Tanpa sadar Hana menundukkan kepalanya sopan, “selamat siang, nama saya Kuro—Rayumi Hana.”
“Orang Jepang sopan sekali ya,” perempuan yang Hana perkirakan berada di usia akhir 20 tahun itu kembali tersenyum.
“Mrs. Graham mau kemana?” Tanya Hana reflex begitu keduanya telah berjalan bersama untuk keluar apartemen.
“Susu ibu hamilku habis, aku harus segera membelinya.”
“Mrs. Graham tipe yang mandiri ya?” Hana memuji.
“Mau bagaimana lagi, aku telah bercerai dengan suamiku.”
“Eh?”