Senin, 16 Desember 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 38]

CHAPTER 38: WE ARE DONE

“Apa… katamu?” Shiho yang sedari tadi meraung-raung kini hanya bisa berguman lemah dengan tatapannya yang menatap nanar.
Yoshiki dengan tenang mengeluarkan beberapa lembar foto dari sakunya. Lembar-lembar foto yang menggambarkan penyiksaan oleh Shiho pada Hana dan beberapa gambar luka-luka Hana.
Kedua orang tua Rayumi itu semakin terkejut.
“Rayumi Shiho, begitu kau lelah dengan penelitianmu yang kadang tak kunjung membuahkan hasil, kau melampiaskan kekesalanmu pada Hana. Menyiksanya secara tidak berperikemanusiaan. Rayumi Tamaki, walaupun kau mengetahui semua itu, kau tidak bisa berbuat banyak. Sekarang…. Siapa di sini yang sebenarnya menyiksa Hana?” Tatap Yoshiki tajam.
“Jangan khawatir Lucifer. Setelah ini, kami pastikan Hana tidak akan merasakan penderitaan apapun.”
Menyadari ada suara lain yang ikut andil dalam pembicaraan itu, dengan cepat ketiganya memalingkan wajah menuju sumber suara di dekat pintu masuk.
“Siapa yang mengizinkan kalian masuk?” Nada bicara Yoshiki memberat seiring didapatinya beberapa orang exorcist telah memasuki ruang vVIP lengkap dengan Abschleppen Geist mereka.
“Maaf saja Lucifer, tapi perjalananmu sampai di sini,” exorcist dengan bando lengan berkode R-35 itu dengan ponggahnya memutuskan segalanya.
Yoshiki hanya tersenyum remeh, “kalian semua ingin mati membawa beberapa warga sipil di sini?”
Seolah tak mau mendengar ucapan Yoshiki lagi, para exorcist itu menerjangnya dari segala arah dalam ruangan sempit itu. Kedua orang tua Rayumi ditarik mundur oleh beberapa exorcist lain.



Selanjutnya kami terlibat pertarungan, badan pesawat tidak mungkin bisa menahan dampak pertarungan dan begitu burung besi itu menukik turun setelah kehilangan gaya angkatnya, sebelum menghantam laut, pesawatnya meledak. Aku yakin tidak ada yang selamat dari kecelakaan itu. Tubuhku sendiri hancur, dan aku baru mendapatkan kesadaran sehari setelahnya,” Yoshiki membuka kedua matanya perlahan begitu ia mengakhiri ceritanya.
“Hana… kamu sudah tidak perlu mendengarkan kalimatnya lagi. Semua itu sudah tidak penting. Kedua orang tuamu tetap meninggal karena iblis itu, penderitaan-penderitaanmu setelah kematian kedua orang tuamu tetaplah salah iblis itu” Keigo berujar.
“Namun aku tidak meninggalkanmu barang sedetik pun setelah kejadian itu.” Yoshiki kembali mengambil atensi Hana.
“Keluarga jauhmu yang mulai berebut mengasuhmu demi warisan kedua orang tuamu, anak-anak yang mulai merundungimu, bahkan…” Yoshiki menatap tajam pada sosok Keigo yang berada di belakang Hana, “seorang bocah yang merasakan cinta monyet padamu, aku tau semua itu.”
“A-apa…?” Hana membekap mulutnya, tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
“Tepat setelah kedua orang tuamu jenazahnya berhasil teridentifikasi dan dikeramasi… aku mendatangimu yang waktu itu masih berusia Sembilan tahun. Duduk di belakang gedung kremator sendirian, menangis….

….

Seorang pria dengan potongan rambutnya tersisir kesamping rapi klimis, lengkap dengan setelan jasnya mendatangi Hana. Bocah itu berhenti menangis begitu di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya tak dikenal.
“Paman… siapa?” Sambil menahan ingusnya supaya tidak keluar dan membuatnya semakin malu, Hana bertanya ragu.
“Perkenalkan namaku Okazaki Nishio. Pengacara yang akan membantu kesulitanmu, Rayumi Hana,” tidak ada nada khusus dari kalimat sang pria, semuanya terdengar datar bagi Hana.
“Pengacara?” Hana memiringkan kepalanya bingung.
“Benar. Sebelumnya boleh duduk di sampingmu?”
“Oh, maaf. Tentu, silahkan,” dengan sopan Hana menggeser pantatnya,member ruang bagi sang pria.
Kuroto Yoshiki yang waktu itu menyamar sebagai Okazaki Nishio hanya menatap rendah pada tubuh ringkih Hana. Sosok yang membawa kekuatannya tidak lebih dari seorang bocah kecil ringkih dan rapuh. Rasanya akan mudah jika merampas segalanya seketika dari tubuh kecil itu. Tapi Yoshiki tidak mau.
“Apakah Nishio-san adalah kenalan kedua orang tuaku?”
“Ya. Orang tuamu menitipkan banyak hal padaku.”
“Kalau begitu…” Hana nampak tertunduk dengan kedua tangannya mencengram erat roknya, “kenapa ayah dan ibu harus pergi?”
Yoshiki nampak tertegun sebelum menghelakan nafas berat, “karena memang sudah takdirnya,” jujur saja sebeneranya Yoshiki mati rasa terhadap rasa iba, namun ia harus berusaha terlihat baik di mata bocah ini.



“Berikutnya aku selalu datang sebagai Nishio Okazaki setiap keluargamu mulai mengacau, memperebutkanmu demi hak waris saja. Hingga akhirnya kau berhasil lepas dari jerat keluarga tamakmu dan hidup sendiri,” Yoshiki mengakhiri ceritanya yang lain.
“APA!? JADI KAU ADALAH NISHIO OKAZAKI ITU!?” Bukannya Hana yang bereaksi terlebih dahulu, melainkan Keigo.
Yoshiki tidak ada niatan menjawab pertanyaan orang yang ia anggap sebagai pengacau pondasi hidupnya. Oleh karena itu ia hanya memberikan tatapan dinginnnya saja.
“Pantas saja… Pengacara itu nampak selalu menghalang-halangi exorcist ketika hendak ikut campur pada perkembangan Hana. Ternyata itu semua perbuatanmu….” Keigo melanjutkan kalimatnya.
Hana terdiam tak mampu mengecap kalimat apapun. Yoshiki telah muncul sejak lama dalam kehidupannya. Begitu bibirnya terbuka beberapa kalimat meluncur, “sejak kapan Yoshiki-kun sudah ikut campur dalam hidupku?”
Yoshiki memberi jeda sebelum ia menjawab dengan datar, “sejak kau dalam kandungan. Aku selalu melihatmu.”
Pandangan Hana tidak terlepas sama sekali dari pria yang berdiri kurang dari lima meter darinya. Pria yang tadimya mengamuk dan memperlihatkan sosok yang selama ini tak pernah ia liat, sekarang hanya berdiri tanpa ekspresi berarti. Pandangannya datar namun rapuh dan sarat kesedihan.
Rayumi Hana, sejak kecil hanya melihat perkelahian kedua orang tuanya walaupun keduanya selalu terlihat akur. Ibunya membencinya hanya karena banyak kelemahan dalam dirinya. Namun ia tumbuh menjadi sosok tegar yang berusaha memahami segala hal yang terjadi padanya. Membawanya pada sebuah pemikiran, kasih sayang adalah omong kosong.
Sekarang, yang ada di hadapannya adalah stalker abadinya.
Kuroto Yoshiki selalu menatapnya ari jauh. Mengawasi setiap pergerakannya dalam diam. Datang dalam berbagai wujud manusia untuk membantunya ketika kesusahan. Oh, bolehkah Hana menganggap itu sebagai kasih saying yang ekstrim? Tapi semua itu selalu dibarengi dengan fakta yang menyakitkan. Pria itu juga merampas berbagai kebahagiaannya tanpa ia sadari. Membuat Hana termakan omong kosong jika di dunia ini hanya dia yang menyayanginya. Pria itu telah mengambil Keigo sahabatnya, juga kedua orang tuanya, entah apa lagi yang diambil pria itu tanpa Hana sadari.
“Jadi… Yoshiki-kun adalah stalkerku?”
Yoshiki menegang mendengar pernyataan Hana. Senyuman miring yang menyeramkan muncul tanpa ia sadari, “anggap saja seperti itu.”
“Kau sudah dengar kan Hana? Dia mengakuinya. Sebaiknya kita segera pergi dari hadapan stalker menyeramkan itu. Aku tak bisa membayangkan dia selalu menatapmu dari jauh sepanjang waktu dari kamu dalam kandungan,” Keigo terus memberikan bisikan supaya Hana menyingkir.
“Selama itu… Yoshiki-kun menyamar menjadi orang lain untuk ikut campur dalam hidupku?” Tanya Hana memastikan.
“Hei Hana!” Namun Keigo seolah ingin segera menghentikan Hana. Ia takut, jika Hana akan kembali tertipu oleh Lucifer.
“Hn.”
“Pantas saja… aku selalu merasa hidupku begitu beruntung. Orang-orang asing datang dan pergi membantuku di saat terdesak. Itu semua Yoshiki-kun?” Tanpa Hana sadari sebutir air mata melaju turun dari kelopak matanya.
Tak menjawab kalimat Hana, Yoshiki menggerakan tangannnya diantara udara. Bagaikan sulap, sebuah buku catatan kecil tiba-tiba muncul di tangannya.
“Kau bisa membacanya,” disodorkannya catatan kecil itu pada Hana.
Perlahan dan ragu, Hana meraih buku kecil itu dengan gemetaran. Tidak ada perubahan ekspresi berarti dari Yoshiki. Pria itu tetap stoic dengan kesedihan yang menyelimutinya.
Setelah membalik-balik halaman catatan tersebut Hana tercekat. Ini adalah buku harian sang penguntit. Buku harian yang menceritakan tentang dirinya.
“My Lady, kembalilah,” tidak ada nama sama sekali dalam kalimat yang merupakan permohonan itu, hanya saja Yoshiki mengucapkan itu dengan kepala tertunduk seolah tidak ingin memperlihatkan kegundahan di wajahnya.
Namun Hana sudah bulat. Pria itu memang mencintainya dengan tulus. Sayangnya beberapa caranya salah dan menyakiti Hana secara psikis.
Hana menggelengkan kepalanya lemah, ia tersenyum di tengah kesedihannya, “selamat tinggal, Yoshiki-kun. Terima kasih,” selanjutnya ia benar-benar memalingkan badan dan tidak pernah menoleh ke belakang sampai mobil yang dikendarai oleh Keigo berderu meninggalkan jembatan pada waduk tersebut.
Yoshiki masih bergeming beberapa saat. Ia hanya termenung menatap kepergian Hana bersama Keigo Yasumoto.
Hingga kepalan tangannya berhenti mengerat, tiba-tiba saja ia berlari dan melompat ke dalam waduk. Tempat itu sangat sunyi, tidak ada siapapun yang melewati tempat itu, sehingga suara ceburan Yoshiki ke dalam waduk terdengar menggema sampai kepada Hana. Dikeluarkannya kepalannya untuk melihat langsung ke belakang, apa gerangan suara itu. Dan benar saja, mantan suaminya telah lenyap di balik gelapnya malam dan percikan air.
Yoshiki mencarinya. Mencari cincin kawin yang telah ia lemparkan karena keegoisannya.
Yoshiki telah mencapai dasar waduk berkedalaman lebih dari 20 meter tersebut. Di tengah kegelapan dan arus dalam waduk membuat wujud manusianya terombang-ambing kebingungan. Ia tak bisa menggunakan kekuatannya yang memang secara harafiah tidak akan mempan kepada hal-hal yang berbau Hana. Entah keberuntungan memang memihaknya atau bagaimana, ia melihat sebuah kilauan di tengah kabut lumpur.

**

Keigo Yasumoto sesekali melirik dan mencuri pandang ke arah Hana yang duduk di sampingnya. Perempuan berambut pendek itu hanya murung dan menatap sedih buku catatan kecil yang diberikan sang iblis.
“Kamu baik-baik saja, Hana?”
Mendengar nada khawatir dari Keigo, Hana dengan segera menjawab, “ah aku tidak apa-apa kok.”
“Sungguh?” Seolah tak yakin dengan Hana, keigo kembali bertanya.
Hana malah tertawa ringan setelah itu, “tentu saja ini berat. Aku pun, mencintainya Keigo-kun. Dia sudah cukup lama singgah di dalam hatiku.”
“Tapi dia adalah iblis Hana. Kau harus tau itu. Cepat atau lambat dia akan selalu menyakitimu.”
“Menurut Keigo-kun begitu?”
“Tentu saja!”
Hana hanya terdiam, menatap gelapnya malam seolah menelan laju mobil.

.
.

“Silahkan, anggap saja seperti tumah sendiri,” Keigo membuka pintu rumahnya untuk Hana.
Sementara Hana memandang memutari setiap sudut rumah Keigo, “ini rumah Keigo-kun?”
“Yah, ini dari hasil kerjaku jadi… maaf jika rumahku cukup kecil…” terdengar jelas nada kurang percaya diri di sana.
“Hasil kerja keras Keigo-kun? Rumah ini jadi kelihatan semakin luar biasa!” Dimasukkannya alas kakinya dan Hana tata rapi di dalam rak.
“Benarkah? Tapi bukankah tempat ini biasa saja dibandingkan dengan tempat Lucifer?” “Kenapa harus dibandingkan dengan Yoshiki-kun?”
Keigo yang sudah memakai celemeknya membuka lemari es, “karena aku ingin membahagiakanmu.”
Hana terhenyak beberapa saat. Ia tidaklah terlalu bodoh untuk menyadari pernyataan cinta secara tidak langsung dari Keigo. Namun rasanya ia sudah terlalu lelah untuk kembali memikirkan hal-hal rumit yang nantinya akan menyakitinya. Jadi Hana akan menganggapnya bagai angin lalu saja.
“Apa yang kamu buat Keigo-kun? Izinkan aku membantu!” Disusulnya Keigo menuju dapur.
“Hei, kamu istirahat saja. Apa yang ingin kamu makan?” Dikeluarkannya beberapa rempah-rempah dari dalam lemari es.
Sambil meletakkan jarinya di depan mulut Hana berpikir, “ummmm…” cukup lama sampai ia memutuskan, “aku mau Soba! Dengan Udang!”
“Baiklah!”
“Aku mau membantu Keigo-kun!” Hana bersikeras.
Untuk beberapa saat Keigo menatap Hana sebelum akhirnya ia menghela nafas dan meminta Hana membersihkan udang.



Keduanya duduk saling bersebrangan di atas sofa di ruang keluarga. Keheningan menyeruak sejak makan malam telah usai.
Hingga Hana mngeluarkan buku catatan kecil yang diberikan Yoshiki sebelum ia pergi, Keigo mau tak mau mengeluarkan apa yang mengganjal dalam pikirannya, “aku belum melaporkan jika kamu bersamaku dan berhasil mengambilmu dari Lucifer.”
“Melaporkan?” Tanya Hana tidak mengerti.
“Kepada Exorcist.”
Oh, tentu saja. Harusnya Hana sudah menduga hal ini. Yoshiki sangat gusar saat itu. Dirinya telah dirampas Exorcist, musuh besar Yoshiki. Hana semakin gundah dan mempertanyakan kembali perasaan Yoshiki kepadanya.
Sebuah senyuman getir tercetak pada wajah muramnya. Sepertinya ia memang sedang dipermainkan oleh takdir. Tidak ada siapapun yang bisa dipercaya sekarang semenjak ia tau jika ada sebuah kekuatan luar biasa sang raja iblis bersemayan dalam dirinya. Seolah dirinya adalah sumber daya yang diperebutkan siapapun demi keuntungan pribadi. Dirinya sangat lelah dengan pemikiran jika Keigo yang sekarang pun adalah Keigo yang hanya menginginkan kekuatan dalam dirinya saja.
“Ada apa Hana?” Tanya Keigo yang khawatir dengan perubahan ekspresi Hana.
“Ngmm… tidak, tidak apa…” Hana member jeda sejenak, “lalu, selanjutnya akan bagaimana?” Walaupun bertanya seolah peduli, Hana sangat tidak peduli sama sekali dengan bagaimana kedepannya.
“Aku akan segera melaporkan keberadaanmu. Karena jika tidak segera, bisa-bisa Lucifer sudah menyerang markas tanpa diketahui markas jika kamu ada padaku. Setelah itu mungkin kami akan kembali menata formasi lajunya perang. Setelah perang terakhir kemarin terlalu banyak exorcist berguguran, dari pihak iblis pun juga banyak yang tersegel—“
“… Keigo-kun…”
Keigo menghentika penjelasannya begitu mendengar Hana memanggil namanya.
Ekspresi Hana saat itu membuat Keigo terhenyak, perempuan itu berujar dengan senyum getir penuh kesedihan, “sebenarnya aku ini apa? Kenapa harus ada peperangan hanya karena keberadaanku?”
Dalam sekejam Keigo telah merengkuh tubuh Hana yang bergetar. Pelukan itu begitu erat dan sungguh menenangkan. Keigo sangat mengerti betapa menyakitkannya pemikiran Hana.
“Kamu Rayumi Hana. Temanku. Sahabatku. Perempuan tomboy yang selalu riang. Jangan terlalu memikirkan hal berat. Kamu tau semua ini terjadi karena para iblis…” ucap Keigo menenangkan Hana.
Hana tenggelam dalam pelukan Keigo. Pelukan hangat dan serba nyaman dan berbau lemon maskulin.
“Yang jelas, berikutnya aku akan melindungimu dari para iblis! Akan kupastikan selanjutnya kamu akan bahagia dan jauh dari segala urusan iblis!” Ditatapnya Hana dengan mata menyala-nyala penuh keyakinan.
Read More ->>

Senin, 25 November 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 37]

CHAPTER 37: BITTER PAST

Dengan cekatan Keigo segera menarik tangan Hana. Membuat sang empunya tangan tak bisa berkutik selain mengikuti kemana saja sang penarik pergi.
Yoshiki tentu saja tak akan diam saja membiarkan istrinya diseret pergi.
Drama perembutan seorang mahasiswi tomboy itu lantas membuat seluruh mahasiswa di tempat itu bertanya-tanya. Siapa sebenarnya Hana? Kenapa dosen terluarbiasa baik bisa seperti kenal lama dengannya? Kenapa mahasiswa tertampan bisa begitu menyukainya? Topik pembicaraan mahasiswi julit untuk seminggu kedepan sepertinya tidak akan jauh-jauh dari dua hal itu.
Di lain pihak Hana telah duduk di dalam mobil Keigo Yasumoto dengan tak kalah bingung. Mobil itu dikemudikan dengan kecepatan bagai kejar-kejaran mobil dalam film.
Hana tak sebodoh itu untuk menyadari jika Keigo Yasumoto menyetir dengan terburu-buru lantaran mobil yang sangat familiar bagi Hana nampak terus berusaha menyusul bahkan menyalip mobil Keigo Yasumoto. Mobil siapa lagi itu jika bukan mobil Yoshiki?
Sambil menolehkan wajahnya ke belakang untuk mengecek kondisi mobil Yoshiki yang nampak ngotot mengejar, Hana berujar panik, “a-anu Keigo-kun sebenarnya ada apa? Kenapa Keigo-kun bisa mengenal Yoshiki-kun? Dan kenapa Keigo-kun seperti membawaku lari? Yoshiki-kun mengejar di belakang! Kecepatan ini juga seharusnya bisa memanggil polisi berdatangan loh!”
“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu Hana. Kenapa kamu bisa terpikat olehnya?” Tak berpaling dari kemudinya, Keigo balik bertanya.
“M-Maksudnya? Keigo-kun masih mempermasalahkan hal itu? Bukankah Keigo-kun yang pergi meninggalkanku sendirian!?”
“Dia yang mengirimku pergi.”
“D-dia?”
“Siapa lagi jika bukan Kuroto Yoshiki.”
Hana terperenjat, “t-tunggu, apa maksudnya itu Keigo-kun? Kenapa tiba-tiba Yoshiki-kun?”
Keigo Yasumoto menghelakan nafasnya berat, bersiap menceritakan sebuah kisah naas di tengah pelarian keduanya dari kejaran Yoshiki.
“Kakakku adalah Exorcist.”
Kedua mata Hana melebar mendengar kalimat awal dari kisah naas Keigo.
“Waktu itu, sepuluh tahun lalu, di mana usiaku hanya empat belas tahun, ayah tiba-tiba dipindah kerjakan ke area Timur Tengah. Ayah sudah berusaha menolak pemindahan tugas yang mendadak dan tak beralasan itu. Namun ayah tidak bisa terus keras kepala jika masih menginginkan pekerjaannya. Maka pindahlah kami sekeluarga.
Namun kakakku mengatakan hal aneh yang tak kupahami waktu itu. Ini semua pasti ulah Lucifer. Lucifer sang iblis besar itu. Begitu kutanyakan mengapa bisa Lucifer ikut campur urusan keluarga, kakak menjawab karena aku dekat denganmu. Denganmu yang memiliki kekuatan Lucifer yang tersegel,” pandangan Keigo Yasumoto sepenuhnya tertuju pada kedua bola mata Hana begitu ia member jeda pada ceritanya.
Hana tak mampu berkata-kata apapun untuk merespon cerita awal Keigo. Ia hanya terdiam dengan pikirannya sendiri.
“Masih ada kelanjutannya dari cerita kakak. Tentang kebenaran kecelakaan pesawat kedua orang tuamu.”
Begitu mendengar itu Hana merespon cepat, “Ada apa dengan kecelakaan orang tuaku Keigo-kun!? Jelaskan padaku!”
Keigo memejamkan matanya sejenak, menimbang-nimbang untuk menceritakan atau tidak, namun akhirnya keputusannya telah bulat, “Lucifer, atau pria yang kamu kenal dengan nama Kuroto Yoshiki itulah pelakunya.”
Nafas Hana seolah tertahan.
“Orang tuamu adalah Exorcist berperingkat puluhan saat itu. Dengan Lucifer yang kehilangan kekuatannya, sepertinya ia mengurangi bentrokan secara magis. Oleh sebab itu dengan kepala cerdiknya ia mengatur supaya beberapa Exorcist diterbangkan ke China yang memiliki konflik, yang mana konfliknya sendiri adalah bagian dari rencananya juga. Orang tuamu diterbangkan dengan pesawat naas itu bersama beberapa exorcist lain. Di tengah perjalanan ia meledakkan bom-bom yang sudah ia siapkan. Ia tidak menyuruh orang lain untuk memastikan rencananya berjalan lancar. Maka ia sendiri yang menyusup ke dalam pesawat. Bom bunuh diri itu menewaskan seluruh penumpang pesawat. Begitu semua jenazah teridentifikasi, ada salah satu yang menghilang. Begitu dicek pada rekaman pemindai, orang yang menghilang itu memiliki spectrum warna yang berbeda dari manusia. Maka diketahuilah jika pelakunya adalah Lucifer itu sendiri.”
Begitu penjelasan Keigo berakhir, Hana harus berusah payah menelan ludah karena tenggorokannya yang tiba-tiba kering, “t-tunggu…. Kenapa Yoshiki-kun harus melakukan itu?”
“Exorcist, terlebih kedua orang tuamu memang harus dibunuh demi kemudahan mendapatkanmu! Dialah pembunuh kedua orang tuamu Hana! Dia juga yang telah memisahkan kita karena ia menganggapku sebagai ancaman!”
Hana tenggelam dalam kekacauan pikirannya.
“Dia Lucifer! Dia akan melakukan apapun demi mendapatkan kekuatannya kembali!”
“…. Hentikan mobilnya Keigo-kun,” suara Hana yang hampir seperti bisikan itu tenggelam dalam bisingnya jalanan dan suara deru mobil Keigo.
“A-apa?” Keigo yang nampak fokus pada kemudi dan pedal gasnya nampak tak berhasil menangkap permintaan Hana.
“Aku mohon, Keigo-kun, hentikan mobilnya!” Kali ini Hana juga mencengkram tangan kiri Keigo.
CKIIIIIIIITTTTT!!!
Tanpa banyak permohonan lagi, Keigo menginjak pedal rem mobilnya. Menghentikan paksa mobil yang tadinya melaju dalam kecepatan 100 km/jam itu di tengah-tengah sebuah jembatan yang menjembatani sebuah waduk raksasa.
Dari arah belakang sebuah Audi gelap yang dikemudikan Yoshiki dengan cekatan juga menghentikan lajunya.
Wajah Hana yang luar biasa kacau keluar dari mobil Keigo. Air mata nampak memenuhi kedua pipinya. Rambut pendeknya secara acak-acakan menutupi seperempat wajahnya. Mendapati hal itu, Yoshiki dengan perasaan tak kalah berkecamuk keluar dari mobilnya.
“My Lad—“
“Sudah cukup!”
Yoshiki terdiam.
Akhirnya hal yang paling ia takutkan selama ini terjadi. Dengan kedatangan Keigo yang tak berhasil Yoshiki ketahui akan membawa bencana dalam kehidupannya yang tertata rapi.
“Dia sudah tau semuanya, Lucifer,” Keigo Yasumoto—orang yang paling Yoshiki hajar saat ini—muncul dari balik mobilnya dengan tenang.
Yoshiki terdiam tak mengucapkan apapun. Namun perlahan tangannya terjulur terbuka.
“My Lady, kembalilah,” tak bisa disembunyikan, sebuah nada berat dan penuh kesesakan keluar dari mulut Yoshiki.
Hana menggeleng kuat. Isakannya seolah ia tahan kuat-kuat. Ingus yang merembes keluar dari hidungnya pun ia tarik kembali.
“Aku lelah Yoshiki-kun. Terlalu banyak yang Yoshiki-kun sembuyikan dariku. B-Bahkan…. Sekarang aku tau j-jika…. Orang yang aku cintai, suamiku, adalah pembunuh kedua orang tuaku!” Isakan Hana pecah tak tertahankan sekarang.
Dengan segala luapan emosi, Hana mencabut sebuah cincin dari jari manisnya. Detik berikutnya Hana sudah melemparkan cincin pernikahannya ke arah waduk.
“!!!!” Kedua mata gelap Yoshiki melebar melihat benda silinder berlubang itung melayang bebas sebelum akhirnya tercelup ke dalam air yang cukup dalam.
“Ayo masuk Hana,” Keigo yang merasa iba dengan Hana meraih lengan Hana untuk mengajaknya kembali masuk ke dalam mobil.
BWOOOOOOSSSHHHH!
SWUUUUNGGGGH!
Gemuruh yang luar biasa tercipta begitu saja.
Kejadian berikutnya terjadi luar biasa cepat. Namun entah insting apa yang sudah menggerakkan Hana. Perempuan berambut pendek itu telah merentangkan kedua tangannya lebar-lebar melindungi Keigo
 Sementara di hadapannya sang suami telah dalam wujud yang bukan dirinya selama ini. Sebuah sayap hitam pekat merekah di balik punggungnya. Cakar-cakar hitam tajam panjang dari sosok suaminya berhenti tepat beberapa inchi saja dari dahinya. Dan tak bisa dipungkiri aura gelap yang dipancarkan oleh suaminya benar-benar mampu membuatnya terkencing di celana jika Hana tak menahannya. Aura yang luar biasa menekan itu seolah memperlihatkan kutukan, kebencian, dan kemarahan. Begitu luar biasa sampai timbul riak air pada danau dan menyebabkan getaran di berbagai tempat bagai gempa.
“Tidak Yoshiki-kun. Aku tidak akan membiarkanmu membunuh Keigo-kun,” ucap Hana yakin dengan tatapan tak gentarnya.
Yoshiki tersenyum tipis di balik gelapnya aura yang sudah seperti menelannya. Namun senyum itu hanya terjadi dalam beberapa detik saja, “My Lady, berselingkuh di hadapan suamimu adalah tindakan buruk kau tau.”
“Aku tau. Namun maaf,” Hana menundukkan wajahnya sekilas, “…. Aku bukan istrimu lagi.”
Yoshiki terhenyak.
“Kau bodoh My lady. Lebih memilih exorcist lemah sepertinya daripada aku. Lucifer. Lucifer yang memiliki segalanya!”
“Kamu memiliki segalanya karena kamu memang merebut segalanya! Termasuk orang tua Hana! Dasar iblis!”
“DIAM!” Yoshiki menatap dingin Keigo yang sudah seenaknya menyerang balik kalimatnya, “aku bisa menghancurkanmu berkeping-keping dari sini. Tidak hanya kau, asset keluargamu, bahkan keluargamu bisa kuhancurkan hanya dalam satu perintah saja.”
“Hentikan Yoshiki-kun!” Hana sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Air mata sudah menganak sungai pada pipinya.
“….” Yoshiki terdiam beberapa saat menatap betapa kacaunya isrinya.
“Yoshiki-kun… sebenarnya kenapa bisa seperti ini? Kenapa semua jadi serumit ini?” Tanya Hana di tengah isakannya.
“Kenapa Yoshiki-kun harus membunuh kedua orang tuaku? Kenapa Yoshiki-kun harus memisahkanku dengan Keigo-kun!? Kenapa…. Kenapa Yoshiki-kun melakukan semua ini kepadaku!? Kenapa kekuatan Yoshiki-kun harus berada di dalam diriku!?” Bagai orang yang kurang waras, Hana meracau tanpa henti.
“Percuma menanyakan itu kepada iblis sepertinya Hana. Dia akan memberikan jawaban-jawaban penuh tipu muslihat,” Keigo yang merasa iba dengan Hana berusaha menenangkan Hana.
“Tipu muslihat….” Hana berguman pelan, “Yoshiki-kun…. Tolong jawab yang satu ini sejujur mungkin….. Yoshiki-kun…. Apakah hubungan kita selama ini juga hanya sebuah tipu muslihat?”
Sebuah helaan nafas terdengar dari Yoshiki. Sayap hitam pekatnya yang tadi merekah lebar sekarang perlahan menutup dengan lemas, “menurutmu bagaimana? Apakah perasaanku kepadamu selama ini terlihat seperti tipu muslihat?” Yoshiki bertanya lemah dengan senyuman pahit terpatri jelas di wajahnya.
Hanya terhenyak karena kalimat dan ekspresi terlihat benar-benar sedih sekarang.
“Jangan dengarkan apapun kalimatnya Hana! Dia hanya sedang berusaha membuatmu bingung! Ingatlah jika adalah pemanipulatif ulung!” Dari arah belakang Keigo berusaha mengingatkan Hana.
“Aku mencintaimu My Lady.”
“JANGAN DENGARKAN IBLIS ITU HANA!”
“Aku harus memisahkanmu dari exorcist sialan di belakangmu itu karena tentu saja dia akan menjadi penghalang bagiku.”
“Menghalangi?” Hana bertanya lemah.
“Aku selalu mengawasimu My Lady. Setiap saat. Dari kelahiranmu, setiap waktu, kau tak pernah lepas dari pengawasanku. Berkali-kali menyamar dengan wajah dan penampilan berbeda dalam membantumu yang hanya manusia bodoh dan rentan dalam menjalani kehidupan. Aku tau cepat atau lambat exorcist akan menemukanmu yang membawa segel kekuatanku. Dugaanku itu benar. Kedua orang tuamu yang peneliti, Prof. Rayumi Tamaki ayahmu, dan Dr. Rayumi Shiho segera direkrut exorcist dalam tim Research. Aku harus melakukan sesuatu mengenai hal itu. Namun aku akui saat itu pikiranku sedang kacau semenjak menyadari ada seorang bocah laki-laki yang mulai dekat denganmu. Kau tau, kukira aku sudah gila saat itu. Begitu resah hanya karena seorang bocah mendekatimu.”
Hana menolehkan wajahnya kebelakang. Mendapati wajah Keigo yang mulai serius saat disebut-sebut bocah oleh Yoshiki.
“Yoshiki-kun…. Dari dulu aku sudah menyadari jika aku tidak akan mendapatkan kisah cinta yang indah. Aku tidak pernah berfikiran untuk dilamar oleh seorang pria… tapi mengetahui orang tuaku dibunuh oleh pria yang menjadi suamiku rasanya—“
“Aku melamarmu.”
Hana dengan cepat memalingkan kepalanya dari Keigo dan menatap Yoshiki dengan tidak percaya.
“Hari itu di pesawat, aku mengundang Prof. Rayumi Tamaki dan Dr. Rayumi Shiho ke ruang VVIP. Mereka duduk di hadapanku dengan wajah yang sangat tegang. Dan aku tau sekali jika exorcist sudah bersiap-siap menangkapku di luar…..

***

“Sial. Tidak disangka kita bisa kecolongan. Lucifer ada di pesawat ini, dan lebih parah lagi dia memanggil kedua orang tua Rayumi Hana.”
“Tidak apa-apa. Lucifer saat ini sangatlah lemah. Kita harus bisa memangkapnya.”
“Kedua Rayumi sudah memasuki ruang VVIP. Kita harus segera bersiap-siap,” sebuah komando terdengar. Dengan segera sepuluh orang exorcist berperingkat tertinggi yang berada di dalam burung besi itu berkumpul di area pintu ruang VVIP dengan Abschleppen Geist milik mereka masing-masing.
Kuroto Yoshiki terdiam dengan kedua kakinya ia silangkan, sementara kedua tangannya ia pertemukan jari-jarinya saja. Di hadapannya adalah kedua orang tua Rayumi. Sebuah senyum ia sunggingkan dengan sopan sebelum memulai kalimatnya.
“Terima kasih telah menerima undanganku, Mr. dan Mrs. Rayumi. Karena kalian sudah mengetahui identitasku, aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan diri lagi.”
“Lucifer…” Tamaki tak bisa menahan desisan emosi dan kegugupannya.
“Benar. Lucifer. Namun namaku saat ini adalah Kuroto Yoshiki,” Yoshiki masih tak menghilangkan senyumannya.
“Apa maumu dari kami?”
Yoshiki membenarkan posisi duduknya menjadi lebih sopan untuk dipandang, “biarkan ini menjadi lebih formal sekarang. Mr. dan Mrs. Rayumi kukira anda berdua sudah tau apa yang akan saya katakana di sini,” Yoshiki mendadak merubah gaya bicaranya lebih sopan.
“Siapa yang bisa menebak isi kepala Lucifer?” Tamaki Rayumi masih berada dalam mode siaganya.
Yoshiki terkekeh kecil, “tidak perlu setegang itu Mr. Rayumi. Baiklah bila anda berdua memang tidak tau,” kali ini tatapan Yoshiki terarah langsung kepada keduanya dengan yakin, “saya ingin mengambil anak anda, Rayumi Hana, sebagai istri.”
“DASAR IBLIS TIDAK TAU DIUNTUNG!? BAGAIMANA MUNGKIN KAMU SEMUDAH ITU INGIN MERAMPAS ANAK KAMI!?” Shiho Tamaki yang sedari tadi nampak menahan diri sepertinya sudah kehilangan dirinya sekarang.
Yoshiki dengan tenang menjawab, “tidak ada yang ingin merampas anak anda di sini. Malah bukankah dengan melamarnya adalah cara baik-baik dan sopan?”
“DAN APA KAMU KIRA KAMI AKAN MEMBERIKAN ANAK KAMI BEGITU SAJA!?” Shiho semakin menjadi-jadi. Seakan tubuhnya yang sekarang telah ditahan sang suami itu sangat ingin memberikan penghakiman pada Yoshiki dengan cara menamparnya.
“Ibu sudah, tahan diri ibu!” Tamaki berusaha menenangkan istrinya yang kalap.
“Lucifer, kami sudah tau cerita lengkapnya. Mengenai segel yang berada dalam tubuh putrid kami, dan mengenai kekuatanmu. Kami memutuskan akan menyerahkan putri kami kepada exorcist yang akan melindunginya,” Tamaki membeberkan pembelaannnya dengan mantap.
“Rayumi-san, di sini tidak ada yang ingin menyakiti Hana, dia tidak perlu dilindungi sedemikian rupa.”
“SIAPA YANG BISA MENJAMIN JIKA IBLIS SEPERTIMU TIDAK AKAN MENYAKITI ANAKKU!?” Shiho kembari meracau.
Yoshiki terdiam sejenak, “sebenarnya siapa di sini yang menyakiti Hana? Bukankah itu anda sendiri Rayumi Shiho-san?”
Read More ->>

Sabtu, 02 November 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 36]

CHAPTER 36: The Problem Itself

“Silahkan duduk, anda datang lagi, apakah ada keperluan?” Tanya sang professor sopan.
“Hn. Tidak terlalu, aku hanya ingin mengenalkanmu pada istriku,” Yoshiki menggenggam tangan Hana yang terkatup di pahanya.
Kondisi ini cukup membuat Hana salah tingkah sekarang. Wajahnya pasti sangat memerah.
“Oh! Senang berkenalan dengan anda Miss Kuroto. Saya Shimomiya Akihiko, teman Kuroto-sama ketika berkuliah di sini dulu.”
Hana semakin tidak mengerti kondisinya saat ini. Seorang professor, diulangi kembali, seorang professor sedang memperkenalkan diri dengan sangat sopan padanya. Dan lagi, Profesor di depannya adalah teman suaminya dulu! Perkiraan Hana saat ini adalah jika sang Profesor adalah sesame iblis dengan pangkat yang mungkin cukup dekat dengan tahta sang raja.
“Dia manusia,” ucap Yoshiki tiba-tiba seolah-olah mampu membaca pikiran Hana.
“EH!?” Hana terkejut bukan main, begitu ditatapnya Shimomiya, pria itu hanya tersenyum tulus.
“Benar. Saya manusia,” Shimomiya menyetujui.
“L-Lalu kenapa? Shimomiya-sensei memanggil Yoshiki-kun dengan begitu hormat, itu artinya—“
“Benar. Saya tahu jika Kuroto-sama adalah seorang iblis, terlebih, seorang raja iblis, Lucifer,” walaupun berujar begitu, raut wajah Shimomiya tetap santai.
Hana terdiam. Ia cukup bingung harus merespon seperti apa. Pemikiran seorang dosen yang sudah bergelar professor memang susah dipahami, begitu pikir Hana.
“Kau membuatnya kebingungan Shimomiya,” Ujar Yoshiki datar.
“Begitu? Hahahaha, maafkan saya Miss Kuroto. Anggaplah saya sekutu kalian. Saya sebenarnya hanya bergerak oleh karena rasa penasaran saja. Walaupun bidang saya pendidikan saat ini, tapi ketertarikan saya justru pada hal-hal supranatural. Saya sangat terkejut begitu mengetahui teman kuliah saya adalah seorang iblis, terlebih Lucifer. Tidak heran jika Kuroto-sama mendapatkan penghargaan ketika kelulusan. Tidak heran bukan jika seorang Lucifer sangat cerdas?” Shimomiya bergurau di akhir kalimatnya.
“Begitu… ahahahaha….” Hana hanya mampu memberikan tertawa kaku.
Selanjutnya suaminya dan sang professor seperti terlibat pembicaraan yang sangat seru. Hana tak tau pasti, mungkin mengenai filsuf atau sejenisnya. Merea beradu pendapat namun Hana selalu tau jika dang professor selalu berada di jalan buntu ketika menghadapi argument suaminya.
Mengetahui isi kepalanya tak akan pernah sampai pada pembicaraan keduanya, Hana memutuskan untuk berhenti mendengarkan. Sebaliknya ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Suaminya, Kuroto Yoshiki adalah sosok yang melampaui akal sehat. Seorang professor manusia saja sampai takjub padanya. Tak heran rasanya… rasanya… begitu banyak perempuan yang tertarik kepada Yoshiki.
Perempuan bodoh mana yang tidak akan tertarik pada pria tampan, intelegen, dan kaya!? Yoshiki begitu sempurna untuk dipandang. Ditambah para perempuan yang mengincar Yoshiki bukanlah kelas teri ketika SMA, kebanyakan adalah perempuan terpandang dan jika dipasangkan dengan Yoshiki mungkin akan menjadi pasangan yang sempurna.
Dari kasus Otome Rin, Hana belajar jika Yoshiki pun akan tergoda oleh perempuan lain suatu saat nanti jika ia tidak waspada. Membayangkan Yoshiki meninggalkannya bersama perempuan lain…
‘PLAK!’ Hana menepuk kedua pipinya keras-keras guna menghilangkan pikiran buruknya.
Namun akibatnya Yoshiki dan Shimomiya menatapnya dengan tatapan bingung.
“Eh? AHAHAHAHA…” Hana tertawa canggung, “a-aku tidak apa-apa kok.”
Sekarang Yoshiki benar-benar menatapnya serius penuh pertanyaan, “apakah sesuatu mengganggumu My Lady?”
“Ah….” Hana terdiam beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Besar dari bagian hatinya ingin memberitau masalah ini kepada Yoshiki. Tapi hati kecilna terus menahannya. Sudah saatnya ia mampu mensejajarkan diri sebagai istri yang pantas bagi seorang Kuroto Yoshiki. Ia harus berusaha sendiri terlebih dahulu.
“Tidak ada kok, aku hanya menepuk diriku sendiri untuk menyadarkanku jika semua ini mimpi atau bukan. Karena semua ini keren sekali bagai mimpi,” Hana berdusta.
“Istri anda sangat polos juga ya, Kuroto-sama,” Shimomiya tertawa renyah setelahnya.
Yoshiki hanya menatap Shimomoiya sekilas, namun detik berikutnya pandangannya kembali tertuju pada Hana yang tengah mengikuti Shimomiya tertawa ringan. Setidaknya Yoshiki merasa jika Hana menyembunyikan sesuatu.

.

“Yoshiki-kun akan ikut unit kegiatan mahasiswa?”
Yoshiki melirik Hana sekilas begitu perempuan yang duduk di samping kursi kemudinya itu melontarkan pertanyaan tiba-tiba.
“Hn, kau bagaimana?” Yoshiki malah bertanya balik.
“Ah, umm… aku tidak tau, aku butuh saran dari seorang senior seperti Yoshiki-kun,” Hana tersenyum ringan.
Sebenarnya pertanyaan itu hanya pengalihan dari rasa khawatirnya akan pemikiran serangan-serangan dari para mahasiswi yang mengincar Yoshiki dan entah mengapa dari tadi ponselnya menerima banyak spam email tak beralamat asli berisikan ancaman untuk segera meninggalkan Yoshiki dan mengatakan jika ia adalah penipu dan pembohong.
Yoshiki menghelakan nafasnya, “kegiatan seperti itu biasanya hanya akan bertahan setidaknya sampai 2 bulan pertama perkuliahan, selanjutnya jika kau tidak benar-benar berminat di sana kau mungkin akan segera meninggalkan kegiatan tersebut.”
“Eh? Begitu? Jawaban yang sangat senior sekali ya,” Hana kembali membelikan senyumannya, sementara tangannya menahan getaran pada ponselnya yang tak pernah berhenti bergetar. Setiap detik email-email itu selalu berdatangan.
Hana juga tak tau pasti bagaimana bisa orang-orang yang menerornya bisa mengetahui alamat emailnya. Hana tidak takut. Hanya saja, menyebalkan jika harus menggubris mereka satu per satu.
“Sesuatu mengganggumu?” Yoshiki tiba-tiba bertanya.
Hana refleks menoleh ke arah suaminya yang sibuk menyetir, “kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Kau tidak seperti biasanya. Kau memindah posisi duduk kita tadi. Kau memukul pipimu keras-keras. Dan kau menggegam ponselmu erat-erat sekarang.”
Hana gelagapan, “Oh, itu…”
“Aku harap kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku My Lady.”
Hana menghela nafas panjang sebelum berbicara kembali, “aku senang Yoshiki-kun peduli padaku,” dan dilanjutkan dengan cekikikan konyol.
“Hn? Jadi selama ini aku tidak peduli terhadapmu?”
Tawa Hana semakin menjadi-jadi mendengar pertanyaan manis suaminya.
“Omong-omong kita punya agenda malam keakraban dengan senior kan?” Hana mendadak merubah topic pembicaraan.
“Hn, ya. Ritual membosankan sebagai mahasiswa baru.”
“Woah woah, senior,” Hana bergurau, “wahai senior, ceritakan pada juniormu ini bagaimana ritualnya?”
“Tidak ada hal khusus. Hanya minum bersama, karaoke, dan sejenisnya.”
“Heee… hanya begitu… kukira akan lebih berat lagi…”
“Lebih berat?”
“Ituloh. Kalau di film yang pernah kutonton. Ada sebuah kampus kedokteran di Prancis yang melakukan kegiatan ospek pada mahasiswa baru. Mereka disuruh makan ginjal kelinci, lalu diguyur darah babi, dan kegiatan menjijikan mengerikan yang lainnya.”
“Hn, hal seperti itu memang ada di beberapa negara. Jepang salah satu negara yang tidak menerapkan system seperti itu meningat angka bunuh diri yang sangat tinggi. Pemerintah sangat melarang kegiatan yang sejenis itu.”
“Heeee….”
Hana yang terus merasa terganggu dengan getaran pada ponsel dalam genggamannya pun memutaskan membuka ponselnya. 151 email masuk dalam waktu hitungan menit saja. Sepertinya mereka benar-benar serius, pikir Hana.
Semua isi emailnya sangat identik sampai-sampai Hana langsung menghapus semua pesan yang masuk tanpa berfikir dua kali.
Ingin rasanya Hana menuangkan racun pada makanan atau minuman orang-orang ini ketika minum bersama besok. Tapi jika beberapa orang mati seketika karena keracunan pasti akan menjadi kasus yang sangat mencolok.
Sepertinya Hana harus memikirkan cara lain.

.
.

Seperti yang sudah direncanakan. Besok malamnya diadakan acara malam keakraban dengan para senior. Sebuah bar dan beberapa ruang karaoke telah disewa sampai pagi.
“Hei kenapa kau memotong rambutmu sependek itu?”
"Dia sedang depresi pasti.”
Hana hanya bisa tertawa dengan bibir tertekuk saat menghadapi beberapa seniornya yang terus mengajaknya bicara walau mabuk.
“Kau pasti ikut kegiatan sepak bola atau semacamnya?” Lagi-lagi seorang senior menyerang Hana dengan pertanyaannya.
“Tidak senpai. Aku tidak ikut kegiatan apapun.”
“Bagaimana bisa tidak ikut kegiatan apapun!? Manfaatkan tahun pertamamu dengan baik dasar junior bodoh!”
“Uh, maaf senior!” Hana hanya bisa menunduk patuh. Walaupun begitu tak dipungkiri jika Hana merasa kesal dari dalam perasaannya.
“Itulah kenapa senior dibutuhkan. Ayo kudidik kamu supaya jadi penerus yang baik. Mulai dari…” Tangan sang senior bergerak mengusap rambut Hana yang nampak menyembul tidak rapi, “panjangkan rambutmu… supaya kau punya pacar?”
GREP
Dalam skala seperdetik tangan sang senior telah ditarik dari rambut Hana. Tangan itu dicengkram erat oleh Yoshiki.
“Dia sudah punya kekasih. Dan kekasihnya tidak mempermasalahkan jika dia berambut pendek. Yang menjadi masalah di sini adalah sikapmu sebagai senior. Bukankah ini contoh yang buruk, eh? Senior,” dengan seringai dan pandangan yang merendahkan Yoshiki mencermahi.
“A-Apa-apaan!?” Sang senior yang tangannya dicengkram mulai tak terima.
“Junior sudah banyak gaya!” Yang lain mulai tersulut.
Namun Yoshiki hanya menghela nafas. Dia adalah raja iblis, sang Lucifer. Ia bisa memutar arah rotasi bumi seenaknya. Mengurusi remaja-remaja terlambat puber seperti ini hanya seperti meniup debu yang mengotori kulitnya.
Entah pesan apa yang sudah dikirimkan Yoshiki pada kepala-kepala para senior hanya dengan tatapannya saja. Hanya saja para senior itu tiba-tiba beringsut mundur dan pergi meninggalkan lokasi beramai-ramai.
“Lain kali jangan diam saja,” Yoshiki menatap datar ke arah Hana.
“Hah? Memangnya aku harus bagaimana?” Hana merespon dongkol, “harus marah-marah dan menghajar mereka supaya menimbulkan masalah yang lebih besar? Aku bukan tuan-raja-iblis yang bisa mengatur orang seenaknya!”
Yoshiki mendekatkan jarak antara dirinya dan Hana, sangat dekat sehingga mampu membuat Hana bertanya-tanya dengan wajah kesalnya.
“Lain kali katakan jika kau milikku. Milik Kuroto Yoshiki. Milik Lucifer.”
Sedetik kemudian ruam merah segera menguasai wajah Hana.
“B-Bodoh. Yang begitu tetap saja menghasilkan masalah yang lebih besar,” tak mampu menahan rasa malunya, Hana berujar sambil memalingkan wajahnya.
Yoshiki tersenyum simpul, diacak-acaknya rambut perempuan yang membuatnya gemas itu.
Sementara itu dari meja lain nampak beberapa teman satu departmen Hana mulai bergunjing.
“Astaga lihat! Kuroto-kun mengusap kepala si jelek!”
“Arggghhh!! Apa-apaan sih!”
“Tidak cocok! Kuroto-kun hanya cocok dengan kita! Bukan si buruk rupa itu!”
“Oh astaga lihat itu! Bukankah itu Keigo Yasumoto-kun? Anak Dr. Yasumoto yang sekarang juga dosen muda di departemen farmasi?”
Namun begitu seorang pria muda berpakaian rapi masuk, gunjingan mereka seketika berubah arah.
“Benar benar! Kudengar dia berumur 25 tahun dan sedang mengambil S3 di Habbaa—“
“Havard. Departemen of Stem Cell and Regenerative Biology,” salah satu dari mereka menimpali.
“Wow, keren sekali. Sepertinya Keigo Yasumoto-sensei memang tertarik pada bidang pengembangan obat biologis…”
Perkumpulan perempuan itu nampak asik mengamati pria berambut coklat rapi yang tengah berbincang-bincang dengan seorang mahasiswa tingkat akhir yang kebetulan mengikuti kegiatan bersama junior-juniornya.
“Dasar bodoh. Bukannya segera menyelesaikan skripsi kenapa malah main-main. Memangnya kamu itu senggang sekali apa?” Keigo Yasumoto meneriaki anak bimbingnya dengan kesal.
“Maaf sensei, besok saya akan segera mengirimkan revisinya ke meja anda sebelum pukul 12,” sang anak bombing nampak berojigi berkali-kali.
Berdasarkan kabar yang sudah tersebar ke seluruh penghuni departemen Kimia, Keigo Yasumoto adalah dosen semi tidak aktiv mengajar karena masih harus melanjutkan studi S3-nya, namun masih sangat aktiv membimbing mahasiswa dalam tugas akhirnya. Sifatnya yang begitu peduli kepada anak bimbingnya membuatnya selalu mendapat antrian panjang pendaftaran anak bimbing. Jika selama ini adalah mahasiswa yang mengejar dosen untuk revisi, maka pada kasus Keigo Yasumoto-sensei, dosennya lah yang mengejar mahasiswa. Hasilnya pun kebanyakan memuaskan.
“Tidak. Pastikan sebelum pukul 11 revisi sudah harus ada di meja saya. 1 jam saja tidak akan cukup untuk mengkoreksi kau tau!”
“T-Tapi sensei saya harus—“
Namun sayangnya ucapan sang mahasiswa bimbingannya sama sekali tak bisa masuk ke dalam telinga Keigo Yasumoto begitu kedua matanya tertuju pada seorang perempuan yang tengah asik menyesap jus jeruknya.
“Hana!” Keigo Yasumoto tercengang.
“Oh?” Sang murid bimbingan ikut tercengang, ia mengikuti mata Keigo yang tertuju pada Hana.
“Sensei… mengenal anak tahun pertama itu?”
“Pokoknya kamu selesaikan besok sampai jam 11 revisi harus sudah ada di meja saya,” tanpa memperdulikan murid bimbingannya yang masih ingin menjerit protes, Keigo Yasumoto bergegas ke arah Hana.
“Hana!” Bagaikan seseorang yang telah menahan rindu bertahun-tahun lamanya, Keigo memanggil nama Hana.
“Ngg?” Sementara yang dipanggil hanya menolehkan kepalanya santai dengan kondisi mulutnya masih memainkan sedotan plastik dan meniupkan udara ke dalamnya supaya es jeruknya memunculkan gelembung-gelembung udara.
BRUUK
Namun semuanya berjalan terlalu cepat. Tiba-tiba kepala Hana sudah ada dalam dekapan Keigo Yasumoto.
“Aku merindukanmu Hana. Sangat merindukanmu.”
Hal tersebut lantas membuat seisi ruangan ternganga bukan main. Seorang dosen yang sangat disanjung tiba-tiba memeluk seorang mahasiswi yang notabene bukan siapa-siapa.
“Eh?” Hana yang sangat terkejut dipeluk tiba-tiba, bingung harus bertindak seperti apa selain harus menjaga jus jeruknya agar tidak tumpah.
Sementara para perempuan di ruangan itu sibuk menutup mulut mereka yang terbuka lebar, Yoshiki dengan kondisi moodnya yang luar biasa buruk mendekat ke arah keduanya.
“Lepaskan,” dengan aura kegelapan dan penuh kutukan yang mungkin bisa dirasakan setiap orang di ruangan itu Yoshiki berguman mendekat, “lepaskan dia.”
Keigo Yasumoto terpaksa menghentikan kegiatan melepas rindunya seraya mendongkakkan kepalanya dan mendapati seorang pria berdiri tidak lebih dari 5 meter jauhnya.
“Kuroto… Yoshiki….” Dosen muda itu berguman mendesisikan nama sang pria.
“EEEEEEEHHHH!!!??? KEIGO-KUN!?” Seketika ketegangan diantara keduanya terpecahkan oleh teriakan melengking khas Hana.
“Keigo-kun bukan!? K-Kamu Keigo-kun benar? Hei, K-Keigo-k-kun….” Hana mencengkram kedua tangan Keigo Yasumoto dengan erat dan mengguncangnya beberapa kali.
Wajah kalem Keigo melunak dan memberikan senyuman lembut kepada Hana, “benar Hana, ini Keigo Yasumoto.”
Air mata bagaikan meletup-letup dari kelopak mata Hana.
Karena Keigo Yasumoto adalah…. Pria dari masa lalunya.



Read More ->>

Selasa, 15 Oktober 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 35]

CHAPTER 35: END THE HIGHSCHOOL’S LIFE

Musik klasik memang sangat indah. Tapi terkadang kenangan buruknya seolah menjadi penghalangnya.
Yoshiki meraih sebuah lemari kaca dan mengeluarkan sebuah biola yang nampak rapuh  dari sana.
“Ini Stradivarius. Biola langka yang menyebabkan kutukan bagi siapapun yang memainkannya.”
“Ehhh?” Hana bergidik ngeri.
Tak mempedulikan ketakutan Hana,Yoshiki memposisikan biolanya untuk segera dimainkan.
“Wolfgang Amadeus Mozar, Requiem in D minor.”
Alunan-alunan indah mulai tercipta dari gesekan senar dari jari Yoshiki yang begitu lihai.
Hana terperangah. Setiap gesekan yang dihasilkan seolah mempengaruhi aura aneh yang menguar dari balik punggung Yoshiki. Semuanya terasa…. Gelap. Namun juga… sangat indah. Yoshiki seolah memenjarakannya di suatu tempat sempit.
Terlintas di kepalanya mengenaik kejadian tadi sore. Rin Otome bercerita jika Yoshiki memainkan biola juga untuk perempuan itu. Hati kecilnya seperti dicubit. Alunan gelap dan indah yang dihasilkan oleh gesekan biola Yoshiki seolah semakin membawa Hana ke dalam jurang iri dengki. Ia akui ia iri, namun bagaimana lagi, walaupun Yoshiki memainkan untuknya seperti saat ini ia tak akan bisa memberikan penilaian apapun, Rin Otome memang lebih layak. Oleh karena Rin Otome lebih layak, rasa iri membuncah dalam diri Hana, membuatnya lepas kendali dan memenggal kepala perempuan malang itu.
Alunan biola menuju akhir dan Yoshiki mengakhiri permainannya dengan indah dan elegan.
Hana bertepuk tangan ringan, “keren sekali.”
Yoshiki hanya menatap datar, “kau tidak bisa mendengarkannya dengan baik kan?”
Hana sedikit tersentak. Yoshiki tau mengenai traumanya.
“Maaf,” Hana tersenyum ragu, “tapi aku bisa melihatnya kok, betapa keren Yoshiki-kun memainkannya. Juga…. Agak terdengar sedih ya… seperti baru saja merasakan kematian—ah.”
“Hn, ada apa?”
“Yoshiki-kun sedang berduka karena kematian Rin Otome ya? Aku… maaf… tubuhku bergerak sendiri di luar kendali. Dan tanpa sadar aku sudah membelah kepalanya….” Walaupun mengucapkan perminta maafan, namun Yoshiki bisa melihat seringai tipis dari bibir Hana.
“Hn…”
Yoshiki hanya diam mengamati langkah Hana yang terus membuat jarak diantara mereka menyempit. Hingga Hana sudah tepat berdiri di hadapannya. Tangan Hana meraih kepala Yoshiki dan semakin meniadakan jarak diantara keduanya.
‘Chuu~’
Tanpa sepatah kata lagi, Hana mendaratkan ciuman dalam pada bibir Yoshiki. Sedikit terkejut hanya dalam beberapa detik, namun Yoshiki segera memainkan perannya dengan baik, dibalasnya ciuman Hana dengan serius. Mengakibatkan ciuman itu menjadi sedikit lama dengan sedikit permainan lidah di dalamnya.
Hingga kedua bibir itu berpisah perlahan, menyisahkan wajah kemerahan Hana.
“A-aku mohon, untuk berikutnya, j-jangan biarkan perempuan lain sampai m-mencium bibir Yoshiki-kun,” ucap Hana dengan kepala tertunduk.
Oh. Hana cemburu.
Bibir tipis Yoshiki berberak membentuk senyuman miring.
“Ada apa My Lady? Kau cemburu? Jarang sekali melihatmu seperti ini.”
Hana menatap Yoshiki dengan wajah luar biasa merah, “A-apa-apaan itu! C-Curang! Yoshiki-kun menanyakan hal yang sudah sejelas itu!” Dipukulnya ringan dada Yoshiki.
Direngkuhnya tubuh kecil Hana, “maaf,” dan disandarkannya kepalanya pada bahu Hana, “aku hanya kelelahan, seharusnya aku tidak boleh melakukan itu. Ini semua salahku. Kupastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.”
Hana bisa merasakan ketulusan dalam setiap kalimat Yoshiki, “kelelahan? Umm…” Yoshiki adalah iblis, raja iblis malahan, cukup aneh mendengar raja iblis mengeluh kelelahan.
“Hn. Menyedihkan sekali ya jika seorang raja mengeluh?” Ucap Yoshiki seolah membaca pikiran Hana.
“Aku juga merasa lelah. Dan hal yang bisa membuat moodku naik lagi hanyalah dirimu, namun kau… seolah-olah mengabaikanku… seenaknya pergi dengan teman-teman priamu, kalian memang hanya berteman, namun aku tetaplah merasa iri kepada mereka yang bisa bersenang-senang bersamamu.”
Hana terdiam. Ini pertama kali baginya mendengar Yoshiki begitu jujur dan tenang dalam menyatakan keglisahannya. Ia tau, yang Yoshiki maksud pastilah ketika ia secara sembarangan hendak mengajak temannya ke konser karena Yoshiki sangat sibuk, namun prianya itu segera datang dan menemaninya menonton konser, padahal Hana sendiri tau betapa berat pekerjaan suaminya itu.
Alis Hana mengerut. Sudah betapa egois ia selama ini?
“Untuk kejadian di orkesta, aku tidak menonton orkesta bersama Otome Rin. Kami hanya kebetulan bertemu di luar Hall. Lalu, aku hanya menawarkan tumpangan pulang untuknya.” Yoshiki menjeda kalimatnya sejenak sebelum kembali melanjutkan, “My Lady… sebenarnya aku telah menyiapkan tiket untukmu. Sejak dulu, hal yang sangat ingin kulakukan adalah bisa menonton orkesta denganmu, namun aku tau kondisimu, aku tak bisa membuatmu menderita hanya karena keinginan sepele seperti itu, namun di lain sisi terkadang, aku sangat ingin mengenalkanmu pada mitra-mitraku yang memiliki hobi sama denganku.”
Hana hanya bisa bungkam. Yoshiki telah membeberkan semuanya. Termasuk keinginannya. Pelukannya terhadap pelukan Yoshiki semakin mengerat.
Keduanya bertatapan beberapa saat seolah saling menyalurkan perasaan masing-masing. Hingga jarak diantara wajah mereka hilang dan digantikan oleh kecupan-kecupan hangat.

.
.

“HAAAAAAAAAAAA!!!?? SERIUUUSAAAN!?”
Teriakan itu akan menggema di seluruh mansion bila setiap ruangan tidaklah kedap suara. Namun beberapa pelayan yang kebetulan mendengarnya berbondong-bondong mendatangi kamar Hana karena khawatir.
“My Lady, apa terjadi sesuatu?” Tanya salah satu perwakilan pelayan.
Hana sendiri yang masih dalam keadaan terkejut semakin terkejut dengan munculnya puluhan pelayan di depan pintu kamarnya.
“Eh? T-Tidak ada, HAHAHA. K-Kalian kaget ya? HAHAHA!” Hana semakin menggila, membuat beberapa pelayan sweatdrop, “maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir, aku hanya sekedar kaget, hahaha, nah, kalian boleh kembali bekerja, haha.”
Mata Hana kembali terarah pada layar di ponselnya. Untuk kesekian kalinya ia menatap tidak percaya.
Lantaran…
“DITERIMA DI UNIVERSITAS TOKYO PRODI KIMIA!”
Hana melompat seketika dari ranjangnya. Dengan keadaan yang tidak bisa dibilang rapi setelah tidur siangnya, Hana berlarian di lorong mansion tak memperdulikan pandangan khawatir yang dilancarkan siapapun ketika berpapasan dengannya.
Tanpa rasa sungkan sekalipun, Hana mendobrak pintu ruang kerja Yoshiki.
“Yoshiki-kun!”
“My Lady?” Yoshiki yang tengah duduk di sofa mugkin sedikit terkejut dengan kedatangan Hana yang serba heboh.
“Haahhh… Hahh…” Setelah puas menata nafasnya yang ngos-ngosan, Hana melangkah mendekati Yoshiki, “Yoshiki-kun sudah lihat web pengumuman?”
Yoshiki tak menjawab segera, namun ia hanya tersenyum tipis.
“Selamat My Lady…”
Hana mengangguk bahagia sementara kakinya melangkah mendekat.
“Umm, lalu bagaimana dengan Yoshiki-kun?”
Yoshiki menaikkan sebelah alisnya, “Kau kira aku tidak akan lolos?” Tanyanya dengan tampang sok.
“B-bukan begitu!” Lantas Hana merasa bersalah, “Yoshiki-kun pasti lolos, masalahnya, dimana Yoshiki-kun diterima?” Hana tertunduk. Benar ia bahagia mendapat perguruan tinggi dan jurusan yang ia inginkan, tapi bagaimana dengan Yoshiki? Suaminya itu terlampau cerdas, bagaimana jika Yoshiki diterima di tempat yang berbeda dengannya? Memiliki pemikiran itu bisa membuatnya cemas.
Yoshiki tak bisa menyembunyikan senyumannya lagi. Bibirnya mengembang lebar.
Didorongnya tubuh Hana yang tadinya duduk di sampingnya hingga sekarang terbaring dengan dirinya berada di atas.
“Aku juga, lolos di perguruan tinggi dan prodi yang sama denganmu.”
Kedua mata Hana melebar bahagia, “Serius!?” Hana tak bisa menyembunyikan kebahagiannya juga.
Tak menjawab pertanyaan Hana, Yoshiki mendekatkan wajahnya lebih lagi pada wajah Hana. Bibir keduanya bertautan, mengecup, dan larut dalam kelembutan untuk beberapa saat.

.
.

“Jadi seperti ini ya… Kuliah itu…” Hana menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, seolah ia tengah menghirup udara perkuliahaan itu sendiri.
Yoshiki melangkah di samping Hana dengan santai. Keduanya baru saja menghadiri acara penerimaan mahasiswa baru.
“Kalau Yoshiki-kun pasti sudah hampir bosan sekali ya?” Yoshiki melirik Hana sebentar, “tidak. Kali ini berbeda.”
“Berbeda?” Hana menatap Yoshiki penuh tanda tanya.
“Karena kau ada di sampingku. Tentu saja semuanya akan berbeda,” jawab Yoshiki santai tanpa menyadari jika kalimat ringannya itu bisa membuat Hana yang wajahnya sudah memerah itu meledak.
“A-Ahh… B-Begitu! Hahaha!” Hana tertawa garing untuk mengusir detakan jantungnya yang semakin cepat, “kampus luar biasa ya. Luas sekali daripada SMA dulu. Mungkin aku akan sering-sering tersasar di sini.”
“Kau bisa mengajakku jika ingin pergi ke suatu tempat di kampus ini.”
“Eh? Ah, benar juga ya, akan lucu jika raja iblis yang mulia ini tersasar. Pengetahuan denah lokasi pun sepertinya sudah menjadi standart ya bagi Yoshiki-kun.”
“Hn? Apa itu? Aku pernah menempuh program Profesor di sini. Wajar bukan jika aku sudah mengenal tempat ini.”
“EEEEEHHHH!!??? PROGRAM PROFESOR DI SINI!?”
“Hn.”
“Uwaaagh… senpai yang sangan senpai…  Kuroto-sensei dulu di bidang apa?” Ucap Hana setenga bercanda.
“Major in Aquatic Life Sciences, Mrs. Kuroto,” dengan santai Yoshiki seperti balik mengerjai Hana.
POOF. Wajah Hana kembali memerah. Cukup mudah rasanya untuk mengalahkan Hana.
“Ayo nanti malam ke karaoke!”
“Ayo ayo! Aku baru berkenalan dengan anak-anak departemen Farmasi! Akan kuajak nanti!”
Terlihat 5 orang mahasiswa mahasiswi tengah bercengkrama di sebuah halte bus.
Hana tersenyum melihat tingkah kelimanya, membuat Yoshiki tanpa sadar ikut memperhatikan kelima mahasiswa tersebut.
“Ada apa?”
“Umm, tidak! Aku senang. Di sini banyak mahasiswi cantik-cantik dan mahasiswa ikemen-ikemen, bahkan sepertinya tadi ada yang sekilas mirip Yoshiki-kun loh.”
“…..” Dalam diam Yoshiki menundukkan badannya menyamai tinggi Hana, kemudian menghalingi pandangan Hana dengan wajahnya yang begitu datar, dan berakhir dengan memberikan kecupan singkat pada bibir Hana.
“!!!!” Adegan yang tidak sampai tiga detik itu seperti mampu meledakkan diri Hana.
“Jangan melihat mahasiswa lain.”
“U-UWW—M-MAAF! H-HABISNYA INI PERTAMA KALIKU. JADI SEMUANYA AKU AMATI!” Jawab Hana gagap, “u-uh… Yoshiki-kun tetap yang tertampan diantara mereka semua kok. A-a-anu!!” Hana nampak tak bisa melanjutkan kalimatnya.
“Hn?”
“Y-Yoshiki-kun j-juga jangan melihat mahasiswi lain! M-Mereka-mereka sangat cantik-cantik daripada aku…” semakin lama suara Hana semakin hilang.
Yoshiki terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan senyuman tipis di bibirnya, “tidak akan.”
Diraihnya tangan Hana, sementara tangannya yang lain meraih sesuatu dari saku celananya. Itu cincin pernikahan keduanya. Cincin pernikahan milik Hana.
Dipasangkannya benda perak berkilau itu pada jari manis Hana, “sekarang tidak perlu khawatir oleh peraturan dilarang menggunakan perhiasan berlebihan, kau bisa mengenakan cincin pernikahan kita tanpa perlu melepasnya sekarang.”
Semburat merah kembali muncul di wajah Hana begitu ditatapnya cincin pernikahannya telah membalut pangkal jari manisnya.
“Agar setiap orang di sini tau jika kau milikku.”

.
.

Minggu pertama perkuliahan bagi Hana terasa begitu menyenangkan. Ia mendapat beberapa teman baru, suaminya pun bisa dibilang cukup manusiawi dalam pergaulanannya.
Seperti biasa kabar keduanya adalah pasangan dengan cepat merebak di sekitar area departemen. Siapa juga yang akan tahan tidak menggosip jika ada seorang mahasiswa luar biasa tampan dan sempurna berpacaran dengan mahasiswi abnormal?
Sejujurnya semuanya terasa berat bagi Hana jika harus berhadapan dengan tatapan dan mulut tajam para perempuan di kampusnya. Lawannya bukan lagi bocah-bocah SMA yang masih labil.
“Umm…. Hana?”
Hana yang kala itu sibuk dengan ponselnya menolehkan kepalanya ke belakang begitu mendengar namanya terpanggil.
“Ah iya, ada apa?”
“Eh, kupanggil Hana saja ya boleh? Habisnya kalau Kuroto seperti memanggil Kuroto-kun.”
Hana tersenyum manis menimpali ucapan teman yang duduk di belakangnya, “boleh saja kok. Ada apa?”
Teman di belakangnya itu tersenyum ragu sebelum akhirnya menguatarakan pikirannya, “anu, apa benar Hana-san dan Kuroto-kun itu bertunangan?”
Ah. Pertanyaan ini rupanya.
“Umm!” Hana menangguk dengan masih mempertahankan senyumannya, “kami bertunangan.”
Yoshiki sepertinya baru saja pergi keluar kelas entah untuk melakukan urusan apa, padahal saat ini rasanya Hana sangan ingin menggenggam erat lengan suaminya itu.
“Begitu ya….”
“Kalau boleh tau, kenapa menanyakan ini? Apa ada masalah karena hubunganku dan Yoshiki-kun?”
“Masalah?” Teman sekelasnya itu memiringkan kepalanya, “tentu saja ada. Kenapa perempuan biasa-biasa saja sepertimu bisa jadi tunangan Kuroto-kun? Jelas saja aku lebih berkualitas daripadamu.”
Hana tertohok bukan main. Perempuan yang bahkan tak Hana kenal namanya itu dengan gamblang dan santai mengungkapkan kalimatnya begitu saja tanpa memperdulikan perasaan Hana setelah mendengarnya.
Hana mengigit bibir bawahnya kecil. Hatinya sakit. Pikirannya kembali kalut.
“Ada apa? Kau mau aku duduk di sisi kanan atau di sisi kiri?”
Tanpa disadari Hana telah melamun cukup lama hingga kedatangan Yoshiki dan dosen saja Hana tak menyadarinya.
“Oh, sudah kembali. Yoshiki-kun di sini saja ya,” Hana menepuk-nepuk kursi kosong di samping kanannya. Ia tak bisa membiarkan Yoshiki duduk di depan temannya yang jelas-jelas seperti memberikan pandangan perlawanan terhadap hubungannya.
“Hn? Bukankah kau tadi meletakkan tasku di tempat yang kau duduki sekarang?”
“Yaaah, itu tadi. Sekaranga aku berubah pikiran, hehe,” Hana tertawa garing.
“…. Hn…” Yoshiki meletakan pantatnya dengan agak ragu, ia masih mempertanyakan kepindahan tempat duduknya yang tiba-tiba tanpa alasan.
“Omong-omong… Yoshiki-kun darimana tadi?” Tanpa memperdulikan dosen yang sudah mulai memberikan kuliah, Hana tetap kembali memulai pembicaraan.
“Bertemu dengan seorang kenalan di departemen Pendidikan Sains.”
“Kenalan?”
“Hn. Kau ingin tau? Kita bisa ke tempatnya lagi setelah kelas berakhir.”
“Oh, umm… boleh.”
Perkuliahan baru dimulai 1 minggu dan Yoshiki sudah memiliki kenalan. Hal yang baru bagi Hana.

.

Hana hanya bisa mengekor pada Yoshiki. Pria itu terus berjalan tanpa ragu menuju departemen yang cukup asing bagi Hana. Departemen Pendidikan Sains. Terlebih keduanya memasuki ruang dosen begitu saja.
Yoshiki mengetuk sebuah ruangan yang di depannya bertuliskan Prof. Dr. Shimomiya Akihiko.
Terdengar sahutan izin masuk dari dalam. Suaranya terdengar berat dan serak. Benar saja, begitu Yoshiki membuka pintu nampaklah seorang pria berusia sekitar enam puluh tahunan duduk di mejanya dengan wajah yang awalnya kesal berubah menjadi sumringah.
“Kuroto-sama!” Sambut pria itu—dosen itu.
‘Uwaw, waw sekali,’ Hana tak bisa berhenti mengerjapkan matanya takjub. Seorang professor memanggil suaminya dengan hormat.
Read More ->>

Senin, 23 September 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 34]

CHAPTER 34: SWEET HURT CLASSICAL MUSIC

‘Hei! Hei! Apa-apaan kalimat Yoshiki-kun barusan?’ Dengan pikiran berkecamkuk Hana meremas tepian hoodienya sendiri.
Yoshiki berharap bertemu Otome Rin lebih awal? Untuk apa? Apakah itu berarti Yoshiki menyesal bertemu dirinya terlebih dahulu?
Hana semakin gila sekarang.
Drrrtt!! Drrrt!! Drrrtt!!
Ponsel di saku Hana terus-terusan bergetar menandakan ada beberapa chat masuk.
‘Siapa sih!?’ Sambil mengumpat-umpat dalam hati, Hana mengeluarkan ponselnya.
Beberapa chat telah masuk di room chat sahabat-sahabatnya.
Hisegawa Maki: Wah Hana sepertinya ada yang gawat nih.
Hisegawa Maki: img9088722_1200_145.jpg
Hisegawa Maki: aku mendapatkan foto itu dari seorang teman yang bergabung dalam fans club pacarmu itu.
Tangan Hana bergetar hebat. Kedua Sapphirenya terbelalak lebar.
Foto yang baru saja dikirimkan Maki menggambarkan keduanya, Yoshiki dan Rin nampak duduk bersama dengan masing-masing earphone terpasang di kedua telinga mereka. Dengan sebuah sumber CD Player keduanya nampak begitu menikmati apa yang terputar di sana.
Oh betapa cemburunya Hana saat ini.
Seingatnya Yoshiki selalu merasa biasa saja ketika Hana memperdengarkan beberapa lagu favoritnya. Tapi kenapa di foto ini Yoshiki nampak begitu bahagia dengan sedikit senyuman di bibirnya yang jarang ia tunjukkan pada perempuan lain itu?
“Kuroto-kun sudah tau belum jika MJ Crown Orc mengupload interlude spesial mereka di akun niconico mereka?”
Pendengaran Hana yang sejenak menjadi tuli begitu melihat kiriman foto dari Maki kini kembali normal. Hana kembali melanjutkan proses pengupingannya dengan dada meradang.
“Aku baru tau.”
“Kalau begitu ayo kita dengarkan bersama! Kabarnya penampilan mereka kali ini akan dijadikan CD juga loh! Aku bersyukur mereka mau mengupload bagian interlude secara gratis! Haha!”
“Hn. Bukankah kemarin kau sudah menontonnya?”
Eh? Telinga Hana kembali menjadi tuli sementara ia sibuk dengan pikirannya. Bukankah orkesta yang dihadiri Yoshiki adalah MJ Crown Orc? Jadi memang benar. Perempuan yang berada di mobil Yoshiki kemarin adalah Rin Otome.
Rayumi Hana: Ternyata perempuan yang berada di mobil Yoshiki-kun kapan hari memang Rin Otome.
Rayumi Hana: Bagaimana ini? Yoshiki-kun benar-benar selingkuh :’) Mereka ada di belakangku sekarang. Sedang membicarakan sesuatu.
Hisegawa Maki : Astaga si brengsek itu benar-benar. Apa yang mereka bicarakan? Kamu bisa mendengarnya?
Rayumi Hana: Entahlah. Sesuatu yang terdengar seperti membahas musik klasik, instrumen, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tolong :(
Rayumi Hana: Ternyata mereka kemarin sepertinya menonton konser itu bersama :( kawan-kawan bagaimana ini?
Ayaki Shiro: GILAAAAAAAA. Coba ambil foto, aku ingin lihat!
Dengan enggan Hana membuka aplikasi kamera dan mengaturnya dalam mode selfie supaya ia bisa memfoto apa yang ada di belakangnya diam-diam.
“Nah, ayo kita dengarkan lagi interlude yang kemarin?”
Tepat ketika Hana hendak mendekan tombol shutter pada ponselnya untuk mengambil gambar, terlihat Otome RIn nampak memasangkan salah satu earphone pada telinga Yoshiki.
“!!!”
Dengan beribu emosi menyeruak dalam diri Hana, ditekannya tombol shutter itu dan dikirimkannya foto bukti perselingkuhan Yoshiki pada chat roomnya.
Rayumi Hana: IMG20181223212821.jpg
Rayumi Hana: woah… mereka mau mendengarkan music bersama lagi :’)
Umei Yui: ohmygod. Ini gila. Hana kau harus segera melabrak mereka! Itu di mana? Kami datang!
Hisegawa Maki: KAGET AKU. Send Loc cepat! Kita ke sana!
Ayaki Shiro: BANTAAAAAAAIIIII
Namun Hana tak lagi memperhatikan apa yang ditulis sahabat-sahabatnya di chat room. Pandangannya kosong. Pikirannya penuh.
“Aaaah Indah sekali nada nada yang mereka mainkan,” namun sayangnya lagi-lagi suara dari arah belakang masih terus mengisi indra pendengaran Hana.
“Ada beberapa miss pada Cello.”
“Seperti biasa Kuroto-kun teliti sekali.”
“Namun waktu konser orkesta mereka kemarin aku tidak terlalu memperdulikan miss-nya. Aku tetap menikmatinya.”
“Hahaha, dasar Kuroto-kun. Tapi memang menyenangkan sekali ya punya teman yang hobinya sejenis pada music klasik.”
“Hn. Cukup jarang juga menemukan perempuan seusiamu yang menyukai musik klasik di luar sekolah atau lingkungan music.”
“Ah? Hahaha. Apa sih kalimat Kuroto-kun gunakan barusan. Lucu sekali.”
Terdengar gelak tawa dari arah belakang.
Hana terdiam di tempatnya dengan kepala tertunduk.
‘Ah, jadi mereka satu hobi…’ “Musik klasik memang sesuatu yang sangat indah…”
Hana tersenyum kecut karena kalimat Yoshiki barusan. ‘Indah ya? Aku bahkan tidak bisa menikmati keindahan itu akibat trauma itu…’ sekilas bayangan bagaimana pamannya menghukumnya karena nilai musiknya jelek terlintas di benak Hana.
‘Kalau dipikir-pikir juga baru-baru ini saja aku mengetahui hobi dan kesukaan Yoshiki-kun apa. Selama ini aku…. Aku hanya memikirkan tentang kebahagianku sendiri.’
Genggaman salah satu tangannya mengerat, bibirnya bergetar, ‘apa yang sudah kuperbuat? Ini semua adalah salahku sendiri. Aku yang memberi lubang dalam hubungan ini. Siapa laki-laki yang tidak bosan jika si perempuan terus yang ingin diperhatikan sementara si laki-laki tidak pernah diperhatikan?’
Hana meraih French toast pesanannya yang sudah sangat dingin karena lama tak ia sentuh. Perlahan ia mengigit roti yang sedikit kering itu. Hambar. Hana seperti sudah tidak mampu merasakan apapun lagi dengan lidahnya.

Jam di pergelangan tangan Hana telah menunjukkan jam 6. Seharusnya di jam-jam ini Yoshiki akan segera pulang untuk makan malam. Tapi Yoshiki sudah makan di sini? Memangnya aka nada makan malam? Miris Hana memikirkan hal itu. Namun ia harus segera pulang sebelum Yoshiki mencapai mansion namun dirinya tidak ada. Ditambah ramalan cuaca tadi pagi sepertinya memberitau jika sore sampai malam ini akan turun hujan lebat.
Hana kembali merapatkan hoodie jaketnya sebelum akhirnya meninggalkan kursinya.
‘Uwaaa mendungnya gelap sekali. Seperti akan ada badai saja,’ dengan kepala terdongkak Hana menatap kea rah langit yang telah penuh awan cumulonimbus pekat.
Perlahan Hana berjalan meninggalkan café, namun belum ada sepuluh langkah begitu ia melewati kaca café, ia telah disuguhkan dengan pemandangan yang menyayat hati. Otome Rin  menjulurkan badannya untuk mencium suaminya, Kuroto Yoshiki.
‘……’
Untuk sepersekian detik bola mata birunya membulat lebar dan bibirnya sedikit ternganga. Jantungnya berpacu liar sementara gelombang kegelisahan menyerangnya sedemikian rupa.
‘Ah… memang sudah badai ya?’

.

“Apa yang kau lakukan?” Yoshiki berguman datar setelah perempuan di depannya mencium bibirnya tanpa persetujuan.
“Kuroto-kun memang dingin sekali ya, setelah dicium pun ekspresi itu tidak berubah.”
Suara gemuruh awan mendung terdengar begitu keras hingga mampu mengusik keduanya, membuat Yoshiki segera bangkit dari bangkunya.
“Lebih baik kita segera pulang. Badai akan datang.”
“Ah, oh, benar.” Otome Rin cepat-cepat pula bangkit dari bangkunya untuk mendahului Yoshiki membayar makan mereka.

.

“Uwaaaa benar deras sekali.” Otome Rin terperangah menatap langit yang terus menerus menjatuhkan tetesan air berkecepatan tinggi.
“Anginnya kencang sekali pula, kalau begini bakal susah ke stasiun,” perempuan berambut pendek itu terus berguman kebingungan.
“Kalau begitu kau akan kuantarkan,” ucap Yoshiki datar sembari melirik jam tangannya.
“Eh? Antar? Tapi Kuroto-kun….” Rin menjawab kebingungan karena walaupun berniat mengantarkannya, namun tidak ada tanda-tanda mobil Yoshiki dimanapun.
Dari arah jalanan terdengar suara ban kendaraan yang memecah genangan air hujan. Perlahan namun pasti sebuah sedan berwarna putih berhenti tepat di depan Rin dan Yoshiki berteduh dari hujan.
Begitu pintu mobil itu terbuka muncullah seorang pria berpakaian rapi lengkap dengan 2 buah payung di tangannya.
“Kau terlambat 2 menit 19 detik.” Ucap Yoshiki dingin sambil menerima uluran payung yang diberikan oleh sang pria.
“Maafkan saya My Lord. Tidak ada alasan,” sang pria menunduk di hadapan Yoshiki.
Rin hanya terperangah melihat adegan di depannya sampai Yoshiki mengajaknya berpayungan bersama untuk masuk mobil.
“Kuroto-kun.”
“Hn?”
Kini keduanya telah berada di dalam mobil yang hangat. Telindung sempurna dari guyuran hujan badai. Duduk dengan jarak beberapa sentimeter saja yang memisahkan mereka.
Kedua tangan Rin mencengkram rok yang ia kenakan erat. Sementara bibirnya bergetar kecil. Sepertinya kegugupan tengah menguasainya.
“Tidak kusangka, Kuroto-kun sekaya ini.”
Rupanya perempuan itu hanya terkejut karena kekayaan pria yang duduk di sampingnya.
“Hn…” Tidak ada respon dari Yoshiki, ia hanya berguman malas sambil menatap kota yang terus menerus diguyur badai.
CKIIIIITTTTT!!!!
Belum ada sepuluh menit perjalanan, mobil yang Yoshiki dan Rin tumpangi mendadak melakukan rem mendadak lantas saja keduanya yang tanpa persiapan nampak limbung mengikuti gaya kelembaman.
“Apa yang kau lakukan!?” Ditengah emosinya Yoshiki menyalak kepada supirnya.
“M-My Lord…. I-itu….” Sang supir hanya bisa berguman rancu dengan tatapannya yang terarah pada bayangan manusia yang hanya diterangi oleh lampu mobil berdiri di tengah hujan menghalangi jalan mereka.
Kedua Onyx milik Yoshiki melebar sempurna sebelum akhirnya sang empunya merengsek keluar mobil dan berlari kea rah sosok itu.
Terbawa penasaran, Rin Otome yang masih memiliki kewarasannya keluar mobil dengan payung di tangannya.
“Ada apa Kuroto-kun?” Tanya Rin tenang begitu ia telah berdiri sedekat mungkin dari Yoshiki.
“HEEEEE JADI INI KUCING PENCURINYA!!” Tiba-tiba dari bisingnya suara hujan pecah suara teriakan Hana. Pandangannya menyala-nyala penuh dendam dan semua terarah pada Otome Rin.
“Eh? A—“
CRAAASSSHHH
Belum habis kalimat perempuan malang itu. Sebuah kapak terayun dan memisahkan badan kepalanya. Kejadian itu begitu cepat, membuat Yoshiki sampai-sampai tak bisa berbuat apapun selain kedua matanya melebar karena reflex.
Kepala Otome Rin menggelinding di jalanan yang tergenang oleh air hujan. Menjadi seonggok kepala yang terus diguyur airhujan tanpa ampun. Sama halnya dengan tubuhnya yang tergeletak.
“HA HA HA HA!!” Derasnya suara hujan tidak menghalangi gelak tawa Hana yang tertawa seperti orang kesetanan. Matanya melotot dan bibirnya terbuka lebar sambil menatap awan kelabu.
BRUUK
Tak lama setelah itu Hana pingsan dalam dekapan Yoshiki. Keduanya kembali ke mansion setelah supir memberikan mereka handuk untuk mengeringkan diri sementara.

….
Kejap.
Kejap.
“Ah!”
Hana bangkit seketika begitu merasa kesadarannya telah terkumpul sepenuhya.
“Ohayou, My Lady,” sapaan yang begitu familiar dan menenangkan itu menghentikan Hana dari kebungungannya.
“Y-Yoshiki-kun…” Terbata-bata Hana mengucapkan nama pria yang kini duduk di dekat ranjangnya sambil menyodorkan segelas milk tea—favoritnya.
Hana menerima cangkir itu dengan sedikit enggan akibat pikirannya yang berkecamuk.
“….” Sedetik kemudian sapphirenya membulat begitu ia mengingat dengan jelas mengenai apa yang telah terjadi.
Bibir Hana bergetar, “m-maaf…. Aku seperti kehilangan kendali diriku. Aku melihat kapak karatan dibuang lalu semuanya menjadi gelap, dan… dan… aku memenggal leher perempuan itu...” hampir saja dijatuhkannya milk tea ditangannya, namun Yoshiki dengan tanggap meraih dan menjaga genggaman Hana.
“Hn?” Yoshiki hanya menanggapi santai, “dan kenapa kau harus meminta maaf?”
Kepala Hana perlahan tertunduk, rambut-rambut hitam pendeknya menjuntai kecil menutupi wajahnya, “karena aku sudah membunuh selingkuhanmu.”
“Selingkuh?”
“Yoshiki-kun pergi menonton orchestra dan pergi ke café dengannya…. Dan… kalian berciuman…” ujar Hana lemah.
Alis Yoshiki berkerut beberapa saat, rasa terkejut sempat menyerang dirinya karena Hana nampak mengetahui semuanya, “… kau tau?”
“Umm…” Hana mengangguk lemah menyetujui, “aku pernah bilang ke toko buku bersama Yui, Shiro, dan Maki kan? Malam itu aku melihat mobil Yoshiki-kun lewat. Dan aku melihat… siluet seorang perempuan di samping Yoshiki-kun. Aku penasaran siapa perempuan itu tapi aku tidak berani menanyakannya kepada Yoshiki-kun. Hingga aku meminjam ponsel Yoshiki-kun dan malah menemukan email berisi janji bertemu di café. Maka aku datang. Untuk melihat langsung.”
“Kau datang?” Kernyitan dalam alis Yoshiki nampak semakin dalam, ia ditelan kebingungan sekarang lantaran tak menyadari keberadaan Hana di dalam café yang berukuran luas tidak sampai 50 meter persegi itu.
“Aku duduk tepat di belakang Yoshiki-kun.”
Yoshiki tertohok oleh kalimat Hana. Dengan jarak yang luar biasa dekat itu bahkan Yoshiki tidak menyadari keberadaan Hana. Betapa memalukan dirinya.
Hana mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menunjukkan sebuah foto yang semakin membuat Yoshiki tak mampu berkata apapun. Itu foto yang Hana ambil ketika ia dan Otome Rin bersama mendengarkan music lewat earphone. Dari sudut pengambilan fotonya, terbukti jika Hana memang duduk tepat di belakangnya.
“Aku…. Buta nada… tidak tau apapun soal musik klasik…” Hana menghela nafas berat untuk menjeda kalimatnya, “namun hobi Yoshiki malah kebalikannya. Yoshiki-kun begitu hebat dalam musik klasik, aku tak bisa apa-apa, lalu perempuan itu muncul, ia menemani Yoshiki-kun dalam hobinya. Aku tidak keberatan. Ah, bohong, aku iri, namun mau bagaimana lagi? Namun perempuan itu menjadi seolah lebih tau segala hal dari Yoshiki-kun yang tak kuketahui. Sampai-sampai…. Dia… dia—“
GREP
Kalimat Hana terhenti. Kedua bola matanya membesar karena terkejut.
Yoshiki memeluknya tiba-tiba.
Getaran pada bibir Hana meningkat intensitasnya dibarengi dengan lelehan air mata yang mulai membasahi pipinya.
“Huwaaaaaa aaaaaaa” Tangis Hana pecah di dalam dekapan hangat suaminya.
Hujan masih terus mengguyur seisi kota. Seolah menemani tangis Hana.



“Ini koleksiku,” Yoshiki membawa Hana memasuki sebuah ruangan yang pintunya bahkan tak pernah Hana sentuh.
Ruangan itu penuh dengan deretam rak-rak berisikan berbagai album musik klasik yang ditata begitu apik bagaikan tempat pameran. Tak lupa berbagai CD Player berada di tengah-tengah ruangan. Bahkan gromofon tua yang jarang ditemui pun ada.
“Woah…. Tempat ini keren…” aku Hana terpukau.
Perlahan Yoshiki meletakan sebuah piringan hitam ada gromofon dan menyetelnya. Perlahan sebuah suara yang cukup rapuh mengalir keluar.
“Erlkonig, Franz Schubert.”
Hana terpukau. Tidak hanya musik klasik yang mampu mengingatkannya pada kenangan lama, tapi juga terdengar suara pria yang menggumankan bahasa asing—bagi Hana—seolah bercerita.
Read More ->>

Sabtu, 31 Agustus 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 33]

Tanpa sadar Hana mengigit bibirnya. Ia bergetar beberapa saat. Kepalanya kalut penuh dengan berbagai pemikiran.
Email dari siapa itu?
Siapa perempuan yang tadi di dalam mobil Yoshiki?
Apa keduanya datang dari perempuan yang sama?
Hana nampak menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan beberapa pikiran negative yang mampir.
Berikutnya ia menjatuhkan punggungnya ke ranjang yang empuk. Matanya terpejam. Wajahnya terlihat damai. Namun tidak dengan hati dan kepalanya.
Dalam senyumnya Hana berguman, “Aku percaya Yoshiki-kun.”
Sebelum akhirnya perempuan berambut pendek itu terjatuh dalam mimpinya.

.

Dari: Rin2otome@mail.co.jp
Café Bethoveen di dekat stasiun bagaimana? Aku sangat sering ke sana. Tempatnya meneyenangkan. Aku yakin Kuroto-kun akan suka.

Yoshiki masih terdiam memandangi tampilan isi email dari Rin. Namun beberapa saat berfikir ia pun memberikan balasan.

Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Kapan dan jam berapa?
Jawaban singkat dan padat.

Dari: Rin2otome@mail.co.jp
Bagaimana jika lusa jam 5 sore?

Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Baiklah.

.

Dua hari kemudian.
Sebuah suara ketukan terdengar dari balik ruang kerja Yoshiki.
“Hn. Masuk,” sang pemilik kamar member izin.
Hana muncul dari balik pintu dengan tangannya membawa ponselnya. Ia mendekat ke arah Yoshiki yang diam tak bergerak dari kursinya.
“Ada apa My Lady?” Walaupun bertanya begitu tapi pandangan Yoshiki tak bisa teralihkan dari layar PCnya.
“Yoshiki-kun! Ayo berman FGA! AP-ku untuk bermain habis!” Entah kesal karena respon pasif Yoshiki, Hana dengan seenaknya saja duduk tiba-tiba di pertengahan paha Yoshiki yang kosong. FGA adalah sebuah game RPG berbasis gacha. Pelesetan dari FGO.
“….” Yoshiki sedikit terdiam melihat keagresivan Hana yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Ia akui Hana memang cukup aggressive. Tapi Hana sangat jarang menunjukkan tingkah seterang-terangan ini sebelumnya.
Kemarin pun tiba-tiba Hana menidurkan kepalanya di pahanya ketika duduk santai di taman, memeluknya dari belakang ketika ia sedang bekerja dan hanya mengatakan jika Hana merindukannya.
Drrrrttt…Drrrtt…
Ponsel di meja yang Yoshiki letakkan tidak jauh dari sana bergetar dan menyala menunjukkan sebuah email masuk. Mata Hana seketika menjadi awas dan segera melihat email yang masuk. Namun yang masuk hanyalah sebuah email pekerjaan biasa.
Yoshiki tidak bergeming pada ponselnya yang bergetar.
“Yoshiki-kun, ada email masuk,” Hana berusaha memancing Yoshiki.
“Hn, biarkan saja. Bisa kucek nanti.”
“Kalau begitu, aku main FGA punya Yoshiki-kun ya!” Tanpa menunggu persetujuan dari Yoshiki, Hana segera meraih benda persegi panjang tipi situ, membuka passcodenya dan menekan aplikasi FGA.
Yoshiki hanya sesekali melirik ke arah Hana yang masih duduk di pertengahan antara kedua belahan pahanya. Oh tentu saja miliknya akan bergesekkan dengan pantat Hana. Namun ia pasti bisa menahan hasratnya.
“ASTAGA! SUDAH BERAPA LAMA AKU TIDAK MEMBUKA SENDIRI AKUN YOSHIKI-KUN DAN SUDAH ADA 16 SSR DI SINI!?”
Hana selalu bertindak semaunya. Tapi Hana selalu meminta izin jika hendak melakukan sesuatu jika itu menyangkut dirinya. Padahal sejak awal Yoshiki sudah menekankan jika apa yang menjadi miliknya adalah milik Hana juga. Hana pasti butuh adaptasi tersendiri tentang hal itu.
Kenapa tindakan Hana yang seperti terasa berbeda ini memiliki maksud?
Mulut Yoshiki terbuka, “My Lady…”
“Umm? Ada apa Yoshiki-kun?” Hana masih berfokus pada game di ponsel Yoshiki.
“Kenapa—“
“Hoo begitu…”
Kalimat Yoshiki terpotong begitu saja karena gumanan Hana.
“Begitu?”
“Umm, tidak. Ehe.” Hana mendongkakkan kepalanya dan tersenyum riang ke arah Yoshiki.
Sebuah senyum riang yang seharusnya terlihat biasa saja namun bagi Yoshiki senyuman tiba-tiba itu terasa tidak wajar.
Hana meletakkan kembali ponsel Yoshiki yang menunjukkan layar kekalahan dalam game.
“Membosankan, mau main yang lain ah.”
Yoshiki semakin merasakan hawa aneh dari Hana. Tingkah dan sifat Hana yang sangat berubah dengan cepat kali ini membuatnya kebingungan.
Belum sempat Yoshiki menyelesaikan pemikirannya sendiri dan hendak bertanya kepada Hana, tapi perempuan itu sudah enyah di balik pintu.
“…. Ada apa dengannya?”

.

Hana terdiam berdiri di depan pintu ruang kerja Yoshiki. Tubuhnya ia sandarkan pada pintu kayu kokoh di belakangnya. Kepalanya tertunduk membuat kedua bola matanya tersembunyi di balik poni rambutnya. Kedua bola mata itu bergetar cepat diiringi dengan keringat dingin yang sesekali mengucur di seluruh wajahnya.
Dengan suara bergetar Hana berucap, “Rin Otome… Café Bethoveen… Jam 5 Sore…” Berikutnya perempuan berambut pendek itu berjalan seperti tak tentu arah sambil menggumankan kalimat-kalimat sejenis, “kucing pencuri…. Yoshiki-kun mengkhianatiku… kenapa… kenapa…”

.

Rayumi Hana: Ada yang kenal Otome Rin?
Umei Yui: Nggak. Kenapa tiba-tiba Tanya?
Rayumi Hana: Yah… sepertinya dia sedang dekat dengan Yoshiki-kun. Apa yang harus kulakukan?
Hisegawa Maki: Uwaaa… ada orang ketiga diantara kalian. Ceritakan dulu.
Rayumi Hana: Ingat beberapa malam lalu kita ke toko buku? Di sana ada konser orchestra kan. Orkestra itu sangat terkenal sepertinya. Yoshiki-kun pergi menontonnya sendirian. Lalu aku sempat melihat mobil Yoshiki-kun. Dan di sampingnya ada seorang perempuan. Aku tidak tau siapa itu.
Hisegawa Maki: Lalu dapat dari mana nama Otome Rin?
Rayumi Hana: Aku tadi menggunakan ponsel Yoshiki-kun untuk bermain game. Dan muncul notifikasi email dari seseorang bernama Otome Rin. Sepertinya Yoshiki-kun dan Otome Rin akan bertemu besok jam 5 sore di sebuah café.
Ayaki Shiro: WOAAAH AKHIRNYA DIA MENUNJUKKAN KEBERENGSEKANNYA! BENAR KAN KUROTO MEMANG BERENGSEK HEHE
Umei Yui: Shiro tolong tenang. Hana, apa kamu sudah mengatakan sesuatu kepada Kuroto-kun soal itu?
Rayumi Hana: Uh, belum tentu saja. Aku terlalu kaget. Aku langsung pergi begitu saja tanpa bicara apapun.
Hisegawa Maki: Lalu bagaiamana soal besok? Pacarmu mau selingkuh loh besok.
Ayaki Shiro: Kalau aku jadi kamu Hana-chan, AKU PATAHKAN EKOR KUCING BETINA ITU!

Hana terdiam menatap layar ponsel yang menampilkan multichat. Angin malam meniup rambut pendeknya yang memiliki warna senada dengan gelapnya malam.
Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum aneh.

Rayumi Hana: Aku lihat kondisi dulu besok.
Hisegawa Maki: woah, serius? Mau kami temani?
Umei Yui: Iya deh. Sepertinya kita harus datang juga.
Rayumi Hana: Tidak perlu, tidak perlu. Bisa saja ini cumin salah paham kan? Biar aku sendiri yang lihat kondisinya.
Ayaki Shiro: Yaaaah nggak seru. Padahal aku mau mencakar wajah kucing betina itu.
Umei Yui: Shiro….

.

Yoshiki duduk di kursinya dengan tenang menyantap hidangan sarapan yang disajikan saat itu. Sementara Hana duduk di sampingnya nampak tidak bisa menikmati apapun yang ia kecap.
Jam 5 sore hanya tinggal beberapa jam lagi. Namun tidak ada satu rencana pun yang terbesit dalam pikiran Hana mengenai apa-apa saja kemungkinan yang akan terjadi nanti dan bagaimana cara mengatasinya.
TRANG!
Tanpa Hana sadari sendok mangkuk yang ia suapkan tergelincir dari jepitan jarinya dan melesat membentur lantai marmer yang dingin, menimbulkan dentingan nyaring di ruang makan yang sunyi.
“Ah.”
Para maid yang cekatan segera memberikan sendok pengganti dan mengatasi kekacauan.
“Hn, ada apa denganmu?” Yoshiki dengan tatapan datarnya bertanya kepada Hana.
“Oh, umm,” Hana menundukkan kepalanya entah mengapa, “t-tanganku hanya licin kok.”
Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu. Hingga jam demi jam pun berlalu. Selama sepanjang hari Hana terus-terusan menguntit Yoshiki. Mulai dari suaminya itu berangkat ke kantor cabang, makan siang bersama rekan kerjanya, hingga waktu sudah hampir menunjukkan jam 5 sore Hana terus mengawasi Yoshiki dengan cara bodohnya.
Saat ini jam tangan Hana menunjukkan pukul 4:30 sore. Yoshiki kembali bergerak. Dengan cekatan Hana segera memanggil taksi untuk mengikuti mobil Yoshiki.
Inilah saatnya. Terlihat jelas dari rute yang diambil mobil Yoshiki jika mobil itu akan terarah pada stasiun dekat sekolah.
Yoshiki akan menemui Rin Otome.
Detak jantung Hana seolah berdetak semakin lambat dan pelan. Pikiran Hana mulai kalut sementara pandangannya masih mengawasi pergerakan mobil yang ia ikuti tidak lepas dari pandangannya.
“Pak ketika mobil di depan mulai mengurangi kecepatan, bapak juga ya, kalau mobilnya berhenti bisa tolong berhenti di tempat kira-kira 300 meter dari mobil itu?” Tanya Hana kepada sang sopir taksi.
“Tentu nona. Sebelumnya, boleh saya bertanya kenapa nona mengikuti mobil itu?” Sang sopir taksi balik bertanya, namun pandangannya tetap tertuju pada mobil yang dibuntuti.
“Itu mobil suami saya. Dan sepertinya… akan berselingkuh!”
Mendengar kalimat polo situ keluar dari mulut Hana sang sopir taksi lantas sedikit terkejut.
“Wah, sepertinya anda repot sekali ya nona. Oh, mobilnya berhenti,” dengan begitu sang sopir taksi menepikan mobilnya dalam jarak yang diinginkan Hana.
“Terima kasih pak. Maaf merepotkan,” tak ingin membuang-buang waktu lagi Hana segera menyerahkan ongkos taksi dan melesat menuju café.
Sebelum memasuki café, Hana harus siap dengan segala penyamarannya. Ia mengenakan sebuah jaket berhoodie berwarna merah mudah juga sebuah topi berwarna krim yang akan menyembunyikan wajahnya. Untuk mengurangi eye catching Yoshiki kepadanya, ia sengaja mengenakan sebuah rok pendek yang jarang digunakannya.
Kling.
Hana membuka pintu café.
Café Bethoveen. Tidak ada bedanya dari café-café pada umunya. Hanya saja ketika kau membuka pintu kau akan disambut oleh alunan indah music klasik.
Seketika mata Saphire-nya menemukan sosok Yoshiki yang entah kenapa begitu mencolok keleganannya diantara seluruh pengunjung café. Prianya itu duduk di tepi jendela dan nampak sibuk dengan ponselnya.
Dengan kepala tertunduk berusaha menyembunyikan wajahnya, Hana berjalan melewati meja Yoshiki dan mengambil tempat duduk kosong tepat di belakang Yoshiki.
Kini keduanya duduk saling berpunggungan. Hana tak ingin duduk di sisi sebrang untuk mengurangi resiko ketahuan ketika Yoshiki menoleh ke belakang.
Alunan music klasik masih mendengu-dengu memenuhi seluruh café. Dalam diamnya Hana tersenyum. Bukan sebuah senyuman tulus, namun senyuman yang menunjukkan betapa menyedihkannya keadaannya saat ini.
“Ah! Kuroto-kun! Maafkan aku keretanya tadi terlambat 10 menit dari jadwal!”
Kepala Hana sedikit tersentak begitu mendengar sebuah suara perempuang yang tak asing mengucapkan nama suaminya. Refleks kepala berhoodienya menoleh ke sumber suara. Namun Hana tak berani banyak menoleh, ia hanya sedikit melirik-lirik tipis.
‘Oh!’
Seorang perempuan berambut pendek sebahu dengan senyumannya meminta maaf mulai duduk di hadapan Yoshiki.
‘Tunggu! Aku pernah bertemu dengannya! Dimana? Dimana aku pernah bertemu dengannya?’
Sekarang Hana mulai sibuk menggali-gali dasar pikirannya. Mencari titik awal ia bertemu dengan si perempuan.
‘ITU DIA!’
Hana mengingatnya.
‘Dia perempuan yang di perpustakaan kapan hari!’ “Rosamunde,” terdengar suara Rin Otome dari belakang.
“Telingamu memang cukup bagus,” respon Yoshiki.
“Romantis sekali loh habisnya. Rosamunde yang sengaja dibesarkan oleh gembala janda dalam penyamarannya untuk kudeta. Gubernur yang menyadarinya berusaha menikahinya untuk meracuninya namun hal itu digagalkan oleh suaminya Pangeran Krret Alfonso.”
“Hn….”
“Aku ingin pria seperti Pangeran Krret Alfonso jadi suamiku sepertinya, haha.”
“Krret sebenarnya cukup kejam dalam mengkahikimi Gubernur jika kau membaca di beberapa sumber.”
“Begitukah? Hmm… susah juga ya.”
‘EH? APA? APA YANG MEREKA BICARAKAN!?’
Kedua bola mata Hana bergetar kebingungan mendengar pembicaraan dua orang di belakangnya. Sementara eorang pelayan telah menunggunya membacakan makanan apa yang akan dipesannya. Genggamannya pada buku menu pun seolah mengerat seiring kebingungannya yang terus naik.
“Nona? Anda kenapa?” Pelayan yang bertugas mencatat pesanan Hana menangkap gelagat aneh Hana.
“Oh, uhm, t-tidak. Aku ingin sandwich telur dan es kopi saja,” ucap Hana dengan nada yang ia serak-serakan untuk penyamaran.
“Baik. Mohon ditunggu,” sang pelayan mengambil daftar menu kemudian menghilang dari hadapan Hana.
Hana kembali menajamkan telinganya setelah menghela nafas lega. Nampaknya meja di belakangnya juga baru selesai memesan makanan.
“Aku selalu ke sini setiap beberapa minggu. Bagaimana café ini menurut Kuroto-kun?”
“Hn, tidak buruk juga.”
“Eh, kenapa responnya begitu?”
“Sebenarnya, aku juga sudah beberapa kali ke sini.”
“Sungguh? Jadi ini bukan pertama kali Kuroto-kun?”
“Bukan.”
“Yaaah, tidak asik. Maaf ya Kuroto-kun, aku tidak tau.”
“Hn. Tidak apa.”
“Omong-omong, Kuroto-kun akan melanjutkan kemana setelah lulus? Kalau dipikir-pikir aku selalu ingin menanyakan ini.”
“Kuliah.”
“Keren. Tentu saja. Kuroto-kun pintar dan berfinansial cukup. Mau ke universitas mana memangnya?”
“Universitas Tokyo.”
“Iya ya. Itu universitas bagus. Kalau bisa, akupun ingin masuk ke sana.”
“Hn? Kau tidak melanjutkan kuliah?”
“Tidak. Orang tuaku melarang. Aku harus mencari uangku sendiri jika mau kuliah. Orang tuaku punya perkebunan. Mereka ingin aku meneruskan lahan mereka.”
“Hn…”
“Padahal aku ingin sekali sekolah musik. Terutama piano.”
“Kau bermain piano?”
“Yap. Oh aku ingin sekali berduet dengan Kuroto-kun. Aku dengan piano dan Kuroto-kun dengan biola. Memainkan Rosamunde bersama mungkin? Rekaman permainan biola yang Kuroto-kun kirimkan kapan hari keren sekali loh!”
Hana terdiam menyesap es kopinya. Namun pikirannya tak bisa diam.
Setahu Hana, Yoshiki bukanlah orang yang mau repot karena orang asing. Jika Yoshiki sampai mau memainkan biola di tengah kesibukannya selama ini, artinya hubungan keduanya bukanlah orang asing lagi.
Terlebih, ini pertama kalinya bagi Hana mengetahui jika suaminya sangat jago memainkan biola.
Ah, dadanya sedikit terasa sesak sekarang.
“Kuroto-kun keren sekali. Tidak heran banyak anak perempuan di kelasku menyukai Kuroto-kun.”
“Hn…”
“Yah sejak kepindahan Kuroto-kun anak-anak sudah sangat heboh. Semua orang membicarakan Kuroto-kun. Namun aku yang cuma siswi biasa tidak berani aneh-aneh. Aku hanya…. Melihat Kuroto-kun dari jauh.”
Tidak terdengar respon dari Yoshiki.
Sementara Hana? Pegangannya pada gelas berisi es kopinya mengerat. Seolah mampu memutihkan buku-buku jarinya.
“Tidak kusangka Kuroto-kun yang itu juga suka music klasik sepertiku. Aku bahagia sekali. Padahal menemukan teman sehobi di era ini saja sudah susah, sekali dapat malah yang seperti Kuroto-kun. Aku merasa beruntung sekali!”
“Hn, benar juga. Kenapa kita tidak bertemu sejak awal tahun?”
‘!!!!!!’ Hana tersentak oleh kalimat Yoshiki.
Read More ->>

Jumat, 02 Agustus 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 32]

CHAPTER 32: MJ CROWN Orc

“Eh? Yoshiki-kun mengajakku?” Hana menunjuk dirinya sendiri dengan tampang dungu.
“Hn,” Yoshiki menangguk mantap sebagai jawaban.
“Mustahil, mustahil,” Hana menggoyang-goyangkan tangannya, “aku bukan orang yang bisa menikmati music indah seperti itu. Nonton anime dengan instrumentasi saja aku tetap tak bisa menikmati back sound-nya.”
“Hanya duduk menemaniku saja. Kau tidak perlu mendengarkan musiknya,” entah kenapa nada bicara Yoshiki terdengar seperti memohon pada Hana.
“Ah—uh… a-aku ingin. Tapi aku tidak bisa. Rasa tidak nyaman pasti akan muncul,” Yoshiki tau Hana sedang membicarakan rasa trauma atau ketidaksukaannya pada instrument, “lagi pula ada aku atau tidak ada aku pun tidak ada bedanya. Aku kan tidak tau tentang music indah sama sekali haha.”
“Hn…”
Yoshiki tidak bisa memaksa Hana lebih lagi. Keabsolutan yang menjadi ciri khasnya seolah tidak bisa ia terapkan kepada Hana. Ia tidak mau menyiksa istri kecilnya itu hanya untuk kesenangannya yang sepele. Tunggu, ini sepele?
Membawa Hana bersamanya di sebuah konser dengan tiket Golden yang mana biasanya penghuni kursi-kursi tersebut adalah pecinta music instrument sepertinya. Setidaknya, Yoshiki ingin membawa istrinya ikut serta untuk dikenalkan kepada mereka.
Yoshiki dengan pikirannya yang runyam berjalan memasuki Convention Hall. Sementara pandangan matanya tertuju pada beberapa layar LCD yang sudah dipasang di luar dan beberapa pagar-pagar pembatas.
MJ Crown Orc adalah orkesta beraliran campuran yang mana terkadang mereka bisa memainkan lagu-lagu pop yang sudah diaransemen dengan apik. Ditambah dengan konduktor, pemain drum, dan beberapa pemain instrument lainnya memiliki wajah yang elok membuat orang yang tidak tau menau mengenai orkesta menjadi tertarik karena wajah mereka.
Tidak heran jika sampai dijual tiket untuk area luar yang walaupun hanya menggunakan LCD tiket tersebut bisa cepat laku terjual karena harganya pun sangat terjangkau, beda dengan kursi di dalam hall yang harganya cukup tinggi.
Yoshiki duduk setelah mendapatkan nomor kursinya. Segera pandangannya terisi oleh megahnya panggung yang telah disiapkan penuh dengan berbagai instrument-instrumen hingga ia terus mengedarkan pandangannya dan berhenti pada kursi kosong di sampingnya.
“……"
 Tidak ada yang tau bagaimana arti dari pandangan Yoshiki yang tengah menatap kursi kosong di sampingnya.
‘My Lady….’
“Anda selalu menyisahkan satu kursi kosong di samping anda ya?” Sebuah suara berat terdengar membuat Yoshiki bangun dari lamunannya.
“Hn…” di samping kursi kosong itu duduk seorang yang telah mencapai umur setidaknya setengah abad, “Tanaka-san.”
Pria tua itu tersenyum.
“Dan pandanganmu seslalu terlihat sedih,” pria itu menambahkan.
Tanaka adalah senior yang entah mengapa selalu membeli kursi yang sama dengan Yoshiki. Sudah lima tahun Yoshiki sebagai manusia mengikuti komunitas pecinta orkesta, membuarnya bertemu banyak senior sehobi dengannya, salah satunya adalah Tanaka.
“Apakah kursi yang selalu kau sediakan kosong itu spesial? Teman-teman di forum terkadang membicarakan tentang kursi kosong itu.”
“Hn… spesial…” jawab Yoshiki sembari menghela nafas.

.

Akhirnya setelah 2 jam pertunjukan, orkesta MJ Crown Orc pun berakhir. Mendengar music-musik Schubert ditampilkan begitu indah membuat perasaan runyam dalam diri Yoshiki sedikit demi sedikit terhanyut.
Setelah berpisah dengan penghuni forum Yoshiki memutuskan untuk segera kembali. Dalam langkahnya menuju area parking suara seseorang memanggil namanya.
“Kuroto-kun? Kuroto-kun benar?”
Begitu Yoshiki membalik badannya, tak diduga Rin Otome berlari menyongsongnya.
“Rin Otome.”
“Ah benar! Wah Kuroto-kun rapi sekali! Apa Kuroto-kun menonton MJ Crown Orc langsung di dalam hall tadi?”
“Hn….”
“Wow, keren sekali. Pasti MJ Crown Orc keren sekali kalau dilihat secara langsung ya? Aku hanya mampu membeli tiket luar sih haha.”
“…” Kepala Yoshiki kembali menjadi kacau.
Andai saja jika Otome adalah Hana.
“Umm? Kuroto-kun tidak apa-apa? Kuroto-kun terlihat pucat.”
‘!!!’ Yoshiki kembali dari pikirannya begitu melihat wajah Otome yang mendekat pada wajahnya.
‘Umm? Yoshiki-kun tidak apa-apa? Yoshiki-kun terlihat pucat loh.’ Bayangan wajah Otome terbayang wajah Hana seolah-olah menghantuinya.
“Ck!”
“Eh?” Rin Otome semakin kebingungan begitu Yoshiki mendecakkan lidahnya.
“Hn, aku tidak apa-apa,” namun sedetik kemudian Yoshiki berhasil mengambil alih kembali dirinya.
“Jika Kuroto-kun tidak enak badan sebaiknya Kuroto-kun segera pulang.”
“Aku memang berencana segera pulang.”
“Syukurlah. Kalau begitu hati-hati di jalan,” Otome melambaikan tangannya.
“Hn….” Yoshiki hanya berguman dan melanjutkan langkah kakinya.
Namun beberapa langkah berikutnya Yoshiki menghentikan langkahnya. Membuat Otome yang masih berdiri di tempatnya kebingungan.
Yoshiki membalik badannya dan berucap, “Bagaimana denganmu? Kau tidak pulang?”
“Eh? Ah ya aku akan pulang dengan taksi.”
Yoshiki terdiam sejenak sebelum melontarkan pertanyaannya, “kenapa tidak ikut denganku saja? Akan kuantar kau pulang.”
Otome menunjukkan ekspresi keterkejutan.
.
“Uwaaa, di sana ramai sekali,” gerutu Hana begitu melihat lautan manusia keluar dari sebuah gedung, “memangnya kita bisa lewat kalau begitu?”
“Kamu benar, apa kita harus memutar ya? Toko bukunya kan beberapa blok lagi dari gedung itu,” setuju Maki.
“Memangnya ada apa sih? Sampai seramai itu?” Tanya Yui.
“KAN ADA MJ CRONW ORC! JELAS SAJA RAMAI!” Jawab Shiro penuh semangat seperti biasa.
“MJ Crown Orc?” Yui menaikkan alisnya tidak mengerti.

.

“Hn? Ada apa? Kau tidak mau?” Tanya Yoshiki dengan nada datarnya.
“Ah t-tidak. B-bukan begitu,” mendadak Otome menjadi agak canggung, “memangnya Kuroto-kun tidak apa dengan mengantarku?”
“Aku yang menawarkannya padamu, mana mungkin hal itu menjadi masalah bagiku?”
Rin Otome menatap Yoshiki dengan tatapan ragu untuk beberapa saat, “b-baiklah. Terima kasih atas tawarannya.”

.

“ITULOH! GRUP ORKESTA YANG ISINYA KAKAK-KAKAK GANTENG DAN CANTIK YANG TERAMPIL BERMAIN INSTRUMEN!!”
“Waw, aku terkejut kamu tau yang begituan Shiro,” celetuk Maki.
“…..”
Hana terdiam di tempatnya memandangi LED Iklan yang terpasang di sekitar gedung menampilkan promosi orkesta dari MJ Crown Orc. Lantunan indah yang terdengar dari iklan seperti mengingatkannya pada sesuatu.
Benar. Itu nada yang sama dengan yang ia dengar ketika berada di ruang kerja Yoshiki kapan hari. Ia memang buta nada, tapi setidaknya telinganya akan mengenali bunyi-bunyi yang mirip.
“Hana! Ayo! Kita akan memutar! Ngapain sih kamu ngelamun aja!” Yui menarik tangan Hana.
“Oh! Maaf maaf!” Hana hanya nyengir lima jari.
Dari arah gedung melaju sebuah mobil sedan gelap dengan kecepatan sedang, dengan pasti mobil tersebut melewati Hana dkk.
“!!”
Entah sebuah kebetulan atau apa. Hana bisa dengan jelas melihat dibalik jendela kemudi mobil tersebut.
‘Itu Yoshiki-kun—‘
Begitu Hana melihat nomor plat di belakang mobil tersebut semakin yakinlah jika itu Yoshiki. Namun… jika pandangan Hana tidak salah, ada seseorang lain di samping Yoshiki.
‘Siapa perempuan itu?’

.

“Aku suka sekali orkesta mereka malam ini! Katanya tur mereka berikutnya di Paris! Rasanya aku sangat ingin terbang ke paris hanya untuk melihat mereka lagi secara langsung!” Rin Otome berceloteh riang.
“Langsung? Bukannya kau hanya memnonton di depan layar LCD?” Nada mengejek terdengar jelas dari setiap ucapan Yoshiki.
Gurat merah karena malu muncul pada wajah Otome.
“Y-yah… pokoknya kan aku datang langsung ke lokasi dan mendukung mereka!”
“Hn…” hanya gumanan yang diberikan Yoshiki.
“Imran sangat tampan sekali. Dia memainkan flute dengan sangat indah! Aku bersyukur kamera menyorotnya berkali-kali tadi.”
Yoshiki sedikit melirik ke arah perempuan berambut sebahu itu. Ia bisa menangkap ketulusan dari pandangan perempuan itu.
Dengan satu tangannya masih mengendalikan kemudi, tangannya yang lain meraih sesuatu di dalam saku dalam jasnya. Kemudian disodorkannya sebuah tiket kepada Otome.
“Eh? Apa itu?” Keadaan gelap dan hanya mendapat pencahayaan dari lampu jalanan membuat Otome kesusahan melihat apa yang disodorkan Yoshiki. Begitu ia mendekatkan kepalanya, tubuhnya seolah tersengat listrik, “ya Tuhan itu tiket fan meeting anggota MJ Crown Orc!”
“Ambilah,” ucap Yoshiki datar tanpa memandang ke arah Otome.
“B-buatku!???”
“Hn. Aku tidak berminat pada hal seperti ini.”
Tangan Otome yang bergetar karena bahagaia menerima tiket yang diberika Yoshiki.
“Terima kasih banyak Kuroto-kun. Aku sangat senang sekali,” Otome memandangi tiket yang telah berada di tangannya dengan riang, sebelum akhirnya ia simpan pada tas tangannya.
“Namun, kenapa Kuroto-kun bisa dapat tiket itu jika tidak tertarik?”
“Aku mendapatkannya setelah memesan kursi.”
“Kursi?”
Hening sejenak. Hanya suara deru mobil yang terdengar.
“…. T-tunggu. Seingatku kursi yang menyediakan free fan meet hanya…. G-Golden Ticket…” Sekarang rasanya seperti aliran darah berhenti mengalir di sekujur tubuh Otome.
“Hn. Kursiku Golden Ticket,” jawab Yoshiki santai.
“….wow,” Otome berkedip berkali-kali speechless,  “Kuroto-kun sepertinya kaya sekali ya.”
“Hn….”
Tak lama kemudian sedan gelap itu nampak berhenti di depan sebuah rumah yang cukup sederhana.
“Terima kasih sudah mengantarku Kuroto-kun,” Otome Rin nampak membungkuk berterimakasih.
“Hn…”
Yoshiki menyalakan kembali mesin mobilnya.
“Kuroto-kun! Biarkan aku mentraktirmu sesuatu!”
Hampir saja Yoshiki menginjak pedal gas, namun akibat ucapan tiba-tiba Otome ia mengurungkan niatnya dan alisnya malah setengah terangkat sekarang, “hn? Untuk apa?”
“Telah mengantarku pulang, tiket fan meeting tadi, dan… aku juga belum mengembalikan CD milik Kuroto-kun.”
“Kau bisa memberikannya ketika di se—“ Yoshiki menghentika kalimatnya begitu menyadari jika masa SMA telah berakhir.
“Kita tidak bisa bertemu di sekolah lagi,” Otome sedikit menuduk namun beberapa detik kemudian ia segera menatap Yoshiki dengan tatapan yakin dan wajahnya memerah, “karena itu Kuroto-kun aku akan mentraktirmu atas semua kebaikanmu!”
“….” Yoshiki menatap Otome untuk beberapa saat, menyelidiki isi kepala perempuan itu.
“Hn… baiklah, terserah saja.”
“Benarkah Kuroto-kun mau? Bagus! Aku akan mengemailkan tempatnya nanti!” Otome berucap riang.
KLEK.
Dari arah rumah muncul ibu Otome Rin yang hendak menjemput kedatangan putrinya, “Rin-chan sudah datang, ara… diantar pacar Rin-chan? Kenapa tidak disuruh masuk dulu?”
“IBU!? BUKAN PACAR RIN BU!” Wajah Rin sukses memerah bagaikan kepiting rebus.
“Selamat malam. Maaf mengantarkan anak ibu selarut ini. Saya tidak bisa mampir karena masih ada beberapa hal yang harus saya kerjakan,” Yoshiki berujar sopan.
“Begitu? Sayang sekali.”
“SUDAH DEH IBU! DUH!” Rin semakin salah tingkah.
“Maaf Kuroto-kun, ibuku selalu berpikir seenaknya. Sekali lagi terima kasih sudah mengantarku, berhati-hatilah,” Rin tersenyum tulus.
“Hn, dewa mata.”

.

Klik
Yoshiki melepas pengait dasi kupu-kupunya.
Wajah polos Otome Rin muncul beberapa kali di benaknya ketika ia menyusuri lorong mansionnya untuk menuju kamarnya.
‘Kenapa dengan diriku?’
Yoshiki menghela nafas berat ketika ia memasuki kamarnya. Pandangan matanya menjelajah seluruh sudut kamar. Namun ia tak bisa menemukan seseorang yang seharusnya ada saat itu.
Tidak ada. Hana tidak ada di kamar. Di mana perempuannya itu?
Dengan cepat ia meraih ponsel yang ada di sakunya, mendial sebuah kontak yang bertuliskan ‘Mine’.
Setelah beberapa kali terdengar nada tunggu, telepon pun tersambung.
‘Ah, halo, selamat malam Yoshiki-kun. Ada apa?’
“Apa maksudmu ada apa? Kau di mana sekarang?” Tanya Yoshiki kesal.
‘Oh maaf aku lupa memberi tau, aku ke toko buku bersama Maki, Yui, dan Shiro.’
“Hn, toko buku di mana? Akan kujemput.”
‘Eh, tidak usah. Aku sudah di dalam mansion kok sekarang. Perjalanan menuju kamar sang tuan raja,’ kelakar Hana.
“….. Baguslah.”
‘Yoshiki-kun!’
Hendak saja Yoshiki mematikan panggilan teleponnya.
“Hn? Ada apa?”
‘…..’
Namun tidak ada jawaban dari Hana. Dalam keheningan itu Yoshiki hanya bisa mendengar derap kaki Hana yang menggema.
Keheningan itu lantas membuat rasa ingin tau Yoshiki mencuat, “ada a—“
‘Ah tidak usah, tunggu aku ya!’ Sayangnya Hana segera menginterupsinya dan mengakhiri panggilan secara sepihak.

.

“Tadaima! Yang mulia raja!” Hana membuka pintu kamar dengan keras beserta mengucapkan salam yang terdengar riang.
Sapphire Hana menangkap sosok Yoshiki yang tengah melepas kemejanya di tepi ranjang. Memperlihatkan tubuh bagian atasnya telanjang, beserta otot otot padatnya.
‘Uwaaa… asupan malam…’ Hana hampir mimisan jika tidak segera menahan dirinya.
‘Tidak tidak, aku harus bertanya kepada Yoshiki-kun siapa perempuan tadi!’’
“Yoshiki-kun baru pulang dari menonton orkesta?” Tanya Hana sambil meletakan platik berisi buku-buku yang telah ia beli di nakas.
“Hn. Bukankah kau sudah tau itu?” Yoshiki malah bertanya balik.
“Ah—uh,” Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia bingung harus memulai dari mana, “oh yang di prefektur sebelah itu ya?”
Yoshiki mengerutkan alisnya, “kau tau?”
“Yaah… aku tadi pergi membeli buku di toko yang berdekatan dengan tempat orkesta itu. Aku melihat papan iklahnnya.”
“Kenapa tidak bilang saat itu? Seharusnya aku bisa mengantarmu pulang juga,” sambil memakai sebuah kaos berwarna abu-abu Yoshiki merespon santai.
“Ah ya itu—aku—“
‘—aku melihat seorang perempuan di mobilmu.’
“Hn?” Yoshiki merasa aneh dengan kalimat Hana yang tergantung.
“Aku bersama Yui, Maki, dan Shiro kan? Jadi kita pulang dengan bis saja.”
Yoshiki nampak sibuk dengan laptop di pangkuannya dan beberapa lembar kertas di tangannya.
“…..” Hana terdiam dengan pandangannya yang tertunduk ke bawah. Kedua jari telunjuknya saling berkaitan erat. Dan—gemetar.
Namun beberapa saat kemudian sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Karena jika diingat-ingat lagi di kejadian lalu, semuanya hanyalah sebuah kesalahpahaman yang konyol. Yoshiki tidak pernah selingkuh.
Benar kan Yoshiki-kun? Kamu tidak mungkin bermain dengan perempuan lain kan?
Hana melemparkan tubuhnya di ranjang sebelum mengganti pakaiannya. Membuat benda itu berderit cukup keras.
“Uwaaaa! Badanku capek banget setelah jalan kaki lama tadi! Yoshiki-kun ayo tidur,” hendak saja Hana meraih tangan Yoshiki untuk menariknya tidur bersama namun pria itu malah berjalan pergi.
“Maaf My Lady, ada beberapa dokumen yang harus kuambil dan kucek di ruang kerja,” dan begitulah Yoshiki pergi meninggalkan kamar.
“….” Hana terdiam di tempatnya.
Beberapa saat kemudian bibirnya bergerak perlahan, “Lalu yang barusan email dari siapa, Yoshiki-kun?”

Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.