Sabtu, 02 November 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 36]

CHAPTER 36: The Problem Itself

“Silahkan duduk, anda datang lagi, apakah ada keperluan?” Tanya sang professor sopan.
“Hn. Tidak terlalu, aku hanya ingin mengenalkanmu pada istriku,” Yoshiki menggenggam tangan Hana yang terkatup di pahanya.
Kondisi ini cukup membuat Hana salah tingkah sekarang. Wajahnya pasti sangat memerah.
“Oh! Senang berkenalan dengan anda Miss Kuroto. Saya Shimomiya Akihiko, teman Kuroto-sama ketika berkuliah di sini dulu.”
Hana semakin tidak mengerti kondisinya saat ini. Seorang professor, diulangi kembali, seorang professor sedang memperkenalkan diri dengan sangat sopan padanya. Dan lagi, Profesor di depannya adalah teman suaminya dulu! Perkiraan Hana saat ini adalah jika sang Profesor adalah sesame iblis dengan pangkat yang mungkin cukup dekat dengan tahta sang raja.
“Dia manusia,” ucap Yoshiki tiba-tiba seolah-olah mampu membaca pikiran Hana.
“EH!?” Hana terkejut bukan main, begitu ditatapnya Shimomiya, pria itu hanya tersenyum tulus.
“Benar. Saya manusia,” Shimomiya menyetujui.
“L-Lalu kenapa? Shimomiya-sensei memanggil Yoshiki-kun dengan begitu hormat, itu artinya—“
“Benar. Saya tahu jika Kuroto-sama adalah seorang iblis, terlebih, seorang raja iblis, Lucifer,” walaupun berujar begitu, raut wajah Shimomiya tetap santai.
Hana terdiam. Ia cukup bingung harus merespon seperti apa. Pemikiran seorang dosen yang sudah bergelar professor memang susah dipahami, begitu pikir Hana.
“Kau membuatnya kebingungan Shimomiya,” Ujar Yoshiki datar.
“Begitu? Hahahaha, maafkan saya Miss Kuroto. Anggaplah saya sekutu kalian. Saya sebenarnya hanya bergerak oleh karena rasa penasaran saja. Walaupun bidang saya pendidikan saat ini, tapi ketertarikan saya justru pada hal-hal supranatural. Saya sangat terkejut begitu mengetahui teman kuliah saya adalah seorang iblis, terlebih Lucifer. Tidak heran jika Kuroto-sama mendapatkan penghargaan ketika kelulusan. Tidak heran bukan jika seorang Lucifer sangat cerdas?” Shimomiya bergurau di akhir kalimatnya.
“Begitu… ahahahaha….” Hana hanya mampu memberikan tertawa kaku.
Selanjutnya suaminya dan sang professor seperti terlibat pembicaraan yang sangat seru. Hana tak tau pasti, mungkin mengenai filsuf atau sejenisnya. Merea beradu pendapat namun Hana selalu tau jika dang professor selalu berada di jalan buntu ketika menghadapi argument suaminya.
Mengetahui isi kepalanya tak akan pernah sampai pada pembicaraan keduanya, Hana memutuskan untuk berhenti mendengarkan. Sebaliknya ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Suaminya, Kuroto Yoshiki adalah sosok yang melampaui akal sehat. Seorang professor manusia saja sampai takjub padanya. Tak heran rasanya… rasanya… begitu banyak perempuan yang tertarik kepada Yoshiki.
Perempuan bodoh mana yang tidak akan tertarik pada pria tampan, intelegen, dan kaya!? Yoshiki begitu sempurna untuk dipandang. Ditambah para perempuan yang mengincar Yoshiki bukanlah kelas teri ketika SMA, kebanyakan adalah perempuan terpandang dan jika dipasangkan dengan Yoshiki mungkin akan menjadi pasangan yang sempurna.
Dari kasus Otome Rin, Hana belajar jika Yoshiki pun akan tergoda oleh perempuan lain suatu saat nanti jika ia tidak waspada. Membayangkan Yoshiki meninggalkannya bersama perempuan lain…
‘PLAK!’ Hana menepuk kedua pipinya keras-keras guna menghilangkan pikiran buruknya.
Namun akibatnya Yoshiki dan Shimomiya menatapnya dengan tatapan bingung.
“Eh? AHAHAHAHA…” Hana tertawa canggung, “a-aku tidak apa-apa kok.”
Sekarang Yoshiki benar-benar menatapnya serius penuh pertanyaan, “apakah sesuatu mengganggumu My Lady?”
“Ah….” Hana terdiam beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Besar dari bagian hatinya ingin memberitau masalah ini kepada Yoshiki. Tapi hati kecilna terus menahannya. Sudah saatnya ia mampu mensejajarkan diri sebagai istri yang pantas bagi seorang Kuroto Yoshiki. Ia harus berusaha sendiri terlebih dahulu.
“Tidak ada kok, aku hanya menepuk diriku sendiri untuk menyadarkanku jika semua ini mimpi atau bukan. Karena semua ini keren sekali bagai mimpi,” Hana berdusta.
“Istri anda sangat polos juga ya, Kuroto-sama,” Shimomiya tertawa renyah setelahnya.
Yoshiki hanya menatap Shimomoiya sekilas, namun detik berikutnya pandangannya kembali tertuju pada Hana yang tengah mengikuti Shimomiya tertawa ringan. Setidaknya Yoshiki merasa jika Hana menyembunyikan sesuatu.

.

“Yoshiki-kun akan ikut unit kegiatan mahasiswa?”
Yoshiki melirik Hana sekilas begitu perempuan yang duduk di samping kursi kemudinya itu melontarkan pertanyaan tiba-tiba.
“Hn, kau bagaimana?” Yoshiki malah bertanya balik.
“Ah, umm… aku tidak tau, aku butuh saran dari seorang senior seperti Yoshiki-kun,” Hana tersenyum ringan.
Sebenarnya pertanyaan itu hanya pengalihan dari rasa khawatirnya akan pemikiran serangan-serangan dari para mahasiswi yang mengincar Yoshiki dan entah mengapa dari tadi ponselnya menerima banyak spam email tak beralamat asli berisikan ancaman untuk segera meninggalkan Yoshiki dan mengatakan jika ia adalah penipu dan pembohong.
Yoshiki menghelakan nafasnya, “kegiatan seperti itu biasanya hanya akan bertahan setidaknya sampai 2 bulan pertama perkuliahan, selanjutnya jika kau tidak benar-benar berminat di sana kau mungkin akan segera meninggalkan kegiatan tersebut.”
“Eh? Begitu? Jawaban yang sangat senior sekali ya,” Hana kembali membelikan senyumannya, sementara tangannya menahan getaran pada ponselnya yang tak pernah berhenti bergetar. Setiap detik email-email itu selalu berdatangan.
Hana juga tak tau pasti bagaimana bisa orang-orang yang menerornya bisa mengetahui alamat emailnya. Hana tidak takut. Hanya saja, menyebalkan jika harus menggubris mereka satu per satu.
“Sesuatu mengganggumu?” Yoshiki tiba-tiba bertanya.
Hana refleks menoleh ke arah suaminya yang sibuk menyetir, “kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Kau tidak seperti biasanya. Kau memindah posisi duduk kita tadi. Kau memukul pipimu keras-keras. Dan kau menggegam ponselmu erat-erat sekarang.”
Hana gelagapan, “Oh, itu…”
“Aku harap kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku My Lady.”
Hana menghela nafas panjang sebelum berbicara kembali, “aku senang Yoshiki-kun peduli padaku,” dan dilanjutkan dengan cekikikan konyol.
“Hn? Jadi selama ini aku tidak peduli terhadapmu?”
Tawa Hana semakin menjadi-jadi mendengar pertanyaan manis suaminya.
“Omong-omong kita punya agenda malam keakraban dengan senior kan?” Hana mendadak merubah topic pembicaraan.
“Hn, ya. Ritual membosankan sebagai mahasiswa baru.”
“Woah woah, senior,” Hana bergurau, “wahai senior, ceritakan pada juniormu ini bagaimana ritualnya?”
“Tidak ada hal khusus. Hanya minum bersama, karaoke, dan sejenisnya.”
“Heee… hanya begitu… kukira akan lebih berat lagi…”
“Lebih berat?”
“Ituloh. Kalau di film yang pernah kutonton. Ada sebuah kampus kedokteran di Prancis yang melakukan kegiatan ospek pada mahasiswa baru. Mereka disuruh makan ginjal kelinci, lalu diguyur darah babi, dan kegiatan menjijikan mengerikan yang lainnya.”
“Hn, hal seperti itu memang ada di beberapa negara. Jepang salah satu negara yang tidak menerapkan system seperti itu meningat angka bunuh diri yang sangat tinggi. Pemerintah sangat melarang kegiatan yang sejenis itu.”
“Heeee….”
Hana yang terus merasa terganggu dengan getaran pada ponsel dalam genggamannya pun memutaskan membuka ponselnya. 151 email masuk dalam waktu hitungan menit saja. Sepertinya mereka benar-benar serius, pikir Hana.
Semua isi emailnya sangat identik sampai-sampai Hana langsung menghapus semua pesan yang masuk tanpa berfikir dua kali.
Ingin rasanya Hana menuangkan racun pada makanan atau minuman orang-orang ini ketika minum bersama besok. Tapi jika beberapa orang mati seketika karena keracunan pasti akan menjadi kasus yang sangat mencolok.
Sepertinya Hana harus memikirkan cara lain.

.
.

Seperti yang sudah direncanakan. Besok malamnya diadakan acara malam keakraban dengan para senior. Sebuah bar dan beberapa ruang karaoke telah disewa sampai pagi.
“Hei kenapa kau memotong rambutmu sependek itu?”
"Dia sedang depresi pasti.”
Hana hanya bisa tertawa dengan bibir tertekuk saat menghadapi beberapa seniornya yang terus mengajaknya bicara walau mabuk.
“Kau pasti ikut kegiatan sepak bola atau semacamnya?” Lagi-lagi seorang senior menyerang Hana dengan pertanyaannya.
“Tidak senpai. Aku tidak ikut kegiatan apapun.”
“Bagaimana bisa tidak ikut kegiatan apapun!? Manfaatkan tahun pertamamu dengan baik dasar junior bodoh!”
“Uh, maaf senior!” Hana hanya bisa menunduk patuh. Walaupun begitu tak dipungkiri jika Hana merasa kesal dari dalam perasaannya.
“Itulah kenapa senior dibutuhkan. Ayo kudidik kamu supaya jadi penerus yang baik. Mulai dari…” Tangan sang senior bergerak mengusap rambut Hana yang nampak menyembul tidak rapi, “panjangkan rambutmu… supaya kau punya pacar?”
GREP
Dalam skala seperdetik tangan sang senior telah ditarik dari rambut Hana. Tangan itu dicengkram erat oleh Yoshiki.
“Dia sudah punya kekasih. Dan kekasihnya tidak mempermasalahkan jika dia berambut pendek. Yang menjadi masalah di sini adalah sikapmu sebagai senior. Bukankah ini contoh yang buruk, eh? Senior,” dengan seringai dan pandangan yang merendahkan Yoshiki mencermahi.
“A-Apa-apaan!?” Sang senior yang tangannya dicengkram mulai tak terima.
“Junior sudah banyak gaya!” Yang lain mulai tersulut.
Namun Yoshiki hanya menghela nafas. Dia adalah raja iblis, sang Lucifer. Ia bisa memutar arah rotasi bumi seenaknya. Mengurusi remaja-remaja terlambat puber seperti ini hanya seperti meniup debu yang mengotori kulitnya.
Entah pesan apa yang sudah dikirimkan Yoshiki pada kepala-kepala para senior hanya dengan tatapannya saja. Hanya saja para senior itu tiba-tiba beringsut mundur dan pergi meninggalkan lokasi beramai-ramai.
“Lain kali jangan diam saja,” Yoshiki menatap datar ke arah Hana.
“Hah? Memangnya aku harus bagaimana?” Hana merespon dongkol, “harus marah-marah dan menghajar mereka supaya menimbulkan masalah yang lebih besar? Aku bukan tuan-raja-iblis yang bisa mengatur orang seenaknya!”
Yoshiki mendekatkan jarak antara dirinya dan Hana, sangat dekat sehingga mampu membuat Hana bertanya-tanya dengan wajah kesalnya.
“Lain kali katakan jika kau milikku. Milik Kuroto Yoshiki. Milik Lucifer.”
Sedetik kemudian ruam merah segera menguasai wajah Hana.
“B-Bodoh. Yang begitu tetap saja menghasilkan masalah yang lebih besar,” tak mampu menahan rasa malunya, Hana berujar sambil memalingkan wajahnya.
Yoshiki tersenyum simpul, diacak-acaknya rambut perempuan yang membuatnya gemas itu.
Sementara itu dari meja lain nampak beberapa teman satu departmen Hana mulai bergunjing.
“Astaga lihat! Kuroto-kun mengusap kepala si jelek!”
“Arggghhh!! Apa-apaan sih!”
“Tidak cocok! Kuroto-kun hanya cocok dengan kita! Bukan si buruk rupa itu!”
“Oh astaga lihat itu! Bukankah itu Keigo Yasumoto-kun? Anak Dr. Yasumoto yang sekarang juga dosen muda di departemen farmasi?”
Namun begitu seorang pria muda berpakaian rapi masuk, gunjingan mereka seketika berubah arah.
“Benar benar! Kudengar dia berumur 25 tahun dan sedang mengambil S3 di Habbaa—“
“Havard. Departemen of Stem Cell and Regenerative Biology,” salah satu dari mereka menimpali.
“Wow, keren sekali. Sepertinya Keigo Yasumoto-sensei memang tertarik pada bidang pengembangan obat biologis…”
Perkumpulan perempuan itu nampak asik mengamati pria berambut coklat rapi yang tengah berbincang-bincang dengan seorang mahasiswa tingkat akhir yang kebetulan mengikuti kegiatan bersama junior-juniornya.
“Dasar bodoh. Bukannya segera menyelesaikan skripsi kenapa malah main-main. Memangnya kamu itu senggang sekali apa?” Keigo Yasumoto meneriaki anak bimbingnya dengan kesal.
“Maaf sensei, besok saya akan segera mengirimkan revisinya ke meja anda sebelum pukul 12,” sang anak bombing nampak berojigi berkali-kali.
Berdasarkan kabar yang sudah tersebar ke seluruh penghuni departemen Kimia, Keigo Yasumoto adalah dosen semi tidak aktiv mengajar karena masih harus melanjutkan studi S3-nya, namun masih sangat aktiv membimbing mahasiswa dalam tugas akhirnya. Sifatnya yang begitu peduli kepada anak bimbingnya membuatnya selalu mendapat antrian panjang pendaftaran anak bimbing. Jika selama ini adalah mahasiswa yang mengejar dosen untuk revisi, maka pada kasus Keigo Yasumoto-sensei, dosennya lah yang mengejar mahasiswa. Hasilnya pun kebanyakan memuaskan.
“Tidak. Pastikan sebelum pukul 11 revisi sudah harus ada di meja saya. 1 jam saja tidak akan cukup untuk mengkoreksi kau tau!”
“T-Tapi sensei saya harus—“
Namun sayangnya ucapan sang mahasiswa bimbingannya sama sekali tak bisa masuk ke dalam telinga Keigo Yasumoto begitu kedua matanya tertuju pada seorang perempuan yang tengah asik menyesap jus jeruknya.
“Hana!” Keigo Yasumoto tercengang.
“Oh?” Sang murid bimbingan ikut tercengang, ia mengikuti mata Keigo yang tertuju pada Hana.
“Sensei… mengenal anak tahun pertama itu?”
“Pokoknya kamu selesaikan besok sampai jam 11 revisi harus sudah ada di meja saya,” tanpa memperdulikan murid bimbingannya yang masih ingin menjerit protes, Keigo Yasumoto bergegas ke arah Hana.
“Hana!” Bagaikan seseorang yang telah menahan rindu bertahun-tahun lamanya, Keigo memanggil nama Hana.
“Ngg?” Sementara yang dipanggil hanya menolehkan kepalanya santai dengan kondisi mulutnya masih memainkan sedotan plastik dan meniupkan udara ke dalamnya supaya es jeruknya memunculkan gelembung-gelembung udara.
BRUUK
Namun semuanya berjalan terlalu cepat. Tiba-tiba kepala Hana sudah ada dalam dekapan Keigo Yasumoto.
“Aku merindukanmu Hana. Sangat merindukanmu.”
Hal tersebut lantas membuat seisi ruangan ternganga bukan main. Seorang dosen yang sangat disanjung tiba-tiba memeluk seorang mahasiswi yang notabene bukan siapa-siapa.
“Eh?” Hana yang sangat terkejut dipeluk tiba-tiba, bingung harus bertindak seperti apa selain harus menjaga jus jeruknya agar tidak tumpah.
Sementara para perempuan di ruangan itu sibuk menutup mulut mereka yang terbuka lebar, Yoshiki dengan kondisi moodnya yang luar biasa buruk mendekat ke arah keduanya.
“Lepaskan,” dengan aura kegelapan dan penuh kutukan yang mungkin bisa dirasakan setiap orang di ruangan itu Yoshiki berguman mendekat, “lepaskan dia.”
Keigo Yasumoto terpaksa menghentikan kegiatan melepas rindunya seraya mendongkakkan kepalanya dan mendapati seorang pria berdiri tidak lebih dari 5 meter jauhnya.
“Kuroto… Yoshiki….” Dosen muda itu berguman mendesisikan nama sang pria.
“EEEEEEEHHHH!!!??? KEIGO-KUN!?” Seketika ketegangan diantara keduanya terpecahkan oleh teriakan melengking khas Hana.
“Keigo-kun bukan!? K-Kamu Keigo-kun benar? Hei, K-Keigo-k-kun….” Hana mencengkram kedua tangan Keigo Yasumoto dengan erat dan mengguncangnya beberapa kali.
Wajah kalem Keigo melunak dan memberikan senyuman lembut kepada Hana, “benar Hana, ini Keigo Yasumoto.”
Air mata bagaikan meletup-letup dari kelopak mata Hana.
Karena Keigo Yasumoto adalah…. Pria dari masa lalunya.



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.