Chapter 1
Something Trouble: Yoshiki makan makanan manusia!?
Rayumi Hana--ralat--Kuroto Hana dengan tatapan bosannya mulai menyapu seluruh penjuru kelas.
Blazer biru yang dulu dikenakannya telah berganti warna menjadi merah, menandakan dirinya telah menaiki satu tingkatan kelas.
Ah... semakin hari semakin tua saja rasanya. Saphire jernih itu nampak memikir kedepan. 'Dirinya tidak akan menjadi tua.' Sebuah kalimat yang sebenarnya cukup mengerikan terlintas di benaknya.
Jika berpikir singkat maka kalimat tersebut adalah kabar gembira. Namun jika dipikirkan lebih dalam... kalimat itu adalah mimpi buruk. Hana tahu itu. Ia sudah sangat lama terpikirkan hal itu sejak ia mulai memutuskan menyerahkan dirinya kepada sang iblis.
"Hhhh... sudahlah dijalani saja...." perempuan berambut pendek itu menghela nafas lesu.
"HANAAAAA!!!"
Dari arah pintu kelas, masuk seorang makhluk berambut putih dan menyerbu Hana seketika.
Hana yang mengetahui hal itu hanya menghela nafas bosan dan berusaha tak menggubris makhluk yang baru saja muncul.
"OHAYOU HANA!" Ucap Shiro bersemangat.
"Ohayou Shiro" jawab Hana.
"Wah akhirnya Shiro si jam karet datang" ujar Maki. Dari arah depan Maki dan Ida datang bergabung.
"Huum! Shiro bukan karet dan Shiro tidak terlambat!" Ujar Shiro dengan menggembungkan kedua pipinya.
"Hn." Tiba-tiba sebuah gumanan dingin terdengar. Serempak keempat pasang mata itu tertuju ke arah pengguman.
Kuroto Yoshiki tengah berdiri dengan dada bidangnya yang kokoh. Sungguh sangat cocok dengan jas merah yang dikenakannya.
"OHAYOU KUROTO-KUN!" Dengan semangat Maku mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengucapkan salam.
Yoshiki sendiri tak terlalu peduli dengan perempuan albino itu. Kakinya melangkah mendekati meja sang kekasih.
"Hn, kau lapar?" Tanya Yoshiki tiba-tiba.
"Tidak, aku baik-baik saja" Hana tersenyum mendongkak menatap Yoshiki.
"Hn..." Setelah berguman sebentar pria dengan rambut raven jaged itu segera menuju bangkunya.
"Apa maksudnya itu Hana? Kau belum sarapan?" Maki bertanya.
"Um? Ah ya sepertinya begitu... haha" Hana tertawa canggung. Mustahil kan dia bilang hal yang dimaksud Yoshiki adalah 'memakan jiwa manusia'?
"Hei hei nanti mau mencoba berkeliling?" Celetuk Maki.
"Buat apa?" Sahut Yui.
"Ya tentu saja.... mencari junior idaman lah~"
Yui memutar bola matanya bosan. "Hhh.. kau itu tidak berubah. Karena Kizu-senpau sudah lulus kau sekarang mau mencoba menggaet junior!? Astaga Maki..."
"Ah biarin, Yui kan cantik jadi tidak perlu ikut mencari," Maki mengerucutkan bibirnya ke arah Yui dan mengapit lengan Hana, "Kau mau kan Hana?"
Hana sweatdrop menatap Maki. Dengan tangan lainnya di dorongnya tubuh Maki. "Iya iya! Menjauh dariku Maki! Kau menjijikkan!"
***
"Waah yang itu tampan~" ujar Maki dengan wajahnya yang memerah. Siswi bermata jade itu sekarang tengah menopang dagu pada jendela kelas.
Hana dan Yui hanya bisa menatap kelakuan teman pirangnya itu dari belakang dengan tatapan sweatdrop dan tangan dilipat di depan dada mereka.
"Dan setelah dia menarikku dan membuatku malu di depan siswa baru dia akhirnya juga merasa malu dan memilih hanya melihat dari sini" ucap Hana dengan menahan kedutan kesal pada dahinya.
"Kau benar" timpal Yui.
Sementara Shiro?
"Loh ya... kemana Shiro?" Tanya Hana.
"Ah tadi katanya ke klinik untuk bertemu Tomoaki-sen--"
"YAHOOO!!" Belum sempat Yui menyelesaikan kalimatnya, orang yang beraangkutan sudah muncul dengan teriakan khusuanya.
Hana sweadrop. "Shiro, dari mana saja kau?"
"Shiro habis meninju junior yang memberikan hadiah kepada Araide-kun!" Ujar Shiro dengan mengepalkan kedua tangannya lalu meniru gaya petinju.
Yui sweatdrop. "Memangnya seperti apa?"
Shiro menghentikan kegiatannya. "Yah... Araide-kun bercerita dia menerima jam tangan dari seorang junior, lalu hari ini ketika aku berkunjung ke klinik junior itu tiba-tiba masuk klinik dan memberikan sebuah jaket kepada Araide-kun! Langsung saja kutinju muka perempuan itu!"
"Ha... Ha..." Yui dan Hana sweatdrop.
"Omong-omong Hana, aku melihat Kuroto-kun di dekat kantin. Dan banyak junior yang mengikutinya" Shiro menatap Hana dengan tatapan polos.
"Ap--" Belum sempat Hana melanjutkan kalimatnya. Suara gaduh dari luar kelas menghentikan kalimat Hana dan membuat kepalanya menoleh ke sumber suara.
Mata itu bertatapan. Saphire dan Onyx. Biru dan Hitam. Langit pagi dan lagit malam.
Entah kenapa tubuh Hana sama sekali tak bergerak. Kepalanya masih menengok dan menatap keriuhan di ambang pintu kelas.
Di sana, Kuroto Yoshiki tengah diikuti oleh 3-4 junior dengan berisik.
Sementara Yoshiki sendiri hanya memasang tatapan datar dan tangan kanannya membawa sebuah jus tomat kotak untuk diminum dengan sedotan. Kaki jenjangnya berjalan memasuki kelas. Dan... pria itu duduk dengan santai di bangkunya.
Ekor mata Hana hanya bisa mengamati pria jaged itu. Bisa dilihat setelah itu Suzaku yang duduk di depan Yoshiki menoleh ke belakang lalu berbicang entah apa.
"Kuroto. Namanya Kuroto Yoshiki"
"Dia tampan..."
"Benar, dia keren."
"Sudah punya pacar belum ya?"
Gumanan-gumanan dari junior yang mengikuti Yoshiki terdengat sangat keras sejenak lalu perlahan menghilang setelah semua junior itu memutuskan untuk meninggalkan kelas 3-1. Jujur saja, telinga Hana seperti terbakar rasanya begitu mendengar pembicaraan junior itu.
"Wah susah juga ya punya kekasih yang terlewat keren itu" goda Yui.
"Hana! Kau jangan mau kalah! Kau harus menunjukan kekuatan Unlimited Blade Works*!" Shiro menimpali.
"Huh jangankan Unlimited Blade Works, bahkan Holy Grail* akan kudapatkan untuk membunuh mereka!" Hana mendelik kesal.
------
"Haaaah sial aku lupa bagaimana cara menyelesaikan ini!" Dengan mengacak rambut pendeknya frustasi Hana menggerutu sambil menghantamkan punggungnya pada kursi.
Sepasang mata kelam sesekali melirik ke arah perempuan berambut pendek itu.
Sebuah guratan siku muncul di kening Hana. "Apa lihat-lihat!?"
Yoshiki menegakkan tubuhnya dan merapikan jasnya. Disandarkannya punggung lebarnya pada kursinya. "Hn, ada apa My Lady? Kau kesusahan?"
"Cih, jangan sombong karena kau menguasai semua materi pelajaran!" Decak Hana gusar.
"Hn, tidak hanya materi pelajaran. Semua pengetahuan di bumi ini, aku mekilikinya"
"Yeah-- yeah-- siapa yang tidak mengenal tuan Kuroto Yoshiki sang raja iblis yang agung, cerdas, luar biasa"
Yoshiki menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Hana. "Sepertinya kau memiliki masalah, kau terlihat sensitif. Apa kau sedang datang bulan?"
Kedutan seperempat bertambah lagi di kepala Hana. Sayang sekali di kanan kirinya tidak ada benda yang bisa dilempar ke arah wajah tampan suaminya.
"Aku tidak sensitif..." getaran emosi kesal terdengar jelas pada setiap penekanan kata yang diucapkan Hana. "Dan... tidak sedang datang bulan!"
"My Lord, sudah waktunya" setelah berselang beberapa detik dari ketukan pintu ruang kerja Yoshiki, munculah Tomuro.
"Hn," Yoshiki segera bangkit dari tempat duduknya dan merapikan dasi beserta jasnya. Sebelum sempat meninggalkan ruang kerjanya Yoshiki berhenti tepat di depan meja Hana yang tak jauh dari pintu.
"Hn, aku akan pulang cepat dan membantumu belajar. Chu~" Dalam satu kedipan mata, Yoshiki sudah berada di depan Hana dan mengecup bibir ranum Hana.
"Eh?" Seaakan seluruh darah di tubuhnya mengalir ke atas semua memenuhi kepalanya.
Klek.
Setelah Yoshiki menutup pintu ruang kerjanya barulah terdengar suara dari dalam sana. "DASAR BAKA YOSHIKI!"
------
Bel istirahat baru saja berbunyi. Kagetane-sensei telah meninggalkan kelas, tak lupa meninggalkan setumpuk tugas juga.
Hanya menutup bukunya dengan malas.
"Hhhh..." dirinya menghela nafas panjang. Kenapa? Entah siapa yang tahu.
Diraihnya tasnya dan dimasukkannya buku-buku yang tadi menjadi materi pelajaran.
"Uhm?" Tiba-tiba kepala Hana mendongkak dan menoleh kebelakang. Itu Yoshiki, Yoshiki baru saja pergi keluar kelas.
Dengan cepat dimasukannya semua buku yang berantakan pada mejanya lalu menarik Yui yang hendak memakan bento-nya.
"HEY! Hana! Ada apa sih!? Aku sedang makan tahu!" Rengekan Yui tak diperdulikan sama sekali. Keduanya terus berjalan mengikuti Yoshiki diam-diam.
Setelah menduduki sebuah meja dengan letak cukup strategis, Hana kembali mengamati tingkah Yoshiki.
"Hei, ada apa sih? Kau membuang waktu makan siangku, jika ini tidak penting aku akan menggantungmu di kelas" Yui berbisik kepada Hana.
"..." Hana tak menjawab, dia masih sibuk mengamati Yoshiki. Sekarang pria-nya itu sedang mengantri pada sebuah stand.
"Hana?"
"..."
"Rayumi Hana-san!" Yui agak mengeraskan suaranya.
"Eh ya? Aku memgamati Yoshiki-kun" Hana menjawab dengan cengo.
"Hah!? Mengawasi!? Untuk apa!?"
"Yoshiki-kun makan di kantin" mata Sapphire Haba masih sibuk mengamati pergerakan Yoshiki.
"Lalu kenapa? Bukannya itu normal? Mungkin dia tidak membawa bento dari rumah"
Hana tak menggubris ucapan Yui. Seandainya Yui tahu, bahwa Yoshiki adalah raja iblis! Untuk apa raja iblis yang tak membutuhkan makanan manusia membeli makanan manusia di kantin sekolah!?
Yoshiki yang duduk di meja paling pojok sendirian lantas menarik perhatian para hawa yang sedang asyik menikmati makanan mereka. Siapa yang tidak kelas Kuroto Yoshiki? Salah satu dari jajaran cowok tampan di Mirai no Gakoo. Apalagi yang satu ini cukup elit, dengan wajah yang err--luar biasa tampan, tubuh tegap, dada bidang, tatapan dingin, dan sikap cuek-nya membuat hampir seluruh kaum hawa di sini terpesona.
Nampan yang di bawah hanyalah berisi sebuah sandwich dengan ekstra tomat di dalamnya, dan sebuah jus tomat kotak.
Dengan tenang pria itu mulai memakan hidangannya.
Hampir seluruh pasang mata telah menatap Yoshiki hari ini. Dan setelah itu mulut mereka mulai menggumankan apa yang baru saja mereka lihat baik perempuan maipun laki-laki di sana.
"Hei bukannya dia Kuroto Yoshiki dari kelas 3-1?"
"Ya, baru pertama kali ini aku melihatnya ke kantin"
"Cih dia kemari hanya untuk tebar pesona pada perempuan, apalagi siswa baru" bisik para kaum adam.
"Hei hei... dia lumayan ya"
"Hottest! Sexyest! Dia siapa sih!!?"
"Mau coba ke sana? Duduk di sampingnya?" Seorang gadis dengan rambut pendek berwarna coklat bertanya kepada temannya.
"Ikut!"
"Aku juga!"
Dan jadinya, ketiga gadis berjas warna hijau itu kini berdiri di depan meja Yoshiki.
Yoshiki hanya memberikan tatapan datar pada ketiganya.
"Ano... boleh kami makan di sini?" Tanya gadis berambut coklat itu ragu-ragu.
"Hn..." Yoshiki hanya berguman datar. Sesungguhnya, dia sama sekali tidak perduli terhadap mereka.
"Namaku Mihiro Shodo!"
"Aku Yuka Kuze!"
"Kikuna Takimoto!"
Mereka bertiga memperkenalkan diri.
"Hn..." Yoshiki hanya berguman sembari meminum jus tomat kotak-nya.
"Lalu, siapa nama kakak?" Mihiro--si berambut coklat--mencondongkan diri ke arah Yoshiki.
"Kuroto Yoshiki" Yoshiki menjawab datar.
"Kakak suka tomat ya? Semuanya serba tomar" sambung Yuka.
"Hn..." lagi-lagi Yoshiki berguman malas.
"Kakak di kelas mana?"
"3-1" Jawab Yoshiki singkat, padat, dan dingin.
Ketika orang junior itu langsung terdiam. Sepertinya ini pertama kali bagi mereka menghadapi cowok dingin.
Mata Hana terbelalak melihat ketiga junior duduk dan bercanda di meja Yoshiki sekarang.
"Apa-apaan mereka!?" geram Hana.
Yui sendiri hanya bertopang dagu malas mengamati.
"Yoshiki-kun juga kenapa sih?" Hana semakin geram.
"Lihat dulu, wajah datarnya itu menunjukkan dia sama sekali tidak memperhatikan dan tidak perduli kepada para junior itu" Yui menimpali.
"Tapi kenapa Yoshiki-kun makan di kantin?"
"Entahlah. Kau kan kekasihnya! Harusnya kau tahu kenapa. Atau jika kau tidak ingin kekasihmu menjadi penarik perhatian di kantin, kau harus membuatkannya bento besok"
"Eh, benar juga" Hana mengangguk setuju.
"Begitu ya... oh ya, apa kau memiliki alamat email Yoshiki-san?" Kikuna sudah mengeluarkan ponselnya.
"Tidak ada yang mengizinkanmu memanggilku dengan nama kecilku. Dan lagi jika aku memilikinya apa yang akan kalian lakukan? Memintanya? Tch..." Yoshiki segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan kantin. Mungkin ketiga gadis itu perlu diperiksakan ke dokter setelah mental mereka dibuat 'down' oleh Yoshiki barusan.
Bersembunyi, mengintip, berjalan berjingkat, dan mengawasi. Sungguh tingkah Hana sekarang seperti seorang detektif bodoh yang baru saja dikeluarkan dari kepolisian.
"Yo, Kuroto," dari arah belakang sosok Suzaku muncul dan menepuk pelan pundak Yoshiki.
"Hn..."
"Kau darimana?" Pemuda berkulit gelap itu terus mempertahankan senyum di bibirnya.
"Kantin." Jawab Yoshiki singkat.
"Wah pantas tadi di sana cukup ramai, sepertinya itu ulahmu ya?"
"Hn..."
Sapphire Hana terus mengamati sampai kekasihnya itu menaikki tangga menuju lantai kelas mereka.
"Hhh... mau sampai kapan kau menjadi seperti penguntit?" Yui bersilang tangan sembari menghela nafas melihat tingkah Hana.
"Yui. Sarankan aku makanan yang banyak mengandung tomat" Hana menatap Yui yakin.
***
Masih menjadi sebuah misteri. Kenapa Yoshiki yang notabene raja iblis jelas-jelas tidak membutuhkan makanan dan minuman untuk kelangsungan hidupnya tiba-tiba minum jus tomat dan makan sandwich isi tomat di kantin. Aneh bukan? Bukan. Bukan tomat berlebihan yang aneh. Yoshiki memang suka tomat dan sangat membenci keju. Hana tahu itu.
Sudah berkali-kali Hana berniat menanyakan hal ini kepada Yoshiki, tapi hasilnya dirinya malah menjadi sensitif karena teringat bagaimana para junior mendekati kekasihnya.
"Cih, jika dia memang berniat menggoda mereka kali ini kau tidak akan bisa menggoda mereka Yoshiki-kun! Lihat saja!" Hana menatap Yoshiki dengan tatapan membara dari belakang--Hana duduk di bangku urutan ke 4 dan barisan ke 4 dari pintu kelas, dan Yoshiki duduk di bangku urutan ke 2 dan barisan ke 3 dari pintu kelas.
Entah karena Yoshiki memang merasakan tatapan Hana, tiba-tiba kepala raven-nya menoleh ke belakang dengan memasang sebuah seringai di bibirnya. Sungguh sex--tidak tidak! Sungguh sialan! Apa-apaan itu!? Apa dia sedang mempermainkannya!?
"Ohayou" Tiba-tiba sebuah tepukan pelan padan bahu Hana membuat fokus Hana berganti kepada si penepuk. Itu Yui. Sahabat berambut ungu gelap-nya itu baru saja datang dan meletakan tasnya di atas bangku di depannya.
"Bagaimana?"
"Mission 80% complete" jawab Hana.
"Berjuanglah. Biasanya bagian tersulit berada di akhir loh"
"Aku tahu." Hana menatap Yui yakin. Tangannya menggenggam kuat tasnya.
Bel istirahat yang ditunggu akhirnya terdengar juga.
Seperti harapan Hana. Yoshiki bersiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu belakang kelas--dan akan melewati bangkunya.
Dari luar kelas sudah terdengat riuh para junior yang sedari tadi terus mengintip dan berguman tak sabar. Membuat Hana semakin kesal dan rasanya ingin menendang mereka satu per satu.
Kedua telapak Hana terus menggenggam sebuah bungkusan dengan kuat. Jantungnya berdetak tak tentu.
Ini aneh. Kenapa dia harus bersikap berlebihan seperti ini? Yoshiki kekasihnya. Wajar bukan jika dia memberikan sebuah bento untuk kekasihnya? Astaga... sungguh, ini bukan seperti dirinya saja.
Tatapan tajam dan kelam Yoshiki terus menatap ke arah bangku Hana. Ia terus mengamati apa yang tengah Hana perbuat--walau sedari tadi Hana hanya menunduk.
Tap.
Yoshiki dengan kedua tangannya memasuki saku celananya itu akhirnya melewati bangku Hana dan terus berjalan keluar kelas.
"Hana!" Yui menghardik Hana dengan keras melihat ketololan Hana yang terus terdiam.
Srak.
Dengan wajah setengah yakin dan tidak yakin akhirnya Hana berdiri dari tempat duduknya dan berlari menyusul Yoshiki keluar kelas.
Tap.
Hana berhenti di depan pintu kelas. Menatap kekasih--suaminya tengah didekati dengan banyak perempuan.
"Kuroto-kun, aku membuatkan bekal untukmu" seorang gadis dengan rambut hitam panjang menyerahkan sebuah bento ke arah Yoshiki.
Tatapan Hana saat itu seolah berkata akan-kupotong-kepalamu-dan-memasukkan-kepalamu-ke-dalam-ring-basket-setelah-ini.
"YOSHIKI-KUN!" Hana berteriak tiba-tiba dengan cukup keras.
Seluruh perhatian dari seluruh siswa yang tengah berada di lorong seketika terpuasat ke arah Hana yang sekarang sedang menggenggam bento dengan kedua tangannya di belakang tubuhnya dan dengan wajah memerah, berkeringat, menahan debaran jantungnya.
Ada selang beberapa detik saat Hana berusaha menetralkan dirinya.
"Kenapa dia memanggil Kuroto-kun dengan panggilan begitu?"
"Apa dia memiliki hubungan dengan Kuroto-kun?"
"Apa-apaan perempuan itu!?"
Protes kecil-kecilan mulai terdengar dari mulut para junior.
Yoshiki masih menatap Hana dengan tatapan datarnya.
Sementara Yui, Maki, dan Shiro terus menonton adegan itu dari balik pintu kelas. Dengan tatapan yang sangat susah dijelaskan.
"...." Hana menyodorkan bento buatannya. Kepalanya ia tundukkan menahan ruam merah yang mendadak memenuhi kepalanya. Sial! Wajahnya terasa panas.
"Hn?" Yoshiki sudah tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum lagi.
"A-aku membuatkan bento untuk Yoshiki-kun!" Hana berusaha mengeraskan suaranya.
"Apa!? Tidak bisa! Kuroto-kun akan memakan bento buatanku!" Sang Junior merengek tidak terima.
Kaki Yoshiki melangkah ke arah Hana dan tangannya meraih bento di tangan Hana.
"Hn, sepertinya terlihat enak." Yoshiki berguman sambil memasuki kelas.
"Kenapa? Kenapa Kuroto-kun menerima bento darinya?"
"Siapa dia?"
Gumanan-gumanan kekecewaan memenuhi pintu belakang kelas 3-1.
"Oy! Jangan berisik di sini deh! Kembali ke kelas kalian!" Makoto Hasekura. Ketua kelas 3-1 yang memiliki rambut berwarna coklat kehitaman dan berkacamat itu menghardik para junior yang menurutnya membuat kelas 3-1 menjadi ramai dan rusuh.
Kini Hana sudah duduk di bangku milik Shiro--yang duduk di depan bangku Yoshiki--dengan posisi menghadap Yoshiki yang tengah memakan bento buatannya.
Hana hanya tersenyum saat Hasekura memberinya acungan jempol--tanda posisi sudah aman. Sungguh beruntung memasuki kelas 3-1. Satu kelas dengan ketiga sahabatnya, kekasihnya, kekasih sahabatnya, teman-teman terpercayanya, dan beberapa orang lain yang walaupun terlihat cuek namun tetap menomorsatukan kekeluargaan. "Thanks Hasekura."
"Hn... Kare tomat tidak buruk juga..." Yoshiki berbicara sembari mukutnya mengecap rasa asam yang menjadi favoritnya itu.
"Kau suka?"
"Hn... ini terbaik."
"Kalau begitu habiskan itu," Hana tersenyum tulus. "Dan... kau berhutang penjelasan padaku Yoshiki-kun," Hana menatap Yoshiki jengkel sekarang.
Yoshiki menelan gumpalan tomat pada kerongkongannya dengan agak kesusahan, lalu tertawa pelan. "Hn, akan kujelaskan sejelas mungkin."
"Jadi, bisa tolong kau jelaskan apa yang terjadi selama 4 hari ini Mr. Kuroto?" Hana duduk dengan santai di depan meja kerja Yoshiki.
"Tentu saja Miss Kuroto. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu." Sebuah seringai meluncur mulus pada bibir sexy pria dihadapannya.
Ruam merah pada pipi Hana mendadak muncul sesaat setelah melirik bibir empuk Yoshiki. "Aku tidak akan bertanya. Jelaskan saja semuanya dari awal," Hana meneguk ludahnya menahan kesal.
"Hn... Kishima Suzaku. Akhir-akhir ini aku mencium bau busuk Exorcist dari tubuhnya."
"Kau mau bilang Suzaku-kun adalah Exorcist?"
"Tidak. Dia hanya berbau Exorcist. Kemungkinan besar dia dekat dengan salah satu dari mereka."
"Lalu?"
"Dia belum mengetahui informasi mengenai kita. Tapi waktu itu dia sempat bertanya kepadaku mengapa ia tak pernah melihatku ke kantin untuk makan. Sebenarnya aku bisa dengan mudah membuatnya melupakan ucapannya itu. Tapi itu akan membuat hal merepotkan lainnya muncul."
"Merepotkan?"
"Hn. Exorcist akan mencium hal itu. Mereka akan bertindak. Aku malas menanggapi mereka."
"Hanya begitu?"
"Hn. Hanya begitu." Kembali Yoshiki mengulas senyuman tipis.
"Cih. Apa-apaan itu. Membuatku kerepotan saja," Hana mendecih kesal.
"Hn... Mereka... para junior itu juga merepotkan."
"Huh apa bukannya kau malah senang?'
"Mereka berisik."
"Jadi.... sudah berapa junior yang mengirimkanmu email? Mereka meminta alamat emailmu kan?" Hana mematap Yoshiki curiga.
"Hn..." diletakknya ponsel pintarnya di atas meja. Ditatapnya Hana dengan tatapan 'periksa-saja-ponselku'.
"Ah... oke-oke. Sekarang sudah jelas~" Hana mendorong punggungnya ke belakang hingga bersentuhan dengan kursi.
"Hn. Jadi selama 3 hari terkahir ini kau menjadi sensitif karena kau cemburu?" Yoshiki tersenyum menyeringai.
"!!?" Wajah Hana mendadak memerah merespon pertanyaan Yoshiki.
"Hn, lain kali aku ingin kau membuatkanku salad tomat." Yoshiki tersenyum tipis.
"Ya... akan kubuatkan... dan akan kucampurkan Kalium Sianida di dalamnya!" Hana berteriak tsundere.
Jumat, 04 Desember 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar