Selasa, 14 Juli 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 47]

CHAPTER 47: Chatch You

Siapa yang peduli pada rambu-rambu lalu lintas jika istrimu hendak melintasi negara tanpa sepengetahuanmu?
Kuroto Yoshiki menyetir bagai orang sakit jiwa. Kakinya terus menginjak pedal gas tanpa kenal ampun walaupun spidometernya sudah hampir menyentuh angka 200 km/hour dalam kota. Ia tidak peduli pada dampak apa yang ditimbulkan. Ia tidak peduli bahkan jika ada manusia yang meregang nyawa kerenanya.
Ia telah gelap mata. Yang ia pikirkan hanya mengejar Hana sebelum istrinya itu berhasil menaiki pesawat. Skenario terburuk adalah Hana sudah berada dalam penerbangan menuju Meksiko. Namun ia masih bisa menyusulnya dengan jet pribadi.
Apapun yang terjadi, ia akan menyeret perempuannya itu pulang. Dengan atau tanpa kaki sekalipun.
Decitan mesin ber-rpm tinggi itu hampir memekakkan telinganya sendiri. Tanpa pusing memikirkan hancurnya ban mobilnya akibat gesekan rem paksa dari kecepatan setinggi itu hingga berhenti, Yoshiki membawa tubuhnya keluar mobil dan berlarian di dalam bandara.
Jika bukan seorang raja iblis yang bisa seenaknya membuat semua area dalam radiusnya menjadi freeze ia pasti akan mengalami kesusahan saat ini. Puluhan penjaga keamanan pasti akan digerakkan untuk menghentikannya yang berusaha menerobos masuk tanpa tiket penumpang.
Mata gelapnya dengan awas mengamati setiap wajah yang ia lewati. Arah berlarinya pun telah ia sesuaikan dengan jalur gerbang penerbangan yang menuju Meksiko.
‘Dimana? Dimana kau My Lady!?’
.
Hana yang merasakan sebuah keributan di ujung pandangannya menolehkan kepalanya kea rah keributan. Didapatinya dari ujung gerbang pemeriksaan seseorang tengah berlari.
“Keigo-kun!” Hana berteriak panik.
Keigo merespon teriakan Hana dengan menggandengan dan menarik tangan Hana. Keduanya tanpa memperdulikan kerumunan manusia lain yang juga menggunakan fasilitas bandara mulai berlarian.
“Iblis itu kenapa bisa secepat itu menyadari kalau kita di bandara!” Rutuk Keigo sambal mengatur pernafasannya untuk berlari.
“Kan tadi sudah kubilang! Kemanapun kita pergi sepertinya Yoshiki-kun akan selalu tau!” Susah payah Hana menyeimbangkan langkah lari Keigo dengan tangan yang lain ia gunakan untuk memegangi hoodie dan topi yang menempel pada kepalanya.
“Dan kamu masih mau hidup bersama stalker itu? Hana kamu harus lepas dari iblis itu! Kamu harus hidup sebagai manusia normal!”
Hana tidak bisa menebak ekspresi apa yang di keluarkan pria itu saat mengucapkan kalimat itu. Sesuatu seperti menggelitik dirinya saat mendengar kalimat itu. Seolah-olah ia mampu membayangkan jika pra dari masa kecilnya telah datang sebagai pangeran yang menyelamatkan dirinya dari cengkraman raja iblis.
Jawaban yang ia berikan kepada keigo adalah dengan mempercepat langkah kakinya. Walaupun begitu ia masihlah tidak yakin ingin meninggalkan kehidupannya selama ini…
.
Kedua bola mata Yoshiki menatap pergerakan lari dari kedua manusia yang berada tak jauh darinya. Orang bodoh sekalipun pastinya akan menyadari jika kedua sosok itu berlari karena suatu hal, dan hal yang paling mencolok dari kondisi saat ini yang mampu membuat kedua sosok itu berlari adalah keberadaannya. Bingo. Kedua sosok itu adalah incarannya.
‘My Lady!’ Sesuatu di dalam dirinya seperti meraung bagai hewan liar. Tanpa sadar ia mengalirkan energi tertingginya untuk mengejar sang istri.
Entah ini bisa disebut berlebihan atau tidak, tanpa sadar ia mengeluarkan semua kekuatannya untuk menghentikan setiap pergerakkan di sekitarnya ketika ia berlari. Bukan ia menghentikan waktu. Ia hanya, membuat segalanya berhenti dalam radius tertentu.
GRAB
Tubuh Hana limbung ke belakang tanpa ia sempat mengambil pertahanan.
Yoshiki menindih tubuh perempuan itu. Tanpa memperdulikan jika punggung sang perempuan bertemu dengan dinginnya lantai bandara, Yoshiki dengan segala emosi kemarah dalam dirinya meletakkan telapak tangannya pada leher sang perempuan. Seolah-olah jika Hana hendak memberontak ia bisa mematahkan tulang lehernya dengan mudah.
“Rencana gagal, My Lady,” ucapnya sarkartis.
“L-Lepaskan Yoshiki-kun!” Namun tentu saja bukan perempuannya jika sosok itu tidak melawan sama sekali.
“Melepaskanmu supaya kau bisa kabur ke Meksiko dengan si sialan itu?”
“Kenapa Yoshiki-kun bisa secepat itu tau?” Hana terus berusaha melepasana tangan Yoshiki dari lehernya.
“Kau istriku,” Yoshiki mendekatkan wajahnya pada wajah Hana, “bukankah wajar jika seorang suami selalu mengetahui segala hal tentang istrinya?”
Tubuh Hana terus berontak berushaa melepaskan lehernya dari cengkraman tangan elang milik Yoshiki. Keigo Yasumoto ada di dekat elevator dalam posisinya yang membatu tak bergerak akibat sihir Yoshiki tentu saja.
Yohshiki yang menyadari jika atensi sang istri mengarah pada Keigo Yasumoto, lantas melepas cengkraman tangannya, “My Lady, bukankah sudah kukatakan bukanlah sebuah ide bagus untuk membuat suamimu cemburu?”
Hana terbatuk-batuk setelah cengkraman pada leher yang menyebabkan tenggorokkannya terhimpit itu pergi, membuatnya kehilangan fokus pada Keigo Yasumoto yang dalam bahaya.
“… Apalagi, kau masih berani menatap pria lain. Padahal di hadapanmu ada suamimu. Sekarang mari kita lihat sehebat apa pria itu sampai-sampai kau bisa mengalihkan pandanganmu dariku?”
Kedua bola mata Hana terbelalak begitu melihat Yoshiki mengeluarkan sebuah pulpen dari saku kemejanya.
“Tidak… tidak… jangan Yoshiki-kun…” Hana hanya bisa menggeleng lemah seolah mengetahui apa yang akan dilakukan sang mantan suami. Tubuhnya yang masih shock dan kondisi tenggorokkannya membuat dirinya sama sekali tidak berdaya.
Seriangaian yang bertengger pada rahang sempurna Yoshiki seolah semakin menawan begitu sang empunya menatap ke arahnya dengan sarkastik, “tentu saja iya My Lady.”
“Pertama… kedua ginjal…” berselang beberapa detik dari gumanan yang entah mengapa terdengar begitu seksi itu, pulpen sebagai alat tulis telah beralih fungsi sebagai benda tajam.
Tancapan pertama dilancarkan mulus tanpa halangan. Sebagaian besar pulpen itu menghujam tepat pada ginjal Keigo yang hanya terdiam akibat sihir Yoshiki. Tidak hanya itu, hujaman berikutnya datang lagi pada ginjalnya yang lain.
Yoshiki hanya tersenyum tipis menatap kedua lubang kecil yang aliran darahnya terhenti karena ulahnya.
“AAAAAAAAAA—”
Yoshiki menoleh panik kea rah sumber suara. Hana tiba-tiba saja sudah menerjangnya berusaha menahan dirinya untuk tidak memberikan luka lain kepadda Keigo.
“Ck!” Berdecak kesal, akhirnya Yoshiki lebih memilih untuk menggeret paksa Hana.
“T-Tunggu Yoshiki-kun! Keigo-kun berdarah di sana! Tunggu!” Lagi-lagi Hana berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman kedua tangan Yoshiki yang terus menggeretnya keluar.
“Lalu kenapa? Bukankah ini salah kalian berdua?” Ujar Yoshiki dingin sementara cengkramannya pada tangan Hana tak mengendur sama sekali.
“S-salah?”
“Hn. Aku membiarkanmu bermain sebentar bersama si sialan itu. Dan malam ini aku berniat menjemputmu untuk mengikuti sebuah pesta, dan kau… dan si sialan itu malah berniat meninggalkan Jepang. Sebegitu inginnya kau meninggalkanku, eh, My Lady?”
Mendengar jawaban Yoshiki, rontaan tangan Hana seolah semakin menggila, “memangnya kenapa kalau aku dan Keigo-kun meninggalkan Jepang!?”
Tiba-tiba sebuah jarum suntik sudah tertancap pada leher Hana, cairan bening di dalamnya dengan cepat mengalir masuk ke dalam pembuluh darah Hana. Dengan bantuan pompaan dari jantung, sepertinya tak membutuhkan waktu lama bagi cairan tersebut untuk bereaksi pada tubuh Hana.


“A-apa—?” Belum habis pertanyaannya, Hana sudah limbung sebelum akhirnya tubuhnya itu ditangkap oleh Yoshiki.
“Ini obat yang menyerang pusat kendali organ sadarmu My Lady. Bekerja untuk menghambat implus yang masuk. Membuatmu terutama merasa mati rasa pada alat gerakmu,” bisik Yoshiki datar.
Digedongnya tubuh sang istri sebelum akhirnya ia menghentikan sihirnya untuk menghentikan segara pergerakkan dalam radiusnya.
Dari kejauhan Hana mampu mendengar raungan Keigo yang memanggil-manggil Namanya. RIntihan itu begitu menghancurkan perasaannya.
“A—aaa—a,” namun bagi dirinya sendiri untuk mengeluarkan sebuah suara saja terasa begitu susah. Apa yang Yoshiki masukkan ke dalam tubuhnya!?
Suara gaduh menggema di seluruh bandara, membawa semua arus manusia memasukki bandara untuk mengetahui apa yang terjadi. Sementara mereka berdua malah melawan arus dengan tenang.
‘Keigo-kun…. Maafkan aku.’

.
.

“My Lady telah siap, My Lord,” dengan pemberitahuan seperti itu, kepala Yoshiki reflex menoleh ke belakang.
Di dalam dress room itu, Hana duduk di kursi rodanya dengan posisi yang anggun. Dress panjang telah menutupi tubuhnya dengan beebrapa aksesorisnya. Make up yang dikenakan pun tidak terlalu mencolok namun entah kenapa membuat auranya lebih feminim.
“….” Yoshiki sekilas memalingkan wajahnya. Sudah berapa lama dia hidup di muka bumi? Sudah berapa wanita ia sentuh? Kenapa dia merasa malu hanya karena melihat istrinya menjadi lebih cantik? Memangnya dia ini pemuda baru puber?
Yoshiki dengan setelan tuxedo yang telah rapi mendatangi Hana, “kau cantik, My Lady.”
Rasa bahagia dalam diri Yoshiki menguap begitu menyadari jika Hana hanya menatapnya dengan tatapan kosong dan raut sedih. Namun hatinya yang dingin membuatnya cukup ahli dalam menopengi emosinya. Diusapnya pipi Hana dengan lembut, “sudah siap bukan? Kita berangkat.”
Benar. Ia tidak peduli jika Hana tidak menyukai semua ini. Saat ini hal terpenting adalah Hana tetap berada di sisinya.

.

Begitu Audi gelap yang mengantar mereka berhenti di depan sebuah hotel pencakar langit, Yoshiki dengan sigap menggendong Hana ala bridal, menghantarkan wanitanya itu pada kursi roda yang telah siap. Pelumpuh organ gerak sadar yang ia konsumsi masih bekerja, dan Hana memperkirakan jika obat ini akan terus memiliki efek setidaknya sampai pesta yang menjadi keinginan Yoshiki berakhir. Atau kemungkinan terburuknya, ketika efeknya sudah habis pun Yoshiki akan kembali menyuplai tubuhnya dengan obat kembali. Supaya tubuhnya tidak akan pernah bisa bergerak bebas lagi? Entahlah. Membayangkan itu bisa membuat Hana bergidik ngeri.
“Selamat malam, My Lord, My Lady. Silahkan menuju lift ini,” bellboy menyambut keduanya dengan mengarahkan pada lift yang juga telah dijaga seorang liftman.
Begitu keduanya telah mencapai lantai hall, pintu lift terbuka menampakkan Yoshiki yang demia dewa-dewi memang luar biasa tampan dengan bangga mendorong kursi roda Hana.
Hana sendiri justru merasa silau. Gerlapan lampu kaca nan indah dan berkesan sangat eropa menghujani bola matanya. Indah dan elegan. Dari sudut pandanga manapun akan terlihat jelas jika pesta mala mini bukanlah pesta biasa. Oh bahkan jika ia tidak salah ia sekilas melihat beberapa wajah artis/aktor familiar. Bahkan lihat saja di ujung sana, pria yang tengah berbicara dengan segerombol orang itu, Hana yakin jika pria itu adalah anggota dewan kota.
Sebenarnya pesta macam apa ini?
Yoshiki terus mendorong kursi roda Hana dengan wajahnya yang penuh pride. Hingga sosok seorang anak kecil menghalang keduanya.
“Kukira kalian berpisah?” Sosok anak kecil itu seolah menatap dengan merendahkan dan mengejek. Baru kali ini Hana melihat seseorang—anak kecil terlebih—berani begitu sekurang ajarnya pada Yoshiki.
“Hn, mustahil bukan hal itu, eh? My Lady?” bersamaan dengan itu Yoshiki sudah mendaratkan kecupan ringan pada pipi Hana.
“Hooo…. Tapi dia terlihat menolak tuh sama kamu,” sosok anak kecil itu kembali mengejek Yoshiki.
“Hn, dia hanya sedikit membangkang.”
Bocah kecil yang terlihat seolah belum genap sepuluh tahun itu tertawa terkikik, “lihatlah dirimu, sampai menjadi serendah itu hanya karena manusia sepertinya.”
“Itu bukan urusanmu, Mammon.”
Hana sedikit tersentak mendengar bagaimana Yoshiki memanggil bocah di hadapannya. Mammon katanya? Iblis yang selalu disebut-sebut sebagai biang ketamakan itu?
“Yaaah… memang benar sih,” bocah berambut pirang itu hanya menaikkan kedua bahunya sekilas, “selamat bersenang-senang kawan. Aku pamit duluan,” sang bocah berjalan melewati keduanya dengan santai.
“Ada keperluan?” Tanya Yoshiki datar tanpa menoleh.
“Ya. Ada sedikit negosiasi yang harus kulakukan dengan Rafael.”
Rafael! Hana kembali mendengar nama luar biasa di sini. Siapa yang tidak mengenal nama salah satu malaikat besar Rafael? Dan entah mengapa Hana merasakan aura Yoshiki memberat begitu sang bocah mengucapkan nama malaikat itu.
“Sampaikan salamku padanya,” ucap Yoshiki dengan nada yang seolah-olah meremehkan.
“Tentu. Akan kutakan padanya kalau kakak Lucifer merindukan surga,” dengan demikian sang bocah sepertinya benar-benar menghilang dari balik lift.
“Merindukan surga, eh?” Guman Yoshiki.
Dalam kondisi tubuhnya yang masih terpenaruh oleh obat Hana hanya bisa terdiam. Ia benar-benar masih tidak percaya jika ia menjalin hubungan dengan seorang iblis terlebih seorang Lucifer yang berkenalan dengan Mammon dan bahkan Michael sang malaikat agung!
Kalau sampai ada Mammon di sini memangnya pesta ini pesta apa!?
Rasanya Hana ingin berteriak sekarang.
Berselang setelah ia mendengar Yoshiki menghela nafasnya panjang, ia merasakan kursi roda yang ia duduki kembali bergerak.
“Apa kau meninginkan sesuatu?” Tanya Yoshiki.
Perlahan Hana menggelengkan kepalanya walaupun dengan sedikit kesusahan dan upaya penuh.
Keduanya berjalan di antara kerumunan manusia yang berkumpul pada kubu mereka masing-masing. Pria-pria dengan tuxedo rapi mereka, wanita-wanita dengan gaun indah mereka, semuanya berkumpul entah membicarakan keuangan internsional, kondisi pasar, trend mode terbaru, sampai bahkan jika Hana tak salah dengar mengenai penyelundupan manusia.
Seharusnya Hana sudah terbiasa dengan hal-hal gila yang ia dengar. Sejak ia memutuskan menerima Yoshiki Kuroto di awal, seharunya ia sadar jika hal-hal gila akan terus mengikutinya.
“My Lord,” seorang pria dengan tuxedo hitamnya mendatangi keduanya. Pria yang Hana tebak mungkin berada di sekitaran usia 70 tahun mengingat rambutnya sudah cukup beruban itu menunduk hormat. Tunggu, rasanya wajah pria ini tidak asing. Dimana ia melihat wajah pria ini?
“Inoue Nishio,” Yoshiki berujar datar.
Inoue Nishio! Akhirnya Hana ingat. Pria ini adalah pengusaha berlian yang dalam berita sering disebut-sebut calon perebut tahta Jack Ma yang merupakan manusia terkaya di dunia.
“My Lord,” beberapa pria lain mulai berdatangan merebungi keduanya.
“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda di sini My Lord—” kalimat Inoue terhenti ketika melihat Hana.
“Dia istriku. Kuroto Hana,” saat itu Hana benar-benar yakin jika Yoshiki menggunakan nada yang berbeda, tidak sedater yang biasanya. Sebuah nada kebanggan terselip di sana.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.