CHAPTER 41: It Goes On and On
Sepertinya sedikit banyak ucapanku berpengaruh kepadanya. Ia menatapku dengan kedua alis tertekuk, lalu kedua matanya basah oleh air mata.
“T-Tapi aku sudah tidak mampu lagi. T-tidak ada gunanya lagi aku menjalani kehidupanku. Aku anak sial! Membunuh kedua orang tuaku! Membawa sial kepada sekitar! Aku tidak layak hidup!” Begitu tidak bisa menahan luapan tangisannya ia memilih menyembunyikan wajahnya dibalik lengan-lengan kecilnya.
Dia begitu rapuh… seolah dengan satu sentuhan saja bisa hancur berkeping-keping.
“Huwaaaaaa!!” Tangisannya semakin menjadi-jadi.
Manusia memang makhluk lema dan pantas dihina. Tapi untuk kali pertama, aku sangat-sangat ingin menyelamatkan manusia hina ini.
Aku ingin mengusap air matanya.
Aku ingin memeluknya.
Aku ingin mendekapnya dan menenangkannya.
Ada sesuatu dalam diriku yang berubah.
“Kau bisa. Kau harus hidup. Sampai suatu saat nanti… kau akan tau alasan kenapa kau harus bertahan hidup. Karena banyak orang di luar sana yang mengharakan kau tetap hidup.”
Ia berhenti sesenggukkan, “bagaimana paman tau?”
Tanpa sadar aku tersenyum lemah kepadanya, “anggap saja aku di atara beberapa orang itu.”
Suasana hening di sore yang kelam habis ketika ia tiba-tiba berlari pergi.
Hari itu aku berhasil meredam keinginannya untuk mati. Tapi hal ini masih terus berlanjut.
.
Bulan 1, tanggal 30. Tahun 20xx
Tendensi untuk bunuh dirinya kembali mencuat.
Di dalam kamar mandi dengan tatapan kosong ia menggenggam sebuah cutter. Air mata terus menerus mengalir dari pelupuk matanya.
Tidak ada waktu lagi bagiku untuk berpikir. Aku mendatangi rumahnya dengan samara seorang petugas leding. Berkali-kali kuketuk pintu rumahnya, tidak ada sahutan. Situasi semakin menekanku, untunglah pintu sialan yang menghalangiku ini tidak terkunci. Entah dia yang ceroboh atau karena ia sudah tidak peduli lagi terhadap dunia ini.
Tanpa sadar tubuhku bergerak tergesa-gesa menuju kamar mandi. Dan tanpa pikir Panjang aku mendobrak masuk.
Dia ada di sana. Menatapku ketakutan dan kebingungan.
Syukurlah. Syukurlah dia masih di sini.
“A-anda siapa?” Tubuh kecilnya meringkuk di dekat bak mandi, tangannya mengigil menggenggam sebuah cutter yang sudah dikeluarkan bagian tajamnya.
“Petugas Leding di sini nona. Pintu depan tidak dikunci jadi saya tanpa sadar sudah masuk ke mari.”
“Ah… uh…,” ia gelagapan, “t-tapi saya tidak memanggil tukang leding.”
“Memang tidak. Tapi tetangga yang memanggil. Pipa saluran air mampet dan sepertinya terhubung dengan pipa rumah ini. Jadi saya ingin memeriksa saluran rumah ini untuk mencari sumber masalah,” tentu saja tidak begitu.
Ia Nampak kebingungan beberapa saat.Setelah mengusap kasar air mata dan ingusnya ia beranjak dari lantai.
Kulakukan pekerjaan bagai seorang tukang leding professional, sementara dia hanya berdiri di samping pintu mengamati pekerjaanku dengan tangannya yang masih menggenggam erat cutter.
Sesekali mataku yang mencuri-curi pandangan padanya tertangkap basah dan hal itu semakin membuatnya merasa tak nyaman.
“Kalau boleh tau, kau kenapa?” Ujarku di tengah pekerjaanku. Yang sebenarnya hanya membongkar pasang pipa.
Ia gelagapan, selalu begitu, kegelisahan dalam dirinya bertambah berat. Dia tidak menjawab.
“Cutter itu… mau kau gunakan untuk apa?” Aku masih bertanya tapi tanpa sekalipun menoleh ke arahnya.
Cukup lama keheningan terjadi tanpa kutau apa yang ia lakukan atau ekspresikan hingga ia menjawab, “aku mau bunuh diri.”
Aku terhenyak bukan main mendengarnya. Tanpa sadar aku menoleh ke arahnya. Wajahnya benar-benar kacau. Bocah itu bersusah payah menahan tangisnya yang hendak pecah.
“Paman pasti ingin menertawakanku kan sekarang, paman pasti berpikir, ada-ada saja bocah ini, masih kecil sudah ingin mati, lucu. Begitu kan?”
“Tidak,” jawabku berusaha tak acuh.
“Kalau begitu paman pasti berpikir, bocah ini sudah gila, kenapa tidak ke psikiater saja?”
Aku baru menyadari jika kedua hasil pemikirannya itu adalah ucapan saudara-saudara yang tidak sengaja menemukannya saat berusaha mencari cara bunuh diri yang tidak sakit beberapa hari lalu.
“Tidak,” jawabku lagi.
“Iya juga. Mana mungkin paman peduli.”
Tanpa memandang wajahnya pun, dari nada bicaranya aku bisa tau jika ia ingin diperhatikan. Keinginannya untuk mati memang ada, tetapi keinginannya untuk diperhatikan lebih besar.
“Jangan menyerah. Walaupun menurutmu jalan hidupmu berakhir di sini, tapi kau tidak pernah tau apa yang akan ada di ujung sana. Tetaplah bertahan sampai saat itu,” barang sekalipun tak kutatap wajahnya, yang kulakukan hanya melakukan pekerjaanku bagai seorang professional.
Terdengar suara gesekan dan gemerisik kain dari belakang, sepertinya ia baru saja mendudukkan dirinya.
“Paman pernah, ingin bunuh diri? Mengakhiri hidup?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang tidak mungkin dipertanyakan anak seumurannya.
“Entahlah. Tapi jika dendam mungkin aku masih membawanya sampai sekarang.”
“Dendam?”
“Hn. Ayahku membuangku, namun aku terus hidup sampai aku bisa membuktikan diriku kepadaNya. Lalu aku akan menghancurkanNya jika memungkinkan.”
“Paman… dibuang oleh ayah paman?”
“Hn.”
Tanpa sadar aku menceritakan tentang diriku padanya.
“Kau juga harus begitu. Kau harus tetap hidup sampai kau mampu membuktikan kehebatanmu pada orang-orang yang menghancurkanmu. Siapapun mereka.”
“Pfft—” Namun ia malah menahan tawa.
“Kenapa tertawa?”
“Ucapan paman sama seperti seorang pembersih kebersihan di sekolahku…” Ia tergelitik.
“Hn…”
Tentu saja sama bukan.
Aku menyelesaikan pekerjaan bongkar pasangku. Sebelum meninggalkan tempat aku berpesan kepadanya, “kau sudah berusaha yang terbaik. Jangan cepat mati, bocah,” dan kembali tanpa sadar tanganku bergerak mengusap rambut pendek hitamnya.
.
“Jadi memang Yoshiki-kun!”
Hana kembali termenung. Hal yang sangat ingin ia dapatkan saat itu adalah pengakuan jika dirinya telah berjuang. Dan Yoshiki memberikannya.
Ia ingat betul setelah tukang leding itu pergi, ia menangis sejadi-jadinya.
Catatan itu sekarang hanya terongok diam di dekat kaki yang ia tekut untuk menjadi sandaran kepalanya.
Ia sudah tidak tau lagi. Yoshiki secara luar biasa menyusup ke dalam hidupnya. Dan bisa dikatakan jika saat ini masih hidup pun karena Yoshiki.
Memang benar jika semua yang dilakukan Yoshiki hanya demi keegoisannya semata, demi kekuatan dalam dirinya. Tapi kembali lagi, Yoshiki bisa semena-mena menangkapnya, memenjarakannya, tapi pria itu tidak melakukannya. Pria itu memilih untuk membiarkannya hidup seperti biasa dan menjaganya dari jauh.
Oh sungguh cerita yang sangat romantic dan diinginkan oleh setiap gadis di penjuru dunia, dimana seorang pangeran tampan menjagamu secara diam-diam dan selalu ada di setiap kau membutuhkan bantuan.
Apa dirinya sudah bertindak jahat kepada Yoshiki? Sepertinya ia sangat keterlaluan dengan membuang cincin itu ke danau. Bahkan Yoshiki harus menyelam ke dalam danau untuk mengambilnya.
“Ah…. Aku tidak suka begini…” Hana menjatuhkan dirinya ke sofa terlungkup.
Matanya yang sudah suntuk menghadapi tulisan perlahan mengatup dan membawanya terjun ke dalam tidur.
.
Cahaya mentari yang menerobos masuk melewati jendela yang sudah tidak tertutup tirai membuat kedua kelopak mata Hana perlahan mengerjap, membangunkan sang empunya.
Kebingungan bukan main, Hana menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mengenali sekitar. Barulah ia sadar, ia sudah tidak akan berada di kamarnya Bersama Yoshiki, sekarang ia berada di rumah seorang sahabat lama, Keigo Yasumoto.
“Sudah bagun?”
Hana reflex menoleh ke asal suara.
Di dapur, pria itu mengenakan clemek dibalik kemeja putihnya yang sudah ia singsingkan lengannya sampai siku.
“Selamat pagi. Aku membuatkan makanan kesukaanmu.”
Ah sungguh pagi yang tenang. Jika ini mimpi Hana tidak ingin bangun sama sekali. Keigo Yasumoto sempat singgah di dalam ingatannya saat bocah sebagai calon suami idaman, dan kini pria itu sempurna sebagai suami idaman.
“Selamat pagi,” Hana meloncat kea rah Keigo, “woaaah cheese burger! Sepertinya berat sekali kalua dimakan di pagi hari ya,” Hana terkekeh.
Tangan Keigo sibuk membalik daging pada penggorengan yang merupakan penyebab bau semerbak penggunggah lapar, “mau bagaimana lagi, aku sangat ingin memasakkan makanan kesukaanmu ini.”
“Aaah… jadi kangen masakan bibi. Dulu sering makan bareng kan.”
Keigo tersenyum, “Iya, mungkin burger ini rasanya akan kalah dari masakan ibu. Tapi aku berusaha yang terbaik.”
“Jangan merendah begitu, baunya luar biasa enak. Pasti rasanya bakal enak juga. Omong-omong, ada yang bisa kubantu?” Hana berdiri di samping Keigo dengan semangat.
“Daripada membantu, lebih baik kamu cuci muka sana. Ada bercak air liur tuh.”
“Eh?” Begitu diusapnya tepian bibirnya dan mendapati sesuatu yang lengket wajah Hana memerah padam, “M-MAAF!” dan berlari menuju kamar mandi.
Keigo hanya terkekeh kecil melihatnya.
“!!!!” Pemuda itu terhenyak begitu merasakan sebuah aura menekan. Dibukanya jendela yang menghadap ruang tamunya dengan kasar.
Rahang Keigo mengeras begitu menyadari siapa yang menyebabkan dirinya merasa ditekan dengan luar biasa. Siapa lagi jika buka Kuroto Yoshiki. Iblis itu berdiri di beranda apartemen sebrangnya Bersama 2 iblis lain.
“Woops… Ketahuan…” Tomuro yang berdiri di samping Yoshiki mencoba melucu.
“Bagaimana tidak ketahuan jika My Lord melepaskan aura kecemburuan seperti itu…” Hazel mendesah berat.
“….” Yoshiki tidak berkomentar. Ia hanya menatap Keigo. Menatap Keigo dengan tatapan kebencian dan kutukan.
“Keigo-kun? Ada apa? Suara bukaan jendelanya keras sekali,” dari arah belakang Keigo, Hana muncul dengan wajah masih belepota sabun.
Pupil Yoshiki mengecil begitu Hana menampakkan wajah bodohnya, “ck!” Ia berdecak kesal tanpa sadar.
Hanya satu malam terlewati setelah kejadian kemarin malam, tapi ia sudah begitu merindukan perempuan berambut pendek itu. Jangankan hari ini, kemarin malam pun ia tak bisa tenang. Yang ia lakukan hanya berbaring terlentang di tengah-tengah ranjang besarnya. Tidak Hana di sampingnya. Tidak ada sosok yang meninduhnya tiba-tiba, memeluknya erat, atau mengisenginya tanpa sebab. Tapi perempuan itu ada di sana, Bersama pria lain.
“K-Kenapa mereka di sana?” Hana tak kalah kaget dengan Keigo, saking kagetnya ia sampai tanpa sadar berdiri di belakang Keigo untuk berlindung.
“Oh, tentu saja untuk menguntitmu My Lady! Anda tau, tuan kami tidak bisa berhenti memikirkan anda sama sekali,” jawab Tomuro seolah semakin memanas-manasi suasana.
Yoshiki mengibatkan tangannya tiba-tiba sebelum benar-benar membalik punggungnya dan menghilang memasuki ruangan.
Disambung hal itu mendadak gemuruh mengisi langit. Angin berhembus kencang dari arah barat menghempaskan apapun yang dilewatinya. Awan hitam bergulung-gulung berdatangan disusul suara petir yang memecah pagi cerah.
“Woa woa… gawat… dia sampai mau menghancurkan bumi ya?” Gurau Tomuro, namun ada sedikit ketakutan dalam kalimatnya. Apapun bisa terjadi jika sang raja iblis sampai benar-benar murka.
“Padahal ramalan cuaca di televisi barusan mengatakan hari ini akan cerah…” Keigo sibuk melindungi matanya dari debu yang bertebaran akibat angin badai.
“Kerja bagus, bitch,” Hazel menatap dingin tepat ke arah Hana kemudian meludah serampangan.
Keigo yang mendengar Hana dipanggil dengan Hina seperti itu lantas hendak melontarkan protes, “Apa katam—”
PRAAAANGG
JLEB
Belum habis kalimat Kegio, sebuah pisau Nampak melesat dari dalam kamar dan menusuk masuk ke dalam jantung Hazel lewat punggungnya. Perempuan itu memuntahkan darah sebelum membalik badannya untuk melihat sang pelaku yang ternyata sudah berdiri di samping pintu dengan wajah datar dan kosongnya, “kau katakana hal itu lagi, berikutnya kepalamu yang akan hancur Hazel.”
Wajah Hazel memerah luar biasa mendengar ucapan tuannya sebelum akhirnya beringsut jatuh menghilang dari balik pagar beranda.
“Astaga, kau berkata begitu saja sepertinya dia sudah sangat basah. Lihatlah wajah menjijikkannya itu,” Tomuro hanya mendesah Lelah.
Melihat tindakan serampangan Yoshiki, tanpa sadar tangan Keigo melebar untuk melindungi Hana yang berdiri di belakangnya. Kedua rahangnya saling bergemelatuk geram.
“…. Dasar iblis gila!” Desis Keigo bengis.
“Woah lihat, dia menatapmu seperti anak anjing menyedihkan yang berusaha menjadi pahlawan,” Tomuro menatap Yoshiki dengan sesekali melirik Keigo rendah.
Tetapi Yoshiki tidak merespon apapun. Pandangannya tetap kosong dengan ekspresi wajahnya yang datar ia kembali membalik badan setelah beberapa saat menatap Hana.
“Oi oi oi, astaga. Tidak ada yang sehat di sini,” Tomuro mengacak rambut merahnya kesal sebelum akhirnya berteriak mengambil atensi setiap orang, “Kuroto Hana!”
“Aku Rayumi Hana! Bukan Kuroto Hana!” Teriak Hana dari balik punggung Keigo.
“Tunggu saja waktunya sampai kau kembali ke pelukan tuan kami.”
Cengkraman Hana pada pungung Keigo mengerat begitu mendengar kalimat Tomuro.
“Hei, ayo kembali. My Lord sudah mendahului tuh,” Tomuro menggendong paksa Hazel yang setengah sadar di bawah sana.
.
“Kelas terakhirmu pukul 4 sore? Aku jemput di sini lagi ya,” ucap Keigo sambal menerima helm yang tadi dikenakan Hana.
“Keigo-kun,” namun hana menghentikan panggilannya karena seharusnya ia memanggil teman masa kecilnya ini lebih sopan jika berada di area kampus mengingat status mereka, “ups Yasumoto-sensei, tidak ke departemen?”
Keigo tersenyum tipis melihat keluguan Hana, “aku masih ada keperluan di Riset Center, jadwalku mengajar hari ini juga hanya di Kelas Bersama,” kelas Bersama adalah kelas untuk mahasiswa tahun pertama, materi perkuliahannya pun sekitar dasar-dasar saja.
“Oh… baiklah bila begitu. Selamat bekerja Keigo-kun,” Hana tersenyum renyah.
Tak tahan menahan gemas mungkin, Keigo mengacak rambut hitam Hana hingga cukup berantakan, “Hana juga, selamat belajar ya! Dagh!”
“….” Beberapa meter dari situ, seorang pria yang tidak lain adalah Kuroto Yoshiki berdiri menyaksikan dengan rahang mengeras.
Mood Hana saat itu bisa dibilang sudah membaik karena ia berjalan di Lorong kelas dengan senyum mengembang seperti biasa. Hingga sesosok tubuh berkemeja dan berjaket hitam berjalan di sampingnya. Hana cukup kaget namun kemudian menutupinya, karena Kuroto Yoshiki yang berjalann di sampingnya memajang wajah stoic seolah-olah tidak terjadi apapun di antara keduanya.
Sudah beberapa laboratorium dan kelas mereka lewati Bersama. Dan sialnya kelas mereka ada di ujung Lorong sana. Hanya beberapa meter lagi tapi rasanya Hana ingin menangis di tempat karena suasana canggung yang mencekam yang tercipta. Tidak ada kalimat atau sapaan sama sekali dari pria di sampingnya. Dia hanya berjalan di sampingnya.
Mungkin karena terlalu tegang, Hana sampai tidak menyadari adanya sebuah kertas di lantai, membuat kakinya tergelincir.
“Eh?”
Sepertinya sedikit banyak ucapanku berpengaruh kepadanya. Ia menatapku dengan kedua alis tertekuk, lalu kedua matanya basah oleh air mata.
“T-Tapi aku sudah tidak mampu lagi. T-tidak ada gunanya lagi aku menjalani kehidupanku. Aku anak sial! Membunuh kedua orang tuaku! Membawa sial kepada sekitar! Aku tidak layak hidup!” Begitu tidak bisa menahan luapan tangisannya ia memilih menyembunyikan wajahnya dibalik lengan-lengan kecilnya.
Dia begitu rapuh… seolah dengan satu sentuhan saja bisa hancur berkeping-keping.
“Huwaaaaaa!!” Tangisannya semakin menjadi-jadi.
Manusia memang makhluk lema dan pantas dihina. Tapi untuk kali pertama, aku sangat-sangat ingin menyelamatkan manusia hina ini.
Aku ingin mengusap air matanya.
Aku ingin memeluknya.
Aku ingin mendekapnya dan menenangkannya.
Ada sesuatu dalam diriku yang berubah.
“Kau bisa. Kau harus hidup. Sampai suatu saat nanti… kau akan tau alasan kenapa kau harus bertahan hidup. Karena banyak orang di luar sana yang mengharakan kau tetap hidup.”
Ia berhenti sesenggukkan, “bagaimana paman tau?”
Tanpa sadar aku tersenyum lemah kepadanya, “anggap saja aku di atara beberapa orang itu.”
Suasana hening di sore yang kelam habis ketika ia tiba-tiba berlari pergi.
Hari itu aku berhasil meredam keinginannya untuk mati. Tapi hal ini masih terus berlanjut.
.
Bulan 1, tanggal 30. Tahun 20xx
Tendensi untuk bunuh dirinya kembali mencuat.
Di dalam kamar mandi dengan tatapan kosong ia menggenggam sebuah cutter. Air mata terus menerus mengalir dari pelupuk matanya.
Tidak ada waktu lagi bagiku untuk berpikir. Aku mendatangi rumahnya dengan samara seorang petugas leding. Berkali-kali kuketuk pintu rumahnya, tidak ada sahutan. Situasi semakin menekanku, untunglah pintu sialan yang menghalangiku ini tidak terkunci. Entah dia yang ceroboh atau karena ia sudah tidak peduli lagi terhadap dunia ini.
Tanpa sadar tubuhku bergerak tergesa-gesa menuju kamar mandi. Dan tanpa pikir Panjang aku mendobrak masuk.
Dia ada di sana. Menatapku ketakutan dan kebingungan.
Syukurlah. Syukurlah dia masih di sini.
“A-anda siapa?” Tubuh kecilnya meringkuk di dekat bak mandi, tangannya mengigil menggenggam sebuah cutter yang sudah dikeluarkan bagian tajamnya.
“Petugas Leding di sini nona. Pintu depan tidak dikunci jadi saya tanpa sadar sudah masuk ke mari.”
“Ah… uh…,” ia gelagapan, “t-tapi saya tidak memanggil tukang leding.”
“Memang tidak. Tapi tetangga yang memanggil. Pipa saluran air mampet dan sepertinya terhubung dengan pipa rumah ini. Jadi saya ingin memeriksa saluran rumah ini untuk mencari sumber masalah,” tentu saja tidak begitu.
Ia Nampak kebingungan beberapa saat.Setelah mengusap kasar air mata dan ingusnya ia beranjak dari lantai.
Kulakukan pekerjaan bagai seorang tukang leding professional, sementara dia hanya berdiri di samping pintu mengamati pekerjaanku dengan tangannya yang masih menggenggam erat cutter.
Sesekali mataku yang mencuri-curi pandangan padanya tertangkap basah dan hal itu semakin membuatnya merasa tak nyaman.
“Kalau boleh tau, kau kenapa?” Ujarku di tengah pekerjaanku. Yang sebenarnya hanya membongkar pasang pipa.
Ia gelagapan, selalu begitu, kegelisahan dalam dirinya bertambah berat. Dia tidak menjawab.
“Cutter itu… mau kau gunakan untuk apa?” Aku masih bertanya tapi tanpa sekalipun menoleh ke arahnya.
Cukup lama keheningan terjadi tanpa kutau apa yang ia lakukan atau ekspresikan hingga ia menjawab, “aku mau bunuh diri.”
Aku terhenyak bukan main mendengarnya. Tanpa sadar aku menoleh ke arahnya. Wajahnya benar-benar kacau. Bocah itu bersusah payah menahan tangisnya yang hendak pecah.
“Paman pasti ingin menertawakanku kan sekarang, paman pasti berpikir, ada-ada saja bocah ini, masih kecil sudah ingin mati, lucu. Begitu kan?”
“Tidak,” jawabku berusaha tak acuh.
“Kalau begitu paman pasti berpikir, bocah ini sudah gila, kenapa tidak ke psikiater saja?”
Aku baru menyadari jika kedua hasil pemikirannya itu adalah ucapan saudara-saudara yang tidak sengaja menemukannya saat berusaha mencari cara bunuh diri yang tidak sakit beberapa hari lalu.
“Tidak,” jawabku lagi.
“Iya juga. Mana mungkin paman peduli.”
Tanpa memandang wajahnya pun, dari nada bicaranya aku bisa tau jika ia ingin diperhatikan. Keinginannya untuk mati memang ada, tetapi keinginannya untuk diperhatikan lebih besar.
“Jangan menyerah. Walaupun menurutmu jalan hidupmu berakhir di sini, tapi kau tidak pernah tau apa yang akan ada di ujung sana. Tetaplah bertahan sampai saat itu,” barang sekalipun tak kutatap wajahnya, yang kulakukan hanya melakukan pekerjaanku bagai seorang professional.
Terdengar suara gesekan dan gemerisik kain dari belakang, sepertinya ia baru saja mendudukkan dirinya.
“Paman pernah, ingin bunuh diri? Mengakhiri hidup?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang tidak mungkin dipertanyakan anak seumurannya.
“Entahlah. Tapi jika dendam mungkin aku masih membawanya sampai sekarang.”
“Dendam?”
“Hn. Ayahku membuangku, namun aku terus hidup sampai aku bisa membuktikan diriku kepadaNya. Lalu aku akan menghancurkanNya jika memungkinkan.”
“Paman… dibuang oleh ayah paman?”
“Hn.”
Tanpa sadar aku menceritakan tentang diriku padanya.
“Kau juga harus begitu. Kau harus tetap hidup sampai kau mampu membuktikan kehebatanmu pada orang-orang yang menghancurkanmu. Siapapun mereka.”
“Pfft—” Namun ia malah menahan tawa.
“Kenapa tertawa?”
“Ucapan paman sama seperti seorang pembersih kebersihan di sekolahku…” Ia tergelitik.
“Hn…”
Tentu saja sama bukan.
Aku menyelesaikan pekerjaan bongkar pasangku. Sebelum meninggalkan tempat aku berpesan kepadanya, “kau sudah berusaha yang terbaik. Jangan cepat mati, bocah,” dan kembali tanpa sadar tanganku bergerak mengusap rambut pendek hitamnya.
.
“Jadi memang Yoshiki-kun!”
Hana kembali termenung. Hal yang sangat ingin ia dapatkan saat itu adalah pengakuan jika dirinya telah berjuang. Dan Yoshiki memberikannya.
Ia ingat betul setelah tukang leding itu pergi, ia menangis sejadi-jadinya.
Catatan itu sekarang hanya terongok diam di dekat kaki yang ia tekut untuk menjadi sandaran kepalanya.
Ia sudah tidak tau lagi. Yoshiki secara luar biasa menyusup ke dalam hidupnya. Dan bisa dikatakan jika saat ini masih hidup pun karena Yoshiki.
Memang benar jika semua yang dilakukan Yoshiki hanya demi keegoisannya semata, demi kekuatan dalam dirinya. Tapi kembali lagi, Yoshiki bisa semena-mena menangkapnya, memenjarakannya, tapi pria itu tidak melakukannya. Pria itu memilih untuk membiarkannya hidup seperti biasa dan menjaganya dari jauh.
Oh sungguh cerita yang sangat romantic dan diinginkan oleh setiap gadis di penjuru dunia, dimana seorang pangeran tampan menjagamu secara diam-diam dan selalu ada di setiap kau membutuhkan bantuan.
Apa dirinya sudah bertindak jahat kepada Yoshiki? Sepertinya ia sangat keterlaluan dengan membuang cincin itu ke danau. Bahkan Yoshiki harus menyelam ke dalam danau untuk mengambilnya.
“Ah…. Aku tidak suka begini…” Hana menjatuhkan dirinya ke sofa terlungkup.
Matanya yang sudah suntuk menghadapi tulisan perlahan mengatup dan membawanya terjun ke dalam tidur.
.
Cahaya mentari yang menerobos masuk melewati jendela yang sudah tidak tertutup tirai membuat kedua kelopak mata Hana perlahan mengerjap, membangunkan sang empunya.
Kebingungan bukan main, Hana menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mengenali sekitar. Barulah ia sadar, ia sudah tidak akan berada di kamarnya Bersama Yoshiki, sekarang ia berada di rumah seorang sahabat lama, Keigo Yasumoto.
“Sudah bagun?”
Hana reflex menoleh ke asal suara.
Di dapur, pria itu mengenakan clemek dibalik kemeja putihnya yang sudah ia singsingkan lengannya sampai siku.
“Selamat pagi. Aku membuatkan makanan kesukaanmu.”
Ah sungguh pagi yang tenang. Jika ini mimpi Hana tidak ingin bangun sama sekali. Keigo Yasumoto sempat singgah di dalam ingatannya saat bocah sebagai calon suami idaman, dan kini pria itu sempurna sebagai suami idaman.
“Selamat pagi,” Hana meloncat kea rah Keigo, “woaaah cheese burger! Sepertinya berat sekali kalua dimakan di pagi hari ya,” Hana terkekeh.
Tangan Keigo sibuk membalik daging pada penggorengan yang merupakan penyebab bau semerbak penggunggah lapar, “mau bagaimana lagi, aku sangat ingin memasakkan makanan kesukaanmu ini.”
“Aaah… jadi kangen masakan bibi. Dulu sering makan bareng kan.”
Keigo tersenyum, “Iya, mungkin burger ini rasanya akan kalah dari masakan ibu. Tapi aku berusaha yang terbaik.”
“Jangan merendah begitu, baunya luar biasa enak. Pasti rasanya bakal enak juga. Omong-omong, ada yang bisa kubantu?” Hana berdiri di samping Keigo dengan semangat.
“Daripada membantu, lebih baik kamu cuci muka sana. Ada bercak air liur tuh.”
“Eh?” Begitu diusapnya tepian bibirnya dan mendapati sesuatu yang lengket wajah Hana memerah padam, “M-MAAF!” dan berlari menuju kamar mandi.
Keigo hanya terkekeh kecil melihatnya.
“!!!!” Pemuda itu terhenyak begitu merasakan sebuah aura menekan. Dibukanya jendela yang menghadap ruang tamunya dengan kasar.
Rahang Keigo mengeras begitu menyadari siapa yang menyebabkan dirinya merasa ditekan dengan luar biasa. Siapa lagi jika buka Kuroto Yoshiki. Iblis itu berdiri di beranda apartemen sebrangnya Bersama 2 iblis lain.
“Woops… Ketahuan…” Tomuro yang berdiri di samping Yoshiki mencoba melucu.
“Bagaimana tidak ketahuan jika My Lord melepaskan aura kecemburuan seperti itu…” Hazel mendesah berat.
“….” Yoshiki tidak berkomentar. Ia hanya menatap Keigo. Menatap Keigo dengan tatapan kebencian dan kutukan.
“Keigo-kun? Ada apa? Suara bukaan jendelanya keras sekali,” dari arah belakang Keigo, Hana muncul dengan wajah masih belepota sabun.
Pupil Yoshiki mengecil begitu Hana menampakkan wajah bodohnya, “ck!” Ia berdecak kesal tanpa sadar.
Hanya satu malam terlewati setelah kejadian kemarin malam, tapi ia sudah begitu merindukan perempuan berambut pendek itu. Jangankan hari ini, kemarin malam pun ia tak bisa tenang. Yang ia lakukan hanya berbaring terlentang di tengah-tengah ranjang besarnya. Tidak Hana di sampingnya. Tidak ada sosok yang meninduhnya tiba-tiba, memeluknya erat, atau mengisenginya tanpa sebab. Tapi perempuan itu ada di sana, Bersama pria lain.
“K-Kenapa mereka di sana?” Hana tak kalah kaget dengan Keigo, saking kagetnya ia sampai tanpa sadar berdiri di belakang Keigo untuk berlindung.
“Oh, tentu saja untuk menguntitmu My Lady! Anda tau, tuan kami tidak bisa berhenti memikirkan anda sama sekali,” jawab Tomuro seolah semakin memanas-manasi suasana.
Yoshiki mengibatkan tangannya tiba-tiba sebelum benar-benar membalik punggungnya dan menghilang memasuki ruangan.
Disambung hal itu mendadak gemuruh mengisi langit. Angin berhembus kencang dari arah barat menghempaskan apapun yang dilewatinya. Awan hitam bergulung-gulung berdatangan disusul suara petir yang memecah pagi cerah.
“Woa woa… gawat… dia sampai mau menghancurkan bumi ya?” Gurau Tomuro, namun ada sedikit ketakutan dalam kalimatnya. Apapun bisa terjadi jika sang raja iblis sampai benar-benar murka.
“Padahal ramalan cuaca di televisi barusan mengatakan hari ini akan cerah…” Keigo sibuk melindungi matanya dari debu yang bertebaran akibat angin badai.
“Kerja bagus, bitch,” Hazel menatap dingin tepat ke arah Hana kemudian meludah serampangan.
Keigo yang mendengar Hana dipanggil dengan Hina seperti itu lantas hendak melontarkan protes, “Apa katam—”
PRAAAANGG
JLEB
Belum habis kalimat Kegio, sebuah pisau Nampak melesat dari dalam kamar dan menusuk masuk ke dalam jantung Hazel lewat punggungnya. Perempuan itu memuntahkan darah sebelum membalik badannya untuk melihat sang pelaku yang ternyata sudah berdiri di samping pintu dengan wajah datar dan kosongnya, “kau katakana hal itu lagi, berikutnya kepalamu yang akan hancur Hazel.”
Wajah Hazel memerah luar biasa mendengar ucapan tuannya sebelum akhirnya beringsut jatuh menghilang dari balik pagar beranda.
“Astaga, kau berkata begitu saja sepertinya dia sudah sangat basah. Lihatlah wajah menjijikkannya itu,” Tomuro hanya mendesah Lelah.
Melihat tindakan serampangan Yoshiki, tanpa sadar tangan Keigo melebar untuk melindungi Hana yang berdiri di belakangnya. Kedua rahangnya saling bergemelatuk geram.
“…. Dasar iblis gila!” Desis Keigo bengis.
“Woah lihat, dia menatapmu seperti anak anjing menyedihkan yang berusaha menjadi pahlawan,” Tomuro menatap Yoshiki dengan sesekali melirik Keigo rendah.
Tetapi Yoshiki tidak merespon apapun. Pandangannya tetap kosong dengan ekspresi wajahnya yang datar ia kembali membalik badan setelah beberapa saat menatap Hana.
“Oi oi oi, astaga. Tidak ada yang sehat di sini,” Tomuro mengacak rambut merahnya kesal sebelum akhirnya berteriak mengambil atensi setiap orang, “Kuroto Hana!”
“Aku Rayumi Hana! Bukan Kuroto Hana!” Teriak Hana dari balik punggung Keigo.
“Tunggu saja waktunya sampai kau kembali ke pelukan tuan kami.”
Cengkraman Hana pada pungung Keigo mengerat begitu mendengar kalimat Tomuro.
“Hei, ayo kembali. My Lord sudah mendahului tuh,” Tomuro menggendong paksa Hazel yang setengah sadar di bawah sana.
.
“Kelas terakhirmu pukul 4 sore? Aku jemput di sini lagi ya,” ucap Keigo sambal menerima helm yang tadi dikenakan Hana.
“Keigo-kun,” namun hana menghentikan panggilannya karena seharusnya ia memanggil teman masa kecilnya ini lebih sopan jika berada di area kampus mengingat status mereka, “ups Yasumoto-sensei, tidak ke departemen?”
Keigo tersenyum tipis melihat keluguan Hana, “aku masih ada keperluan di Riset Center, jadwalku mengajar hari ini juga hanya di Kelas Bersama,” kelas Bersama adalah kelas untuk mahasiswa tahun pertama, materi perkuliahannya pun sekitar dasar-dasar saja.
“Oh… baiklah bila begitu. Selamat bekerja Keigo-kun,” Hana tersenyum renyah.
Tak tahan menahan gemas mungkin, Keigo mengacak rambut hitam Hana hingga cukup berantakan, “Hana juga, selamat belajar ya! Dagh!”
“….” Beberapa meter dari situ, seorang pria yang tidak lain adalah Kuroto Yoshiki berdiri menyaksikan dengan rahang mengeras.
Mood Hana saat itu bisa dibilang sudah membaik karena ia berjalan di Lorong kelas dengan senyum mengembang seperti biasa. Hingga sesosok tubuh berkemeja dan berjaket hitam berjalan di sampingnya. Hana cukup kaget namun kemudian menutupinya, karena Kuroto Yoshiki yang berjalann di sampingnya memajang wajah stoic seolah-olah tidak terjadi apapun di antara keduanya.
Sudah beberapa laboratorium dan kelas mereka lewati Bersama. Dan sialnya kelas mereka ada di ujung Lorong sana. Hanya beberapa meter lagi tapi rasanya Hana ingin menangis di tempat karena suasana canggung yang mencekam yang tercipta. Tidak ada kalimat atau sapaan sama sekali dari pria di sampingnya. Dia hanya berjalan di sampingnya.
Mungkin karena terlalu tegang, Hana sampai tidak menyadari adanya sebuah kertas di lantai, membuat kakinya tergelincir.
“Eh?”
0 komentar:
Posting Komentar