Rabu, 10 Desember 2014

Yami no Ai [Chapter 154]

Chap 154

" ... ." Yoshiki tak memperdulikan dan terus berjalan.
"Menurutmu apakah My Lady bisa menjadi sebaik Hazel?" Tomuro yang sepertinya kesal dengan sikap dingin Yoshiki dan tak menyadari bahwa istrinya itu sedang berusaha menjadi yang terbaik untuknya langsung memberikan kata kunci.
" ... ." lagi-lagi Yoshiki tak menjawab. Entah apa yang berada di pikiran pria itu.
"Hhh... Sudah ya. Hana sudah menungguku"
Gema langkah kaki Tomuro perlahan menghilang dari pendengaran Yoshiki.

Kini pria itu yang ganti terdiam di tempatnya. Di sandarkannya punggungnya pada dinding.
" ... . My Lady..." gumannya.
Isi kepala pria raven itu berkecamuk.
Kenapa? Kenapa Hana berubah? Ia menyukai Tomuro? Dan ternyata Tomuro menyukai Hana.
"Menurutmu apakah My Lady bisa menjadi sebaik Hazel?"ucapan Tomuro kembali terngiang di kepalanya.
Hazel? Ada apa dengan Hazel?
Hazel....
Yoshiki memejamkan matanya. Hingga cukup lama. Dan saat itu ia sadar apa maksud dari ucapan Tomuro dan segala alasan tindakan Hana.
Mata onixnya terbelalak menyadari kesalahan fatalnya.
"..... Ck!" decaknya.
Yoshiki segera melesat menuju tempat latihan Hana dan Tomuro yang memang hari ini khusus berada di aula.
BRAK
Dibukanya dengan kasar pintu berdaun besar dan berat itu oleh Yoshiki.
"My Lady..." sambil meneriakkan sebuah nama.
"Selamat malam. Tuan"
mata onix Yoshiki terbelalak menatap Hana yang menggunakan seragam maid tengan menunduk hormat ke arahnya. Menyambutnya.
"Wah kau telat dari perkiraanku. Sepertinya kau semakin bodoh Yoshiki." Tomuro muncul dengan melirik jam tangannya.
"Ah sudah ya, lihat hasil pelatihan khususku" Tomuro berjalan meninggalkan Hana dan Yoshiki.
Dengan masih sedikit gemetar, tangan Hana memegang sebuah teko besar entah berisi apa namun sepertinya nampak penuh.
"silahkan tuan..." Hana berusaha nampak anggun.
TEP
Tangan Yoshiki entah kenapa memegang tangannya yang tengah sibuk menuangkan cairan dalam tekonya.
DEG. Jantung Hana seakang memompa darah di tubuhnya lebih kuat.
TRANG
Dan teko itu pun jatuh ke lantai. Menumpakahkan cairan hitam pekat di dalamnya. Mengotori lantai.
"ahh... Kupikir aku sudah bisa" tak kuasa sedikit air mata terlihat jelas menuruni pipi tan Hana.
Sebuah hentakan pada tangan Hana yang langsung menariknya pada sebuah tubuh kekars sukses mengagetkannya.
"eh?"
"maaf" suara berat Yoshiki terdengar.
" ... . Kau sudah lulus dari semua kriteria wanitaku..." ujar Yoshiki lagi.
"Ta-tapi--UHM!!" Hana kembali terbebelalak saat bibir Yoshiki mencium bibirnya. Ruam merah di wajahnya tercetak jelas sekarang.
"kau tak perlu menjadi siapapun. Hazel, atau siapapun. Karena aku mencintaimu Kuroto Hana" ujar Yoshiki.
Senyum mengembang dari bibir Hana.
"mm!!" Hana mengangguk bahagia.
Yoshiki mau tak mau bibirnya ikut tertarik ke atas. Memperlihatkan senyuman tipis.
Dibelainya perlahan rambut hitam Hana.
"ngghh.... Huuuu" tak di duga terdengar suara dengkuran yang halus dari bibir Hana.
Yoshiki menaikkan satu alisnya menatap Hana yang tertidur.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.