Chap 155
Lalu menggendongnya menuju kamarnya.
"nghh...." dengan perlahan kelopak mata Hana terbuka. Merasakan banyaknya cahaya yang langsung menyapanya, saphire Hana kembali ditenggelamkan oleh sang kelopak untuk membiasakan dengan intensitas cahaya sekitar.
Sebuah tangan besar nampak tengah mempermainkan rambut hitam pendek Hana.
Si pemilik tangan hanya tersenyum tipis mengetahui rambut orang yang sedari tadi dimainkannya sudah mulai membuka mata.
"ohayou... My lady" ucapnya.
Seketika mata saphire Hana terbuka lebar.
Di depannya. Kuroto Yoshiki tengah tersenyum tipis ke arahnya. Dengan rambutnya yang agak berantakan dan kimono tidur menutupi tubuh pria itu, hingga memperlihatkan dada bidangnya.
BLUSH
Tiba-tiba wajah Hana berubah sangat merah.
"e...eh?" sementara semua darah mengalir ke wajahnya. Otak lemot Hana sepertinya sedikit berfungsi.
'Yoshiki-kun mengenakan kimono tidur?.... A-apa artinya....!?'
sontak wajah Hana menjadi lebih memerah lebih dari kepiting rebus setelah berfikir pria di sebelahnya telah tidur di sampingnya selama semalam.
Memang walaupun keduanya suami-istri, Yoshiki jaranglah tidur bersama Hana. Mengingat kesibukannya, dan yah... Iblis tidak perlu tidur kau tahu.
"Yoshiki-kun... Kau semalam--"
"Tidur di sampingmu" lanjut Yoshiki.
Hana hanya bisa menganga lebar dengan wajanya yang masih memerah.
"Hn?" Yoshiki menaikan satu alisnya. Oh astaga! Rasanya ketampanannya menjadi berkali-kali lipat.
"Kenapa wajahmu memerah seperti itu?"
"Eh... Etto... A-anno.... Uuuh...." Hana langsung menyembunyikan dirinya di balik selimut putih tebal.
"Hn" Yoshiki tersenyum tipis. "cepat bangun. Hari minggu ini sepertinya ada sebuah taman bermain yang baru buka"
Hana melepaskan selimut di wajahnya. "Hontou? Apakah kita akan ke sana Yoshiki-kun?" Hana langsung berubah menjadi bersemangat.
"hn. Sebagai permintaan maaf telah meninggalkanmu"
"Yoshikiiiii-kuuuuun" teriak Hana memanggil nama pria raven yang tengah menatapnya datar.
Wanita berambut hitam pendek itu kini kedua tangannya nampak sibuk oleh permen kapas yang baru saja di belinya.
"Hn" pria yang namanya di panggil dengan nyaring hanya menatap datar.
"Ini untukmu" Hanya menyodorkan permen kapas di tangannya.
"Hn. Makanan manusia yang manis" Yoshiki menatap datar permen kapas di tangannya tanpa sedikitpun mempunyai niat memakannya.
Sementara Hana sepertinya sudah menikmati setiap kemanisan yang meleleh di mulutnya.
"uhm? Nande? Kau tidak suka Yoshiki-kun?"
"Hn. Aku tidak terlalu menyukai makanan manis"
"Wah kalau begitu kita berlawanan arah. Aku suka manis. Suka sekali!" ucap Hana bersemangat.
"Hn. Tapi aku masih menyukai suatu hal yang manis"
"Apa itu?" Hana mendadak kepo dengan ucapan Yoshiki.
"bibirmu"
ucapan Yoshiki yang singkat padat dan tidak jelas itu refleks membuat Hana menoleh lalu menatap pria yang sudah menatapnya datar itu.
Ada sedikit bekas rona merah di wajah Hana.
"a-a-aapp-pa!?" tanya Hana tergagap-gagap.
"Hn. Aku bahkan seperti ingin melumatnya sekarang"
Rabu, 10 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar