Chap 138
Kini tinggal dirinya saja yang berhasil bertahan. Apapun yang terjadi Kuroto Yoshiki harus mati untuk pembalasan teman-temannya.
"Hn, aku memang tidak mengerti" Yoshiki bergerak membungkuk, ke kanan, dan ke kiri untuk menghindari serangan konyol Taichi.
Air mata menggenang di pelupuk mata pria itu.
"KUROTO YOSHIKIIII!!" Taichi menghunuskan pedangnya ke arah Yoshiki.
JLEB
Namun tangan Yoshiki telah terlebih dahulu menusuk rongga dada Taichi lalu menarik jantung pria malang itu bersama beberapa bekas retakan rulang rusuk Taichi.
"Hn, sayonara" ujar Yoshiki santai. Tangannya menggenggam erat jantung Taichi yang seukuran telapak tangannya. Di remasnya gumpalan jantung itu sampai pecah.
"Arg....." jeritan Taichi tertahan saat jantungnya di remas kuat oleh Yoshiki hingga pecah.
Sisa-sisa pasukan Exorcist semakin bertarung dengan tidak karuan. Hati dan pikiran mereka berkecamuk. Suasana mendadak kacau.
"Hn, kau selesaikan sisanya Tomuro"
"Sudah mau kembali?" Pemuda dengan rambut merah itu sedikit menjilat darah yang entah sejak kapan ada di jempolnya.
"Hn, dia sudah menungguku"
"Wah..." Tomuro nyengir aneh. "Jadi hubungan kalian sudah membaik?"
"Hn..." Yoshiki tak menjawab. Ia segera melesat secepat mungkin meninggalkan area pertarungan menuju mansionnya.
Takpeduli sejauh apa Gunma ke Tokyo hanya dengan berlari. Kepala pria shagy itu telah terisi penuh oleh bayang-bayang senyuman wanitanya saat melihatnya kembali. Bagaima wanitanya itu akan menyambutnya dengan senyuman, dan pelukan hangat.
Boleh saja kan ia berfikir dan membayangkan begitu?
Mengingat sepertinya Hana telah kembali percaya padanya.
Senyum tipis mengembang di antara wajah pucatnya. "Aku segera pulang, My Lady..." gumannya.
TAP.
Akhirnya sepatu hitam milik pria bermata onix itu menapak di depan pintu besar kamarnya. Ia sudah tidak sabar melihat wajah konyol Hana. Senyum wanita itu... Tingkah wanita itu...
Atau bahkan apabila Hana masih tertidur pulas. Ia juga sangat ingin membelai tiap helai rambut hitam wanitanya itu.
Dibukanya perlahan salah satu daun pintu kamarnya. Wajah datar yang sangat dingin telah menguasai ketampanannya.
"UWAAAAA!!" Teriakan Hana memekikan telinga.
Kilatan dari pantulan pisau yang dipegang Hana seketika tidak berbekas setelah berhasil menembus suatu daging hingga daging itu memancarkan darah kental merah.
" ... ." onix Yoshiki membelalak saat menyadari perutnya di tikam oleh wanita di depannya.
Wanita yang sangat ia cintai.
Tubuh kekar Yoshiki terhuyung ke belakang. Pikirannya kacau balau.
Kenapa? Kenapa Hana menusuknya?
Bayangan Hana tersenyum dan memanggil namnya seakan terbakar begitu saja menjadi abu.
Kenapa?
Darah kental terus merembes membasahi kemeja putih Yoshiki yang sudah sejak tadi bernoda di mana-mana.
Hana menarik pisaunya. Lalu kembali ditusuknya perut Yoshiki.
"argh..." mulut Yoshiki memercikan beberapa tetes darah.
Kenapa?
Tubuh Yoshiki terkapar di lantai bersimbah darah. Tapi mulutnya masih bisa bergerak-gerak sedikit.
"My... Lad-dy..."
Rabu, 10 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar