Rabu, 10 Desember 2014

Yami no Ai [Chapter 132]

Chap 132

Ia melihat ke bawah, hewan-hewan menggeliat itu juga ada di sepatu bootsnya.
Cacing!
"UWAAAAAAAA!!" Teriak Hana panik. Wajahnya sarat ketakutan yang luar biasa. Tanpa arah yang jelas ia berlari keluar hutan. Pokoknya menghindari pasukan cacing itu!
Hana terus berlari dengan kepala menengok ke belakang hingga...
DUK
Kaki Hana tersandung oleh lubang yang tadi dibuatnya dengan batu runcing di tangannya sekarang. Tubuh Hana limbung ke depan. Melayang.
"Eh?" Hana melihat aliran sungai deras di bawahnya.
Tubuh Hana yang terpengaruhi gaya grafitasi segera terdorong ke bawah. Siap menceburi sungai deras itu.
GREP.
Hana yang sudah siap memejamkan matanya dan menahan nafasnya ketika tercebur terasa tangannya di tahan sesuatu. Segeralah dibukanya matanya.
Terbelalaklah saphire lautan itu ketika bertemu sang obsidian kelam.
"Yo...Yoshiki-kun?" Hana tergagap.
"Hn. Bertahanlah" pria itu masih saja bernada bicara dingin. Biasanya wajahnya juga akan ikut bermimik dingin. Namun kali ini lain. Wajah dari pria itu seluruhnya menyatakan ketakutan, kalut, khawatir dan segalanya bercampur menjadi satu.
Tangan kanannya yang menangkap tangan Hana bergetar. Mati-matian mengangkat berat badan Hana. Sementara tangan kirinya ia gunakan sebagai tumpuan.
Wajah tampannya mengeluarkan peluh. Hana terdiam menatap sosok Yoshiki yang berusaha mati-matian seperti itu. Tanpa mengandalkan kekuatannya--karena pada dasarnya kekuatan Yoshiki memang tidak mempan terhadap Hana.
"lepaskan aku Yoshiki-kun" ujar Hana akhirnya.
"Diam! Jangan bergerak! Jika berani bergerak kubunuh kau!" teriak Yoshiki yakin. Wajah Yoshiki mengisyaratkan keseriusan. Ia masih berusaha menarik tangan Hana.
"Lepaskan aku..." Hana tertunduk. "aku sudah cukup merasakan 'cinta' masa remaja walau tidak terbalas sih. Aku sudah puas hidup"
"Kubilang jangan lepaskan tanganku bodoh!" teriak Yoshiki.
Hana menggeleng. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Yoshiki yang mulai berkeringat.
"Aku tidak pernah menikahi wanita lain selain dirimu!" teriak Yoshiki yang berusaha menguatkan Hana. Sebenarnya itu bukanlah kata yang sebenarnya. Kata yang sebenarnya adalah... "aku mencintaimu!" namun karena rasa harga diri yang tinggi dari pria berambut shagy itu sedikit membuat kata-kata itu berbelok menjadi kata abstrak yang hanya bisa dipahami jika Hana bisa memahaminya.
Hana kembali terdiam. Entah ia menyadari maksud Yoshiki atau tidak. Tapi selah itu ia menatap wajah Yoshiki dan tersenyum.
"sudah cukup." Hana menusukkan batu runcing yang tadi di bawanya ke punggung tangan Yoshiki hingga batu itu sediki tertancap ke kulit daging Yoshiki. Seketika darah segar mengalir dari sana.
"ukh" Yoshiki sedikit merintih. Ia benar-benar sudah tidak kuat. Apalagi keringat sudah membasahi telapak tanganya. Membuat tangannya licin dan...
Genggaman tangannya terlepas.
Mata onixnya sempat terbelalak menatap Hana yang terjatuh ke bawah. Tubuhnya refleks ikut melompat ke bawah.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.