Chap 130
Tangan Hana terus menerus berpegangan pada mantel biru Isaka.
"Laksanakan" seorang pria paruh bayah berjas di sebuah ruangan gelap nampak mengomandoi sesuatu.
"Siap laksanakan"
"sssshh...." suara desis ular terdengar nyaring di antara sepinya malam.
"Kyaaaaa" sayup-sayup terdengar teriakan-teriakan perempuan dari kejahuan. Hana yakin itu pasti salah satu suara adik kelasnya yang ketakutan.
Peluh menetes perlahan dari kening Hana.
"ssss...." lagi suara desisan ular itu terdengar.
Herannya Isaka tetap berjalan seolah tidak mendengar apapun.
"ssss..." suara desisan itu terdengar semakin mendekat.
Hana mulai panik. Ia menarik jaket Isaka dengan kuat. "Isaka-kun? Kau mendengar itu?"
"Mendengar apa?"
"Desisan itu..."
"Hmmm? Tidak... Ayo senpai lebih cepat"
Agak ragu Hana mengikuti langkah Isaka. Jantungnya berdetak luar biasa. Kakinya memang sudah di lengkapi dengan boots karet. Tapi tak menjamin ular itu hanya akan menyerang kakinya--jika yang ia dengar memang suara desisan ular. Bagaimana jika bagian tubuhnya yang lain?
"sssshhh...." gemerisik rerumputan terdengar semakin keras.
"shaaaaah!!" seekor ular jenis Cobra sendok tiba-tiba nampak melompat ke arah Hana dengan mulutnya yang terbuka lebar. Siap menancapkan taring tajam beracunnya ke kulit tan Hana.
Waktu seakan berjalan begitu cepat saat Hana menyadari keberadaan ular yang menerjang ke arahnya itu.
SRAAAK.
Bersamaan setelah terdengar suara orang yang berlari dengan cepat hingga menimbulkan gesekan antar dedaunan hutan. terlihat sesosok bayangan yang menangkap kepala ular itu seketika dengan satu tangan , lalu sosok itu kembali melesat pergi.
Hana dan Isaka terdiam di tempatnya.
"I-itu... Siapa?" guman Isaka yang masih kaget.
Hana terdiam. Tubuhnya menegang. Ia tadi sempat melihat diantara kegelapan malam... Sebuah mata tajam dan mendiskriminasi. Ia mengenal betul satu-satunya orang yang memiliki pandangan seperti itu. Hanya satu orang... Namun ia ragu untuk meyakini keberadaan pria itu.
"Ayo kembali senpai! Kita laporkan ada orang lain dihutan ini selain kita!" ujar Isaka.
"Jangan Isaka-kun! Aku mohon! Rahasiakan hal ini!" tiba-tiba kata-kata itu meluncur dengan sendirinya dari bibir Hana. Ia sendiri tak mengerti kenapa ia harus merahasiakan ini. Tapi ada satu bagian kecil dari dirinya yang ingin merahasiakannya.
"Eh... Kenapa?"
"Aku mohon Isaka-kun! Jangan beritahu siapapun!" Hana menatap Isaka yakin.
"Ta-tapi..."
"Dia bukan penjahat! Percayalah padaku!"
"B-baik..." Isaka dan Hana akhirnya kembali melanjutkan 'Adu Adrenalin' mereka.
"Sial!" rutuk pria paruh bayah tadi yang baru saja memerintahkan sesuatu dengan percaya diri.
"Lalu bagaimana dengan Albert? My Lord menangkapnya..." seorang wanita yang mengenakan pakaian ketat hitam bersama dengan pecut di tangannya menatap datar pria paruh bayah di depannya.
"Dia tertangkap... Anggap saja dia sudah mati"
Hana berjalan malas menuju pos 8. Pos terjauh dari semua pos.
Rabu, 10 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar