Rabu, 10 Desember 2014

Yami no Ai [Chapter 153]

Chap 153

Yoshiki langsung menarik tangan Hana dan mengunci tubuh Hana di antara dinding.
Langsung diciumnya bibir ranum Hana.
Hana terbelalak kaget atas tindakan Yoshiki yang tiba-tiba menciumnya.
"Hn..." Yoshiki melepas ciumannya. Masih dengan menunduk hingga mata kelamnya tertutup oleh rambut ravennya.
"Hanya karena aku meninggalkanmu sebentar kau sudah menyukai orang lain?" Yoshiki menatap tajam mata Saphire Hana.
"Yoshiki-kun... Kau bicara ap--uhm!!" belum sempat Hana menyudahi ucapannya, bibir Yoshiki kembali melumat bibirnya.
Hana refleks menggelengkan kepalanya untuk melepaskan lumatan bibir Yoshiki. "Ti... Tidak!"
Namun Yoshiki masih keras pada keinginannya. Tanpa peduli dengan Hana yang tidak mau dicium, kembali ditemukannya bibirnya dan bibir Hana.
'Uh... Yoshiki-kun... Kau kenapa?'
Yoshiki melepaskan ciumannya. Ekspresinya langsung berubah ketika melihat wajah Hana yang seperti terpaksa menerima ciumannya. Kedua alis Yoshiki berkerut keatas.
'Kau marah? Yoshiki-kun....?'
"....." Yoshiki masih mengamati ekspresi Hana yang nampak ketakutan.
"Jadi begitu..." gumannya.
Yoshiki langsung bangkit berdiri.
"Yoshiki-kun?"
"Hn. Sudahlah. Aku tak akan menyentuhmu lagi"
Hana terdiam mendengar ucapan pria itu barusan.
Apa? Apa maksud ucapan Yoshiki barusan?

"Ah? Kau telat Hana-kyun" Tomuro tersenyum menyadari kedatangan Hana dan langsung menoleh.
"Hiks... Hiks..." tanpa diduga Hana muncul dengan wajahnya yang memerah karena menahan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya.
"EH!? My Lady ada apa denganmu!?"
"A...Aku... Mungkin aku dibenci oleh Yoshiki-kun... Tapi kenapa? Huweeee" tangis Hana menjadi pecah.
"uhhh..." Hana terus menyeka air matanya yang mengalir tak berhenti.
'sesak....'
'sedih...'
'Aku tidak mau Yoshiki-kun....'
"huwe.... Huu..."
" ... ." Tomuro hanya mampu menatap Hana yang terus menangis.

Kuroto Yoshiki. Tengah berjalan diantara koridor-koridor ruangan di manornya dengan membaca sebuah kertas print-out. Tapi bagaimanapun ia tetap tidak bisa konsentrasi memahami tulisan pada kertas print-out itu. Pikirannya kalut.
Hana Kuroto. Wajah istrinya yang seakan menolakknya itu terus terngiang dalam pikirannya.
Ada apa dengan wanitanya itu?
Pria raven itu terus berfikir sampai tak sadar meremat kertas print-out di tangannya.
"Hoooi... Yoshiki" suara Tomuro seakan membangunkannya dari lamunannya.
Sahabatnya yang berambut merah itu tengah bersandar pada dinding dengan kedua tangannya yang disilangkan di dada.
"..." Yoshiki terus berjalan tak menghiraukan panggilan Tomuro.
TEP
Tomuro menahan pundak Yoshiki. "tunggu"
Yoshiki terpaksa berhenti.
"Aku akan menyatakan perasaanku kepada Hana" Tomuro menatap wajah Yoshiki dengan sengaja.
"Hn... Terserah" jawab Yoshiki dengan nadanya yang tetap dingin. Namun lihat kedua tangannya yang terus menggenggam erat menahan emosinya.
"Heh? Apa itu? Bukannya kau mencintainya?" ejek Tomuro.
"Hn" Yoshiki menepis tangan Tomuro lalu berbalik.
"Huh. Seperti anak kecil yang sedang merajuk saja" ejek Tomuro.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.