Chap 142
Sebuah selang terlihat mengait di hidung pria itu. Mungkin sebagai pembantu pernafasannya.
"Ini dia My Lord" seorang dokter membuka ruangan tempat pria itu dirawat.
Dari belakang dokter itu mengekor Tomuro dan Hana.
"Bagaimana keadaan My Lord?" tanya Tomuro.
"Kami masih belum memastikan lebih lanjut" jawab dokter itu.
Hana segera memasuki ruangan Yoshiki. Mata Saphirenya terlihat agak meredup akibat matanya yang berubah agak kemerahan karena sedari tadi menangis.
"Hiks... Yoshiki-kun... Gomen..." tangisnya kembali pecah melihat tubuh tak berdaya suaminya.
Setelah berbincang-bincang dengan sang dokter, akhirnya Tomuro mengikuti Hana memasuki ruangan Yoshiki.
"Lakukan yang kukatakan tadi. Jika kau memang mencintainya"
Hana mengangguk. Diusapnya air matanya untuk menguatkan hatinya.
Badan Hana perlahan menunduk. Membuat jarak diantara dirinya dan Yoshiki yang tertidur semakin menipis.
Hana menatap sebentar wajah datar Yoshiki. Bahkan di saat mata tajam itu tertutup, wajah tampan suaminya itu tak pernah lenyap.
'Chu' diciumnya bibir pucat Yoshiki. Saphire Hana terkatup.
Setelah 5 detik ciuman aneh itu, akhirnya Hana menyudahinya karena tidak ada responan kecil pada tubuh Yoshiki
"Kenapa? Bukannya dengan menciumnya akan memberikan kekuatan padanya!?" tanya Hana panik kepada Tomuro.
"E-entahlah. Menurutku juga begitu" Tomuro juga nampak kebingungan.
'Ada apa ini? Ada apa dengan dia?' pikir Tomuro kalut.
"Hei! Yoshiki-kun..." Hana menepuk-nepuk pipi pucat Yoshiki. Air mata kembali muncul dari pelupuk matanya.
"Bangun Yoshiki-kun! Bangunlah! Maafka aku sudah salah paham atas semua ini! Gomennasai! Hiks... Aku mohon bangunlah! Hiks!!" diciumnya kembali bibir Yoshiki. Perempuan berambut hitam lurus itu tak tau lagi harus berbuat apa. Ia sudah sangat bersalah. Sekarang giliran ia menyadari perasaan yang sesungguhnya dari suaminya, suaminya itu malah tak sadarkan diri. Betapa bodohnya dirinya!
PUK
Sebuah tangan kekar terlihat menepuk kepala hitam Hana.
"Ehm?" Hana yang terkaget karena kepalanya seperti di sentuh agak tersentak.
Ia segera menarik bibirnya dari bibir Yoshiki.
"Tetaplah begini" bibir Yoshiki terbuka dan mengalunkan nada dingin penuh perintah seperti biasa.
Betapa hati Hana melompat gembira. Mengetahui akhirnya sang suami siuman juga.
Begiu juga Tomuro yang merasa lega.
Tangan kekar tadi ternyata adalah tangan Yoshiki yang kembali menekan kepala Hana ke dada bidangnya.
"Gomen.. Yoshiki-kun..."
"Hn."
"Wah sepertinya aku mengganggu. Kalau begitu selamat menikmati harimu, My Lord" ujar Tomuro sambil terkekeh pelan.
"Hn. Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan Tomuro?"
"Hhhh...." Tomuro menghela nafas bosan. "Saatnya menjadi detektif gadungan" ujarnya sambil meninggalkan ruangan.
Yoshiki segera bangun dari tidurnya.
"Eh? Jangan bangun dulu. Tubuhmu kan..."
Yoshiki malah terlihat mencabuti alat-alat kedokteran yang terpasang di tubuhnya.
"Hei... Hei!" Hana mendelik melihat tingkah Yoshiki.
Rabu, 10 Desember 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar