Jumat, 16 November 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 21]

CHAPTER 21: TADAIMA

TOKYO EXORCIST HEADQUATERS 3.00 PM
Di antara mayat-mayat yang bergelimpangan, sebuah cahaya muncul sekejap dan memunculkan seseosok pemuda berambut keabuan. Dan seketika itu juga mata pemuda itu menggelap.
Pantas saja tidak ada kontak dari markas pusat Tokyo. Bahkan sudah tidak ada siapapun yang bernyawa di sini. Hanya ada bangkai para exorcist berserakan.
Yosef Strauss jatuh dalam keputusasaannya.
“Y-1 L-lari…” Angin sore membawa suara rintihan lemah kepada telinga Yosef.
“Chiaki! Chiaki!” Yosef yang mendengar suara harapan itu langsung berteriak sejadinya. Memanggil-manggil nama pemilik suara dengan nama kecilnya. Mengabaikan hukum jika saat bertugas Exorcist harus dipanggil dengan nama tugas.
“Kau mencari dia?”
DUAK!
Yosef tidak perlu mencari lagi sekarang. Karena Fushimi Chiaki yang ia cari-cari telah berada di hadapannya. Tersungkur dengan luka yang mengeluarkan darah di sekujur tubuhnya. Bahkan jas Exorcist yang seharusnya berwana hitam itu telah dikuasai oleh warna merah darah.
“L-lari Y-1. L-Lucifer d-di sini—uhuk!” Segumpal darah yang menyumbat kerongkongan remaja keliahiran Nara itu akhirnya membuatnya terbatuk keras dan pingsan.
“Dia Exorcist yang hebat. Bahkan hanya pingsan setelah kuhajar, dia pantas mendapat peringkat 6.”
Amarah Yosef kembali tersulut begitu melihat sosok Kuroto Yoshiki yang terlihat tenang-tenang saja setelah mengacak-acak markas pusat Tokyo.
“LUCIFEEEEEEERRR!” Tanpa acang-acang Yosef mengeluarkan Abschleppen Geist miliknya yang berupa pedang.
“Ada apa Yosef Strauss? Kau marah? Marah karena kehilangan banyak anggotamu hari ini?” Kuroto Yoshiki hanya berujar enteng walaupun dihadapannya Yosef Strauss telah siap membelah tubuhnya dengan pedangnya.
“Aku pun juga…” Yoshiki menundukkan kepalanya sesaat.
Bayangan berupa potongan-potongan film ketika Hana berbicara dengan Guren Ishikawa dengan akrab, Hana yang menggenggam tangan Ishikawa Guren, dan bagaimana Hana tersenyum manis kepada Ishikawa Guren.
Kedua tangan Yoshiki mengerat keras.
“… punya hak untuk marah.”
Detik itu juga tebasan berkekuatan tinggi dari Yosef Strauss terarah tepat pada kepala Yoshiki.
DAK!
“M-mustahil! H-hanya ditahan dengan tangan!”
Serangan bertenaga tinggi, ditahan dengan satu tangan oleh Kuroto Yoshiki.
Cahaya terang bertubrukan dengan kegelapan.
.

Ponsel Hana berbunyi tepat ketika ia mulai membersihkan mejanya. Diraihnya ponsel yang kala itu ia letakan pada kantung tasnya. Sebuah email masuk.
Dari Ishikawa Guren.
Sebuah email singkat hanya hanya berisi kalimat, “bisa kita bertemu sekarang di pematang sungai dekat stasiun?”
“YUI! MAKI! SHIRO! BAGAIMANA INI?” Dan Hana kebingungan harus menjawab apa.
Ketiga sahabat itu lantas berkumpul sebelum bersweatdrop masal.
“Err… Bagaimana kalau coba temui dia dan jelaskan jika kau sudah memiliki pacar? Memintanya mengakhiri ‘pendekatannya’?” Saran Yui.
Hana mengangkat kepalanya dengan pandangan berbinar, “Saran diterima! Terima kasih Yui-chan! Kalau begitu, teman-teman aku duluan ya!” Disambarnya tas yang belum sempat ia rapikan—memasukan asal segala buku dan peralatan tulisnya begitu saja ke dalam tas.
Begitu Hana mencapai pintu kelas, Yui tiba-tiba berteriak, “Hana, maafkan aku ya! Aku tidak tahu jika kamu ada pacar!”
Hana tersenyum lebar, “apa sih Yui-chan, aku nggak memikirkan hal itu sama sekali!” Dan melangkah lebar keluar kelas.
Derap langka Hana menggema di dalam lorong dan tangga yang ia tapaki. Terus berlari secepat mungkin menuju pematang sungai.
‘Harus kukatakan! A-aku… aku….,’ Hana semakin mempercepat larinya, mengabaikan berat tas yang tengah ia bawa di bahu kanannya.
‘Aku mencintai Yoshiki-kun! Dan hanya Yoshiki-kun!’
.

“Hentikan saja Strauss, kau tidak bosan dengan pertarungan berat sebelah seperti ini?” Kuroto Yoshiki mengembalikan pedang Kusanagi miliknya dalam bentuk partikel sihir.
“K-kau pikir aku akan menyerah setelah yang kau perbuat pada Exorcist hari ini!?” Yosef Strauss dengan luka disekujur tubuhnya—terutama di bagian kepalanya—perlahan bangkit dengan berpegangan pada pedang Abschleppen Geist miliknya.
“Hhhh…” Yoshiki menghelakan nafas berat, “kau bukan tandinganku, walaupun kau memang kuat—“
Jeda yang diberikan Yoshiki membuat Yosef mendongkakkan kepalanya penasaran walaupun rasanya untuk meneggakkan kepala lurus saja sangat pusing.
“—Datangkanlah Gabriel jika kau memang ingin mengalahkanku,” Yosef Strauss membelalakkan kedua bola matanya.
“I-itu…”
DUAKK!
Yoshiki mengarahkan tinjunya tepat di ulu hati Yosef Strauss. Mengakibatkan pemuda itu menghentikan kalimat ragu-ragunya. Dan pingsan beberapa saat kemudian.
‘Nah, aku terlalu menghabiskan waktu di sini. Aku harus segera menyusulnya,’ Kuroto Yoshiki kembali melompati bangunan dan pepohonan untuk kembali ke mansionnya.
‘My Lady…’
.

“Guren-kun!” Hana meneriakkan nama pria yang tengah berdiri menghadap sungai. Memandangi pantulan warna merah dari matahari senja.
Pemuda pemilik Ishikawa Corp. itu menoleh dengan wajah kalem. Pantulan sinar dari sungai entah kenapa malah membuat ketampanan pemuda itu meningkat. Hana tak ayal terpesona sesaat pada pemuda itu.
‘Dih! Kenapa malah terpesona!’ Hana merutuki dirinya sendiri.
.

Sebuah sedan gelap berhenti diiringi dengan decitan ban belakang di depan Mirai no Gakoo.
“Apa-apaan mobil itu?” Maki berbisik pada Yui yang berjalan di sampingnya.
Sesosok pria berambut jagged keluar dari kursi pengemudi mobil penyebab keributan itu. Mencegah langkah Yui dan Maki untuk pulang.
“Di mana Kuroto Hana?” Pria itu yang tak lain adalah Kuroto Yoshiki bertanya dengan terburu-buru.
“Hana? Dia ke pematang sungai dekat stasiun,” Maki lantas menjawab begitu saja.
Tanpa mengucapkan terima kasih Yoshiki kembali masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya sekecang mungkin.
“Maki, apa kamu merasa pernah melihat pria barusan entah di mana?” Kedua bola mata Yui terpaku pada mobil sedan yang telah hilang memecah jalanan.
“Yui juga merasa begitu? K-kukira Cuma aku. Mungkin memang teman Hana atau semacamnya?”
.

“A-anu Guren-kun!”
“Aku bicara dulu, boleh?” Pemuda itu menyela kalimat Hana dengan tenang, tersenyum tulus.
“Eh?” Hana yang mendapat senyuman seperti itu lantas tak bisa menolak permintaan halus Ishikawa Guren, “b-baiklah, silahkan.”
“Fufu,” Ishikawa Guren tertawa tipis, “tak kusangka kamu juga punya sesuatu untuk diucapkan.”
Hana hanya menunggu kalimat Ishikawa Guren berikutnya.
Guren terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, “aku tidak menyangka jika kamu adalah anak nakal yang kutemui di tempat cukur rambut sepuluh tahun lalu, dan lagi bodohnya aku mengira jika kamu laki-laki,” tawa kecil Ishikawa Guren di tengah udara senja membuat wajah Hana memerah perlahan.
“Dan…. Tanpa sadar… semenjak kita kembali bertemu… melakukan banyak aktivitas bersama akhir-akhir ini… sebuah perasaan tumbuh. Oleh sebab itu,” kaki berpantofel hitam Guren melangkah menaiki tanah yang terjal untuk mendekati Hana, “aku menyukaimu Kuroto Hana, maukah—“
“Cukup sampai di situ.”
Sebuah nada Baritone yang khas dan dalam menginterupsi segera kalimat Ishikawa Guren. Baik Hana maupun Ishikawa Guren seketika menoleh ke arah suara.
Kuroto Yoshiki, keluar dari mobil sedannya.
“Y-Y-Yoshiki-kun…” Hana berujar lemah.
Sementara Ishikawa Guren menatap tidak mengerti. Kepalanya masih memproses kejadian-kejadian yang tengah berlangsung dalam kepalanya.
Kuroto Yoshiki berjalan menuruni pematang sungai dan berhenti tepat di hadapan Ishikawa Guren, “dia milikku, Ishikawa Guren,” menekankan setiap kalimatnya dengan absolut, Kuroto Yoshiki menatap tajam Ishikawa Guren.
“Y-Yoshiki-kun!” Tak bisa menahan lagi, kaki Hana bergerak menuruni pematang dengan ceroboh.
Kuroto Yoshiki yang selama ini tak ada di sampingnya, Kuroto Yoshiki yang tak pernah ia lihat. Benarkah? Benarkah itu Kuroto Yoshiki? Kuroto Yoshiki yang telah mengacaukan kehidupannya setelah sosok itu menghilang?
GREP!
Diraihnya lengan berbalut jas gelap itu.
Air mata menetes dari kedua bola mata Hana.
‘Baunya… sama… Yoshiki-kun, ini benar Yoshiki-kun,’
Yoshiki cukup tertegun melihat perliaku Hana yang menangis dengan mengapit lengan kanannya.
“Tadaima…” gumannya.
“Hiks… hiks… Okaweri…” Hana bahkan tidak bisa mengucapkan kalimat selamat dating yang tepat karena ingus dan air mata yang membanjiri wajahnya.
Kedua alis Yoshiki terangkat. Ujung-ujung bibirnya yang kaku terangkat perlahan. Tangannya bergerak mengusap rambut hitam pendek yang sudah teracak-acak itu.
Ah, sudah berapa lama dia tidak bisa mengusap rambut ini?
“… M-maaf, anda siapa?”
Acara melepas rindu Hana dan Yoshiki terinterupsi oleh pertanyaan Ishikawa Guren.
“Kuroto Yoshiki. Suami dari Kuroto Hana,” Yoshiki tak bisa menipu dirinya sendiri, bahkan kalimat penuh keangkuhan khas dirinya tak bisa ia tahan untuk keluar. Betapa bangganya ia bisa mengatakan hal itu di depan Ishikawa Guren yang selama ini tak bisa ia katakana sebagai Natsume Haru.
“E-EH!?” Pemuda dengan jas coklat itu tersentak di tempatnya.
“S-SUAMI? M-MARGANYA MEMANG SAMA! T-TUNGGU, K-KUROTO YOSHIKI BUKANKAH—“ Mungkin karena terlalu shock atas apa yang baru saja ia dengar, Ishikawa Guren tak bisa menahan dirinya.
“Benar, jika kau memang mengenal nama itu, maka akulah pemilik nama itu,” suatu hal lain untuk dibanggakan pada Ishikawa Guren, tapi Yoshiki hanya menggunakan nada biasa tanpa keponggahan. Memiliki nama besar sebagai pengusaha tidaklah lebih baik daripada mengumumkan kepada siapapun bahwa Hana adalah miliknya.
“T-tidak mungkin…” Ishikawa Guren berguman lemah, kalah telak.
“Sekarang, Ishikawa Guren jika urusanmu dengan istriku sudah selesai, kami harus pergi dari sini,” ucap Yoshiki tak acuh sambil menarik tangan Hana pergi.
“….” Ishikawa Guren hanya mampu memandangi kepergian keduanya dengan perasaan campur aduk.
.

Deru halus mobil sedan satu-satunya hal yang mengisi keheningan. Yoshiki terus mengemudi tanpa membuka suara. Sementara Hana terus memegangi lengan jas Yoshiki dengan kepala tertunduk. Sesekali Yoshiki melirik ke arah Hana dengan bibir tertarik tipis.
Dalam diamnya Hana hanya tak mengerti harus mengucapkan kata apa yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya saat ini. Yang ia tahu, ia hanya tidak ingin Yoshiki meninggalkannya lagi, jadi dia akan terus memegang Yoshiki, tidak akan mengizinkan pria itu pergi lagi.
Begitu pula Yoshiki, kali ini ia akan memilih mengikuti insting keras kepala pada harga dirinya yang tinggi. Hana sudah terlalu banyak lepas kendali ketika kepergiannya. Setidaknya ia akan menunggu Hana menceritakan semuanya.
.

“My Lord,” seorang penjaga membukakan pintu mobil begitu Yoshiki menghentikan mobilnya tepat di depan pintu mansion.
“Selamat datang kembali, My Lord,” ucap beberapa penjaga.
“Hn…” mengabaikan ucapan selamat datang yang cukup ramai itu, Yoshiki kembali meraih tangan Hana dan menariknya memasuki mansion.
Seorang dengan jas putih datang menghampiri Yoshiki ketika ia hendak menuju kamarnya, “My Lord,” ucap pria tua yang merupakan kepala kesehatan mansion.
“Hn, ada apa?” Ucap Yoshiki datar.
“My Lord bisakah anda datang ke pusat kesehatan untuk menjalani pemeriksaan. Anda baru kembali dari markas Exorcist, kami ingin memeriksa keadaan anda,” ungkap sang dokter.
“Hn, tidak perlu. Kau lihat, aku baik-baik saja,” Yoshiki kembali menjawab tanpa minat, “Tomuro bagaimana keadaannya?”
“Arashi-sama mengalami banyak kerusakan sirkuit sihir. Organ manusianya tidak bisa bertahan. Butuh pemulihan cukup lama bagi Arashi-sama,” jelas sang dokter.
“Hn, berapa lama?”
“Setidaknya lebih dari 2 minggu.”
Yoshiki terdiam sejenak sementara ia berpemikiran, ‘tidak kusangka akan separah itu, Exorcist sialan itu, mereka telah memiliki teknologi yang benar-benar maju.’
“Kalau begitu kalian fokuskan saja penyembuhan Tomuro. Kalian tidak perlu memeriksaku,” Yoshiki berujar sambil menarik Hana memasuki kamarnya, mengabaikan teriakan khawatir para dokter lain yang mulai datang menyusul.
Begitu memasuki kamarnya Yoshiki melepaskan jas gelanya dan melemparkannya ke sembarang tempat.
“A-anu, Yoshiki-kun apa yang terjadi dengan Tomuro-kun?”
Yoshiki terhenyak. Ia menatap Hana yang tengah duduk di tepi ranjang dengan tidak percaya.
Pria yang sekarang telah melepaskan beberapa kancing kemeja bagian atasnya itu mengambil beberapa langkah dan mendekat ke arah Hana. Diangkatnya dagu Hana yang tertunduk. Dalam sekali sentak wajah Hana telah menatap wajah Yoshiki.
“Hn? Tomuro? Setelah lama tak bertemu yang kau tanyakan pertama kali padaku adalah Tomuro?” Walaupun hanya sebuah kelakar tidak lucu, Yoshiki tetap tidak bisa menahan rasa jengkelnya.
“A-Aa—“ Begitu wajah Hana berhadapan dengan wajah Yoshiki, seketika semburat merah memenuhi wajahnya.
Lidah Hana kelu. Ia sendiri memliki banyak hal yang menahannya untuk berujar lebih pada Yoshiki. Semua rasa bersalah berkumpul dan menyumbat kebahagian Hana walaupun telah bertemu dengan Yoshiki.
Perlahan kepalanya kembali menunduk, “maaf…,” guman Hana lemah akhirnya.
“…” Yoshiki masih terdiam, mengamati Hana.
Kedua tangan Yoshiki bergerak meraih telapak tangan Hana. Ditatapnya lekat jari-jari mereka yang saling bersatu dalam genggamannya yang absolut. Lalu dengan pandangan agak ragu, dibawanya tangan kecil Hana untuk ia kecup.
‘Chu’ sebuah ciuman ringan namun cukup lama diberikan Yoshiki pada jari-jari tan Hana.
“Eh?” Hana terhenyak karena tindakan Yoshiki. Semburat merah semakin menyebar ke seluruh permukaan wajahnya.
“Dia menggenggam tanganmu di sini kan?” Ujar Yoshiki berat. Kedua bola mata hitamnya hanya terbuka sedikit, seolah menatap dalam jari-jari Hana.
Hana tercekat. Yoshiki tahu! Yoshiki mengetahui jika ia pernah menggenggam tangan Ishikawa Guren pada malam festival, dan di kolam renang.
Hana hanya menunduk, ia sepenuhnya menyadari kesalahannya yang sangat fatal.
Suara decitan-decitan pada ranjang mengimbangi perlakuan Yoshiki pada Hana. Didorongnya perempuan berambut pendek itu hingga tertindih. Kembali dagu perempuan itu ia naikkan sebelum dicumnya dalam bibir kemerahan yang telah lama tak ia rasakan.
Keduanya seolah terseret dalam gelombang yang sama mulai saling mengimbangi.
Seperti seorang gentleman, dilepasnya setiap kancing yang mengait pada seragam Hana, “akan kuhapus setiap jejak yang dia buat padamu.”
“Eh?” Hana sweatdrop.
“Y-Yoshiki-k-kun dia tidak mungkin menyentuhku sampai di situ!” Hana berteriak melawan rasa malunya.
Yoshiki menyeringai tipis, “kalau begitu aku yang akan membuat jejak baru padamu.”
“U-uuh!!”

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.