Kamis, 28 Juni 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 19]

Chapter 19: Drown Into Despair

Sebuah Email masuk. Sudah bisa ditebak siapa yang mengirimkan Hana email di saat-saat seperti ini.
Natsume Haru.
Hana menyentuh gambar pesan di layar ponsel pintarnya.
Begitu membaca isi email Natsume, entah mengapa perasaan bersalah mengisi rongga dadanya.
“Bila anda memang sedang membenci saya, tolong respon email ini saja. Saya sangat mengkawatirkan anda.”
Ia sudah bersalah karena lupa mengabari Natsume. Kemudian ia melakukan suatu kesalahan fatal lagi, yaitu naik mobil Ishikawa Guren.
“Guren-kun bisa berhenti di ujung belokan sana,” Hana menunjuk sebuah tempat sebelum ada jalan yang berkelok.
“Di sana? Rumahmu di sana Hana-san? Bukankah itu perumahan elit itu?”
Benar juga. Bagaimana Hana bisa lupa jika belokan itu adalah perumahan petinggi Iblis yang juga bekerja sebegai parlemen di Jepang.
“Bukan, bukan. Pamanku yang tinggal di sana. Aku ada keperluan dengan Pamanku,” Hana mengelak cepat.
“Hooo paman,” Ishikawa Guren menepikan mobilnya.
“Kalau begitu terima kasih, Guren-kun,” Hana melepas seat belt dan keluar dari mobil.
‘Yoshiki? Yoshiki…. Kuroto Yoshiki?’ Ishikawa Guren kembali mengingat nama yang disebutkan Hana.
‘Pebisnis besar itu? Nama marga mereka sama! Tapi Hana berkata jika si Yoshiki ini hanya kekasihnya. Jadi…. Mungkin hanya kebetulan,’ Ishikawa Guren menepis jauh-jauh pemikirannya.

***

Natsume yang bersandar di belakang pohon terdekat mendengar deru mesin mobil yang dimatikan. Dengan tatapan datarnya pria itu mencari kendaraan mana yang berhenti. Karena ia tahu, tidak sembarangan mobil yang akan melintasi daerah perumahan elit ini kecuali rasnya sendiri. Para iblis.
Sebuah sedan berwarna cerah terlihat.
‘Mobil itu? Bukankah?’ Natsume teringat akan kapan hari ia mendapati Hana berbicara dengan Ishikawa Guren sepulang sekolah.
‘Ishikawa Guren!?’
Manik Crimson Red miliknya mendapati visual Hana keluar dari mobil itu. Menunduk sekilas dan tersenyum mengatakan sesuatu.
NYUUT!!
Bagian dadanya kembali terasa sakit dalam sekejap.
Hana. Keluar dari mobil Ishikawa Guren.
Tersenyum pada pria itu.
“Kkkh…” Natsume Haru meremat dada kirinya yang kembali terasa aneh.
Sesak. Rasanya ia butuh bernafas sekarang.
Apa ia sudah gila? Bukankah iblis tidak butuh nafas?
Semua kekhawatirannya akan keselamatan Hana lenyap seketika.
Natsume Haru tersenyum tipis. Atau lebih tepatnya, pria itu tersenyum getir.
Bagaimana mungkin Hana dalam bahaya? Hana sedang bersenang-senang dengan si brengsek itu. Lihat saja wajah Hana yang nampak manis saat tersenyum tadi.
Ah, sepertinya ia benar-benar cemburu sekarang.
Dari semua email dan panggilan yang tak terjawab itu seharusnya ia mengerti. Hana tak ingin diganggu.
Natsume Haru menegadahkan kepalanya ke atas. Ekspresinya penuh dengan kesedihan. “Kau menghukumku lagi, eh?”

***

“Ah Hana-san, jika kamu mau, aku bisa mengantar dan menjemputmu ke sekolah…” Ucap Ishikawa Guren sebelum melajukan mobilnya yang telah panas.
“Eh? Tidak. Tidak Guren-kun. Kamu kan bukan supir!” Hana kebingungan karena tawaran Ishikawa Guren.
“Aku kan mengatakan jika kamu mau, kalau tidak mau yah mau bagaimana lagi,” Ishikawa Guren terkekeh pelan.
“Kalau begitu, hati-hati di jalan Guren-kun,” Hana melambai pendek.
Ishikawa Guren menutup kaca jendela mobilnya dan menekan pedal gas mobilnya meninggalkan Hana.
Setelah memastikan mobil Ishikawa Guren menghilang di belokan, Hana baru beranjak dari titiknya berdiri.
Tangannya masih menggenggam ponselnya dengan erat. Mengigit kecil bibirnya dengan kedua alisnya tertaut ke atas. Ia dipenuhi rasa bersalah sekarang.
Tap
Sebuah langkah kaki dari sisi lain jalan membuat Hana mencari siapa orang lain yang berjalan tidak jauh darinya.
Mata Hana kembali melebar. Itu Natsume Haru. Pria berambut putih itu berjalan dengan kedua tangannya memasuki kantung celananya masing-masing.
“N-Natsume-kun!” Hana membenci pria ini. Itu beberapa jam yang lalu. Tapi sekarang Hana sangat merasa berdosa pada pria ini.
Pira itu berhenti melangkah. Syukurlah, pikir Hana. Sepertinya Natsume tidak marah padanya.
Namun wajah yang ditunjukan Natsume malah membuat hati Hana seolah tersayat. Pria itu menoleh ke belakang. Menunjukkan tatapan kosong dan kedua alisnya tertaut menyedihkan.
“Setidaknya anda kembali dengan selamat,” Natsume berujar lemah.
“Maaf! Natsume-kun! Ponselku di tas dan aku tidak menyadari semua panggilan dan email darimu!” Hana membungkukkan badannya.
Natsume tersenyum lemah.
“Tidak apa My Lady, saya mengerti,” Natsume menyahuti lemah.
Hana menegakkan kembali tubuhnya, melihat Natsume Haru telah melangkah meninggalkannya.
Walaupun Natsume mengatakan seperti itu, Hana masih tidak bisa tenang. Natsume muncul tiba-tiba. Oh tidak. Jangan-jangan Natsume….
“Ano, Natsume-kun, apa kamu menungguku di sana tadi?” Sebenarnya Hana tidak ingin menanyakan ini, namun ia ingin memastikan.
Natsume menangguk lemah, “Sejak tiga setengah jam yang lalu.”
Jawaban itu malah menjadi tombak yang menyerang Hana.
Keduanya terus berjalan tanpa ada satu suara pun dari Natsume Haru. Sementara Hana hanya bisa menatap punggung tegap pria itu dari belakang.
Hana yang tidak menyukai keheningan apalagi dalam keadaan ia merasa sangat bersalah seperti ini akhirnya berucap, “Hei… maafkan aku ya, aku sudah membuatmu menunggu selama tiga setengah jam.”
“Saya tidak mempermasalahkan seberapa lama saya menunggu My Lady. Semalaman pun, saya akan menunggu anda,” Natsume Haru menyahuti cepat.
“Jadi, jadi kamu tidak marah?” Harap-harap cemas Hana menunggu jawaban dari Natsume Haru.
“….”
Namun tidak ada jawaban dari Natsume Haru.
Hana sedikit memiringkan kepalanya ke depan, mencoba melihat wajah pria yang diajaknya bicara.
Hingga mulut Natsume Haru terbuka dan mengucapkan sebuah kalimat, “saya sangat marah My Lady. Namun saya sangat lelah untuk melakukannya. Jadi saya hanya berusaha melupakannya saja,” dan diakhiri dengan sebuah senyuman yang mampu menampar Hana.
Lidah Hana keluh.
Apa yang membuatmu marah? Kenapa ekspresimu seperti itu? Apa aku penyebabnya?
Beribu pertanyaan ingin Hana lontarkan saat itu. Namun bayangan wajah Natsume yang tersenyum penuh penderitaan itu seakaan membungkam mulutnya.
“Makan malam akan segera disiapkan, anda bisa mandi untuk membersihkan tubuh anda sebelum itu,” Natsume melompat-lompat beberapa tanjakan untuk menuju beranda suatu kamar di lantai tiga manor, meninggalkan Hana yang hanya mematung menatapnya.
Dalam langkahnya Natsume tersenyum, lebih tepatnya pria itu sedang tertawa pelan. Menertawakan dirinya. Dirinya yang begitu pengecut.
Kenapa Hana pulang bersama Natsume Haru? Apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan? Atau jangan-jangan mereka berdua berkencan di tempat krepe?
Seandainya ia lebih berani menerima tatapan kebencian Hana, ia pasti sudah memata-matai Hana dari awal.
Dan jika ia memikirkan seandainya. Mungkin lebih baik menjadi, seandainya ia adalah Kuroto Yoshiki sekarang. Bukan Natsume Haru. Maka hal ini tidak akan terjadi.

***

Walaupun di hadapannya tersaji berbagai makanan mewah, Hana yang biasa memiliki nafsu makan diluar batas kemanusiaan entah kenapa saat itu benar-benar kehilangan nafsu makannya.
Seseorang yang harusnya menjadi sosok paling ia benci kembali mengisi kepalanya. Kali ini bukan karena betapa besar rasa bencinya kepada sosok itu. Tapi karena rasa bersalahnya pada sosok itu.
Ekspresi yang diberikan sosok itu padanya beberapa jam lalu masihlah terngenang jelas.
Bunyi derita kursi yang ia geser menggema di seluruh ruangan makan, membuat semua atensi pelayan di ruangan itu tertuju padanya seketika.
Sekali lagi dia harus meminta maaf kepada Natsume Haru. Mungkin dengan begini akan menghilangkan perasaan mengganjal dalam dirinya.
“Kalian tahu Natsume Haru?” Secara acak Hana bertanya pada pelayan yang ia temui.
Kedua pelayan yang Hana temui saling bertatapan sejenak sebelum menggeleng pelan, “maaf My Lady, kami tidak tahu.”
“Oke, terima kasih,” Hana berlari meninggalkan kedua pelayan itu.
Lorong-lorong mansion yang panjang ia lalui, bertanya kepada siapapun yang ia temui. Namun nihil.
Setelah mencapai halaman belakang Hana tertunduk dengan nafasnya yang sedikit tersenggal karena telah berkeliling mansion. “Dimana dia?”

***

Di sebuah ruangan yang cukup gelap tanpa ada satu sumber cahaya pun, seorang pria duduk di sofa yang di letakan di tengah ruangan. Tangannya menggenggam gelas goblin berisi anggur berkualitas tinggi terisi hanya sepertiga gelas.
Masih teringat jelas di kepalanya.
Bagaimana Hana melepaskan genggaman tangannya ketika di kolam renang, bagaimana Hana memanggil Ishikawa Guren dengan akrab, bagaimana Hana memberikan senyumannya untuk Ishikawa Guren, dan semua tatapan kebencian yang hanya terarah padanya.
Natsume Haru meneguk cairan merah dalam gelas dan menyisahkan sedikit.
Ia benar-benar kehabisan ide. Dalam sosok Natsume Haru ia harus bisa mengingatkan Hana kembali jika ia milik Kuroto Yoshiki. Sudah terbukti jika hanya ucapan tidak akan berefek apapun.
“Kau jatuh pada keputusasaanmu, eh?” Suara serak mengalun di dalam ruangan itu.
Kedua bola mata merah Natsume Haru yang sedari tadi tertutup, kembali terbuka dengan tatapan datar. Ia mengenal suara ini.
7 Penguasa Dosa Besar yang lain.
“Leviathan,” desis Natsume datar.
“Kau pasti kerepotan ya?” suara tanpa sosok itu kembali bertanya.
“Hn, apa maumu?” Tanpa berbasa-basi Natsume menanyakan perihal kemunculan suara ‘kawan’nya tiba-tiba.
“Aku hanya main kak! Masa tidak boleh main sih? Mentang-mentang enak di dunia manusia aku dilupakan! Jangan buat iri dong!”
“…” Tidak ada respon dari Natsume.
“Ya sudahlah kak, silahkan nikmati detik-detik keputusasaanmu. Aku hanya mau ngomong kalau kakak butuh bantuan, kami siap membantu kakak.”
“Hn,”
Sudah tidak ada lagi suara cempreng yang menyahuti.
Tangan Natsume Haru ia gunakan untuk menyibak rambut-rambut putih yang memenuhi dahinya ke atas. Ia kembali meneggelamkan pikirannya.
Ah, sepertinya ia baru saja menemukan sebuah cara.

***

Pagi kembali datang.
Hana sudah sengaja bangun lebih pagi hari ini. Menunggu di depan mobil dengan pandangan mencari-cari seseorang. Tentu saja siapa lagi jika bukan Natsume Haru yang gagal ia temukan kemarin malam.
Derap kaki berat terdengar. Seketika kepala Hana terangkat. Tanpa sadar ia memasang senyum sumringah menyambut sosok yang datang. Namun detik berikutnya senyumannya itu luntur.
“Paman!?”
Sayang sekali, bukan Natsume Haru yang datang. Namun sopir pribadinya.
“Selamat pagi, My Lady. Anda semangat sekali. Maaf membuat anda menunggu,” pria itu tersenyum ke arah Hana sembari membukakan pintu mobil untuk Hana.
“Loh? Natsume-kun ke mana?” Tanya Hana heran.
“Natsume-dono? Ah, saya tidak tahu. Saya hanya mendapat pesan dari Misaki jika saya harus mengantar anda hari ini.”
“Oh…” hanya desahan kecewa yang diberikan Hana.

***

Untuk pertama kalinya sejak kemunculan Natsume Haru, ia harus berjalan sendirian memasuki gerbang sekolah. Padahal biasanya pemuda itu selalu lengket padanya.
Pandangannya hanya terarah ke bawah. Mengawasi langkah kakinya sendiri.
“Kuroto-senpai, Haru-senpai mana?” Tak hayal para junior perempuan yang mengagumi paras Natsume pun bertanya-tanya ke mana perginya Natsume Haru.
“A-aku sendiri tidak tahu, haha.”
“Tidak masuk?” Beberapa junior lain bertanya.
“K-kurang tahu sih.”
“Eeeh kok tidak tahu? Kuroto-senpai kan dekat dengan Natsume-senpai! Email dong!”
Hana terdiam seketika. Benar juga, bagaimana ia bisa lupa untuk mengirimkan email?
“Atau kalau tidak, biar kami saja yang email Natsume-senpai. Bagi email Natsume-senpai ya, Kuroto-senpai!”
“I-itu kalian minta sendiri saja pada Natsume!” Tak ingin direpoti beberapa pertanyaan lain, Hana segera kabur meninggalkan kerumunan junior yang mengepungnya.
Walaupun sudah memutuskan untuk mengirimkan email pada Natsume Haru, Hana masih sangat bingung harus mengetikkan apa. Layar ponsel pintarnya menyala menampilkan kotak menulis pesan yang masih kosong.
Tidak ke sekolah?—Hapus.
Kamu di mana?
‘Nanti akan kelihatan kalau aku mencari dia,’ Hana menatao serius layar ponsel yang berisi ketikan emailnya.
—Hapus.
‘Astaga. Mau kirim email saja susahnya minta ampun,’ Hana menatap jengkel layar ponselnya.
“Ah terserah!”
Dengan cepat Hana mengetik, “Natsume-kun di mana? Tidak sekolah?” Dan mengirimkannya pada Natsume.
“Kamu kenapa sih? Masih pagi teriak-teriak seperti itu?” Yui dari bangku seberangnya mengomel.
“Hahaha, anime yang kutunggu hari ini tidak tayang,” jawab Hana asal. Untuk sementara lebih baik ia tak membahas segala hal tentang Natsume Haru pada Yui.
“Mana Haru-kun? Dia tidak kelihatan.”
Hana sweatdrop. ‘Padahal baru saja aku berniat menghindar membicarakan Natsume Haru.’

***

“….” Natsume Haru menatap datar email yang baru saja masuk pada ponselnya.
Natsume mengunci layar ponsel itu tanpa membalas email tersebut. Namun ia meraih ponsel lain dan menyentuh logo aplikasi email. Lalu mengirimkan sebuah video.

***

Ponsel Hana bergetar di tengah homeroom.
Sebelum mengambil ponselnya, Hana sempat menoleh ke belakang bangkunya yang kosong. Natsume Haru masih belum muncul.
Ditundukkan kepalanya untuk melihat ponsel yang ia sembunyikan di bawah meja. Membuka fitur kunci ponselnya dan mendapati sebuah email masuk dari alamat email Kuroto Yoshiki.
Tunggu. Apa?
Mata Hana terbelalak seketika.
Cepat-cepat dibukanya email masuk itu.
Tidak ada kalimat apapun. Hanya berisi sebuah video.
Seketika banyak pertanyaan mengisi kepalanya.
Email dari siapa? Bukankah Yoshiki-kun tertangkap? Video apa ini?
Namun akhirnya dengan ragu-ragu Hana menyentuh logo video dalam email itu. Begitu video berhasil terdownload dan terbuka, frame pertama yang Hana lihat membuat cairan bening mengumpul di pelupuk matanya.
“Sensei! Saya izin ke toilet!” Tanpa mengkonfirmasi izin dari guru, Hana berlari meninggalkan kelas.

***

Walaupun mengatakan ‘ke toilet’ pun, tujuan Hana adalah atap sekolah. Karena kelas pagi baru saja dimulai, lorong menjadi sangat sepi, memudahkan Hana menaiki tangga menuju atap tanpa diketahui siapapun.
Setelah memasang earphone pada kedua telinganya, Hana menekan tombol ‘play’ pada aplikasi pemutar video ponselnya.
Di layar ponselnya terlihat seorang pria berambut jagged gelap dan pakaiannya yang serba gelap. Duduk di ruang kerjanya dengan kaki tersilangkan. Menatap dengan arogan seperti biasa.
Saat itu juga Hana tak bisa menahan tumpahan air matanya. Itu suaminya. Kuroto Yoshiki yang sangat ia rindukan.
“Langsung saja My Lady, jika kau sampai melihat video ini maka telah terjadi hal yang tidak mengenakkan—“

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.