Selasa, 18 Juli 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 18]

CHAPTER 18: UMEI YUI’S PLAN

“Kenapa kamu? Wajahmu seperti habis diserbu lebah saja,” Yui menyadari wajah Hana yang campur aduk.
“Yaaah… biasa lah, kena omel,” Hana menjawab santai tanpa ingin menjelaskan lebih jauh kepada Yui.
Setelah berteriak seperti itu, Hana pasti akan diterjang oleh omelan guru-guru.
“Omong-omong, Haru-san, sepertinya kamu punya hutang penjelasan padaku,” Hana berdiri di samping Natsume dengan raut wajah kesal.
Natsume Haru yang awalnya bertopang dagu malas menatap keluar jendela, menoleh ke arah Hana perlahan. Sejenak ia menaikkan sebelah alisnya karena tidak mengerti maksud Hana. Namun detik berikutnya ia menyadari apa yang Hana sedang bicarakan.
“Hanya tidak ingin membiarkan serangga yang menginjak-injak harga diri My Lord terus hidup,” jawab Natsume santai.
“Itu berlebihan! Sangat berlebihan!” Hana mendekatkan wajahnya pada Natsume agar pembicaraan mereka yang tidak normal tidak terdengar siapapun.
“Tidak untuk ukuran serangga. Ayolah, siapapun tidak akan mengatakan berlebihan jika melihat ada anak yang mencabut satu persatu kaki semu.”
Hana memijat pelipisnya.
“Lain kali tolong, bicarakan dulu padaku.”
“Aku juga berharap, kamu membicarakan apapun padaku terlebih dahulu.”
Hana tersentak karena kalimat Natsume yang membalikkan kalimatnya.
“Apa-apaan itu, kamu saja belum mengembalikan ponselku,” Hana menggerutu. Lebih baik ia segera kembali ke kursinya. Berdebat dengan Natsume Haru di kelas bukanlah hal yang bagus.
.
-[Yami no Ai]-
.
“Hei hei hari ini ada kedai krepe yang baru di buka di dekat stasiun loh, katanya diskon 70% untuk 500 pembeli pertama! Yuk ke sana!” Maki berjingkat heboh sambil menunjukkan layar ponselnya diantara agenda makan siang empat sekawan itu.
“Asik juga, aku juka sedang ingin Mix Berry, bagaimana kalau nanti ke sana?” Yui berceletuk.
“SHIRO MAU!” Shiro mengacungkan sumpitnya ke udara.
Semua mata tertuju pada Hana yang belum memberikan respon.
“Y-yah… boleh lah…” mana mungkin Hana menolak tatapan ketiga sahabatnya itu.
.
-[Yami no Ai]-
.
Setelah jam pelajaran terakhir terlewati, empat perempuan yang sudah tak sabar menikmati krepe diskonan segera meninggalkan kelas diiringi rencana-rencana mereka mengenai krepe apa saja yang akan mereka beli.
“Shiro mau Vanilla Chesse, lalu Dark Choco, lalu Blueberry, lalu…”
“Astaga Shiro, perutmu akan sakit jika memakan sebanyak itu,” Maki menyahuti sambil bercanda.
“Habisnya ini kan kesempatan langkah. Hanya membayar 30% saja!” Shiro menggembungkan pipinya.
“Tapi kan tidak perlu sebanyak itu,” Yui sweatdrop.
Hana hanya tersenyum menanggapi.
“Krepe?”
Sebuah suara baritone penuh tanda tanya datang dari arah belakang. Membuat kerumunan itu menoleh ke arah Natsume Haru.
Yui tersenyum jahil sekilas.
“Benar. Kita mau ke kedai krepe. Mau ikut juga Haru-kun?” Dalam kepala Yui sudah tersusun sebuah scenario yang menurutnya epic.
“Hei! Yui! Jangan sembarangan mengajak dong!” Protes Hana. “Memangnya dia nggak malu kalau ikut kerumunan perempuan?” Hana mendekat dan memberikan tatapan ‘jangan-ikut!’ secara bersamaan.
Natsume kembali kesal.
“Lalu bagaimana cara anda pulang?”
“Aku akan naik taksi atau semacamnya.”
Membiarkan Hana naik taksi? Jangan harap Kuroto Yoshiki a.k.a Natsume Haru menyetujui Hana melakukan itu.
“Tidak—“ Natsume terdiam sejenak sebelum membuang nafas berat.
“Ini ponselmu, hubungi aku jika kamu sudah selesai, akan kujemput,” akhirnya mau tak mau Natsume menyerahkan ponsel Hana.
‘Woaaaa…. Apa ini? Beruntung sekali!’ Batin Hana bersorak gembira. Akhirnya ponselnya kembali.
“Seharusnya kamu berikan ponselku dari kemarin,” Hana segera meraih ponselnya dan berpaling menuju teman-temannya.
Natsume hanya menatap datar kepergiian Hana dan teman-temannya. Mengenai ponsel Hana, rencananya hari ini membawanya pada seorang ‘kenalan’ yang berada di departemen komunikasi pusat untuk memblokir lajur komunikasi ID Ponsel Hana dan ID Ponsel Ishikawa Guren. Karena bukan Kuroto Yoshiki, ia menjadi benar-benar kesulitan dalam banyak hal.
Sepertinya dia akan memundurkan rencananya menjadi besok.
Getaran kecil pada saku celananya mengusik susunan rencananya. Sebuah email masuk, tentu saja Natsume hafal dengan getaran ponselnya sendiri.
Sambil berjalan menuruni tangga, Natsume meraih ponselnya dan mengecek email yang baru saja masuk.
“My Lady?” Natsume menggumanan nama sang pengirim email.
“Jangan aneh-aneh. Jangan menyusulku sebelum kuminta. Aku tidak mau tiba-tiba melihatmu saat sedang memakan krepe nanti.” Begitulah isi email itu.
Jempol Natsume menekan fungsi lock pada ponselnya dan kembali mengantongi benda persegi panjang itu.
“Ck…”
.
-[Yami no Ai]-
.
Lihat antrian para siswa yang sudah antri memanjang di depan kedai krepe yang baru di buka itu. Semua orang dengan kemauan yang sama untuk mendapat diskon pasti rela datang lebih awal dari jam buka.
“Kalau begitu Yui dan Shiro tolong carikan tempat duduk ya, biar aku dan Hana yang mengantri,” Maki member saran.
“Boleh, aku Mix Berry ya,” Yui tersenyum menyetujui.
“Ah Shiro mau…. Blueberry…. Vanill—“
“Shiro Blueberry saja.” Maki menarik tangan Hana meninggalkan Shiro untuk segera mengambil antrian.
“HEEEEEE!!??” Shiro sendiri tidak bisa berkutik saat Yui juga menariknya.
.
-[Yami no Ai]-
.
Natsume Haru menatap layar ponselnya yang tetap dalam keadaan mati di atas mejanya.
Sebuah email pada layar MAC-nya mengalihkan perhatiannya pada detik berikutnya.
Dari Hazel.
Dilampirkan juga sebuah rekaman LIVE. Natsume mengarahkan pointer pada lampiran yang dikirimkan Hazel. Setelah memuat data untuk beberapa detik, layar monitor telah menunjukkan sebuah rekaman langsung.
Hazel telah diberikan misi khusus untuk datang ke Indonesia, menilik langsung daerah tempat Tomuro ditahan.
Memasuki area paling terbatas dalam objek vital negara bukanlah hal yang susah bagi seorang Iblis sekelas Hazel. Masalahnya hanya tinggal melumpuhkan Exorcist yang berjaga.
Layar MAC Natsume menunjukkan perjalanan setelah menuruni tangga di ruang turbin. Sebuah lorong panjang dengan penerangan yang lumayan.
Untuk sementara Hazel sedang menyamar menjadi sosok manusia. Menggunakan wajah, dan wig untuk menutupi jati dirinya. Sementara kamera kecil terselip pada bros yang menempel pada blazer coklatnya. Hazel tidak menggunakan sihir penyamaran karena Exorcist pasti akan segera menyadari jika ada aura Iblis mendekat.
.
-[Yami no Ai]-
.
“Mix Berry untuk Yui, dan Blueberry untuk Shiro. Dan… Tadaaaaa kita dapat bonus Large Krepe sebagai pembeli ke 300!” Maki meletakan sebuah mangkuk besar berisi crepe dengan campuran variasi di setiap sisinya.
“Woahahahaha….” Shiro tertawa melihat besarnya crepe gratisan.
“Sepertinya kita beruntung sekali. Pengunjung kelipatan 100 mendapatkan crepe ini katanya,” Hana duduk di hadapan Yui.
Saat melihat wajah Hana, Yui teringat sesuatu.
“Omong-omong nanti bagaimana caramu pulang?” Yui menopang dagunya dengan satu tangan.
Hana mengigit krepenya dan menatap Yui polos, “Si Natsume itu akan menjemputku,” Hana mengkerucutkan bibirnya kesal.
“Bagaimana kalau orang lain saja yang mengantarmu pulang? Sekalian mengantar kita pulang. Bagus kan?” Yui mencoba mencari persetujuan dari anggota lain.
“Diantar pulang? Boleh sih,” Maki mengangguk setuju.
“Shiro sudah dijemput Tomoaki-kun,” Shiro menggeleng sambil mengunyah krepe gratisan.
“Dimakan sendiri bonusnya…” Hana sweatdrop.
“Hana dengarkan aku,” Yui meminta perhatian hana lagi.
“Ah ya, memangnya kita mau diantar siapa?” Hana menaikan sebelah alisnya.
“Rahasia,” Yui mengerlikan matanya kemudian melanjutkan memakan krepenya.
“Haaah?” Hana sweatdrop.
.
-[Yami no Ai]-
.
Dua jam berlalu. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam dari padatnya Tokyo.
Natsume keluar berjalan kaki dari manor. Manornya yang hanya berupa ‘kerajaan keci’ itu selain tersembunyi oleh suatu segel, diletakan di sebuah tepat yang sangat strategis. Supaya tidak ada yang curiga dengan mobil-mobil atau aktivitas keluar masuk suatu jalan namun menghilang tiba-tiba. Maka manor itu di letakan sebuah persimpangan jalan yang renggang penduduk. Sebuah rumah diletakan di sana untuk mengurangi kecurigaan.
Natsume memilih menyerahkan semua tugas pengamatan pada tim khusus. Ia hanya tinggal menunggu laporan masuk dan melakukan rapat strategi setelah itu. Percuma saja jika ia terus ikut melakukan pengamatan tetapi atensinya selalu teralih pada ponselnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda mendapat kiriman dari Hana.
Hana memang melarangnya untuk datang tiba-tiba dan bertindak aneh-aneh. Tapi Hana tidak melarangnya untuk meneleponnya kan?
Natsume mencari kontak Hana.Rasanya sekarang apa yang akan ia lakukan harus dipikir-pikir matang-matang dulu. Jika ia kembali salah melangkah, ia akan mendapat hadiah berupa tatapan permusuhan dari Hana.
Setelah menekan tombol dial, nada sambung terdengar. Natsume menghela nafas lega. Hana tidak mematikan ponselnya.
.
-[Yami no Ai]-
.
Ponsel Hana terus bergetar tanpa henti di dalam tasnya yang tertutup.
“Kalau begitu hati-hati Shiro, Tomoaki-senpai!” Hana melambali pada sebuah mobil yang baru saja bergerak.
“Shiro sudah dijemput, maka sekarang tinggal…” belum habis kalimat Yui, sebuah mobil sedan berwarna cerah berhenti tepat di depan ketiganya yang sedang berdiri di depan sebuah minimarket.
Kaca bagian kemudi mobil itu terbuka. Wajah Ishikawa Guren muncul dari baliknya.
“Menunggu lama? Maaf aku buru-buru menyelesaikan rapatku karena menerima email dari Umei-san,” Ishikawa Guren tersenyum.
Hana melirik Yui dongkol. Ternyata orang yang dimaksud untuk menjemput adalah Ishikawa Guren. Sementara Yui hanya tersenyum tak berdosa.
“Ah, kalian cepatlah masuk. Aku yakin orang tua kalian khawatir jika kalian tidak segera pulang.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Natsume terus menatap layar ponselnya. Tidak ada satupun panggilannya yang direspon oleh Hana. Begitupun email-email yang sudah ia kirimkan.
Berbagai spekulasi bermunculan di benaknya. Mulai dari jika Hana masih bermain dengan temannya, Hana marah padanya dan sengaja tidak mau mengangkat panggilan darinya, sampai Hana mengalami suatu bahaya.
Tanpa sengaja ia meremat ponselnya erat.
“My lady…”
Maka dikirimkannya email sekali lagi yang berbunyi, “Anda membenci saya? Bila begitu saya bisa menyuruh supir lain untuk menjemput anda, tolong respon anda.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Getaran kecil pada ponsel Hana tentu saja segera terhapus karena deru mobil yang kembali menambah kecepatan setelah Ishikawa Guren berhenti untuk menurunkan Hisegawa Maki. Maka tinggalah Yui dan Hana untuk dianatar.
“Waaah, Ishikawa-san sampai rela datang menjemput padahal sedang dalam rapat pekerjaannya,” Yui mulai memanas-manasi.
Ishikawa tersenyum, “rapatnya memang sudah hampir selesai.”
Yui menggoyang bahu Hana yang duduk di depan dari belakang. Memberikan tatapan kamu-harus-berterimakasih-loh.
Sebelum menghela nafas, Hana sempat membalas tatapan Yui kesal.
“Terima kasih Guren-kun,” Hana curiga jika Yui lah yang memanggil Ishikawa Guren untuk menjemput. Tapi Hana tidak punya bukti sama sekali jika Yui memang memanggil Ishikawa Guren.
“Ah, tidak tidak, rapat seperti itu sering kulakukan, jadi tidak masalah jika yang sekarang dipercepat,” Ishikawa Guren kembali melontarkan senyumannya.
"Yamete yo!" akhirnya Hana mengelurakan ponselnya dan mulai menelepon Yoshiki. 'Aku pasti dimarahi' Hana sudah bersiap-siap untuk tearsdropnya.
"Moshi-moshi?" tak di duga. Telepon itu diangkat oleh Yoshiki.
"Ah m-moshi-m-moshi" Hana sangat gugup.
"Hn. Nani?"
"Ah eto apa aku mengganggumu? Teman-temanku--"
"Tidak aku sedang istirahat sebentar."
"Huft. Gomen Yoshiki-kun kau bisa melanjutk--"
"Tidak. Aku memang merindukanmu."
Dan saat itu juga Yui, Maki, dan Shiro mengalami shock berat.
"A-akh..." wajah Hana memerah seketika.
"APAAN SIH!? AKU MALU TAHU!!" Hana meneriaki Yoshiki dengan keras, membuat seluruh penghuni restoran kue yg mereka singgahi terganggu.
"Hn. Tapi aku sungguh-sungguh merindukan--"
"Coto! Kuroto-san jika kau memang merindukan Hana kenapa tidak sedari tadi menelepon? DASAR TSUNDERE!" ucap Shiro ceplas-ceplos.
"Hn. Kau siapa?"
"Eh etto itu tadi Ayaki Shiro dari kelas 1-2. Aku pergi bersamanya, Maki, dan Umei Yui dari kelas 1-1. Gomen tidak memberitahumu."
"Hn. Daijobu. Mau kujemput nanti pulang?"
"A-AAAH! Tidak usah! Kau pasti sibuk sekali."
"Hn. Untukmu apapun kulakukan."
Sebuah kenangan tiba-tiba menghantam ingatannya.
“Y-Yoshiki-kun?” Hana berguman pelan. Kedua Sapphirenya terbuka lebar.
“Ishikawa-san bisa berhenti di dekat pertigaan di sana, aku tinggal di belakang apartemen itu,” Yui dari bangku belakang menunjuk sebuah jalan.
Hana tersadar dari lamunannya berkat suara Yui.
Mobil Ishikawa kembali berhenti untuk menurunkan penumpang.
“Terima kasih atas tumpangannya,” Yui tersenyum ke arah Ishikawa Guren lewat kaca Hana yang diturunkan.
“Dan… selamat bersenang-senang,” Yui mengerling nakal pada Hana.
“Haaah?” Hana membuka mulutnya lebar dengan sebelah alisnya terangkat tidak mengerti.
Begitu Yui telah menghilang dari pandangan, Ishikawa Guren kembali melajukan mobilnya. Kali ini sedikit lebih lambat.
Tiba-tiba Hana teringat ponselnya. Segera dibukanya resleting tasnya dengan tergesa-gesa. Gawat! Dia baru ingat jika dia lupa menghubungi Natsume Haru!
Begitu ia menekan fungsi lock, ponselnya menunjukan jajaran notifikasi email dan panggilan tak terjawab yang masuk.
‘Astaga!’ Pekik Hana dalam hati.
51 Email masuk dan 28 Panggilan tak terjawab. Dan sudah sejak tiga jam yang lalu.
“’Yoshiki-kun’?” Di tengah rasa shock yang lemanda Hana, Ishikawa Guren menyebut nama pria yang barusan digumankan Hana.
“Ah, ah, ada apa Guren-kun?” Sepertinya pikiran Hana sudah teralih pada serbuan email dan panggilan masuk dari Natsume.
“Yoshiki-kun itu siapa?” Ishikawa Guren kembali mengajukkan pertanyaannya.
‘Tunggu dulu, Yoshiki? Sepertinya nama itu tidak asing,’ pikir Natsume menerawang.
Lidah Hana bergerak sedikit, “kekasihku.”
“Eh?” Ishikawa Guren menoleh seketika ke arah Hana.
Hana tak menggubris respon kaget Ishikawa. Kepalanya tertunduk menatap layar ponselnya.
“Kukira kekasihmu itu Natsume Haru,” Ishikawa setengah bercanda.
“Kan sudah kubilang bukan,” Hana menatap Ishikawa dengan menggembungkan pipinya sementara tangannya menggenggam erat ponselnya.
“Ponselmu? Sudah kembali?”
“Ah, ya. Sudah. Loh, kok Guren-kun tahu ponselku sempat tidak bersamaku?”
“Umei Yui meneleponmu seusai keluar dari kolam renang kemarin. Dan katanya yang menjawab Natsume Haru itu. Kami mengkhawatirkanmu karena tiba-tiba pergi begitu saja.”
Akhirnya Ishikawa Guren menyinggung tema yang paling tidak ingin Hana bicarakan.
“Maaf! Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin!” Hana menepuk kedua tangannya.
“Tidak, tidak. Tidak masalah,” Guren tersenyum garing.
DRRRTT….

Ponsel Hana kembali bergetar.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.