CHAPTER 59: Can’t Be Removed
Yoshiki mengangkat jemarinya yang telah sepenuhnya basah. Sekarang Hana sudah sepenuhnya tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Yoshiki dengan sengaja memainkan cairan pelicinnya di depan wajahnya.
“Feel your own, My Lady,” Pria itu menjejali mulunya dengan cairannya sediri.
Dalam keadaan badan masih setengah bergetar akibat orgasme pertamanya, Yoshiki kembali bergerak cepat dengan menarik jemarinya dan menggantinya dengan ciuman panas. Ciuman yang menuntut dan tak terelakkan.
Selama beberapa saat ruangan dengan pencahayaan yang minim itu dipenuhi oleh kecupan dan kulumat bibir keduanya.
“Cllk…. Lckk… hahh…” Berkali-kali Hana berusaha melepaskan jeratan bibir Yoshiki untuk meraih udara, namun bibir sang pria kembali melahapnya dengan cepat.
Desahan Hana semakin memenuhi ruangan begitu sang pria menggerakkan bibirnya pada leher dan payudara Hana. Meninggalkan beberapa bercak kemerahan yang cukup kontras pada kulit tannya.
“C-Cukup Yoshiki-kun…” Di tengah desahannya, Hana mati-matian mengucapkan dua kalimat tersebut.
Manjur. Pergerakkan Yoshiki terhenti. Onyx pria itu hanya mengamati bagaimana tubuh wanita miliknya telah telanjang sepenuhnya dengan badan bergetar.
Namun serigai yang ditunjukkan Yoshiki berikutnya membuat jantung Hana berkontraksi, “tidak mungkin cukup kan My Lady? Aku harus membersihkanmu—menghapus semua jejak yang ditinggalkan oleh si sialan itu padamu.”
“K-Keigo-kun tidak menyentuhku sejauh itu!”
Pandangan Yoshiki seolah semakin mengelam, “Hn, kau mengakuinya? Si sialan itu menjamah tubuhmu?”
“Itu tidak lebih dari pelukan untuk menenangkanku!”
Rahang pria itu mengeras, “aku suamimu My Lady. Bukankah itu seharusnya menjadi tugasku?”
“Bagaimana bisa itu menjadi tugasmu jika penyebab—”
Yoshiki tidak mengizinkan Hana melanjutkan kalimatnya. Yoshiki kembali melahap habis bibir Hana.
Tidak peduli lagi. Yoshiki melebarkan kedua paha Hana sementara ia telah mempersiapkan kejantanannya yang telah berdiri tegak tanpa sempat melepaskan sehelai kain pun dari tubuh kekarnya.
“Tidak—tidak—A-Aaa” Mau meronta seperti apapun, pada akhirnya Yoshiki berhasil menyatukan dirinya dengan Hana.
Pompa. Pompa. Dan pompa.
“Hhh…” Beberapa kali desahan tipis terdengar dari bibir tipis Yoshiki yang terpuaskan setelah sekian lama tak berani menyentuh sang istri.
Sayangnya, Hana yang berada di bawahnya malah bereskpresi kesakitan dan seperti setengah menangis.
“Grrtt…” Mood Yoshiki hancur berantakan. Setelah hembusan nafas berat, Yoshiki berujar congkak, sambil mengusap pipi Hana, “kenapa My Lady? Kau harus lebih menikmati ini lagi, Keigo-sialan-mu itu tidak akan bisa memberikanmu kenikmatan seperti ini.”
“S-Sakit Y-Yoshiki-kun…” Desisan kesakitan Hana tidak main-main. Yoshiki terlalu kasar. Keperkasaan pria itu seolah mengacak-acak dirinya di bawah sana.
Rintihannya sama sekali tidak membuat Yoshiki iba. Malahan pria itu seolah semakin semangat bergerak hingga ranjang yang seharusnya terbuat dari batang pohon terkuat itu berderit, “haha,” pria itu tertawa dalam, “lalu aku harus peduli pada rasa sakitmu? Bukankah kau sama sekali tidak peduli dengan rasa sakitku? Aku sudah mengatakannya padamu My Lady. Berhenti. Berhenti bertemu dengan si sialan itu. Tapi? Kau malah meninggalkanku dan pergi kabur dariku sejauh ke Australia! Apa kau tau seberapa menderitanya aku di sini? Hah!?” Yoshiki meracau bagai orang gila di atas Hana.
“M-Menderita? B-Benar. Yoshiki-kun pasti sangat menderita karena tidak mendapat darahku bukan?”
Kedua retina Yoshiki mengecil. Tidak menyangka Hana akan memandangnya serendah itu.
Emosinya semakin kacau. Bagai kesetanan Yoshiki semakin mempercepat pergerakkannya. Semakin memberikan stimulasi bagi kejantanannya dari pijatan kewanitaan Hana.
“Ahhh… Nggaaah….” Tak tahan lagi, rintihan Hana berubah menjadi desahan begitu kewanitaannya menanggapi respon kejantanan Yoshiki yang mulai berkedut.
Hingga—“Ngghh!!” Yoshiki menenggelamkan miliknya dalam untuk menyemburkan spermanya.
“Tidak. Kau tau betapa aku sangat tidak ingin menyakitimu. Aku akan menunggu sampai kau sendiri yang memberikannya padaku. Aku tidak mencium ataupun menyentuhmu jika kau tidak menyetujuinya. Aku tidak akan memaksamu. Aku bisa menahannya. Tapi kau—” Emosi Yoshiki kembali meluap, tanpa ampun, ia kembali menggerakkan miliknya di dalam milik Hana yang seharusnya telah penuh oleh spermanya.
“A-AAh—” Setengah terkejut Hana merintih. Pasalnya ia sendiri baru saja mengalami orgasme keduanya. Tanpa ada persiapan apapun kewanitaannya kembali diajak berkontraksi.
“Dia, raja iblis bodoh itu takut jika kau akan semakin membencinya jika menyakitimu. Aku tidak menyangka dia akan menjadi semenijijikkan ini karenamu,” ucapan Tomuro terlintas di benaknya.
“Nghh—haaah…hahhh…” Hana hanya mendesah di balik kacaunya isi kepalanya.
Dibalik kesibukkannya di bawah sana, Yoshiki kembali menenggelamkan wajahnya pada leher Hana. Memberikan beberapa sentuhan sensitive hingga beberapa kissmark kembali dibuatnya.
“My Lady…. Hahh…” Yoshiki berguman di tengah desahannya, “jangan pernah meninggalkanku lagi.”
Hana hanya bisa membulatkan kedua bola matanya mendengar kalimat itu. Ruangan yang bercahaya minimum itu menghalanginya melihat bagaimana ekspresi Yoshiki yang hanya berjarak dua puluh senti saja dari wajahnya.
Hana tidak tau lagi. Seolah ia sudah kehilangan kemampuan berpikirnya. Ia tidak bisa membohongi tubuhnya sendiri yang sama sekali tidak menolak setiap sentuhan yang dibuat Yoshiki. Bahkan bibirnya menyambut setiap ciuman yang datang.
Entah sudah berapa kali tubuhnya berkontraksi akibat orgasme. Gelombang kenikmatan terus menghantam dan mempermainkannya.
“Y-Yoshiki-k-kun…. Ahh….” Ia sudah gila. Ia mendesahkan nama pria yang saat ini sangat dibencinya.
Untuk saat ini Hana menyerah. Membiarkan sang iblis membuainya dalam kenikmatan duniawi. Membiarkan rahimnya terisi penuh oleh sperma sang iblis.
Yoshiki tidak berhenti. Sudah hampir ke lima kali ia memuncratkan benihnya pada tubuh Hana. Kewanitaan Hana bahkan seolah sudah tertutup oleh cairannya. Bercaknya pun bercecran pada perut, dada, leher, dan wajah Hana.
Ia tersenyum puas, “lihat dirimu My Lady. Seperti inilah seharusnya. Kau milikku,” ia mengusap lembut pipi Hana.
“Dan aku milikmu,” bersamaan dengan kalimat itu, Yoshiki kembali menyemburkan spermanya memenuhi rahim Hana.
.
Suara derasnya pancaran air shower seolah menenggelamkan kegundahan Hana. Perempuan itu hanya bisa menyerah pada keadaan sekarang.
Ia bersalah kepada Keigo Yasumoto. Seharusnya ia sama sekali tidak melibatkan pria itu pada urusannya. Seharusnya ia tahu, segala hal tidak akan berakhir baik jika melawan Yoshiki. Seperti dirinya saat ini yang berakhir di sebuah penjara bawah tanah. Masih baik Yoshiki memberinya beberapa fasilitas seperti kamar mandi yang ia gunakan saat ini.
Ia meraih handuk dan menggunakannya untuk mengeringkan rambut hitam pendeknya. Begitu kakinya melangkah ke depan cermin, yang ia dapati adalah pantulan dirinya tengah telanjang dan penuh dengan bercak kemerahan pada leher dan dadanya.
Diusapnya bercak itu, “tidak bisa hilang,” ia berguman.
Hana hanya tersenyum kecut, ‘bercak ini seperti kutukan saja,’ Ia melangkah lemah keluar kamar mandi, ‘kutukan yang diberikan oleh—’
Ucapan dalam benaknya terhenti. Sosok yang ada di pikirannya kini telah duduk di atas ranjangnya yang telah bersih.
‘—Kuroto Yoshiki. Lucifer.’
“Selamat pagi, My Lady,” sosok itu tersenyum dengan—lembut?
“A-Ah, Pagi,” begitu menyadari jika dirinya tengah bertelanjang, ia segera kembali memasuki kamar mandi dan menyembunyikan dirinya di balik dinding.
Sebuah tawa renyah terdengar, “kau masih malu bahkan setelah hampir empat tahun pernikahan kita?”
Tidak terdengar jawaban dari Hana.
“Hn… hari ini aku akan pergi ke Sapporo, My Lady.”
“Um, hati-hati di jalan,” respon Hana.
Yoshiki meletakkan sebuah ponsel di atas ranjang, “aku meninggalkan ponsel untukmu. Ponsel ini dilacak setiap aktivitasnya dan hanya bisa digunakan untuk berhubungan dengan ponselku. Tidak ada social media di dalamnya. Namun aku sudah menginstal dan membackup semua data game mu. Kau bisa menggunakannya ketika bosan.”
“Ah, um, terima kasih.”
Terdengar suara derit ranjang menandakan Yoshiki sudah bangkit berdiri, “tidak ada pelukan selamat jalan untukku?”
Dengan ragu Hana menunjukkan kepalanya dari balik dinding, ia mendapati pria itu tengah menundukkan kepalanya.
Hana bukanlah manusia tanpa hati. Memang benar ia sedang sangat marah pada pria yang membuat kakinya dirantai pada bola besi.
“K-kali ini saja,” digerakkan oleh rasa kasihan karena melihat pria itu seperti murung, Hana mendekatkan dirinya yang kini sudah melilitkan handuk pada tubuh telanjangnya.
Walaupun tetap pada ekspresi stoicnya, namun mood pria itu seperti berubah serratus delapan puluh derajat. Ia menyambut tubuh Hana dan mendekapnya erat. Menyelipkan kepala dongkernya pada bahu Hana. Menarik nafas dalam-dalam menikmati aroma sabun dan shampoo Hana.
“Aku mencintaimu, My Lady.”
.
Hana hanya duduk terdiam di tepi ranjangnya. Beberapa set sarapan yang disiapkan para maid dibiarkannya tersaji tanpa ada minat untuk ia sentuh sedikit pun. Ia lapar. Bau daging hamburger yang diberi saus berkali-kali menggodanya. Ia memang tidak berniat terlalu percaya diri, namun pemikiran jika ‘Yoshiki sengaja menyuruh menjadikan menu daging hamburger sebagai sarapanya karena Keigo memasakkan untuknya’ berkali-kali menggelitiknya.
Hana menghelakan nafasnya dan kembali menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Kepalanya masih dipenuhi rasa bersalah dan cemas akan keberadaan Keigo Yasumoto.
Di tengah ruangan tanpa adanya sumber penerangan dari luar, dan kakinya yang terikat pada bola besi besar semakin membuatnya terasa tertekan.
.
“Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini Kuroto-sama,” beberapa pria nampak menundukkan kepalanya di hadapa Yoshiki sebelum akhirnya meninggalkannya sendirian.
Yoshiki menghelakan nafasnya berat. Diregangkannya ikatan dasi yang seolah mencekik lehernya.
Akhirnya ia sendirian. Kedua kakinya melangkah di tengah konstruksi jembatan yang dibangun dengan beberapa persen investasi dari perusahaannya.
Sebuah panggilan telefon masuk, sempat mengganggu ketangannya, “Selamat siang Kuroto-sama, Mr. Lee hari ini akan tiba di Sapporo pada petang hari. Restoran penjamuan sudah disiapkan,” Sekretarisnya dari anak perusahaannya yang lain yang bergerak di bidang sains memaparkan jadwalnya.
“Kirimkan lokasi restorannya. Pastikan restoran itu dipesan secara VVIP dan tertutup.”
“Baik, Kuroto-sama.”
Begitu panggilan itu ditutup, isi kepala Yoshiki seketika teralihkan kepada Hana. Kira-kira, apa yang sedang dilakukan istrinya tersebut?
Sebuah senyum tipis terulas ketika pria itu mulai membuka aplikasi chatting dan menuliskan sebuah pesan pada kontak yang ia beri nama sebagai ‘mine’.
‘Aku merindukanmu.’ Sebuah pesan sangat singkat untuk dikirimkan.
Kaki pria itu senantiasa melangkah dengan pandangannya tetap tertuju pada ponselnya. Mengharapkan sebuah balasan dari pesan yang dikirimkannya. Sayangnya, setelah mencapai mobilnya pun tidak ada pertanda adanya balasan dari istrinya, bahkan pesannya sama sekali tidak dibaca.
Dengan cepat dibukanya aplikasi pemantau CCTV yang ia pasang pada kamar—penjara—Hana melalui laptopnya.
Kedua onyx itu terfokus pada bagaimana pergerakkan Hana pada ruangan persegi serba minimalis itu. Setelah puas mengamati, pandangan pria itu meredup dengan kedua alisnya tertaut, kalut.
Hana sama sekali tidak memakan sarapannya. Bahkan sepertinya ponsel yang diberikannya tidak disentuh Hana sama sekali. Benda itu masih pada posisi terakhir ia memberikannya pada Hana. Begitu ponsel itu menyala karena notifikasi chatnya muncul, yang Hana lakukan hanya melihatnya sekilas kemudian kembali mengurung dirinya dibalik selimut.
“…. Ck.” Pria itu berdecak kesal.
Dikeluarkannya kembali ponselnya dan segera mendial ponsel Hana.
Dari tampilan CCTV Yoshiki bisa melihat ponsel yang ia berikan menyala, namun respon Hana hanya keluar dari balik selimut untuk melihat ponselnya setelah itu kembali mengurung dirinya pada selimut seolah tidak ingin berurusan dengan dirinya si penelepon.
“….” Yoshiki hanya menatap datar laptopnya.
Yoshiki sudah mengira hal ini akan terjadi. Oleh sebab itu ia memasang fitur auto-answer pada ponsel tersebut. Tepat pada satu menit, nada sambung terhenti dan tergantikan oleh suaranya.
“Aku tahu kau di sana My Lady.”
Seketika Hana keluar dari balik selimutnya. Terkejut oleh suara Yoshiki. Ia merangkak mendekat pada ponselnya dengan kebingungan.
“A-Ah, m-maaf aku dari toilet,” jawab Hana reflex berbohong.
“….” Yoshiki kembali terdiam beberapa saat, “Apa dibalik selimutmu ada toilet, My Lady?”
DEG. Hana terhenyak. Yoshiki tau. Ia tidaklah bodoh, seketika ia menolehkan kepalanya ke segala sudut kamar, mencari letak kamera yang mengintainya.
Sebuah seringai terukir tipis pada bibir pria itu, “Ada di pojok kanan atas,” ucapnya seolah menjawab pencarian Hana.
Hana menganga tidak percaya pada ponsel itu. Yoshiki benar-benar memata-matainya dengan CCTV.
“Hn, di kamar mandi pun ada.”
Hana tidak bisa mengatakan apapaun.
“Dan jika kau bertanya mengenai ponsel ini, aku sudah memasang fitur auto-answer jika kau tidak mengangkatnya dalam kurun waktu satu menit.”
Hana semakin tidak tau harus berkata apa. Di dalam ruangan sempit dan temaran itu Yoshiki mengendalikannya dari kejahuan. Memang pantas jika tempat ini disebut sebagai penjara.
“Hn, kenapa kau tidak memakan sarapanmu? Aku sudah menyediakan hamburger kesukaanmu.”
Tebakan Hana tepat sasaran. Yoshiki sengaja menyiapkan menu ini untuknya.
“Aku… tidak lapar,” jawab Hana lemah, “Dan, aku hanya menyukai hamburger sesuai resep keluarga Yasumoto.”
Yoshiki memijat pelipisnya, “bahkan sampai detik ini kau masih membuatku cemburu padanya,” ia berguman lemah, “lalu apa maumu? Kau ingin aku menculik ibu si sialan itu dan mebuatkan hamburger untukmu?”
“Aku tidak lapar, Yoshiki-kun,” namun begitu mendengar desahan kesal khas dari ujung telepon itu, Hana segera mengganti ucapannya, “aku akan memakannya… nanti…” ujarnya putus asa, tak ingin menambah masalah lain.
“Pastikan kau makan dengan benar.”
“Umm,” Hana mengangguk mengerti.
Merasa moodnya semakin ringan, Yoshiki mengendurkan ikatan dasinya dan melepas kancing kemejanya paling atas. Disandarkannya punggungnya pada jok mobil lebih dalam.
“Karena kau tidak membalas chat yang sebelumnya kukirimkan kepadamu, aku akan mengatakannya sekali lagi. Aku merindukanmu, My Lady,” ucapnya disusul dengan sebuah senyuman tipis.
“A-ah,” Hana terdengar kebingungan, “Ini baru beberapa jam sejak Yoshiki-kun berangkat.”
“Aku tau. Tapi aku memang merindukanmu saat ini. Ada sesuatu yang kau inginkan dari Sapporo? Aku akan pulang cukup larut mungkin,” Ah pria itu terlena. Ia bisa bicara sesantai itu kepada istrinya. Sudah berapa lama ia menunggu hal ini? Ia tidak peduli lagi. Ia bahagia.
0 komentar:
Posting Komentar