Sabtu, 13 Juli 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 31]

CHAPTER 31: TRY TO KNOW WHAT’S MY FAVORITE THING 

Dari: Rin2otome@mail.co.jp
Eh? Kuroto-kun juga bisa memainkan biola? Keren! Anu, jika tidak merepotkan, tolong.

Yoshiki menghela nafas menatap layar komputernya yang menampilkan jendela email Rin. Sementara salah satu tangannya telah menggenggam set biola kesayangannya.
Stradivarius. Biola langka dan legenda yang ada di tangannya sekarang ia letakan di bahu kirinya.
Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan sekarang? Dengan pekerjaan yang menumpuk ia meladeni email dari perempuan asing dan bahkan sampai rela memainkan biola untuknya?
Dengan jari lentiknya ia menggerakkan gesekan pada senar biola. Perlahan sebuah alunan nada dihasilkan.
Terdengar manis dan melompat-lompat di suatu waktu. Jari-jari Yoshiki bergantian mengatur kunci pada senar biola. Kedua matanya terpejam sehingga hanya telinganya saja yang bekerja.
‘Apa yang kulakukan?’
Namun tangannya masih terus bergerak menghasilkan bunyian indah.
‘Kenapa aku melakukan ini demi perempuan baru dan  tak kukenal? Rin Otome…’
Bayangan perempuan berambut sebahu itu muncul di benak Yoshiki.
Kelopak matanya yang sempat terbuka beberapa detik kembali tertutup rapat. Ia tenggelam dalam pikirannya.
Sudah berabad-abad ia hidup di dunia fana ini. Bertemu seorang remaja perempuan yang menyukai Schubert bukanlah hal asing. Lalu kenapa?
Bayangan Hana muncul di benaknya sekarang.
Muncul kernyitan di dahi Yoshiki tanpa sadar. Tangannya menekan senar biola lebih keras tanpa ia duga. Gesekkannya lebih bertenanga dan kecepatannya dalam menggesek juga bertambah. Semakin bertambah. Bunyi semakin mengeras dan cepat. Dan dengan satu gesekkan keras music berhenti mengalun.
“…” Yoshiki terdiam beberapa saat.



Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Rec420010818.mp3
Dengarkan itu.

Dari: Rin2otome@mail.co.jp
U-uwaaaa Kuroto-kun benar-benar mau melakukannya. Tunggu sebentar akan kudengarkan. Dan terima kasih.

Kedua onyx gelap Yoshiki menatap kosong ke arah layar.
Akhirnya ia mengerti alasan semua ini. Ini adalah kerinduannya yang lain.
Ia memang mencintai Hana sepenuhnya. Namun terkadang ia mengharapkan Hana bisa lebih mengenalnya.
Mungkin ia berharap bisa melakukan sebuah topic pembicaraan mengenai hobinya dengan Hana. Bukan hanya tentang Hana saja. Tapi juga tentang dirinya.
Kedua kelopak Yoshiki tertutup menyembunyikan onyx gelapnya. Yoshiki tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

.

“Yoshiki-kun kemarin tidak kembali ke kamar sama sekali ya?”
“!!” Yoshiki terbangun dari lamunannya begitu mendengar suara Hana.
Pandangan Yoshiki bertemu dengan wajah Hana yang mengernyit melihat kondisinya. Benar juga, dia dan Hana seharusnya sedang belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi.
“Hn… banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”
“Yoshiki-kun tidak apa-apa? Sepertinya Yoshiki-kun kelelahan…” lagi-lagi Hana memberinya tatapan khawatir.
“Hn? Sepertinya seseorang menjadi peduli kepadaku,” Yoshiki memang berniat mengatakannya sebagai candaan, tapi ekspresinya yang begitu datar tidak bisa memberikan efek candaan pada kalimatnya.
“Yah yah, kalau bisa memberikan candaan segaring itu pasti Yoshiki-kun baik-baik saja,” Hana menghela nafas berat sambil membalik lembar bukunya, “ah, soal ini yang keluar di latihan ujian kapan hari. Yoshiki-kun bisa ajari aku cara menjawab ini?” Disodorkannya sebuah soal Fisika kepada Yoshiki.
“Soal ini… pertama kau cari arus yang masuk pada setiap resistornya… lalu…” Yoshiki menuliskan jawaban beserta menjelaskan soal yang Hana sodorkan.
“Sekarang kau mengerti?” Yoshiki menyerahkan hasil coretan pengerjaannya pada Hana.
“Ah….” Sementara Hana menatap bodoh kearah Yoshiki, “sepertinya susah sekali ya? Yoshiki-kun sepertinya sudah terlalu jago saat mengerjakannya, terlalu cepat, mungkin aku harus minta tolong Shida-kun, penjelasannya sedikit lebih mudah.”
‘!!!’ Diri Yoshiki tersentak bukan main.
Dia harus menjadi sosok yang paling diandalkan bagi Hana. Ayolah, seorang raja iblis tidak mungkin bisa dikalahkan manusia biasa dalam segala aspek bukan? Harga dirinya yang merupakan hal utama dari dirinya sebagai Lucifer bisa jatuh!
“Memangnya Shida itu menjelaskan seperti apa?” Terdengar nada ketidak sukaan jelas sekali dari tekanan kalimat Yoshiki.
“Ah, umm… dia langsung menggunakan satu rumus dan menyelesaikannya dengan cepat. “
“Dia tidak menjelaskan bagaimana rumus itu berasal dan kenapa perhitungannya seperti itu! Aku menjelaskan kepadamu kenapa bisa seperti itu sehingga kamu bisa tahu jika tipe soalnya berubah!” Yoshiki terbawa suasana. Ia yang biasanya tenang dan tak bereskpresi lebih sekarang sangat meluap-luap.
Tentu saja Hana sedikit terdiam karenanya.
“Y-Yoshiki-kun… marah?” Tanya Hana kikuk.
‘!!’ Yoshiki kembali terhenyak.
‘Sial… kenapa aku jadi seperti ini?’ Rutuknya dalam hati.
“Mungkin sebaiknya kita sudahi saja belajarnya…” dengan canggung Hana merapikan buku dan peralatan menulisnya, “aku akan membeli makan siang di kantin, Yoshiki-kun ingin menitipkan sesuatu mungkin?”
Walaupun telah lulus, siswa kelas 3 masih diizinkan berada di sekolah untuk mengurus berbagai keperluan administrasi, termasuk menikmati perpustakaan sekolah.
Memijat keningnya, Yoshiki menjawab parau, “tidak.”
“Baiklah, kalau begitu aku permisi,” Hana undur diri meninggalkan Yoshiki yang terdiam di tempatnya.
“…..”
Yoshiki kembali tenggelam dalam pikirannya.
Melakukan pembicaraan mengenai hobinya, eh? Yoshiki tersenyum kecut. Untuk hal yang menguntungkan Hana saja, Hana berkemungkinan untuk meninggalkannya.
‘My Lady…’
Onyxnya terpejam beberapa saat.
Sebuah alunan lembut yang sangat ia kenal mengisi rongga pendengarannya.
Seketika Onyx tersebut terbuka lebar.
‘Die Forelle, Schubert!’
“Oh, Kuroto-kun?”
Onyxnya semakin melebar begitu pandangannya beradu dengan mata abu-abu yang dikenalnya.
“Rin Otome…,” gumannya.
“Etto… ohayou?” Rin Otome tersenyum canggung.
“Hn, aku tidak tertidur. Hanya sedang banyak pikiran,” ucap Yoshiki lemah, “omong-omong, aku membawakannya, The Schubert Album.”
“EH? Sungguh!?” Tak bisa dipungkiri kedua mata abu-abu itu berkilauan seketika.
“Hn…” pertanyaan Rin terjawab dengan sodoran sebuah kotak CD oleh Yoshiki.
“Astaga… benar-benar CDnya… a-aku boleh meminjamnya?” Rin Otome yang awalnya hanya berdiri di samping Yoshiki sekarang entah kenapa telah berani duduk di samping Yoshiki dengan jarak yang begitu dekat.
“Hn, bawa saja.”
“Aku membawa CD Player portable! Ayo kita dengarkan bersama!” Dengan bersemangat Rin mengobrak-abrik isi tasnya dan mengeluarkan mesin pemutar cd kecilnya.
Setelah memasang cd pada pemutarnya Rin menyodorkan sebelah handset kepada Yoshiki, “ayo, dengarkan bersama!”
“….” Yoshiki terdiam beberapa saat mengamati Rin Otome. Perempuan itu tersenyum tulus ke arahnya padahal sedang kegirangan sendiri.
Tanpa sadar bibirnya membentuk lekungan tipis saat ia meraih handset yang ditawarkan.
Musik mengalun lembut. Keduanya larut dalam indahnya prelude yang dimainkan.

.

Beberapa hari kemudian ujian masuk perguruan tinggi negri dilaksanakan.
Seperti biasa Hana akan bersenang-senang setelah melewati suatu ujian untuk merilekskan pikirannya. Itulah kenapa Hana saat ini berada di sebuah restoran cepat saji bersama beberapa temannya yang juga telah melewati ujian.
Namun tidak dengan Yoshiki. Pria itu malah terjebak di meja kerjanya, kewajibannya mengoreksi dan mengesahkan beberapa dokumen terkait pekerjaannya sebagai pengusaha dan penguasa mengharuskannya meninggalkan Hana berkeliaran sendirian. Saat ia tinggalkan Hana hanya bersama ketiga sahabatnya, oleh sebab itu Yoshiki tidak keberatan meninggalkan Hana.
DRRTTT… DRRTTT…
Ponselnya yang berada tidak jauh dari layar komputernya bergetar membuat perhatiannya teralihkan.
Mine
Begitu tau jika yang meneleponnya adalah Hana, tanpa banyak pikir lagi Yoshiki segera meraih ponselnya dan menjawab panggilan itu.
‘Ah, halo?’ Suara dari sebrang sana terdengar.
“Hn. Ada apa My Lady? Sudah ingin pulang? Tunggu beberapa menit lagi, aku akan sampai di sina.”
‘Eh! Tidak-tidak! Anu Yoshiki-kun, seharusnya sebentar lagi aku akan menonton konser TEMPEST COST bersama Shiro. Tapi mendadak Shiro menjadi badmood karena bertengkar dengan dokter Hide. Tiket ini sangat sulit didapatkan jadi akan saying jika aku hanya menonton sendirian. Apakah Yoshiki-kun mau menemaniku menonton konser?’
“…” Yoshiki tidak langsung menjawab.
‘Benar juga. Yoshiki-kun sangat sibuk ya?’ Terdengar nada murung dari sambungan.
Yoshiki masih tidak mengatakan apapun.
‘Kalau begitu tidak usah dipaksa—ah! Naoki-kun!’
Kedua bola mata Yoshiki membesar seketika. Sepertinya Hana sedang bertemu seseorang dan menyapanya. Seorang laki-laki yang Hana sebut dengan begitu akrab—jangan-jangan berikutnya…
‘Mungkin aku akan mengajak Naoki-kun ke konser. Yoshiki-kun lanjutkan saja bekerjanya.’
BINGO!
Tebakan Yoshiki benar. Hana akan langsung mengajak orang itu dan melupakannya begitu saja.
“Ck!” Tanpa sadar ia berdecak kesal entah Hana mendengarnya atau tidak.
“Aku ke sana. Tunggu aku. Jangan macam-macam dengan pria lain—jangan mengajak siapapun.”
Dan malam itu berakhir dengan Yoshiki menemani Hana menonton konser band indie aliran hard-rock. Mengakibatkan Yoshiki harus tidak tidur untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.

.

Seminggu setelah itu, Yoshiki masih sibuk dengan segala pekerjaannya. Beberapa anak perusahaannya terus aktif melakukan pembangunan di berbagai tempat untuk perluasan. Tak terbayang seberapa dokumen yang harus ia tangani dan awasi secara langsung.
PING! Sebuah email masuk di akun khusus untuk kehidupan sekolahnya.
Merasa terganggu, Yoshiki membuka email yang masuk dengan enggan.
Dari: Rin2otome@mail.co.jp
www.mjcrownorc.com/fallconcert
Kuroto-kun! Lihat! MJ Crown Orc akan menggelar konser besar! Astaga astaga! ><
Yoshiki terdiam menatap layar komputernya. Sudah berapa hari lalu sejak ia meminjamkan CD kepada perempuan itu.
Onyx gelapnya bergerak ke arah 2 lembar tiket berwarna keemasan yang berada tak jauh dari komputernya. Sebuah tiket VVIP seharga lebih dari lima puluh ribu yen.
Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Aku sudah tau.
Bahkan sejak hari pertama penjualan tiket, Yoshiki mungkin adalah pembeli pertama tiket VVIP yang dijual hanya beberapa lembar saja. Entah kenapa saat membeli Yoshiki berfikir untuk mengajak Hana serta. Jadilah ia membeli 2 tiket.

Dari: Rin2otome@mail.co.jp
Astaga aku sangat ingin ikut. Tapi tiket umunya sudah cepat terjual habis. Hanya tersisa tiket VIP, VIP Premium, dan VVIP. Jika aku memaksa membelinya aku benar-benar bisa tidak makan selama berbulan-bulan T_T
Lihatlah betapa kerennya teasernya www.mjcrownorc.com/fallconcert/teaser T_T

Yoshiki sudah melihat teasernya pula. Tapi entah kenapa ia menggerakkan kursor pada link tersebut yangkemudian segera membuat speaker komputernya mengeluarkan alunan indah dari teaser yang diputar.
TOK! TOK! TOK!
Pintu ruang kerjanya diketuk dari luar.
“Yoshiki-kun? Apa Yoshiki-kun ada di dalam?”
Itu suara Hana.
“Masuk saja.”
“Permisi…” seperti biasa Hana selalu menggunakan nada setengah bercanda. Tidak pernah berusaha sopan.
“My Lady? Ada apa?” Yoshiki masih berada di kursinya, hanya kepalanya saja yang terarah kepada Hana.
Telinga Hana disapa oleh lantunan dari nada-nada yang dimainkan secara melompat-lompat dari teaser yang dipuar Yoshiki.
“Apa itu? Yoshiki-kun mendengarkan musik instrument?” Bukannya menjawab pertanyaan Yoshiki, Hana malah bertanya balik.
“Hn. Ini Schubert.”
Hana sudah berada di belakang Yoshiki, entah apa yang sebenarnya ingin ia lakukan, “Yoshiki-kun suka ya music instrument begitu?”
Dengan menolehkan wajahnya ke belakang Yoshiki menjawab, “Ya.”
“Heeee…. Yoshiki-kun keren,” pandangan Hana masih terfokus pada layar PC Yoshiki yang menampilkan teaser orkesta.
“Keren?”
“Yap. Keren,” Hana tersenyum ke arah Yoshiki dengan wajah konyolnya, “habisnya aku dari sekolah dasar buta nada. Instrumen memang terdengar indah, tapi aku tidak bisa menghayatinya sama sekali. Bahkan untuk disuruh bermain alat musik pun aku sangat payah.”
Gelapnya bola mata Yoshiki melirik dalam kea rah Hana. Seolah berusaha memahami istrinya itu.
“Aku selalu dimarahi paman ketika tau nilai musikku selalu jelek. Hahaha,” Hana tertawa garing, “oleh sebab itu aliran musikku selalu rock dan alternative yang tidak memerlukan kesensitifan tertentu.”
Benar. Setelah kedua orang tuanya meninggal di usia Hana yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar, hak asuh berpindah pada kakak dari ibu Hana.
Dan Yoshiki tau seberapa kasar pria tua sialan itu dalam mendidik Hana. Mungkin hal itulah yang menyebabkan Hana tidak akan pernah menyukai music instrument.
“My Lady…” tetapi bibirnya kelu tak mampu melanjutkan kalimatnya. Sepasang tiket yang ia beli akan sia-sia. Ia akan menonton orkesta sendirian.
“Umm?” Hana menatap Yoshiki dengan kepala ia miringkan, meminta kelanjutan mengapa Yoshiki memanggilnya.
“Hn… tidak.” Tapi Yoshiki lebih memilih tak mengatakan maksud dan keinginannya.
“Omong-omong Yoshiki-kun! Pengumuman perguruan tinggi negeri sudah tinggal beberapa hari. Huwaaaa aku sudah tidak sabar!” Hana berputar-putar tidak jelas bagai anak hiperaktif.
“Hn, kenapa baru sekarang khawatir? Bukankah kemarin setelah ujian kau biasa-biasa saja?” Sambil bercakap-cakap dengan Hana, jari-jemari Yoshiki bergerak melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
“Yah, habisnya waktu itu niatan berkuliahku sedikit, lalu aku berfikir bagaimana jika Yoshiki-kun diterima sementara aku tidak? Apa yang harus kulakukan?” Dan sekarang Hana mengacak rambutnya kasar sementara dirinya berdiri di depan jendela, mengamati matahari senja yang perlahan turun di ufuk barat.
Yoshiki memutar kursinya, sekarang di hadapannya adalah punggung kecil Hana yang hampir tenggelam oleh cahaya keoranyean matahari senja.
“Kau pasti lolos.”
Sekarang Hana membalik badannya menatap Yoshiki dengan senyuman polosnya, “Um!” Ia menangguk mantap.
“…..” Kedua mata onyxnya seaakan terpana oleh senyuman Hana saat itu.

.

Disebuah kaca di dalam sebuah dress room itu bayangan Kuroto Yoshiki terpantul. Rambutnya yang biasa acak-acakan ia sisir rapi. Sementara tubuhnya terbalut sebuah tuxedo hitam. Bagaikan dewa percintaan, itulah penggamabaran yang cocok untuk pria yang nampak berusia pertengahan dua puluhan itu.
“Oh, Yoshiki-kun mau pergi?” Dari balik dress room suara Hana terdengar.
Kepala biru gelap Yoshiki menoleh kea rah sumber suara.
“My Lady… ya… seperti yang kau lihat,” ucap pria itu sembari melangkah mendekat kea rah Hana.
“Rapi sekali….,” sementara sapphire Hana tak bisa berhenti memandangi penampilan suaminya dari ujung rambut sampai ujung pantofel hitam mengkilap yang dikenakannya, “mau kemana?”
Yoshiki terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia menjawab, “orkesta Schubert.”
“Eh!? Bukankah Schu—itu sudah meninggal!?” Respon bodoh Hana.
Yoshiki menghela nafas singkat, “orkesta dengan lagu-lagu ciptaan Schubert.”
“Heeee… begitu….” Hana memasang wajah bodoh.
Yoshiki kembali terdiam, ia sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“Kau, tidak mau ikut?” Akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibirnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.