Jumat, 21 Juni 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 30]

CHAPTER 30: A LONG SIDE WITH MUSIC

“Hhh…” Yoshiki menghembuskan nafas berat, “lagi-lagi anak itu membuat permainan menyebalkan.”
Sebuah musik mengalun memenuhi aula.
“Waltz di awal dansa, seleranya cukup aneh,” setelah berguman demikian Yoshiki meraih tangan Hana dan menariknya ke tengah-tengah aula.
“T-Tunggu Yoshiki-kun! Aku tidak bisa berdansa sama sekali!” Hana sedikit meronta menahan rasa malu.
Setelah keduanya telah berada di tengah-tengah aula barulah Yoshiki menghentikan tarikannya. Keduanya saling berhadapan ditengah-tengah pasangan dansa lain.
“Hn, percayalah padaku,” Yoshiki meletakkan tangan Hana di pundaknya dan mengganggam tangan Hana yang lain.
Kaki Yoshiki mulai bergerak maju. Kaki Hana merespon bergerak mundur.
“I-Ini p-pertama kalinya aku berdansa loh,” pandangan Hana tertuju pada pasangan dansa lain.
“….” Tidak terdengar respon dari Yoshiki.
Hal tersebut membuat Hana kembali meluruskan kepalanya untuk melihat wajah pasangan dansanya, “ada apa Yoshiki-kun?”
Sedikit terkejut, begitu berbalik Hana mendapati sebuah senyuman terpatri dalam wajah tampan suaminya. Refleks wajah Hana bersemu melihat senyuman itu. Sebuah senyuman tulus dan begitu langka untuk dilihat.
“Y-Yoshiki-k-kun?” Terbata Hana menyebutkan nama suaminya.
“Hn? Ada apa My Lady?” Di tengah kalimatnya pun senyum Yoshiki tidak luntur sama sekali.
“Y-Yoshiki-k-kun tersenyum… W-wuaaa!”
TEP
Karena begitu terpaku dengan senyuman Yoshiki, pergerakan Hana sampai tidak sinkron lagi dan hampir membuatnya terjatuh jika tangan Yoshiki tidak lebih cepat untuk menopang tubuhnya dan membawanya lagi mengikuti irama dansa.
“Hn?” Alis Yoshiki terangkat sebelah, “Oh, aku terlihat aneh ketika tersenyum?”
“T-Tidak…” Hana menggelengkan kepalanya pelan, “h-hanya saja…. Yoshiki-kun jadi terlihat sangat-sangat tampan…”
Seolah menggoda Hana, senyum di bibir Yoshiki melebar, “hn? Kau pikir begitu?”
“Ugh…” Tentu saja Hana akan kesal karena godaan Yoshiki, “memangnya kenapa Yoshiki-kun tersenyum seperti itu?”
“Hn….” Untuk beberapa saat Yoshiki menatap Hana dengan tatapan tenang yang begitu menghanyutkan, berbeda dari tatapannya yang biasanya begitu menusuk tajam dan dalam, “tentu saja karena aku bahagia My Lady.”
“Umm? Yoshiki-kun bahagia?” Hana terus bertanya-tanya akibat pernyataan ambigu Yoshiki.
Keduanya terus bergerak dengan anggun dengan arahan dari Yoshiki. Menjadi pusat perhatian tanpa sadar karena gerakan mereka yang nampak lihai. Berpasang-pasang mata menatap keduanya yang seolah larut dalam alunan musik.
“Karena aku berdansa denganmu di sini,” ucap Yoshiki tenang.
“!!!!!???” Sontak wajah Hana semakin memerah.
Alunan kalem music terus mengisi ruangan, semakin membuat Hana terhanyut dalam situasi.
Kepalanya tertunduk, “s-se-semembahagiakannya itu?” Tanyanya lemah.
“Ya, berdansa bersamamu, hanya bersamamu, menunjukkan kepada siapapun yang ada di ruangan ini jika kau adalah milikku… adalah sebuah kebahagian bagiku.”
Hana tidak tau lagi harus merespon apa. Ucapan Yoshiki terdengar begitu romantis dan sepertinya akan membekas selamanya di ingatannya.
“Namun dansa ini akan segera berakhir.”
“EH?” Sepersekian detik kemudian Hana terkejut dengan wajah bodoh.
“Musik akan berganti dan Hisegawa Maki akan membuat pertukaran pasangan.”
“E-EEEEH? B-Benar juga!” Hana mulai panik.
Mengikuti alunan akhir musik, Yoshiki mendekap Hana erat.
“Yang benar saja. Aku tidak akan membiarkan pria di sini berdansa denganmu.”
“L-Lalu bagaimana?”
“Kita pergi dari sini. Malam dansa telah berakhir My Lady.”
Musik berhenti mengalun.
SRAAAAK.
Gema dress Hana yang tersibak karena gendongan bridal Yoshiki tiba-tiba memecah keheningan yang tercipta oleh berhentinya musik. Lantas semua tatapan terarah pada keduanya.
“E-Eh! T-Tu—“ Hana sudah panik bukan kepalang akibat tindakan sembrono Yoshiki.
“WOAAAAAAAA!!!” Hampir semua kaum hawa di ruangan itu bersorak karena tindakan gentleman Yoshiki.
“Mereka berdua memang luar biasa, hahaha,” Yui tertawa di dalam kerumunan.
“YAHOOOOO MANTAP HANA! KUROTO!” Begitupun Shiro.
Tak lupa riuhnya tepuk tangan mengiring kehebohan kala itu.
Tidak sampai Yoshiki berjalan sambil menggendong Hana untuk keluar aula. Tepuk tangan seketika terhenti.
“HEEEEEEE!!!?? MEREKA PULANG!?”

.

Sekolah hanya tersisa satu minggu lagi bagi siswa tahun ketiga. Selanjutnya akan diadakan ujian-ujian masuk perguruan tinggi negri yang akan menguras tenaga dan pikiran.
“Uwaaaa tinggal seminggu lagi sebelum kelulusan dan besoknya kita harus melaksanakan ujian masuk perguruan tinggi, aku bahkan belum memutuskan mau ke mana dan ambil jurusan apa?” Dengan mengacak-acak rambutnya pandangan Hana terfokus pada ponselnya yang menampilkan daftar perguruan tinggi sementara kakinya sibuk melangkah.
“Pilih saja sesuai keinginanmu, tidak perlu berbelit-belit,” dari arah belakang Yoshiki menyahuti.
Keduanya hendak menuju perpustakaan untuk mengisi kekosongan dengan belajar. Sebenarnya itu hanya inisiatif Hana.
“Mana mungkin semudah itu. Memangnya aku ini Yoshiki-kun yang bisa memilih segala hal tanpa pusing?” Gerutu Hana memasuki ruang perpustakaan.
Ruangan itu cukup sunyi. Berjajar buku mengisi rak-rak di sisinya. Sementara sisi lain berisi meja-kursi bagi siswa yang ingin membaca buku di tempat.
“Ah, omong-omong Yoshiki-kun akan masuk ke mana dan ambil jurusan apa?” Hana sedikit memelankan suaranya begitu keduanya telah duduk berhadapan.
“Hn…” Yoshiki melipat kedua tangannya di depan dada, “akan kuambil tempat dan jurusan yang sama denganmu My Lady.”
“EH!? SAMA DENGANKU!?”
Teriakan Hana barusan mendapat deheman dari penjaga perpusatakan.
“Eeeeh? Kenapa?” Demi menahan suaranya, sekarang Hana mendesis tertahan, “Yoshiki-kun tidak punya tujuan juga ya?”
“Hn, tidak. Aku sudah hampir merasakan semua jurusan dan perguruan tinggi, jadi kemana pun aku pergi berikutnya, itu bukanlah masalah.”
“Eh? S-Serius? Aku baru tau soal ini,” Hana tercengang, “Y-Yoshiki-kun sudah kuliah di mana saja?”
“Banyak tempat. Tidak mungkin kusebutkan satu-satu kan?”
“U-uwaaa…. Gelar apa saja yang di balik nama Yoshiki-kun?” Keringat dingin mengalir dari pelipis Hana.
Kuroto Yoshiki—Suaminya—yang ada di hadapannya memang luar biasa.
“Hn, itu juga banyak, tidak mungkin kusebutkan satu persatu,” Yoshiki menghela nafas.
‘UGHHH—‘ Hana terpaku di tempatnya.
“J-Jangan bilang Y-Yoshiki-kun pun punya gelar p-profesor…”
“Hn, di bidang sains, psikologi, kehutanan, sastra, teknologi, sosial budaya, informasi, dan mungkin yang terakhir adalah theology.”
“Theologi? Itu yang ketuhan-tuhanan kan? Yoshiki-kun belajar itu?”
“Hn, hanya ingin mencari tau bagaimana pandangan manusia kepada penciptanya, My Lady, aku percaya dengan keberadaan Tuhan. Karena aku juga diciptakan olehNya. Aku hanya tidak ingin Dia memerintahku, harga diriku tidak mengizinkanku diperintah siapapun.”
“Eeh—Heee… Lalu… Yoshiki-kun akan mengikutiku?”
“Hn…”
“Baiklah akan kupikirkan jurusan apa yang kuambil nanti, sekarang kita belajar dulu,” Hana mengeluarkan sebuah buku yang cukup tebal.
“Ugh… matematika… fisika… aku tidak mau ini…” Hana berguman sambil membolak-balik lembaran buku tersebut.
“…… !!!!” Ketika sedang asyik memandangi Hana dengan tatapan datarnya, Yoshiki mendengar suara yang cukup samar, suara samar yang begitu memikatnya sampai-sampai ia membalikkan tubuhnya guna mencari sumber suara.
‘Wanderer Fantasy… Schubert…’
Berjarak tiga meja di belakangnya, seorang perempuan dengan headphone di telinganya tengah membolak-balik sebuah buku. Jangan heran jika Kuroto Yoshiki bisa mendengar alunan nada cantik yang keluar dari speaker kecil headphone yang digunakan sang perempuan.
‘Sudah lama juga aku tidak mendengarkan Schubert karena terlalu asik dengan Bach… Hn?’
Karena suara alunan music dari Wanderer Fantasy yang Yoshiki dengar mendadak berhenti, detik itu pula Yoshiki bangun dari lamunannya.
“Eeeee…. Soal dari buku ini sudah banyak yang terjawab karena digunakan untuk belajar ujian kemarin….” Gerutu Hana.
“Kalau begitu setelah pulang sekolah kita beli buku soal yang baru. Sementara kau isi yang masih kosong. Akan kucarikan buku soal di perpustakaan ini,” dengan begitu Yoshiki beranjak dari kursinya.
“Ah, umm, aku tertolong.”

.

Baru beberapa detik sejak Yoshiki tiba di rak bagian soal-soal sebuah alunan musik klasik yang sangat familiar menyapa indra pendengarannya.
‘Piano Trio No. 2, Schubert.’
Sumber suara yang begitu lemah lagi-lagi terdengar dari sebuah earphone. Lagi-lagi perempuan yang tadi. Perempuan berambut pendek sebahu itu tengah sibuk membolak-balik sebuah halaman buku di ujung rak dengan earphone setia menempel di kedua telinganya.
Yoshiki terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya dengan kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, ia pun melangkah mendekati sang perempuan.
“Schubert, Piano Trio No. 2.”
“Eh!?”
“Suara earphonemu, bocor keluar. Telingamu tidak sakit mendengar music sekeras itu?”
“E-eh?” Otome Rin seketika salah tingkah dengan earphonennya dan beralih mematikan music lewat ponselnya.
“M-Maaf! Apa itu mengganggu?” Kini Rin sedikit membungkuk di hadapan Yoshiki.
“Hn, tidak juga. Omong-omong kau suka Schubert?” Yoshiki meraih sebuah buku yang nampak menarik perhatiannya dan membolak-balik isinya.
“Iya! Musik yang kusukai music klasik. Aku sedikit bermain biola ketika senggang. Ah, omong-omong aku Otome Rin dari kelas 3-6. Kamu jangan-jangan… Kuroto Yoshiki-kun?”
“Hn…” Yoshiki tidak perlu menanyakan kenapa Rin bisa mengetahui namanya. Ayolah, semua orang di penjuru sekolah telah mengetahuinya.
“Best of Schubert benar?” Yoshiki tiba-tiba berbicara.
“Eh?” Rin tertegun.
“Piano Trio No. 2 tadi dari Best of Schubert bukan?” Yoshiki sedikit memberikan lirikan pada Rin.
“Oh iya! Eh? Kuroto-kun tau itu? Jangan-jangan Kuroto-kun juga fans Schubert sepertiku?” Sekarang mata Rin berkilauan, “wah, jarang sekali bertemu siswa lain yang suka music klasik, apalagi Schubert!”
“Hn, aku suka musik klasik. Apapun itu.”
“Keren! Mungkin kita harus mendengarkan music bersama?” Rin tersenyum lebar ke arah Yoshiki.
“…..!?” Yoshiki terdiam sejenak.
Perasaan aneh seolah-olah menyentuh hatinya.
Seolah-olah pikirannya telah mempermainkannya. Dari wajah Rin sejenak terbayang wajah Hana. Apakah ini kerinduannya yang terpendam selama ini?
“Best of Schubert memang bagus. Tapi sebaiknya kau dengarkan The Schubert Album yang dimainkan oleh Paul Armin Edelmann.”
“Iya juga. Tapi itu kan album terbaru dan baru rilis dua minggu lalu. Mana mungkin siswa kelas 3 SMA sepertiku mampu melakukan PO album seperti itu,” Rin tertawa hambar, menertawakan dirinya sendiri.
“Kau mau mendengarkan Best of Schubert?”
Bertemu seorang siswi berusia 17 tahun di sekolah biasa yang menyukai musik klasik bagi Yoshiki adalah sebuah keunikan tersendiri. Oleh sebab itu entah kenapa dirinya seperti terdorong untuk lebih dekat dengan sang perempuan.
“Memangnya Kuroto-kun punya CD nya?”
“Hn, aku punya,” jawab Yoshiki santai.
“S-Serius!? Album itu kan baru rilis 2 minggu lalu! Dan harganya benar-benar luar biasa, Kuroto-kun benar-benar punya CD nya asli?” Tanpa sadar kedua tangan Rin menggenggam ujung kemeja Yoshiki karena terlalu bersemangat.
“Akan kubawakan besok jika kau tidak percaya. Kau bisa dengarkan sendiri,” Yoshiki menjawab tenang.
“Heh? A-Aku diperbolehkan meminjamnya? CD Schubert terbaru itu!?” Cengkramannya pada lengan baju Yoshiki semakin intens.
“Hn.”
“Astaga Tuhan ini akan menjadi moment terbaik dalam hidupku! Terima kasih Kuroto-kun!”
“Yoshiki-kun? Sudah ketemu bukunya?”
Sebuah suara seketika menginterupsi keasikan keduanya. Hana telah berdiri di dekat Yoshiki tanpa disadari.
“Hn, kau harus coba selesaikan persamaan geometri di buku ini,” setelah membalik tubuhnya Yoshiki menyerahkan sebuah buku kepada Hana.
“Eeeeh? Matematika lagi??” Hana merengek malas sambil melangkah kembali ke tempatnya.
Kuroto Yoshiki berjalan mengikuti Hana tanpa mengucapkan selamat tinggal atau apapun kepada Rin.
Mata coklat Rin hanya bisa menatap punggung Yoshiki yang mulai menjauh darinya. Namun dalam hanya beberapa detik saja mata coklat Rin berpapasan dengan dua bola mata langit yang tajam.
“Eh?”

.

PING!
Atensi pandangan Yoshiki teralihkan. Padahal masih ada berpuluh-puluh file dokumen yang harus ia buka satu persatu malam itu. Tapi sebuah notifikasi email nampak menarik perhatiannya.
Sebuah email yang masuk di email yang biasa ia gunakan untuk keperluan kehidupan sekolahnya. Email yang sangat jarang ia cek dan buka. Sekarang sebuah email membuatnya penasaran sehingga membuatnya membuka email yang jarang dibuka itu.
Dari: Rin2otome@mail.co.jp
Selamat malam Kuroto-kun. Ini aku Otome Rin. Maaf mengganggu waktumu, juga maaf telah meminta alamat emailmu dari temanku. Kuroto-kun aku hanya ingin mengatakan jika tidak perlu membawakan CD-nya besok. Sejujurnya aku sangat-sangat senang sekali karena bisa punya kesempatan untuk mendengarkan CD Schubert paling terbaru. Namun aku sepertinya belum pantas untuk mendengarkan CDnya.Terima kasih atas tawarannya.
Kedua onyx gelap Yoshiki seakan terpaku menatap barisan kalimat yang terpapar di layar komputernya.
Namun beberapa saat jari-jarinya mengetik sebuah balasan.
Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Tidak masalah. Santai saja. Kau yakin tidak mau kubawakan CDnya besok? Kau akan rugi.
Belum sempat lagi Yoshiki membuka jendela file dokumen yang harus ia tuntaskan notifikasi pop-up email kembali muncul dan membuatnya tanpa berpikir panjang membuka email tersebut.

Dari: Rin2otome@mail.co.jp
Sebenarnya aku sangat ingin mendengarkannya. Tapi aku terlalu takut akan membuat goresan pada CD keren itu. Apalagi itu bukan milikku. T_T

Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Kalau begitu akan kubawakan besok.

Dari: Rin2otome@mail.co.jp
U-uh. Terima kasih banyak Kuroto-kun. Omong-omong apakah Kuroto-kun sibuk?

Yoshiki bukan tipe yang akan membalas email tidak penting. Bahkan terkadang email Hana ia abaikan jika dirinya sudah sangat sibuk. Tetapi entah kenapa kali ini alam bawah sadarnya seperti mengamambil alih tubuhnya. Membuat tangannya terus bergerak mengirimkan email balasan.

Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Ada apa?

Dan balasan dari Rin selalu datang dengan kecepatan tinggi.

Dari: Rin2otome@mail.co.jp
http://youtu.be/Sxxxxxxxx
aku baru saja mendengarkan video itu. Dan merasa aneh di menit ke 3:36. Apa mungkin Kuroto-kun merasakannya juga?

Entah sedang kerasukan atau apa, dengan puluhan folder pekerjaan yang belum ia sentuh sama sekali Yoshiki dengan gampangnya mengklik link yang dikirimkan Rin yang berikutnya mengarahkannya pada sebuah situs video.
Salah satu tangannya meopang dagunya. Pria yang seharusnya dalam mode sangat sibuk itu malah mendengarkan alunan sebuah biola yang begitu merdu dibarengi dengan beberapa piano dan perkusi lain.
Setelah video mencapai menit yang dimaksud Rin, Yoshiki langsung mengetikkan email balasan kepada perempuan itu.

Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Bukan aneh. Hanya saja memang ada lompatan nada. Telingamu bagus sekali sampai bisa mendengarnya. Sebenarnya tidak seperti itu. Namun karena biola dibarengi oleh alat music lain, maka lompatan itu perlu. Mau kuperdengarkan yang nadanya tidak meloncat?

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.