Selasa, 28 Mei 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 29]

CHAPTER 29: Prom Night


Liburan telah berakhir. Ujian akhir pun dilaksanakan. Hari demi hari terasa seperti neraka bagi setiap siswa yang memiliki target nilai tertentu. Tapi hal itu tentu saja tidak berlaku bagi Kuroto Yoshiki.
“Ahh akhirnya hari terakhir ujian!” Hana meregangkan tubuhnya. Menangkat kedua tangannya ke udara.
“Hn, apa yang akan kau lakukan?” Yoshiki berjalan di samping Hana.
“Ngg… karena paman Asami-chan punya hotel di daerah pusat kota, jadi rencana perpisahan dengan pesta dansa kelas 3-4 benar-benar dilaksanakan besok malam. Bagaimana jika mencari gaun?”
“Tidak biasanya kau tertarik untuk mencari anggun.”
“Yoshiki-kun jahat deh. Aku kan hanya berinisiatif.”
“Hn…” Yoshiki menepuk kepala Hana ringan, “tentu. Ayo kita cari gaun untukmu.”



“Siapa yang tadi berkata ingin mencari gaun?” Yoshiki di depan laptopnya berguman tanpa menatap siapa yang ia ajak bicara.
“Ugh!” Sebuah suara yang sepertinya terluka akibat kalimat Yoshiki terdengar dari arah sofa di depan meja kerja Yoshiki. Di situ Hana berada. Perempuan berambut hitam pendek yang kini acak-acakan itu tengah tiduran dengan tidak sopan di atas sebuah sofa.
“Biarkan aku menyelesaikan pencarian item untuk mengupgrade karakterku,” Hana mendesis protes.
“Kau sudah melakukan itu sejak kita pulang dari sekolah tadi.”
“Habisnya aku tiba-tiba ingat kalau event di mana aku bisa mencari item langkah hanya sampai hari ini jam dua belas malam. Aku harus kerja rodi untuk mendapatkannya!” Hana terus menggerutu sementara wajahnya ia tenggelamkan di balik ponselnya, “lagi pula Yoshiki-kun kan juga sibuk bekerja.”
“Aku akan menunda—“
TRRRRRRRRRRRR!!!
“WAAAAAAAAA!!”
Kalimat Yoshiki terpotong seketika setelah ponsel Hana bergetar dan berdering hebat karena sebuah panggilan masuk.
“YUI BODOH! AKU SEDANG DALAM MISI MENJADI MASOKIS DAN KAMU SUDAH MENGHANCURKAN SEMUANYA! TANGGUNG JAWAB! KAMU HARUS MEMBERIKU ITEM EKOR RUBAH EMAS, BOLA MATA NAGA, DAN ABU POHON EK DARI TIMUR!”
Yoshiki hanya sweatdrop melihat tingkah Hana. Istrinya itu tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya hanya untuk bermain game dengan tingkahnya yang luar biasa gila ketika dia kesusahan melawan musuh dalam game.
“Kamu ngomong apaan sih?”
‘Hn? Loudspeaker?’ Karena mendengar suara Yui dari ponsel Hana fokus Yoshiki kembali teralihkan.
“Aku sedang bermain game! Jadi berhenti meneleponku!” Hana terus meraung protes.
“Tidak tidak. Kamu pikir besok tidak ada apa-apa? Besok ada pesta dansa kelas kita! Sudah kuduga kamu tidak akan peduli soal hal ini! Aku akan segera ke rumahmu dan menjemputmu paksa! Kamu harus mencari gaunmu untuk besok!” Dari sebrang sana Yui juga terus meraung protes.
Hana bangkit dan posisinya seketika.
Yui tidak boleh ke rumahnya karena tempat itu sudah kosong semenjak Hana pindah ke mansion Yoshiki!
“Ng… ngg.. ya… a-aku…” Seketika Hana memalingkan wajahnya dengan gerakan terpotong-potong—meminta bantuan.
“Hn…” Yoshiki menghela nafas berat, “katakana saja kau akan pergi bersamaku. Tanyakan dia akan pergi mencari gaun di mana, kita ke sana.”
“A-aku akan ke sana bersama Yoshiki-kun, ingin mencari gaun di mana?”
“Kuroto-kun? Ah, boleh saja. Aku akan menunggumu bersama Ida-kun di pusat butik blok 5 ok?”
“O-ok,” masih dengan setengah gugup Hana mematikan panggilan telepon Yui.
“Ayo segera kita selesaikan misi kita Yoshiki-kun supaya aku bisa kembali menyiksa diri berburu item!” Orasi Hana semangat.

….

“Itu dia, akhirnya dia benar-benar datang,” Yui menatap kesal kedatangan Hana.
“Loh, kukira ada Maki dan Shiro juga,” ucap Hana ketika mendatangi Yui. Di belakang Yui ada Ida berdiri.
“Maki sudah dapat gaunnya. Sementara Shiro sepertinya mencari gaun bersama Dr. Araide. Kali ini kupastikan kamu akan menjadi anggun dan cantik!” Ujar Yui berapi-api.
“Heee? Begitu ya Yui? Udara panas dari semangatmu itu terasa loh,” Hana sweatdrop.
Keempat remaja itu akhirnya berkeliling keluar masuk setiap butik seenak mereka. Sudah hampir lebih dari sepuluh butik mereka kunjungi. Merepotkan penjaga toko sama sekali tak masuk dalam hitungan yang harus dipikirkan.
“Aku tau jika perempuan akan semerepotkan ini ketika membeli pakaian, tapi siapa sangka kali ini begitu buruk!” Ida seperti akan limbung dari posisi tegaknya.
Yoshiki yang ada di samping Ida tidak merespon.
Keduanya selalu mengekor di balik dua perempuan yang entah kenapa tidak memiliki kata lelah dalam kamus mereka.
“Mencari untuk satu orang saja sudah melelahkan. Apalagi untuk dua orang. Aku berharap Rayumi tidak mau datang tadi,”Ida kembali mengeluh.
“Dia memang tidak mau datang tadi. Sejak sepulang sekolah dia terus bermain game.”
“Aku bersumpah demi apapun ini harus menjadi butik terakhir kita Hana!” Teriakan Yui membuat fokus kedua pemuda itu teralihkan.
“Habisnya kamu seperti ibuku Yui… selera kita tidak pernah sama,” tidak mampu melawan Yui, Hana menatap kea rah lain.
“Itu karena pilihanmu selalu seperti pakaian cosplay!” Yui sekarang hampir mencekik mati Hana.
“Ughh… Ah bagaimana dengan itu!” Hana tiba-tiba menunjuk sebuah gaun yang dipajang.
Sebuah gaun—dress hitam setengah paha.
“Oh boleh juga! Ayo kita lihat!” Dengan semangat Yui menarik tangan Hana memasuki butik yang menyediakan dress yang ditunjuk Hana.
“Mereka mulai lagi…” mendesah, terpaksa Idan mengikuti keduanya mengikuti Hana dan Yui kembali memasuki butik.
“Akhirnya seleramu sedikit benar walaupun warnanya tetap hit—“
“Nah kan, aku juga masih punya sisi perempuan kok. Ng? Kamu kenapa Yui? Kok diem?” Hana memiringkan kepala melihat Yui yang seolah-olah membatu melihat gaun yang Hana maksud.
“Yah, seleramu memang bagus, untuk benda berharga mahal,” disusul tawa garing oleh Yui.
“Harganya berapa memang?” Hana yang penasaran meraih label harga yang tertemempel.
Detik berikutnya Hana ikut membatu di tempat.
“Hmm? Kalian berdua kenapa?” Dari arah belakang Ida dan Yoshiki muncul, “sudah dapat?”
“Ah, hahaha, ya kita dapat. Tapi harganya luar biasa,” Yui tersenyum kikuk.
“Berapa?” Yoshiki muncul dari balik tubuh Ida.
“Hngg 12,500 yen. Ayo kita cari yang lain saja yang seperti ini,” Yui hampir menarik Hana keluar butik.
“Kau suka ini?” Pertanyaan tiba-tiba Yoshiki menghentikan gerakan cepat kedua remaja perempuan itu.
“U-uh… y-ya…” jawab Hana ragu-ragu.
“Bagian punggungnya terlalu terbuka,” omel Yoshiki cepat.
“Siapapun tau jika dress akan sejenis itu! Kalau kamu mau Hana memakai pakaian tertutup, suruh saja Hana memakai sarung di seluruh badannya!” Yui meraung-raung kesal.
“Hn… dress yang ini,” mengabaikan Yui, Yoshiki sudah menyuruh seorang penjaga toko untuk membungkus gaun pilihan Hana.
“Baik tuan.”
“DIBELIIII!!??” Yui berteriak terkejut.
“Kau sudah dapat gaunmu, ayo segera pulang,” Yoshiki membawa dress pilihan Hana yang telah dikemas dalam sebuah kantung belanjaan.
“T-Tunggu K-Kuroto-k-kun!” Yui masih tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat, “k-kamu membeli dress seharga 12,500 yen itu!?”
“Hn, ya.”
“G-Gila…”
“Haha…” Hana sendiri hanya tersenyum kikuk melihat Yui begitu shock.

…..

“Kau kenapa? Tidak nyaman?”
Yoshiki yang seharusnya fokus menyetir sedikit mencuri pandang ke arah Hana lantaran istrinya itu seperti siput kepanasan yang terus saja bergerak walaupun kecil-kecilan di kursinya. Hari yang dinanti pun tiba. Prom night akan dilaksanakan jam 8 malam ini.
“Y-Ya… habisnya aku sedang mengenakan pakaian yang setara dengan upahku kerja paruh waktu setelah beberapa minggu,” ucap Hana sedikit kaku.
“Hn… santai saja. Rileks.”
Yoshiki menepikan mobilnya dan mengurangi kecepatan hingga akhirnya benda gelap itu berhenti di depan sebuah hotel berbintang.
“Kenapa juga orang Jepang harus melakukan seperti ini? Dasar ikut-ikut budaya negara sebelah,” Hana menggerutu kecil seraya keluar dari mobil.
GREP.
Yoshiki dengan cepat meraih lengan Hana dan membawanya memasuki hotel.
“A-a-a… uh…” Wajah Hana semakin memanas. Pertama, ia sendiri tidak yakin dengan penampilannya ketika menggunakan gaun, kedua, Yoshiki selalu melakukan hal-hal yang bisa membuatnya memanas.
“Kau terlihat cantik dengan gaun itu.” Ucap Yoshiki tiba-tiba ketika keduanya telah memasuki lift untuk menuju aula yang telah dipesan.
‘Eh?’ Hana hanya bisa mendongkak menatap wajah Yoshiki dengan keterkejutan.
“Dan itu membuatku kesal.”
“EH?” Kali ini Hana benar-benar menyuarakannya, “kenapa?”
“Aku harus lebih mengawasimu dari pandangan-pandangan para jantan nantinya.”
Pintu lift terbuka. Mengumbar suasana pesta yang begitu riuh.
“Ah! Itu Rayumi!”
“Wow astaga dia menggunakan dress demi apa?”
“Lihat, akhirnya dia benar-benar menjadi perempuan!”
Hal sejenis itu yang akan diucapkan kaum adam. Lain lagi dengan para hawa yang seketika terpana dengan gaun yang membalut tubuh Hana.
“H-Hey itukan….”
“Tidak salah lagi. Itu gaun versi terbatas yang dijual secara premium dan harganya cukup gila.”
“Hana mengenakan gaun itu!? Bagaimana bisa!?”
“T-tapi dia memang terlihat jadi cantik, dan…. Feminim.”
Hana bisa mendengar semua itu. Ia hanya bisa tertawa kaku.
“Seperti biasa kalian berdua memikat sekali,” Yui tiba-tiba muncul dari samping Hana dengan salah satu tangannya terkait dengan tangan Ida, “woaaah, lihatlah gaun itu, cocok sekali denganmu.”
Menahan rasa malu yang menyerangnya Hana pun menjadi congkak, “ya kan? Pilihanku tidak pernah salah!”
“Hahaha dasar…” Yui tertawa kaku.
“Siapa sih dia Yui? Aku tidak pernah melihatnya, anak kelas 3-4 juga?” Sekarang Amagawa Nashiro yang muncul.
“Ah ya, sepertinya mendadak ada murid pindahan,” seolah mengerti dengan candaan cepat Nashiro, Yui menyambungnya.
“Heh? Heh? Siapa?” Namun Hana dengan polosnya menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang keduanya bicarakan, “mana? Mana anaknya?”
“Pffftt—“ kedunya menahan tawa.
“Yang dibicarakan Nashiro itu kamu loh Hana,” jelas Yui.
“Aku? Kenapa?” Hana menunjuk dirinya dengan dungu.
“Yaah… habisnya kamu selalu terlihat berantakan, liar, dan kacau. Sekarang kamu lebih rapi, anggun, manis, dan cantik,” cengir Nashiro.
Sepasang mata gelap yang sedari tadi hanya memperhatikan percakapan yang ada mulai melebar ganas. Pandangannya menajam dan tertuju pada satu target.
“Tentu dia cantik. Karena itu dia kekasihku.”
Sebuah nada berat dan terkesan menusuk seketika mengalihkan fokus setiap pandangan mata orang-orang yang terlibat dalam percakapan kecil itu.
Kuroto Yoshiki, di belakang Hana—dengan tuksedo hitam yang Nampak begitu pas hingga hampir memperlihatkan lekuk tubuh tegapnya—tangan-tangannya ia letakan di bahu dan pinggang Hana seolah-olah mengatakan kepada siapapun untuk menjauhi Hana yang merupakan miliknya.
Kedua mata gelapnya terlihat lebih tajam daripada pedang. Seolah-olah bisa menebas siapapun yang hendak menyentuh barang seujung jaripun dari Hana.
“Ah… n-ngg…” Nashiro sedikit tersentak, “y-ya, Rayumi adalah kekasih yang tepat untukmu Kuroto.”
Siapapun tau, jika Amagawa Nashiro cukup ketakutan.
“WOAAAAA HANA-CHAN CANTIIIIKKK!!!” Sekarang giliran Shiro yang datang.
Bersama Maki yang juga berisik, “si buruk rupa menjadi Cinderella dadakan.”
“Geh kalian!!” Respon Hana.
Dan suasana mencekam sirna seketika.



Prom night malam itu penuh akan kilauan yang jauh dari kata sederhana. Bersamaan dengan itu jam terus bergerak hingga hampir tengah malam. Sayang sekali, kerlapan malam harus segera berakhir.
Sebelum itu, Hana menghabiskan malamnya dengan bercakap-cakap dengan hampir seluruh siswa di kelas. Dari yang paling easygoing, sampai yang paling menyendiri.
“AHAHAHAHAHA! Iya aku ingat, waktu itu Motohiro-sensei sampai marah-marah katanya ‘kalian mau meledakkan lab ha!?’” Tawa Hana meledak di tengah-tengah lima siswa yang mengelilinginya.
“Lalu Rayumi-chan kamu semakin membuat suasana kacau dengan terus beradu argument dengan Motohiro-sensei,” sahut salah seorang siswa.
“Hei hei, aku sedang membelamu saat itu Yamato-kun!” Sergah Hana.
“Ya, ya, lalu Motohiro-sensei berteriak, ‘KELUAR DARI LAB SEKARANG!’” celetuk siswa lain.
“HAHAHAHA!!” Tawa mereka meledak seketika.
“….” Beberapa kaki dari kerumunan Hana, Kuroto Yoshiki berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengamati apa saja yang istrinya lakukan.
Hana memang tipe yang mudah bergaul dan dekat dengan siapapun. Yoshiki tau itu. Jadi dia harus bisa menahan dirinya.
Dialah sang iblis keangkuhan. Sejak awal pengendalian diri yang bisa menahan keangkuhannya tidak ada dalam kamusnya. Tetapi ia harus belajar menerima, perlahan-lahan.
“Kuroto-kun?”
Akibat terlalu tenggelam dalam pikirannya, ia baru saja karena dua gadis menghampirinya.
Enou dan Matsuoka.
“Hn, ada apa?”
“Ah, tidak-tidak. Ini mungkin pertemuan terakhir kita, jadi kami ingin menyapa setiap anggota kelas,” jelas Enou dengan tersenyum.
“Begitu…” respon Yoshiki datar.
“Kuroto-kun tidak menyapa teman-teman lain?” Tanya Matsuoka.
“Aku sudah melakukannya, bersama Rui tadi.”
Baik Enou maupun Matsuoka terdiam seketika. Rui sang ketua kelas memang mendatangi mereka tapi. Dan mereka memang jelas melihat keberadaan Kuroto Yoshiki di belakang Rui, hanya berdiri mengamati, tidak melakukan apapun.
“A-ah… begitu… yang tadi ya…” Enou dan Matsuoka sweatdrop.
“Omong-omong, Kuroto-kun akan ke mana setelah lulus?”
Yoshiki terdiam mendengar pertanyaan polos itu. Sebuah pertanyaan murni dari seorang siswi SMA yang hendak menata karir.
Ke mana ia akan pergi setelah lulus SMA?
Dialah Kuroto Yoshiki yang telah menjajaki berbagai kampus dan segala prodi di seluruh penjuru dunia di kala kebosanan menyerangnya. Sebenarnya jika ia harus menggunakan title program perkuliahan mungkin gelarnya akan menumpuk-numpuk di belakang namanya. Sarjana, Magister, Doktor, Spesialis, dan semua gelar telah berhasil ia dapatkan dalam kurun waktu hidupnya yang begitu lama.
“Hn, entahlah aku menunggu keputusan Hana.”
“Heeeee, Kuroto-kun akan mengikuti Rayumi? Kuroto-kun memang sesuatu sekali. Ah andai ada lagi pria yang seperti Kuroto-kun. Sudah pintar, tampan, setia sekali sampai mau mengikuti ke mana pacarnya kuliah,” guman Enou.
“Ngg? Ada apa dengan Yoshiki-kun?” Tiba-tiba Hana muncul di belakang ketiganya.
“Ah Rayumi! Selamat menikmati prom night ini! Kami permisi!” Enou dan Matsuoka menyingkir dengan cepat.
“Hnggg…. Kalian membicarakan apa? Aku mendengar kata Kuroto-kun itu pintar dan tampan, hmm,” Hana berguman sendiri.
“Yoshiki-kun menggoda perempuan lain ya!?” Ucap Hana dengan wajah bodohnya.
“Hn, itu tidak mungkin bodoh.”
“Lalu kena—“
“SELAMAT MALAM! KITA TELAH SAMPAI DI PENGHUJUNG ACARA! SEBENTAR LAGI MALAM DANSA TANPA AKHIR AKAN DILAKSANAKAN! MARI TERUS BERDANSA DENGAN BERTUKAR-TUKAR PASANGAN SETIAP MUSIK YANG MENGALUN BERUBAH! MARI BUAT KESAN TERINDAH DI MALAM TERAKHIR INI!” Terdengar suara Maki di seluruh penjuru ruangan, memotong kalimat Hana.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.