Jumat, 15 Januari 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 7]

CHAPTER 7: A DAY WITHOUT YOSHIKI-KUN
“Wajahmu tidak banyak berubah ya. Mungkin yang berubah hanya tidak ada plester luka lagi di wajahmu,” guman Ishikawa Guren dengan tangannya ia gunakan untuk menumpu dagunya.
Guratan muncul di pelipis Hana. “Sialan. Kau mengejekku?”
“Terakhir bertemu denganmu pun ada tiga plester luka yang menempel di hidung, pelipis, dan bawah mata kananmu.”
“Heee… kau ingat sekali ya… kalau tidak salah waktu itu aku kenapa ya?”
“Bukannya kau bilang menyelamatkan kucing lalu ditabrak sepeda?” Kono yang seharusnya fokus pada rambut Hana kini mengikuti alur pembicaraan.
“Ah! Benar-benar!” Hana mengangguk-angguk menyetujui.
“Hoi! Rayu—Kuroto jangan menggerakan kepalamu sembarangan!” omel Kono yangkerepotan karena guntingannya menjadi tidak karuan sekarang karena Hana banyak gerak.
“Kuroto? Namamu Kuroto?” Guren menaikan kedua alisnya.
“Yaah sebenarnya—“
“Hahaha… ternyata anak laki-laki kurang ajar yang menari rambutku dengan keras dulu itu bernama Kuroto…” tanpa mengizinkan Hana melanjutkan kalimatnya, Guren segera memotongnya.
Hana, Kono, dan Natsume terdiam hingga Guren menyelesaikan tawanya.
“Sudah selesai,” Kono menghilangkan suasana canggung yang ada.
“Ah, sudah selesai rupanya,” pikiran Hana sudah melupakan jika Guren baru saja menyebutnya sebagai, ‘anak laki-laki’ tadi.
“Hmeh… sudah kuduga aku semakin tampan saja…” Hana menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapannya. Melihat rambut hitamnya sudah menjadi lebih pendek sekarang. Senyumnya terkulum percaya diri.
“Kau… percaya diri sekali…” Guren mencibir dari arah samping.
“Apa? Aku memang seperti itu!” Lagi-lagi bertambah kerutan pada dahi Hana.
“Sudah-sudah kalian berdua. Sudah hampir sepuluh tahun sejak kalian terakhir bertemu bersama dan membuat tokoku kacau, tolong jangan diulangi lagi!” Kono mulai membersihkan sisa-sisa potonga rambut Hana di sekitar leher Hana.
“Kalian itu… tidak berubah sama sekali,” Kono melanjutkan kalimatnya begitu ia mulai melepas kain potong penutup tubuh Hana.
“Yuhuu… ini bagus sekali,” Hana berdiri dari kursinya dan menatap puas dirinya pada pantulan kaca. Dirinya yang baru saja mendapat potongan rambut baru, tubuhnya yang tertutupi oleh kemeja putih lengan panjang dan sebuah sweater tanpa lengan berwarna coklat, dan sebuah rok pendek berwarna abu-abu untuk menutupi pahanya.
“…” Guren terdiam menatap rok yang dikenakan Hana.
“Apa?” Hana menatap Guren seolah pria di sampingnya ini memiliki sebuah iri hati padanya.
“Kau… cross-dresser?” tanya Guren sweatdrop.
“Hah? Apa maksudmu?” Hana memiringkan kepalanya.
“Itu…” Guren menunjuk rok abu-abu Hana dengan ragu-ragu.
“Ini?” Hana menyentuh roknya, “apa aneh jika aku mengenakan rok?” Kini Hana malah bertanya balik.
“Tentu saja aneh. Kau itu laki-laki!”
“Aku perempuan.” Hana menjawab dengan polos.
“Apa?”
“Aku perempuan. Namaku Hana Kuroto.”
“…” Guren terdiam. Cukup lama. Hingga akhirnya—
“KAMU SERIUS!?” Sebuah teriakan menggema dari rongga mulut Guren.
“Aku serius,” Hana mengangguk dengan wajah polosnya.
“Sudah kuduga… kamu terlalu manis untuk ukuran wajah laki-laki…” Guren dengan wajahnya yang memerah malu karena salah tebak sempat berbatuk sedikit lalu memalingkan wajahnya, berfikir.
“Manis kau bilang? Hehe… sebentar lagi kau akan menyukaiku Ishikawa-kun,” Hana menyenggol tangan Guren dengan senyum jahilnya.
“EHEM!” Sebuah deheman terdengar dari arah kursi tunggu, membuat Hana dan Guren menoleh ke arah Haru Natsume bersamaan.
Haru tahu, Hana sama sekali tidak serius dengan godaannya barusan. Tapi hal itu tentu saja tidak bisa dibiarkan, cukup kesal juga rasanya mendengar candaan jahil itu.
Rasanya ingin sekali menarik Hana dari sana, dan mengingatkan jika dirinya adalah miliknya. Tapi mustahil sekali mengingat dirinya bukan lagi Kuroto Yoshiki, tapi Haru Natsume.
“Ah, sekarang giliran pria itu ya Kono-san,” Guren menunjuk Haru.
“Tidak. Pria itu tidak memotong rambutnya. Sekarang giliranmu Guren-kun,” Kono telah membersihkan kursi yang tadi ditempati Hana.
“He? Lalu untuk apa dia kemari?” Guren telah duduk di kursi yang telah disediakan.
“Menunggu Kuroto tentu saja,” Kono menutupi tubuh Guren dengan kain potong.
“Kono-san! Terima kasih ya! Uangnya kuletakan di tempat seperti biasa!” Bersamaan dengan teriakan itu sosok Hana dan sosok bermantel hitam-merah itu menghilang dari ruangan potong.
Sejenak ruangan menjadi hening dan hanya diisi oleh berisiknya gunting yang tengah sibuk membelah tiap helai rambut hitam Guren.
“Guren-kun?” Kono mau tak mau menyuarakan nama pemuda yang kini rambutnya tengah ia potong tersebut. Dari pantulan kaca, dengan jelas ia melihat jika pemuda itu tengan tersenyum tipi sekarang. Sungguh aneh.
“Sudah kuduga… dia perempuan…” Guren hanya menggumankan kalimat itu.
“Hana maksudmu?”
“Yaa…” Guren hanya berguman pelan.


“Hei, Haru-kun lihat, potonga baruku bagus bukan?”
Sudah hampir sepuluh menit Hana terus membanggakan potongan rambut barunya. Mengotak atik kaca kemudi juga berkali-kali ia lakukan. Tentu saja, Haru sudah menjawab pertanyaan Hana berkali-kali dengan jawaban yang sama.
“Omong-omong My Lady…” entah kenapa nada bicara Haru menjadi agak serius, namun matanya sama sekali tak teralihkan dari jalanan.
“Hm? Ada apa Haru-kun?”
“Tolong jangan menggoda pria sembarangan.”
“Menggoda? Ah maksudmu Ishikawa Guren tadi? Ahahaha… aku hanya bercanda.”
“Anda milik My Lord, My Lady.” Ucapan Haru sekarang seolah menegaskan kembali jika Hana adalah milik Yoshiki.
“Aku mengerti… aku mengerti…”


“Yaa… aku sedang dalam perjalan ke sana. Tunggu saja. Yaa… baiklah kalau begitu,” dan panggilan diputuskan.
Guren Ishikawa menekan tombol kembali utama. Menghelakan nafas panjang hingga menimbulkan uap-uap di sekitar mulutnya.
Salju memang sudah berhenti turun. Walau begitu, suhu udara sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda akan naik temperaturnya.
“Kuroto… Hana…” tangannya bergerak meraih dompet yang ia letakan pada saku belakang celananya. Membuka dompet coklat tersebut, dan mengeluarkan secarik foto dari sana.
“Lama tidak bertemu…” gumannya sambil jempol tangannya mengusap permukaan foto tersebut.
Foto sepuluh tahun lalu yang diambil oleh ibunya sebagai kenang-kenangan potong rambutnya. Foto dirinya bersama dengan seorang anak berambut sangat pendek, memakai kaos merah, dan celana pendek biru tengah mengacungkan jarinya membentuk tanda peace.
“Ah! Sialan! Aku lupa meminta alamat emailnya tadi!” rutuknya tiba-tiba.


Sebuah getaran terasa saat Hana hampir terlelap mengikuti rasa lelahnya.
“Maki? Halo? Ada apa?” sebuah panggilan baru saja masuk pada ponselnya. Saphirrenya melirik ke arah jam dinding sekilas. Jam istirahat baru saja dimulai memang. Pantas Maki bisa meneleponnya.
“Hanaaaaaaaaaa!!” sebuah teriakan hampir merusak speaker ponselnya. Untungnya Hana telah siaga dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“Maki, berisik. Aku kesiangan tadi, jadi kuputuskan untuk bolos hari ini. Ah, dan Yoshiki-kun juga izin hari ini.”
“Yoshiki-kun?”
“Eh?” Hana terdiam sejenak.
Maki melupakan Yoshiki. Apa itu berarti Yoshiki sudah menggunakan sihirnya untuk menghapus keberadaannya?
“Ah, lupakan-lupakan. Ada apa Maki?” Hana kembali pada pertanyaan utama.
“Hanya bangun kesiangan? Hahh… syukurlah…” terdnegar jelas helaan nafas lega Maki dari sebrang sana, “omong-omong lima hari kedepan akan diadakan class-fest tahun ini loh. Kita sudah melakukan perundingan tadi. Dan hasilnya, kita akan mengadakan rumah hantu tahun ini.”
“Rumah hantu? Hei… hei… memangnya yakin?” Hana membalikan badanya menjadi terlentang di atas ranjang.
“Tentu saja yakin.”
“Persiapannya akan repot loh.”
“Tenang saja, Yui dan Shiro istirahat kali ini sudah menghilang bersama teman-teman yang lain untuk mencari bahan.”
“Kalian itu… niat sekali…” Hana sweatdrop.
“Yah, ini kan tahun terakhir kita di sekolah. Kita semua ingin menikmati semua stand yang disajikan.”
“Oh, maksudnya rumah hatunya akan dibuat otomatis?”
“Ya, begitulah.”
“Haah… baiklah terserah.”
“Oke. Kalau begitu aku pergi dulu, rapat komite akan segera dimulai.”
“Kau ikut Komite kelas Maki?”
“Iya. Untuk menghindari rasa kesepian saat festival berlangsung saja. Sudah yaa…” dan panggilan diputus.
Hana hanya menatap pantulan cahaya menyilaukan dari layar ponselnya.
“Yoshiki-kun… kau menghapus ingatan semuanya ya?” gumannya.


Pagi cerah menyambut awal musim semi. Bau serbuk bunga mulai bertebaran.
Hana telah siap dengan seragamnya, beserta tasnya yang telah lengkap berisi seluruh perlengkapan sekolah hari ini.
Kakinya melangkah membawanya menuju mobil yang akan digunakan untuk mengantarnya menuju sekolah hari ini. Sebuah senyum kecut menghiasi wajahnya.
Ini akan menjadi hari sama seperti saat ia belum mengenal Kuroto Yoshiki. Hari yang sama sebelum Kuroto Yoshiki pindah.  Dirinya yang sendirian, dan bebas.
“Pagi…” guman Hana malas saat dibukanya pintu depan mobil. Walaupun moodnya hari ini sedang buruk, tapi sebuah sapaan kepada supirnya harus ia berikan.
“Pagi, My Lady.”
Hana terdiam membeku. Saat kepalanya mulai memasuki mobil, pandangan pertama yang disapanya adalah wajah tampan Haru Natsume.
“Kenapa kau yang menjadi supirku? Dan lagi apa-apaan seragam itu!?” Hana menunjuk seragam Mirai no Gakoo yang melekat pada tubuh Haru Natsume.
“Hmm… My Lord meminta saya agar selalu berada di sisi anda,” sebuah jawaban simpel.
“Haahhh…” helaan nafas berat terdengar dari bibir Hana. “Tapi kau tidak perlu sengaja masuk sebagai siswa baru di sekolahku kan? Jangan-jangan kau berniat masuk ke kelasku juga?” Hana telah menyamankan dirinya pada kursinya.
“Saya tidak berniat menjadi siswa baru. Rencananya, saya telah menjadi siswa dan… ya dikelas My Lady.”
Hana melirik malas ke arah Haru yang tengah sibuk dengan urusan menyetirnya, “kenapa kau tidak menyamar menjadi Yoshiki-kun saja?”
“!...” Haru Natsume yang hendak menekan pedal gas terdiam sejenak.
“Saya tidak bisa menyamar menjadi My Lord,” setelah kalimat itu terucap sempurna, diinjaknya pedal gas perlahan-lahan. Membawa Audi Hitam itu melaju.
Mata azure-nya mengamati wujud perempuan di sampinya. Tengah menyandarkan dagunya pada tangannya. Menatap kosong dan bosan kea rah luar jendela.
Genggamannya pada setir seketika mengerat. Giginya bergemelatuk kecil.
‘Aku di sini, My Lady…’


“Ah! Kuroto! Pagi! Tunggu… kau memotong rambutmu lagi?” dari arah belakang terdengar suara yang Hana kenal, suara Takatsu Rui si ketua kelas
“Takatsu, pagi,” Hana tersenyum simpul.
Takatsu memanggilnya dengan panggilan, ‘Kuroto’. Sepertinya ini juga perbuatan Yoshiki.
“Kenapa absen kemarin?”
Tipikal ketua kelas yang sempurna. Menanyakan kejelasan absennya kemarin.
“Aku hanya bangun kesiangan kemarin,” Hana menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
“Hanya kesiangan? Syukurlah… kukira kau kena demam musim dingin. Omong-omong besok kelas kita akan—“
“Rumah hantu bukan? Maki sudah memberitahuku,” Hana memotong segera.
“Begitu? Baguslah, tidak ada lagi yang harus kujelaskan ulang.”
Keduanya telah sampai di dalam kelas bersama dengan pembicaraan mereka.
“Pagi Haru-kun!” sebuah sapaan yang memekikan telinga membuat Hana menoleh kebelakang guna mengetahui apa yang menyebabkan pekikan itu.
Ternyata, segerombol siswi tengah menyambut kedatangan seorang siswa yang tentu sajasangat di kenal oleh Hana. Haru Natsume.
‘Haha… kira-kira bagaimana caranya menanggapi perempuan-perempuan ini?’ batin Hana. Beberapa gambaran dalam pikirannya muncul. Seperti Haru yang mulai melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah semua perempuan yang ada.
Akhirnya, pemuda yang ditunggu-tunggu muncul. Kepala putihnya yang tinggi itu tentu saja bisa terlihat dari balik kerumunan para perempuan.
‘Haha… ini dia’—“Eh?” Hana terperangah.
Haru Natsume melewati para siswi itu begitu saja. Tanpa ada senyuma sama sekali. Bahkan yang ada hanyalah sebuah wajah dingin. Membuat kerumunan itu kecewa berat.
‘Seperti… Yoshiki-kun…’
Entah kenapa, sikap dan tingkah Haru Natsume sangat mirip dengan Kuroto Yoshiki—suaminya. Sebuah sikap di mana ia tidak tertarik dan tidak peduli terhadap kerumunan fans itu.
“Sudah, sudah. Bel masuk akan segera berbunyi. Cepat kalian kembali ke kelas masing-masing,” Takatsu segera muncul sebelum para siswi penyebab keributan itu mengikuti Haru memasuki kelas.
Dengan ditutupnya pintu kelas, keributan mereda.
“Hahhh… selalu saja seperti ini setiap hari…” desah Takatsu Rui.
“HANAAAAA!!”
“—GHUK!”
Sebuah terjangan bertenaga baru saja menghantam tubuh Hana dari belakang.
“S-Shiro… Sakit! Lepas! Kau terlalu erat!” Hana dengan nafas megap-megapnya berusaha melepaskan pelukan erat Shiro pada lehernya.
“Shiro… lepaskan dia…” Yui muncul dengan helaan nafasnya.
“TAPI SHIRO MERINDUKAN HANA!” Shiro tetap ngotot dan malah memeluk leher Hana semakin erat.
“S-Shiro…” Hana semakin megap-megap.
“Baik!” dengan riang dilepaskannya pelukannya.
“Aduh, Shiro… ini masih pagi,” ujar Hana dengan mengusap-usap lehernya.
“Yo, Hana. Bagaimana kabarmu?” Yui Umei bertanya dengan senyumnya.
“Aku baik,” balas Hana dengan senyumannya pula.
“Tidak masuk kelas, dan masuk dengan keadaan rambut terpotong pendek. Berani sekali kau? Coba panjangkan sedikit rambutmu itu!” Maki muncul dengan kedua tangan tangannya ia silangkan di depan dadanya.
“Pagi, Maki,” Hana tersenyum.
“Jika kau terus memotong rambutmu, tidak aka nada pria yang tertarik padamu loh,” nasehat pagi hari oleh Maki.
“Hana! Kau akan sendiri selamanya!” Shiro membesar-besarkan.
‘Sialan… karena Yoshiki menghapus segalanya, aku jadi terlihat seperti seorang jomblo mengerikan,’ batin Hana kesal.
“Omong-omong, ada kabar besar!” Maki tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
“Kudengar kelas sebelah akan membuat rumah zombie yang ada ruang peristirahatannya!”
“EH!?” Ketiganya lantas menanggapi dengan kekagetan.
“Itu serius?” Yui meminta ketegasan.
“Ini masih rencana. Jika ketua Komite meluluskan saja. Ini masihlah sebuah rencana rahasia!”
“Lalu, bagaimana kau tahu rencana ini Maki?” sahut Hana.
“Temanku dari kelas sebelah ikut merencanakan ini.”
“HUWOOO RUANG PERISTI—UMHPP!” Shiro yang hampir meneriakan rencana rahasia segera dibekap mulutnya oleh Maki.
“Shiro ini rahasia!” Maki kembali mengingatkan.
“Tak kusangka tahun ini akan sangat pemberani,” guman Yui, “ruang istirahat kan hanya pernah berhasil dilakukan dua tahun lalu saat kita baru masuk sekolah ini.”

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.