Jumat, 08 Januari 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 6]

CHAPTER 6: BARBER SHOP STORY

“Berikan ini padanya,” tangan Haru Natsume terjulur dengan sebuah alat perekam tergenggam.
Misaki hanya terdiam menatap tangan Haru Natsume yang terjulur. “Kenapa tidak anda berikan saja?”
“Hn?”
“My Lady sepertinya membenci anda. Kenapa tidak mencoba mengakrabkan diri saja?”
“Hn… Ide bagus…” guman Haru Natsume datar.
Keduanya kini telah meninggalkan ruang kerja Kuroto Yoshiki dan dalam perjalanan menuju ruang utama. Dari arah yang mereka tuju sayup-sayup terdengar suara derap langkah kaki yang terdengar seperti orang berlari.
“Ah! Misaki! Akhirnya aku menemukanmu! Ah—“ langkah lebar Hana yang berlarian terhenti begitu melihat sosok berambut putih dan berwajah datar di samping Misaki.
“Haru Natsume…” Hana menggumankan nama itu dengan mirip seperti desisan.
“My Lord menitipkan ini. Untuk anda My Lady,” disodorkannya mesin perekam dalam genggamannya.
Tatapan Saphirre Hana sempat menunjukkan kecurigaan. Tapi akhirnya tangannya tetap terjulur juga untuk menerima alat perekam itu.
Jempolnya yang agak gemetaran menekan satu-satunya tombol berwarna merah dan cukup besar pada mesin itu. Segera setelah beberapa menit bunyi gemerisik pada alat itu, sebuah suara yang membuat kedua bola mata Hana membulat lebar terdengar.
“My Lady… bagaimana kabarmu?”
Menekan kembali tombol itu, Hana menundukkan kepalanya dalam.
“Misaki, tolong ganggu aku,” dan setelah menggumankan kalimat itu, Hana kembali berlarian di lorong.
“My Lady… pasti sangat senang sekali,” ujar Misaki yang berdiri di belakag Haru Natsume.
Haru Natsume dengan kedua tangannya telah ia masukan sempurna ke dalam saku celananya, mulai berjalan meninggalkan Misaki.
‘Situasi sialan ini…’ kedua giginya bergemelatuk menahan emosi.
Seandainya dirinya tak mudah tertipu, seandainya dirinya bisa lebih tegas lagi terhadap keinginan Hana, situasi sialan ini mungkin tidak akan pernah terjadi.
Tomuro tertangkap untuk menggantikannya. Menurut perkiraannya, para Exorcist itu selambat-lamabatnya menyadari keberadaan Tomuro adalah satu tahun. Dirinya telah membuat Tomuro benar-benar menjadi seperti dirinya. Sihir anti Abschleppen Geist telah terpasang pada tubuh Tomuro.Tapi tentu saja, sekembalinya Tomuro, sihir itu akan ditariknya kembali.
Kakinya terus melangkah tanpa ada tujuan yang jelas. Tidak terpikirkan satu tempat pun yang akan menjadi tujuannya. Karena kepalanya sibuk memikirkan banyak hal.
Ini pertama kalinya dirinya harus kembali ke rumahnya dengan menjadi orang asing. Kira-kira, apa yang sedang dilakukan Kuroto Yoshiki saat ini? Bekerja di ruangannya. Sadarlah dirinya betapa membosankannya kesehariannya selama ini.
Tapi biasanya, setelah itu akan muncul seorang perempuan berambut pendek berwarna kelam yang tiba-tiba muncul dan menculiknya ke suatu tempat. Itulah istrinya, Kuroto Hana.
Kini istrinya itu berada dalam keadaannya yang terburuk sepertinya. Dirinya benar-benar tak menyangka jika kepergiannya akan menimbulkan dampak yang besar bagi Hana.
Setidaknya dirinya harus bertahan. Walaupun bukan sebagai Kuroto Yoshiki, suami dari Kuroto Hana, dirinya masih bisa menjaga Kuroto Hana sebagai Haru Natsume.
Selama Tomuro masih bisa menangani masalah di sana, bagian di sini akan diselesaikannya. Pertama-tama Tomuro memang tidak bisa memberikan informasi apapun karena kuncian sihir Exorcist. Tapi setidaknya dia jadi bisa mengerti dan mengenal para Exorcist peringkat 5 ke atas.
Yang perlu dilakukannya sekarang adalah memperkuat para pasukan, dan tetap menjalankan pemerintahan walau bukan sebagai Kuroto Yoshiki. Ini akan menyusahkan jika tanpa kekuatan aslinya, tapi bagaimanapun caranya dia harus segera melakukan ini.
Hana haruslah segera bangkit dari keterpurukannya agar pemerintahan di tempat ini kembali berlang—
“Hiks… hiks…”
Tubuhnya berhenti bergerak dan menegang seketika. Dia mengenal dengan pasti suara sesenggukan ini.
“Yoshiki-kun… Yoshiki-kun…” berujung pada sebuah rintihan yang memilukan.
Haru Natsume sudah tidak bisa mempertahankan pertahannya lagi. Tubuhnya limbung tersandar pada dinding kokoh nan dingin. Tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang kini tengah mengerut bercampur aduk antara sedih, dangeram pada dirinya sendiri.
Betapa dirinya ingin sekali memeluk Hana dari belakang. Mengatakan jika dirinya tidak apa-apa. Mengatakan jika dirinya akan selalu berada di sampingnya.
Perlahan namun pasti, kakinya kembali bergerak menjauh.
“Khh—maaf… My lady…”


“Jangan khawatirkan aku. Anggap saja tidak terjadi apapun. Aku selalu bersamamu—“
“Selalu bersamamu—“
“Bersamamu—“
Kelopak itu terbuka. Memunculkan sebuah sapphire sebiru lautan.
“Hhh… selalu bersamaku bagaimana?” tangannya bergerak menyapu rambutnya yang mulai memanjang.
“Sepertinya aku harus potong rambut,” tubuhnya bergerak bangkit perlahan sementara pandangannya terarah pada sisi samping ranjangnya yang kosong.
“Hei, harusnya aku mendapatkan ucapan selamat pagi darimu,” gumannya miris.
Suara deru salju yang ribut di luar pasti disadarinya.
“Badai salju belum reda ya? Jadi malas sekolah. Aku akan potong rambut saja hari ini.”
“Ohayou, My Lady.”
Hana yang tengah membuka sedikit gorden kamarnya untuk melihat putihnya alam di luar sana, menoleh ke belakang. Pelayan berambut coklat itu telah berdiri di depan pintu kamarnya. Berjalan dengan mendorong sebuah troli makanan.
“Early morning tea?” Hana tersenyum tipis dan kembali menjatuhkan diri pada ranjangnya. Mencari kehangatan dari dinginnya iklim.
Sementara sibuk meracik secangkir the yang pas, Misaki berujar, “seragam sekolah anda telah saya siap—“
“Ah, hari ini aku ingin membolos Misaki,” Hana menyela kalimat Misaki.
“Aku ingin memotong rambutku,” ditiupnya helaian rambut kelam yang menjuntai menutupi dahi hingga alisnya.
“Baiklah My Lady…”
Diterimanya cangkir porselen yang disuguhkan oleh Misaki. Pantulan wajahnya mengisi permukaan gelap the paginya. Wajah inilah, ratu iblis yang siap mengemban kewajiban berat.
Semalaman telah ia habiskan untuk berfikir mengenai keyakinan dan kemantapan perasaannya. Yoshiki tengah berjuang di sana, tentu saja ia tak bisa seenaknya saja berlaku seperti anak kecil di sini.
Lagipula, rekaman yang diberikan oleh Haru Natsume kemarin sudah lebih dari cukup untuk menguatkan perasaannya.
Ia memutuskan untuk mengemban berat tugas ini. Tentu saja, ia tidak akan sendirian. Misaki pasti akan membantunya. Masih ada Haru Natsume juga yang memang benar-benar wakil suaminya.
“Haru Natsume, dia wakilku yang lain. Selama ini dia bertugas di luar istana. Jadi keberadaannya tidak pernah diketahui siapapun kecuali aku dan Tomuro. Dia yang akan menjagamu hingga aku kembali.”
Hana memejamkan matanya selama ia mengecap manis asam the paginya. Ia bisa merasakan tannin yang mulai mengisi kerongkongannya dan lambungnya.
Setidaknya ia bisa bernafas lega sekarang, ternyata Haru Natsume bukanlah Exorcist seperti yang ditakutkan setiap orang. Jujur saja, rasa bencinya pada pria itu sangatlah besar. Haru Natsume, dia yang akan menjaganya sekarang.
“Hahh… diterima saja lah.”
Misaki menaikkan satu alisnya mendengar desahan pasrah Hana. Ingin dia mengetahui apa yang dimaksud ratunya ini, tapi apalah dayanya yang tak bisa membaca pikiran ratunya.


“Kau lama,” gerutu Hana dengan menatap jam tangan di pergelangan tangannya begitu mendengar suara pintu mobil yang terbuka.
Kepalanya ia tolehkan begitu merasakan kursi kemudi di sampingnya telah diduduki seseorang.
“H-Haru Natsume?” Tanyanya terbata begitu melihat sosok berambut putih itu telah duduk di sampingnya dengan mantel hitam-merahnya.
“Hm? Ya?” Haru Natsume setelah memasukan kunci untuk penggerak mesin, ia menolehkan wajahnya kea rah Hana.
“Anda harus memasang sabuk pengaman anda My Lady.”
“Tidak perlu. Cepat berangkat.” Hana melipat kedua tangannya ke depan dadanya.
“Anda harus My Lady,” wajah Haru Natsume tiba-tiba sudah berada di depan wajahnya saja.
Sebuah guratan merah terlihat samar pada pipi Hana.
SRRRT—TREK—
“Walaupun ini hanya sistem keamanan yang diciptakan manusia, tapi apa salahnya memanfaatkannya?” Haru tersenyum tipis menatap Hana.
Ruam samar tadi telah bertransormasi dengan ketebalan dan penyebaran yang merata pada wajah Hana.
Bagaiamana dirinya tidak memerah sementara di hadapannya tersaji seorang pria tampan dan tengah menatapmu dengan senyuman seksi.
“Fufufu,” Haru Natsume terkekeh perlahan selagi menegakan kembali tubuhnya. Menyalakan preseneling mobil.
“A-Apa-apaan itu!? Kenapa kau tertawa!? Kau mengejekku!?” Ini dia,sifat tsundere Hana keluar.
“Saya seharusnya tidak berhak melihat wajah anda yang tengah tersipu seperti ini. My Lord pasti akan cemburu,” ucap Haru dengan entengnya. Melajukan mobil Audi gelap itu meninggalkan mansion.
“E-eh? Memangnya kenapa?”
“Karena anda sangat manis bila begitu. My Lord pasti akan menghajar saya.”
Ruam merah pada wajah Hana kembali menebal seketika.
“Omong-omong anda akan memotong rambut di mana?”
“Di daerah Shinjuku. Bernama, ‘Day Light Barber’.”
“Yang di dekat kafe?” Haru Natsume memastikan kembali.
“Benar.” Hana mengangguk bersemangat.
“Kenapa anda ingin memotong rambut anda, My Lady?”
“Hah? Kenapa kau menanyakan itu? Kupikir Yoshiki-kun tidak akan protes walaupun aku menggundul rambutku,” Hana melirik Natsume sewot.
“Jika anda sampai meggundul rambut anda mungkin My Lord juga akan protes,”Natsume tertawa renyah.
“Aku hanya ingin menghilangkan kesedihanku saja.”
Begitu mendengar jawaban Hana, Natsume refleks menolehkan kepalanya guna melihat sang ratu. Ternyata Hana kini tengah menatap keluar jendela. Pantulan wajah sedihnya tergambar jelas pada kaca gelap mobil.
“My Lord akan selalu di sisi anda.”
Hana yang tadinya menopang dagunya pada jendela kini menoleh menatap Natsume yang sepertinya tengah sibuk dengan kemudinya.
“Aku tahu itu. Aku juga merasakannya. Dia tidak akan meninggalkanku. Bahkan aku masih bisa merasakan kehangatannya menyelimutiku,” guman Hana dengan senyuman hangat merekah pada bibirnya.


“Rayumi.” Sesosok bapak-bapak berusia sekitar empat-lima-puluh tahun datang menyambut Hana yang baru saja melangkah masuk dengan mengibat-ibatkan salju yang menumpuk pada bahunya.
“Ah, sekarang aku Kuroto. Kono-san,” Hana tersenyum ramah.
“Begitukah? Jadi kau sudah menikah?”
“Sudah. Umurku sudah 17 tahun Kono-san,” Hana meletakan mantel coklatnya pada gantungan yang tersedia dan bergegas menuju kursi pelanggan. Kebetulan hari ini pengunjungnya hanya dirinya.
“Jadi, siapa suamimu?” Pria paruh bayah itu membalutkan kain pada tubuh Hana agar selama sesi pemotongan hanya sedikit rambut yang mengotori Hana.
KLIIING—
Bunyi bel yang terpasang pada pintu membuat pria itu menatap ke arah orang yang baru saja memasuki tokonya. Haru Natsume.
“Dia suamimu? Selamat pagi Kuroto-san.”
“Eh bukan! Bukan dia!!” Hana refleks berteriak dengan wajah panik dan memerah.
“Hmm?” Haru Natsume yang baru saja memasuki took segera menyadari apa yang baru saja terjadi.
“Dia bukan suamiku!” Hana kembali berteriak menegaskan.
Hori Natsume tersenyum tertetuk. ‘Tidak diakui suami oleh istri sendiri ternyata menyebalkan sekali…’ batinya.
“Bukan? Lalu siapa dia? Selingkuhanmu?” tanya Kono Tooru dengan bercanda.
“Bukan juga! Mana mau aku berselingkuh dengan pria menyebalkan seperti dia! Ah, potong seperti biasa ya Kono-san.”
“Jadi suamimu di mana sekarang?” Kono Tooru mulai menyiapkan segala peralatan yang akan digunakannya untuk memperbaruhi rambut Hana.
Ada jeda sejenak bagi Hana untuk berfikir. Mana mungkin ia mengatakan jika suaminya tertangkap Exorcist sekarang.
“Dia sedang bertugas sekarang…” jawab Hana ragu.
Siapapun di ruangan itu pasti akan segera menangkap nada sedih yang baru saja dilontarkan Hana secara tidak langsung.
Haru Natsume—Kuroto Yoshiki—terdiam duduk di tempatnya.
“Dia pasti selamat. Hanya pria tangguh yang mampu menikahi perempuan liar sepertimu Hana-kun,” bunyi potongan memenuhi ruangan.
“Perempuan liar?” Dari arah belakang Haru Natsume menyahuti.
Dari arah kaca terlihat jelas Hana sedang melirik sebal ke arah Natsume.
“Dia sudah menjadi langgananku sejak masih SD. Selalu datang kemari meminta potong rambut seperti anak laki-laki dan tak jarang datang kemari dengan plester di mana-mana,” kekehan pria tua itu berbaur dengan suara guntingan pada rambut Hana.
“Kalau tidak salah dulu ada ya, anak laki-laki yang takut dipotong hingga menangis,” sapphire Hana menerawang jauh.
“Guren-kun?”
“Jadi namanya Guren yah… waktu itu merepotkan sekali ya. Ibunya sampai bingung.”
“Syukurlah dengan ajakanmu dia mau memotong rambutnya.”
Haru Natsume terus memasang telinga dan mendengarkan perbincangan antara Hana dan si tukang potong.
“Apa setelah itu dia sering potong rambut kemari Kono-san?”
“Tidak sering. Tapi aku sudah memotongnya tiga kali sejak saat itu.”
“Wah… kalau tidak salah dia beda umur lima tahun denganku. Dia mungkin sudah jadi pegawai yang mapan ya?”
“Pernah dengar nama Ishikawa?”
“Ishikawa? Maksudnya perusahaan yang baru-baru ini hampir menguasai perekonomian industry besar Tokyo? Apa hubungannya?”
“Namanya Ishikawa Guren.”
“EH!? BENARKAH!? ANAK CULUN ITU CEO PERUSAHAAN ISHIKAWA!?” Hana hampir melompat dari kursinya. Mengingat betapa terkejutnya dia, ternyata bocah yang ditemuinya sebelas tahun lalu, bocah yang menangis karena takut rambutnya akan dipotong, ternyata telah tumbuh menjadi sosok luar biasa.
KLIIING—
“Permisi.”
Ketiga penghuni ruangan otomatis mengalihkan pandnagannya pada sosok bermantel coklat yang baru saja memasuki ruang potong.
“Kebetulan yang luar biasa. Selamat datang Guren-kun.” Kono Tooru tersenyum menyambut.
“Kebetulan? Sepertinya sudah ada pelanggan yah? Yaah baiklah lagi pula meeting masih dimulai dua jam lagi,” pria berambut hitam cepak itu melirik jam tangannya sementara ia menjatuhkan pantatnya di sebuah kursi memanjang yang sama dengan yang digunakan Haru Natsume.
“Loh?” Kedua mata coklat Ishikawa Guren memincing menatap kea rah cermin di hadapannya yang menatulkan wajah Kono yang sibuk memotong rambut seorang perempuan yang terasa sangat familiar pada neutron otaknya.
“Kau… kau kan yang waktu itu…” tak bisa menahan hasratnya, Ishikawa Guren menuruni kursinya dan berjalan mendekat kea rah Hana.
“Anak nakal yang waktu itu menjambak rambutku sangat keras.” Ishikawa Haru bertatapan dengan wajah Hana.
“Yo! Sudah lama tak berjumpa!” Hana tersenyum memperlihatkan deretan gigi-giginya. “Tak kusangka kau menjadi CEO ya!”
“Ya… begitulah…” Guren mengusap belakang rambutnya. Agak tersipun.
Sementara itu, mata abu-abu Natsume sama sekali tak lepas dari sosok jakung Ishikawa Guren.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.