Jumat, 22 Januari 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 8]

CHAPTER 8: CLASS FEST
“DOMA-SAN!? DOMA-SAN?” Suara keributan dari arah pintu kelas memaksa seluruh penghuni kelas menolehkan kepala kea rah asal suara.
Seorang pemuda bergaya culun tengah terenggah-enggah di depan pintu kelas. Itu sekertaris Komite Kelas.
Sepertinya kedatangannya kali ini adalah untuk memanggil perwakilan Komite untuk mengikuti rapat Komite perihal Festival.
“Doma-san hari ini tidak masuk karena terkena demam,” Yui datang menghampiri.
“EH? Lalu bagaimana dengan rapat Komite-nya?”
“Begini saja. Karena biasanya aku yang menemani Doma-san untuk rapat komite, bagaimana jika aku mencari satu lagi siswa untuk menemaniku mengikuti rapat Komite?”
Sekertaris Komite terlihat berpikir sejenak, “boleh saja. Rapat dimulai pukul sepuluh tepat. Jangan terlambat.”
“Itu sepuluh menit lag—“
“Pokoknya jangan telat!” Sekertaris Komite telah menghilang, berlari ke kelas lain.
Yui berbalik dan melangkah kembali ke arah gerombolannya, “Ayo Hana ikut aku.”
“He? AKu? Kenapa?” Walau mulutnya terus bertanya-tanya, tapi tubuhnya tetap saja  menuruti tarikan Yui.

“Yui… kenapa kau mengajaku?” Hana bertopang dagu dengan malas.
“Karena yang lain sibuk menyiapkan untuk Festival. Kau yang tidak mengikuti rapat kelas kemarin mana tahu apa saja yang harus disiapkan. Daripada kau merepotkan teman yang lain, lebih baik kau membantuku di sini.”
“Hmeeeh…” Hana hanya mendesah keras.
SREEEK….
Pintu ruang rapat terbuka. Munculah Ketua dan Wakil Ketua Komite diikuti oleh dua orang dewasa di belakang mereka.
Keempatnya telah berdiri di depan ruangan sekarang.
“Selamat pagi, rapat Komite akan dimulai. Disamping saya telah berdiri dewan pendidikan kota , Tanaka Satsuki-san, dan pemegang saham utama Mirai no Gakoo sekaligus sponsor utama Festival kali ini, Ishikawa Guren-san.”
Mata Hana terbelalak lebar. Dari tempat duduknya sekarang walau terlhalang kepala-kepala siswa yang duduk di depannya, Hana bisa melihat jelas wajah pria yang kemarin dia temui di tempat potong rambut. Bukan pria biasa, melainkan pria yang dulu pernah memiliki sebuah kenangan dengannya.
“Ada apa Hana? Kau pasti terpesona dengan wajah berkharisma Ishikawa-san,” ucap Yui.
“Haaaa? Tidak,” Hana menjawa dengan wajah polosnya.
Malah sebaliknya ekspresi Yui menjadi aneh sekarang, “kau sama sekali tidak tertarik?”
Hana menggelengkan kepalanya.
“JANGAN-JANGAN KAU MULAI MENYUKAI PEREMPUAN SEKARANG?” Yui berteriak keras.
“Haah? Apa sih maksudmu? AKU NORMAL!” Hana tersululut emosi.
“Ehem!” Suara deheman keras menginterupsi keduanya. Suara deheman keras dari ketua Komite.
Hana dan Yui seketika membantu begitu melihat seluruh tatapan di ruangan itu ternyata diarahkan kepada keduanya.
“… dia ada di sini?” guman Ishikawa Guren penuh tanda tanya.

“Baiklah dengan ini rapat selesai, tolong jelaskan kembali mengenai apa saja yang kalian dapat di sini pada seluruh teman kelas kalian,” dengan begitu rapat Komite Festival berakhir.
Masing-masing siswa mulai berjalan meninggalan ruang rapat, termasuk Hana dan Yui.
“Kau yang harus menjelaskan ke depan kelas Yui,” lirik Hana kesal.
“Tapi kau juga harus membantuku,” Yui balas melirik kelas.
“Ah!” Ishikawa Guren yang berniat menyapa Hana kecewa begitu melihat Hana telah melangkah keluar rapat diikuti gerombolan siswa yang lain.
“Kenapa dia tidak menyapaku? Apa dia tidak mengenaliku? Apa karena potongan rambut baruku ini?” guman Ishikawa Guren lagi.
“Ishikawa-san.”
Guren Ishikawa lantas menoleh begitu namanya dipanggil.
“Terima kasih telah mau datang pada rapat kami,” ketua Komite melakukan ojigi dengan sopan.
“Sama-sama. Omong-omong, apa di sini ada siswa yang bernama Kuroto Hana?” Entah kenapa dia malah menanyakan nama itu, nama Hana. Padahal seharusnya ia sudah yakin jika itu memang Hana.
“Ada,dia siswa tomboy yang tadi. Dia dari kelas 3-1.”
Tidak rugi juga bertanya kepada ketua komite. Sebuah informasi yang cukup ia butuhkan baru saja ia dapatkan. Yaitu kelas Hana.

Gelap malam sudah menguasai langit. Di luar hanya ada cahaya yang dihasilkan oleh lampu beralirkan listrik.
Festival kelas akan dimulai empat hari lagi. Dan sejak hari ini pelajaran diliburkan dan diganti untuk persiapan untuk Festival.
Hari ini dikususkan untuk menyiapkan bahan-bahan keperluan Festival. Tiga hari kedepan akan digunakan untuk mulai menghias kelas. Apalagi kelas 3-1 mengambil tema rumah hantu. Pasti akan sangat memakan waktu untuk menyiapkan semuanya.
“Selamat malam Hana-kun.”
Hana balas melambai pada gerombolan adik kelas yang juga mulai meninggalkan sekolah.
DIIIN…
Sebuah klaskson mobil segera membuat kaki Hana melangkah mendekati mobil yang memberikan sinyal itu. Memasuki mobil tersebut.
“Aku tadi bertemu Ishikawa-san.”
Kalimat Hana yang tiba-tiba membuat Haru Natsume sedikit tercekat.
“Pria yang di tempat potong rambut kemarin?”
Hana mengangguk menyengiyakan. “Ternyata dia sponsor sekaligus pemegang saham terbesar Mirai no Gakoo.”
“Begitu…” Haru Natsume hanya berguman menanggapi.
Injakan pada pedal gas sedikit demi sedikit menambah kecepatan rotasi ban mobil yang membawa keduanya.
Tidak ada percakapan sama sekali setelah itu. Haru Natsume dan Hana sendiri mulai sibuk dengan pemandangan malam yang mereka lalui.
Sesekali mata azure Natsume melirik ke arah Hana.
‘Sialan. Kapan dia bertemu dengannya tadi? Apa saja yang terjadi tadi?’
Pegangannya pada setir kemudi mengerat seketika. Ingin sekali ia menanyakan hal itu. Tapi hal itu mustahil sekali. Akan sangat mencurigakan jika dia bertanya berlebihan seperti itu.
Lain lagi ceritanya jika Kuroto Yoshiki yang menanyakan hal itu.
‘Khh… sialan,’ rutuk Natsume.


Akhirnya, Festival kelas dimulai.
Setelah tiga hari terlewati, pagi yang cerah ini akan menjadi kelas festival terakhir Hana, dkk mengingat ini adalah tahun terakhir mereka di Mirai no Gakoo.
Tapi sayangnya tidak dengan Hana, dia harus menghabiskan waktunya di meja kasir.
“Hei, apa-apaan ini? Kenapa aku yang harus menjaga stand sementara kalian berkeliling?”
“Habisnya hanya Hana sendiri yang tidak punya pasangan,” jawab Shiro polos.
“Eh?”
“Tomoaki-kun!” Shiro bersorak begitu melihat bayangan pria berkacamat muncul di depan kelas mereka.
“S-Shiro…” HideTomoaki hanya bisa sweatdrop saat kekasihnya itu menggelayut manja pada lengannya.
“Shiro mau makan apel karamel! Yuk cari!” Shiro dengan kekuatannya menarik lengan Tomoaki.
Tomoaki bahkan belum sempat menyapa Hana—istri tuannya—yang tengah menatapnya kebingungan sekarang.
Melihat Shiro semakin meliar saja, Tomoaki akhirnya hanya bisa menundukan kepalanya sebagai izin pengunduran dirinya.
Hana hanya tersenyum tipis dan mengangguk menanggapi itu.
“Eh benar? Dia mengajakmu ke ruang istirahat?”
“Hwaaa pasti rasanya mendebarkan ya!”
“K-Kalian pelankan suara kalian!”
Sayup-sayup terdengar pembicaran perempuan yang sepertinya dilakukan di dekat ruang kelas 3-1.
“Lalu apa kalian juga akan berdansa di malam penutup Festival?”
“Tentu saja. Itu kan bukti jika aku berpacaran dengannya.”
“Kyaaa senangnya!”
“…” Hana terdiam mendengar pembicaraan tersebut.
Benar juga. Harusnya saat ini dia tengah berkeliling festival bersama Yoshiki dan kemudian menari pada acara puncak.
Sebuah senyum kecut terbentuk di bibirnya.
“Yoshiki-kun…” gumannya.
“My Lady?”
Kepala Hana yang sedari tadi menunduk seketika mendongkak. Haru Natsume tengah berdiri di hadapannya dengan kedua tanganya berada di dalam saku celananya.
“Natsume? Kenapa di sini? Tidak berkeliling festival?”
Tidak ada jawaban dari Haru Natsume. Yang ada pria itu hanya semakin mendekat ke arahnya dan sekarang telah duduk di kursi kosong di sebelahnya.
“Hei hei, jangan terlalu memaksakan diri untuk menjagaku. Aku tidak apa-apa di sini. Oh, apa jangan-jangan karena kau sudah hidup terlalu lama kau jadi bosan dengan festival sekolah?”
“…” masih tidak ada jawaban dari Haru Natsume.
“Hoi? Kau kenapa sih?” Hana menolehkan wajahnya menghadap wajah Haru sempurna.
Pemuda di sampingnya itu sama sekali tidak terbaca ekspresinya karena kepalanya yang terlalu tertunduk.
“Haaah… sudahlah terserah padamu saja. Omong-omong kau akan menari bersama siapa nanti saat acara puncak?”
Haru Natsume seketika membangkitkan kepalanya guna menatap Hana.
“Hmm?” Hana menaikan kedua alisnya menunggu jawaban.
Haru Natsume—Kuroto Yoshiki—menatap Hana dengan kedua alisnya saling terpaut.
“Kuroto?”
Keduanya seketika menoleh kea rah pintu kelas. Dua orang gadis berdiri di ambang pintu.
“Hwaa rumah hantu!” Seorang gadis yang lain menatap sekitar dengan ngeri.
“Gasai-san, Tachibana-san selamat datang, silahkan,” Hana bangkit berdiri guna menyodorkan tiket masuk rumah hantu kelasnya.
“Ah tidak, kami datang kemari bukan untuk masuk tempat menyeramkan seperti ini. Tapi untuk…” Gasai menyenggol lengan Tachibana.
“Ah, I-iya. H-Haru-s-san… a-aku ingin mengajakmu menari bersamaku di acara puncak nanti.”
Hana terdiam cengo dan hanya menatap Tachibana dan Haru secara bergantian.
“Aku sudah memiliki pasanganku.” Diluar dugaan. Hana sempat tertegun karena intonasi dingin yang digunakan Haru Natsume.
“K-Kalau begitu, ayo ke ruang istirahat H-Haru-s-san!” Tachibana menggebrak meja kasir menahan rasa malunya.
“Hn… bukankah sudah kubilang aku sudah memiliki pasanganku?”
Hana membeku mendengar kalimat Haru. Nada dan ekspresi yang ditampakan Haru sangat mirip dengan seseorang. Seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kuroto Yoshiki—suaminya.
DRAK. DRAP. DRAP. DRAP.
Tiba-tiba saja Tachibana sudah menghilang dari pandangan.
“Woaa Tachibana! Tunggu aku!” Gasai segera berlari menyusul.
“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah menemukan pasangan untuk berdansa di acara puncak?” terdengar jelas sekali jika nada bicara Haru sangat berat sekali kali ini.
“A-ah i-itu… Aku hanya akan menari dengan Yoshiki-kun. Jadi… aku tidak akan menari nanti,” Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“Yoshiki-kun sedang berjuang di sana. Mana mungkin aku bisa bersenang-senang di sini, dan menari dengan pria lain?” Sebuah cengiran mampir di wajah Hana.
Bibir Haru Natsume sedikit tertarik pada ujungnya.
Setengah hari kelas Festival telah berlangsung. Dan selama itu banyak perempuan yang meminta untuk menari bersamanya di acara puncak nanti. Seketika perhatiannya tertuju pada istrinya. Apakah istrinya itu juga akan mengajak pria lain untuk berdansa dengannya? Memikirkan itu saja sudah cukup membuat kepalanya berdenyut-denyut. Tapi syukurlah, ternyata istrinya sama sekali tidak melakukannya.
Namun sedeteik kemudian senyuman tipi situ menghilang.
Mata Azurenya menatap Hana yang terus tersenyum seolah tidak terjadi apapun. Senyuman polos yang membakar dadanya. Dirinya sepenuhnya mengerti, istrinya ini pastilah sangat mengharapkan dirinya—Kuroto Yoshiki—muncul, mengelilingi festival bersama, dan akhirnya berdansa di acara puncak.
“Ah, Haru aku ingin jus apel. Kau mau membelikannya untuku?”
“Tentu, tunggu sebentar,” Haru Natsume bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang kelas 3-1 menuju mesin penjual minuman di lantai bawah.
Walaupun dia bisa mengetahui apa yang istrinya inginkan, dia sama sekali tidak bisa berbuat apapun.
Menemani berkeliling festival, memasuki ruang istirahat, dan menari  di acara puncak bukanah maalah besar baginya. Bahkan dia juga ingin melakukannya bersama istrinya. Egonya yang sangat tinggi untuk membuktikan Hana miliknya membutanya juga merasa ingin berdansa di acara puncak.
Tapi ia tidak bisa. Tidak sebagai Haru Natsume.
Langkahnya berhenti begitu mencapai mesin penjual minuman. Memasukan uang dan menekan tombol minuman untu sekotak jus apel.

“Hhhh….” Setelah menghelakan nafas berat, tangannya kembali meraih ponselnya. Jempolnya bergerak menekan-nekan layar smartphone-nya.
Manik sapphire-nya tak berkedip begitu layar ponselnya menampilkan sebuah foto. Sebuah foto dengan pose sederhana antara dirinya dan Kuroto Yoshiki. Dirinya yang tersenyum dengan tanda peace pada jarinya. Dan Yoshiki yang memeluk bahunya dengan satu tangan.
“Wah wah apa ini?”
“Eh?” Ponselnya telah raib dari tangannya.
“Luka?” Hana bangkit dari duduknya seketika. Di hadapanya berdiri Luka tengah menatapnya rendah.
“Siapa ini Kuroto? Kekasihmu?” Luka menatap ponsel Hana dengan tatapan mengejek.
Hana menatap begis Luka sebagai balasan, “Ya. Dia kekasihku,” dan menjawab dengan mantap pertanyaan Luka.
Tentu saja Luka tidak mengingat Yoshiki. Padahal dua tahun lalu dia menyukai Yoshiki.
“Benarkah? Aku tidak yakin.” Luka kembali memasang wajah mengejeknya.
“Terserah padamu. Cepat kembalikan ponselku!” Tidak ada untungnya juga meladeni siswi pembuat masalah seperti Luka.
Merasa pancingannya tidak mempan, Luka kembali membuat pancingan lain, “kalau dia memang kekasihmu, maka dimana dia sekarang?”
“…” Hana membeku mendengar pertanyaan Luka.
“Dia tidak di sini sekarang? Tentu saja, karena kalian bukan kekasih,” Luka tersenyum kemenangan.
“Yoshiki-kun… kekasihku.” Kepala Hana telah tertunduk sekarang.
“Kalau dia kekasihmu maka dia pasti sudah di sini sekarang!”
TAP.
Haru Natsume muncul dengan kedua tangannya menggenggam kotak just.
“Kyaaaa ada Haru-kun di sini!” teriak Luka ke arah Haru.
“Jusmu…” Haru sama sekali tidak merespon Luka dan menyerahkan jus pesanan Hana.
“Ah, terima kasih,” guman Hana.
“Omong-omong Haru-kun! Mau menari denganku nanti?” Luka bersemangat.
“Tidak.”
“Hueeee Haru-kun jahat.” Luka berlari keluar sembari meletakan ponsel Hana di atas meja kasir.
Haru mengambil ponsel Hana yang diletakan sembarangan oleh Luka.
“!?” Kedua bola matanya melebar melihat apa yang tengah ditambilkan ponsel Hana. Sebuah foto antara dirinya dan si pemilik ponsel.
“Ponsel—“ Niatnya untuk mengembalikan ponsel itu terhenti saat Hana memotong kalimatnya.
“Natsume… sudah kuduga. Aku ingin sekali bersama Yoshiki-kun. Berlarian di lorong festival, berguling-guling dengannya di ruang istirahat, dan merusuh di acara puncak. Yoshiki-kun…. Yoshiki-kun… a-aku…” sudah tidak bisa lagi ditahannya. Air mata itu tumpah dari pelupuk matanya perlahan.
GREB.
Dalam hitungan detik, tubuh kekar Haru Natsume telah merengkuh tubuh rapuh Hana. Merengkuh dengan eratnya seolah jika ia melepaskan pelukan itu maka Hana akan hancur.
Dirinya sendiri pun sudah tidak bisa lagi menahan hasrat untuk memeluk dan menenangkan istrinya. Sedari tadi perasaannya bergejolak memikirkan perasaan istrinya tanpa bisa berbuat apapun.
Dan di saat seperti ini dirinya berharap bisa mengatakan kalimat, ‘aku di sini, My Lady.’

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.